Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Assessing Agroforestry Impact on Household Income: A Study of the Bu’u Bei Community Forest (HKm) in Tina Bani Village, Ende, Indonesia Tiga, Elfrida Kastila Ine; Marimpan, Lusia Sulo; Mau, Astin Elise; Rammang, Nixon
Jurnal Wasian Vol. 11 No. 2 (2024): December
Publisher : Forestry Department, University of Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62142/5jw1by08

Abstract

Agroforestry systems play a critical role in supporting livelihoods across East Nusa Tenggara, including in the Bu'u Bei Community Forest (HKm) in Tina Bani Village, Ende District, Ende Regency, Indonesia. This study investigates agroforestry patterns and evaluates their contribution to household income among the 47 HKm member households, surveyed through a census in April and May 2024. Employing both descriptive and quantitative analyses, our research reveals that the agrisilviculture system, characterised by a random mixed planting pattern, dominates agroforestry practices in the village. Path dependency, rooted in long-standing traditions, significantly shapes these practices. Agroforestry contributed significantly to household income in 2023, accounting for 98.87% of total income. However, poor infrastructure, particularly damaged roads, limits market access and reduces the economic potential of these systems. The study emphasises the need for integrated land management approaches that address infrastructure deficits while strengthening the resilience of agroforestry systems. This research provides critical insights into the socio-economic and environmental roles of agroforestry, offering a valuable reference for policymakers and stakeholders committed to promoting sustainable forest management and rural development in Indonesia.
PEMANFAATAN EKOSISTEM MANGROVE DI EKOWISATA HUTAN MANGROVE KELURAHAN OESAPA BARAT, KOTA KUPANG, NUSA TENGGARA TIMUR Sipayung, Roni Haposan; Marimpan, Lusia Sulo; Pramatana, Fadlan; Sinaga, Pamona Silvia; Semarabawa, I Gede
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2024): Volume 5 No. 3 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i3.29735

Abstract

Ekosistem mangrove saat ini menjadi fokus pengembangan yang sangat penting untuk mengatasi perubahan iklim. Salah satu aplikasi pemanfaatan ekosistem mangrove adalah melalui kebijakan blue carbon (karbon biru). Di Indonesia ekosistem mangrove memiliki peranan yang paling besar dalam penyerapan karbon karena sekitar 17 persen karbon dunia berada di daerah pesisir pulau-pulau yang ada di Indonesia. Selain peranannya terhadap penyerapan karbon dunia, pemanfaatan ekosistem mangrove juga dapat berupa rekreasi/ekowisata, peningkatan produk ekonomi, dan pemanfaatan jasa lingkungan lainnya. Ekosistem Mangrove Kelurahan Oesapa Barat, Kota Kupang saat ini masih dimanfaatkan hanya sebagai tujuan wisata padahal potensi pemanfaatan yang dimiliki di dalamnya sangat banyak. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang tinggal di daerah ekosistem mangrove Kelurahan Oesapa Barat terkait dengan pemanfaatan ekosistem mangrove dan potensi yang ada di dalamnya. Metode penyuluhan kepada masyarakat dilakukan dengan menggunakan metode focus group discussion mengenai  pengelolaan ekosistem mangrove dengan materi seperti pemanfaatan ekosistem mangrove dan pengenalan produk-produk ekonomi mangrove. Penyuluhan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan yang baru kepada masyarakat dalam memanfaatkan ekosistem mangrove sehingga bukan hanya jasa ekologisnya/jasa lingkungan saja yang dapat dioptimalkan namun juga secara ekonomi membantu kesejahteraan masyarakat sekitar ekosistem mangrove Kelurahan Oesapa Barat, Kota Kupang.
KUALITAS PENGAWETAN BAMBU PERING DAN BAMBU PETUNG HITAM DENGAN METODE ASAP CAIR DAN PEREBUSAN BORAKS SEBAGAI BAHAN BAKU KONSTRUKSI PENGGANTI KAYU Sinaga , Pamona S.; Marimpan, Lusia S.; Purnama, Maria M.E; Sipayung, Roni. H.
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 4 (2024): Special Issue Vol. 7 No. 4 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i4.39661

