Claim Missing Document
Check
Articles

BIODEGRADATION OF CHITOSAN MEMBRANE SCALES OF HARUAN FISH (Channa striata)-HYDROXYAPATITE IN ARTIFICIAL SALIVA SOLUTION Syifa Kamila; Deby Kania Tri Putri; Amy Nindia Carabelly; Melissa Budipramana; Bambang Setiawan
Dentin Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i1.12192

Abstract

Background: Membrane materials for surgical procedures using Guided Tissue Regeneration (GTR) are Polytetrafluoroethylene (PTFE) and collagen, but have the disadvantage of requiring further surgical procedures to remove membranes after use and rapid degradation properties. Haruan (Channa striata) fish scale chitosan is expected to be an alternative material for GTR membranes. Purpose: To determine the longer degradation time between chitosan membranes and chitosan+HA membranes in artificial saliva. Methods: This study used true experimental with post test only with control design using three treatments of 5% chitosan, 5% + 2 gr chitosan, and 5% + HA 4 gr of chitosan, positive control of GTR membrane with time intervals of 1, 7, 14, and 21 days in artificial saliva. Results: The results of the Kruskall Wallis test showed that there was a significant difference, the Mann Whitney Post Hoc test yielded 5% chitosan with chitosan+2 gr HA and chitosan+2gr HA with chitosan+4 gr HA had a p value <0.05 p=(0.000) in the 14th day, 5% chitosan with chitosan+4gr HA had a p value <0.05 p=(0.000) significant on days 7 and 14, and the positive control with all treatments had a p value <0.05 p=(0.000) . Conclusion: Chitosan and chitosan+HA membranes resulted in a degradation time of 21 days. Chitosan membrane + 2 g HA membrane was the best treatment because the remaining weight of the membrane was greater than the other treatments.Keywords : Channa striata, Chitosan, Degradation Test, Guided Tissue Regeneration (GTR), Hydroxyapatite, Remaining Membrane Weight
UJI TOKSISITAS KAPSUL EKSTRAK IKAN TOMAN (Channa micropeltes) TERHADAP PERUBAHAN PROFIL DARAH TIKUS WISTAR Muhammad Ikhlasul Amal Sangadji; Amy Nindia Carabelly; Maharani Laillyza Apriasari; I Wayan Arya Krishnawan Firdaus
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17745

