Claim Missing Document
Check
Articles

Quantity and Quality of Oestrus of Kacang Goats Injected with Prostaglandin F2alpha in the Vulva Submucosa on the Coast of Tomini Bay Ilham, Fahrul; Panggulu, Zulkifli; Dako, Safriyanto; Fathan, Suparmin; Rachman, Agus Bahar
Jambura Journal of Animal Science Vol 7, No 2 (2025): Jambura Journal of Animal Science
Publisher : Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35900/jjas.v7i2.28008

Abstract

Tomini Bay is the longest bay in Indonesia which is located in the provinces of North Sulawesi, Gorontalo and Central Sulawesi. The dominant goat species raised by farmers in Tomini Bay is the Kacang goat. This research aims to determine the quantity and quality of estrus of peanut goats based on different parities that are reared traditionally in Tomini Bay. The hormone used is the PGF2α lutalyse brand, which is injected into the vulvar submucosa in 1 ml. The research location is Bonepantai District, Bone Bolango Regency, Gorontalo Province. The number of selected female goats used was 9 goat, and they were grouped into 3: the heifer treatment group, the group that gave birth once, and the group that gave birth more than once. The oestrus quantity variables observed were percentage of oestrus, onset of oestrus, and duration of oestrus. The results of the study showed that administration of the PGF2α hormone in the vulva submucosa of kacang goats during the second injection was able to cause up to 100% lust symptoms. The onset and duration of oestrus in heifers injected with PGF2α was 57.67 hours for 39.33 hours, one birth was 61.33 hours for 34 hours, and one birth was 57.67 hours for 42.33 hours. The behavior shown by Kacang goats after PGF2α injection is that they like to mount their friends and are quiet when mounted by males. The conclusion of this study is that PGF2∝ injection into the vulva submucosa causes Kacang goats to be in heat with quite obvious symptoms. PGF2∝ injection into the submucosa vulva can be applied during estrus synchronization at a lower cost but is able to provide a normal heat effect.
PENINGKATAN KOMPETENSI PETANI DAN PETERNAK DALAM IMPLEMENTASI INTEGRATED FARMING SYSTEM (IFS) DI DESA TALUMELITO KECAMATAN TELAGA BIRU KABUPATEN GORONTALO Mukhtar, Muhammad; Lihawa, Mohamad; Imran, Supriyo; Dako, Safriyanto; Hippy, Mohammad Zubair; Machieu, Siti Rahmatia
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 5 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i5.2475

Abstract

Peningkatan kompetensi petani dan peternak dalam implementasi Integrated Farming System (IFS) merupakan upaya strategis untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sektor pertanian serta peternakan secara berkelanjutan. Kegiatan ini dilakukan di Desa Talumelito, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, dengan tujuan meningkatkan keterampilan teknis, pemahaman konseptual, dan sikap relasional petani-peternak dalam mengelola usaha berbasis IFS. Metode yang digunakan meliputi pelatihan, pendampingan, dan evaluasi kompetensi sebelum dan sesudah pelatihan melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kompetensi petani dan peternak yang signifikan setelah pelatihan. Kompetensi teknis meningkat dari 52,67% (kategori kurang baik) menjadi 71,00% (kategori cukup baik), kompetensi konseptual meningkat dari 55,33% menjadi 85,67% (kategori baik), dan kompetensi relasional meningkat dari 60,33% menjadi 85,33% (kategori baik). Penerapan IFS tidak hanya meningkatkan kualitas dan kuantitas pakan ternak tetapi juga mengoptimalkan sumber daya lokal untuk mendukung keberlanjutan usaha tani dan ternak. Dengan demikian, pelatihan ini membuktikan efektivitasnya dalam meningkatkan keterampilan dan wawasan petani-peternak, yang pada akhirnya berdampak positif pada produktivitas dan kesejahteraan petani dan peternak.
Produktivitas Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) Pada Periode Starter Laudengi, Sasmita; Hasan, Nurain; U, Sasmita; Ilham, Fahrul; Dako, Safriyanto; Zainudin, Srisukmawati
Prosiding Seminar Nasional Mini Riset Mahasiswa Vol 4, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produktivitas ayam kampung dapat bervariasi dan dipengaruhi oleh lingkungan tempat dipelihara dan genetiknya. Pertahanan tubuh Ayam KUB cukup baik dalam menghadapi iklim sulit seperti kemarau panjang, mudah beradaptasi di daerah lahan kering. Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) saat ini semakin banyak dibudidayakan di Gorontalo sehingga penting diketahui produktivitasnya. Tujuan penelitian ini mengetahui produktivitas (bobot badan dan pertambahan bobot badan) ayam KUB yang dipelihara secara intensif. Waktu penelitian adalah Oktober 2024 di Desa Tambo’o Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bonebolango. Parameter yang diamati adalah bobot badan, pertambahan bobot badan, dan konsumsi pakan ayam KUB selama fase starter. Penelitian ini menggunakan metode survei, diawali dengan pengambilan data sekunder. Jumlah sampel ayam KUB sebanyak 50 ekor dengan jenis kelamin jantan dan betina (unsex). Data primer diperoleh dengan melakukan observasi langsung serta melakukan penimbangan untuk mengetahui bobot badan dan pertambahan bobot badan setiap minggu. Berdasarkan hasil pengamatan bobot ayam KUB umur 7 hari adalah 41,8 gram dan saat umur 21 hari adalah 94,14 gram, dengan pertambahan bobot badan sebesar 2,48 gram/hari. Pertambahan bobot badan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pakan dan manajemen pemeliharaan. Ayam akan mengalami pertumbuhan bobot badan yang cukup signifikan dengan pemberian pakan yang baik, kandang yang nyaman, perawatan kesehatan yang optimal. Kesimpulannya adalah bobot badan ayam KUB meningkat seiring dengan meningkatnya umur ternak.
Variasi Warna Bulu, Shank, dan Paruh Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) pada Umur Starter H, Candra; T, Rivaldi; M., Fizal A.; Zainuddin, Srisukmawati; Dako, Safriyanto; Ilham, Fahrul
Prosiding Seminar Nasional Mini Riset Mahasiswa Vol 4, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ayam kampung memiliki potensi untuk dikembangkan sebab populasi yang hampir merata di wilayah pedesaan Indonesia, mudah dibudidayakan meskipun di iklim ekstrim. Penelitian ini menggunakan metode survai dengan cara wawancara dan observasi langsung di Desa Tamboo Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango. Jumlah sampel yang diamati adalah 49 ekor ayam KUB umur starter. Bagian tubuh untuk pengamatan sifat kualitatif adalah bulu tubuh, paruh, dan shank. Hasil pengamatan pada bulu tubuh menunjukkan warna bulu yang dominan adalah hitam (77,55%) dan kombinasi warna terbanyak adalah hitam-putih (46,94). Warna shank yang dominan adalah hitam (81,63%) dan warna paruh adalah hitam-putih (75. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB) di Desa Tamboo memiliki warna bulu tubuh, paruh, dan shank yang bervariasi dan didominasi warna hitam.
Allele Diversity of Diiti Cattle Using Microsatellite Loci Dako, Safriyanto; Nibras Karnain Laya; Syahruddin Syahruddin; Ari Ardiantoro; Desinta Wulandari; Suyadi suyadi
ANIMAL PRODUCTION Vol. 27 No. 2 (2025)
Publisher : Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University in associate with the Animal Scientist Society of Indonesia (ISPI) and the Indonesian Association of Nutrition and Feed Science (AINI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jap.2025.27.2.237

