Claim Missing Document
Check
Articles

The Socialization of Waste Sorting and Management Action in RW 04 Jayawaras Village, Tarogong Kidul District, Garut Regency Setiawan, Setiawan; Purnama, Dadang; Witdiawati, Witdiawati; Sunarya, Uu
JURNAL KESEHATAN STIKes MUHAMMADIYAH CIAMIS Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan (April 2024)
Publisher : LPPM STIKes Muhammadiyah Ciamis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52221/jurkes.v11i1.532

Abstract

Waste is a material that is discarded or discarded from a source resulting from human activities or natural processes that has no economic value, and can even have a negative value because handling it, whether to dispose of it or clean it up, requires quite a large amount of money. Apart from that, the characteristic of waste is that it smells, waste can also cause infectious diseases such as tuberculosis, dengue fever, acute respiratory infections, diarrhea and other infectious diseases. A process of waste handling activities from the source by utilizing resources effectively starting from containerization, collection, transportation, processing to disposal through organizational management control that is environmentally friendly, namely waste sorting, to facilitate disposal and reprocessing, to separate organic waste disposal. , non-organic and B3 and to make waste environmentally friendly. Waste management or processing is an important part of waste handling to change waste into a form that is more stable and does not pollute the environment and reduces the amount of waste that must be deposited in TPA (Final Processing Place).
Pendidikan dan Promosi Kesehatan Mengenai Kesehatan Mental pada Siswa Kelas XII SMAN 1 Pangandaran Shalahuddin, Iwan; Rosidin, Udin; Purnama, Dadang; Sumarni, Nina; Witdiawati, Witdiawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 5 (2024): Volume 7 No 5 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i5.14290

Abstract

ABSTRAK Data Indeks Kesehatan Mental Masyarakat Indonesia Tahun 2023  ditemukan 9.162.886 kasus depresi dengan prevalensi 3,7 persen. Dari data tersebut ditemukan bahwa masyarakat Indonesia yang tidak produktif memiliki kecenderungan untuk mengalami gejala depresi lebih tinggi. Saat ini masalah kesehatan mental pada remaja cukup tinggi. Menurut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey, 15,5 juta (34,9 persen) remaja mengalami masalah mental dan 2,45 juta (5,5 persen) remaja mengalami gangguan mental. Kesehatan mental akan sangat berpengaruh terhadap produktivitas nasional. Tujuan dari Pengabdian pada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman Siswa/i dalam upaya memvalidasi apa yang mereka rasakan terkait masalah mental. Metode yang digunakan yaitu menggunakan metode massa. Penyampaian metode ini dilakukan secara langsung dimana didalamnya terdapat materi yang disampaikan dalam bentuk poster, video, dan infografis. Hasil, kegiatan dilakukan pada tanggal 03 november 2023 dengan jumlah audience sebanyak 174 orang dengan kisaran rentang usia 17-18 tahun meliputi siswa kelas XII.  Berdasarkan hasil pre-test dengan hasil rata-rata pengetahuan berkisar 69%. Setelah pemberian materi, adanya peningkatan pengetahuan yang didapatkan dari hasil post-test dengan rata-rata 86% (peningkatan sebesar 19%), Artinya, para audiens telah memiliki pengetahuan yang baik atas pertanyaan yang diberikan. Kesimpulan Berdasarkan dari hasil dan pembahasan data survei, penulis dapat mengambil kesimpulan dari pendidikan dan promosi kesehatan yang telah kami lakukan secara langsung ini bahwa dari pre-test yang telah dilakukan hasilnya menunjukan mayoritas audiens sudah memiliki pengetahuan terkait kesehatan mental namun tidak secara mendalam mengenai pengertian dari kesehatan mental, jenis-jenis gangguan kesehatan mental, keefektifan dan perbedaan dari setiap jenis gangguan kesehatan mental. Kata Kunci: Promosi Kesehatan, Kesehatan Mental, Siswa, Pendidikan  ABSTRACT Data from the Indonesian Public Mental Health Index in 2023 found 9,162,886 cases of depression with a prevalence of 3.7 percent. From these data, it was found that unproductive Indonesians have a tendency to experience higher depressive symptoms. Currently, mental health problems in adolescents are quite high. According to the Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey, 15.5 million (34.9 percent) adolescents experience mental problems and 2.45 million (5.5 percent) adolescents experience mental disorders. Mental health will greatly affect national productivity. The purpose of this community service is to increase students' knowledge and understanding in an effort to validate what they feel about mental problems. The method used is using the mass method. The delivery of this method is carried out directly where there is material delivered in the form of posters, videos, and infographics. As a result, the activity was carried out on November 3, 2023 with a total audience of 174 people with an age range of 17-18 years including class XII students. Based on pre-test results with an average knowledge result of around 69%. After giving the material, there was an increase in knowledge obtained from the post-test results with an average of 86% (an increase of 19%), meaning that the audience already had good knowledge of the questions given. Conclusion Based on the results and discussion of survey data, the author can conclude from the education and health promotion that we have done directly that from the pre-test that has been carried out the results show that the majority of the audience already has knowledge related to mental health but not in depth about the understanding of mental health, types of mental health disorders, effectiveness and differences of each type of mental health disorder.     Keywords: Health Promotion, Mental Health, Students, Education
Pendidikan Kesehatan Pola Makan Teratur dan Peran Makanan Menjadi Landasan Terapi Kesehatan Mental “Sehat Pencernaan Sehat Otak” Purnama, Dadang; Witdiawati, Witdiawati; Setiawan, Setiawan; Muttaqin, Zaenal
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i7.13472

