Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan fondasi strategis dalam membangun kesiapan belajar dan kualitas SDM jangka panjang. Meskipun kebijakan PAUD di Indonesia terus diperkuat, dinamika partisipasi pendidikan prasekolah masih menunjukkan ketimpangan antardaerah, khususnya di wilayah berkembang seperti NTB. Sebagian besar kajian sebelumnya cenderung bersifat mikro dan deskriptif, serta belum banyak memanfaatkan data longitudinal dengan pendekatan analisis tematik dan dialektis. Penelitian ini memfokuskan permasalahan pada bagaimana dinamika perubahan partisipasi pendidikan prasekolah anak usia 0–6 tahun di NTB serta bagaimana makna perubahan tersebut jika ditafsirkan secara tematik dan dialektis. Penelitian bertujuan menganalisis pola, kecenderungan, dan variasi perubahan non-partisipasi prasekolah berbasis data longitudinal, sekaligus menginterpretasikan implikasinya terhadap kesiapan belajar dan kebijakan PAUD. Kerangka teori bertumpu pada dialektika Hegel (tesis–antitesis–sintesis) sebagai teori besar, teori kesiapan sekolah sebagai teori tingkat menengah, dan perspektif manajemen PAUD sebagai teori terapan. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan dukungan analisis kuantitatif data sekunder serta penelitian kepustakaan. Data dikumpulkan melalui penelusuran sistematis dokumen statistik resmi BPS Provinsi NTB periode 2020–2025, dokumen kebijakan, dan literatur ilmiah relevan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik, perhitungan laju perubahan (CAGR), serta interpretasi dialektis untuk mengidentifikasi tesis, antitesis, dan sintesis temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara agregat terjadi penurunan persentase anak usia 0–6 tahun yang tidak/belum mengikuti prasekolah di NTB, yang merepresentasikan peningkatan akses PAUD. Namun, penurunan tersebut tidak merata antarkabupaten/kota, dengan sebagian wilayah menunjukkan akselerasi signifikan dan wilayah lain mengalami stagnasi atau fluktuasi akibat faktor struktural, geografis, dan sosial, termasuk peran orang tua. Studi ini menyimpulkan bahwa peningkatan partisipasi prasekolah merupakan proses dinamis yang dipengaruhi interaksi kebijakan, kapasitas kelembagaan, dan praktik pengasuhan keluarga. Penelitian merekomendasikan penguatan kebijakan PAUD berbasis kewilayahan, integrasi perluasan akses dan kualitas layanan, serta peningkatan literasi dan keterlibatan orang tua, disertai pemanfaatan data longitudinal secara berkelanjutan dalam perumusan kebijakan.