Claim Missing Document
Check
Articles

Api Takep Sebuah Karya Tari Yang Berangkat Dari Ritual Siat Api Di Desa Lodtunduh Ubud Gianyar I Komang Nova Teguh Mahendra; Ida Ayu Trisnawati; I Wayan Sutirtha
Jurnal IGEL : Journal Of Dance Vol 6 No 1 (2026): Jurnal IGEL: Journal Of Dance
Publisher : Pusat Penerbitan LPPM Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jijod.v6i1.6547

Abstract

Karya tari Api Takep merupakan karya penciptaan yang terinspirasi dari ritual Siat Api di Desa Lodtunduh, Ubud, Gianyar. Ritual ini mengandung nilai keberanian, kebersamaan, dan energi kolektif masyarakat yang kemudian ditafsirkan ulang ke dalam bentuk karya tari. Penciptaan Api Takep tidak bermaksud merekonstruksi ritual secara langsung, melainkan mengolah makna, simbol, dan pengalaman tubuh masyarakat ke dalam bahasa koreografi. Proses penciptaan karya ini menggunakan metode Panca Sthiti Ngawi Sani yang meliputi tahap ngawirasa, ngawacak, ngarencana, ngawangun, dan ngebah. Gerak tari dikembangkan melalui eksplorasi laku masyarakat dalam Siat Api, seperti mengayun, menyapu, dan melempar sabut kelapa. Karya ini dibawakan oleh tujuh penari putra dengan penggunaan properti sabut kelapa sebagai elemen simbolik utama, serta disusun dalam empat bagian dengan durasi kurang lebih 12 menit. Melalui Api Takep, diharapkan tercipta dialog antara tradisi ritual dan penciptaan tari kontemporer, serta kontribusi terhadap pengembangan seni pertunjukan Bali berbasis nilai budaya. Kata kunci: Api Takep, Siat Api, penciptaan tari
LEGONG DURGA SEBAGAI PENGUAT IDENTITAS TARI ANDIR DI DESA TISTA, KERAMBITAN, TABANAN Tantra, Putu Feby Eka Kawi; Arshiniwati, Ni Made; Trisnawati, Ida Ayu
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 09 No. 2 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i2.14086

Abstract

Tari Legong Durga di Desa Tista adalah salah satu tari klasik Bali di dalam Sekaa Andir Usana Budaya yang menggambarkan tentang representasi mitologi Hindu kisah Dewi Durga, sosok dewi yang berkarakter tegas, berwibawa dan agung dalam melawan kejahatan dan melindungi kebaikan. Kata Durga yang umumnya identik dengan tema Bapang yang ada di daerah lain, namun di Desa Tista Bapang dan Durga merupakan tema yang berbeda sehingga penting bagi penulis untuk meneliti Tari Legong Durga di Desa Tista. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami bagaimana Tari Legong Durga di Desa Tista, dengan menggunakan metode kualitatif dengan memperoleh data dari hasil observasi, wawancara, studi dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Bentuk Tari Legong Durga di Desa Tista memiliki ciri khas klasik yang masih dipertahankan dalam Sekaa Andir Usana Budaya. (2) Tari Legong Durga di Desa Tista merupakan suatu sajian tari yang disakralkan oleh masyarakat di Desa Tista serta mempunyai fungsi sebagai penolak bala, tarian ini juga dapat difungsikan sebagai tari balih-balihan untuk hiburan dan kepentingan pariwisata, maka dari itu Tari Legong Durga memiliki dua fungsi yaitu, fungsi religi dan fungsi profan; (3) Makna yang terkandung dalam tari Legong Durga mengungkapkan makna yang mendalam yaitu denotasi, konotasi dan mitos. Denotasi mengacu pada makna langsung dari gerakan-gerakan tari, seperti nyalud ngombak, ngigelang lamak, ulap-ulap, ngepik khas andir,pangipuk Legong Durga. Di sisi lain, konotasi menafsirkan simbolisme yang lebih dalam, terkait dengan sistem religi dan ideologi masyarakat Bali, serta pesan moral yang terdapat dalam tari Legong Durga. Pesan moral dan ideologi yang tersemat dalam tari ini tidak hanya mencerminkan keberanian dan keadilan, tetapi juga mewakili pelestarian budaya dan representasi mitologi Hindu.
Sistem Pewarisan Tari Topeng Dalem Sidakarya untuk Penguatan Karakter Generasi Muda di Kedhatuwan Kawista Pura Belatungan Tabanan I Dewa Made Indra Kumara Jaya; Ida Ayu Trisnawati; I Wayan Budiarsa
ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisiplin Vol. 4 No. 8 (2026): ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisplin, Agustus 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem pewarisan Tari Topeng Dalem Sidakarya dalam penguatan karakter generasi muda di Kedhatuwan Kawista Pura Belatungan, Tabanan, dengan fokus pada bentuk, struktur, dan nilai spiritual tari; sistem pewarisan; serta efektivitasnya sebagai media penguatan karakter. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan informan kunci Ida Ratu Shrii Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun, dokumentasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap struktur dan ragam gerak Tari Topeng Dalem Sidakarya mengandung makna spiritual sebagai penyempurna upacara Yadnya. Konsep Sidakarya mengajarkan nilai kesucian, pengendalian diri, mawas diri, kejujuran batin, dan kesederhanaan melalui simbol-simbol topeng. Sistem pewarisan berlangsung secara formal melalui latihan terjadwal dan informal melalui tradisi lisan serta observasi, tetapi menghadapi tantangan globalisasi, penggunaan gadget, dan minimnya nilai ekonomis. Tari ini efektif memperkuat karakter melalui pengalaman langsung, keteladanan, serta internalisasi nilai secara fisik, emosional, dan spiritual. Penelitian menegaskan bahwa pewarisan Tari Topeng Dalem Sidakarya berpotensi menjadi model pendidikan karakter holistik berbasis warisan budaya.
The Rejang Dahe Dance Inheritance System in Building the Character of Young Generation in Catur Village, Kintamani, Bali I Gusti Ngurah Agung Manik Pranawa; Ida Ayu Trisnawati; Ni Made Arshiniwati
Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management Vol. 5 No. 2 (2026): Journal of Aesthetics, Creativity and Art Management
Publisher : Institut Seni Indonesia Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/jacam.v5i2.6833

