Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Agrikultura

Keanekaragaman Serangga dan Fungsinya pada Tiga Tipe Perkebunan Kopi Arabika (Coffea arabica L.) di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung Utari, Astarina; Maharani, Yani; Sudarjat, Sudarjat
Agrikultura Vol 35, No 3 (2024): Desember, 2024
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v35i3.58144

Abstract

Keberadaan serangga dalam suatu ekosistem seringkali dianggap sebagai hama, meskipun demikian serangga memiliki fungsi ekologis yang bermanfaat sebagai penyerbuk, pengurai, musuh alami, dan sebagai bioindikator lingkungan. Perbedaan jenis penggunaan lahan pada perkebunan kopi dapat mengakibatkan perbedaan pada struktur komunitas dan fungsi ekologis serangga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman serangga dan fungsinya pada perkebunan kopi Arabika pemukiman, tumpangsari, dan agroforestri di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Sampel diambil dari tiga perkebunan kopi Arabika di Desa Pulosari dan Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung dengan menetapkan lima titik sampling berukuran 100 m2 dengan jarak antar titik sampling berkisar 10–50 m. Sampel serangga ditangkap menggunakan perangkap ayun, perangkap kuning, dan perangkap Brocap. Sampel yang diperoleh diidentifikasi berdasarkan karakter morfologi hingga tingkat morfospesies. Serangga yang berhasil dikumpulkan dari perkebunan kopi Arabika berjumlah 607 individu yang memiliki peran fungsional sebagai musuh alami, 47 individu sebagai polinator, 629 individu sebagai dekomposer, dan serangga yang merupakan herbivor berjumlah 2.821 individu. Indeks keanekaragaman serangga pada perkebunan kopi Arabika pemukiman (H’= 2,43) dan tumpangsari (H’= 2,79) memiliki kriteria sedang, sedangkan pada perkebunan kopi Arabika agroforestri (H’= 3,88) memiliki kriteria tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkebunan kopi berpotensi sebagai habitat yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati serangga. Meskipun dominasi herbivor ditemukan di ketiga tipe perkebunan kopi, namun keberadaan serangga musuh alami, polinator, dan dekomposer membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung produktivitas pertanian. Oleh karena itu, pengelolaan habitat yang tepat dalam praktik budidaya kopi sangat diperlukan untuk mengelola fungsi ekologi yang seimbang.
Eksplorasi Jamur Entomopatogen sebagai Agen Biokontrol Lalat Buah Bactrocera spp. pada Berbagai Varietas Jeruk di Kabupaten Garut Keliat, Chrisnasari Yanti; Susanto, Agus; Maharani, Yani; Suganda, Tarkus
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.60842

Abstract

Bactrocera spp. merupakan salah satu hama utama pada buah jeruk yang menyebabkan kerugian hasil yang signifikan. Pengendalian ramah lingkungan diperlukan untuk mengatasi kerugian akibat serangannya. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi keberadaan jamur entomopatogen yang menginfeksi Bactrocera spp. serta menganalisis indeks keanekaragaman, kekayaan, kemerataan, dan dominansi entomopatogen pada tiga varietas jeruk di Kabupaten Garut. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni hingga Oktober 2024 di tiga lokasi, jeruk Siam di Desa Neglasari, jeruk Keprok Terigas di Desa Kadungora, dan jeruk Lemon di Desa Sukatani. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode sistematis pada area seluas 2500 m², dengan lima titik sampling yang ditentukan secara diagonal. Sampel tanah diambil dari 20 pohon pada kedalaman 0–10 cm dan disimpan dalam kondisi gelap pada suhu 4°C sebelum dianalisis. Metode yang digunakan yaitu umpan serangga menggunakan larva Tenebrio molitor. Jamur yang menyelubungi tubuh larva yang terinfeksi diisolasi dan diidentifikasi. Pada varietas Lemon didapatkan 7 isolat (4 B. bassiana, 3 M. anisopliae), varietas Siam 4 isolat (3 B. bassiana, 1 M. anisopliae), dan varietas Terigas 3 isolat (2 B. bassiana, 1 M. anisopliae). Penemuan jamur entomopatogen ini menunjukkan potensi keberadaan agen hayati untuk pengendalian Bactrocera spp. Indeks keanekaragaman (H’) rendah (0,56-0,68), indeks kekayaan (DMg) rendah (0,51-0,91), indeks kemerataan (E) tinggi (0,81-0,99), dan indeks dominansi (C) sedang (0,51-0,63). Meskipun indeks keanekaragaman dan kekayaan rendah, namun tingginya nilai kemerataan menunjukkan distribusi yang merata di dalam habitatnya. Penelitian ini menjadi dasar strategi konservasi, pengelolaan hayati, dan pemilihan isolat unggul untuk pengendalian Bactrocera spp. pada berbagai varietas jeruk.
Keefektivan Campuran Kitosan Nano dan Silika Nano dalam Menekan Alternaria porri dan Penyakit Bercak Ungu pada Tanaman Bawang Merah Hersanti, Hersanti; Aldriana, Suyus Muhammad Landy Haekal; Maharani, Yani; Hartati, Sri
Agrikultura Vol 36, No 1 (2025): April, 2025
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v36i1.59886

Abstract

Alternaria porri merupakan jamur penyebab penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah. Penyakit ini mengakibatkan kerugian lebih dari 57%.  Kitosan dan silika merupakan bahan alami yang dapat digunakan sebagai fungisida bahan alam. Pemanfaatan teknologi nano dalam mengembangkan fungisida bahan alam bertujuan untuk memperkecil ukuran partikel bahan tersebut, agar lebih mudah diserap oleh tanaman sehingga lebih efisien dan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kosentrasi campuran kitosan nano dan silika nano yang efektif dalam menekan jamur A. porri (in vitro) dan menekan penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah (in vivo).  Uji in vitro menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan uji in vivo menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan yang diuji dalam percobaan meliputi aplikasi campuran bahan nano dalam perbandingan 1:1 serta kontrol dan pembanding meliputi kitosan nano 100 ppm, silika nano 100 ppm, campuran kitosan nano dan silika nano pada empat tingkat konsentrasi (50 ppm, 100 ppm, 200 ppm, dan 300 ppm), asam asetat 1%, fungisida mankozeb 80%, serta kontrol akuades. Setiap perlakuan diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran kitosan nano 300 ppm dan silika nano 300 ppm mampu menyebabkan penekanan tertinggi terhadap pertumbuhan koloni A. porri sebesar 94,44% dan perkecambahan konidia sebesar 85%, serta paling efektif menekan penyakit bercak ungu pada tanaman bawang merah sebesar 73%.