Claim Missing Document
Check
Articles

Reduplikasi Upacara Adat Bapelas Sebagai Simbol Kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara Sundari, Emmy; Dienaputra, Reiza D; Nugraha, Awaludin; Yuliawati, Susi
PANGGUNG Vol 31 No 3 (2021): Budaya Ritual, Tradisi, dan Kreativitas
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v31i3.1679

Abstract

Subjek penelitian ini adalah upacara adat Bapelas. Objek pembahasannya tentang pembacaansimbol-simbol kekuasaan di upacara adat Bapelas. Pembacaan simbol dilakukan dalam bentukreduplikasi dan pengamatan langsung struktur pelaksanaan upacara adat Bapelas. Pengkajianini dilakukan melalui pengumpulan data-data secara empiris, bersifat induktif, menggunakanmetode kualitatif dan analisis interpretatif. Reduplikasi upacara adat Bapelas merupakanpengulangan upacara ritual-sakral warisan leluhur secara turun-temurun dari tahun ke tahun.Upacara adat Bapelas menyimpan banyak simbol-simbol yang mencerminkan kekuasaansultan sebagai pemegang kekuasaan di Kerajaan Kutai. Namun sultan sendiri tidak memegangkekuasaan dan wewenang di masa pemerintahan Republik Indonesia. Kekuasaan dalampenelitian ini, hanya sebatas kekuasaan sultan sebagai pemegang kekuasaan adat di kerajaan.Kekuasaan dan wewenang hanya sebagai simbol legitimasi atau pengakuan bahwa KerajaanKutai Kartanegara sampai saat ini masih berdiri. Pemerintah Indonesia menjadikan Kerajaanini sebagai warisan budaya (kearifan lokal) dan pariwisata bagi kemajuan ekonomi, sosial, danpolitik Kutai Kartanegara .Kata Kunci: Bapelas, simbol, kekuasaan.
Motif Batik Ciwaringin sebagai Identitas Budaya Lokal Cirebon Machdalena, Susi; Dienaputra, Reiza D.; Suryadimulya, Agus S.; Nugraha, Awaludin; Kartika, N.; Yuliawati, Susi
PANGGUNG Vol 33 No 1 (2023): Nilai-Nilai Seni Indonesia: Rekonstruksi, Implementasi, dan Inovasi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i1.2476

Abstract

Artikel ini membahas motif-motif Batik Ciwaringin yang mempunyai kekhasan dan keunikan tersendiri. Batik Ciwaringin dibuat tidak menggunakan pola dalam proses membatiknya, dikerjakan para ibu yang sudah berumur lanjut, untuk mewarnai batik digunakan bahan pewarna alam, motif batik kental dengan nilai-nilai Islam, karena awal mulanya terdapat batik di Ciwaringin dibuat oleh para santri di pesantren. Hal-hal tesebut menjadi unggulan Batik Ciwaringin dan menjadi identitas masyarakatnya. Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan ini digunakan untuk memaparkan kearifan lokal dan identitas masyarakat Ciwaringin. Data-data yang berupa motif-motif batik Ciwaringin diperoleh dari sanggar Batik Muhammad Suja’i dan sanggar Batik Risma. Data-data dipilah berdasarkan pola motif batik. Terdapat lima pola motif, yaitu pola geometris, pangkaan, byur, ceplak-ceplok, laseman, dan pola kombinasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motif-motif batik dengan berbagai ragam hias berasal dari alam di sekitar Desa Ciwaringin. Batik Ciwaringin merupakan hasil ekspresi kultural para perajinnya dengan motif-motif yang tidak keluar dari sosio-kultural Islam karena sejak awal adanya Batik Ciwaringin berpedoman pada ajaran-ajaran Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Batik Ciwaringin menunjukkan identitas budaya Ciwaringin yang kaya akan flora dan fauna. Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas.
Frequency and structures of lexical bundles in the German Goethe-Institut website Ayuni, Amalia Qurrota; Yuliawati, Susi; Ekawati, Dian
LingTera Vol. 9 No. 2 (2022)
Publisher : Department of Applied Linguistics, FBSB, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/lt.v9i2.54523

