Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Jurnal KACA

Konsep Akal Menurut Fakhr Al-Rāzi dalam Tafsir Mafātīh Al-Ghāib Muhammad Rizqi Romdhon; Masruchin Masruchin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 13 No. 2 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v13i2.487

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui seperti apa konsep akal yang diusung oleh al-Rāzi dalam tafsirnya Mafātīh al-Ghāib. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini bersifat deskriptif juga dengan melalui penelitian kepustakaan (library research). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka bisa disimpulkan bahwa konsep akal menurut al-Rāzi dalam tafsir Mafātīh al-Ghāib adalah, Pertama, akal bisa memahami keyakinan akan ke-Esa-an Allah, iman kepada yang gaib dan penjelasan al-Qur`an. Kedua, akal bisa mengetahui kebenaran dan kebaikan. Ketiga, Akal mempunyai batasan. Keempat, Akal merupakan sarana untuk berpikir dan pintu ilmu pengetahuan. Kelima, akal terbagi dua; iktisabi dan mathbu’. Kemudian terbagi lagi menjadi mathbu’ dan masmu’.
Manuskrip Kuno dan Perdebatan Autentisitas Teks Al-Qur’an: Tinjauan Filologis Kritis Terhadap Manuskrip Birmingham, Sana’a, dan Topkapi Masruchin, Masruchin; Rahmat, Maulana Bagus
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 15 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v15i1.1100

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji autentisitas teks Al-Qur’an melalui pendekatan filologis-kritis terhadap tiga manuskrip kuno: manuskrip Birmingham, Sana’a, dan Topkapi, yang kemudian dibandingkan dengan mushaf Uthmani standar. Latar belakang penelitian ini didorong oleh dominasi wacana akademik Barat yang kerap meragukan keaslian teks Al-Qur’an, serta keterbatasan keterlibatan akademisi Muslim dalam kajian tekstual kritis. Studi ini menggunakan metode kualitatif berbasis pustaka (library research) dengan teknik analisis deskriptif-komparatif terhadap aspek ortografi (rasm), tanda baca (dhabt), dan struktur teks. Hasil penelitian menunjukkan adanya varian minor yang bersifat ortografis dan tidak berdampak pada perubahan makna substansial, dengan tingkat perbedaan di bawah 0,01%. Temuan ini menguatkan narasi tentang terjaganya teks Al-Qur’an sejak masa kodifikasi Utsmani, sekaligus menunjukkan validitas sejarah wahyu dalam perspektif keilmuan. Studi ini merekomendasikan pendekatan integratif antara filologi, sejarah kodifikasi, dan teologi sebagai kontribusi konstruktif dalam studi Al-Qur’an kontemporer.
Pesan Poligami dalam Kisah Nabi Ibrahim: Kajian Historis Komparatif Al-Quran dan Alkitab Masruchin, Masruchin; Muttaqin, Ahmad; Rohana, Selti
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 1 (2024): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i1.588

Abstract

Poligami merupakan hal yang lumrah di kalangan para nabi pada berbagai masa, salah satu Nabi yang melakukan poligami ialah Nabi Ibrahim, poligami yang dilakukannya terdapat permasalahan yang kontroversial dalam ranah agama dan budaya. Adapun fokus pada penelitian ini terdapat pada dua kitab suci yaitu Al-Qur’an dan Alkitab, dimana keduanya memiliki pandangan yang berbeda dalam menceritakan poligami Nabi Ibrahim lalu alasan apa yang menyebabkan Nabi Ibrahim berpoligami. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis library research yang bertitik tolak memahami nilai komparatif historis yang mendasari poligami Nabi Ibrahim dalam pemaparan lintas agama. Berdasarkan hasil penelitian dari pesan poligami Nabi Ibrahim dalam Al-Qur’an dan Alkitab dapat disimpulkan bahwa poligami boleh dilakukan jika dalam keadaan darurat dengan mengikuti peraturan yang berlaku, Poligami sah karena seorang istri tidak dapat melahirkan anak sendirian, tetapi poligami yang dilakukan harus dengan izin seorang istri atau istri yang meminta suaminya untuk berpoligami. Dengan demikian Al-Qur’an dan Alkitab mengajarkan bahwa perkawinan yang ideal ialah perkawinan monogami, sebab poligami bukanlah suatu keharusan dan tidak boleh dilakukan sesuka hati tetapi dapat menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkannya, karena poligami menuntut pengabdian dan tanggung jawab yang utuh jika tidak akan menimbulkan konflik ketidakharmonisan didalam rumah tangganya.
Analisis Penafsiran Al-Maraghi pada Q.S Al-Maidah Ayat 20-23 dan Refleksi Kontemporer atas Konflik Israel-Palestina Laila, Rodliyatul; Hakiki, Kiki Muhamad; Masruchin, Masruchin
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i1.1257

