Articles
The Restive Margins: Comparing the Causes and Resolution of Indonesia’s Regional Rebellions of Aceh and East Timor
Lanti, Irman Gurmilang;
Anshori, Muhammad Fikry;
Sudirman, Arfin
International Journal of Science and Society Vol 6 No 4 (2024): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.54783/ijsoc.v6i4.1303
This article compares and contrasts the handling of separatist movements and regional rebellions in Indonesia. As a plural society, the Indonesian state has encountered challenges from its margins almost since its birth. However, the challenges do not necessarily always come in the form of secessionism. Some regionally based rebellions also sought to change the state foundation or the way to run the state. This article examines two cases of regional rebellions throughout the nation’s history, i.e., Aceh and East Timor. It contends that Indonesia’s margins revolted from the combination of deprivation factors, such as ideological, economic, political, and identity, which got sidelined as Indonesia spurred on the nation-building effort. The handling of the rebellions has also been varied, with military suppression as the default approach before Reformasi. Reformasi has widened the range of choices of the state in dealing with the separatist challenges.
Peranan ARF on CYBERSECURITY INITIATIVES dalam Mewujudkan Cybersecurity di Kawasan Asia Tenggara
Darmawan, Lucky Janitra Priyai;
Sudirman, Arfin;
Djuyandi, Yusa
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 8, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31604/jim.v8i1.2024.86-94
Riset ini bertujuan untuk menjelaskan peranan dari ARF on Cybersecurity Initiatives dalam mewujudkan cybersecurity di Kawasan Asia Tenggara. Konsep yang digunakan adalah konsep keamanan siber menurut Jeniffer L. Bayuk, serta konsep komunitas keamanan milik Karl Deutsch. Riset ini menggunakan metode riset kualitatif melalui pengumpulan data dari literatur dan wawancara, serta triangulasi sebagai cara untuk memverifikasi data. ARF sebagai salah satu forum yang dibentuk oleh ASEAN dalam usahanya untuk menciptakan perdamaian di Kawasan Asia Tenggara, ikut memasukkan isu keamanan siber sebagai salah satu pokok bahasannya. Melalui prinsip Confidence Building Measures (CBM), Preventive Diplomacy (PD), dan Conflict Resolution (CR) yang dijalankan oleh ARF, ASEAN mencoba untuk mencapai prinsip-prinsip dari keamanan siber itu sendiri. Namun, efektivitas dari pelaksanaan ARF ini masih belum dapat dikatakan optimal.
Implikasi Dinamika Geopolitik Energi Rusia-Ukraina terhadap Keamanan Energi di Indonesia
Ibrahim, Muhamad Rizal;
Sudirman, Arfin;
Tumulo, Lukman Jusuf
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 4 No 3: Desember (2024)
Publisher : Arden Jaya Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.57250/ajsh.v4i3.689
Pengaruh geopolitik Rusia dalam pasar energi global menjadi salah satu lokus pembahasan dalam perang Rusia-Ukraina yang terjadi pada Februari tahun 2024. Konflik yang dipicu upaya Ukraina yang secara ekonomi dan politik mendekatkan diri pada kubu Uni Eropa dan adanya campur tangan NATO, memicu eskalasi konflik geopolitik dengan Rusia. Pada penelitian ini, ketergantungan pasar energi Rusia menimbulkan ancaman keamanan energi global dengan melihat Rusia sebagai produsen energi terbesar ketiga setelah Amerika dan Arab Saudi. Stabilitas politik Rusia akibat konflik mempengaruhi situasi pasar dan ekonomi global yang dirasakan hingga Indonesia. Situasi ini diakibatkan mengakarnya ketergantungan ekspor migas dan batu bara dari Rusia serta adanya hubungan bilateral yang terjalin cukup lama antar Indonesia-Rusia, diantaranya kerjasama pada migas, dan pethrochemicals pada tahun 2014 dan beberapa kunjungan kerjasama lanjutan pada pengembangan sektor energi dan pertambangan. Penelitian ini menemukan bahwa imbas kenaikan harga bahan bakar akibat konflik menghadirkan dampak positif dan negatif bagi Indonesia. Melalui kerangka analisis teori ketergantungan (Dependency Theory), menjelaskan dampak negatif ketergantungan energi dan hubungan bilateral ini menjadi ancaman krisis energi, namun secara positif, stabilitas dan ketersediaan dalam perspektif Energy Security ini mendorong upaya pemerintah dalam peningkatan sumber energi terbarukan melalui Akselerasi Net Zero Emissions, meningkatkan kebijakan bebas karbon dan ekonomi hijau.
