p-Index From 2021 - 2026
5.507
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Pola Pertumbuhan dan Faktor Kondisi Ikan Kurisi (Nemipterus japonicus) di Perairan Labuhan Maringgai, Lampung Endang Sri Utami; Arlin Wijayanti; M. Hadziq Qulubi
Juvenil Vol 5, No 1: Februari (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i1.24396

Abstract

ABSTRAKIkan kurisi merupakan hasil tangkapan yang cukup melimpah di Pelabuhan Perikanan Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Harga ikan kurisi relatif terjangkau bagi masyarakat lokal ataupun internasional. Beralihnya masyarakat dari konsumsi daging merah ke ikan menyebabkan tingginya permintaan akan ketersediaan ikan kurisi. Peningkatan penangkapan ikan kurisi di Labuhan Maringgai menyebabkan diperlukannya langkah lebih lanjut terkait informasi aspek biologi ikan sehingga terbentuk pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan kurisi (Nemipterus japonicus) di Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Pengambilan data dilakukan pada Bulan November 2023 – Januari 2024 dengan tiga kali pengamatan. Sebaran frekuensi panjang total ikan kurisi di Labuhan Maringgai memiliki kisaran panjang dan berat masing-masing 115 – 230 mm dan 18 – 159 g. Ukuran panjang ikan terbanyak berada pada selang kelas 147 – 162 mm. Hasil analisis panjang berat menunjukkan pola pertumbuhan ikan kurisi memiliki sifat alometrik negatif dengan persamaan W = 0.004 L1.89. Fungsi fisiologis ikan kurisi di perairan Labuhan Maringgai berada pada kondisi yang baik berdasarkan nilai rata-rata faktor kondisi (Kn) sebesar 1.06. Hal ini menjelaskan bahwa ekosistem perairan sebagai habitat ikan berada dalam keadaan baik yang dimungkinkan karena cukupnya ketersediaan makanan dan faktor abiotik lainnya. Kata Kunci: faktor kondisi, ikan kurisi, Labuhan Maringgai, pola pertumbuhanABSTRACTJapanese threadfin bream (Nemipterus japonicus) is a fairly abundant catch at the Labuhan Maringgai Fishing Port, East Lampung. The species is relatively affordable for local and international community. Switching from red meat to fish consumption has led to a high demand for the availability of this species. The increase in threadfin bream fishing has required further steps related to information on biological aspects of species to ensure a sustainable fisheries management. This study aims to determine the growth patterns and condition factors of Japanese threadfin bream. Data were collected in November 2023 to January 2024 with three observations. The species frequency distribution has a length and weight range of 115 – 230 mm and 18 – 159 g, respectively. Most of the fish lengths were in 147 to 162 mm class interval. The results of length-weight analysis show the growth pattern of the species has a negative allometric (W = 0.004 L1.89). The physiological function of the species is in good condition based on the average condition factor (Kn) of 1.06. This explains the aquatic ecosystem as a fish habitat is in good condition, which is possible due to the sufficient availability of food and other abiotic factors.Key words: condition factor, growth pattern, Japanese threadfin bream, Labuhan Maringgai
Pola Pertumbuhan dan Faktor Kondisi Ikan Kurisi (Nemipterus japonicus) di Perairan Labuhan Maringgai, Lampung Endang Sri Utami; Arlin Wijayanti; M. Hadziq Qulubi
Juvenil Vol 5, No 1: Februari (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i1.24396

