Prasetio, Diki Bima
Departemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Semarang; Gedung Laboratorium Kesehatan Terpadu Lantai 4 UNIMUS

Published : 37 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Green Mind : Pengolahan Sampah pada Remaja di Desa Kalikayen, Jawa Tengah Prasetio, Diki Bima; Ayuningtyas, Rr. Annisa; Sahiroh, Eli; Putri, Nasya Adelia; Pramesti, Shinta Dwi Surya; Setyaningsih, Yuliani
Inovasi Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 3 (2023): IJPM - Desember 2023
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/ijpm.203

Abstract

Remaja merupakan masa pertumbuhan unik baik secara fisik, mental, psikologis, dan sosioemosional. Remaja di desa ini banyak mengalami permasalahan seperti ketergantungan gawai, perkelahian antar sesama remaja, kehamilan di luar nikah, hingga pernikahan dini. Tantangan kesehatan mental yang dialami pada masa remaja perlu disikapi dengan baik. Perlu solusi terhadap permasalahan yang terjadi pada remaja seperti program “Green Mind” yang bertujuan untuk mengoptimalisasi sumber daya remaja. Studi pengabdian ini adalah remaja di Desa Kalikayen, Jawa Tengah dengan subjek berjumlah 36 orang. Pelaksanaan kegiatan secara efektif dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu inisiasi, inti, dan hilirisasi. Tingkat pengetahuan remaja terkait pengolahan sampah diukur menggunakan kuesioner. Uji pengaruh pelatihan pengolahan sampah pada remaja di Desa Kalikayen menunjukan bahwa ada pengaruh sebelum dan sesudah diberikannya pelatihan dengan dibuktikan nilai p = 0,000. Pemberian pelatihan pada remaja dengan metode ceramah dan edukasi secara langsung memberikan hasil yang efektif dalam peningkatan pemahaman remaja. Ada peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah pemberian pelatihan pengolahan sampah. Pemberdayaan remaja melalui kegiatan pengolahan sampah memberikan manfaat yang baik dalam upaya meningkatkan kesehatan mental remaja. Mempersiapkan remaja sebagai generasi muda yang berkualitas harus dilakukan, untuk mencegah fenomena yang berdampak buruk bagi remaja. Pemberdayaan ke remaja berupa hal positif akan memberikan hasil yang baik untuk kedepannya.
Observasi Kesehatan Mental pada Mompreneur di Taman Kanak-Kanak Kuncup Mekar Gogik Ifadah, Muhimatul; Prasetio, Diki Bima
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 2 No 1 (2023): Januari
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v2i1.75

Abstract

Latar belakang: Mompreneur atau ibu yang bekerja merupakan  kelompok yang   rentan   dan   berisiko   terhadap hazard psikososial. Kesejahteraan  keluarga  ibu  bekerja menjadi    berkurang dikarenakan    mompreneur  mengalami  stress  akibat  konflik peran  ganda  dan  beban  kerja  berlebihan. Kesehatan mental dapat diukur dengan melihat tingkat kecemasan stres seseorang. Tujuan: Untuk mengetahui kesehatan mental ibu pekerja yang memiliki anak usia Taman Kanak-Kanak. Metode: Observasi dilakukan pada 36 mompreneur di TK Kuncup Mekar Gogik. Teknik pengambilan data menggunakan metode angket. Hasil: Mompreneur merasa mudah marah karena hal-hal sepele (75%), selain itu kadang-kadang mereka mengkhawatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi. Sebagian besar dari mompreneur yang kadang-kadang merasa sulit untuk bersabar (63,9%) dan mudah tersinggung (61,1%) serta (25%) dari mereka sering kelelahan karena pekerjaan. Mengenai hubungan komunikasi dengan anak mereka mengakui jika hubungannya dekat dengan anak (75%), sering menjelaskan tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh anak (80,6%), sering melakukan diskusi dengan anak (61,1%), serta merasa harus belajar tentang perkembangan anak meskipun sibuk bekerja (75%). Kesimpulan: Ibu dituntut untuk mengerjakan kewajibannya terhadap pekerjaan, namun pada saat yang bersamaan ibu juga dituntut untuk tidak melupakan kodratnya sebagai ibu dan istri, ibu bekerja tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi suami dan anak-anaknya. Kata Kunci: kesehatan mental, stress, mompreneur _______________________________________________________________________________________ Abstract Background: Mompreneurs or working mothers are a vulnerable group and are at risk for psychosocial hazards. The welfare of working mothers' families is reduced because mompreneurs experience stress due to multiple role conflicts and excessive workloads. Mental health can be measured by looking at a person's level of anxiety and stress. Objective: To determine the mental health status of working mothers of kindergarten students. Methods: Observations were made on 36 mompreneurs at Kuncup Mekar Gogik Kindergarten. Data collection techniques using the questionnaire method. Result: Mompreneurs feel irritable because of trivial things (75%), besides that sometimes they worry about things that don't necessarily happen. There is also a large proportion of mompreneurs who sometimes find it difficult to be patient (63.9%) and easily irritated (61.1%) and (25%) of them are often exhausted because of work. Regarding communication relations with their children, they admit that they have a close relationship with children (75%), most of the children should not do (80.6%), often have discussions with children (61.1%), and feel have to learn about child development even though busy at work (75%). Conclusion: Mothers are required to carry out their obligations towards work, but at the same time mothers are also required not to forget their nature as mothers and wives, working mothers still try to fulfill their needs and provide the best service for their husbands and children.   Keywords: mental health, stress, mompreneur
Edukasi Kesehatan dan Olahraga Sebagai Pencegahan Obesitas dan Perilaku Sedentari Pada Siswa Agafian Dhuha, Ahad; Yogaswara, Andre; Seh Abu Bakar, Sayid Fariz bin; Widodo, Agung; Muhibbi, Muhammad; , Mifbakhuddin; Prasetio, Diki Bima; , Sayono; Sumanto, Didik
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 2 No 3 (2023): Juli
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v2i3.112

