Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Hubungan Peran Keluarga dan Motivasi Intrinsik dengan Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rahmah, Siti; Manto, Onieqie Ayu Dhea; Tjomiadi, Cynthia Eka Fayuning; Syahlani, Ahmad
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 12, No 3 (2024): Agustus 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.12.3.2024.657-666

Abstract

Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) merupakan salah satu penyakit kronis yang apabila tidak dikendalikan akan menyebabkan berbagai komplikasi bahkan sampai mengancam nyawa. Pada jangka panjang DMT2 bisa menyebabkan masalah fisik, psikologis, sosial, spritual dan lingkungan sehingga mempengaruhi kualitas hidup penderita. Melihat hal ini diperlukan adanya faktor yang bisa memperbaiki kualitas hidup pasien DMT2. Tujuan: Mengetahui hubungan Peran Keluarga dan Motivasi Intrinsik dengan Kualitas Hidup Pasien DMT2. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 55 responden yang diambil dengan teknik purposive sampling turut berpartisipasi sebagai sempel pada penelitian ini. Data di uji dengan chi-square dan dilakukan analisis univariat dan bivariat. Hasil: Hasil analisis bivariat dengan metode chi-square menunjukan p-value  sebesar 0,000 (p < 0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara peran keluarga dengan kualitas hidup pada pasien diabetes melitus tipe 2 dan didapatkan hasil p-value  sebesar 0,015 (p < 0,05) yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi intrinsik dengan kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2. Simpulan: Kualitas Hidup Pasien DMT2 sangat dipengaruhi dengan adanya koordinator, motivator dan kontributor dari keluarga sehingga peran keluarga sangat penting terhadap kualitas hidup dan motivasi intrinsik juga sangat penting sebagai penguatan diri untuk meningkatkan kualitas hidup.
Hubungan Dukungan Keluarga terhadap Perilaku Self Care pada Penderita Ulkus Diabetikum Nadya, Hesti Elva; Tjomiadi, Cynthia Eka Fayuning; Manto, Onieqie Ayu Dhea; Mohtar, M.Sobirin
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 12, No 3 (2024): Agustus 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.12.3.2024.705-716

Abstract

Satu komplikasi kronis yang cukup  sering terjadi pada pasien diabetes melitus adalah terjadi ulkus kaki diabetik. Dampak negatif yang dirasakan pasien ulkus kaki diabetikum seperti penurunan mobilitas yang berakibat penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Self care adalah penanganan yang dilakukan untuk menciptakan lingkungan luka yang lebih moist. Perilaku self care tidak dapat  terlaksana secara optimal tanpa adanya dukungan keluarga. Dukungan keluarga menujukkan suatu bentuk kepedulian yang dapat diberikan ketika keluarga membutuhkan bantuan kehidupan dalam menjalani pengobatan dan perawatan. Tujuan: untuk menganalisa hubungan dukungan keluarga terhadap perilaku self care pada penderita ulkus dabetikum di RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin. Metode: penelitian kuantitati ini menggunakan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 41 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan diolah dengan uji spearman rank (rho). Hasil: Mayoritas responden berusia 46-55 tahun berjenis kelamin perempuan dengan pendidikan terakhir SD. Mayoritas responden adalah IRT dengan riwayat tidak ada keluarga menderita DM. Mayoritas responden tidak memiliki pola makan yang diatur, dan tidak pernah latihan fisik seperti olahraga. Sebanyak 56,1% responden selalu melakukan perawatan kaki dan 63,4% minum obat secara teratur. Sebanyak 39,0%  responden mengatakan tidak pernah dukungan informasional. Pada dukungan instrumental mayoritas responden yaitu 53,7% menyatakan selalu mendapatkan, begitu juga pada dukungan emosional dan penghargaan yang selalu mendapatkan 65,9%. Simpulan : Hasil uji spearman rank menunjukan nilai p- value=0,004 yang artinya terdapat hubungan antara dukungan keluarga terhadap perilaku self care pada penderita ulkus diabetikum di RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin. 
Hubungan Spiritual Coping dengan Self Monitoring pada Pasien Diabetic Foot Ulcer Setiani, Eri; Tjomiadi, Cynthia Eka Fayuning; Manto, Onieqe Ayu Dhea; Mahmudah, Rifa’atul
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 12, No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.12.1.2024.137-144

