Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Bacterial Contamination at Whiteleg Shrimp (Litopeanaeus vannamei) in Aquaculture -, Mashuri Masri; Sukmawaty, Eka; Nur, Fatmawati; Suriani, Suriani
Jurnal Biodjati Vol 6 No 1 (2021): May
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/biodjati.v6i1.11812

Abstract

Indonesia has a very high biodiversity, which has later become one of the natural products of interest to the international community, including fishery products. One of the high-demand Indonesian fishery products is whiteleg shrimp Litopeaneus vannamei. However, safety food Exported whiteleg shrimp products must meet the criteria, including free from bacterial contamination such as Escherichia coli, Salmonella, Vibrio cholera. This study attemptted to analyze E. coli, Salmonella, V. cholerae contamination in 3 ponds in Bojo, Cilellang, and Palanro Village in District Malusetasi, Barru Regency, South Sulawesi. Two samplings for each pond were conducted in the morning were pond water and  fresh whiteleg shrimp. SNI 2728-2018 specifies the quality and safety requirements for fresh shrimp. This standard applies to whole or headless fresh shrimp handled from fresh shrimp and does not apply to fresh shrimp that has undergone further processing. Based on SNI 2728-2018, the E. coli test showed positive in Cilellang Village (sample A) with 11 MPN/g, negative in Palanro Village (sample B) and in Bojo village (sample C) with the value of <2 MPN/g. Escherichia coli test showed positive in sample D (Vannamei shrimp in Cilellang Village) and sample E (Vannamei shrimp in Palanro Village) with 2.0 MPN/g, 17 MPN/g, respectively. Only sample F (Vannamei shrimp in Bojo village ) showed a negative result. As for the Salmonella test, positive results showed in sample A, while sample B and sample C showed negative results. The Vibrio cholerae test showed negative at all samples. . This study concludes that Whiteleg shrimp from ponds in Mallusetasi District is classified as safe for consumption.
Identifikasi Gejala Penyakit Dan Cendawan Patogen Pada Tanaman Cabai Merah Keriting (Capsicum annum var. Lado) Sukmawaty, Eka; Putri, Yunita Dwi; Meriem, Selis; Zuraidah, Zuraidah; Nur, Fatmawati; Hajrah, Hajrah
Teknosains Vol 20 No 1 (2026): Januari-April
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/teknosains.v20i1.64519

Abstract

Cabai merah keriting (Capsicum annuum L. var. Lado) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi namun rentan mengalami gagal panen akibat serangan cendawan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi gejala serangan penyakit di lapangan serta jenis cendawan patogen penyebabnya. Metode penelitian meliputi isolasi, purifikasi, uji patogenitas (hipersensitivitas) pada daun tembakau, serta karakterisasi morfologi. Hasil observasi lapangan menemukan enam gejala penyakit utama, yaitu busuk buah antraknosa, busuk hitam pangkal batang, busuk batang, bercak daun Cercospora, penyakit embun bulu, dan hawar daun. Berdasarkan uji patogenitas, seluruh isolat mampu memicu gejala nekrosis pada daun tembakau yang mengindikasikan sifat patogenik. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa cendawan penyebab penyakit tersebut tergolong ke dalam genus Colletotrichum, Fusarium, Curvularia, dan Phytophthora. Dapat disimpulkan bahwa keempat genus cendawan tersebut merupakan agen penyebab utama berbagai penyakit yang mengancam produktivitas tanaman cabai merah keriting di lokasi penelitian.
Deteksi Simultan Kontaminasi DNA Babi dan Alkohol pada Produk Makanan Jepang menggunakan Spektroskopi FTIR, GC-MS dan Real Time-PCR Amin, Abdul Rauf Muhammad; Masriany, Masriany; Sukmawaty, Eka; Muthiadin, Cut; Masita, Masita; Kasfina, Ina; Sahin, Andini
Teknosains Vol 20 No 1 (2026): Januari-April
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/teknosains.v20i1.64648

Abstract

Makanan Jepang populer di Indonesia, memantik perhatian serius terkait isu kehalalan makanan terutama bagi konsumen muslim. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi secara kualitatif kontaminasi senyawa alkohol dan DNA babi pada produk makanan Jepang yang dijual di beberapa resto Kota Makassar, menggunakan kombinasi metode Spektroskopi Fourier Transform Infrared (FTIR) dan Real-Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Agustus 2023. Sampel makanan (Spicy Ramen, Salmon Mentai Rice, dan Yakiniku Don) diambil dari Restoran X di Makassar yang belum tersertifikasi halal. Analisis FTIR mengindikasikan keberadaan senyawa alkoholik pada semua sampel. Puncak serapan spesifik gugus O-H sekitar 3400-3500 cm-1 dan C-O sekitar 1000-1200 cm-1 yang mengonfirmasi adanya senyawa alkoholik terdeteksi kuat pada Spicy Ramen, Salmon Mentai Rice, dan Yakiniku Don. Sebagai contoh, puncak kunci teramati pada 3450 cm-1 dan 1078-1154 cm-1, menunjukkan adanya campuran tipe alkohol primer, sekunder, dan tersier. Hasil GC-MS mengindikasikan adanya kandungan senyawa alkohol pada ketiga jenis makanan yang diuji. Sebaliknya, RT-PCR menunjukkan hasil negatif secara konsisten, mengonfirmasi tidak adanya DNA babi pada ketiga sampel. Meskipun hasil pengujian kontaminasi DNA babi menunjukkan negatif, terdeteksinya senyawa etanol melalui FTIR dan GC-MS menunjukkan adanya potensi kontaminasi non-halal yang bukan berasal dari babi. Penelitian ini menekankan urgensi penerapan verifikasi ganda, baik melalui analisis kimia maupun molekuler, dalam proses sertifikasi halal. Hasil kajian merekomendasikan agar praktisi kuliner secara konsisten mematuhi standar bahan baku guna meminimalkan potensi kontaminasi senyawa alkohol, sehingga dapat meningkatkan validitas jaminan kehalalan dan memperkuat kepercayaan konsumen Muslim.