Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

MODEL OF IMPROVING COMPLIANCE IN TREATMENT OF PULMONARY TUBERCULOSIS PATIENTS THROUGH CADRES IN BAITUSSALAM DISTRICT Ferdi Riansyah; Aina Fitri; Ristiani Ristiani; Reka Julia Utama; Fitria Fitria; Kartini Kartini; Ibrahim Ibrahim; Niswatul Khaira
Getsempena Health Science Journal Vol. 4 No. 1 (2025): Januari
Publisher : Universitas Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46244/ghsj.v4i1.3140

Abstract

Various models and intervention strategies have been developed by various researchers to support the control and compliance of TB treatment and other infectious diseases. This study aims to produce a formulation of a model for increasing compliance of TB patient treatment as an important part of achieving TB cure and elimination in Baitussalam District, Aceh Besar. This study uses a qualitative research design with a phenomenological approach. The research informants numbered 16 people, consisting of one TB Puskesmas manager, five facilitator nurses, five TB patients (who are undergoing treatment, suspects, and former patients), and five families of patients. Data collection was carried out through in-depth interviews, focus group discussions (FGD), and document reviews. The results of the study found a phenomenon of minimal knowledge and ability of nurses in comprehensive peer group counseling services. The concept of the TB service model program that emphasizes all aspects of both physical and psychological TB patients is not yet strong. Formulation of a self-esteem model as an effort to increase the capacity of nurses to improve the quality of life of TB patients. This study produced a design of a self-esteem module to improve the ability of nurses in TB services through peer groups.
IMPROVING BREAST SELF-EXAMINATION (BSE) SKILLS THROUGH ANIMATED VIDEO EDUCATION AMONG FEMALE STUDENTS AT SMAN 5 Komala Kartikasari Nst; Nelva Riza; Fitria Fitria
Getsempena Health Science Journal Vol. 4 No. 2 (2025): JULI
Publisher : Universitas Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46244/ghsj.v4i2.3177

Abstract

In 2020, approximately 2.3 million women worldwide were diagnosed with breast cancer, and 7.8 million women survived within five years after diagnosis, making breast cancer the most common cancer globally. Lack of physical activity and the consumption of fast food are among the main risk factors for breast cancer. Currently, breast cancer also affects younger women. Therefore, increasing knowledge and preventive behavior through health interventions is essential. This study aimed to improving breast self-examination (BSE) through animated video education among female students. This research employed a pre-experimental design with a one-group pre-test post-test design. The population consisted of all 11th-grade female students at SMAN 5 Banda Aceh, with a total sample of 38 students selected by purposive sampling. The study was conducted from January to March 2025. Data were analyzed using the Wilcoxon test. The univariate analysis showed that before the intervention, most students had poor BSE skills (52.6%), while after the intervention, most students demonstrated good BSE skills (63.2%). The bivariate analysis revealed that health education using animated video significantly improved BSE skills (p < 0.05). Based on the findings, it is recommended that students regularly practice BSE once a month as an effort for early detection of breast abnormalities.
DETERMINANT FACTORS RELATED TO THE INCIDENCE OF ANEMIA IN POST-PART MOTHERS IN THE WORK AREA OF DARUSSALAM COMMUNITY HEALTH CENTER, BANDA ACEH CITY Rahmisyah Rahmisyah; Nelva Riza; Fitria Fitria
Getsempena Health Science Journal Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46244/ghsj.v3i1.3253

Abstract

Anemia is a condition in which the blood contains low hemoglobin levels. Hemoglobin is an iron-rich protein that carries oxygen from the lungs to the rest of the body.Anemia in the postpartum period is a condition of postpartum mothers with hemoglobin (Hb) levels < 11 g/dl. As a result, it can interfere with the blood's capacity to transport oxygen throughout the body. This study aims to analyze determinants related to the incidence of anemia in postpartum mothers in the working area of ​​the Darussalam Health Center, Aceh Besar Regency in 2024.This research was conducted in July 2024.This research is analytical using the cross sectional method. The sampling technique was carried out using a total sampling of 35 people. Data were collected through Hb level checks using GCHb easy touch and interviews with questionnaires. Univariate data were analyzed descriptively and bivariate data were analyzed using the chi square test. There was a significant relationship between age and the incidence of anemia in postpartum mothers using the Pearson chi-square test with a value of p = 0.000 (p<0.05). There was a significant relationship between the type of delivery and the incidence of anemia in postpartum mothers using the Pearson chi-square test with a value of p = 0.001 (p<0.05). There was a significant relationship between the consumption of Fe tablets and the incidence of anemia in postpartum mothers using the pearson chi-square test with a value of p = 0.000 (p<0.05).
GROWTH AND DEVELOPMENT DIFFERENCES OF PRESCHOOLERS IN URBAN AD RURAL AREAS: PERBANDINGAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH DAERAH PERKOTAAN DAN PEDESAAN Fitria
Media Husada Journal of Midwifery Science Vol. 2 No. 1 (2024): Januari
Publisher : LPPM Widyagama Husada Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33475/mhjms.v2i1.11