Abstract

Latar belakang: Obesitas sudah menjadi epidemi global penyakit tidak menular yang mengancam seluruh penduduk dunia. Obesitas merupakan kondisi yang diakibatkan oleh tidak seimbangnya intake makanan yang masuk dengan energi yang dikeluarkan sehingga menyebabkan tumpukan lemak di dalam tubuh. Tujuan: untuk melakukan edukasi remaja terkait kebugaran dan kesehatan agar tidak terjebak dalam perangkap kemajuan teknologi yang membawa pada perilaku sedentary. Metode:  Pengabdian dilaksanakan dalam bentuk edukasi melalui ceramah dan praktik latihan langsung di kelas. Pengetahuan responden diambil dengan kuesioner sebelum dan setelah kegiatan berlangsung. Hasil: siswa hanya melakukan aktivitas fisik 1 kali dalam seminggu yaitu saat jam pelajaran penjaskes di sekolah. Rerata denyut nadi siswa berkisar antara 90-100 kali per menit. Pada latihan kebugaran push up, kategori kurang sebanyak 28 siswa, kategori cukup 7 siswa, dan kategori baik 3 siswa.  Tes kebugaran sit up, kategori kurang sebanyak 26 siswa, kategori cukup 6 siswa, kategori baik 6 siswa. Kesimpulan: Sebagian besar tingkat kebugaran jasmani siswa SMA MIBS Kebumen dalam kategori kurang. Edukasi meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesehatan dan kebugaran. Kata kunci: obesitas, sedentari, kebugaran _______________________________________________________________________________________ Abstract Background: Obesity has become a global epidemic of non-communicable diseases threatening the entire world's population. Obesity is caused by an imbalance between incoming food intake and expended energy, causing fat deposits in the body. Objective: educate youth about fitness and health so they don't get caught in the trap of technological advances that lead to sedentary behavior. Method: Community service is done through education through lectures and hands-on practice in class. Respondents' knowledge was taken with a questionnaire before and after the activity. Result: students only do physical activity once a week at school, namely during physical education lessons. The average student's pulse ranges from 90-100 beats per minute. In the push-up fitness exercise, there were 28 students in the less category, seven students in the sufficient, and three in the good. Sit-up fitness test, 26 students were lacking, six were adequate, and six students were good. Conclusion: Most of the physical fitness levels of SMA MIBS Kebumen students are in the poor category. Education increases students' knowledge about health and wellness. Keywords: obesity, sedentary, fitness
Sosial-Ekonomi dan Pengetahuan Terhadap Perspektif Lansia Penderita TB Paru di Kota Bengkulu Saputra, Feri Surahman; Hidayat, Yance; Suyanto, Jipri; Prasetio, Diki Bima; Tan, Suriyani
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 5 (2025): Volume 7 Nomor 5 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i5.17323

