Claim Missing Document
Check
Articles

PANDANGAN KECANTIKAN WANITA INDONESIA: ANTARA KONSTRUKSI SOSIAL DAN PERSPEKTIF DIRI Lisa Cosmona Visidia; Yohanes Budiarto
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i2.7149

Abstract

Standar kecantikan yang terlihat di media sosial sering kali menjadi acuan bagi banyak orang. Gambar-gambar dan tren kecantikan yang tersebar luas media sosial mendorong individu, terutama wanita, untuk mengejar penampilan yang sesuai dengan standar tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana standar kecantikan yang berkembang di media sosial memengaruhi persepsi kecantikan yang dimiliki oleh individu, serta bagaimana hal tersebut memengaruhi pandangan mereka tentang diri sendiri dan orang lain. Dalam penelitian ini, menyertakan 120 partisipan wanita yang terlibat. Metode penelitian menggunakan survei kualitatif dengan tipe pertanyaan open-ended. Penelitian ini menggunakan pengolahan data mix methoddengan prosedur exploratory sequential design, kemudian di olah menggunakan aplikasi MAXQDA. Hasil analisis penelitian menunjukan standar kecantikan mempengaruhi perspektif wanita terkait kecantikan yang ideal. Namun, sebagian responden berpendapat bahwa kecantikan tidak hanya dinilai dari fisik, tetapi juga mencakup kualitas psikologis.
KESEJAHTERAAN KARYAWAN LULUSAN BARU: PERSPEKTIF DAN PENTINGNYA DI TEMPAT KERJA ARE YOU WELL AT WORK? UNDERSTANDING THE IMPORTANCE OF WORKPLACE WELL-BEING FROM THE PERSPECTIVE OF NEWLY GRADUATED BACHELOR'S EMPLOYEES Anastasia, Vanessa; Budiarto, Yohanes
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 7 No. 5 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v7i5.7805

Abstract

Lulusan baru, sebagai individu yang baru menyelesaikan pendidikan tinggi, sering kali mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan dunia kerja, termasuk tekanan psikologis, stres, dan ketidakpastian. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pentingnya kesejahteraan di tempat kerja dari perspektif karyawan lulusan baru strata-1. Kesejahteraan di tempat kerja mencakup aspek kesehatan fisik, mental, dan keterikatan dengan lingkungan kerja. Penelitian ini menggunakan survei kualitatif dengan 108 partisipan lulusan baru yang memiliki pengalaman kerja minimal 12 bulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa mayoritas responsden (68,5%) menilai kesejahteraan di tempat kerja sangat penting. Kesejahteraan tersebut dipengaruhi oleh dua kategori besar: situasi pribadi dan situasi dalam pekerjaan. Kategori situasi dalam pekerjaan lebih dominan, dengan fokus pada kesehatan mental dan performa kerja. Responsden menilai bahwa kesehatan mental berpengaruh besar terhadap kesejahteraan mereka di tempat kerja, yang pada gilirannya berdampak positif pada kinerja dan motivasi. Faktor keharmonisan sosial, kenyamanan, dan keterikatan kerja juga diidentifikasi sebagai elemen penting. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesejahteraan di tempat kerja berperan penting dalam meningkatkan kesehatan mental, motivasi, dan performa karyawan. New graduates, as individuals who have just completed higher education, often face challenges in adapting to the workforce, including psychological pressure, stress, and uncertainty. This study aims to understand the importance of workplace well-being from the perspective of new graduates with a bachelor's degree. Workplace well-being encompasses aspects of physical and mental health, as well as engagement with the work environment. The study uses a qualitative survey with 108 new graduate participants who have at least 12 months of work experience. The analysis results show that the majority of responsdents (68.5%) consider workplace well-being to be very important. Well-being is influenced by two main categories: personal situation and work situation. The work situation category is more dominant, with a focus on mental health and work performance. Responsdents indicated that mental health greatly impacts their workplace well-being, which in turn positively affects performance and motivation. Factors such as social harmony, comfort, and work attachment were also identified as key elements. The study concludes that workplace well-being plays a crucial role in enhancing mental health, motivation, and employee performance.
HUBUNGAN ANTARA FOLLOWERSHIP STYLES DAN WORK EFFICACY PADA KARYAWAN INDUSTRI PENERBANGAN Kindangen, Ivana Alessandra; Budiarto, Yohanes
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 9 No. 2 (2024): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v9i2.9590

