Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Panggung

Jejak Karawitan dalam Kakawin Sumanasantaka Hendra Santosa; Dyah Kustiyanti; I Komang Sudirga
PANGGUNG Vol 28 No 1 (2018): Kontestasi Tradisi: Seni dalam Visualisasi Estetik, Naskah, dan Pertunjukan
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v28i1.272

Abstract

ABSTRACT Kakawin Sumanasantaka (Death Because Sumanasa Flowers) is one of sources in searching musical terms from about 22 manuscripts in early Old Javanese literature. This article is part of the research entitled "Tracing The Karawitan Trail in an Ancient Java Script: Studies of Its Forms, Functions and Meanings". The study is intended to clarify the forms and functions of musical instruments during the East Java period around the 10th century. This study uses a historical method, following the stages of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. At the heuristical stage, kakawin Sumanasantaka written by Worsley, P., S. Supomo, M. Fletchert dan T.H. Hunter was found. In 2014, it was also found a work entitled Kakawin Sumanasantaka, Mati Karena Bunga Sumanasa Karya Mpu Monaguna: Kajian Sebuah Puisi Epik Jawa Kuno. A critical analysis of the texts is applied internally through a direct translation and then followed by the historiography process. Forms and functions of musical instruments in Kakawin Sumanasantaka cannot be separated from the functions of musical instruments in the Old Java period, as a means of Javanese ceremonies and accompaniments of secular activities.Keywords: form, function, karawitan, kakawin, Sumanasantaka ABSTRAK Kakawin Sumanasantaka (Mati Karena Bunga Sumanasa) merupakan salah satu sumber penelusuran jejak istilah karawitan dari sekitar 22 naskah kesusastraan berbahasa Jawa Kuno awal. Tulisan ini merupakan bagian dari hasil penelitian yang berjudul “Melacak Jejak Karawitan dalam Naskah Jawa Kuno: Kajian Bentuk, fungsi, dan Makna”. Pembahasan ini dimaksudkan untuk memperjelas bentuk dan fungsi instrumen musik pada masa periode Jawa Timur sekitar abad ke-10. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu, melalui tahapan heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Pada tahap heuristik ditemukan sebuah kakawin Sumanasantaka yaitu karya Worsley, P., S. Supomo, M. Fletchert dan T.H. Hunter. Tahun 2014, ditemukan juga tulisan berjudul Kakawin Sumanasantaka, Mati Karena Bunga Sumanasa Karya Mpu Monaguna: Kajian Sebuah Puisi Epik Jawa Kuno. Kritik dilakukan secara internal melalui terjemahan secara langsung sebagai fakta yang berbicara, dan yang terakhir adalah tahap historiografi. Bentuk dan fungsi instrumen karawitan dalam Kakawin Sumanasantaka  tidak terlepas dari fungsi instrumen musik pada masa Jawa Kuna yaitu sebagai sarana upacara dan sebagai pengiring kegiatan sekuler.Kata kunci: bentuk, fungsi, karawitan, kakawin, Sumanasantaka
Transformasi Musik Balaganjur Teruna Goak Ke dalam Musik Jazz Ade Surya Firdaus; Hendra Santosa; Ni Wayan Ardini
PANGGUNG Vol 29 No 3 (2019): Transformasi Bentuk dan Nilai dalam Seni Budaya Tradisi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v29i3.1008