Abstract

ABSTRACT Especially in older individuals, perspective can serve as the basis for health behavior. This perspective measures the extent to which tuberculosis patients adhere to the treatment process based on pre-established guidelines. The presence of a negative patient attitude directly correlates with an increased likelihood of non-adherence to therapy, thereby giving birth to additional complications, such as medication resistance. Investigation of the variables influencing the viewpoint of older individuals with Tuberculosis in Bengkulu City. The research utilised a cross-sectional methodology and included a total of 153 participants in Bengkulu City. The sample selection method utilises a multistage random sampling methodology applied during a research period of one month. The data analysis procedure utilizes both univariate and logistic regression estimation techniques. The findings indicated that almost 50% of the participants were male, nearly 50% had completed primary education, nearly 50% were employed as farmers, nearly 50% were divorced, over 50% earned the Regional Minimum Wage, nearly 50% had limited knowledge, and nearly 50% had a negative outlook. Moreover, the findings indicated a correlation between gender, secondary education, agricultural occupation, marital status, income, and knowledge as perceived by senior individuals with tuberculosis in the Bengkulu City Region, with a statistically significant p-value of less than 0.05. The results suggest a correlation between the viewpoint of the respondent and the elements inherent to him. Hence, in order to shift the respondent's viewpoint towards a favorable one and enhance the patient's own treatment process, it is imperative to have active support from all stakeholders, including the family, the community, and the medical team. The adoption of a positive attitude by patients can foster motivation to comply with the treatment suggestions provided by the doctor, thereby potentially resulting in a reduction in the occurrence of tuberculosis. Improved health of the community can ensue as a consequence. Keywords: Perspective of Older People with Tuberculosis, Gender, Socio-Economics. ABSTRAK Perspektif dapat menjadi dasar dalam hal berperilaku kesehatan, khususnya pada pasien lansia. Perspektif ini menjadi penyebab penentu kepatuhan pasien TB dalam menjalani proses pengobatan yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Semakin buruk perspektif pasien tersebut, maka peluang tidak patuh dalam menjalani pengobatan akan semakin tinggi yang dapat menyebabkan masalah lain muncul, yaitu resistensi obat. Untuk Mengetahui faktor yang berhubungan dengan perpsektif lansia penderita TB di Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang dilaksanakan di Kota Bengkulu dengan jumlah respoden sebanyak 153 responden. Teknik dalam menseleksi sampel menggunaka teknik multistage random sampling dengan lama penelitian selama 1 bulan. Sedangkan analisis data menggunakan uji univariat dan uji logistic regression. Dari hasil menunjukan hasil bahwa hampir sebagian responden berjenis kelamin laki-laki, hampir sebagian dari responden memiliki pendidikan dasar, hampir sebagian dari responden memiliki background pekerjaansebagai petani, hampir sebagian dari responden memiliki status cerai, lebih dari setengah dari responden memiliki pendapatan < UMR, hampir Sebagian dari responden memiliki pengetahuan kurang baik, dan lebih dari setengah dari responden memiliki perspektif kurang baik. Selaian itu hasil menunjukan juga bahwa adanya hubungan antara jenis kelamin, Pendidikan menengah, background pekerjaan sebagai petani, status perkawinan, pendapatan dan pengetahuan dengan perspektif lansia penderita TB di Kawasan Kota Bengkulu dengan nilai p-value di bawah 0.05. Dari hasil menunjukan hasil bahwa komponen faktor yang berasal dari diri responden memiliki hubungan dengan perpsektif dari responden itu sendiri. Oleh karena itu, untuk merubah perspektif responden tersebut menjadi baik sehingga dapat menstimulus dalam proses pengobatan pasien itu sendiri, diperluhkan dukunga dari semua kalangan, baik dari keluarga, Masyarakat dan dari team medis itu sendiri. Sehingga penderita dapat berpikir positif dan termotivasi untuk melakukan pengobatan sesuai ajuran dari dokter dan angkah kejadian dari TB itu sendiri memiliki peluang menjadi menurun. Sehingga dapat meningkatkan derajat Kesehatan di dalam komunitas itu sendiri. Kata Kunci: Persepektif Lansia Penderita TB, Jenis Kealmin, Sosial-Ekonomi.
Analisis Risiko Kesehatan Pajanan Silika Kristalin Respirabel Pasca Implementasi Dust Supression System di Industri Pengolahan Bijih Mineral Susanto, Arif; Hidayah, Nurulia; Setyana, Lilik Dwi; Prasetio, Diki Bima
Jurnal Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan Vol. 6 No. 2 (2025): Juli-Desember 2025
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jk3l.6.2.148-158.2025

