Claim Missing Document
Check
Articles

FAKTOR SOSIAL BUDAYA YANG MEMPENGARUHI KERAGAMAN KONSUMSI PANGAN PADA BALITA Khasanah, Putri Wardani Zumratul; Sumarmi, Sri
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32196

Abstract

Masa balita adalah periode kritis dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga sangat penting untuk memastikan bahwa kebutuhan gizi makro dan mikro terpenuhi melalui keragaman konsumsi pangan yang adekuat. Faktor sosial budaya, seperti tradisi, kepercayaan, dan kebiasaan, sangat mempengaruhi pola makan dan pilihan makanan yang diberikan kepada balita. Penelitian mengenai bagaimana faktor sosial budaya mempengaruhi keragaman konsumsi pangan pada balita masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor sosial budaya terhadap keragaman konsumsi pangan balita. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 106 responden yang memiliki anak berusia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kenjeran. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan kuesioner untuk faktor sosial budaya, serta food recall 24 jam dan kuesioner Individual Dietary Diversity Score untuk menilai keragaman konsumsi pangan. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil uji statistik inferensial antara faktor sosial budaya ibu dengan keragaman konsumsi pangan balita menunjukkan p-value < 0,05 (p=0,004). Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat faktor sosial budaya yang mempengaruhi keragaman konsumsi pangan balita. Masyarakat disarankan untuk meningkatkan kesadaran terkait pentingnya keragaman konsumsi pangan dan terbuka terhadap informasi pola makan sehat untuk balita, serta pemantauan status gizi balita secara berkala oleh petugas kesehatan untuk mencegah terjadinya masalah gizi sejak dini.
Perbandingan Perbandingan Tingkat Kepatuhan Mengkonsumsi Multi Mikronutrien Suplemen (MMS) dan Tablet Tambah Darah (TTD) pada Ibu Hamil di Puskesmas Mulyorejo Surabaya: Perbandingan Tingkat Kepatuhan Mengonsumsi Multi Mikronutrien Suplemen dan Tablet Tambah Darah pada Ibu Hamil di Puskesmas Mulyorejo, Surabaya Abidah, Nisrina; Sumarmi, Sri
Amerta Nutrition Vol. 8 No. 1 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v8i1.2024.17-25

Abstract

Background: The level of adherence is an indicator of the successful implementation of a program to provide both multiple micronutrient supplements (MMS) and iron folic acid (IFA). Moreover, factors that may have an impact on the level of adherence are knowledge level, consumption acceptability, characteristic acceptability, and family support. Objectives: To analyze the relationship and differences in the level of adherence of pregnant women to consuming MMS and IFA in the work area of Mulyorejo Public Health Center, Surabaya. Methods: This study is an observational study (prospective cohort design). A total of 244 samples from each of the two sample groups, which are the MMS group and the IFA group, were observed for 30 days. This study was expected to discover the adherence level of pregnant women to consuming MMS or IFA. In addition, the Mann-Whitney test was used in the comparative analysis, and the chi-square test was used in the relationship analysis. Results: According to the findings, it was discovered that pregnant women who consumed MMS had a higher average adherence rate (79.9%) compared to those who consumed IFA (71.2%). However, the results showed that there was no significant difference between the two (p-value = 0.400), and identical results applied for knowledge level, consumption acceptability, and characteristic acceptability. Moreover, in comparison to the IFA group (32.2), the MMS group had a higher average family support (34.9). Additionally, there was a relationship between the adherence level and both knowledge level and consumption acceptability (p-value<0,05), but there was no relationship between the adherence level and family support (p-value>0.05). Conclusions: There was no significant difference among the variables. In addition, there was a relationship between the adherence level and both knowledge level and consumption acceptability, but not between the adherence level and family support.
Analisa Program Tablet Tambah Darah untuk Ibu Hamil di Kota Bogor Margirizki, Shabrina Ayu; Sumarmi, Sri
Media Gizi Kesmas Vol 8 No 1 (2019): MEDIA GIZI KESMAS (JUNE 2019)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v8i1.2019.15-22

