Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Resepsi Pembaca terhadap Representasi Kekerasan Masyarakat Adat Kajang dalam Novel Kalihara: Perspektif Teori Johan Galtung Aswati Asri; Hajrah Hajrah; Fitriansal Fitriansal; Andi fatimah Yunus
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 3 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Dua (2) Negara: Indonesia dan Turki
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/n5p92b27

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan resepsi pembaca terhadap representasi kekerasan pada masyarakat adat Kajang dalam novel Kalihara karya Jusiman Dessirua berdasarkan teori kekerasan Johan Galtung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif. Data berupa kutipan naratif novel dan respons tertulis pembaca terhadap kekerasan, trauma, resistensi, serta relasi agama, adat, dan identitas. Data dikumpulkan melalui studi dokumentasi, pembacaan cermat, dan kuesioner terbuka, lalu dianalisis berdasarkan kategori kekerasan langsung, struktural, dan kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembaca meresepsi kekerasan dalam Kalihara sebagai kekerasan berlapis. Kekerasan langsung tampak melalui pembantaian, penembakan, pemerkosaan, pembakaran, dan pembunuhan. Kekerasan struktural dipahami melalui kerentanan masyarakat Kajang akibat ketimpangan kuasa dan lemahnya perlindungan terhadap adat, tanah, dan hutan. Kekerasan kultural dimaknai melalui fanatisme, pemaksaan keyakinan, dan delegitimasi budaya lokal. Novel ini memperluas kesadaran pembaca tentang trauma kolektif, martabat masyarakat adat, toleransi, dan keberagaman.
Pengembangan Kompetensi Literasi dan Ekspresi Kreatif Melalui Pelatihan Menulis Sastra di SMA Negeri 9 Gowa Aswati Asri; Asis Nojeng; Fitriansal Fitriansal; Sakaria Sakaria; Nur Hasbi
Intisari: Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Intisari: Jurnal Inovasi Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Insight Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58227/intisari.v4i1.367

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan SMA Negeri 9 Gowa dalam memperkuat kompetensi literasi produktif dan ekspresi kreatif siswa, khususnya melalui praktik menulis sastra. Literasi siswa tidak cukup dikembangkan melalui kegiatan membaca, tetapi perlu diarahkan pada kemampuan menulis, menafsirkan pengalaman, mengolah imajinasi, dan mengekspresikan gagasan secara kreatif. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kompetensi literasi dan ekspresi kreatif siswa melalui pelatihan menulis puisi dan cerpen. Metode pelaksanaan dilakukan secara partisipatif, edukatif, dan aplikatif melalui tahapan koordinasi mitra, identifikasi kebutuhan, penyusunan perangkat pelatihan, pelaksanaan pelatihan menulis sastra, pendampingan revisi karya, apresiasi karya, publikasi sederhana, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan pemahaman tentang literasi sastra, kemampuan menemukan ide, keterampilan menulis puisi dan cerpen, kesadaran pentingnya revisi, serta keberanian membacakan dan mempresentasikan karya. Karya siswa yang dihimpun dalam portofolio atau antologi sederhana menjadi luaran konkret kegiatan sekaligus embrio pengembangan budaya literasi kreatif sekolah. Dengan demikian, pelatihan menulis sastra terbukti relevan sebagai strategi penguatan literasi, kreativitas, kepercayaan diri, dan apresiasi karya siswa.
BROWN AND LEVINSON’S POLITENESS STRATEGIES IN THE FILM KURUNG WITHIN THE CONTEXT OF BUGIS-MAKASSAR CULTURAL VALUES Fitriansal; Suriadi; Nilam Sari; Abdullah
Curricula: Journal of Teaching and Learning Vol. 10 No. 1 (2025): Curricula : Journal of Teaching and Learning
Publisher : LLDIKTI Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research intends to scrutinize the politeness strategies in Very Zalman Ewa’s film Kurung, utilizing the theoretical framework of Brown and Levinson (1987). The focus of the analysis is directed toward the application of four politeness strategies: bald on record, positive politeness, negative politeness, and off-record, provided that they are linked to the socio-cultural values of the Bugis-Makassar society. The results indicate that these four strategies function adaptively according to the social context and power relations. The bald on record strategy is employed in hierarchical situations demanding firmness; positive politeness appears in contexts of solidarity and affection; negative politeness is utilized to maintain respectful distance; while off-record politeness reflects the wisdom of speech through implicit and metaphorical forms. These findings illustrate that politeness in Kurung is a reflection of the values of siri’ na pesse, malebbi, and lempu’—concepts which emphasize honor, empathy, and honesty in communication. Theoretically, this research extends the application of politeness theory into the local cultural context; practically, it has implications for cross-cultural pragmatic teaching; and culturally, it strengthens the position of language as a vehicle for inheriting human values and social harmony.
Penguatan Kompetensi Public Speaking Berbasis Seni Performa bagi Taruna Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar Fitriansal Fitriansal; Muh. Syukri Gaffar; Abdullah Azzam; Nurrahma Nurrahma; Ahmad Rizal Abdullah
Abdimas Langkanae Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v5i2.556