Abstract

ABSTACTBackground: The people of South Kalimantan traditionally use Haruan fish as an alternative medicine to accelerate wound healing. However, Haruan fish is difficult to cultivate, making Toman fish a potential alternative. Toman fish contains 5.35% albumin, whereas Haruan fish contains 4.35% albumin. Objective: To determine whether Toman fish extract capsules exert toxic effects on hematological profiles. Methods: This study consisted of three treatment groups: a group receiving Toman fish extract capsules at a dose of 0.7 grams, a positive control group receiving Haruan fish extract capsules at a dose of 0.7 grams, and a negative control group receiving only BR2 feed. The treatments were administered twice daily for 28 days. For administration, the capsule shells were opened, and 500 grams of dried extract were mixed with distilled water and given to Wistar rats using an oral gavage. After 28 days, blood samples were collected from the rats and analyzed using a Sysmax hematology analyzer. Results: The mean hemoglobin levels in the treatment, positive control, and negative control groups were 11.8 g/dl, 12.02 g/dl, and 12.12 g/dl, respectively. The mean erythrocyte counts in the treatment, positive control, and negative control groups were 6.46 million/mm³, 7.07 million/mm³, and 5.50 million/mm³, respectively. The mean leukocyte counts in the treatment, positive control, and negative control groups were 17.86 million/mm³, 13.62 million/mm³, and 9.24 million/mm³, respectively. Conclusion: Administration of Toman fish extract capsules at a dose of 0.7 grams produced negative effects on erythrocyte and leukocyte levels, while hemoglobin levels were not affected. These findings indicate that Toman fish extract capsules exhibit toxic effects on hematological profiles.Keywords: haruan fish, hematological profile, toman fish, toxicity test  ABSTRAK  Latar Belakang: Masyarakat Kalimantan Selatan menggunakan ikan Haruan sebagai obat alternatif mempercepat penyembuhan luka. Akan tetapi  ikan Haruan sulit dibudidayakan sehingga dipilih ikan Toman untuk alternatif. Ikan Toman mengandung albumin 5,35%, sedangkan ikan Haruan mengandung albumin 4,35%. Tujuan : Untuk mengetahui apakah kapsul ekstrak ikan Toman memiliki efek toksik terhadap profil hematologi. Metode : Penelitian ini meliputi tiga kelompok perlakuan yaitu pemberian kapsul ekstrak ikan Toman dosis 0,7 gram, kontrol positif berupa kapsul ekstrak ikan Haruan dosis 0,7 gram serta kontrol negatif yang hanya diberikan pakan BR2. Perlakuan dilakukan sebanyak 2 kali sehari selama 28 hari. Cara perlakuan adalah dengan membuka cangkang kapsul, kemudian ekstrak kering 500 gram ditambahkan aquades dan diberikan ke tikus Wistar menggunakan sonde lambung. Setelah 28 hari, tikus diambil sampel darah dan diuji menggunakan alat Hematology analyzer sysmax. Hasil : Rata-rata jumlah hemoglobin pada kelompok perlakuan, kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif masing-masing adalah 11,8 g/dl, 12,02 g/dl, dan 12,12 g/dl. Rata-rata dari jumlah eritrosit pada kelompok perlakuan, kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif masing-masing adalah 6,46 juta/mm3, 7,07 juta/mm3, dan 5,50  juta/mm3. Rata-rata dari jumlah leukosit pada kelompok perlakuan, kelompok kontrol positif, dan kelompok kontrol negatif masing-masing adalah 17,86 juta/mm3, 13,62 juta/mm3, dan 9,24 juta/mm3. Kesimpulan : Terdapat pengaruh negatif pemberian kapsul ekstrak ikan Toman dosis 0,7 gram terhadap perubahan kadar eritrosit dan leukosit, sedangkan pada hemoglobin tidak terdapat pengaruh. Hal ini menunjukkan bahwa kapsul ekstrak ikan Toman memiliki efek toksik terhadap profil darah.Kata Kunci : ikan haruan, ikan toman, uji toksisitas, profil hematologi
ANALISIS DAMPAK INDUSTRI PANDAI BESI TERHADAP KUALITAS AIR BERSIH DAN KESEHATAN MASYARAKAT DESA SUNGAI PINANG Maharani Laillyza Apriasari; Nurul Ikhsani Umar; Amy Nindia Carabelly
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17746