Abstract

Latar Belakang: Anemia padaibu hamil dapat berdampak pada kematian janin selama masa kehamilan dankematian ibu saat melahirkan.Salah satu upaya pemerintah dalam penanganan dan penanggulangan anemia padaibu hamil tercantum dalam Permenkes RI Nomor 97 tahun 2014, dengan melakukan pendistribusian suplementablet tambah darah dan pemberian edukasi gizi.Tujuan:Tujuan penelitian ini adalahmenganalisis ketimpangan melalui pelaksanaanprogram tablet tambahdarah untukibu hamil di Kota Bogor.Metode:Penelitian ini termasuk kedalam penelitian deskriptifkualitatifdan menggunakan metode pengumpulandata wawancara mendalam.Informan utamaberjumlah 9 orang,yaitu 1 orang tenaga gizi Dinas Kesehatan KotaBogor, 4 orang tenaga kesehatan bidan dan gizi puskesmas, dan 4 orang ibu hamil.Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program tablet tambah darah untuk ibu hamil di KotaBogor dilakukan melalui program distribusi tablet tambah darah dan edukasi gizi namun menunjukkanperbedaan pada penerimaan informasi yang diterima ibu hamil di puskesmas dengan cakupan rendah. Kesulitanmemahami media yang digunakan tenaga kesehatan gizi ditemukan pada puskesmas dengan cakupan tinggi.Data cakupan tablet tambah darah untuk ibu hamil belum terdata secaraaktual dari tenaga kesehatan bidanswasta karenakoordinasiyang rendahantara bidan swasta dan pihak pemerintah.Kesimpulan:Program tablet tambah darah untuk ibu hamil dapat dioptimalkan dengan meningkatkan intensitaskomunikasi antara tenaga kedinasandan tenaga kesehatan bidan swasta untuk menyamakan informasi cakupan,memberikan acuan pokok terkait media konseling dan edukasi yang digunakan oleh tenaga kesehatan dalamproses konseling dan edukasi, dan menetapkan Standar Prosedur Operasional kepada tenaga kesehatan untukmemberikan informasi yang baik dan jelas kepada ibu hamil terkait tablet tambah darah.ABSTRACTBackground:Anemia in pregnant women may impactingto miscarriage during pregnancy and death on deliveryprocess. One amongst many governments' efforts to cope with anemia on pregnancy mentioned in Permenkes RINo 97 published on 2014 are distributing iron tablet to pregnant women and giving nutritional relatededucation. Those programsdone by primary local healthcare center.Objectives:Objective of this study was to analyzethe inequalityof iron tablet program for pregnant womenthrough intervention programmesin Kota Bogor.Methods:This was adescriptive qualitative study. Main informants were 1 nutrition staff in Dinas KesehatanKota Bogor, 4 health workers in primary healthcare center, and 4 pregnant women.Results:Result of study shown that iron tablet implementation program for pregnant women in Kota Bogor wasdone by using same method but show differences impact of pregnant women in low coverage of primaryhealthcare center. The difficulties in understanding the media facility was found in high coverage of primaryhealthcare center. Current data for iron tablet coverage for pregnant women is not the actual data due to lack ofcoordination between private midwife and government.Conclusions:Iron tablet program for pregnant women can be optimized by increasing communication intensitybetween private midwife and government to integrate the data, providing standard reference for media facilitythat used in counseling and education process, and establishing Standard Operational Procedure to every healthworkers in primary healthcare center togive right and clear explanation about iron tablet to pregnant women.
Hubungan Asupan Kalsium dan Zink dengan Kejadian Stunting Pada Siswi SMP Unggulan Bina Insani Surabaya Sudiarmanto, Andri Rahmad; Sumarmi, Sri
Media Gizi Kesmas Vol 9 No 1 (2020): MEDIA GIZI KESMAS (JUNE 2020)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v9i1.2020.1-9