Abstract

ABSTRAK  Otak manusia sebagai pusat pengaturan mental tersusun atas material nutrisi esensial yang tidak dapat disintesis oleh tubuh. Kesehatan otak tentu menjadi kunci dalam kesehatan mental, karena pusat aktivitas mental berada di otak. Sehingga peran makanan menjadi urgensi dalam mengontrol kesehatan mental dan berelasi dengan kesehatan usus atau pencernaan. Kesehatan pencernaan dan kesehatan mental merupakan hal yang harus sejalan dalam kehidupan manusia untuk menjamin produktifitas pada setiap individu. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang pentingnya pola makan teratur untuk menjaga kesehatan pencernaan berelasi dengan kesehatan mental. Metode kegiatan dengan ceramah dan diskusi. Sasaran pelaksanaan edukasi adalah siswa-siswi kelas 12 MAN 1 Garut berjumlah 31 orang siswa. Hasil kegiatan menunjukan 71% siswa sering mengalami stress dan 29% sangat sering.  Koping stress yang dilakukan 29% dengan cerita bersama teman, 25,8 % makan, 19,4% tidur, dan sisa aktivias lain seperti jalan-jalan, bermain, dan beroda atau ritual spiritual lainnya. Berdasarkan data pola makan pokok ditemukan 32,3% hanya makan 1 kali sehari, 51,6% 2 kali sehari, hanya 16,1% makan 3x sehari, dan 0% dengan pola makan lebih dari 3 kali sehari. Pretest dan post test menunjukan perubahan yang signifikan. Kesimpulan. Perubahan perilaku pola makan teratur dapat membantu kesehatan mental sehingga meningkatkan kualitas Kesehatan siswa. Kata Kunci: Pola Makan Teratur, Kesehatan mental  ABSTRACT The human brain as the center of mental regulation is composed of essential nutritional materials that cannot be synthesized by the body. Brain health is certainly key in mental health, because the center of mental activity is in the brain. So that the role of food becomes an urgency in controlling mental health and is related to intestinal or digestive health. Digestive health and mental health are things that must be in line in human life to ensure productivity in each individual. The purpose of this service activity is to increase knowledge about the importance of a regular diet to maintain digestive health related to mental health. Method of activity with lectures and discussions. The target of the education implementation is 31 students of grade 12 MAN 1 Garut. The results showed that 71% of students experienced stress frequently and 29% very often.  29% coped with stories with friends, 25.8% ate, 19.4% sleep, and the rest of other activities such as walking, playing, and wheeling or other spiritual rituals. Based on basic diet data, it was found that 32.3% only ate 1 meal a day, 51.6% 2 times a day, only 16.1% ate 3x a day, and 0% ate more than 3 times a day. Pretest and post test showed significant changes. Conclusion. Changes in regular dietary behavior can help mental health thereby improving the quality of student health.  Keywords: Regular Diet, Mental Health
Gambaran Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi dan Infeksi Menular Seksual di Wilayah Kelurahan Kota Wetan Kecamatan Garut Kota Raihani, Nara; Witdiawati, Witdiawati; Juniarti, Neti
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i2.17396

