Claim Missing Document
Check
Articles

UJI EFEKTIVITAS ADSORBEN DARI KULIT DURIAN TERHADAP KADAR COD DAN TSS PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU Nury, Dennis Farina; Damayanti, Alfira Putri; Deviany, Deviany; Luthfi, Muhammad Zulfikar
Jurnal Chemurgy Vol 9, No 2 (2025): Jurnal Chemurgy-Desember 2025
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/cmg.v9i2.21739

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas adsorben arang aktif dari kulit durian dalam menurunkan kadar BOD dan COD pada limbah cair industri pengolahan rumput laut. Proses adsorpsi dilakukan dengan variasi massa adsorben dan waktu kontak untuk menentukan kondisi optimum. Hasil terbaik diperoleh pada perlakuan massa adsorben 100 gram dengan waktu kontak 2 jam, yang menghasilkan penurunan BOD sebesar 74,4 mg/L (6,06%) dan COD sebesar 224,1 mg/L (21,64%). Penurunan kadar BOD dan COD menunjukkan bahwa peningkatan massa adsorben dan waktu kontak memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan adsorpsi. Namun demikian, efektivitas adsorpsi dapat dipengaruhi oleh faktor kejenuhan adsorben, fouling pada permukaan, serta proses desorpsi yang terjadi pada waktu kontak lebih lama. Karakteristik proses adsorpsi dianalisis menggunakan model isoterm Langmuir dan Freundlich. Hasil analisis menunjukkan bahwa data adsorpsi lebih sesuai dengan model isoterm Langmuir, yang mengindikasikan terjadinya adsorpsi monolayer pada permukaan homogen. Dengan demikian, optimasi massa dan waktu kontak diperlukan agar adsorpsi berlangsung efektif dalam menurunkan beban pencemar organik. Kata Kunci: adsorpsi, arang aktif, kulit durian, BOD, COD, isoterm LangmuirAbstract This study aims to evaluate the effectiveness of activated carbon adsorbent derived from durian peel in reducing BOD and COD levels in wastewater from the seaweed processing industry. The adsorption process was conducted by varying the adsorbent mass and contact time to determine the optimum conditions. The best result was achieved with 100 grams of adsorbent and 2 hours of contact time, resulting in a BOD reduction to 74.4 mg/L (6.06%) and COD to 224.1 mg/L (21.64%). The decrease in BOD and COD levels indicates that increasing adsorbent mass and contact time positively influences adsorption efficiency. However, the adsorption performance may be limited by adsorbent saturation, surface fouling, and desorption at prolonged contact times. The adsorption characteristics were analyzed using Langmuir and Freundlich isotherm models. The results revealed that the Langmuir isotherm better described the adsorption process, indicating monolayer adsorption on a homogeneous surface. Therefore, optimizing the adsorbent mass and contact time is crucial to achieving efficient organic pollutant removal. Keywords: adsorption, activated carbon, durian peel, BOD, COD, Langmuir isotherm
Analisis Laju Korosi dalam Berbagai Variasi Media: Larutan Asam Cuka, KOH, Air Laut, dan Akuades Chalista Balqis Aurellia; Nayaka Sandi Prayoga; Andi Hardiansyah; Dennis Farina Nury; Jerry Jerry; Muhammad Zulfikar Luthfi; Adna Ivan Ardian; Amelia Naomi Agustina; Muhamad Iqbal Putra
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL Vol 5 No 1 (2026): JURNAL TEKNOLOGI KIMIA MINERAL
Publisher : Politeknik ATI Makassaar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61844/jtkm.v5i1.1224