Abstract

Penelitian ini membahas penafsiran Q.S. Al-Maidah ayat 20–23 melalui pendekatan tafsir tahlili dengan menjadikan Tafsir Al-Maraghi sebagai rujukan utama. Fokus kajian ini adalah merefleksikan kandungan ayat terhadap realitas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam agresi militer Israel terhadap Palestina. Ayat-ayat tersebut mengisahkan perintah Allah kepada Bani Israil untuk memasuki tanah yang dijanjikan (al-ard al-muqaddasah), namun mereka menolaknya karena takut terhadap kaum yang dianggap kuat. Tafsir Al-Maraghi menerangkan bahwa kegagalan Bani Israil bukan disebabkan oleh kekuatan musuh, tetapi karena lemahnya iman, keberanian, dan ketaatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan untuk menelaah korelasi antara pesan ayat dan konteks kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa janji Allah atas tanah suci bersifat kondisional, tidak berlaku mutlak berdasarkan garis keturunan, melainkan harus disertai dengan ketaatan dan keadilan. Oleh karena itu, klaim sepihak Israel atas Palestina dengan dalih warisan historis Bani Israil kehilangan legitimasi teologis. Tafsir ini tidak hanya menjadi cermin historis, tetapi juga tawaran etis bagi umat Islam untuk berpihak kepada keadilan dan membela yang tertindas. Kajian ini menegaskan pentingnya membaca Al-Qur’an sebagai sumber pembebasan sosial dan keadilan universal.
Kajian Tafsir Berbasis Surah: Analisis Struktur dan Historisitas Surah Al-Anbiya’ Ilham, Muhammad Ilham Saputra; Masruchin, Masruchin; Alghifari, Abuzar
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i1.1070

Abstract

Artikel ini mengkaji struktur dan historisitas surah al-Anbiya’ melalui pendekatan tafsir maudhu’i (tematik berbasis surah) dan historis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali struktur naratif dan konteks sosio-historis pewahyuan yang melatarbelakangi surah al-Anbiya’ serta mengungkap pesan-pesan tematik utamanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang mengambil data dari sumber kepustakaan (library research) dan dengan analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa surah al-Anbya’ sebagai golongan surah Makkiyah memiliki tema sentral yaitu penegasan akidah (tauhid), kenabian serta peringatan tentang hari kiamat dan kebangkitan. Struktur Surah Al-Anbiya’ tersusun secara sistematis dengan struktur naratif yang logis dan progresif:  Dimulai peringatan keras tentang hari kiamat, dilanjutkan dengan dalil rasional tentang kekuasaan Allah, kemudian pembahasan tentang kematian, kisah-kisah nabi terdahulu sebagai bukti historis dan legitimasi kerasulan, dan ditutup dengan seruan pada persatuan dalam tauhid. Dari aspek historis, surah ini turun di tengah kondisi masyarakat Mekkah yang berada dalam kesyirikan, penolakan terhadap kenabian, serta pengingkaran terhadap hari kebangkitan. Asbabun nuzul dari beberapa ayat kunci memperkuat konteks penurunan wahyu yang relevan dengan tantangan dakwah Nabi Muhammad SAW. Surah ini memperlihatkan kesinambungan pesan dakwah dari para Nabi sebelumnya hingga Nabi Muhammad SAW, serta mengajak manusia kembali pada ajaran murni Islam. Penelitian ini membuktikan bahwa Surah Al-Anbiya’ memiliki kesatuan tematik dan retorika yang kuat, sekaligus menunjukkan respons wahyu terhadap realitas masyarakatnya.
Sains dan Hermeneutika Al-Qur’an: Membaca Ayat-Ayat Kauniyyah dalam Perspektif Ilmiah Masruchin, Masruchin; Syafira, Klara; Azizah, Dwima Dini; Azzahra, Fatimah; Fernanda, Meila
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 16 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v16i1.1202

Abstract

Artikel ini membahas hubungan epistemologis antara Al-Qur’an dan sains melalui pendekatan hermeneutika ilmiah. Selama sejarah intelektual Islam, relasi antara wahyu dan sains mengalami pergeseran, mulai dari harmoni pada era klasik hingga munculnya dikotomi pada era modern akibat paradigma positivistik. Di sisi lain, muncul pula kecenderungan scientific exegesis yang berupaya menjadikan Al-Qur’an seolah-olah kitab sains empiris. Artikel ini menawarkan hermeneutika sebagai pendekatan yang lebih proporsional dalam membaca ayat-ayat kauniyyah, yaitu dengan menempatkan sains sebagai mitra dialogis wahyu tanpa menjadikannya tolok ukur tunggal kebenaran teks suci. Pembahasan mencakup perbedaan dan titik temu epistemologis wahyu-sains, penggunaan hermeneutika sebagai jembatan pemaknaan, prinsip-prinsip paradigma keilmuan Islam, model epistemologis integratif, serta gagasan pembangunan kelembagaan pendidikan yang mampu mewujudkan integrasi ilmu. Kajian ini menunjukkan bahwa integrasi antara sains dan Al-Qur’an dapat melahirkan paradigma keilmuan tauhidi yang holistik, etis, dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.