Abstract

This study aims to determine the inheritance system of the Rejang Dahe Dance and its contribution in building the character of the younger generation in the Catur Traditional Village, Kintamani, Bangli, Bali. The Rejang Dahe Dance is a sacred dance that is passed down through generations through traditional mechanisms. Along with the increasingly strong currents of globalization and changes in the lifestyles of the younger generation, the process of inheriting local culture faces significant challenges, decreasing interest and time for youth in traditions, and the strong influence of popular culture. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation. Data analysis was carried out using data reduction techniques, data presentation, and drawing conclusions. The research results show that the inheritance system of Rejang Dahe Dance is carried out through three stages: vertical inheritance, oblique inheritance, and horizontal inheritance. This inheritance process reveals character education values inherent in Rejang Dahe Dance, including religious, honesty, tolerance, discipline, hard work, creativity, independence, democracy, curiosity, nationalism, love for the homeland, appreciation for achievement, friendship and communication, peace-loving, environmental care, social care, and responsibility.
Co-Authors A.A Ketut Oka Adnyana Adnyana, A.A Ketut Oka Apriyani, Ni Kadek Ary Ardika, I Gusti Lanang Oka Budiastomo, Denta Mandra Pradipta Ciclia Indraningsih Jeno Damar rangga putra Dedi Gusman Denta Mandra Pradipta Budiastomo Dewi, Ida Ayu Chandra Diantara, I Putu Arya Fauziah Shahab Gede Basuyoga Prabhawita Harischandra, Ida Bagus Yodhie I Dewa Made Indra Kumara Jaya I Gde Parimartha I Gde Yudhi Hendrawan I Gede Arya Sugiartha, I Gede Arya I Gusti Lanang Oka Ardika I Gusti Lanang Oka Ardika I Gusti Ngurah Agung Manik Pranawa I Gusti Putu Sudarta I Ketut Sariada I Ketut Sida Arsa I Ketut Sutapa I Komang Nova Teguh Mahendra I Komang Rio Saputra Dinata I Nengah Suardhika I Nyoman Kariasa, I Nyoman I Nyoman Suarka I Putu Ananta Wira Adhyatma I Wayan Adi Gunarta I Wayan Adnyana I Wayan Budiarsa I Wayan Sutirtha Ida Ayu Chandra Dewi Ida Ayu Kade Sri Sukma Dewi Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi Ni Kadek Ary Apriyani Ni Kadek Ayu Devy Yanti Ni Ketut Ayu Pratini Wulandari Ni Luh Putu Erika Yulianti Ni Luh Sustiawati Ni Made Arshiniwati Ni Nyoman Tantri Pertiwi Ni Putu Laras Purnamasari Ni Wayan Ratih Wahyuriani Ni Wayan Suartini Nyoman Arya Baratha Nyoman Arya Baratha Oka, Ni Putu Putri Ditha Sumaridewi Permata, Faizha Dyah Rani Franciska, Ni Luh Putu Satyani, Ida Ayu Wayan Arya Sidhi, I Putu Gede Serana Asta Suari, Ni Made Pande Sudirana, I Wayan Sulistyani Sulistyani Sulistyani Sulistyani Sulistyani Sulistyani Suteja, I Kt. Sutirtha, I Wayan Tantra, Putu Feby Eka Kawi Wahyuriani, Ni Wayan Ratih Wayan Karja Widnyana, Kompiang Gede Yanti, Ni Kadek Ayu Devy Yulianti, Ni Luh Putu Erika