Abstract

PT. X is one of the largest aviation companies in Indonesia that provides both domestic and international flight services and has been in operation for approximately seven decades. In facing the competitive challenges, PT. X must recognize that the company's success does not solely depend on technology and infrastructure, but also on the quality of human resources, especially in terms of work effectiveness. To improve work effectiveness, it is crucial for each employee to have occupational self-efficacy, or what is referred to as work efficacy in the work life (Fullemann et al., 2015). Work efficacy is influenced not only by technical skills or individual work experience but also by environmental factors, work culture, and social relationships with peers and superiors. One such factor is followership styles. The purpose of this study is to explore the relationship between followership styles and work efficacy among employees in the aviation industry at PT. X. This study uses a quantitative method involving 152 active employees at PT. X. Data collection was carried out through the distribution of questionnaires. Two measurement tools were used: the Occupational Self-Efficacy Scale (OSS) by Rigotti (2008) and the Followership Styles Questionnaire (FSQ) by Kelley (19950. The results show that followership styles have a significant correlation with work efficacy. The followership style with the strongest correlation is the exemplary style (r = 0.755, p < 0.05), while the style with the weakest correlation is the passive style (r = 0.212, p < 0.05).
MEMAHAMI PERILAKU MENOLONG PADA REMAJA DI ERA DIGITAL Aurora Cindy Wong; Yohanes Budiarto
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 10 No. 1 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v10i1.10187

Abstract

Perilaku tolong-menolong, sebagai salah satu nilai luhur masyarakat Indonesia, mengalami pergeseran seiring dengan perkembangan era digital. Penelitian ini bertujuan untuk memahami perilaku prososial remaja di era digital, khususnya pada siswa SMA di Jakarta. Fenomena menurunnya tindakan prososial di kalangan remaja, yang dipengaruhi oleh gaya hidup individualistis akibat perkembangan teknologi, menjadi latar belakang penelitian ini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode survei untuk mengungkap alasan seorang remaja melakukan perilaku menolong. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 103 orang, yang merupakan siswa dan siswi aktif dari beberapa SMA di Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku menolong dipengaruhi oleh faktor internal, seperti empati dan kepuasan diri, serta faktor eksternal, seperti pengaruh sosial dan penggunaan teknologi. Penelitian ini merekomendasikan upaya peningkatan kesadaran sosial dan empati melalui pendidikan serta pemanfaatan teknologi secara positif untuk mendukung penguatan nilai-nilai prososial di kalangan remaja.
HUBUNGAN ANTARA SELF-ESTEEM DAN FEAR OF MISSING OUT (FOMO) PADA GENERASI Z Grace Santika Dewi br Ginting; Yohanes Budiarto
Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling Vol. 10 No. 2 (2025): Liberosis: Jurnal Psikologi dan Bimbingan Konseling
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.3287/liberosis.v10i2.10200

Abstract

ABSTRAK Individu yang mengalami fenomena Fear of Missing Out (FoMO) cenderung merasa takut akan tertinggal mengenai informasi, tren, dan pengalaman menyenangkan yang dialami oleh orang-orang disekitarnya. Akibatnya individu yang mengalami hal tersebut tidak dapat menahan diri dari keinginan untuk terus menerus terhubung dengan orang lain terutama melalui media sosial. Salah satu faktor utama yang dapat menyebabkan hal tersebut adalah rendahnya harga diri individu. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara self-esteem dengan Fear of Missing Out (FoMO) pada generasi z yang menggunakan media sosial. Penelitian ini menggunakan alat ukur self-esteem yang sudah diadaptasi oleh Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara yang menggunakan teori Rosenberg dan Online Fear of Missing Out (On-FoMO) untuk mengukur Fear of Missing Out (FoMO). Data diolah menggunakan SPSS versi 25, data tidak terdistribusi normal maka digunakan Spearman Corellation (r = 0.591, p = 0.000). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan positif dan signifikan antara self-esteem dan Fear of Missing Out (FoMO) pada generasi z yang aktif menggunakan media sosial.
IDENTIFIKASI IMPULSIVE BUYING DI MEDIA SOSIAL BERDASARKAN KONSTRUK ABC Kayla Amanda Novian; Yohanes Budiarto
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 6 No. 8 (2025): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v6i8.9800

