Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pengaruh Kemampuan Literasi Informasi Dan Keterampilan Sosial Terhadap Prestasi Belajar IPS Siswa Kelas VII SMP Prihatini Alfath; Sukma Perdana Prasetya; Nuansa Bayu Segara; Katon Galih Setyawan
Jurnal Dialektika Pendidikan IPS Vol. 5 No. 2 (2025): issue
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan IPS, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kemampuan literasi informasi dan keterampilan sosial terhadap prestasi belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada siswa kelas VII di UPT SMP Negeri 2 Gresik. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pentingnya penguasaan keterampilan abad 21, khususnya literasi informasi dan keterampilan sosial, dalam menunjang keberhasilan akademik siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel terdiri atas 64 siswa yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan literasi informasi, lembar observasi keterampilan sosial, dan dokumentasi nilai prestasi belajar IPS. Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 21 melalui uji regresi linier sederhana dan berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi informasi berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar dengan kontribusi sebesar 66,5%. Keterampilan sosial juga memiliki pengaruh signifikan dengan kontribusi sebesar 36,3%. Secara simultan, kedua variabel tersebut memberikan pengaruh sebesar 70,6% terhadap prestasi belajar IPS siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan literasi informasi dan keterampilan sosial secara bersama-sama berkontribusi positif terhadap capaian akademik siswa. Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan strategi pembelajaran berbasis literasi dan sosial di lingkungan sekolah.
TOLONG - MENOLONG DALAM HAJATAN PERNIKAHAN JAWA : STUDI KASUS DESA BENDO PARE KABUPATEN KEDIRI Naila Mubarokah; Sarmini; Nuansa Bayu Segara; Muhammad Ilyas Marzuqi
Jurnal Dialektika Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025): issue
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan IPS, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji bentuk, makna sosial-budaya, serta relevansi praktik tolong-menolong dalam hajatan pernikahan adat Jawa di Desa Bendo, Kabupaten Kediri. Tradisi seperti rewang (bantuan tenaga) dan buwuh (sumbangan materi) merupakan wujud gotong royong yang telah diwariskan lintas generasi dan masih dijalankan secara aktif oleh masyarakat desa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik tolong-menolong dalam hajatan mencerminkan nilai solidaritas, kerja sama, dan tanggung jawab sosial. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai dukungan fungsional terhadap penyelenggara hajatan, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter, pewarisan budaya, dan penguat kohesi sosial. Partisipasi warga dipengaruhi oleh faktor ekonomi, relasi sosial, dan nilai timbal balik. Dalam konteks pendidikan, praktik ini sangat relevan untuk diintegrasikan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) karena memuat nilai-nilai lokal, etika kolektif, dan pembelajaran kontekstual. Penelitian ini menegaskan bahwa rewang adalah institusi sosial yang memiliki peran penting dalam mempertahankan struktur sosial masyarakat desa serta sebagai media pembelajaran karakter berbasis kearifan lokal.
Analisis Kawasan Cagar Budaya Trowulan sebagai Potensi sumber Belajar IPS dalam Kurikulum Merdeka zahrotun islamiyah; Nuansa Bayu Segara; Riyadi; Niswatin
Jurnal Dialektika Pendidikan IPS Vol. 5 No. 3 (2025): issue
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan IPS, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kawasan Cagar Budaya Trowulan sebagai potensi sumber belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada guru dan siswa untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis lingkungan. Trowulan, yang merupakan bekas pusat Kerajaan Majapahit, memiliki kekayaan situs sejarah seperti Candi Brahu, Candi Tikus, Gapura Wringinlawang, dan Museum Trowulan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari guru IPS, siswa, dan pengelola situs budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kawasan Trowulan memiliki potensi besar sebagai sumber belajar, pemanfaatannya dalam proses pembelajaran masih sangat terbatas. Hambatan utama adalah kurangnya integrasi dalam kurikulum, kendala administratif, serta kurangnya pemahaman guru terhadap strategi pembelajaran berbasis lingkungan. Penelitian ini memberikan rekomendasi berupa peningkatan kolaborasi antara pihak sekolah dan pengelola situs budaya, serta penyusunan bahan ajar dan proyek pembelajaran berbasis lokal. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan kompetensi Profil Pelajar Pancasila seperti berfikir kritis, bernalar, kreatif, dan cinta budaya bangsa. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari pendidikan karakter dan nasionalisme. Dengan demikian, kawasan Cagar Budaya Trowulan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga sumber belajar yang kaya nilai edukatif. Kata kunci: Cagar Budaya, Trowulan, Sumber Belajar, IPS, Kurikulum Merdeka ABSTRACT This study aims to analyze the Trowulan Cultural Heritage Area as a potential learning resource for Social Studies (IPS) within the implementation of the Merdeka Curriculum. The Merdeka Curriculum provides flexibility for teachers and students to develop contextual and environmentally-based learning. Trowulan, formerly the center of the Majapahit Kingdom, is rich in historical sites such as Brahu Temple, Tikus Temple, Wringinlawang Gate, and the Trowulan Museum, all of which can serve as educational resources. This research uses a descriptive qualitative approach with data collected through observation, interviews, and documentation. Informants include social studies teachers, students, and heritage site managers. The findings reveal that although Trowulan has significant potential as a learning resource, its actual use in educational activities remains minimal. Major obstacles include lack of curriculum integration, administrative barriers, and limited teacher understanding of place-based learning strategies. This research recommends enhancing collaboration between schools and site managers, and developing local-based teaching materials and learning projects. Through this approach, students are expected to develop key competencies of the Pancasila Student Profile, such as critical thinking, reasoning, creativity, and appreciation of national culture. The study also emphasizes the importance of cultural preservation as part of character education and nationalism. Thus, the Trowulan Cultural Heritage Area is not only a tourist attraction but also a valuable educational asset. Keywords: Cultural Heritage, Trowulan, Learning Resource, Social Studies, Merdeka Curriculum
Analysis of the Utilization of the SI-PAS OKE Application for Synchronizing Data on Junior High School Education Facilities and Infrastructure in Mojokerto City Nadya Anggraini; Yulita Dhania Werdianti; Rizky Putri Eswanto; Aulia Tiarista; Nuansa Bayu Segara; Asih Putriningrum Hastari
Jurnal Multidisiplin Sahombu Vol. 6 No. 01 (2026): Jurnal Multidisiplin Sahombu, January 2026
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the SI-PAS OKE application as a digital innovation to improve the accuracy and synchronization of data on all junior high school infrastructure facilities in Mojokerto City. The main problem found is the data mismatch between manual school recording and Regional Property Data, which causes low accuracy, slow reporting, and planning that is not based on factual data. This study uses a descriptive qualitative method. Data collection was carried out through library research to examine relevant theories, and was strengthened by in-depth interviews with application developers, observations, and documentation during the application implementation period, namely from August to October 2025. The main research instrument involved comparative data between BMD data, school manual data, and data synchronized in the SI-PAS OKE application, as well as trial results in three schools (SMPN 3, SMPN 7, and SMPN 4). Data analysis techniques were carried out by reviewing, grouping concepts, and interpreting the results of data collection to describe in depth the use of the application. This research shows that this application is able to eliminate the GAP DATA which previously reached more than 10% and produces full synchronization between BMD data, manual data, and application data. This finding is in accordance with the SCOT theory that technology develops in response to social needs, especially in the need for data integration.
Revitalisasi Nasionalisme Pelajar Indonesia di Taiwan melalui Workshop Penguatan Nilai-nilai Identitas Bangsa: Penelitian Hasanah, Nurul; Nuansa Bayu Segara; Hendri Prastiyono; Durrotun Nafisah; Muhammad Ilyas Marzuqi; Dhimas Bagus Virgiawan; Agung Stiawan; Delnabila Dwi Olivia; Arina Eliana Fitria
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.4162

Abstract

Studying abroad has become a strategic option for improving the quality of human resources capable of competing amid the rapid advancement of global technology and knowledge. Taiwan, as a country experiencing significant progress in education, technology, and economic development, has become an attractive study destination for Indonesian students. However, the impacts of this phenomenon indicate a tendency toward cultural assimilation that may lead to shifts in national identity, particularly toward Westernized characteristics. This condition highlights the need to strengthen national identity values among Indonesian students studying overseas. This PKM (Community Service Program) activity aims to provide insights into national identity while reinforcing a sense of pride and nationalism in the midst of global cultural influences. The implementation methods include workshops and sharing sessions with Indonesian students regarding their experiences in dealing with cultural challenges in Taiwan. The activities were conducted in three phases: preparation, implementation, and evaluation followed by follow-up actions. The results show an increased understanding among participants regarding the importance of preserving their identity as Indonesians, as well as the emergence of a commitment to internalize national identity values.