Abstract

Anak merupakan penerus generasi bangsa, penentu kesuksesan Indonesia dalam beberapa tahun kedepan. Periode lima tahun pertama atau golden age merupakan periode yang penting dalam pembentukan tumbuh kembang anak, karena anak sangat peka terhadap berbagai rangsangan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan pertumbuhan dan perkembangan antara anak usia prasekolah yang sekolah di pedesaan dan di perkotaan. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional dengan subjek penelitian anak usia prasekolah yang kooperatif dan tidak mengalami cacat mental. Tes perkembangan dilakukan dengan wawancara dengan menggunakan kuesioner pra skrining perkembangan (KPSP) yang berisikan 10 pertanyaan, sedangkan untuk tes pertumbuhan dilakukan pengukuran berat badan dengan tinggi badan lalu dimasukkan ke dalam kurva CDC NCHS-2000. Hasil penelitian didapatkan perbedaan yang bermakna antara perkembangan anak yang sekolah di pedesaan dan di perkotaan dengan p value = 0,159, dan didapatkan juga perbedaan pertumbuhan antara anak yang sekolah dipedesaan dan diperkotaan dengan p value = 0,00. Perlu adanya upaya dari pemerintah, puskesmas, dan masyarakat untuk menaggulangi setiap permasalahan tumbuh kembang anak di pedesaan dan di perkotaan karena setiap anak merupakan generasi penerus Indonesia di masa yang akan datang.
Efektivitas Terapi Okupasi Berbasis Berkebun dalam Menurunkan Gejala Halusinasi Pendengaran pada Penderita Skizofrenia: Studi Kasus di Aceh Mohd. Rizal Fahmi Adha; Siti Nurafifah Qarimah; Fitria Fitria; Komala Kartikasari Nst; Rhiesqi Chintia Fonna
NASUWAKES: Jurnal Kesehatan Ilmiah Vol. 18 No. 2 (2025): September
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/nasuwakes.v18i2.1068

Abstract

Halusinasi merupakan salah satu manifestasi klinis dari gangguan jiwa yang ditandai dengan gangguan persepsi sensorik, seperti mendengar suara-suara yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan rangsangan eksternal. Intervensi nonfarmakologis menjadi salah satu pendekatan yang dapat diterapkan untuk membantu mengurangi gejala tersebut, salah satunya adalah melalui terapi okupasi dengan aktivitas berkebun. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan asuhan keperawatan melalui terapi okupasi berkebun dalam menurunkan tanda dan gejala halusinasi pendengaran. Studi ini dilaksanakan di wilayah Aceh selama lima hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi berkebun memberikan dampak positif terhadap penurunan intensitas dan frekuensi halusinasi pendengaran. Hal ini terlihat dari peningkatan kemampuan pasien dalam mengontrol serta mengelola halusinasi setelah menjalani terapi. Pada subjek I, skor tanda dan gejala halusinasi yang awalnya sebesar 88 persen mengalami penurunan sebesar 33 persen setelah intervensi dilakukan. Sementara itu, pada subjek II, dengan skor awal yang sama, terjadi penurunan sebesar 44 persen setelah mengikuti terapi berkebun. Temuan ini menunjukkan bahwa terapi okupasi berkebun dapat digunakan sebagai salah satu metode nonfarmakologis yang efektif dalam penanganan halusinasi pendengaran pada pasien dengan gangguan jiwa
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sosial Budaya Pasangan Usia Subur (PUS) Terhadap Minat Pemeriksaan Inspeksi Viusal Asam Asetat (IVA) Sebagai Upaya Deteksi Dini Kanker Serviks Eva Saputri; Lili Kasmini; Fitria
NASUWAKES: Jurnal Kesehatan Ilmiah Vol. 19 No. 1 (2026): April
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/nasuwakes.v19i1.1298

Abstract

Kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang paling sering terjadi pada wanita di seluruh dunia. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), kanker serviks menempati urutan kedua sebagai kanker yang paling banyak menyerang wanita setelah kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan ibu dan faktor sosial budaya terhadap minat melakukan pemeriksaan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) sebagai upaya deteksi dini kanker serviks. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di UPTD Puskesmas Seunuddon Kabupaten Aceh Utara mulai bulan April 2025 hingga Agustus 2025. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 186 responden dengan teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value = 0,000 yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara tingkat pengetahuan dengan minat pemeriksaan IVA pada pasangan usia subur. Selain itu, hasil uji statistik juga menunjukkan nilai p-value = 0,000 yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara faktor sosial budaya dengan minat pemeriksaan IVA. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan dan faktor sosial budaya berpengaruh signifikan terhadap minat ibu dalam melakukan pemeriksaan IVA sebagai deteksi dini kanker serviks. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi kesehatan serta pendekatan berbasis sosial budaya untuk meningkatkan minat ibu melakukan pemeriksaan IVA.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Alat Kontrasepsi Intrauterin pada Wanita Usia Subur Sulastri; Lili Kasmini; Fitria
NASUWAKES: Jurnal Kesehatan Ilmiah Vol. 19 No. 1 (2026): April
Publisher : Poltekkes Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30867/nasuwakes.v19i1.1300