Abstract

ABSTRACT           The Megoak-goakan tradition from a Panji Village is played with Balaganjur Teruna Goak music, both of which are very interesting when they are transformed into jazz because they have the same basic musical form. This article aims to provide an overview of the process of transformation of Balaganjur Teruna Goak Village in Panji Village into jazz music. The process of transformation into jazz music was carried out with the creation method of exploratory which began with a literature study on the Megoak-goakan tradition in Panji Village, Buleleng, and then conducted participant observations, interviews, and continued with experiments on various musical motifs which were considered suitable with a jazz music. The results are obtained from observing and analyzing the process using the theory of basic form of music of Pono Banoe and Prier’s. It is found that Balaganjur Teruna Goak's music had a lively expression with the phrases of antecedent (question) and consequent (answer). Furthermore, the experimental stage begins with pouring musical inspiration that is used in this work in several stages through writing notation. The formation step is done by assembling existing motifs and then formed into a unified whole composition. The creation of jazz music is based on Balaganjur music, and in its creating processes does not neglect the work of others so that it is possible that in its motifs and patterns on musical arrangements have adopted the previous works.Keyword: Teruna Goak, Balaganjur, Jazz Music, Transformation, Panji VillageABSTRAK           Tradisi Megoak-goakan dari Desa Panji dimainkan dengan musik Balaganjur Teruna Goak. Keduanya sangatlah menarik jika ditransformasikan ke dalam musik jazz karena memiliki bentuk dasar musik yang sama. Artikel ini bertujuan memberikan gambaran bagaimana proses transformasi musik Balaganjur Teruna Goak Desa Panji ke dalam musik jazz. Proses transformasi ke dalam musik jazz dilakukan dengan metode penciptaan dari penjajakan yang diawali dari studi literatur tentang tradisi Megoak-goakan di Desa Panji Buleleng, kemudian melakukan pengamatan langsung, wawancara, dan dilanjutkan dengan percobaan berbagai motif musik yang diperkirakan cocok dengan musik jazz. Hasil yang didapat dari pengamatan dan proses analisis menggunakan teori bentuk dasar musik Pono Banoe dan teori bentuk musik dari Prier. Musik Balaganjur Teruna Goak memiliki ekspresi yang bersemangat dengan frase antiseden (tanya) dan konsekuen (jawab). Selanjutnya, pada tahap percobaan dimulai dengan cara menuangkan inspirasi musik yang akan digunakan dalam garapan ini secara bertahap melalui penulisan notasi. Tahap pembentukan dilakukan dengan merangkai motif-motif yang telah ada kemudian dibentuk menjadi suatu kesatuan komposisi yang utuh. Penciptaan musik jazz yang berdasarkan musik Balaganjur ini, pada penggarapannya tidak mengabaikan hasil karya orang lain sehingga kemungkinan dari segi motif dan pola garap musikal mengadopsi yang sudah ada sebelumnya.Kata Kunci: Teruna Goak, Balaganjur, Musik Jazz, Transformasi, Desa Panji
Estetika Adegan Bondres Wayang Tantri oleh Dalang I Wayan Wija I Dewa Ketut Wicaksandita; I Ketut Sariada; Hendra Santosa
PANGGUNG Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1146

Abstract

ABSTRACTBebondresan is a scene that is raised in order to entertain the audience. The scene of the bonding on theTantri puppet play Bhagawan Kundala Nangun Yadnya by Dalang Wija was brought up with a varietyof creativity that no other Dalang had ever done. This gave rise to appreciation in the form of applausefrom the audience who indicated the fulfillment of the wonderful taste of the aesthetic values that emerged.The main purpose of this research is to find out the aesthetics of the bebondresan scene. The researchmethod in the form of observation, interviews and documentation is the source of data acquisition by theauthor, which is then reduced and analyzed using instrumental aesthetic theory and aesthetic theoriesof aesthetics. The results of this study later found that the form of the bondres scene was formed visuallyin the form of three puppet Bondres namely, men holding drums, sexy women and agile old women,the structure consisted of three two-dimensional leather puppets, a drum and tambourine combinedthrough puppet play patterns, musical instruments and vocal wayang dialogues. The aesthetics of theBondres scene lies in, (1) ‘interrelations’, namely wholeness which is seen from the interrelationship,integration and harmony in the elements forming the scene; (2) ‘complexity’ that is interwoven betweenthe elements in the structure that are staged through complex playing patterns; (3) ‘prominence’ whichis the presentation of the results of the achievement of creativity by Dalang Wija which is seen from thecharacteristics of the artwork, the background of the mastermind’s abilities and his motivation.Keywords: Bondres Scene, Wayang Tantri, I Wayan WijaABSTRAKAdegan bondres merupakan sebuah adegan yang dimunculkan dengan tujuan untukmenghibur penonton. Adegan bondres pada wayang Tantri lakon Bhagawan Kundala NangunYadnya oleh Dalang Wija dimunculkan dengan beragam kreativitas yang tidak pernahdilakuakn Dalang lain. Hal ini memunculkan apresiasi berupa tepuk tangan dari penoton yangmengindikasikan terpenuhinya rasa nikmat indah atas nilai estetis yang muncul. Tujuan utamapenelitian ini ialah untuk mengetahui estetika dari adegan bebondresan. Metode penelitianberupa observasi, wawancara dan dokumentasi menjadi sumber perolehan data oleh penulisyang selanjunya direduksi dan dianlisis menggunakan teori estetika instrumental dan teoriestetika sifat estetis. Hasil penelitian ini selajutnya menemukan bahwa wujud adegan bondresini terbentuk secara visual berupa tiga wayang bondres yaitu, pria memegang kendang, wanitasexy dan wanita tua lincah, strukturnya terdiri atas tiga buah wayang kulit dua dimensi, sebuahkendang dan tamborin yang dikombinasi melalui pola bermain wayang, alat musik dan vokaldialog wayang. Estetika adegan bondres ini terletak pada, (1) ‘keterkaitan’ yaitu keutuhan yangdilihat dari keterkaitan, keterpaduan dan harmoni pada elemen-elemen pembentuk adegan;(2) ‘kerumitan’ yang terjalin di antara elemen-elemen pada struktur yang dipentaskan melaluipola bermain yang kompleks; (3) ‘penonjolan’ yaitu presentasi hasil pencapaian kreativitasoleh Dalang Wija yang dilihat dari ciri-ciri karya seni, latar belakang kemampuan dalang danmotivasinya.Kata Kunci: Adegan Bondres, Wayang Tantri, I Wayan Wija
Struktur Musik Iringan Tari Puspanjali Saptono Saptono; Hendra Santosa; I Wayan Sutirtha
PANGGUNG Vol 34 No 1 (2024): Artistik dan Estetik pada Rupa, Tari, dan Musik
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i1.2446