Abstract

ABSTRACT During adolescence, adolescents will be faced with challenges ranging from limited access to education, minimal job opportunities, to health risks such as initial pregnancy, sexually transmitted infections, drug abuse, and HIV/AIDS. The purpose of this research was to assess the extent of adolescent knowledge about reproductive health and sexually transmitted infections in the Kota Wetan Village Area, Garut City District. The research method used was a survey method utilizing a quantitative descriptive design. The population in this study was 741 adolescents aged 10-18 years in RW 6,7,8,9,10,12,14,15,16,17,18,19 and RW 20 in Kota Wetan Village. The sampling technique applied in this study was total sampling. The questionnaire on the level of knowledge about reproductive health and sexually transmitted infections was the instrument used in this study. Data were collected from January 17, 2024 to January 24, 2024. This study has obtained a research permit from the National Unity and Politics Agency of Garut Regency with the Practical Number 072/0001-Bakesbangpol/I/2024. Data analysis was carried out using the frequency distribution method. The findings of the research revealed that  many as 561 adolescents (75.7%) had good knowledge related to reproductive health and 180 adolescents (24.3%) had poor knowledge related to reproductive health, as many as 486 adolescents (65.6%) had good knowledge related to Sexually Transmitted Infections and 255 adolescents (34.4%) had poor knowledge related to Sexually Transmitted Infections, as many as 360 (48.6%) adolescents had good knowledge and 381 (51.4%) adolescents had poor knowledge related to HIV/AIDS. The conclusion of this research indicates that most of adolescents have good knowledge related to Reproductive Health and Sexually Transmitted Infections, but the majority have poor knowledge related to HIV/AIDS. Keywords: Sexually Transmitted Infections, Community Nursing, Reproductive Health, Adolescents  ABSTRAK Pada masa remaja, remaja akan dihadapkan tantangan mulai dari akses pendidikan yang terbatas, kesempatan kerja yang minim, hingga risiko kesehatan seperti kehamilan usia dini, infeksi menular seksual, penyalahgunaan narkoba, dan HIV/AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi dan infeksi menular seksual di Wilayah Kelurahan kota Wetan Kecamatan Garut Kota. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan metode survery dengan desain penelitian deskriptif kuantitatif. Jumlah populasi dalam penelitian ini adalah sebanyak 741 remaja dengan usia 10 – 18 tahun RW 6,7,8,9,10,12,14,15,16,17,18,19 dan RW 20 di Kelurahan Kota Wetan. Teknik sampling yang diterapkan dalam studi ini adalah total sampling. Kuesioner tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan Infeksi Menular Seksual merupakan instrumen yang digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan sejak tanggal 17 Januari 2024 – 24 Januari 2024. Penelitian ini telah mendapatkan izin penelitian dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Garut dengan Nomor Praktikum 072/0001-Bakesbangpol/I/2024. Analisis data dilakukan dengan cara distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 561 remaja (75,7%)  memiliki pengetahuan yang baik terkait kesehatan reproduksi dan 180 remaja (24,3%) memiliki pengetahuan yang kurang terkait kesehatan reproduksi, sebanyak 486 remaja (65,6%) memiliki pengetahuan yang baik terkait Infeksi Menular Seksual dan 255 remaja (34,4%) memiliki pengetahuan yang kurang terkait Infeksi Menular Seksual, sebanyak 360 (48,6%) remaja memiliki pengetahuan yang baik dan 381 (51,4%) remaja memiliki pengetahuan yang kurang terkait HIV/AIDS. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas remaja memiliki pengetahuan yang baik terkait Kesehatan Reproduksi dan Infeksi Menuar Seksual, namun mayoritas memiliki pengetahuan yang kurang terkait HIV/AIDS. Kata Kunci: Infeksi Menular Seksual, Keperawatan Komunitas, Kesehatan Reproduksi, Remaja
Program Latihan Senam Otago sebagai Upaya Pencegahan Resiko Jatuh pada Orang dengan Lanjut Usia (Lansia) Witdiawati, Witdiawati; Purnama, Dadang; Sumarni, Nina
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i1.18087