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan untuk menguatkan kompetensi public speaking taruna Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar melalui pendekatan seni performa. Public speaking memegang peranan penting dalam dunia pelayaran karena taruna, sebagai calon perwira, dituntut mampu menyampaikan instruksi, laporan, dan informasi keselamatan secara jelas, tegas, serta efektif. Namun, hasil observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar taruna masih mengalami hambatan seperti kurangnya kepercayaan diri, intonasi monoton, kurangnya ekspresi, dan gestur yang kurang terkontrol. Untuk menjawab permasalahan tersebut, kegiatan ini menerapkan pelatihan public speaking berbasis seni performa yang menekankan pengembangan ekspresi tubuh, teknik vokal, penggunaan ruang, serta kontak audiens. Metode pelaksanaan mencakup sesi pengenalan konsep, latihan teknis, praktik performatif, dan umpan balik terstruktur. Evaluasi dilakukan melalui observasi performa dan kuesioner persepsi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada aspek kepercayaan diri, kualitas vokal, gestur, ekspresi, serta efektivitas penyampaian pesan. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan seni performa relevan diterapkan dalam pendidikan vokasional maritim karena mampu mengintegrasikan aspek teknis dan performatif komunikasi secara holistik. Program ini berpotensi dikembangkan menjadi pelatihan berkelanjutan dalam pembinaan kompetensi komunikasi taruna.
NARASI KUTUKAN SEBAGAI MITOS BUDAYA: ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES TERHADAP SUMPAH LELUHUR DALAM FILM LAKUNA Fitriansal
JURNAL ILMU BUDAYA Vol. 14 No. 2 (2026): Jurnal Ilmu Budaya
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34050/jib.v14i2.51948

Abstract

Penelitian ini menganalisis konstruksi narasi kutukan sebagai mitos budaya dalam film Lakuna yang merepresentasikan sumpah leluhur masyarakat Bugis-Makassar menggunakan semiotika Roland Barthes (denotasi, konotasi, mitos). Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif interpretatif dengan data primer dari naskah film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tingkat denotasi, sumpah leluhur merupakan deklarasi verbal yang mengikat lintas generasi dengan otoritas sosial tokoh bangsawan. Pada tingkat konotasi, sumpah berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial, otoritas moral tanpa verifikasi empiris, dan pencipta ketakutan kolektif. Pada tingkat mitos, film menaturalisasi kutukan melalui legitimasi leluhur, internalisasi ketakutan, dan pembuktian kutukan melalui penderitaan tokoh. Meskipun tokoh Naya menunjukkan perlawanan, struktur naratif film justru menghukum perlawanan tersebut sehingga mereproduksi mitos kutukan sebagai kebenaran yang tak dapat dilawan. Narasi kutukan dalam film Lakuna memiliki tiga fungsi ideologis: kontrol sosial, legitimasi status quo adat, dan produksi kepasrahan kolektif. Kata Kunci: narasi kutukan; mitos budaya; semiotika Roland Barthes; film Lakuna
Internalisasi Filosofi Perempuan Bugis-Makassar melalui Workshop Interpretasi Tradisi dan Tari Pakarena sebagai Model Penguatan Pendidikan Siswa SMP Negeri 33 Makassar Bungatang Bungatang; Andi Agussalim AJ; Fitriansal Fitriansal; Suriadi Suriadi; M Faidil; Nur Asmi Suci Ramadhani
Abdimas Langkanae Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pustaka Digital Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jpm.v6i2.883

Abstract

Globalisasi dan modernisasi menjadi tantangan bagi keberlanjutan nilai budaya lokal di kalangan generasi muda. Kondisi ini ditemukan di SMP Negeri 33 Makassar, di mana sekitar 65–70% siswa mengenal bentuk simbolik tradisi, cerita, dan kesenian daerah, tetapi belum memahami makna filosofisnya. Pembelajaran budaya juga cenderung teoritis, sementara nilai lokal seperti Siri’ na Pacce belum terintegrasi secara sistematis dalam pendidikan karakter. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan menginternalisasikan filosofi perempuan Bugis-Makassar melalui workshop interpretasi tradisi dan Tari Pakarena sebagai model penguatan pendidikan karakter siswa. Program dilaksanakan pada 23 Juli, 26 Agustus, dan 27 Agustus 2026 di SMP Negeri 33 Makassar dengan melibatkan 80 siswa. Metode yang digunakan meliputi participatory learning, pendekatan interpretasi budaya, dan experiential learning. Tahapan kegiatan mencakup sosialisasi, workshop interpretasi tradisi melalui cerita rakyat dan pappaseng, pemanfaatan media audiovisual, interpretasi dan praktik Tari Pakarena, pendampingan, evaluasi, serta perancangan keberlanjutan. Keberhasilan program diukur melalui pre-test, post-test, observasi partisipasi, dan refleksi tertulis siswa. Hasil kegiatan menunjukkan respons positif mitra dan peningkatan pemahaman siswa dari sekadar mengenali bentuk budaya menjadi mampu menginterpretasikan makna simbolik dan filosofisnya. Siswa memahami nilai Siri’ na Pacce dan filosofi perempuan Bugis-Makassar, khususnya malebbi sebagai sikap bermartabat, santun, tangguh, cerdas, dan bertanggung jawab. Praktik Tari Pakarena juga menumbuhkan kesabaran, kedisiplinan, ketekunan, dan kerja sama. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan melampaui indikator minimal 70%. Program menghasilkan model pembelajaran karakter berbasis seni tradisional yang kontekstual dan berkelanjutan serta mendukung SDGs, khususnya pendidikan berkualitas dan kesetaraan gender.