Abstract

Latar Belakang: Remaja merupakan salah satu kelompok rawan terhadap stunting karena remaja beresiko mengalami defisiensi asupan makanan baik makronutrien maupun mikronutrien. Defisiensi asupan kalsium dan zink yang merupakan mikronutrien penting bagi pertumbuhan adalah faktor resiko stunting. Stunting pada masa remaja ini akan menurunkan kapasitas dan produktivitas kerja serta dapat meningkatkan resiko kematian ibu pada saat melahirkan.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan asupan kalsium dan asupan zink dengan kejadian stunting pada siswi SMP Unggulan Bina Insani Surabaya.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Dengan besar sampel 68 orang yang diambil secara acak sederhana. Pengumpulan data menggunakan pengukuran tinggi badan, food recall 2x24 jam. Data dianalisis menggunakanare teknik analisis deskriptif dan uji korelasi Kendall's-Tau serta uji ANCOVA.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan responden yang mengalami stunting sebesar 22,1% dan 77,9% normal, rata-rata nilai Z-score 1,13 ± 0,94. Tingkat konsumsi asupan kalsium cukup sebesar 7.4% dan 92.6% asupannya kurang, dengan rata-rata asupan sebesar 336,7 ± 326,2 mg/hari. Tingkat konsumsi asupan zink cukup sebesar 5.9% dan 94.1% asupannya kurang, dengan rata-rata asupan sebesar 5,7 ± 3,0 mg/hari. Tidak ada hubungan antara asupan kalsium (r=0.072;p=0.385), asupan zink (r=0.124;p=0.138), asupan kalsium dan zink (p=0,478) dengan kejadian stunting.Kesimpulan: Asupan kalsium dan zink tidak berhubungan dengan kejadian stunting pada siswi SMP Unggulan Bina Insani Surabaya. Agar dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang sesuai, siswi dapat melakukan pemantauan status gizinya secara rutin serta berperilaku hidup bersih dan sehat.ABSTRACTBackground: Adolescence is a vulnerable stunting group because adolescents are at risk of macronutrient or micronutrients intake deficiency. Calcium and zinc intake deficiency are vital micronutrients for the growth factor and the risk of stunting. Stunting in adolescence will reduce the work capacity and productivity and increase the risk of maternal death in childbirth.Objectives: This study was aimed to analyze the correlation between calcium, zinc intake and stunting prevalence on SMP Unggulan Bina Insani Surabaya schoolgirls.Methods: The research was a cross sectional study with quantitative approach. The sample size was 68 schoolgirls, were taken by simple random sampling. The data were collected by measuring height, food recall 2x24 hours. Analysis of data used in descriptive, Kendall's-Tau and ANCOVA Test.Results: The results showed the proportion of respondents who experienced stunting 22% and normal 78%, with Zscore average at 1,13 ± 0,94. The consumption rate of calcium intake was sufficient at 7,4% and insufficient at 92,6%, with an average at 336,7 ± 326,2 mg/day. The consumption rate of zinc intake was sufficient at 5,9% and insufficient at 94,1%, with an average at 5,7 ± 3,0 mg/day. There is no relationship between the calcium intake (r=0.072;p=0.385), zinc intake (r=0.124;p=0.138), calcium and zinc intake (p=0,478) with the stunting prevalence.Conclusions: The intake of calcium and zinc doesn't related to the stunting prevalence of the schoolgirls. The scoolgirls should to regularly monitor their nutritional status and behave in clean and healthy life, in order to achieve appropriate growth and development
Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Wasting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Simomulyo Surabaya Soedarsono, Antasya Muslimah; Sumarmi, Sri
Media Gizi Kesmas Vol 10 No 2 (2021): MEDIA GIZI KESMAS (DECEMBER 2021)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v10i2.2021.237-245

