Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

MESOKO: SOLIDARITAS PADA MASYARAKAT TOLAKI DI DESA PALOWEWU KECAMATAN BENUA KABUPATEN KONAWE SELATAN Rikarni Rikarni; Akhmad Marhadi; Hartini Hartini
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.273 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.596

Abstract

Mesoko merupakan tradisi etnik Tolaki yang mencerminkan bentuk solidaritas masyarakat. Tradisi ini dilakukan untuk memberikan bantuan kepada keluarga atau orang lain yang membutuhkan bantuan secara materil. Seiring perkembangan jaman, mesoko juga terus mengalami perubahan sehingga sedikit ada perbedaan dengan beberapa tempat lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan proses pelaksanaan serta fungsi tradisi mesoko di Desa Palowewu. Data kualitatif dikumpulkan melalui teknik wawancara dan pengamatan langsung di lapangan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pelaksanaan tradisi mesoko di masyarakat Palowewu, sering dijumpai pada tiga jenis hajatan, yakni mesoko pernikahan, mesoko orang sakit dan mesoko pendidikan. Proses pelaksanaan mesoko terbagi dalam tiga tahapan atau proses yakni (1) menyampaikan maksud atau niat; (2) menyampaikan undangan atau menyebar informasi dan (3) pelaksanaan mesoko. Tradisi ini memiliki beberapa fungsi, mulai dari fungsi kekerabatan, fungsi solidaritas, fungsi pengontrol sosial, fungsi ekonomi, hingga fungsi pemertahanan budaya.
PENGGUNA TATO DI KALANGAN REMAJA KELURAHAN KEMARAYA KECAMATAN KENDARI BARAT Nirwana Alim; La Janu; La Ode Aris
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.607 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.598

Abstract

This study aims to determine the reasons for youth in Kemaraya using tattoos and people's views on teenagers who use tattoos. This study uses ethnographic methods and data collection conducted using participant observation and in-depth interviews. The results of this study indicate that several reasons for tattooed adolescents include: (1) family factors such as broken conditions and the existence of teenagers who are far from old age; (2) social environment factors, namely following trends, as accessories (body decoration) and attracting the attention of others. Some community leaders who tend to look positively towards tattoos in adolescents as being like decoration, "body flowers", hobbies and art. There are also negative views from religious leaders, traditional leaders, and adolescents. They impress tattoos with things that are not good, naughty, and prohibited in religion.
SISTEM PENGETAHUAN PETANI RUMPUT LAUT DI DESA GONEBALO KECAMATAN DURUKA KABUPATEN MUNA Kasman Kasman
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 1 (2019): Volume 8 Nomor 1, Februari 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.869 KB) | DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i1.600

Abstract

For people in the Indonesian archipelago, mainly Ghone Balano Village, the sea is the main source of income. Seaweed cultivation is one of the marine resources that have economic potential that can support the economy of the people of Ghone Balano Village, Duruka District, Muna Regency. The pest attack on seaweed cultivated by the surrounding community is a problem that needs to be resolved with the help of the local government. The data collection technique in this study is collecting data directly in the field/location to obtain objective data. The purpose of this study was to determine the utilization of marine resources by the people in the village of Ghone Balano and the role of the government in the efforts made by the community. Qualitative data was collected through in-depth interviews and observations directly in the field. The results of this study are seaweed farming business needs to get the attention of the government because the people in the coastal areas of the village of Ghone Balano still find obstacles in the location and also pests that attack cultivated seaweed.
Nilai-Nilai Pendidikan Kesehatan Reproduksi pada Tradisi Karia di Masyarakat Muna Lestariwati Lestariwati; Nurmin Suryati; Akifah Akifah
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 9 No 1 (2020): Volume 9 Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v9i1.722

Abstract

Karia merupakan salah satu tradisi daur hidup masyarakat Muna yang bernuansa ritual. Tradisi ini menjadi menjadi puncak kangkilo bagi anak perempuan yang telah memasuki usia remaja dan siap berumah tangga. Menikah itu bukanlah perkara yang mudah tetapi harus memiliki kesiapan yaitu kesiapan fisik, mental/psikologis, sosial/ekonomi. Banyak kasus terjadi di masa sekarang yang mempengaruhi kesehatan reproduksi salahs atunya adalah hubungan seks pranikah yang berujung pada MBA (married by accident). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan kesehatan reproduksi yang terdapat pada tradisi karia. Metodologi penelitian bersifat deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat 2 (dua) nilai dalam tradisi karia yang berhubungan dengan pendidikan kesehatan reproduksi yaitu nilai filosofis dan nilai pendidikan. Tetapi pada masa sekarang dalam tradisi karia pendidikan kesehatan reproduksi tersebut sudah mengalami pergeseran.
Proses Ritus Kematian pada Masyarakat Etnik Muna di Kota Kendari Iko Sutriani; La Ode Sidu Marafad; La Aso
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 9 No 1 (2020): Volume 9 Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v9i1.723