Abstract

Spiritualitas yang dimiliki seorang penderita diabetes adalah sebuah kekuatan yang memberikan ketenangan dalam menghadapi penyakitnya. Individu dengan spiritual yang baik memungkinkan untuk melakukan perawatan diri yang positif. Perawatan yang baik tergantung pada bagaimana individu tersebut memanajemen dirinya atau self monitoring. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan Spiritual Coping dengan Self Monitoring pada Pasien Diabetic Foot Ulcer di RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin. Penelitian kuantitatif ini menggunakan rancangan cross sectional. Teknik sampling menggunakan purposive sampling dan didapatkan 41 responden. Instrumen pengambilan data menggunakan kuesioner Brief RCope dan Self-Management Diabetes Melitus (SMDM).  Uji Analisa dengan korelasi spearman rank. Hasil Analisa dalam penelitian ini mayoritas responden berusia 45-59 tahun (51,2%) dengan jenis kelamin perempuan (61%) yang berpendidikan terakhir SD (39%). Mayoritas responden tidak bekerja dan semuanya berstatus menikah. Mayoritas menderita DM 1-5 tahun (51,2%) dan mayorita memiliki keluarga dengan Riwayat DM (61%). Hasil spiritual coping pada pasien diabetic foot ulcer dalam kategori negative (73,2%) denagn self monitoring yang buruk (75,6%). Hasil korelasi Spiritual Coping dengan Self Monitoring Pada Pasien Diabetic Foot Ulcer 0,000 dengan nilai r menunjukkan angka 0,811 yang mempunyai makna sangat kuat. Simpulan hasil penelitian ini adalah ada hubungan antara Spiritual Coping dengan Self Monitoring pada Pasien Diabetic Foot Ulcer di RSUD Dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin.
Efektivitas Pemberian Edukasi Asupan Serat terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Sewaktu (GDS) pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Wati, Eka Setya; Tjomiadi, Cynthia Eka Fayuning; Budi, Indra; Rahman, Subhannur
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 12, No 4 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.12.4.2024.839-846

Abstract

Diabetes Melitus tipe 2 masuk dalam penyakit metabolik yang morbiditasnya cukup tinggi dengan kriteria hiperglikemia. Jika kasus hiperglikemia dibiarkan bisa menimbulkan beberapa penyebab seperti kerusakan pada berbagai organ tubuh, komplikasi Kesehatan yang melumpuhkan dan mengancam jiwa seperti penyakit kardiovaskular, neuropati, dan penyakit mata yang menyebabkan retinopati serta kebutaan. Salah satu tindakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah Hiperglikemia yang dialami penderita diabetes melitus tipe 2 adalah dengan edukasi diet asupan serat. Tujuan untuk mengetahui Efektivitas Pemberian Edukasi Asupan Serat Terhadap Penurunan Kadar Gula Darah Sewaktu (GDS) Pada Pasien Diabetes Melitustipe II Di Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis Pre-Experimental Design desain penelitian One Group Pretest-Posttest Design. Jumlah sampel 30 responden dengan Teknik purposive sampling. Pengambilan data pada pagi hari dengan glucometer yang diuji dengan uji statistik Wilcoxon. hasil penelitian didapatkan mayoritas responden berjenis kelamin perempuan dengan rentang usia 51-60 tahun. Nilai pretest menunjukkan mayoritas responden memiliki kadar GDS >200mg/dL dan post-test mayoritas memiliki kadar GDS dengan rentang 140-199mg/dL. Melihat hasil ini terjadi penurunan kadar gula darah. Hasil ini diperkuat dengan nilai p= 0,000 yang menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada penurunan kadar GDS. Terdapat efektivitas pemberian edukasi asupan serat terhadap penurunan kadar gula darah sewaktu.
Perbedaan Siriraj Stroke Score (3S) & Dave and Djoenadi Stroke Score System (3S2D) Terhadap Durasi Penentuan Diagnosa Keperawatan Pasien Stroke di IGD Jamilah, Siti; Mohtar, M. Sobirin; Tjomiadi, Cynthia Eka Fayuning; Santoso, Bagus Rahmat
Indo-MathEdu Intellectuals Journal Vol. 4 No. 3 (2023): Indo-MathEdu Intellectuals Journal
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/imeij.v4i3.598