Abstract

ABSTACTBackground: River water and municipal water (PDAM) serve as primary sources of clean water for the residents of Sungai Pinang Village, Daha Selatan District, Hulu Sungai Selatan Regency, South Kalimantan Province. The presence of blacksmithing (metal forging) industries in the village has contributed to a decline in clean water quality, which in turn affects the health conditions of the local community. Objective: This study aims to analyze the impact of blacksmithing industries on clean water quality and to assess the resulting health effects on the residents of Sungai Pinang Village, Daha Selatan District, Hulu Sungai Selatan Regency. Methods: This descriptive quantitative study was conducted to illustrate the quality of clean water and the health status of the Sungai Pinang community. Research subjects were selected using purposive sampling, involving the Village Head, blacksmith industry workers, and residents knowledgeable about local health conditions and industrial activities. Data were collected through interviews, observations, and laboratory testing. The study applied the Pollution Index (IP) method, referring to the Decree of the Minister of Environment No. 115 of 2003 on Guidelines for Determining Water Quality Status. Results: Analysis using the Pollution Index (IP) method yielded a score of 4.6 for river water and 3.9 for municipal water (PDAM). Conclusion: Based on the Pollution Index (IP) calculation, both river water and municipal water (PDAM) in Sungai Pinang Village, Daha Selatan District, are categorized as Lightly Polluted.Keywords: blacksmithing industry, public health, water quality ABSTRAK  Latar Belakang: Air sungai dan air PDAM merupakan sumber air bersih yang dikonsumsi oleh masyarakat di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Provinsi Kalimantan Selatan. Keberadaan industri pandai besi yang dilakukan di desa tersebut berdampak pada penurunan kualitas air bersih sehingga berdampak pula bagi kondisi kesehatan masyarakat setempat. Tujuan: Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis dampak industri pandai besi terhadap kualitas air bersih serta dampak kesehatan yang ditimbulkan dari industri pandai besi terhadap masyarakat Desa Sungai Pinang Kec. Daha Selatan Kab. Hulu Sungai Selatan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan menggambarkan kualitas air bersih dan tingkat kesehatan masyarakat di Desa Sungai Pinang. Subjek penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling, melibatkan Kepala Desa, pekerja industri pandai besi, serta masyarakat yang memahami kondisi kesehatan dan aktivitas industri setempat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan uji laboratorium. Penelitian ini menggunakan Metode IP (Indeks Pencemaran) yang merujuk pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Hasil: Analisis data menggunakan metode IP (Indeks Pencemaran) menunjukkan skor 4,6 pada air sungai dan 3,9 pada air PDAM. Kesimpulan: Kualitas air sungai dan air PDAM di Desa Sungai Pinang Kec. Daha Selatan dikategorikan pada status Cemar Ringan berdasarkan perhitungan menggunakan Metode IP (Indeks Pencemaran). Kata kunci: industri pandai besi, kesehatan masyarakat, kualitas air
PERBEDAAN RELIABILITAS POLA SIDIK BIBIR DAN BENTUK PAPILLA INSISIF DALAM MENGIDENTIFIKASI JENIS KELAMIN PADA SUKU BANJAR Timothy Jogy Sotarduga Parhusip; Didit Aspriyanto; Isyana Erlita; Amy Nindia Carabelly; Rima Permata Sari
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16563

Abstract