Abstract

A B S T R A K Perkembangan social commerce di Indonesia telah mengubah kebiasaan belanja masyarakat Indonesia, terutama generasi Z. Media sosial sebagai wadah berlangsungnya social commerce memberikan fitur-fitur yang menarik minat generasi Z untuk melakukan pembelian. Tindakan pembelian ini juga memicu fenomena impulsive buying yang merupakan istilah umum untuk tindakan berbelanja tanpa adanya perencanaan sebelumnya. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa media sosial sebagai stimulus eksternal merupakan salah satu pemicu terjadi impulsive buying. Impulsive buying cenderung terjadi pada generasi Z yang dikenal sebagai “digital natives” sehingga kemudahan akses teknologi dalam berbelanja mempengaruhi perilaku konsumtif mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana peran media sosial terhadap impulsive buying berdasarkan aspek afektif dan kognitif pada mahasiswa generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis survei kualitatif yang melibatkan 122 mahasiswa berusia 17-25 tahun (laki-laki=20; perempuan=102) di Indonesia. Dengan menggunakan metode survei kualitatif, temuan menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran positif dalam mendorong impulsive buying. Hal ini ditandai mayoritas dominan melakukan impulsive buying karena didorong fitur-fitur seperti review product, electronic word of mouth, dan mayoritas merasakan dampak pembelian yaitu emosi positif. A B S T R A C T The development of social commerce in Indonesia has transformed the shopping habits of the Indonesian population, particularly Generation Z. Social media, as a platform for social commerce, offers features that attract Generation Z to make purchases. This purchasing behavior also triggers the phenomenon of impulsive buying, which is a common term for shopping actions taken without prior planning. Previous research indicates that social media, as an external stimulus, is one of the triggers for impulsive buying. Impulsive buying tends to occur among Generation Z, known as "digital natives," where easy access to technology influences their consumer behavior. Therefore, this study aims to explore the role of social media in impulsive buying based on affective and cognitive aspects among Generation Z students. This research employs a qualitative survey analysis approach involving 122 students aged 17-25 years (male=20; female=102) in Indonesia. Using qualitative survey methods, findings reveal that social media plays a positive role in encouraging impulsive buying. This is marked by a dominant majority engaging in impulsive buying driven by features such as product reviews, electronic word of mouth, and most experiencing positive emotional impacts from their purchases.
HUBUNGAN DURASI TIKTOK DAN RENTANG PERHATIAN PADA PENGGUNA AKTIF DI USIA DEWASA MUDA CHRISTIAN, DANIEL; BUDIARTO, YOHANES
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.3804

Abstract

This study aims to analyze the relationship between the duration of TikTok use and attention span in active users in young adults. The rapid development of short video-based social media platforms such as TikTok has raised concerns about its impact on cognitive aspects, especially the ability to maintain attention. This study uses a quantitative approach with a survey technique and involves 155 participants who meet the criteria of 17-25 years of age and are active TikTok users. The instruments used are the Social Media Use Questionnaire (SMUQ) to measure the intensity of social media use and the Attentional Control Scale (ATTC) to measure attention span. The results of the data analysis showed a significant negative correlation between the duration of TikTok use and attention span (r = -0.404, p <0.05), which indicates that the longer the duration of TikTok use, the lower the user's attention span. And vice versa, the higher the use of TikTok, the higher the user's attention span. These findings support the view that consumption of short-duration video content can affect an individual's cognitive ability to maintain attention. This study is expected to raise awareness of the impact of excessive social media use and the importance of having moderation in using social media to maintain cognitive balance. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi penggunaan TikTok dan rentang perhatian pada pengguna aktif di usia dewasa muda. Pesatnya perkembangan platform media sosial berbasis video pendek seperti TikTok telah menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap aspek kognitif, khususnya kemampuan mempertahankan perhatian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik survei dan melibatkan 155 partisipan yang memenuhi kriteria usia 17-25 tahun dan merupakan pengguna aktif TikTok. Instrumen yang digunakan adalah Social Media Use Questionnaire (SMUQ) untuk mengukur intensitas penggunaan media sosial dan Attentional Control Scale (ATTC) untuk mengukur rentang perhatian. Hasil analisis data menunjukkan terdapat korelasi negatif yang signifikan antara durasi penggunaan TikTok dan rentang perhatian (r=-0,404, p<0,05), yang mengindikasikan bahwa semakin lama durasi penggunaan TikTok, semakin rendah rentang perhatian pengguna. Dan sebaliknya semakin tinggi sedikit penggunaan TikTok, semakin tinggi rentang perhatian pengguna. Temuan ini mendukung pandangan bahwa konsumsi konten video berdurasi pendek dapat mempengaruhi kemampuan kognitif individu dalam mempertahankan perhatian. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan dampak penggunaan media sosial yang berlebihan dan pentingnya memiliki moderasi dalam menggunakan sosial media untuk menjaga keseimbangan kognitif.
WORK ENGAGEMENT PADA KARYAWAN KONTRAK BAGIAN SALES: BAGAIMANA PERANAN JOB DEMANDS? Kyantina Alifah Annissatya; Yohanes Budiarto
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i2.682