Abstract

Korosi merupakan salah satu masalah utama dalam aplikasi industri yang melibatkan material logam, termasuk seng. Penelitian ini bertujuan menganalisis laju korosi plat seng dalam empat media berbeda, yaitu asam cuka 25%, kalium hidroksida (KOH) 0,1 N, air laut, dan aquadest. Metode yang digunakan adalah kehilangan massa (weight loss method) dengan interval pengamatan 24, 48, dan 72 jam. Sampel plat seng berukuran 5 × 3 × 0,025 cm direndam dalam masing-masing media dan ditimbang untuk menghitung laju korosi. Hasil penelitian menunjukkan laju korosi tertinggi terjadi pada asam cuka sebesar 24,712 mpy, diikuti KOH 0,1 N sebesar 6,234 mpy, air laut sebesar 2,894 mpy, dan terendah pada aquadest sebesar 0 mpy. Tingginya konsentrasi ion H⁺ dalam asam cuka mempercepat reaksi oksidasi seng sehingga meningkatkan laju korosi, sedangkan KOH masih menimbulkan korosi melalui pembentukan endapan Zn(OH)₂. Ion Cl⁻ pada air laut memicu korosi lokal ringan, sementara aquadest yang bersifat netral hampir tidak menimbulkan korosi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan asam memiliki efek korosif yang lebih besar pada logam seng dibandingkan lingkungan basa maupun netral. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pemilihan jenis logam yang tahan terhadap korosi dan menjadi dasar untuk mengurangi potensi korosi di industri.
Technical and Economic Evaluation of Agricultural Waste-Based Biological Agents for Laboratory-Scale Ammonia Removal Wiratama, Ihsan; Suhirman, Suhirman; Arvianto, Rizky Ibnufaatih; Nainggolan, Denny Hendrik; Puteri, Denanda Clarasati; Putra, Muhammad Iqbal; Luthfi, Muhammad Zulfikar
Jurnal Teknik Industri Terintegrasi (JUTIN) Vol. 9 No. 2 (2026): April
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jutin.v9i2.56944

Abstract

Ammonia contamination in water poses serious ecological risks, while commercial bioremediation agents remain costly for widespread application. This study evaluated the technical and economic performance of a self-formulated biological agent made from golden apple snail shells and banana pseudostems for ammonia removal. A laboratory-scale preliminary experiment used 500 mL batch reactors containing synthetic wastewater in a 2 × 3 × 3 factorial design without replication, comparing EM4 and the self-formulated agent at initial ammonia concentrations of 10, 30, and 50 ppm over 1, 2, and 3 days. Ammonia was measured by the Nessler spectrophotometric method and analyzed using ANOVA GLM. The self-formulated agent showed performance comparable to EM4, with both achieving more than 80% removal under suitable conditions. Removal efficiency was influenced by the interaction between ammonia load and contact time, while cost analysis indicated a potential 92.1% saving. Further replicated pilot-scale studies with abiotic controls and real wastewater are recommended.
PENGARUH LEVEL INTERPHASE TERHADAP NILAI SPLITTING DEGREE DAN YIELD PRODUKSI PADA PROSES HIDROLISIS PADA COLUMN SPLITTING : - Aldi Dwi Ramadhan; Muhammad Zulfikar Luthfi
SAINTI: Majalah Ilmiah Teknologi Industri Vol. 17 No. 2 (2020)
Publisher : Politeknik ATI Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52759/