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses ritus kematian pada masyarakat etnik Muna. Penelitian ini bersifat kualitatif, dimana Peneliti menggambarkan secara detail proses ritus kematian pada masyarakat etnik Muna. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara mendalam dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses ritus kematian pada masyarakat etnik Muna terdiri atas tujuh ritus yaitu (1) ritus kaalingkita (memandikan maya secara biasa), (2) ritus kaselino wite (penggalian tanah kuburan), (3) ritus kakadiu wadhibu (memandikan mayat secara wajib), (4) ritus kabasano haroa turuntana (pembacaan doa untuk bekal mayat), (5) ritus kakoburu (penguburan), (6) ritus kansolo-nsolo (kunjungan ke kuburan), dan (7) ritus poalo (memperingati malam-malam tertentu sesudah penguburan).
KEARIFAN LOKAL KAAGO-AGO DALAM BUDIDAYA TANAMAN JAGUNG DI KECAMATAN MALIGANO KABUPATEN MUNA Sitti Nur Isnian; Musadar Musadar; Harmayani Harmayani
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 3 (2019): Volume 8 Nomor 3, Oktober 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i3.809

Abstract

Penelitian ini berangkat dari fenomena petani jagung di Kecamatan Maligano Kabupaten Muna dalam menjalankan budidaya pertaniannya menggunakan kearifan lokal upacara kaago-ago, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengungkap kearifan lokal kaago-ago dalam budidaya tanaman jagung di kecamatan Maligano Kabupaten Muna. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2018. Penelitian bersifat kualitatif dengan melibatkan 17 informan yang terdiri dari kepala adat, petani, dan pemuka masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan kearifan lokal kaago-ago pada kegiatan penyiapan lahan dan panen meliputi upacara lengkap, pada penyiapan benih meliputi dokambae tanpa upacara, penanaman meliputi menutup mata gigi dirapatkan dan lafazd doa tanpa upacara, dan pada pemeliharaan tanaman tidak ada perlakuan. Melalui penelitian ini diharapkan wawasan masyarakat dapat terbuka, melihat kearifan lokal sebagai sebuah potensi dengan membuka diri terhadap inovasi baru, sehingga kearifan lokal masyarakat dapat menunjang usaha tani yang mereka jalani.
STRATEGI ADAPTASI RUMAH VERNAKULAR MUNA PADA PEMBANGUNAN PASAR LOKAL MODEREN WAKURU DI KECAMATAN TONGKUNO KABUPATEN MUNA Muhammad Zakaria Umar; Wa Ode Irmawati
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 8 No 3 (2019): Volume 8 Nomor 3, Oktober 2019
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v8i3.811

Abstract

Pasar lokal Wakuru terletak di Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna. Pasar ini pernah terbakar pada tahun 2004 dan sampai saat ini belum diperbaiki. Di sisi lain masyarakat di kecamatan ini masih bermukim di rumah vernakular yang cenderung terabaikan oleh para arsitek sebagai salah satu dasar inspirasi karya arsitekturnya. Melalui alat adaptasi dalam arsitektur maka pasar lokal Wakuru dapat dirancang bersumber dari rumah vernakular Muna. Penelitian ini penting dilaksanakan sebagai berikut: (1) agar pasar lokal moderen di Kecamatan Tongkuno tetap hidup dalam kepungan pasar moderen dan; (2) untuk melestarikan arsitektur vernakular Muna. Penelitian ini ditujukan untuk mengadaptasi arsitektur vernakular Muna pada bangunan pasar lokal moderen Wakuru di Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini menggunakan metode grounded theory dengan pendekatan kualitatif. Sumber data didapatkan dengan cara kajian pustaka. Data dikumpulkan dengan cara dokumentasi, observasi, dan data dianalisis dengan cara mereduksi data, menyajikan data, serta menarik kesimpulan. Penelitian ini disimpulkan bahwa Arsitektur Vernakular Muna diadaptasi pada Pasar Lokal Moderen Wakuru di Kecamatan Tongkuno dengan cara merubah fungsi, kapasitas, penampilan, struktur, dan lokasi bangunan.
DUA BELAS TEKNIK IKAT KONSTRUKSI KAYU PADA RUMAH VERNAKULAR TOLAKI Putra Wijaya; Muhammad Zakaria Umar; Muhammad Arsyad
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 9 No 2 (2020): Volume 9 Nomor 2, Juni 2020
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v9i2.830