Abstract

ABSTRAK Seiring bertambahnya usia, Pada lansia akan muncul beberapa masalah, dimana salah satu masalah fisik dan biologis yang muncul adalah jatuh. Strategi pencegahan jatuh merupakan intervensi penting pada semua individu lanjut usia. Pencegahan jatuh dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian pada lansia. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan kekuatan fisik lansia dengan latiahn senam Otago sebagai upaya pencegahan resiko jatuh. Metode kegiatan dengan demontrasi latihan senam Otago secara terbimbing. Sasaran pelaksanaan kegiatan adalah lansia di PPS Griya lansia Garut. kehadiran lansia yang mengikuti kegiatan senam Otago mencapai 58% (43 org), semua lansia dapat mengikuti gerakan senam Otago. Program Latihan Otago efektif dalam melatih keseimbangan dan pencegahan resiko jatuh pada lansia. Kata Kunci: Resiko Jatuh, Latihan Otago, Lansia  ABSTRACT Introduction: As we get older, in the elderly there will be several problems, where one of the physical and biological problems that arise is falling. Fall prevention strategies are an important intervention in all elderly individuals. Fall prevention can reduce the rate of illness and death in the elderly. Purpose: The purpose of this service activity is to increase the physical strength of the elderly by practicing Otago gymnastics as an effort to prevent the risk of falling. Methods: Activity method with a demonstration of Otago exercises in a guided manner. The target of the implementation of the activity is the elderly at PPS Griya Lansia Garut. Results: the attendance of the elderly who participated in Otago exercise reached 58% (43), all elderly people were able to participate in Otago exercise movements. Conclusion: The Otago exercise Program is effective in practicing balance and preventing the risk of falling in the elderly.  Keywords: Otago Exercise, Elderly, Fall Risk
“Gesit” Gerakan Edukasi Stunting Terpadu untuk Meningkatkan Pengetahuan dan Kesadaran Remaja Terkait Pencegahan Stunting di Desa Sukamulya Kabupaten Bandung Purnama, Dadang; Haroen, Hartiah; Witdiawati, Witdiawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 1 (2025): Volume 8 No 1 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i1.18090

Abstract

ABSTRAK Stunting merupakan suatu kondisi gangguan perkembangan atau pertumbuhan pada anak yang disebabkan oleh gangguan gizi kronis atau infeksi berulang. Stunting masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, termasuk di Desa Sukamulya, Kabupaten Bandung, Indonesia, dengan angka kejadian stunting sebanyak 107 balita dari 600 balita. Kurangnya kesadaran di kalangan remaja dan akses terhadap informasi kesehatan merupakan hambatan dalam mencegah stunting. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja terkait stunting dan pencegahannya. Kegiatan Gerakan Pendidikan Stunting Terpadu (GESIT) dilaksanakan dengan metode edukasi dan simulasi posyandu remaja. Hasil kegiatan menunjukan adanya peningkatan pengetahuan, dari target kehadiran 66 peserta dengan realisasi kehadiran 43 peserta, dengan hasil pre-test 69,473 dan hasil post-test 85,263. Hal tersebut dilihat dari rata-rata skor post-test 22,73% lebih tinggi dibandingkan pre-test. Kegiatan Gesit berhasil meningkatkan pengetahuan, kesadaran remaja tentang stunting dan pencegahannya. Simulasi posyandu juga dapat menjadi wadah latihan kader posyandu remaja dalam menjalankan posyandu remaja di kemudian hari. Kata Kunci: Stunting, Remaja, Pencegahan, Edukasi, Posyandu Remaja.  ABSTRACT Stunting is a condition of developmental or growth disorders in children caused by chronic malnutrition or repeated infections. Stunting is still a health problem in Indonesia, including in Sukamulya Village, Bandung Regency, Indonesia, with a stunting incidence rate of 107 children under five out of 600 toddlers. Lack of awareness among adolescents and access to health information are obstacles in preventing stunting. This activity aims to increase the knowledge and awareness of adolescents related to stunting and its prevention. The Integrated Stunting Education Movement (Agile) activities are carried out using educational methods and simulations of youth posyandu. The results of the activity showed an increase in knowledge, from the attendance target of 66 participants with the realization of the attendance of 43 participants, with pre-test results of 69,473 and post-test results of 85,263. This can be seen from the average post-test score of 22.73% higher than the pre-test. GESIT activities have succeeded in increasing the knowledge and awareness of adolescents about stunting and its prevention. Posyandu simulations can also be a forum for training youth posyandu cadres in running youth posyandu in the future. Keywords: Stunting, Prevention, Posyandu Remaja, Education, Adolescents
Pemberdayaan Kader Remaja Dalam Pencegahan HIV Witdiawati, Witdiawati; Hutomo, Wahyuni MP; Haroen, Hartiah; Purnama, Dadang
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 3 (2025): Volume 8 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i3.18515