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peranan job demands terhadap work engagement pada karyawan kontrak bagian sales. Teknik pengambilan data penelitian menggunakan convenience sampling dengan jumlah 419 partisipan yang bekerja sebagai karyawan kontrak posisi sales di Jabodetabek. Job demands diukur menggunakan Job Demands-Resources (JDR) Questionnaire, sementara work engagement diukur dengan Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9). Teknik analisis yang dilakukan untuk menguji hipotesis adalah uji regresi linier. Hasil yang diperoleh memilki nilai nilai β= 0.793, p < .001, dan R2 = 0.628, sehingga terdapat 62.8% peran job demands yang signifikan terhadap work engagement.
Work-Family Conflict And Job Performance With Work Engagement As A Mediator (Study On Working Mothers) Haryanto Gunawan, Sandra; Budiarto, Yohanes; Tommy Y. S. Suyasa, P.
Dinasti International Journal of Education Management And Social Science Vol. 6 No. 2 (2025): Dinasti International Journal of Education Management And Social Science (Decem
Publisher : Dinasti Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/dijemss.v6i2.3554

Abstract

This study aims to examine the mediating role of work engagement in the relationship between work family conflict and job performance. Work engagement is a positive work-related state of mind characterized by vigor, dedication and absorption. Work family conflict is a form of conflict between roles as professionals and roles in the family. Job performance is a description of tasks / work or work behavior as an employee in a company company. Participants in the study totaled 360 with the characteristics of women who are married (mothers), with school-age children, and work in a company. The measuring instrument used to measure work engagement is the Utrecht Work Engagement Scale 9 (Schaufeli et al, 2006). The measuring instrument used to measure work family conflict is the WFC & FWC Scale (Netemeyer et al., 1996). The measuring instrument used to measure job performance is the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ; Koopmans et al., 2014). Based on data analysis using the Moderated Regression Analysis (MRA) method, work engagement can mediate the relationship between work family conflict with task performance and contextual performance. The implication of the results of this study is that it can explain the relationship between work family conflict and job performance mediated by work engagement. In addition, the results of this study can be the basis for policy making to create a supportive environment for women to work optimally in the world of work.
WORK ENGAGEMENT PADA KARYAWAN KONTRAK BAGIAN SALES: BAGAIMANA PERANAN JOB DEMANDS? Kyantina Alifah Annissatya; Yohanes Budiarto
Journal of Social and Economics Research Vol 6 No 2 (2024): JSER, December 2024
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v6i2.682

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peranan job demands terhadap work engagement pada karyawan kontrak bagian sales. Teknik pengambilan data penelitian menggunakan convenience sampling dengan jumlah 419 partisipan yang bekerja sebagai karyawan kontrak posisi sales di Jabodetabek. Job demands diukur menggunakan Job Demands-Resources (JDR) Questionnaire, sementara work engagement diukur dengan Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9). Teknik analisis yang dilakukan untuk menguji hipotesis adalah uji regresi linier. Hasil yang diperoleh memilki nilai nilai β= 0.793, p < .001, dan R2 = 0.628, sehingga terdapat 62.8% peran job demands yang signifikan terhadap work engagement.