Claim Missing Document
Check
Articles

KAJIAN PSIKOANALISIS FREUD DALAM CERITA RAKYAT PUAN DAN SI TADDUNG Shinta Putri Nurdila; Alfian Rokhmansyah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/waq4mr46

Abstract

ABSTRAK: Cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga media yang merekam nilai budaya dan dinamika kepribadian manusia. Penelitian ini dilatarbelakangi kebutuhan untuk mengungkap bagaimana struktur kepribadian Freud tercermin dalam tokoh cerita rakyat Puan dan Si Taddung. Tujuannya adalah menganalisis wujud id, ego, dan superego pada kedua tokoh utama serta menjelaskan peran ketiganya dalam membangun konflik naratif dan pesan moral. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis konten terhadap teks cerita. Data berupa tindakan, dialog, dan reaksi emosional tokoh dikumpulkan melalui pembacaan mendalam, lalu diklasifikasikan ke dalam kategori tematik id, ego, dan superego. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Puan didominasi oleh kerja ego dan superego, terlihat melalui pengendalian diri, kepatuhan pada norma sosial, dan pertimbangan moral. Sebaliknya, Si Taddung menunjukkan dominasi id melalui impulsivitas, pencarian kepuasan sesaat, dan pengabaian konsekuensi sosial. Pertemuan dan benturan ketiga struktur kepribadian tersebut membentuk alur konflik sekaligus menguatkan pesan moral mengenai pentingnya pengendalian diri dan tanggung jawab atas tindakan. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan psikoanalisis Freud efektif untuk mengungkap kompleksitas karakter dan menginterpretasikan nilai budaya yang terinternalisasi dalam cerita rakyat Nusantara. Selain itu, analisis ini menunjukkan bahwa cerita rakyat dapat dimanfaatkan sebagai medium pembelajaran sastra dan psikologi. Penerapan konsep id, ego, dan superego membantu pembaca melihat hubungan antara dorongan batin, pertimbangan rasional, dan suara moral. KATA KUNCI: Freud; Kepribadian, Konflik; Nusantara; Moral   A FREUDIAN PSYCHOANALYTIC ANALYSIS OF THE FOLKTALE PUAN DAN SI TADDUNG   ABSTRACT: Folktales serve not only as entertainment but also as a vital medium for recording cultural values and the dynamics of human personality. This research is motivated by the need to uncover how Freud's personality structure is reflected in the folktale characters Puan and Si Taddung. The aim is to analyze the id, ego, and superego in the two main characters and explain their roles in constructing narrative conflict and conveying moral messages. A descriptive qualitative method was employed using content analysis techniques applied to the story text. Data, consisting of the characters' actions, dialogues, and emotional reactions, were collected through in-depth reading, then classified into thematic categories corresponding to the id, ego, and superego. The results demonstrate that Puan is dominated by the work of the ego and superego, evidenced through self-control, adherence to social norms, and moral considerations. In contrast, Si Taddung exhibits id dominance through impulsivity, the pursuit of instant gratification, and disregard for social consequences. The encounter and clash of these three personality structures shape the conflict flow while simultaneously reinforcing the moral message regarding the importance of self-control and responsibility for one's actions. These findings confirm that Freud's psychoanalytic approach is effective in uncovering the complexity of character and interpreting the cultural values internalized in Indonesian folktales. Furthermore, this analysis shows that folktales can be utilized as a dual medium for studying literature and psychology. The application of the concepts of id, ego, and superego helps readers see the relationship between inner drives, rational considerations, and moral judgment. KEYWORDS: Freud; Personality; Conflict; Archipelago; Morals  
ANALISIS STRUKTURAL DAN MOTIF NARATIF LEGENDA ASAL-USUL NAMA BALIKPAPAN (VERSI PAPAN KEMBALI DAN PUTRI PETUNG) KAJIAN FOLKLOR KAMPARATIF Yunia Hardiani Listiyowardany; Nina Queena Hadi Putri; Alfian Rokhmansyah
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1227

Abstract

Cerita rakyat adalah salah satu budaya popular di Masyarakat, dengan membawakan cerita kepada anak, dapat memberi stimulus bermanfaat untuk mengolah rasa, emosi dan bahasa. Namun seiring perkembangan zaman cerita rakyat mulai menghilang oleh karena itu penelitian ini bertujuan menganalisis secara komparatif struktur dan motif naratif dua versi utama legenda asal-usul nama Kota Balikpapan, yaitu versi Papan Kembali dan versi Putri Petung. Analisis struktural menggunakan pendekatan strukturalisme Claude Lévi-Strauss untuk mengungkap oposisi biner mendasar, sementara analisis motif naratif menggunakan taksonomi Stith Thompson untuk mengidentifikasi unsur-unsur cerita yang berulang. Hasil kajian menunjukkan adanya perbedaan skema naratif yang signifikan antara kedua legenda tersebut, meskipun keduanya berfungsi sebagai mitos etiologi yang menjelaskan penamaan suatu tempat. Versi Papan Kembali berfokus pada dinamika hubungan Raja/Pusat Kekuasaan dengan Rakyat/Periferi dan unsur benda (papan) sebagai subjek, sedangkan versi Putri Petung menyoroti nasib tragis tokoh perempuan (Putri) dan oposisi biner Alam/Budaya (Lautan/Peradaban). Kajian komparatif ini menyimpulkan bahwa keragaman legenda mencerminkan kompleksitas dan multikulturalitas historis masyarakat awal Balikpapan yang terkait dengan pengaruh Kerajaan Kutai dan Paser.
NILAI SOSIAL DAN BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT ANUGERAH YANG TERINDAH DARI KUTAI KALIMANTAN TIMUR Desy Agustina; Nina Queena Hadi Putri; Alfian Rokhmansyah
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1260