Abstract

The technique of binding wood construction in Tolaki vernacular houses tends to fade due to esotericism. This research is important as follows: (1) to uncover and preserve Tolaki's architectural identity in the form of wood-binding techniques; (2) to enrich the Southeast Sulawesi architecture literature in particular and Indonesian architecture in general. This research is intended to formulate the wood construction binding technique in Tolaki vernacular house. This research uses a case study method with a qualitative approach. Data sources consist of primary data and secondary data. This research uses triangulation data collection techniques. The method of data analysis is carried out by means of information organized, information and codefication studied, cases and contexts described, findings interpreted, and findings presented narratively. The study concluded that the construction of wood in the Tolaki vernacular house consisted of 12 (twelve) connective techniques as follows: first, peusu temomo, peusu kinalase, peusu pinewa’a, peusu pinepuhe, peusu niranggia, and peusu tundo ndowaea are included in the category of cross ties; second, peusu kinalili and peusu pinekalo are included in the category of dead cross ties; third, peusu pinepuhu, peusu sinemba, peusu mbekale, and peusu sinemba aso hara are included in the category of mobile cross ties.
PERTAMBANGAN NIKEL DAN PROBLEMATIKANYA (Studi Fenomenologi di Kabupaten Konawe Selatan) Peribadi Peribadi; Syaifuddin Suhri Kasim; Juhaepa Juhaepa; Sarmadan Sarmadan; Samsul Samsul; La Ode Montasir
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 9 No 3 (2020): Volume 9 Nomor 3, Oktober 2020
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v9i3.889

Abstract

Kajian ini merupakan bentuk studi “before and after” atas keberadaan industrialisasi pertambangan nikel dengan berbagai problematikanya di wilayah Kabupaten Konawe Selatan. Pendekatan kualitatif dalam konteks Phenomenologi digunakan sebagai upaya mengembangkan telaah-telaah kritis reflektif atas berbagai fenomena, realitas dan hiperealitas yang mengemuka melalui instrumen pengamatan, wawancara mendalam (deep interview) dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika alam pedesaan kita di masa lalu diibaratkan sebagai seorang gadis cantik yang demikian indah dan elok dipandang mata. Kini, alam pedesaan itu tampak tak mempesona lagi, karena satwa-satwa sebagai suatu realitas ekosistem yang alamiah telah digantikan oleh satwa-satwa baru, berupa peralatan raksasa penumbang pepohonan, penggali dan pengangkut tanah nikel serta mobil-mobil karyawan perusahaan yang lalulang seolah tak pernah berhenti dan tak kenal lelah dengan ekosistem khasnya tersendiri.
KONSTRUKSI BUDAYA COLLECTIVISM UNTUK OPTIMALISASI PERTANIAN JAGUNG Mohammad Halili; Erika Citra Sari Hartanto
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 9 No 3 (2020): Volume 9 Nomor 3, Oktober 2020
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v9i3.891

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran konstruksi budaya collectivism untuk mengoptimalkan pertanian jagung. Budaya collectivism merupakan prilaku sosial yang mengedepankan capaian kelompok dari pada capaian individu (individual’s goals). Dalam konteks ini, sistem budaya collectivism ini telah menyatukan persepsi masyarakat akan pentingnya gotong royong dari pada sistem upah misalnya dan juga merekatkan ikatan emosional (emotional attachment) antar individu, mendorong terciptanya concerns bersama, serta social sharing. Begitu nilai-nilai budaya ini tidak lagi menjadi landasan perilaku keseharian mereka, maka kegiatan bertani jagung hanya bisa dikategorikan sebagai pekerjaan yang semata-mata berkaitan dengan peluh dan lelah saja. Dengan demikian, bukanlah sesuatu yang mengherankan ketika tren masyarakat setempat saat ini cendrung mencari alternatif lain selain bertani jagung untuk memenuhi kebutuhannya. Sementara lahan desa, secara geografis, sangat mendukung untuk pengembangan pertanian jagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan purposive/judgement sampling dengan metode interview. Pendekatan purposive/judgment sampling berarti peneliti menggunakan kriterianya sendiri untuk menentukan sampel yang akan terlibat dalam penelitian. Selain itu, pemanfaatan teknologi recording juga dilakukan untuk antisipasi data hilang dan memudahkan peneliti untuk me-recall data saat analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi budaya collectivism yang meliputi pemberian dha’erran (makanan) serta jokes (candaan) berasosiasi positif dengan kegiatan bertani jagung. Melalui konstruksi budaya ini concerns bersama dan social sharing dapat terbangun kembali. Dengan demikian, hasil pertanian jagung bisa optimal dan keinginan mereka untuk tetap bertani tetap terjaga.