Abstract

ABSTRAKIkan kurisi merupakan hasil tangkapan yang cukup melimpah di Pelabuhan Perikanan Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Harga ikan kurisi relatif terjangkau bagi masyarakat lokal ataupun internasional. Beralihnya masyarakat dari konsumsi daging merah ke ikan menyebabkan tingginya permintaan akan ketersediaan ikan kurisi. Peningkatan penangkapan ikan kurisi di Labuhan Maringgai menyebabkan diperlukannya langkah lebih lanjut terkait informasi aspek biologi ikan sehingga terbentuk pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan kurisi (Nemipterus japonicus) di Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Pengambilan data dilakukan pada Bulan November 2023 – Januari 2024 dengan tiga kali pengamatan. Sebaran frekuensi panjang total ikan kurisi di Labuhan Maringgai memiliki kisaran panjang dan berat masing-masing 115 – 230 mm dan 18 – 159 g. Ukuran panjang ikan terbanyak berada pada selang kelas 147 – 162 mm. Hasil analisis panjang berat menunjukkan pola pertumbuhan ikan kurisi memiliki sifat alometrik negatif dengan persamaan W = 0.004 L1.89. Fungsi fisiologis ikan kurisi di perairan Labuhan Maringgai berada pada kondisi yang baik berdasarkan nilai rata-rata faktor kondisi (Kn) sebesar 1.06. Hal ini menjelaskan bahwa ekosistem perairan sebagai habitat ikan berada dalam keadaan baik yang dimungkinkan karena cukupnya ketersediaan makanan dan faktor abiotik lainnya. Kata Kunci: faktor kondisi, ikan kurisi, Labuhan Maringgai, pola pertumbuhanABSTRACTJapanese threadfin bream (Nemipterus japonicus) is a fairly abundant catch at the Labuhan Maringgai Fishing Port, East Lampung. The species is relatively affordable for local and international community. Switching from red meat to fish consumption has led to a high demand for the availability of this species. The increase in threadfin bream fishing has required further steps related to information on biological aspects of species to ensure a sustainable fisheries management. This study aims to determine the growth patterns and condition factors of Japanese threadfin bream. Data were collected in November 2023 to January 2024 with three observations. The species frequency distribution has a length and weight range of 115 – 230 mm and 18 – 159 g, respectively. Most of the fish lengths were in 147 to 162 mm class interval. The results of length-weight analysis show the growth pattern of the species has a negative allometric (W = 0.004 L1.89). The physiological function of the species is in good condition based on the average condition factor (Kn) of 1.06. This explains the aquatic ecosystem as a fish habitat is in good condition, which is possible due to the sufficient availability of food and other abiotic factors.Key words: condition factor, growth pattern, Japanese threadfin bream, Labuhan Maringgai
Pola Pertumbuhan dan Faktor Kondisi Ikan Kurisi (Nemipterus japonicus) di Perairan Labuhan Maringgai, Lampung Endang Sri Utami; Arlin Wijayanti; M. Hadziq Qulubi
Juvenil Vol 5, No 1: Februari (2024)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v5i1.24396

Abstract

ABSTRAKIkan kurisi merupakan hasil tangkapan yang cukup melimpah di Pelabuhan Perikanan Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Harga ikan kurisi relatif terjangkau bagi masyarakat lokal ataupun internasional. Beralihnya masyarakat dari konsumsi daging merah ke ikan menyebabkan tingginya permintaan akan ketersediaan ikan kurisi. Peningkatan penangkapan ikan kurisi di Labuhan Maringgai menyebabkan diperlukannya langkah lebih lanjut terkait informasi aspek biologi ikan sehingga terbentuk pengelolaan perikanan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan kurisi (Nemipterus japonicus) di Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Pengambilan data dilakukan pada Bulan November 2023 – Januari 2024 dengan tiga kali pengamatan. Sebaran frekuensi panjang total ikan kurisi di Labuhan Maringgai memiliki kisaran panjang dan berat masing-masing 115 – 230 mm dan 18 – 159 g. Ukuran panjang ikan terbanyak berada pada selang kelas 147 – 162 mm. Hasil analisis panjang berat menunjukkan pola pertumbuhan ikan kurisi memiliki sifat alometrik negatif dengan persamaan W = 0.004 L1.89. Fungsi fisiologis ikan kurisi di perairan Labuhan Maringgai berada pada kondisi yang baik berdasarkan nilai rata-rata faktor kondisi (Kn) sebesar 1.06. Hal ini menjelaskan bahwa ekosistem perairan sebagai habitat ikan berada dalam keadaan baik yang dimungkinkan karena cukupnya ketersediaan makanan dan faktor abiotik lainnya. Kata Kunci: faktor kondisi, ikan kurisi, Labuhan Maringgai, pola pertumbuhanABSTRACTJapanese threadfin bream (Nemipterus japonicus) is a fairly abundant catch at the Labuhan Maringgai Fishing Port, East Lampung. The species is relatively affordable for local and international community. Switching from red meat to fish consumption has led to a high demand for the availability of this species. The increase in threadfin bream fishing has required further steps related to information on biological aspects of species to ensure a sustainable fisheries management. This study aims to determine the growth patterns and condition factors of Japanese threadfin bream. Data were collected in November 2023 to January 2024 with three observations. The species frequency distribution has a length and weight range of 115 – 230 mm and 18 – 159 g, respectively. Most of the fish lengths were in 147 to 162 mm class interval. The results of length-weight analysis show the growth pattern of the species has a negative allometric (W = 0.004 L1.89). The physiological function of the species is in good condition based on the average condition factor (Kn) of 1.06. This explains the aquatic ecosystem as a fish habitat is in good condition, which is possible due to the sufficient availability of food and other abiotic factors.Key words: condition factor, growth pattern, Japanese threadfin bream, Labuhan Maringgai
Sosialisasi Penggunaan Sosial Media Untuk Meningkatkan Kegiatan Produktif Bagi Ibu PKK Kelurahan Ganjar Agung Endang Sri Utami; Ayang Kinasih; Erni Mariana; Siti Qomariyah; Kusuma Wardany; Ummi Rosyidah
MESTAKA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2024): Juni 2024
Publisher : Pakis Journal Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The number of internet users in Indonesia continues to increase every year, but the increase in the number of social media users is not accompanied by an increase in people's ability to choose and utilize information safely. Online entrepreneurship has many benefits as it can be done from the comfort of their own home and does not require large capital. The mentoring approach is carried out in two stages. First, a direct inspection was carried out of the participants and the location of the activity. It also covers issues related to participant understanding and other needs. For the second stage, materials must be distributed at the location. Implementation in the field also includes presentations and questions and answers about the material. As a result of this community service activity, PKK mothers will be more adept at using the internet and social media. PKK mothers have learned to use the internet and social media to increase productivity. The field of knowledge will help improve education and culture by providing broader insight and experience about the outside world.
PEMANFAATAN DAUN MANGROVE JERUJU (ACANTHUS ILICIFOLIUS) SEBAGAI TEH HERBAL ANTI-KANKER ALAMI Wijayanti, Arlin; Emilyasari, Desy; Rahmawati, Suci Hardina; Febriyanti, Titin Liana; Utami, Endang Sri
JCES (Journal of Character Education Society) Vol 6, No 3 (2023): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jces.v6i3.15773