Background: Indonesia is frequently affected by natural disasters, with incidents increasing from 2,574 in 2018 to 5,400 in 2023. Victim identification is a vital component of disaster response efforts. In forensic odontology, anatomical structures such as the incisive papilla and lip print patterns (cheiloscopy) serve as potential tools for identification. The incisive papilla offers advantages due to its morphological stability and protected position within the oral cavity, while lip prints are considered reliable due to their uniqueness and resistance to minor trauma. However, comparative studies assessing the accuracy of both methods in sex determination remain scarce and warrant further scientific investigation. Purpose: To analyze the difference in reliability between lip print patterns and incisive papilla in identifying sex among the Banjar ethnic group. Methods: This study employed a simple random sampling technique and utilized a non-paired categorical comparative analytic design. A cross-sectional approach was applied, involving observation and data collection conducted at a single point in time. Results: Based on Cohen’s Kappa coefficient, lip print pattern analysis demonstrated strong reliability (K = 0.839), whereas incisive papilla shape showed moderate reliability (K = 0.653). The Mann Whitney test identified statistically significant sex-based differences in lip print patterns within the Upper Right and Lower Middle quadrants, as well as notable morphological differences in incisive papilla shape between male and female subjects. Conclusion: Lip print patterns demonstrate higher reliability compared to the shape of the incisive papilla in determining sex among the Banjar ethnic population.Keywords: Forensic Odontology, Incisive Papilla, Lip Prints ABSTRAKLatar Belakang: Indonesia sering dilanda bencana alam, dengan 2.574 kejadian pada 2018 dan meningkat menjadi 5.400 pada 2023. Identifikasi korban menjadi langkah krusial, di mana metode identifikasi menggunakan papilla insisif dan pola sidik bibir dari rongga mulut dapat dimanfaatkan. Papilla insisif dinilai digunakan karena memiliki ciri stabil, terlindungi dalam rongga mulut, serta bentuk yang bervariasi berdasarkan jenis kelamin. Pola sidik bibir (cheiloscopy) juga unik dan tahan terhadap trauma minor, sehingga sering digunakan dalam odontologi forensik. Namun, studi mengenai perbandingan reliabilitas keduanya dalam penentuan jenis kelamin masih terbatas dan perlu diteliti lebih lanjut. Tujuan: Untuk menganalisis perbedaan reliabilitas antara pola sidik bibir dan papilla insisif dalam mengidentifikasi jenis kelamin pada suku Banjar. Metode: Penelitian ini menggunakan metode simple random sampling dan bersifat analitik komparatif kategorik tidak berpasangan. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan cross-sectional dengan mengamati, observasi, maupun pengumpulan data pada satu waktu yang sama. Hasil: Berdasarkan uji Cohen’s Kappa, reliabilitas pola sidik bibir menunjukkan kategori kuat dengan nilai K = 0,839, sedangkan bentuk papila insisif memiliki reliabilitas sedang dengan nilai K = 0,653. Uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin terhadap pola sidik bibir pada kuadran UR dan LM, serta terhadap bentuk papila insisif. Kesimpulan: Pola sidik bibir lebih reliabel dibandingkan bentuk papilla insisif dalam mengidentifikasi jenis kelamin pada suku Banjar.Kata Kunci: Odontologi Forensik, Papilla Insisif, Sidik Bibir
GAMBARAN KASUS TANGGAL PREMATUR GIGI CANINUS SULUNG Tom Christian; Renie Kumala Dewi; Amy Nindia Carabelly; Alexander Sitepu; Riky Hamdani
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13116