Abstract

Stroke patient service in the emergency room provided by nurses and must do it quickly, effectively, and efficiently, this can be achieved with the right assessment instrument. Knowing the difference in the assessment of Siriraj Stroke Score (3S) and Dave and Djoenaidi Stroke Score System (3S2D) on the duration of determining the nursing diagnosis of stroke patients in the emergency room. Quantitative research with one group post test only design, and sampling using purposive sampling of 30 respondents. The statistical test uses the Paired Sample T-test test. The results of the Paired Sample T-test test showed that the average difference in the duration of determining nursing diagnoses in 3S and 3S2D assessment was 7.6 minutes. The lowest difference is 7.1 minutes, and the highest difference is 8.1 minutes. It is known that the t value is 29.135> t table 2.045 and Sig. value of 0.000 <0.05. The use of the 3S assessment method is more compatible to be used during emergencies because the assessment method is simple and fast, while the 3S2D assessment is quite time consuming so that this assessment will be easier if it is carried out by 2 nurses
Terapi Aktivitas Kelompok Tebak Benda Pada Lansia Di Panti Perlindungan Dan Rehabilitasi Sosial Lanjut Usia (PPRSLU) Budi Sejahtera Banjarbaru Novranty, Elssa; Hidayah, Nur; Fatimah, Siti; Devina, Trisna; Tjomiadi, Cynthia Eka Fayuning
Majalah Cendekia Mengabdi Vol 2 No 3 (2024): Majalah Cendekia Mengabdi
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/mcm.v2i3.387

Abstract

Pendahuluan: Lansia dengan penurunan daya ingat dapat mengalami depresi terutama munculnya gejala perasaan sedih, tidak bahagia, sering menangis, merasa sendirian dan tidak ada kawan, tidur kurang nyenyak, pikiran dan gerakan tubuh yang terbatas, mudah merasa lelah dan berkurangnya aktivitas sehari-hari, tidak berselera makan, turunnya berat badan, penurunan daya ingat dan sulit berkonsentrasi. Namun di kondisi ini dapat digunakan sebagai terapi tebak benda dapat digunakan sebagai terapi aktivitas kelompok. Terapi ini termasuk dalam kegiatan stimulasi sensori dengan menstimulasi panca indra dengan menggunakan Blind Guessing Game. Tujuan: Untuk merangsang daya ingat otak pada lansia tentang Terapi Aktivitas Kelompok, Terapi Tebak Objek dan dapat melatih keterampilan berinteraksi antar kelompok lansia. Metode: Terapi Aktivitas Kelompok Tebak Benda ini menggunakan metode Ceramah dan Demonstrasi tebak benda yang dilakukan selama 15 menit, tebak benda ini dilakukan dengan cara membagi dua kelompok yang saing bersaing untuk menebak lebih banyak benda dan menyebutkan fungsi dari benda yang ditebak. Hasil: Berdasarkan hasil kegiatan yang dilakukan dapat dilihat Lansia tampak antusias dalam menjalankan terapi tebak gambar, karena kegiatan ini dapat menstimulasi daya ingat otak pada lansia yang berada di pada lansia yang berada di panti werdha sehingga dapat menjadi pembelajaran secara berkelompok Sehingga beberapa lansia mengatakan bahwa terapi ini sangat bermanfaat untuk menghilangkan kecemasan dan meningkatkan daya ingat lansia serta dapat menjadi pembelajaran secara berkelompok dalam menebak benda.   Simpulan: Dengan dilihat dari hasil setelah bermain tebak benda, respons yang diharapkan adalah lansia dan petugas mampu melakukan kegiatan tebak benda secara mandiri dan bila dilakukan secara rutin diharapkan fungsi kognitif dapat meningkat serta menstimulasi daya ingat otak pada lansia.
Hubungan Jenis Kelamin dengan Tingkat Pengetahuan Comprehensive Sexuality Education (CSE) pada Mahasiswa Nito, Paul Joae Brett; Tjomiadi, Cynthia Eka Fayuning; Manto, Onieqie Ayu Dhea
DINAMIKA KESEHATAN: JURNAL KEBIDANAN DAN KEPERAWATAN Vol 12, No 2 (2021): Dinamika Kesehatan Jurnal Kebidanan dan Keperawatan
Publisher : Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/dksm.v12i2.736