Abstract

ABSTRAK Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia masih meningkat di tahun 2023. Partisipasi masyarakat merupakan aspek yang potensial untuk menunjang penanggulangan HIV/AIDS. Penting adanya kegiatan untuk meningkatkan, memperbaiki dan partisipasi kesadaran masyarakat dalam pencegahan HIV. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan di RW 08 Kelurahan Ciwalen Kabupaten Garut dengan metode pemberdayaan remaja “GEMA RW PEDULI HIV melalui rangkaian kegiatan pembentukan kader remaja, pendidikan kesehatan tentang HIV/AIDS pada remaja, pembuatan dan pemasangan media edukasi. Hasil kegiatan diantaranya terbentuknya kader remaja, terbentuknya akun media edukasi dan komunikasi HIV, terpasangnya spanduk edukasi HIV di 2 titik lokasi dan terdapat peningkatan pengetahuan remaja dengan rata-rata nilai sebesar 67 sebelum pendidikan kesehatan dan setelah dilakukan pendidikan kesehatan meningkat menjadi 90 point. Kegiatan pemberdayaan remaja dapat menjadi salah satu strategi pencegahan dan pengendalian HIV. Diharapkan keberlanjutan program kegiatan dimasa yang akan datang melalui sinergitas program layanan kesehatan dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat, Remaja, HIV/AIDS ABSTRACT Cases of Human Immunodeficiency Virus (HIV) in Indonesia are still increasing in 2023. Community participation is a potential aspect to support HIV/AIDS control. It is important to have activities to increase, improve, and participate in public awareness in HIV prevention. This community service activity was carried out in RW 08 Ciwalen neighborhood, Garut Regency, with the youth empowerment method "GEMA RW PEDULI HIV through a series of activities to form adolescent cadres, health education about HIV/AIDS in adolescents, and the manufacture and installation of educational media. The results of the activities included the formation of adolescent cadres, the formation of HIV education and communication media accounts, the installation of HIV education banners at 2 location points, and an increase in adolescent knowledge with an average score of 67 before health education and after health education increased to 90 points. Adolescent empowerment activities can be one of the strategies for HIV prevention and control. It is hoped that the sustainability of the program of activities in the future will be through the synergy of health service programs by involving community participation. Keywords: Community Empowerment, Adolescents, HIV/AIDS
Edukasi Penerapan Latihan Fisik sebagai Upaya Pencegahan Resiko Jatuh pada Ema Abah di Satuan Pelayanan Griya Lansia Garut Sumarni, Nina; Rosidin, Udin; Witdiawati, Witdiawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 5 (2025): Volume 8 No 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i5.18987