Makna Filosofi Kepercayaan Masyarakat Desa Bayung Gede terhadap Pohon Bukak dalam Konteks Penggantungan Ari-Ari Imelsya Afra Nabila Zahra; Vini Maulida Putri Salsabila; Farda Wulandari; Adella Signal Putri Sholichah; Imam Khoir; Nuansa Bayu Segara; Niswatin
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 7 No. 3 (2025): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v7i3.1644

Abstract

Tradisi penggantungan ari-ari di bawah pohon bukak di Desa Bayung Gede, Bali, merupakan bentuk kearifan lokal yang mengandung nilai filosofis, spiritual, dan ekologis. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna filosofis kepercayaan masyarakat terhadap pohon bukak sebagai simbol pelindung dan bagian dari proses spiritual dalam menyambut kelahiran bayi. Dengan pendekatan kualitatif fenomenologis, data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pohon bukak diyakini memiliki kekuatan magis dan simbol keibuan yang merawat ari-ari sebagai saudara spiritual bayi. Prosesi ritual seperti penggunaan tangan kanan dan penghentian saat menuju setra ari-ari memiliki makna simbolik yang mencerminkan harapan terhadap karakter anak di masa depan. Tradisi ini juga menegaskan hubungan erat antara manusia dan alam, serta menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Bayung Gede. Namun, tradisi ini menghadapi tantangan akibat pengaruh modernisasi dan perubahan cara pandang generasi muda yang mulai menyerap relevansi dan nilai higienitasnya. Oleh karena itu, pemaknaan kembali terhadap filosofi tradisi ini diperlukan agar warisan budaya ini tetap hidup dan dipahami secara kontekstual oleh generasi penerus.
Analisis Kawasan Cagar Budaya Trowulan sebagai Potensi sumber Belajar IPS dalam Kurikulum Merdeka zahrotun islamiyah; Nuansa Bayu Segara; Riyadi; Niswatin
Jurnal Dialektika Pendidikan IPS Vol. 6 No. 1 (2026): issue
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan IPS, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan Cagar Budaya Trowulan sebagai potensi sumber belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada guru dan siswa untuk mengembangkan pembelajaran yang kontekstual dan berbasis lingkungan. Trowulan, yang merupakan bekas pusat Kerajaan Majapahit, memiliki kekayaan situs sejarah seperti Candi Brahu, Candi Tikus, Gapura Wringinlawang, dan Museum Trowulan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini terdiri dari guru IPS, siswa, dan pengelola situs budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kawasan Trowulan memiliki potensi besar sebagai sumber belajar, pemanfaatannya dalam proses pembelajaran masih sangat terbatas. Hambatan utama adalah tidak adanya integrasi dalam kurikulum, kendala administratif, serta kurangnya pemahaman guru terhadap strategi pembelajaran berbasis lingkungan. Penelitian ini memberikan rekomendasi berupa peningkatan kolaborasi antara pihak sekolah dan pengelola situs budaya, serta penyusunan bahan terbuka dan proyek pembelajaran berbasis lokal. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa dapat mengembangkan kompetensi Profil Pelajar Pancasila seperti berpikir kritis, bernalar, kreatif, dan cinta budaya bangsa. Penelitian ini juga menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari pendidikan karakter dan nasionalisme. Dengan demikian, kawasan Cagar Budaya Trowulan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga sumber belajar yang kaya nilai edukatif. Kata kunci : Cagar Budaya, Trowulan, Sumber Belajar, IPS, Kurikulum Merdeka ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Kawasan Cagar Budaya Trowulan sebagai sumber belajar potensial untuk Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas bagi guru dan siswa untuk mengembangkan pembelajaran kontekstual dan berbasis lingkungan. Trowulan, yang dulunya merupakan pusat Kerajaan Majapahit, kaya akan situs bersejarah seperti Candi Brahu, Candi Tikus, Gerbang Wringinlawang, dan Museum Trowulan, yang semuanya dapat berfungsi sebagai sumber pendidikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan data yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan meliputi guru IPS, siswa, dan pengelola situs cagar budaya. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa meskipun Trowulan memiliki potensi yang signifikan sebagai sumber belajar, pemanfaatannya dalam kegiatan pendidikan masih minim. Kendala utama meliputi kurangnya integrasi kurikulum, hambatan administratif, dan pemahaman guru yang terbatas tentang strategi pembelajaran berbasis tempat. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan kolaborasi antara sekolah dan pengelola situs, dan pengembangan bahan ajar dan proyek pembelajaran berbasis lokal. Melalui pendekatan ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan kompetensi-kompetensi utama Profil Pelajar Pancasila, seperti berpikir kritis, penalaran, kreativitas, dan apresiasi budaya nasional. Studi ini juga menekankan pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian dari pendidikan karakter dan nasionalisme. Dengan demikian, Kawasan Cagar Budaya Trowulan tidak hanya menjadi objek wisata, tetapi juga aset pendidikan yang berharga. Kata Kunci : Warisan Budaya, Trowulan, Sumber Belajar, IPS, Kurikulum Merdeka