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan struktur komposisi musik iringan tari Puspanjali karya I Nyoman Windha seorang maestro karawitan Bali. Tari Puspanjali yang dipergunakan sebagai tari penyambutan ciptaan NLN Swasthi Widjaja diciptakan tahun 1989, menjadikannya sebagai sebuah karya tari yang monumental. Puspanjali berasal dari kata puspa berarti bunga dan anjali berarti sebuah penghormatan, dengan kata lain Puspanjali adalah taburan bunga sebagai sebuah penghormatan. Metode yang dipergunakan adalah deskriptif melalui penjabaran struktur dan bentuk musik iringan tari yang terdiri dari kawitan, pengawak, dan pekaad dengan persyaratan mungkus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi langsung baik melihat pertunjukannya ataupun melalui video, wawancara, dan studi kepustakaan. Penciptaan tari dan iringannya sangat spontan yang keluar dari ide, gerak tari, dan melodi yang diramu dalam komposisi yang sederhana tetapi sampai saat ini karya tersebut dapat digolongkan sebagai karya monumental karena masih bertahan dan banyak dipergunakan oleh masyarakat di Bali. Penjabaran struktur musik iringan tari dilakukan melalui notasi balok yang digabungkan dengan notasi dindong. Tarian Puspanjali sangat cocok dipelajari oleh anak usia dini karena kesederhanaan gerakannya, dan musik iringan dapat dipelajari oleh para pemula usia SD karena kesederhanaan komposisi musiknya.
Co-Authors - Saptono - Saptono Ade Surya Firdaus Ade Surya Firdaus Aditya Putra, I Ketut Anak Agung Gde Bagus Udayana Antara, I Made Bayu Arba Wirawan, I Komang Ardi Gunawan Ardi Aryawaningrat, I Gusti Ayu Agung Darmawan, I Komang Werdi Firdaus, Ade Surya Hasbullah - Hasbullah Hasbullah I Dewa Ketut Wicaksana, I Dewa Ketut I Dewa Ketut Wicaksandita I Gede Adi Sudi Anggara I Gede Mawan I Gede Yudarta, I Gede I Gusti Ayu Putu Pratiwi I Kadek Deo Sandiawan I Ketut Aditya Putra I Ketut Sariada, I Ketut I Ketut Sudhana I Komang Arba Wirawan I Komang Diki Putra Sentana I Komang Sudirga I Komang Werdi Darmawan I Made Bayu Puser, Bhumi I Made Rai Purna Yasa I Made Rianta I Made Rianta I Made, Rianta I Nengah Sama I Nyoman Kariasa, I Nyoman I Nyoman Wiradarma Yoga I Nyoman Yudha Putra Widiantara I Putu Angga Mahendra I Putu Danika Pryatna I Saptono I Wayan Swandi Ida Ayu Gede Sasrani Widyastuti ikadekagus adityaputra Kadek Suartaya Komang Lanang Adi Arimbawa Komang Wira Adhi Mahardika Kunto Sofianto Kustiyanti, Dyah Kuswandari, Ni Kadek Diah Nanta Maruta Gautama, Nyoman Ni Kadek Wina Ferninaindis Ni Made Ayu Dwi Sattvitri Ni Putu Hartini Ni Wayan Ardini, Ni Wayan Nina Herlina Lubis Nova Agung Rama, Wijaya Padmini, Tjok Istri Putra Prakasih Putu Paristha Pramana, I Putu Riangga Budi Prasad, Visvam Bhara Prayatna, I Wayan Dedy Putra Adnyana, Made R.M. Mulyadi Ratna Cora Sudharsana, Tjok Istri Saptono Saptono Saptono Saptono Saptono Saptono, Saptono Saptono, I Satyani, Ida Ayu Wayan Arya Sentana, I Komang Diki Putra Sudhana, I Ketut Sujayanthi, Ni Wayan Masyuni Sutirtha, I Wayan Swandi, I Wayan Tudhy Putri Apyutea Kandiraras Udayana, A.A. Gde Bagus Visvam Bhara Prasad Wardizal, Wardizal Wardizal, Wardizal