ANALISIS BIBLIOMETRIK PERKEMBANGAN PENELITIAN BIDANG ILMU KEWARGANEGARAAN
Darmana, Feni;
Sudirman, Arfin;
Yomi Romlah, Oom;
Trihastuti, Meiwatizal;
Bachrudin, Achmad
Mores: Jurnal Pendidikan Hukum, Politik, dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 2 (2023): PPKn dan Ilmu Kewarganegaraan
Publisher : STKIP Pasundan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37742/mores.v5i2.104
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perkembangan penelitian bidang Ilmu Kewarganegaraan(Civics) dalam periode 2019-2023, secara spesifik dalam hal: 1) perkembangan publikasi internasionalpada periode tersebut, (2) analisis perkembangan Ilmu Kewarnegaraan kaitannya dalam bidang ilmulain, (3) analisis kerjasama antara peneneliti (co-author analysis), (4) analisis perkembangan publikasiinternasional dengan banyaknya kutipan (citation analysis), dan (5) analisis teks-teks dalam abstrakyang berkaitan dengan Ilmu Kewarnegaraan (Co-words analysis) Analisis bibliometrik digunakan dalammencapai tujuan tersebut melalui database publikasi Dimensions pada perode 2019-2023, dan perangkatlunak Vosviewer. Hasil penelitian ini berupa datameta dalam bentuk tabel, chart, dan pemetaan.
Confrontation Analysis as an Alternative Model in International Relations: From Chinese Civil War to Korean War
Manuhutu, Khrisna Ariyanto;
Sudirman, Arfin;
Setiabudi, Widya;
Hakiki, Falhan
Andalas Journal of International Studies (AJIS) Vol 11, No 2 (2022): Published in November 2022
Publisher : Andalas Institute of International Studies UNAND
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25077/ajis.11.2.166-181.2022
In analyzing confrontation, academic studies in the field of International Relation are highly associated with conventional narrative approaches. Unfortunately, exclusive and excessive use of an approach in the field may hinder the academic development in the field. Earlier studies show that cross-fertilization internal and external approaches can promote scientific progress in the field. This study aims to promote the use of confrontation analysis, an analysis tool that is considered as external to the field of international relations. There are some studies in the field of international relations that utilize confrontation analysis in conflict modelling. Nonetheless, these studies are limited only to the cases of western hemisphere. This study focuses on the implementation of confrontation analysis in the conflict in East Asia region, i.e. Chinese civil war and Korean war. These cases are selected due to the abundant available information on these conflicts and the knowledge on these conflicts has matured. This study shows that confrontation analysis is able to explain the increase of escalation and its downturn during the conflict.
Regional Security Complex in ASEAN: Neutrality and Centrality at Brink in the South China Sea Issue
Sudirman, Arfin
Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities Vol. 7 No. 1 (2017): Journal of Indonesian Social Sciences and Humanities
Publisher : RMPI-BRIN
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The South China Sea conflict has been a highly sensitive issue for the last 5 years in ASEAN. China and the US have been using the South China Sea as the “New Cold War Arena” of power and military hegemonic competition in the South East Asia region. This has been a major challenge for ASEAN as the only regional organization in the South East Asia region that has direct in the area must take major role in managing and resolving the dispute peacefully even though ASEAN has no defense pact like NATO. This paper argues that ASEAN, at this moment, must maintain its role as a mediator and independent-negotiator in the region but at the same time apply its principle of gradually adapting with the new international system. This article also suggests that in the future, ASEAN can take a major role in the governance of the South China Sea and the South East Asia region.