Abstract

Pembangunan program Keluarga Berencana (KB) nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penggunaan alat kontrasepsi. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau Intra Uterine Device (IUD) merupakan metode kontrasepsi jangka panjang yang aman dan efektif dibandingkan metode lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan alat kontrasepsi IUD pada wanita usia subur. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Variabel independen meliputi tingkat pendidikan, pengetahuan, sosial budaya, dan sikap, sedangkan variabel dependen adalah penggunaan IUD. Penelitian dilaksanakan di UPTD Puskesmas Seunuddon Kabupaten Aceh Utara pada 11–24 Juni 2025 dengan jumlah sampel 86 responden menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pendidikan (p=0,024), pengetahuan (p=0,034), dan sikap (p=0,008) dengan pemilihan IUD. Sementara itu, faktor sosial budaya tidak berhubungan signifikan (p=0,233). Kesimpulan penelitian ini adalah tingkat pendidikan, pengetahuan, dan sikap berperan dalam pemilihan kontrasepsi IUD, sedangkan faktor sosial budaya tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Disarankan kepada tenaga kesehatan untuk meningkatkan edukasi dan konseling terkait IUD guna meningkatkan pengetahuan dan sikap positif wanita usia subur, serta kepada masyarakat untuk lebih aktif mencari informasi yang akurat mengenai metode kontrasepsi.
Hubungan Kebiasaan Makan Makanan Cepat Saji (Fast Food) dengan Kejadian Dismenore pada Remaja Putri di SMA Negeri 1 Baitussalam Aceh Besar Baiti Sanjaya; Rahmisyah Rahmisyah; Fitria Fitria
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11471

Abstract

Dismenore merupakan keluhan kesehatan reproduksi yang jamak dialami remaja putri serta berisiko mengganggu aktivitas belajar harian. Salah satu pemicu yang diduga memengaruhi derajat nyerinya adalah kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) yang tinggi lemak trans, gula, dan natrium. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kebiasaan makan makanan cepat saji (fast food) dengan kejadian dismenore pada remaja putri di SMA Negeri 1 Baitussalam Aceh Besar. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional terhadap seluruh siswi kelas X dan XI yang berjumlah 135 orang. Sampel ditentukan menggunakan teknik total sampling, dan pengumpulan data berlangsung pada 6–9 Juni 2026 memakai instrumen kuesioner terstruktur. Analisis data meliputi univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square lewat program SPSS. Hasil analisis univariat menunjukkan mayoritas responden memiliki kebiasaan makan fast food kategori cukup sebanyak 115 orang (85,2%), dan sebagian besar responden mengalami dismenore sedang sebanyak 69 orang (51,1%). Lebih lanjut, hasil uji bivariat Chi-Square menghasilkan nilai p-value = 0,827 (p > 0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan makan makanan cepat saji (fast food) dengan kejadian dismenore pada remaja putri di SMA Negeri 1 Baitussalam Aceh Besar. Keluhan dismenore pada populasi ini diduga lebih dominan dipengaruhi oleh faktor internal lain seperti biologis, hormonal, genetik, ataupun aktivitas fisik responden.
Efektivitas Booklet Sebagai Media Edukasi Terhadap Self-Efficacy Menyusui Pada Ibu Nifas Di Pidie Jaya Frisca Fazira; Fitria Fitria; Gadis Halizasia
Public Health Journal Vol. 2 No. 3 (2025): July–September, Public Health Education and Health Literacy
Publisher : Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/z5b2p680

Abstract

Self-efficacy merupakan faktor psikologis penting yang berperan besar dalam keberhasilan menyusui. Ibu dengan tingkat self-efficacy tinggi cenderung mampu mengatasi masalah menyusui, mempertahankan ASI eksklusif, dan memiliki kepuasan lebih tinggi dalam proses menyusui. Media edukasi seperti booklet terbukti dapat meningkatkan pengetahuan dan keyakinan ibu terhadap kemampuan menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas booklet sebagai media edukasi terhadap self-efficacy menyusui pada ibu nifas di Kabupaten Pidie Jaya. Penelitian menggunakan desain pre-experimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Sampel berjumlah 30 ibu nifas yang dipilih secara purposive. Instrumen self-efficacy menggunakan Breastfeeding Self-Efficacy Scale–Short Form (BSES-SF) yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach’s Alpha = 0,886). Intervensi berupa pemberian booklet menyusui dan edukasi singkat. Analisis data menggunakan uji paired t-test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata skor self-efficacy meningkat dari 47,8 ± 6,2 pada pretest menjadi 58,6 ± 5,7 pada posttest. Hasil uji paired t-test menunjukkan perbedaan signifikan antara skor self-efficacy sebelum dan sesudah intervensi (p = 0,000). Seluruh responden mengalami peningkatan skor, menunjukkan adanya dampak positif yang konsisten dari penggunaan booklet. Penelitian ini menyimpulkan bahwa booklet efektif sebagai media edukasi dalam meningkatkan self-efficacy menyusui pada ibu nifas di Pidie Jaya. Media ini dapat digunakan sebagai bagian dari intervensi edukasi laktasi di fasilitas pelayanan kesehatan dasar untuk mendukung keberhasilan praktik menyusui.