Abstract

ABSTRACTBackground: Premature loss is a condition where deciduous teeth shed prematurely while replacement permanent teeth have not yet erupted. Premature loss of primary canines can be caused by caries, trauma, and systemic conditions. Maxillary canines are more prone to premature loss compared to mandibular canines. Purpose: This study aimed to determine the prevalence of premature loss of primary canine teeth among children aged 8-10 years at SDN 2 Syamsudin Noor, Landasan Ulin, Banjarbaru City in 2023. Method: This research employed an observational study with a cross-sectional design. The study included 77 students aged 8-10 years from SDN 2 Syamsudin Noor, selected using simple random sampling. Inclusion criteria were students aged 8-10 years who were cooperative respondents, with parents or guardians signing informed consent, and students in the mixed dentition phase. Exclusion criteria were students absent or sick on the day of data collection, and parents or guardians who withdrew consent. Data were collected through observational examination and filling out an odontogram. The research data were analyzed descriptively. Results: 23% of respondents experienced premature loss of primary canines, with the majority being females (66.67%). The primary canine most commonly affected was tooth element 53 (44%), and premature loss typically occurred at age 10 (38.89%). Conclusion: The description of premature loss of primary canine teeth in students at SDN 2 Syamsudin Noor aged 8-10 years, the majority of which occur in girls, namely maxillary primary canine teeth because hormonal factors at puberty can influence behavior in maintaining dental and oral hygiene.Keywords: premature loss, children, primary canines. ABSTRAKLatar Belakang: Prematur loss adalah kondisi dimana gigi desidui sudah tanggal sebelum waktunya sementara gigi permanen pengganti belum tumbuh. Prematur loss caninus sulung dapat disebabkan karena karies, trauma dan kondisi sistemik. Gigi caninus rahang atas sering mengalami tanggal prematur dibandingkan gigi caninus rahang bawah. Tujuan: Mengetahui gambaran tanggal prematur gigi caninus sulung pada anak usia 8-10 tahun di SDN 2 Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru pada tahun 2023. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan pada siswa-siswi usia 8-10 tahun di SDN 2 Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling sebanyak 77 orang dengan kriteria inklusi yaitu siswa siswi berusia 8-10 tahun, kooperatif untuk menjadi responden, orang tua atau wali yang menandatangani infomed consent dan siswa siswi dalam periode gigi bercampur. Kriteria eksklusi yaitu siswa siswi yang tidak hadir atau sakit pada hari pengambilan data dan orang tua atau wali yang mengundurkan diri. Pemeriksaan dilakukan dengan observasi serta pengisian odontogram. Data hasil penelitian selanjutnya dijabarkan secara deskriptif. Hasil: Sebanyak 23% responden mengalami prematur loss caninus sulung dengan responden terbanyak adalah perempuan (66,67%) dan elemen gigi caninus sulung yang mengalami tanggal prematur terbanyak adalah gigi 53 (44%) serta tanggal prematur terbanyak pada usia 10 tahun (38,89%). Kesimpulan: Gambaran tanggal prematur gigi caninus sulung pada siswa/siswi SDN 2 Syamsudin Noor usia 8-10 tahun mayoritas terjadi pada perempuan yaitu pada gigi caninus sulung rahang atas. Hal ini karena faktor hormonal pubertas dapat memengaruhi perilaku dalam memelihara kebersihan gigi dan mulut. Kata kunci: Caninus Sulung, Anak-Anak, Premature Loss
Co-Authors Agung Satria Wardhana Alexander Sitepu Alya Royyana Annisa Noviany Annisa Noviany Annisa Vara Nurdianty Apriasari, Maharani Lallyza Aprilyani, Nur Arifin, Rahmad Ariyati Retno Pratiwi, Ariyati Retno Ash-Shiddiq, Muhammad Hafizh Aspriyanto, Didit Audina, Nina Aulia, Shaula Nada Azizi, Fabillah Haikal Baitullah, Muhammad Akbar Bambang Setiawan Beta Widya Oktiani Dewi Nurdiana Dewi Puspitasari Dewi Puspitasari Dewi, Renie Kumala Dhya Aurellia Salsabila Karno Dian Masita Dewi Dwipura, Irnamanda Erika Norfitriyah Eriwati, Yosi Kusuma Erni Marlina Fajriani, Nuril Fitri Syahrina Ghea Tri Andini Gita Puspa Ningrum Gusti Febby Aprilia Hamdani, Riky Hutami, Wijayanti Diah Wasi I Wayan Arya K. Firdaus I Wayan Arya Krishnawan Firdaus Ichrom Nahzi, Muhammad Yanuar Ikhwan Faisal, Ikhwan Indah Listiana Kriswandini Jatmiko, Habibi Naufal Ketut Suardita, Ketut Khairunnida Khairunnida Kurniasari, Annisa Maharani Laillyza Apriasari Maharani Laillyza Apriasari Maharani Lailyza Apriasari Maman Diki Wahyudi MARIA BINTANG Maria Tanumihardja, Maria Marina Arum Syahadati Martha Vania Saputri Maulida, Novi Dwi Melissa Budipramana Milka Widya Sari Mira Hadistiana Mohd-Said, Shahida Muhammad Hasanu Reksi Muhammad Ikhlasul Amal Sangadji Muhammad Luthfi Nafisah, Riznasyarielia Nikmatun Nahzi, Yanuar Ichrom Nina Audina Norfitriyah, Erika Norhayati Norhayati Nurashfia Nurashfia Nuril Fajriani Nurul Ikhsani Umar Pramitha, Selviana Rizky Priyawan Rachmadi Puspitasati, Dewi Putra, Fedriko Gamaliel Rahman, Yajma Kamiila Ramadhaniyah, Nur Renie Kumala Dewi Rima Permata Sari Salsabila Karno, Dhya Aurellia Sari, Galuh Dwinta Sari, Milka Widya Sherli Diana Sinaga, Udur Siti Ujrumiah Suhartono Taat Putra Sutanti, Viranda Syahrina, Fitri Syifa Kamila Timothy Jogy Sotarduga Parhusip Tom Christian Tri Putri, Deby Kania Trianuanty, Aninditya Pimas Utami, Juliyatin Putri Wahyudi, Maman Diki Wydiamala, Erida Yusrinie Wasiaturrahmah