Abstract

Corpus linguistics allows researchers to discover the nature of language use through lexical bundles throughout genres, registers, and language varieties. With the fast-changing development of the internet, the language of websites has become one fascinating variety to investigate. In the contexts of German language studies, Goethe-Institut is a worldwide German cultural institution dedicated to teaching German and propagating German culture, with its website becoming a well-known source for German-related studies. Under these considerations, this research is interested in analyzing the German language patterns in Goethe-Institut website by examining their frequency and structure of lexical bundles. Using a mixed-method approach, the corpus was found to be dominated by lexical bundles within the ranges of three- and four-bundles, with the least quantity of lexical bundles in the range of five. The majority of the four-word lexical bundles on this site fell into the categories of noun, preposition, or verb groups. Meanwhile, the adverb, conjunction, and adjective groups were the fewest to appear in the four-word lexical bundles. The language in the Goethe-Institut was shown to contain semi-formal expressions according to the frequency of use of the prepositions, nouns, verbs, and the active sentence expressions. The utilization of standardized German language and basic vocabulary indicates that this website is designed to be accessible for everyone, including German language learners. The language usage also demonstrates that the Goethe-Institut is especially a user-oriented website with expressions that evoke a "˜sense of belonging'.
Kajian Penerjemahan Berbasis Korpus: Paradigma Baru dalam Penelitian tentang Penerjemahan Yuliawati, Susi
Jurnal Penerjemahan Vol 5 No 1 (2018): Jurnal Penerjemahan
Publisher : Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64571/ojp.v5i1.39

Abstract

Corpus linguistics has given a significant impact to various kinds of research which studies language, including translation studies. The impact of corpus linguistics to the development of translation studies is marked by the availability of corpora that allow us to study translation as empirical phenomenon and the emergence of corpus-based translation studies. The present paper explores several key concepts in corpus-based translation studies, resulted from the marriage of corpus linguistics and descriptive translation studies. Techniques and methods developed by corpus linguistics are thought to have the capability of extending the scope of translation research and introduce new pattern of thought for translation researchers. For that reason, the present paper discusses the paradigm shifts in translation studies; types of corpora and corpus analysis techniques applied for translation studies; and the development of corpus-based translation studies. The paper is expected to inspire experts in the fields of translation studies as well as corpus linguistics, particularly in Indonesia, to collaborate in developing corpus-based translation studies, which hitherto apparently has not been explored yet. Keywords: corpus linguistics, translation studies, corpus-based translation studies, descriptive translation studies.
Transformed images of women in a Sundanese magazine; A corpus linguistics perspective Yuliawati, Susi
Wacana, Journal of the Humanities of Indonesia Vol. 26, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In this paper, I examine the evolving portrayal of women in Sundanese society through a close analysis of certain nouns denoting women in the magazine Manglé. Using corpus linguistics, specifically word frequency and collocation analyses, I aim to investigate the evolving images of Sundanese women in relation to Indonesia’s political context over time. I argue that the evolution shown can be seen as a detailed overview of how the images of Sundanese women have been transformed. The results indicate that the trend in constructing women’s images is predominantly through the use of the noun wanoja, in contrast to other nouns. Through this noun, women are increasingly portrayed as possessing greater confidence to engage in the public sphere. In addition to spotlighting Sundanese women’s discussion, this paper can also serve as a representative case of how corpus linguistics research can be applied to other Sundanese texts or other regional texts in Indonesia.
Semiotika Batik Paseban Kabupaten Kuningan (Semiotics of Paseban Batik, Kuningan Regency) Opah Ropiah; Lia Maulia Indrayani; Teddi Muhtadin; Susi Yuliawati
Indonesian Language Education and Literature Vol. 7 No. 2 (2022)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v7i2.9090