Abstract

Sebuah perusahan di Sumatera Utara bergerak di bidang pengolahan minyak sawit menjadi fatty Acid dan glycerin. Dalam proses industri yang ada saat ini, minyak sawit mentah dihidrolisis menjadi asam lemak dan gliserol pada suhu 250°C dan tekanan 53 bar selama 7-8 jam pada kolom splitting. Derajat keberhasilan proses reaksi hidrolisis yaitu semakin tinggi nilai splitting degree maka semakin sempurna reaksi hidrolisis. Permasalahan yang sering terjadi yaitu Acid value dan Saponification Value pada proses di splitting tidak maksimal dikarenakan salah satu faktor seperti ketinggian level Interphase. Acid value dan Saponification Value merupakan hal yang menentukan nilai dari splitting degree. Dari hal itu, perlu melakukan analisa pengaruh level Interphase terhadap nilai splitting degree serta Yield proses hidrolisis di dalam kolom splitting. Hasil menunjukkan level Interphase yang efesien untuk proses hidrolisis fat splitting yaitu level Interphase 3 oil = 4,2 meter (Point 0).
IMOBILISASI EM4 PADA KARBON AKTIF UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI DEGRADASI AMONIA DALAM AIR LIMBAH INDUSTRI PUPUK Rizky Ibnufaatih Arvianto; Muhammad Zulfikar Luthfi; Muhamad Iqbal Putra; Adna Ivan Ardian; Suhirman; Denanda Clarasati Puteri; Ihsan Wiratama; Muhammad Nasyarudin Iqbal; Dennis Farina Nury; Jerry; Firman Ayub
JURNAL KIMIA SAINTEK DAN PENDIDIKAN Vol. 10 No. 1 (2026): JURNAL KIMIA SAINTEK DAN PENDIDIKAN
Publisher : Program Studi Kimia - Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/kimia.v10i1.6240

Abstract

Latar Belakang: Air limbah industri pupuk umumnya mengandung amonia dalam konsentrasi tinggi yang berpotensi menurunkan kualitas lingkungan. Pengolahan biologis menggunakan Effective Microorganisms-4 (EM4) merupakan metode yang ramah lingkungan, namun stabilitas mikroorganisme sering menurun akibat perubahan pH dan suhu. Imobilisasi pada karbon aktif berpotensi meningkatkan stabilitas dan efektivitas proses biodegradasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengimobilisasi EM4 pada karbon aktif dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap stabilitas mikroorganisme serta efisiensi degradasi amonia pada limbah industri pupuk. Metode: Penelitian menggunakan desain eksperimental laboratorium dengan perlakuan EM4 bebas dan EM4 terimobilisasi pada karbon aktif. Keberhasilan imobilisasi dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Stabilitas mikroorganisme diuji pada kondisi pH asam, pH basa, dan suhu tinggi (45–50°C). Konsentrasi amonia dianalisis menggunakan metode Nessler dengan spektrofotometer UV-Vis, sedangkan biomassa mikroorganisme dianalisis menggunakan parameter Volatile Suspended Solid (VSS). Hasil: Analisis FTIR menunjukkan keberhasilan pelekatan biomassa EM4 pada karbon aktif. Pada kondisi pH asam dan basa, EM4-karbon aktif mencapai efisiensi penurunan amonia sebesar 99%, sedangkan EM4 bebas masing-masing hanya mencapai 37% dan 35%. Pada suhu tinggi, EM4-karbon aktif mencapai efisiensi 96%, sedangkan EM4 bebas 34%. Pada limbah industri pupuk, EM4 terimobilisasi mencapai efisiensi penurunan amonia sebesar 99% pada hari ke-20, lebih tinggi dibandingkan EM4 bebas sebesar 68%. Kesimpulan: Imobilisasi EM4 pada karbon aktif meningkatkan stabilitas mikroorganisme dan efisiensi degradasi amonia melalui sinergi adsorpsi dan biodegradasi. Teknologi ini berpotensi diterapkan sebagai alternatif pengolahan limbah industri yang efektif, ekonomis, dan ramah lingkungan
Utilization of Durian Peel as Adsorbent in Tofu Industrial Wastewater Treatment Dennis Farina Nury; Misbahul Huda; Hendri Kurniawan; Tulusma Basana Simaremare; Abdul Halim; Alfira Putri Damayanti; Didik Supriyadi; Deviany Deviany; Feerzet Achmad; Muhammad Zulfikar Luthfi; Andri Saputra
Industrial Innovation Vol. 2 No. 1 (2025): Industrial Innovation
Publisher : Politeknik ATK Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58533/vafm5b47