The Role of The Humanist Approach to Inter-Korean Diplomatic Relations During the DPRK’s Nuclear Crisis
Sopia, Siti;
Djumala, Darmansjah;
Sudirman, Arfin
Ilomata International Journal of Social Science Vol. 6 No. 3 (2025): July 2025
Publisher : Yayasan Ilomata
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.61194/ijss.v6i3.1716
Relations between inter-Korean have worsened as tensions from the DPRK nuclear crisis have continued to escalate. Amidst the existing tensions, some of the Republic of Korea regimes have taken a humanist approach in dealing with the DPRK, which has resulted in improving relations between both countries. The author uses Samuel P. Huntington's political order theory to explore a stable and effective political system in managing conflict and making decisions. This study uses qualitative methods with secondary sources from journals, books, reports, official documents, and official websites. The results of this study indicate that the humanist approach is more effective in dealing with the DPRK through meetings held by the leaders of the two countries to build cooperative relations such as the construction of the Kaesong Industrial Complex, economic aid worth hundreds of billions of Won to prevent North Korea's nuclear development, and dialogue conducted through state meetings. In addition, policies made by the Republic of Korea, such as the Sunshine Policy, are able to embrace the DPRK and prioritize dialogue when the DPRK violates the agreement in cooperation without unilaterally terminating the cooperative relationship as was done by the Lee Myung-bak and Park Geun-hye regimes with their conservative approaches. Political institutions also play an important role in making foreign policies that have an impact on the security stability of the Republic of Korea.
Memahami Dinamika Kerjasama Industri Pertahanan dalam Kerangka Indonesia Australia Defence Security Dialogue
Sudirman, Arfin;
Djuyandi, Yusa;
Pratama, Fajri Syahal Guna
Journal of Political Issues Vol 4 No 2 (2023): Journal of Political Issues
Publisher : Jurusan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/jpi.v4i2.82
Industri pertahanan menjadi salah satu agenda penting dan menjadi perhatian, dimulai pada saat kabinet Indonesia Bersatu I dibawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan menjadikannya sebagai prioritas pembangunan dan memberi peluang besar bagi keterlibatan pihak swasta dalam kegiatan industri pertahanan salah satunya melalui agenda kerja sama yang dijalin oleh Indonesia dengan Australia dalam satu agenda dialog Indonesia – Australia Defense Security Dialogue (IADSD) yang telah dijalin dan disahkan oleh Lombok Treaty pada tahun 2006, yang mana Indonesia dalam hal ini memiliki kepentingan untuk meningkatkan kapabilitas serta kemandirian Industri pertahanan nasional. Maka dari itu penelitiaan ini memiliki tujuan untuk mencari permasalahan agar mencapai tujuan penelitiaan, dengan menggunakan konsep Military Industrial Complex (MIC) dan juga teori Iron Triangle. Hubungan tersebut terkait pada kontribusi politik, persetujuan politik akan belanja militer, lobi-lobi untuk mendukung birokrasi, dan industri. Ketiga badan tersebut, yang pada saat ini lebih sering disebut kongres/parlemen, departemen pertahanan, dan industri pertahanan, kemudian disebut sebagai segitiga besi pertahanan. Yang mana keterlibatan tersebut dikerucutkan Kembali kepada focus matra darat dalam pelaksanaannya ini, PT. Pindad dan juga end-user Tentara Nasional Indoensia Angkatan Darat (TNI AD) demi mengurangi ketergantuangan pada produk luar dan lebih meningkatkan kemandirian industry pertahanan nasional.