Abstract

Cerita rakyat merupakan bagian dari folklor lisan. Setiap kebudayaan yang terdapat pada kolektif tertentu harus dilestarikan. Oleh karena itu, Kajian terhadap nilai sosial dan budaya dalam cerita rakyat ini penting dilakukan untuk memperkuat pemahaman terhadap identitas budaya lokal serta memperkaya khazanah kesusastraan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan nilai-nilai sosial dan budaya yang terdapat dalam cerita rakyat Anugerah yang Terindah dari Kutai, Kalimantan Timur. Cerita rakyat sebagai warisan budaya mengandung ajaran moral, sosial, serta nilai-nilai luhur yang dapat dijadikan pedoman hidup masyarakat. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita rakyat Anugerah yang Terindah mengandung nilai sosial seperti gotong royong dan kerja sama, kepedulian terhadap sesama, keadilan dan persamaan derajat, dan kasih saying dan kekeluargaan, serta nilai budaya seperti penghormatan terhadap leluhur, spiritualitas dan rasa syukur kepada tuhan, dan pentingnya menjaga keharmonisan sosial. Nilai-nilai tersebut mencerminkan identitas masyarakat Kutai yang menjunjung tinggi solidaritas dan kearifan lokal. Penelitian ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman generasi muda terhadap pentingnya pelestarian nilai-nilai budaya dalam cerita rakyat.
STRUKTUR NARATIF DAN KEARIFAN MORAL DALAM CERITA RAKYAT DAYAK BENUAQ PERJALANAN KE GUNUNG LUMUT: SASTRA BERBASIS KEARIFAN LOKAL Sylva Aulia; Alfian Rokhmansyah; Nina Queena Hadi Putri
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i2.1261

Abstract

Penelitian ini mengkaji struktur naratif dan nilai moral yang terdapat dalam cerita rakyat Dayak Benuaq Perjalanan ke Gunung Lumut. Cerita ini penting untuk dianalisis karena merepresentasikan pandangan hidup dan ajaran moral yang menjadi pijakan masyarakat Dayak Benuaq dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui teknik membaca, mencatat, serta mengidentifikasi pola alur cerita dan pesan moral yang muncul dalam teks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerita ini memiliki alur naratif yang lengkap, mulai dari tahap keseimbangan awal, gangguan, upaya pemulihan, penyelesaian, hingga tercapainya keseimbangan baru. Analisis juga menunjukkan sejumlah nilai moral, seperti kesetiaan, tanggung jawab, kepatuhan pada petunjuk, kerja keras, serta pentingnya menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Penelitian ini menunjukkan bahwa cerita rakyat ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sebagai media penyampaian ajaran moral dan pembentuk karakter masyarakat.
Mimpi Tokoh Utama dalam Novel 23:59 Karya Brian Khrisna: Kajian Psikoanalisis Freud Muhammad Adi Drajad; Alfian Rokhmansyah
KREDO : Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2026): JURNAL KREDO VOL 9 NO 2 TAHUN 2026
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/kredo.v9i2.16380

Abstract

Studi ini menganalisis mimpi tokoh utama dalam novel 23:59 karya Brian Khrisna menggunakan pendekatan psikoanalitik Freud. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap peran mimpi sebagai representasi konflik batin dan keinginan tersembunyi tokoh Ami, serta menganalisis simbol-simbol yang muncul dalam mimpi tersebut. Studi ini didasarkan pada teori psikoanalitik Freud, khususnya konsep teori mimpi yang membedakan antara isi manifes dan laten. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik analisis data interpretatif. Temuan utama menunjukkan bahwa mimpi Ami mencerminkan keinginan terdalamnya untuk bersatu kembali dengan mantan kekasihnya, Raga, serta konflik emosionalnya yang belum terselesaikan. Simbol-simbol dalam mimpi, seperti foto dan gelang manik-manik, mengandung makna yang berkaitan dengan kenangan masa lalu dan keterbatasan waktu. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman lebih lanjut tentang hubungan antara mimpi dan kepribadian dalam karya sastra dan memperkaya analisis psikoanalitik simbolisme dalam teks sastra. Implikasi dari studi ini juga membuka ruang untuk penelitian lebih lanjut tentang dinamika psikologis tokoh dalam genre sastra lainnya.