Abstract

Tofu industry wastewater in Indonesia contains high concentrations of organic pollutants, especially chemical oxygen demand (COD), which often exceed regulatory discharge limits due to the lack of effective treatment systems in small-scale production units. This study was conducted to evaluate the performance of durian peel as a low-cost adsorbent for COD removal. The adsorbent was prepared through carbonization at 300°C for 1 hour and activated using 30% H₃PO₄ for 24 hours. Batch adsorption experiments were conducted by varying contact time (0–150 minutes) and adsorbent dosage (0.2–1.0 g) at constant shaking speed (150 rpm). The result showed that activated durian peel demonstrated potential as an adsorbent for tofu wastewater, though its iodine number fell below the SNI 06-3730-1995 standard. The optimum condition was achieved at 90 minutes and 0.6 g adsorbent, resulting in 85.75% COD removal. Adsorption equilibrium data were analysis using Langmuir and Freundlich isotherm models. The Freundlich model provided a better fit (R² = 0.7663), indicating multilayer adsorption on a heterogeneous surface. These findings confirm the potential of durian peel as an effective biosorbent for tofu wastewater treatment under optimal adsorption conditions.
Analisis Performa Heat Exchanger Shell And Tube pada Aliran Co-Current dan Counter-Current Muhammad Nasyarudin Iqbal; Monita Pasaribu; Dennis Farina Nury; Muhammad Zulfikar Luthfi; Nurul Ulfa Safitri; Hafidz Naufal; Yohanes Tri Handoko; Endrigo Chrystover; Oldy Fahlovi
Majalah Teknik Industri Vol 32 No 2 (2024): Majalah Teknik Industri
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (UPPM) Politeknik ATI Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Energi panas atau kalor adalah energi yang dapat berpindah akibat adanya perbedaan suhu. Heat exchanger adalah alat yang memindahkan energi panas antara dua cairan melalui perbedaan suhu. Penukar panas shell-and-tube adalah salah satu penukar panas dan yang paling umum digunakan di kilang minyak dan proses kimia besar, dan sangat ideal untuk aplikasi bertekanan tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis performa alat penukar panas WL 110.03 shell and tube dengan melihat perbedaan suhu rata-rata dalam ritme logaritmik (∆TLMTD), nilai perpindahan panas (Q), nilai panas yang hilang ke lingkungan (Qloss) dan efektivitas alat penukar panas (ε) menggunakan variasi aliran searah dan berlawanan. Hasil penelitian ini yaitu didapatkan efektivitas tertinggi terjadi pada arah aliran counter current dengan rata-rata sebesar 58,8% dan nilai perpindahan panas (U) sebesar -0,959 kw m² °C dibandingan dengan arah aliran co-current dengan rata-rata sebesar 30,30% dan nilai perpindahan panas (U) sebesar -0,919 kw m² °C. Semakin cepat kecepatan aliran cairan panas dan dingin, semakin besar koefisien perpindahan panas secara keseluruhan. Penelitian ini diharapkan dapat mengoptimalkan desain dan operasi penukar panas shell-and-tube untuk meningkatkan efisiensi termal dan mengurangi kehilangan panas, serta mengembangkan aplikasi dalam skala industri yang lebih luas dengan mempertimbangkan variasi kondisi operasi dan material yang lebih beragam.
Kinetics of Ammonia Biodegradation Using EM4 with Palm Sugar as an External Carbon Source Denanda Clarasati Puteri; Rizky Ibnufaatih Arvianto; Suhirman Suhirman; Adna Ivan Ardian; Muhamad Iqbal Putra; Muhammad Zulfikar Luthfi; Ihsan Wiratama; Jerry Jerry; Dennis Farina Nury
Jurnal Beta Kimia Vol 6 No 1 (2026): Volume 6 Issue 1, May 2026
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jbk.v6i1.27517