Analisis Hubungan Sipil-Militer di Indonesia Pasca Reformasi 1998
Djuyandi, Yusa;
Sudirman, Arfin;
Suryana, Nanang
Journal of Political Issues Vol 7 No 1 (2025): Journal of Political Issues
Publisher : Jurusan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33019/jpi.v7i1.337
Dalam hubungan sipil-militer pada suatu negara demokrasi itu harus memiliki faktor keseimbangan kekuatan antara instrumen militer dengan instrumen non-militer. Indonesia sendiri tentunya memiliki sejarah perjalanan reformasi militer yang cukup panjang dan penuh akan hambatan berat, yang sumbernya itu sendiri biasanya berasal dari pemerintah atau rezim yang sedang berkuasa pada suatu negara. Setelah turunnya rezim tirani pada tahun 1998 tentunya menjadi langkah awal dari kebangkitan reformasi militer serta menuju arah pembentukan demokratisasi yang lebih baik di Indonesia. Seiring berjalannya waktu Indonesia semakin menunjukan indikasi positif dalam perjalanannya menuju ke arah demokrasi. reformasi TNI dan kontrol sipil di Indonesia sebenarnya dapat dikatakan belum sepenuhnya terwujud dan masih dalam proses transisi menuju ke civil society yang diharapkan. Sehingga, Indonesia harus tetap berhati-hati dan mawas diri dalam mensiasati dinamika yang mungkin saja terjadi dikemudian hari, karena potensi terjadinya konflik yang menciderai hubungan sipil-militer itu mungkin saja tetap ada dan akan terjadi. Penyusunan artikel penelitian ini dibuat berdasarkan penggunaan metode kualitatif berdasarkan pengumpulan data studi pustaka dengan menghasilkan analisis deskriptif. Hasil penelitian yang ditemukan adalah bagaiamana reformasi militer saat ini di Indonesia, kemudian kebijakan politik dan lembaga terkait apa saja dalam kontrol militer pasca reformasi, dan penjelasan penilaian peneliti dalam hubungan sipil-militer di Indonesia.
SEKURITISASI INDONESIA TERHADAP KELOMPOK KEKERASAN BERSENJATA DALAM KONFLIK PAPUA DI MASA KEPRESIDENAN JOKO WIDODO
Muzaffar, Eiji;
Sudirman, Arfin;
Djuyandi, Yusa
Aliansi Vol 2, No 3 (2023): Aliansi : Jurnal Politik, Keamanan Dan Hubungan Internasional
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/aliansi.v2i3.51753
Artikel ini bertujuan untuk membuktikan adanya proses sekuritisasi dalam konflik Papua di era Kepresidenan Joko Widodo (terutama 2014-2018). Fokus utama penelitian ini adalah pendekatan keamanan yang didominasi oleh Indonesia terhadap permasalahan Papua, khususnya perubahan kebijakan dalam menangani KKB di Papua pasca-Reformasi melalui kerangka pikir sekuritisasi. Dengan menggunakan metode kualitatif, artikel ini menunjukkan perubahan yang signifikan secara yuridis, terutama dalam penggunaan aparatus keamanan negara dalam menangani KKB di Papua saat ini. Namun demikian, penerapan kebijakan baru juga menunjukkan tumpang tindih dan kontradiktif, menjadikan situasi konflik di Papua hingga kini masih tidak pasti. This article aims to demonstrate the securitization processes within the Papua conflict during the presidency of Joko Widodo, particularly focusing on the years 2014-2018. The primary focus of this research is Indonesia's security-oriented approach to the Papua issue, specifically examining policy changes in addressing the Free Papua Movement (KKB) post-Reformasi through the securitization framework. Utilizing a qualitative method, the article illustrates significant juridical changes, especially in the use of state security apparatus in handling the current KKB situation in Papua. However, the implementation of new policies also shows overlap and contradiction, leaving the conflict situation in Papua uncertain to this day.