Abstract

Bambu merupakan salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang mempunyai nilai manfaat yang besar namun masih mengalami permasalahan dengan umur bambu yang sangat pendek dibandingkan dengan kayu, karena keawetan bambu masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas pengawetan bambu pering dan bambu petung hitam sebagai bahan baku konstruksi pengganti kayu dengan metode pengawetan asap cair dan perebusan boraks. Tahapan penelitian dimulai dari penyiapan 2 jenis bambu (pembersihan dan pemotongan), penyiapan bahan pengawet bambu (larutan garam-asap cair dan boraks), pengujian mutu bambu tahan lama (uji retensi). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa mutu pengawetan bambu Pering menggunakan bahan pengawet asap cair lebih baik dibandingkan dengan bambu Betung Hitam yaitu secara keseluruhan memenuhi standar SNI 01-5010-1-1999 untuk digunakan dalam konstruksi.
EFEKTIVITAS PROGRAM PERHUTANAN SOSIAL SKEMA HUTAN KEMASYARAKATAN PADA KTH MANDIRI DAN KASIH SETIA DI KAWASAN HPT BIFEMNASI SONMAHOLE Tae, Arcilia Florida Enjel; Marimpan, Lusia Sulo; Sinaga, Pamona Silvia; Sipayung, Roni Haposan
Jurnal Sylva Scienteae Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v8i6.17798

Abstract

Perhutanan Sosial Skema HKm merupakan bentuk pemberian akses legal kepada masyarakat sekitar hutan bertujuan untuk melestarikan Kawasan hutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas program Perhutanan Sosial skema HKm pada KTH Mandiri dan Kasih Setia di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Bifemnasi Sonmahole dinilai dari aspek sosial dan ekonomi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kuantitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Aspek yang dianalisis meliputi kelola kelembagaan, kelola kawasan, dan kelola usaha sebagai bagian dari aspek sosial, serta kontribusi ekonomi hasil HKm terhadap pendapatan anggota KTH sebagai bagian dari aspek ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas aspek sosial di KTH Mandiri dan Kasih Setia untuk kelola kelembagaan KTH Mandiri (76,05%) dan KTH Kasih Setia (81,75%) termasuk kategori efektif. Kelola Kawasan KTH Mandiri (63,89%) dan KTH Kasih Setia (70,61%) termasuk kategori cukup efektif. Selanjutnya kelola usaha KTH Mandiri (72,48%) dan KTH Kasih Setia (74,61%) termasuk kategori cukup efektif. Dalam aspek ekonomi, kontribusi hasil HKm terhadap pendapatan anggota cukup signifikan, yaitu KTH Mandiri sebesar Rp 77.740.000/tahun dan KTH Kasih Setia sebesar Rp 82.200.000/tahun, dengan komoditas unggulan Jambu mete (Anacardium occidentale) dan Kemiri (Aleurites moluccana).
KEARIFAN LOKAL DALAM MENDUKUNG KELESTARIAN HUTAN LINDUNG WOLOGAI (Studi Kasus Desa Wologai Tengah, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende) Ru’a, Maria Yosefina; Marimpan, Lusia Sulo; Sinaga, Pamona Silvia
Jurnal Sylva Scienteae Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v8i6.17800

Abstract

Melestarikan hutan bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan juga tanggung jawab bersama. Salah satu prinsip dalam perlindungan dan pengelolaan hutan adalah memanfaatkan kearifan lokal masyarakat. Penerapan kearifan lokal ini bisa ditemukan diberbagai wilayah, seperti di kawasan hutan lindung. Hutan lindung Wologai merupakan kawasan hutan yang terletak di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Kearifan lokal di Desa Wologai Tengah digunakan untuk menjaga dan melestarikan hutan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk-bentuk kearifan lokal yang digunakan di Desa Wologai Tengah, untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kearifan lokal untuk masyarakat Desa Wologai Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif serta pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini terdapat dua bentuk kearifan lokal yaitu, bentuk ajakan dan bentuk larangan, serta kearifan lokal memberikan dampak baik menjadikan masyarakat bertanggung jawab atas keberadaan hutan lindung. Namun, perihal tentang pengambilan kayu untuk keperluan rumah adat dapat menimbulkan dampak negatif terhadap ekosistem di kawasan tersebut.
Analisis Kelembagaan Kelompok Tani Hutan Nekamese Pada Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Sisimeni Sanam, Desa Ekateta, Kecamtan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur Diana Astuti Atok; Lusia Sulo Marimpan; Roni Haposan Sipayung; Nixon Rammang
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2471