Abstract

Biological treatment of ammonia requires sufficient carbon availability to maintain stable microbial activity and sustain optimal degradation rates. This study evaluates the kinetics of ammonia biodegradation using an EM4 microbial consortium supplemented with palm sugar as an external carbon source in aerobic batch reactors. Initial ammonia concentrations of 10, 30, and 50 ppm were evaluated over six days of operation. Monitored parameters included ammonia concentration, pH, and biomass (MLSS), while kinetic evaluation applied a pseudo–first‑order model via the ln(St/S0)–time relationship. The results showed removal efficiencies of 79.0–83.4%, accompanied by MLSS increases from ~2,000 to ~4,600 mg/L with higher initial concentrations. The pH range of 5.8–8.5 remained conducive to microbial activity. The ln(St/S0) curves exhibited strong linearity, confirming the suitability of the pseudo–first‑order model, and the reaction rate constants increased under higher substrate and biomass conditions. These findings indicate that palm sugar is effective as an external carbon source for sustaining process stability and accelerating ammonia removal. The integration of EM4 with a natural carbon source demonstrates potential as an efficient, economical, and readily implementable biological approach for ammonia treatment in wastewater.
EVALUASI DOSING FLOKULAN TERHADAP WAKTU PENGENDAPAN JUICE PADA SINGLE TRAY CLARIFIER DI PT. PEMUKASAKTI MANISINDAH Dennis Nury; Rifqi Sufra; Mega Tiara; Siti Aisyah Rahimah Aulia; Muhammad Zulfikar Luthfi
IONTech Journal Vol. 4 No. 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62702/ion.v4i2.88

Abstract

Abstrak Salah satu parameter untuk mendapatkan gula sesuai standar SNI adalah kemurnian nira. Nira merupakan cairan hasil ekstraksi tebu. Nira akan dipisahkan dari kotoran menjadi nira jernih dengan ditambahkan flokulan. Konsentrasi flokulan juga sangat berpengaruh terhadap pengendapan nira. Penelitian ini bertujuan menentukan dosis flokulan yang efektif untuk meningkatkan laju pengendapan kotoran nira dan mengetahui dosis flokulan yang dapat mempengaruhi kualitas clear juice atau nira encer. Pengujian yang dilakukan meliputi pengujian jar test, pengukuran turbiditas, pH dan pengamatan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis flokulan dapat mempengaruhi kualitas clear juice yang dihasilkan. Berdasarkan tiga aspek yaitu pH clear juice, laju pengendapan dan turbiditas, dosing flokulan yang baik yaitu pada 7 ppm dengan kondisi pH awal 7,8 Kata kunci: clear juice, flokulan, jar test, nira, turbiditas Abstract One of the parameters to obtain sugar according to SNI standards is the purity of nira. nira is the liquid extracted from sugarcane. Nira will be separated from impurities into clear nira by adding flocculants. Flocculant concentration is also very influential on the precipitation of nira. This study aims to determine the dose of flocculant that is effective to increase the rate of precipitation of nira impurities and determine the dose of flocculant that can affect the quality of clear juice or dilute nira. Tests conducted include jar test, turbidity measurement, pH and color observation. The results showed that the dose of flocculant can affect the quality of clear juice produced. Based on three aspects, namely clear juice pH, settling rate and turbidity, good flocculant dosing is at 7 ppm with initial pH conditions of 7.8. Keywords: clear juice, flocculant, jar test, sugarcane juice, turbidity
PENGARUH MASSA KARBON AKTIF DAN KONSENTRASI ADSORBAT DALAM PENYERAPAN ZAT WARNA METILEN BLUE Dennis Nury; Muhammad Zulfikar Luthfi; Deviany Deviany; Feerzet Achmad; Jabosar Ronggur Hamonangan Panjaitan
IONTech Journal Vol. 4 No. 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Institut Sains dan Teknologi Al-Kamal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62702/ion.v4i2.89