Abstract

Abstrak: Acanthus ilicifolius merupakan jenis mangrove sejati dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat oleh masyarakat. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang potensi daun jeruju bagi kesehatan membuat pemanfaatan daun jeruju di Desa Margasari tidak optimal. Berdasarkan potensi dan khasiat yang terkandung dalam daun jeruju, salah satu cara untuk memanfaatakannya yaitu dengan pembuatan teh herbal. Pembuatan teh herbal daun jeruju sangat efektif untuk dikembangkan di Desa Margasari karena proses pembuatannya yang mudah dan keberadaannya yang melimpah sehingga memudahkan masyarakat untuk mendapatkannya tanpa harus mengeluarkan biaya banyak. Metode pembuatan teh herbal daun jeruju dilakukan melalui penyuluhan dan pelatihan langsung kepada masyarakat setempat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan dapat mengenalkan manfaat teh herbal daun jeruju dan menambah ketrampilan masyarakat untuk dapat mengolah dan mengemas produk dengan baik. Masyarakat yang menjadi partisipan dalam kegiatan ini adalah warga Desa Margasari, Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Para peserta pelatihan didominasi ibu rumah tangga berjumlah 27 orang dan 3 orang laki-laki. Kemampuan masyarakat menyerap dan memahami materi, untuk selanjutnya melaksanakan setiap langkah dan tahapan kerja sesuai dengan prosedur yang diberikan. Dari kegiatan ini diperoleh hasil berupa produk teh celup sebanyak 4 kotak kemasan yang sudah dikemas dalam kemasan yang menarik.Abstract: Acanthus ilicifolius is a true mangrove species and is widely used as a medicinal ingredient by the community. The lack of public knowledge about the potential of Jeruju leaves for health makes the use of Jeruju leaves in Margasari Village not optimal. Based on the potential and properties contained in Jeruju leaves, one way to use them is by making herbal teas. Making jeruju leaf herbal tea is very effective for development in Margasari Village because the manufacturing process is easy and its abundance makes it easier for people to get it without having to pay a lot of money. The method of making Jeruju leaf herbal tea is carried out through direct counseling and training to the local community. This community service activity is expected to introduce the benefits of Jeruju leaf herbal tea and increase community skills to be able to process and package products properly. The people who participated in this activity were residents of Margasari Village, Labuhan Maringgai, East Lampung. The training participants were dominated by housewives totaling 27 people and 3 men. The community's ability to absorb and understand the material, to then carry out each step and stage of work in accordance with the procedures given. From this activity, the results were obtained in the form of 4 teabags which were packed in attractive packaging.
Different Type Of Feeds Effect On Tilapia Growth Henny Fitrinawati; Endang Sri Utami
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 12 No. 2 (2024): ISSUE JULY-DECEMBER 2024
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v12i2.55838