Abstract

Industri pengolahan bijih mineral merupakan salah satu sektor yang menghasilkan silika kristalin respirabel (RCS), yang berpotensi menimbulkan penyakit akibat kerja seperti silikosis, PPOK, dan kanker paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kesehatan pekerja terhadap pajanan RCS setelah penerapan sistem pengendalian debu (dust suppression system) di area produksi. Penelitian dilakukan secara kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 30 pekerja dari departemen produksi dan pemeliharaan. Pengukuran dilakukan menggunakan metode personal sampling sesuai standar NIOSH 7500. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa konsentrasi RCS berada di bawah nilai ambang batas (NAB) ACGIH sebesar 0,025 mg/m³, dengan nilai excess cancer risk (ECR) berkisar antara 1,8.10-7 hingga 5,5.10-6, yang masih berada dalam rentang aman. Namun, tren peningkatan ECR seiring durasi dan intensitas pajanan menunjukkan perlunya pengendalian yang lebih ketat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun sistem pengendalian debu telah menurunkan konsentrasi RCS secara signifikan, risiko kesehatan tetap ada akibat efek kumulatif jangka panjang. Pendekatan ALARA (As Low As Reasonably Achievable) sangat disarankan dalam pengendalian pajanan. Selain itu, pelaksanaan pemeriksaan kesehatan berkala, pelatihan penggunaan alat pelindung diri, dan pemantauan efektivitas sistem pengendalian debu perlu diintegrasikan sebagai bagian dari strategi keselamatan dan kesehatan kerja untuk melindungi pekerja secara berkelanjutan.
Psychosocial Hazard Awareness: Health and Non-Health Workers in Semarang Dental, Oral Hospitals Prasetio, Diki Bima; Sahiroh, Eli; Putri, Nasya Adelia; Pramesti, Shinta Dwi Surya; Setyaningsih, Yuliani; Lestari, Sri; Arti, Dwi Windu Kinanti; Bayusunuputro, Billy Zia Napoleon
Jurnal Kesehatan Vokasional Vol 10, No 4 (2025): November
Publisher : Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkesvo.110967

Abstract

Background: Psychosocial hazards are one of the risks that affect the mental health of hospital workers..Objective: This study aimed to assess awareness of psychosocial hazards in health and non-health workers at Dental and Oral Hospitals in Semarang.Methods: This cross-sectional study involved 154 respondents using a Psychosocial Survey of Healthcare Workers questionnaire that was adapted in Indonesian, covering 12 dimensions. The independent variables were age, gender, years of service, unit section, education level, and marital status, while the dependent variable was psychosocial hazard awareness.Results: The results showed that 57.1% of respondents had a good level of awareness of psychosocial hazards. Chi-square analysis showed a significant relationship between age (p=0.006), working period (p=0.002), education level (p=0.020), and marital status (p=0.043) and the level of awareness of psychosocial hazards, while gender and work unit showed no significant relationship. The results of the multivariate test with multiple logistic regression revealed the most significant factors, namely age (0.004) and education level (0.020).Conclusion: This awareness was important to prevent fatigue and mental disorders. Efforts to increase education about psychosocial hazards in the work environment were needed as a preventive measure to maintain the mental health of hospital workers.
KESEHATAN MENTAL DAN REPRODUKSI BAGI PEREMPUAN PEKERJA PESISIR MELALUI EDUKASI TERPADU BERBASIS PARTISIPATIF Perestroika, Grhasta Dian; Herawati, Dian; Rokhman, Nur; Wiryanta, Wiryanta; Prasetio, Diki Bima
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.34362