Abstract

Latar Belakang: Pendidikan Seksual merupakan bagian penting dalam mendukung program SDGs untuk menjamin kehidupan yang sehat serta menjamin kesetaraan gender. Pendidikan seksual menjadi salah satu upaya pencegahan peningkatan penyakit menular seksual (PMS), HIV AIDS, perilaku seksual, dan permasalahan terkait hak gender. Survei Data Demografi dan Kesehatan Indonesia (2017) menyebutkan 2% wanita usia 15-24 tahun dan 8% laki-laki usia 15-24 tahun melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan. CDC (2019) menyebutkan bahwa setengah dari penderita IMS baru adalah pasien usia 15-24 tahun. Hal ini tentu akan mempengaruhi kualitas hidup remaja dan generasi selanjutnya.Selama ini upaya peningkatan pengetahuan seksual melalui pemberian informasi telah dilakukan, namun belum optimal. Pendidikan yang disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin dapat menjadi salah satu strategi dalam peningkatan pengetahuan seksual.Tujuan: Menganalisis hubungan antara jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan Comprehensive Sexuality Education (CSE) pada Mahasiswa.Metode: Penelitian menggunakan metode survei analitik dengan desain survei cross sectional, pengumpulan data melalui survei kuesioner. Jumlah sampel sebanyak 248 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, teknik non probability sampling. Analisis menggunakan uji chi square.Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan Comprehensive Sexuality Education (CSE) dengan nilai sig2 tailed sebesar 0,006 ( 0,05). Simpulan: Comprehensive Sexuality Education (CSE) melaui pendekatan usia dan jenis kelamin dapat menjadi salah satu strategi dalam upaya pencegahan permasalahan terkait seksual.Kata Kunci : Pendidikan seksual, CSE,  remaja Relationship of Gender and Comprehensive Sexuality Education (CSE)  Knowledge Levels for Students Background: Sexual education is an important part in supporting the SDGs program to ensure a healthy life and gender equality. Sexual education is one of the efforts to prevent an increase in sexually transmitted diseases (STDs), HIV AIDS, sexual behavior, and issues related to gender rights. The Indonesian Demographic and Health Data Survey (2017) stated that 2% of women aged 15-24 years and 8% of men aged 15-24 years had sexual relations before marriage. The CDC (2019) states that half of new STI sufferers are patients aged 15-24 years. This will certainly affect the quality of life of adolescents and the next generation. So far, efforts to increase sexual knowledge through the provision of information have been carried out, but have not been optimal. Education that is adjusted to age and gender can be one strategy in increasing sexual knowledge.Objective: To analyze the relationship between gender and the level of knowledge of Comprehensive Sexuality Education (CSE) in students.Methods: This study uses an analytical survey method with a cross-sectional survey design, data collection through a questionnaire survey. A total of 248 respondents, using purposive sampling, non-probability sampling technique. Analysis using chi square test.Results: The results of statistical tests showed that there was a significant relationship between gender and the level of knowledge of Comprehensive Sexuality Education (CSE), p value 0.006 (0.05).Conclusion: Comprehensive Sexuality Education (CSE) based age-gender can be a strategy in preventing sexual problems. Keywords: Sexual education, CSE, youth 
Hubungan god locus of control terhadap selfcare management pada pasien diabetic foot ulcer Norsipa, Salsa; Manto, Onieqie Ayu Dhea; Tjomiadi, Cynthia Eka Fayuning; Mahmudah, Rifa’atul
Journal of Health Research Science Vol. 4 No. 02 (2024): Journal of Health Research Science
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/jhrs.v4i2.1217

Abstract

Latar Belakang: Diabetic foot ulcer (ulkus kaki diabetic) merupakan komplikasi yang banyak dialami penderita Diabetes Melitus (DM). Dampak negative pada penderita DM yang mengalami ulkus kaki diabetik dapat terlihat dari berbagai perubahan pada aspek biologis, psikologis, sosial ekonomi maupun spiritual. Seorang penderita DM terlebih mengalami ulkus kaki diabetik harus mulai menerapkan selfcare management. Keberhasilan selfcare management dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya yaitu faktor spiritualitas God Locus of Control.Metode: Penelitian kuantitatif ini menggunakan pendekatan cross sectional, jumlah sampel sebanyak 51 responden yang diambil dengan teknik purposive sampling. Uji analisa bivariat menggunakan spearman rank.Hasil: Hasil analisis didapatkan p-value sebesar 0,681 yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara God Locus of Control terhadap Selfcare Management pada pasien Diabetic Foot Ulcer.Kesimpulan: God locus of control dan selfcare management tidak memiliki hubungan yang signifikan antara satu sama lain dikarenakan god locus of control dapat memberikan dampak yang berbeda pada masing-masing individu. Semua keyakinan akan kesembuhan tidak sepenuhnya dikendalikan oleh kehendak Tuhan karena pada dasarnya selfcare management yang baik berasal dari kemauan diri sendiri untuk menjalankan perawatan terhadap penyakit yang dideritanya.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Siswa terhadap Kejadian Bullying Ilhami, Muhammad; Nito, Paul Joae Brett; Tjomiadi, Cynthia Eka Fayuning; Ariani, Malisa
Jurnal Keperawatan Jiwa Vol 12, No 4 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jkj.12.4.2024.1031-1040