Abstract

The aims of this study is to describe the meaning of Batik Paseban from Kuningan Regency using Roland Barthes' semiotic approach. The results show that the meanings found in the Paseban batik motifs include: (1) Sekar Galuh which describes nature conservation; (2) Oyog Mingmang which depicts unity and oneness; (3) Mayang Segara which implies the breadth of the human heart; (4) Adu Manis which describes domestic life; (5) Rereng Pwah Aci which reflects Sundanese women; (6) Geger Sunten which describes self-defense; (7) Réréng Kujang which means keeping a promise; (8) Mayang Cindé which describes character; (9) Sekar Kencana which describes leadership; 10) Ayang-Ayang which implies mutual cooperation; 11) Kadatun or Karatun which is interpreted as a fair and wise leader; and 12) Gagang Sénggang which represents prosperity.Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan makna Batik Paseban dari Kabupaten Kuningan dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna yang ditemukan dalam motif batik Paseban di antaranya: (1) Sekar Galuh yang menggambarkan pelestarian alam; (2) Oyog Mingmang yang menggambarkan persatuan dan kesatuan; (3) Mayang Segara yang mengisyaratkan keluasan hati manusia; (4) Adu Manis yang menggambarkan kehidupan rumah tangga; (5) Rereng Pwah Aci yang mencerminkan perempuan Sunda; (6) Geger Sunten yang menggambarkan pertahanan diri; (7) Réréng Kujang yang dimaknai menepati janji; (8) Mayang Cindé yang menggambarkan budi pekerti; (9) Sekar Kencana yang menggambarkan kepemimpinan; 10) Ayang-Ayang yang mengisyaratkan gotong-royong; 11) Kadatun atau Karatun yang dimaknai pemimpin adil dan bijaksana; serta 12) Gagang Sénggang yang menggambarkan kemakmuran. 
ANALISIS BERBASIS KORPUS: KOLOKASI KATA-KATA BERMAKNA “PEREMPUAN” DALAM MEDIA SUNDA (MAJALAH MANGLÉ, 2012 – 2013) Susi Yuliawati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Ranah
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v3i2.42

Abstract

Makalah ini membahas kolokasi dan makna dari lima kata (awéwé, istri, mojang, pamajikan, dan wanoja) dalam bahasa Sunda yang bermakna perempuan dari majalah Manglè yang terbit di tahun 2012-2013 melalui pendekatan linguistik korpus. Tujuannya adalah mengidentifikasi distribusi frekuensi penggunaan lima kosakata bermakna perempuan, mengidentifikasi kolokat signifikan berdasarkan frekuensi dan MI score, dan membuat profil semantis untuk setiap kata bermakna perempuan berdasarkan analisis preferensi semantis dan medan makna menurut USAS. Metode yang digunakan adalah rancangan metode gabungan (mixed methods design), artinya penelitian ini menggunakan data statistik yang diperoleh dari analisis korpus, lalu diinterpretasikan lebih lanjut dengan menggunakan pertimbangan kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan kata-kata bermakna perempuan beragam. Kata yang paling sering digunakan adalah pamajikan, sedangkan yang paling sedikit digunakan adalah awéwé. Berdasarkan kolokat siginifkan yang dikategorikan menurut preferensi semantisnya, terdapat kecenderungan yang menunjukkan bahwa masing-masing kata tersebut dikaitkan dengan topik-topik tertentu. Selain itu, jika dilihat berdasarkan prosodi semantisnya, kata mojang cenderung dimaknai positif, istri dan pamajikan negatif, dan awéwé netral.
ATTITUDINAL STANCE TOWARDS THE FREE NUTRITIOUS MEALS PROGRAM'S IMPLEMENTATION: AN APPRAISAL STUDY OF TEMPO.CO'S NEWS REPORT Alyssa Myrelia Nafhanda; Eva Tuckyta Sari Sujatna; Susi Yuliawati
Lire Journal (Journal of Linguistics and Literature) Vol. 9 No. 3 (2025): Lire Journal (Journal of Linguistics and Literature)
Publisher : Elite Laboratory Jurusan Sastra Inggris Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/lire.v9i3.516