Abstract

Nile tilapia (Oreochromis niloticus) is also known as tilapia. Tilapia shows an adequate ability to grow and survive even in poor habitats. The success of tilapia farming activities is influenced by several factors, one of which is feed. This study aims to see the effect of feeding different types of feed: marine fish feed (Otohime S2) and freshwater fish feed (MS Preo 320) on tilapia growth. Tilapia fry was kept in an aquarium for each treatment and fed three times a day for 30 days. Data were analyzed using a completely randomized design to determine the effect of feed on tilapia growth (Wm, Lm, SGR, FCR, and SR). Based on ANOVA (α = 0.05), it detected marine fish feed slightly increased tilapia growth but not significantly, except for Lm. It is caused by tilapia being at seed age length growth is more dominant than body weight. The factor causes a slight increase in tilapia growth given marine fish feed has a higher protein content than freshwater fish feed. Water quality components consisting of temperature, DO, and pH (26 – 30,5oC; 4,88 – 5,8 mg/l; 8,25 – 8,32) are in the range of values by the water quality standards for tilapia fry. Keywords: feed, growth, tilapia Abstrak Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga dikenal dengan nama tilapia. Tilapia memiliki kemampuan berkembang dan bertahan hidup yang baik bahkan pada habitat yang buruk. Keberhasilan kegiatan budidaya tilapia dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah pakan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian jenis pakan yang berbeda, yaitu pakan ikan air laut (Otohime S2) dan pakan ikan air tawar (MS Preo 320) terhadap pertumbuhan benih nila. Benih nila dipelihara dalam akuarium untuk tiap perlakuan dan diberikan pakan sebanyak tiga kali sehari selama 30 hari. Analisis data dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap untuk melihat adanya pengaruh pakan terhadap pertumbuhan nila (Wm, Lm, SGR, FCR, dan SR). Berdasarkan hasil ANOVA (α = 0,05) diperoleh informasi bahwa pakan ikan air laut sedikit memberikan peningkatan pertumbuhan nila tetapi tidak signifikan, kecuali Lm. Hal ini dikarenakan nila pada usia benih memiliki pertumbuhan panjang lebih dominan dari bobot tubuhnya. Faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan nilai pertumbuhan nila yang diberikan pakan ikan air laut adalah kandungan protein yang lebih tinggi dari pakan ikan air tawar. Komponen kualitas air yang terdiri dari suhu, DO, dan pH (26 - 30,5oC; 4,88 - 5,8 mg/l; 8,25- 8,32) berada pada kisaran nilai yang sesuai dengan baku mutu kualitas air bagi benih nila. Kata kunci: nila; pakan; pertumbuhan.
Pengaruh Padat Tebar Yang Berbeda Terhadap Laju Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus) Budidaya Ikan Dalam Ember Budikdamber Yayuk Tri Pamungkas; Titin Liana Febriyanti; Endang Sri Utami
Zoologi: Jurnal Ilmu Peternakan, Ilmu Perikanan, Ilmu Kedokteran Hewan Vol. 2 No. 2 (2024): Juli: Zoologi: Jurnal Ilmu Peternakan, Ilmu Perikanan, Ilmu Kedokteran Hewan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Tanaman Dan Hewan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/zoologi.v2i2.40