Abstract

Angka kejadian bullying pada remaja semakin meningkat. Dari hasil penelitian terdahulu menujukan angka kejadian bullying  rata-rata siswa SMA diwilayah Banjarmasin Timur yang pernah mengalami perilaku bullying dengan insiden prevalensi > 50%. Salah satu faktor penyebab utama terjadianya bullying adalah kurangnya pengetahuan tentang bahaya bullying. Tujuan untuk mengetahui hubungan Tingkat Pengetahuan siswa dengan kejadian bullying. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif diskriptif  dengan pendekatan Cross-Sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 88 responden, teknik pengambilan sampel Total sampling. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Pengambilan data dengan menggunakan kuesioner pengetahuan dengan hasil uji validitas r>0,34 dan Alpha Cronbach mendapatkan hasil 0,939. Kuesioner kejadian bullying dengan hasil uji validitas r tabel >0,3916 dengan reliabilitas lebih dari 0,6%. Tingkat pengetahuan siswa sangat rendah dengan jumlah sebanyak 52 (59,1%),angka kejadian bullying 77 kasus (pelaku dan korban) dengan jumlah pelaku 49 (55,7%), korban 28 (31,8%). Hubungan antara tingkat pengetahuan dengan kejadian bullying ( pelaku) didapat nilai p value 0.000, sedangkan  pada korban bullying didapat nilai p value 0.003. Ada hubungan tingkat pengetahuan dengan kejadian bullying disebabkan kurangnya informasi dan edukasi sehingga siswa mengangagap bullying sebagai candaan. Dengan adanya program pembelajaran anti bullying maka tingkat pengetahuan siswa akan meningkat dan dapat mencegah kejadian bullying di lingkungan sekolah.
TERAPI KOMPLEMENTER PENURUNAN TEKANAN DARAH PASIEN HIPERTENSI MENGGUNAKAN TERAPI RENDAM KAKI AIR HANGAT DENGAN CAMPURAN GARAM DAN SERAI Rauf, Abdur; Tjomiadi, Cynthia Eka Fayuning; Susandri, Hefly; Nestriani, Ni Wayan Elsi; Munawarti, Sabrina; Zulfirmansyah, Rizqilla Az-zahra
Batik-MU : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Batik-MU
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.48144/batikmu.v4i2.1764

Abstract

Lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Lanjut usia merupakan istilah bagi seseorang yang telah memasuki periode dewasa akhir atau usia tua. Periode ini merupakan periode penutup bagi rentang kehidupan seseorang, dimana terjadi kemunduran fisik dan psikologi secara bertahap. Hipertensi menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Pengobatan hipertensi dapat dilakukan secara farmakologis dan non farmakologis. Salah satu terapi non farmakologis yang dapat digunakan untuk mengurangi hipertensi adalah dengan terapi rendam air hangat dengan campuran garam dan serai. Terapi rendam kaki air hangat dengan campuran garam dan serai merupakan salah satu terapi komplementer yang dapat diterapkan di rumah dengan mudah. Kegiatan ini dilakukan dengan memeriksa tekanan darah lansia, penyuluhan tentang pemberian terapi rendam kaki air hangat dengan garam dan serai, dan terapi rendam kaki air hangat dengan garam dan serai pada tanggal 27 Januari 2024, 31 Januari 2024, dan 3 Februari 2024. Sebagia evaluasi tindakan, perawat kembali melakukan pengukuran tekanan darah guna mengetahui adanya penurunan tekanan darah. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan setelah penyampaian materi dan tindakan terapi komplementer rendam kaki air hangat dengan garam dan serai, didapatkan hasil bahwa terapi ini efektif dalam menurunkan tekanan darah pada lansia.