Abstract

ABSTRAK Lansia sangat erat kaitannya dengan penuaan. Penurunan kekuatan akibat penuaan dapat menyebabkan berbagai perubahan, seperti hilangnya massa tulang, kelemahan otot punggung bawah, kekakuan sendi, gangguan penglihatan, serta kehilangan keseimbangan saat berjalan yang dapat meningkatkan risiko lansia terjatuh. Risiko jatuh yang tinggi adalah salah satu faktor yang menyebabkan orang tua menjadi lebih lemah dan dapat mengakibatkan cedera serius serta penurunan kualitas hidup. Penanganan khusus seperti latihan fisik yang teratur dapat meningkatkan keseimbangan dan koordinasi, yang merupakan faktor kunci dalam pencegahan jatuh diperlukan untuk mengurangi dampak resiko jatuh pada lansia. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan edukasi mengenai penerapan latihan fisik sebagai strategi dalam upaya pencegahan resiko jatuh pada lansia ‘ema’ ‘abah’ di satuan pelayanan griya lansia Garut. Metode yang digunakan ceramah dan penerapan latihan fisik, dengan menggunakan pendekatan Evidence-Based Practice (EBP sehingga memudahkan para peserta dapat memahami Latihan fisik yang dilakukan sebagai upaya pencegahan resiko jatuh. Edukasi dan penerapan latihan fisik dilakukan pada 30 peserta ema abah di panti. Sosialisasi yang diberikan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat sebelum dan sesudah edukasi, dimana sebelum edukasi sebanyak 22 responden (73,33%) memiliki tingkat pemahaman cukup dan 8 responden (26,67%) memiliki pengetahuan yang kurang. Sedangkan setelah pemberian edukasi, terjadi peningkatan pengetahuan Dimana sejumlah 27 responden (90%) memiliki pengetahuan yang baik, dan 3 orang responden (10%) memiliki pengetahuan yang cukup. Hasil kegiatan pengabdian ini berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan. Peserta yang awalnya tidak tahu menjadi tahu dengan diberikannya edukasi yang dilakukan. Dari edukasi ini para peserta dapat mengetahui dan memahami Latihan fisik yang dilakukan sebagai upaya pencegahan resiko jatuh. Kata Kunci: Edukasi, Latihan Fisik, Upaya Pencegahan, Resiko Jatuh  ABSTRACT Elderly is closely related to aging. Decreased strength due to aging can cause various changes, such as loss of bone mass, weakness of lower back muscles, joint stiffness, visual impairment, and loss of balance when walking which can increase the risk of elderly people falling. A high risk of falling is one of the factors that causes elderly people to become weaker and can result in serious injuries and decreased quality of life. Special handling such as regular physical exercise can improve balance and coordination, which are key factors in preventing falls needed to reduce the impact of fall risk in the elderly. This activity aims to provide education regarding the application of physical exercise as a strategy to prevent the risk of falls in the elderly 'ema' 'abah' in the Garut elderly housing service unit. The method used is lectures and application of physical exercise, using the Evidence-Based Practice (EBP) approach so that it is easier for participants to understand the physical exercise carried out to prevent the risk of falls. Education and application of physical exercise were carried out on 30 ‘ema’ ‘abah’ participants in the shelter. The socialization provided can increase community understanding before and after education, where before education as many as 22 respondents (73.33%) had a sufficient level of understanding and 8 respondents (26.67%) had insufficient knowledge. While after education, there was an increase in knowledge where 27 respondents (90%) had good knowledge, and 3 respondents (10%) had sufficient knowledge. The results of this community service activity went well and in accordance with the objectives. Participants who initially did not know became aware by being given the education that was carried out. From this education, participants can learn and understand the physical exercises carried out to prevent the risk of falling. Keywords: Education, Physical Exercise, Prevention Efforts, Risk of Falls
Senam Kaki Diabetes Dalam Upaya Mencegah Ulkus Diabetik Pada Lansia di RW 19 Kelurahan Kota Wetan Garut Sumarni, Nina; Rosidin, Udin; Shalahuddin, Iwan; Witdiawati, Witdiawati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i4.18586