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Wasting adalah salah satu bentuk kekurangan gizi yang mengakibatkan balita berisiko mengalami ketertinggalan tumbuh kembang secara jangka panjang. Angka wasting di Indonesia berdasarkan data Riskesdas tahun 2018 sebesar 10,2%, sehingga wasting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius untuk ditangani menurut standar WHO. Kejadian wasting masih ditemukan di Kota Surabaya, salah satunya di Puskesmas Simomulyo yang memiliki angka balita gizi buruk terbanyak se-Kota Surabaya. Kejadian wasting pada balita dapat dicegah dengan mengubah faktor risiko yang dapat dikendalikan.Tujuan: Tujuan penelitian untuk menganalisis faktor risiko kejadian wasting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Simomulyo Surabaya.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi case control. Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Simomulyo Surabaya. Total sampel 42 balita berusia 12-60 bulan, terdiri dari 21 balita wasting dan 21 balita non-wasting. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Asupan zat gizi makro diperoleh melalui wawancara dengan kuesioner food recall 3x24 jam; karakteristik balita dan keluarga balita diperoleh melalui wawancara dengan kuesioner; pengukuran berat badan balita menggunakan timbangan digital dan tinggi badan balita menggunakan mikrotoa. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan signifikan antara asupan energi (p=<0,001; OR=13,6 dengan CI 95%=3,09-59,8), asupan karbohidrat (p=0,014; OR=7,1 dengan CI 95%=1,31-38,8), pendidikan ibu (p=0,031; OR=4,0 dengan CI 95%=1,11-14,4), pendapatan keluarga (p=0,002; OR=8,5 dengan CI 95%=2,06- 35,08), dan pengeluaran pangan (p=0,024; OR=4,6 dengan CI 95%=1,17-18,68) dengan kejadian wasting. Sedangkan, asupan protein (p=1,000; OR=1,0 dengan CI 95%=0,06-17,12), asupan lemak (p=0,259; OR=2,4 dengan CI 95%=0,51-11,26), status pekerjaan ibu (p=0,747; OR=0,8 dengan CI 95%=0,34-4,64) dan jumlah anggota keluarga (p=0,757; OR=0,8 dengan CI 95%=0,24-2,79) tidak berhubungan dengan kejadian wasting.Kesimpulan: Kesimpulan pada penelitian ini asupan energi dan karbohidrat, pendidikan ibu, pendapatan keluarga, dan pengeluaran pangan merupakan faktor risiko kejadian wasting pada balita di wilayah Puskesmas Simomulyo Surabaya.Kata kunci: balita, status gizi, gizi kurang, wasting, faktor risiko
Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi pada Remaja di SMA Muhammadiyah 7 Sutorejo Surabaya Purwaningsih, Galuh; Sumarmi, Sri
Media Gizi Kesmas Vol 11 No 2 (2022): MEDIA GIZI KESMAS (DECEMBER 2022)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v11i2.2022.399-406

Abstract

Latar Belakang: Masalah gizi pada remaja masih terjadi di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Menurut Riskesdas 2018, status gizi dengan indeks IMT/U pada remaja usia 16-18 tahun di provinsi ini masih tinggi, dengan prevalensi status gizi kurus 6,8%, gemuk 11,3% dan obesitas 5,1%. Proses pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja yang terjadi secara cepat menyebabkan peningkatan kebutuhan energi dan zat gizi. Jika hal ini tidak terpenuhi maka akan timbul masalah gizi.Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan pola makan, dan aktivitas fisik dengan gizi lebih pada remaja di SMA Muhammadiyah 7 Sutorejo, Surabaya.Metode: Jenis penelitian ini adalah observasional dengan desain cross-sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 36 orang diambil dengan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melaluiwawancara dengan menggunakan food frequency questionnaire (FFQ), food recall 2x24 jam, kuesioner recall aktivitas fisik 2x24 jam dan pengukuran antropometri untuk mengetahui Berat Badan dan Tinggi Badan. Analisis data menggunakan uji chi-square melalui program IBM SPSS Statistics v23. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi normal (77%), namun prevalensi status gizi gemuk masih tergolong tinggi (14,8%). Terdapat hubungan antara kecukupan energi (p=0,03), karbohidrat (p=0,000), protein (p=0,04) dan lemak (p=0,04), serta aktivitas fisik (p=0,041) dengan status gizi siswi. Kesimpulan: penelitian ini adalah terdapat hubunan antara kecukupan zat gizi dan aktivitas fisik dengan status gizi siswi. Diharapkan responden dapat selalu menjaga berat badan idealnya dan salahsatunya dengan menambah aktivitas fisik.Kata kunci: masalah gizi, pola makan, aktivitas fisik, status gizi, remaj
Hubungan Usia Ibu, Pekerjaan Ibu dan Pendapatan Keluarga dengan Waktu Pertama Pemberian MP-ASI di Posyandu Kelurahan Bugel Kota Salatiga Pramita, Adiene; Sumarmi, Sri
Media Gizi Kesmas Vol 13 No 1 (2024): MEDIA GIZI KESMAS (JUNE 2024)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v13i1.2024.8-14