Abstract

Forest areas in Indonesia are often experience pressure due to the limited economic capacity of surrounding communities, which leads to illegal forest utilization. Therefore, the social forestry program emerged as a solution, providing legal access for communities to manage forests sustainably. One of its implementations is through the forestry partnership scheme in the Special Purpose Forest Area (KHDTK) Sisimeni Sanam, which established the Nekamese Forest Farmer Group (KTH Nekamese) as a partner in managing the area. This study aims to analyze the institutional system of KTH Nekamese and identify the factors influencing its institutional development. The research uses a qualitative method with a descriptive approach, involving interviews and field observations of 25 respondents, consisting of 16 KTH members and 9 forestry officers. The results show that the institutional system of KTH Nekamese was analyzed based on main aspects: institutional management, area management, and business management, as stipulated in the Regulation of the Minister of Environment and Forestry No. 89 of 2018 concerning Guidelines for Forest Farmer Groups. These three aspects indicate that KTH Nekamese has a complete and structured institutional system, but its supported by factors such as land availability, organizational structure, and assistance from forestry extension officers. However, the institutional is not yet functioning optimally due to serveral inhibiting factors, such as low member participation, weak administrative recordkeeping, and small-scale group enterprises with limited market access.
Pengelolaan Hutan Berbasis Kearifan Lokal di Hutan Lindung Pong Dode, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur Maria Heldiana Jemian; Nixon Rammang; Pamona Silvia Sinaga; Lusia Sulo Marimpan
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3650

Abstract

Forest management is not solely the responsibility of the government; it is also the duty of the community to preserve the forest while improving their own welfare. One of the principles in forest protection and management is the utilization of local community wisdom. Local wisdom is a key asset for communities in advancing themselves without disrupting the social balance that harmonizes with the surrounding natural environment. The application of local wisdom can be found in various regions, such as in forest areas located in East Manggarai Regency, South Lamba Leda Subdistrict. Local wisdom in Mano Village is used to protect and preserve the forest. The purpose of this study is to identify the forms of local wisdom possessed by the community in managing the Pong Dode Protected Forest and to understand the impact of the application of local wisdom in managing the Pong Dode Protected Forest. This research uses a qualitative method with data collection techniques through interviews, observation, and documentation. The results of this study show that there are two forms of local wisdom: prohibitions and invitations. Local wisdom has a positive impact on the preservation of the Pong Dode Protected Forest, as it instills a fear among the community of damaging the forest and its ecosystems.
Potensi Karbon Tumbuhan Bawah di Arboretum Taman Nasional Kelimutu Yohanes Erwin Amleni; Lusia Sulo Marimpan; Fadlan Pramatana
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.4767