Abstract

The aquaculture sector is one source of food production whose development in Indonesia reached 6,979,750 tonnes or 95.80%. Therefore, it can contribute to the community's nutritional adequacy rate. Fisheries cultivation must be encouraged, because it plays an important role in improving the community's economy. Catfish production in Indonesia reached 1.06 million tons and 19,550 tons in Lampung. Catfish can be cultivated with various types of pools including tarpaulin, concrete, soil, biofloc and bucket pools. The aim of cultivating in buckets is as a form of updating appropriate technology through cultivating in buckets and creating nutritional gardens. The levels of ammonia, nitrite and nitrate in catfish ponds with plants will be lower than in conventional ponds without aquaponics. The experiment was conducted with a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and three replications (P1=1 head/liter, P2=2 head/liter, P3=3 head/liter and P4=4 head/liter). The best absolute weight growth rate was 3.1 grams, absolute length growth rate was 9.1 cm, and survival rate was 81%, accompanied by other water quality parameters such as temperature (26.5 - 28.4oC), pH (6.5- 6.8), DO (3-4 mg/L), TDS (135- 145 ppm).
ANALISIS INDEKS KEPENUHAN LAMBUNG DAN KOMPOSISI MAKANAN IKAN KURISI (Nemipterus japonicus) DI LABUHAN MARINGGAI, LAMPUNG TIMUR Azizah, Savira Nur; Utami, Endang Sri; Qulubi, M. Hadziq; Febriyanti, Titin Liana
MAHSEER: Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan
Publisher : Universitas Gajah Putih

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55542/mahseer.v7i1.1088

Abstract

Perairan Pantai Timur Lampung memiliki kekayaan alam hayati berupa sumberdaya ikan yang potensial dan prospektif. Ikan kurisi (Nemipterus japonicus) merupakan salah satu komoditas unggulan lokal yang cukup penting di perairan pesisir timur Lampung. Pada 2021 jumlah produksi total tangkapan ikan yang didaratkan di Pelabuhan Labuhan Maringgai mencapai 21.100 ton dengan jumlah tangkapan per unit usaha 5,67 ton/trip. Kajian terkait ikan kurisi di perairan Lampung masih relatif sedikit dan masih terbatas pada jumlah tangkapan serta area penangkapannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran frekuensi panjang, indeks kepenuhan lambung, dan komposisi makanan ikan kurisi yang ada di Pelabuhan Labuhan Maringgai. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif kemudian hasil yang diperoleh dijelaskan secara deskriptif. Ikan kurisi didaratkan di Pelabuhan Labuhan Maringgai memiliki panjang total dengan kisaran 115-242 mm dengan jumlah tangkapan tertinggi terdapat pada selang ukuran 146-162 mm. Nilai rata-rata ISC ikan kurisi yang tertangkap berkisar antara 1,59-5,68 %, dengan rata-rata ISC terbesar terdapat pada selang ukuran 179-194 mm (5,68%) dan terkecil pada selang kelas 227-242 mm (1,59%). Hal ini menjelaskan bahwa ukuran hasil tangkapan ikan kurisi di Pelabuhan Labuhan Maringgai berada pada ukuran yang layak tangkap karena tidak berada pada selang ukuran panjang total kelompok ikan yang matang gonad ataupun kelompok ikan yang masih kecil. Komposisi makanan ikan kurisi didominasi oleh kelompok ikan kecil (67,9%), krustasea (21,7%), dan cephalopoda (10,4%). Pertumbuhan populasi ikan kurisi didukung dengan kualitas perairan yang cukup baik yang digambarkan dari nilai kecerahan 6,5 m, suhu 32oC, dan pH 6,5.
Efektifitas Tingkat Pencahayaan Terhadap Pertumbuhan Ikan Nemo (Amphiprion ocellaris): Effectiveness of Lighting Intensities on Growth of Clown Anemonefish (Amphiprion ocellaris) Fitrinawati, Henny; Bachmid, Salahuddin; Endang Sri Utami; Madubun, Usman
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 3 (2024): JFMR on November
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.03.4