Abstract

Background: Complementary feeding at six months old has an important role in the nutritional adequacy infants. Complementary feeding last than six months and more than six months had the same risk for lack of nutrition cases. Characteristics of mothers like mother’s age, mother’s work status, and family income can influence the first time complementary feeding. Objectives: This study aims to analyzed correlations between mother’s age, mother’s work  status, and family income with first time complementary feeding. Methods: This research was an observational with cross-sectional method. Population of the study was 176 toddlers with total sample 69 toddlers and their mother became the respondents. The instrument that used in this research were interview and questionnaire. For knowing the correlation, this research using Chi-Square test. Results: Based on the results of the study, most of the respondents were in the adult age group (26-45 years) as many as 63 respondents (91.3%), the non-working group were 57 respondents (82.6%), and the income group was IDR 2,000,001 – IDR 4,200,000 as many as 36 respondents (52.1%). From the results of  Chi-Square test, there was negative correlations between mother’s age (p=0.571) and family income (p=0.672) with first time complementary feeding but positive correlations between mother’s work status with first time complementary feeding (p=0.001). Conclusions: There were no correlations between mother’s age and family income with first time complementary feeding. There was a correlation between mother’s work status with first time complementary feeding. However the more time mother could spent, the more first-time complementary feeding would exact time.
Tingkat Stres dan Pola Konsumsi terhadap Kejadian Hipertensi pada Pasien Dewasa: Studi Cross-Sectional Renda, Belinda Widya; Sumarmi, Sri
Media Gizi Kesmas Vol 12 No 2 (2023): MEDIA GIZI KESMAS (DECEMBER 2023)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v12i2.2023.995-1001

Abstract

Background: In Indonesia, hypertension is a very common disease. High and chronic stress levels can contribute to the risk of developing hypertension. Uncontrolled consumption patterns with excessive fat and salt content but very little fiber consumption can increase the risk of developing hypertension. Objectives: To determine the association of stress level and consumption pattern with hypertension in adult patients. Methods: This study is a quantitative research. This study used a cross-sectional design, which was conducted on 365 adult patients, the sample was taken by accidental sampling. Statistical analysis using chi-square test and correlation contingency test. This study was conducted on a population of adult patients at the Sukodono Health Center, Sukodono District, Sidoarjo Regency. The research instrument used the Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) for consumption patterns and the Depression Anxiety Stress Scale (DASS-21) for stress levels. Results: The results showed that there was no significant relationship between stress level and hypertension (p=0.143; r=0.361) and there was a significant relationship between consumption pattern and hypertension. Conclusions: Stress level is not the main factor causing hypertension in patients. Consumption patterns can be one of the factors causing hypertension in patients.
Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Konsumsi Sugar-Sweetened Beverages pada Wanita Usia Produktif Setyanurlia, Anggita Rifky; Sumarmi, Sri
Media Gizi Kesmas Vol 13 No 1 (2024): MEDIA GIZI KESMAS (JUNE 2024)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v13i1.2024.67-74