Abstract

In this study, the effect of activated carbon mass and methylene blue solution concentration on adsorption capacity, the length of time required to reach equilibrium, and isothermal modeling of activated carbon material in the adsorption process were studied. The variables used are the mass of activated carbon as much as 100 mg, 75 mg, and 50 mg and the concentration of methylene blue solution of 20, 40, 60, 80, and 100 ppm. The adsorption process in the three mass variations occurred at an optimum contact time of 80 and 90 minutes with an adsorption percentage of 99%. Adsorption of methylene blue dye by activated carbon from durian peel follows Freundlich isothermal modeling with a K value of 15846.44 mg/g and 1/n of 23.666 which shows an indicator of concentration dependence of the amount of energy associated with the adsorption process.
Co-Authors Abdul Halim Adelia, Putri Jesika Adna Ivan Ardian Adna Ivan Ardian Adna Ivan Ardian Ahmad Rifqiyan Farohi Aini, Apsari Puspita Aldi Dwi Ramadhan Alfira Putri Damayanti Amelia Naomi Agustina Andi Hardiansyah Andri Saputra Apsari Puspita Aini Arum, Amalia Sekar Arvianto, Rizky Ibnufaatih Auriyani, Wika Atro Betariani, Khairunisa Chalista Balqis Aurellia Choerudin, Choerudin Damayanti, Alfira Putri Denanda Clarasati Puteri Denanda Clarasati Puteri Dennis Farina Nury Dennis Farina Nury Dennis Farina Nury Dennis Nury Deviany Deviany, Deviany Didik Supriyadi, Didik Eko Supriadi Endrigo Chrystover Enny Nurmalasari Farohi , Ahmad Rifqiyan Febriyanto, Pramahadi Feerzet Achmad Ferry Ikhsandy Firman Ayub Fitriyani, Vira Hafidz Naufal Harmiwati N. H Hasnah Ulia Hendri Kurniawan Hibrah Hibrah Hibrah, Hibrah Ihsan Wiratama Ihsan Wiratama Jabosar Ronggur Hamonangan Panjaitan Janah, Dikri Uzlifah Jerry Jerry Jerry Jerry Jerry Jerry Jerry, Jerry Khairati, Miftahul Kurniawati, Intan Wahyuning Maghfira Arum Lestari Manurung, Martin Sugiarto Maulana, Akmal Mayastuti, Sherina Mega Tiara Miftahul Khairati Miftahurrahmah Miftahurrahmah, Miftahurrahmah Misbahul Huda Monita Pasaribu Monita Pasaribu Muhamad Iqbal Putra Muhamad Iqbal Putra Muhamad Iqbal Putra Muhammad Iqbal Putra Muhammad Nasyarudin Iqbal Muhammad Nasyarudin Iqbal, Muhammad Nasyarudin N. H. , Harmiwati N. H., Harmiwati N.H, Harmiwati Nainggolan, Denny Hendrik Nasyarudin Iqbal, Muhammad Nayaka Sandi Prayoga Ningrum, Khofifah Anggitiya Nugroho , Muhammad Erwin Cahyo Nugroho, Muhammad Erwin Cahyo Nurul Ulfa Safitri Nury , Dennis Farina Nury, Dennis Oktria, Dandi Oldy Fahlovi Permadani, Resi Levi Puji Rahayu Puteri, Denanda Clarasati Putra, Muhammad Iqbal Putra, Renold Ramadhan Ramadhan, Aldi Dwi Renold Ramadhan Putra Rifqi Sufra Rizky Ibnufaatih Arvianto Rizky Ibnufaatih Arvianto RR. Ella Evrita Hestiandari Setiadi, Tjandra Siti Aisyah Rahimah Aulia Siti Zullaikah Suhirman Suhirman Suhirman Suhirman Suhirman SUHIRMAN SUHIRMAN Surya, Dhanu Fransgio Pratama Sutri, Reni Tri Widjaja Tulusma Basana Simaremare Tutuka, Rachmadi Ulia, Hasnah Variyana, Yeni Wiratama, Ihsan Yahya , Agung Kurnia Yahya, Agung Kurnia Yohanes Tri Handoko Zulkipli, Rohiman Ahmad