Abstract

Amphiprion ocellaris merupakan salah satu jenis ikan hias yang terkenal di tengah masyarakat Indonesia. Ikan ini dikenal dengan nama ikan nemo, dan digemari karena keindahan warna dan bentuknya yang menggemaskan. Selain kualitas air, tingkat pencahayaan merupakan faktor yang diduga cukup berperan penting dalam hidup ikan nemo. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh cahaya buatan dengan intensitas berbeda terhadap parameter pertumbuhan dan laju sintasan ikan nemo. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hatchery, Politeknik Perikanan Negeri, Tual pada Bulan November - Desember 2023. Ikan nemo sebanyak 30 ekor (jantan dan betina) dengan panjang dan berat awal masing-masing 35±2 mm dan 0,41±0,04 g dipelihara selama 35 hari dan diberikan makan dua kali sehari. Rangkaian penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan intensitas cahaya berbeda (0, 300, 400, 500, dan 600 lux) dan tiga kali ulangan. Hasil ANOVA dan uji lanjut Duncan secara umum menggambarkan penambahan cahaya dengan intensitas berbeda tidak cukup memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan panjang dan berat mutlak (Lm dan Wm), SGR, serta SR. Cahaya hanya berpengaruh signifikan pada pertumbuhan panjang mutlak dan SGR ikan nemo betina, tepatnya minggu pengamatan ke-1 dan 2 (fase awal pertumbuhan). Pertumbuhan ikan nemo paling baik diperoleh pada lingkungan tanpa cahaya tambahan (0 lux). Kondisi ini menjelaskan bahwa ikan nemo lebih menyukai lingkungan dengan pencahayaan natural. Pengaruh signifikan cahaya pada ikan nemo betina menjelaskan bahwa pola pertumbuhan tubuhnya yang bersifat alometrik positif, sehingga memiliki ciri fenotip lebih gemuk (montok) dari ikan nemo jantan dengan pola pertumbuhan alometrik negatif.   Amphiprion ocellaris is one of the most popular ornamental fish and is known as clown anemonefish. It is popular because of its beautiful color and adorable shape. In addition to water quality, light intensity is a factor that is assumed to play an essential role. This study aims to investigate the effect of artificial light with different intensities on growth parameters and survival rate of clown anemonefish. This study, was performed in the Hatchery Laboratory, State Fisheries Polytechnic of Tual (November - December 2023). There were 30 fish (male and female) with length and initial weight of 35±2 mm and 0.41±0.04 g, respectively reared for 35 days and fed twice a day. The studies were arranged using a Completely Randomized Design (CRD) with five different light intensities (0, 300, 400, 500, and 600 lux) and replicated three times. The results of ANOVA and Duncan's multiple further tests illustrated commonly, that different light intensities did not significantly affect the absolute length and weight growth, SGR, and SR. Different light intensives, only showed a significant impact on absolute length growth and SGR clown anemonefish female, precisely in the first and second observation weeks (early growth phase). The best growth was in an environment with no additional light (0 lux). This condition explains that fish prefer an environment with natural lighting. The significant effect in female clown anemonefish is that their body growth pattern is positive allometric and thus makes the female fatter (plump) than the male with a negative allometric growth pattern.
Pola Pertumbuhan dan Faktor Kondisi Ikan Nila (Oreochromis niloticus) pada Pakan yang Berbeda Gaitian, Wanda; Fitrinawati, Henny; Utami, Endang Sri
Jurnal Sains dan Teknologi Perikanan Vol 4 No 2 (2024): OCTOBER
Publisher : Fisheries Science Study Program, Faculty of Science and Technology, Muhammadiyah University of Sidenreng Rappang.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55678/jikan.v4i2.1623

Abstract

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat. Kemampuan adaptasi yang baik menjadikan ikan nila sebagai pilihan utama bagi banyak petani ikan. Keberhasilan suatu kegiatan budi daya sangat dipengaruhi oleh jenis dan kualitas pakan yang berperan pada performa ikan nila. Hubungan antara pakan dan pola pertumbuhan adalah aspek penting dalam budidaya ikan nila, karena kandungan nutrisi yang seimbang akan lebih efisien diubah menjadi massa tubuh. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dan faktor kondisi ikan nila yang diberikan jenis pakan yang berbeda, yaitu pakan untuk ikan air tawar (MS Preo 320) dan pakan untuk ikan air laut (Otohime S2). Ikan nila yang terbagi pada dua akuarium masing-masing terdiri 30 ekor diberikan pakan sebanyak sekali dalam sehari selama 30 hari dengan porsi sebanyak 5% dari bobot tubuhnya. Pola pertumbuhan yang diperoleh pada ikan nila yang diberikan pakan ikan air tawar dan pakan ikan air laut masing-masing memiliki hubungan panjang berat W = 0,26L1,36 dan W = 0,07L2,13, serta rata-rata faktor kondisi (K) 1,032 dan 1,056. Nilai K dan koefisen b yang sedikit lebih tinggi terdapat pada pakan ikan air laut dikarenakan kandungan proteinnya yang lebih besar, yaitu berkisar 26,1 – 28,1% dari pakan ikan air tawar. Faktor lain yang mendukung pertumbuhan ikan nila yang baik adalah nilai kualitas air yang sesuai dengan baku mutu, yaitu suhu 26 - 30,5 oC, pH 8,25 - 8,32, dan oksigen terlarut 4,88 - 5,80 mg/L.