Abstract

Background: Consumption of sweet drinks, or Sugar-Sweetened Beverages (SSB), is a common habit among people who think that SSB drinks are social drinks. The level of consumption of SSB by women of reproductive age can be influenced by their level of knowledge and attitude toward consuming SSB. If knowledge and attitude are positive towards consumption of SBB and health, then a person will know the quality and quantity of food and drink consumed. Glycemic control is needed to control blood glucose levels based on diet, which includes the type and amount of food and drinks consumed. Objectives: This study aims to analyze the relationship between knowledge and attitudes toward the consumption of Sugar-Sweetened Beverages (SSB) among women of reproductive age in the city of Surabaya Methods: This research is a type of quantitative descriptive research with a cross sectional research design. The research sample consisted of 125 productive-age female respondents aged 18–30 years who were taken by accidental sampling technique. The data collection consisted of the characteristics of the respondents, namely age, education, the respondents' knowledge questionnaire related to SSB consumption, the attitude questionnaire on SSB consumption, and the SQ-FFQ (Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire). The collected data were analyzed by statistical analysis using the Chi-Square test to examine the relationship between the independent variables and the dependent variable with a significance level of 95% (α=0.05) Results: The results showed that there was no significant relationship between knowledge (p=0.504) and attitude (p=0.332) and the consumption of Sugar-Sweetened Beverages (SSB). Conclusions: Female respondents of reproductive age have good knowledge, positive attitude towards consumption of Sugary Drinks (SSB), consume low amounts of SSB (<2x per week), average total energy consumption per day, and average sugar consumption per day of SSB consumption that is in accordance with the recommendations. However, some respondents with positive knowledge and attitudes still consumed high amounts of SSB. Knowledge and attitudes are not necessarily the main factors that influence SSB consumption. The determinants of food and beverage selection can be further investigated to determine the supporting factors for SSB consumption.
Pengaruh Sosio Budaya dalam Pemberian ASI Eksklusif dan MP-ASI Dini Dikaitkan dengan Status Gizi pada Anak Usia 6-23 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Banyuanyar Kabupaten Sampang Fadilah, Annisa Nur; Sumarmi, Sri
Media Gizi Kesmas Vol 13 No 1 (2024): MEDIA GIZI KESMAS (JUNE 2024)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/mgk.v13i1.2024.58-66

Abstract

Background: Problems with children's nutritional status can arise due to factors that are interconnected with others. The main factor that causes nutritional problems in children is the lack of knowledge of the importance of adequate nutritional intake for children. Based on data from the ePPGBM East Java 2021 Health Profile, toddlers in Sampang District are undernourished with 4,646 people, stunted toddlers with 2,425 people, and thin toddlers with 1,609 people.  Objectives: Knowing the socio-cultural influence of exclusive breastfeeding and early complementary feeding on the nutritional status of children aged 6-23 months in the Banyuanyar Health Center working area, Sampang Regency. Methods: This research uses quantitative methods and uses cross sectional studies. The number of samples to be used in this study used 100 respondents of mothers with children aged 6-23 months. Sample selection using multistage random sampling technique. The data were tested using chi square, Fisher's Exact and logistic regression tests. Results: The results showed that there was no influence between socio-culture during pregnancy with exclusive breastfeeding (p = 0.000), postpartum socio-culture with exclusive breastfeeding (p = 0.226), socio-culture during breastfeeding with exclusive breastfeeding (p = 0.732). There was no association between socio-culture and early complementary feeding (p-value for honey=0.142, p-value for formula=0.185, p-value for banana=0.298, p-value for young coconut=0.135, p-value for tajin water=0.142, p-value for team rice=0.809, p-value for cornstarch=0.380, p-value for rice cake=0.135, p-value for instant porridge=0, 285, p-value of fruit puree=0.0.135, abstinence from too much sea fish=0.529), and there is no effect between exclusive breastfeeding on children's nutritional status (p-value of  Weight-for-age index=0.182, p-value of Length for-age index=0.931, p-value of Weight-for-length index=0.717) and early complementary feeding on children's nutritional status (p-value of Weight-for-age index=0.482, p-value of Length for-age index=0.134, p-value of Weight-for-length index=0.541). Conclusions: The conclusion of this study is that there is no socio-cultural influence on exclusive breastfeeding and early complementary feeding on nutritional status in children aged 6-23 months in the Banyuanyar Health Center working area, Sampang Regency.