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi serapan karbon dan nilai ekonominya pada tumbuhan bawah di Arboretum Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Hutan berperan penting sebagai penyerap dan penyimpan karbon, tidak hanya melalui pohon tetapi juga lapisan vegetasi bawah seperti semak, herba, dan rerumputan yang turut berkontribusi meskipun dalam skala kecil. Penelitian dilakukan pada Juni 2025 dengan metode kuantitatif menggunakan teknik destruktif pada 30 plot berukuran 1×1 meter dengan metode line transek. Sampel ditimbang dan dianalisis di laboratorium untuk menentukan biomassa, kandungan karbon, dan potensi serapan CO₂. Hasil menunjukkan biomassa tumbuhan bawah sebesar 17,33 ton/ha dengan rata-rata 0,58 ton/ha, kandungan karbon 0,27 ton/ha, serta total serapan karbon dioksida 4,45 ton/ha. Nilai Ekonomi Karbon (NEK) yang diperoleh mencapai Rp 261.660 atau sekitar US$17 berdasarkan harga karbon internasional. Meskipun kontribusi tumbuhan bawah relatif kecil dibandingkan tegakan pohon, keberadaannya penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung mitigasi perubahan iklim, sehingga pengelolaan arboretum perlu memperhatikan keberlanjutan vegetasi bawah sebagai bagian dari strategi konservasi hutan
KAJIAN ETNOBOTANI MASYARAKAT SEKITAR CAGAR ALAM MUTIS TIMAU, DESA NENAS, KECAMATAN FATUMNASI, KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN, PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Putri Yoland Anggraini Toy; Ludji Michael Riwu Kaho; Astin Elise Mau; Lusia Sulo Marimpan
Jurnal Celebica : Jurnal Kehutanan Indonesia Vol. 5 No. 2 (2024): Celebica Jurnal Kehutanan Indonesia
Publisher : Jurusan Kehutanan -FHIL-UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Nusa Tenggara Timur pada umumnya memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan untuk kebutuhan pribadi, salah satunya Desa Nenas yang merupakan desa penyangga Kawasan Cagar Alam Mutis Timau yang memanfaatkan tumbuhan bermanfaat dalam kawasan sehingga berpotensi menghilangkan keanekaragaman hayati tumbuhan bermanfaat yang ada di Cagar Alam Mutis Timau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan bagian tumbuhan yang dimanfaatkan; cara pengolahan dan mengetahui status konservasi tumbuhan obat, tumbuhan pangan, dan tumbuhan pewarna yang ditemukan. Penelitian ini dilakukan berdasarkan ketinggian tempat yang ada di Desa Nenas. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dan deskriptif. Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui teknik analisis vegetasi, pengamatan langsung di lapangan untuk menemukan jenis tumbuhan, hasil wawancara serta dokumentasi. Wawancara menggunakan snowball sampling. Hasil penelitian ditemukan terdapat 36 jenis tumbuhan obat dari 28 famili, tumbuhan pangan 11 jenis dari 9 famili, sedangkan tumbuhan pewarna yang ditemukan ada 2 jenis dari 2 famili. Bagian tumbuhan obat yang digunakan daun 77%, batang dan akar 5%, tunas 3%, rimpang 2%, dan untuk semua bagian 8%. Untuk tumbuhan pangan digunakan buah 73%, umbi, daun dan batang serta semua bagian 9%. Tumbuhan pewarna yang digunakan kulit batang dan daun 40%, rimpang 20%. Cara pengelolaan tumbuhan obat yaitu direbus, dikucak/diremas-remas, dikunyah, ditumbuk, ditempel, dibakar dan diseduh. Tumbuhan pangan langsung dimakan dan ada yang diolah. Untuk tumbuhan pewarna ada yang langsung direbus, ditumbuk lalu direbus, dan diparut lalu direbus. Status konservasi berdasarkan IUCN sebanyak 58% masuk dalam kategori Least Concern, Not Evaluated 36%, sedangkan untuk kategori Data Deficient, Near Threatened, dan Vulnerable 2%.
Pembuatan Pupuk Organik Padat Berbahan Jerami Padi Sebagai Upaya Penerapan Pertanian Berkelanjutan di Kelompok Petani Kubota 5 Ibukota Mbay Nagekeo Nur Hidayat; Setyono Yudo Tyasmoro; Lusia Sulo Marimpan; Ilham Akbar Pamungkas
ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2024): ABDI UNISAP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : UPT Publikasi dan Penerbitan Universitas San Pedro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59632/abdiunisap.v2i2.297

Abstract

Pertanian berkelanjutan berperan penting dalam pembangunan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Hingga saat ini, penerapan pertanian berkelanjutan masih menghadapi beberapa tantangan seperti penurunan kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Hal tersebut juga terjadi di salah satu daerah yaitu Kabupaten Nagekeo yang membutuhkan penggunaan pupuk organik. Salah satu alternatif yang dapat mengatasi hal tersebut adalah penggunaan jerami padi untuk pembuatan pupuk organik. Pupuk tersebut dihasilkan dari proses pengomposan serta penambahan Effective Microorganism EM-4. Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan tersebut adalah melakukan pemanfaatan jerami sebagai pupuk organik melalui proses pengomposan dan penambahan EM-4. Hasil penelitian tersebut berupa analisa terhadap beberapa parameter penting dalam proses pengomposan seperti kadar air, pH, dan suhu. Parameter tersebut berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroorganisme yang membantu dalam proses dekomposisi. Selain itu, kualitas akhir dari pupuk organik yang dihasilkan dari proses pengomposan dipengaruhi oleh beberapa parameter tersebut. Pemanfaatan jerami padi sebagai pupuk organik padat tidak hanya meningkatkan kandungan unsur K dalam tanah tetapi juga mendukung populasi mikroba tanah dan memperbaiki struktur tanah. Dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk anorganik, penggunaan pupuk organik padat membantu menurunkan biaya produksi, meningkatkan pendapatan petani, dan mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Upaya ini mendukung tujuan pertanian berkelanjutan dan keseimbangan ekologi yang lebih baik.