Abstract

ABSTRAK Penderita diabetes mellitus sering mengabaikan aktivitas fisik atau pergerakan tubuh karena berbagai alasan. Kurangnya aktivitas yang dilakukan oleh penderita diabetes mellitus akan menyebabkan tingginya gula darah dalam tubuh. Salah satu komplikasi yang terjadi pada penderita diabetes mellitus adalah terjadinya luka pada permukaan kulit yang dapat disertai dengan kematian jaringan. Pasien diabetes melitus beresiko 15–20 persen mengalami ulkus kaki diabetik dalam waktu lima tahun, dengan tingkat kekambuhan 50–70%, dan 85% akan menjalani amputasi. Pengelolaan diabetes melitus yang efektif dan terkendali dapat dilakukan dengan pengelolaan non farmakologis yaitu berupa kegiatan jasmani dan aktivitas fisik. Senam kaki diabetes adalah latihan yang dirancang khusus untuk pasien diabetes mellitus dengan tujuan utama meningkatkan sirkulasi darah atau aliran darah ke bagian kaki serta mencegah terjadinya luka dan komplikasi lainnya. Tujuan kegiatan adalah memberikan edukasi mengenai pendidikan kesehatan tentang senam kaki diabetes dalam upaya mencegah ulkus diabetik pada lansia di RW 19 Kelurahan Kota Wetan Garut.Metode yang digunakan pada aktivitas ini adalah lektur, diskusi dan interview. Nilai Tengah yang didapat peserta pada pre-test ialah 66 dan nilai Tengah yang didapat peserta setelah post test ialah 76 yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yaitu sebesar 10 poin setelah dilakukannya diskusi “Senam Kaki Diabetes Dalam Upaya Mencegah Ulkus Diabetik Pada Lansia”. terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 10 poin setelah diberikan edukasi kesehatan tentang senam kaki diabetes dalam upaya mencegah ulkus diabetik pada lansia Di RW 19 Kelurahan Kota Wetan, Kabupaten Garut dan diharapkan setelah dilakukan edukasi pendidikan kesehatan, para peserta mengetahui dan memahami tentang senam kaki dalam upaya mencegah ulkus diabetic dan mau aktif di kegiatan senam diabetes yang diselenggarakan di Posbindu RW 19. Kata Kunci: Senam Kaki Diabetes, Mencegah, Ulkus Diabetik ABSTRACT People with diabetes mellitus often ignore physical activity or body movement for various reasons. Lack of activity by people with diabetes mellitus will cause high blood sugar. One of the complications that occurs in people with diabetes mellitus is the occurrence of wounds on the surface of the skin which can be accompanied by tissue death. Patients with diabetes mellitus are at risk of 15-20 percent experiencing diabetic foot ulcers within five years, with a recurrence rate of 50-70%, and 85% will undergo amputation. Effective and controlled management of diabetes mellitus can be done with non-pharmacological management, namely physical activity and physical activity. Diabetic foot exercise is an exercise specifically designed for patients with diabetes mellitus with the main aim of increasing blood circulation or blood flow to the feet and preventing wounds and other complications. The purpose of the activity is to provide health education about diabetic foot exercise to prevent diabetic ulcers in the elderly in RW 19, Kelurahan Kota Wetan Garut. The methods used in this activity are reading, discussion, and interview. The median score obtained by participants in the pre-test was 66 and the median score obtained by participants after the post-test was 76, indicating an increase in knowledge of 10 points after the discussion "Diabetic Foot Exercises to Prevent Diabetic Ulcers in the Elderly" was conducted. There was an increase in knowledge of 10 points after being given health education about diabetic foot exercises to prevent diabetic ulcers in the elderly in RW 19, Kota Wetan Village, Garut Regency and it is hoped that after health education, participants will know and understand about foot exercises to prevent diabetic ulcers and want to be active in diabetic exercise activities held at Posbindu RW 19. Keywords: Diabetic Foot Exercises, Preventing, Diabetic Ulcers
The Application of Origami Therapy in The Elderly with Impaired Cognitive Function: A Case Study Salsabila, Nada; Witdiawati, Witdiawati; Sari, Sheizi Prista
Journal of Nursing Care Vol 8, No 2 (2025): Journal of Nursing Care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jnc.v8i2.63418

Abstract

Older adults are prone to cognitive decline, which impacts their quality of life. While origami therapy is known to improve concentration and fine motor skills, studies on its effect on cognitive function in older adults remain limited. As a non-pharmacological intervention, origami folding offers cognitive stimulation through enjoyable activities. Objective to determine the effectiveness of origami therapy in improving cognitive function in an older adult with cognitive impairment. This study employed a case study design involving a 71-year-old resident of Griya Lansia Garut. The intervention was carried out in six sessions over a period of ten days. Cognitive function was assessed using a standardized cognitive assessment tool on the first and last day of the intervention. The client’s score increased from 18 to 22, which remains within the mild cognitive impairment category but indicates improvement. Enhancements were observed in the client’s ability to follow instructions, recall folding steps, name objects, and orient to time. These findings suggest that origami folding may help enhance cognitive funtion in older adults, particularly in attention, memory, and orientation. Further research with a larger sample size is recommended to explore the broader effectiveness of this intervention.