Abstract

Drawing on the appraisal theory framework developed by Martin and White (2005), this study examines Tempo's attitudinal stance.co toward the Free Nutritious Meals Program (Program Makan Bergizi Gratis) implemented by the Indonesian government in 2025. The results show that a total of 63 attitudinal resources were identified, with appreciation being the most frequent (43%), followed by judgement (40%) and affect (17%). Negative attitudes account for 74% of the data, indicating a predominantly negative stance. These criticisms are explicitly conveyed and focus on operational issues such as food quality, safety concerns, limited menu variation, unequal distribution, and perceived weaknesses in government management. Positive attitudes (26%) are less frequent and focus mainly on the program’s intended goals, such as improving children’s nutrition and supporting local food industries, rather than its actual implementation. These findings indicate that Tempo.co tends to adopt a negative stance toward the program’s implementation, primarily expressed through explicit evaluations of its shortcomings, while offering limited recognition to its broader policy objectives
A CORPUS-BASED STUDY OF REPORTING VERBS IN SHORT ESSAY Febriyanti, Denisa Nur; Yuliawati, Susi
Journal of Linguistic Phenomena Vol 2 No 2 (2024): Journal of Linguistic Phenomena, Januari 2024
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jlp.v2i2.51533

Abstract

The present research aims to analyze the use of reporting verbs in short essays written by undergraduate students of English major at a university in Indonesia. The study focuses on the frequency analysis of reporting verbs across four semantic categories, namely Argue verbs (e.g., argue, suggest, write, etc.), Find verbs (e.g., find, observe, discover, etc.), Show verbs (show, demonstrate, reveal, etc.) and Think verbs (e.g., think, assume, know, etc.). To achieve this, a mixed-method research design and a corpus-based approach are employed. The results show that the students predominantly use the Think verbs category, followed by Argue, Show, and Find verbs. It suggests that students may focus more on expressing their beliefs and opinions rather than providing evidence or confirming their claims. Moreover, the study highlights the implications of the finding, indicating that the overuse of verbs from the Think verbs category may indicate a lack of evidence-based reasoning in the students’ short essays.
PENCEGAHAN ANEMIA PADA PEREMPUAN USIA SUBUR DI KECAMATAN CIMENYAN KABUPATEN BANDUNG Yuliawati, Susi; Ekawati, Dian; Machdalena, Susi; Nafhanda, Alyssa Myrelia
Midang Vol 2 No 3 (2024): Midang, Oktober 2024
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v2i3.58320

Abstract

Menurut data WHO, anemia defisiensi besi diperkirakan menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian pada perempuan usia subur, terutama saat mereka hamil dan melahirkan. Selain itu, perempuan usia subur yang menderita anemia menjadi kurang produktif dan memiliki kemampuan akademik yang kurang. Di Indonesia 30% perempuan berusia antara 15-24 tahun menderita anemia. Sedangkan di Jawa Barat yang berpenduduk lebih dari 47 juta jiwa,  lebih dari 50% perempuan usia SMP menderita anemia (Roche dkk., 2018) Melihat situasi ini, pemerintah Indonesia mengacu kepada WHO memberikan tablet suplemen penambah darah bagi perempuan usia subur di Indonesia. Namun, pemberian tablet ini tidak dimanfaatkan dengan baik, karena banyak faktor yang melatarbelakanginya. Faktor sosial budaya seperti adanya mitos bahwa perempuan yang sedang menstruasi tidak boleh makan ikan atau daging karena dapat mengakibatkan darahnya menjadi bau anyir, menjadi salah satu penyebab banyak perempuan usia subur kekurangan zat besi. Pemahaman yang rancu antara darah rendah dan kurang darah pun masih ada, sehingga perempuan tidak mau diberi tablet tambah darah karena takut membuatnya menderita tekanan darah tinggi (Roche dkk., 2018). Padahal anemia ini dapat dicegah dari awal dengan menerapkan pola hidup sehat serta mengonsumsi makanan dengan nutrisi lengkap. Menyikapi situasi dan kondisi di atas, pengabdian kepada masyarakat ini mengusung tema “Pencegahan Anemia pada Perempuan Usia Subur di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung”. Peserta penyuluhan ini adalah para perempuan berusia subur anggota majelis taklim Al Amanah di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Dengan adanya penyuluhan ini, diharapkan para perempuan usia subur lebih memperhatikan kondisi kesehatan dirinya, terutama yang berkaitan dengan anemia, sehingga mereka dapat mengoptimalkan dirinya dan juga dapat melahirkan generasi yang sehat.