Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK KEARIFAN LOKAL DALAM MENJAGA DAN MELESTARIKAN HUTAN DI DESA TUNABESI KECAMATAN IO KUFEU KABUPATEN MALAKA Seran, Maria Henindra Martin; Rammang, Nixon; Pramatana, Fadlan; Marimpan, Lusia Sulo
Jurnal Sylva Scienteae Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v9i1.16173

Abstract

Kearifan lokal mempunyai arti penting untuk menjaga kerinduan sebuah kebudayaan di suatu tempat, sekaligus agar terus dan tetap terjaga akan kelestariannya. Nilai-nilai yang terkandung di dalam kearifan lokal, sebagai sebuah konsepsi (tersimpan dan tertanam) yang khas milik seseorang, atau kelompok masyarakat. Desa Tunabesi di Kecamatan Io Kufeu, Kabupaten Malaka, merupakan salah satu desa yang masih mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal dalam pengelolaan hutan adatnya. Namun, Hutan Adat Kufeu yang berada di desa tersebut belum memperoleh pengakuan hukum secara formal dari pemerintah terkait Surat Keputusan (SK).Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk kearifan lokal Desa Tunabesi dalam menjaga dan melestarikan hutan, serta mengetahui cara masyarakat mempertahankan nilai-nilai tersebut dari generasi ke generasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat masih menjaga nilai-nilai seperti larangan menebang pohon sembarangan, menghindari berlebihan, serta pelaksanaan ritual adat dan sanksi bagi pelanggar. Adat dan peran Tetua Adat menjadi penguat kerinduan tradisi ini. Kearifan lokal terbukti efektif dalam melestarikan hutan, meskipun belum diakui secara hukum. Oleh karena itu diperlukan pengakuan hukum agar masyarakat memiliki perlindungan hukum dalam pengelolaan hutan adat.
KAJIAN ETNOBOTANI MASYARAKAT SEKITAR CAGAR ALAM MUTIS TIMAU, DESA NENAS, KECAMATAN FATUMNASI, KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Putri Yoland Anggraini Toy; Ludji Michael Riwu Kaho; Astin Elise Mau; Lusia Sulo Marimpan
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Nusa Tenggara Timur pada umumnya memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan untuk kebutuhan pribadi, salah satunya Desa Nenas yang merupakan desa penyangga Kawasan Cagar Alam Mutis Timau yang memanfaatkan tumbuhan bermanfaat dalam kawasan sehingga berpotensi menghilangkan keanekaragaman hayati tumbuhan bermanfaat yang ada di Cagar Alam Mutis Timau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan; cara pengolahan dan mengetahui status konservasi tumbuhan obat, tumbuhan pangan, dan tumbuhan pewarna yang ditemukan. Penelitian ini dilakukan berdasarkan ketinggian tempat yang ada di Desa Nenas. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dan deskriptif. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui teknik analisis vegetasi, pengamatan langsung di lapangan untuk menemukan jenis tumbuhan, hasil wawancara serta dokumentasi. Wawancara menggunakan snowball sampling. Hasil penelitian ditemukan terdapat 36 jenis tumbuhan obat dari 28 famili, tumbuhan pangan 11 jenis dari 9 famili, sedangkan tumbuhan pewarna yang ditemukan ada 2 jenis dari 2 famili. Bagian tumbuhan obat yang digunakan daun 77%, batang dan akar 5%, tunas 3%, rimpang 2%, dan untuk semua bagian 8%. Untuk tumbuhan pangan digunakan buah 73%, umbi, daun dan batang serta semua bagian 9%. Tumbuhan pewarna yang digunakan kulit batang dan daun 40%, rimpang 20%. Cara pengelolaan tumbuhan obat yaitu direbus, dikucak/diremas-remas, dikunyah, ditumbuk, ditempel, dibakar dan diseduh. Tumbuhan pangan langsung dimakan dan ada yang diolah. Untuk tumbuhan pewarna ada yang langsung direbus, ditumbuk lalu direbus, dan diparut lalu direbus. Status konservasi berdasarkan IUCN sebanyak 58% masuk dalam kategori Least Concern, Not Evaluated 36%, sedangkan untuk kategori Data Deficient, Near Threatened, dan Vulnerable 2%.