Abstract

Abstrak: Beban ganda pekerja perempuan wilayah pesisir bukan hanya bersifat fisik, melainkan juga psikologis dan reproduktif. Minimnya akses terhadap informasi kesehatan, rendahnya literasi reproduksi, serta absennya ruang aman untuk berbagi pengalaman semakin memperkuat ketidaksiapan mereka dalam mengelola kesehatannya secara mandiri. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman perempuan pekerja sektor informal di wilayah pesisir perbukitan terkait pentingnya menjaga kesehatan mental dan reproduksi sebagai bagian dari keselamatan kerja. Metode yang digunakan adalah edukasi partisipatif dengan sesi diskusi reflektif. Kegiatan dilaksanakan pada 23 Juli 2025 dengan melibatkan 40 peserta perempuan pekerja sektor informal. Evaluasi dilakukan secara kualitatif menggunakan pertanyaan terbuka sebelum dan sesudah kegiatan. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman dari 12 orang (30%) peserta yang sadar akan pentingnya pengelolaan stres dan pemeliharaan kesehatan reproduksi sebelum intervensi menjadi 30 orang (75%) setelah kegiatan. Peningkatan kesadaran ini juga diperkuat dengan kutipan langsung dari peserta. Kegiatan ini memberikan dampak pemberdayaan bagi perempuan sektor informal dan dapat direplikasi di wilayah serupa.Abstract: Women workers in coastal areas face a double burden that encompasses not only physical demands but also psychological and reproductive challenges. Limited access to health information, low reproductive literacy, and the absence of safe spaces for sharing experiences further reduce their capacity to manage health independently. This community engagement program aimed to enhance awareness and understanding among informal sector women workers in coastal hill regions regarding the importance of mental and reproductive health as integral components of occupational safety. A participatory educational approach was implemented through reflective discussion sessions. The activity, conducted on July 23, 2025, involved 40 women workers from the informal sector. Evaluation was undertaken qualitatively using open-ended questions before and after the intervention. Findings demonstrated an increase in understanding, with 12 participants (30%) initially aware of the importance of stress management and reproductive health rising to 30 participants (75%) post-intervention. This improvement was substantiated by direct participant reflections. The program contributed to the empowerment of informal sector women and holds potential for replication in similar contexts.
Co-Authors , Mifbakhuddin , Sayono Addukha, Sulistyo Shanti Nur Agafian Dhuha, Ahad Agung Widodo Agus Muhammad Ridwan Agustin Lutfiana Anggun Wulandari Aprillia, Zita Arif Susanto Ariyanti, Sheila Mufida Ariyanti, Sheila Mufida Arti, Dwi Windu Kinanti Assyifa, Keiza Nur Ayu Riana Sari Ayuningtyas, Rr. Annisa Az Zahra, Gyan Shirin Ebadi Kayla Billy Zia Napoleon Bayusunuputro Bina Kurniawan Devy Indra Prabawati Dian Herawati Didik Sumanto Dwi Windu Kinanti Dwi Windu Kinanti Arti Dwi Windu Kinanti Arti Eli Sahiroh Eli Sahiroh Eli Sahiroh Erul Wirayuda Failasufa, Hayyu Farid Ilham Muddin Fauzie Rahman Fitrianto, Fakhrul Grhasta Dian Perestroika Heni Rusmitasari Hidayah, Nurulia Hidayat, Yance Hikmah, Arini Nuril Indah Nur Sa’adah Juni Arum Sari Juni Arum Sari Kinanti, Dwi Windu Lia Anggraini Lilik Dwi Setyana Mifbakhuddin Mifbakhuddin Mifbakhuddin Mifbakhuddin, Mifbakhuddin Mifbakhuddin Mifbakhudin Muhammad Azmiyannoor Muhammad Muhibbi Muhimatul Ifadah Muhimatul Ifadah Nasya Adelia Putri Nita Pujianti Nur Laily Nur Rokhman Prachaiboon, Tiwakron Pramesti, Shinta Dwi Surya Putri, Nasya Adelia Rahayu Astuti Rahayu Astuti Ratih Sari Wardani Ratih Sari Wardani Ratna Kurnia Sari Retno Kusniati Rian Muhammad Kiswara Rifki Arfianto Rizky Nur Isnaini Ruli Syaifani Fajri Sahiroh, Eli Saputra, Feri Surahman Sari, Juni Arum Seh Abu Bakar, Sayid Fariz bin Shinta Dwi Surya Pramesti Sika Widya Mustika Sri Haryani Sri Lestari Sulistyo Shanti Nur Addukha Suriyani Tan, Suriyani Suyanto, Jipri Tri Budi Wahyuni Trixie Salawati Viki Andriyani Vina Yulia Anhar Wiryanta, Wiryanta Wiwik Wahyu Utami Yanur Tri Setyani Yogaswara, Andre Yuliani Setyaningsih