Abstract

Diiti cattle or Gorontalo local cattle were cattle that have the same exterior characteristics like Bali and PO cattle. To provide information regarding the unknown state of Diiti cattle, allele diversity was evaluated using ILSTS017, HEL13 and BM1818 microsatellite loci. A total of 117 Diti cattle from Gorontalo, Bonebolango and North Gorontalo were used in this study. Allele diversity analysis was generated using Cervus 3.0.7 version. All microsatellite loci were found to be highly polymorphic in the population. A total of 26 alleles were observed, which ranged from 6 in HEL13 and to 11 in ILSTS017. The mean of total alleles was found 6.667. The expected heterozygosity and observed heterozygosity values were 0.686, 0.610, 0.818 and 0.512, 0.351, 0.721 in ILSTS017, HEL13 and BM1818, respectively. Polymorphism Information Content (PIC) values were 0.540 for HEL13, 0.645 for ILSTS017 and 0.791 for BM1818. The result of this study would be used as basic information for development of unknown state of Diiti cattle as Gorontalo valuable genetic resources.
Characteristics of Male Bali Cattle in Toili District Laya, Nibras K.; Arifin, Muhammad A.; Syahruddin, syahruddin; Fathan, Suparmin; Datau, Fahria; Gubali, Syukri I.; Dako, Safriyanto
Jambura Journal of Animal Science Vol 6, No 2 (2024): Jambura Journal of Animal Science
Publisher : Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35900/jjas.v6i2.22174

Abstract

Bali cattle family is one of four native Indonesian cattle breeds that play an important role as a domestic source of meat.  Bali cattle have a major problem in their development such as low quality breeds due to inbreeding (internal crossbreeding) or maintenance management. One of the efforts to improve genetic quality and increase cattle productivity sustainably is through Performance testing. The aim of this research was to determine the phenotypic performance of male Bali cattle on community farms in Banggai Regency. The research used 100 male Bali cattle aged 2-3 years. This research used a field experimental method through observing and measuring livestock. The data was analyzed descriptively, describing the facts at the research location. The result show that body hair color of male Bali cattle consisted of brown, dark brown, blackish brown and black. The boundaries of the body color pattern on the legs and buttocks mirror were clearly visible, without any changes or deviations. Body weight of Bali cattle was 204.56 ± 14.32 kg. Body weight was strongly correlated with chest circumference, body length and height
Pelatihan Pembuatan Silase dan Fermentasi Jerami Padi Bagi Masyarakat Desa Bongopini Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango Syahruddin; Mukhtar, Muhammad; Djunu, Sri Suryaningsih; Fathan, Suparmin; Laya, Nibras K.; Dako, Safriyanto; Bumulo, Sahrain
Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 3 (2024): Sosiologi Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37905/sjppm.v1i3.153

Abstract

Potensi limbah tanaman pangan seperti jerami padi dan jerami jagung di Desa Bongopini dan sekitarnya banyak tersedia pada waktu musim panen tiba. Tetapi peternak hanya memanfaatkan sebagian kecil limbah tersebut sebagai pakan ternak. Pengabdian masyarakat bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peternak agar dapat mengolah jerami jagung dan jerami padi menjadi pakan dalam bentuk silase dan jerami padi fermentasi. Sehingga peternak dapat memaksimalkan pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak serta tidak mengalami kendala penyediaan pakan hijauan pada saat musim kemarau. Pelatihan menggunakan metode partisipatif dengan 50% teori dan 50% praktek aplikatif. Materi yang disajikan dengan ceramah, diskusi dan praktek langsung di lokasi tempat pengabdian masyarakat. Hasil kegiatan pengabdian masyarakat memperlihatkan bahwa semua peternak merespon dengan baik pelaksanaan kegiatan pengabdian ini karena dapat menambah pengetahuan dan keterampilan peternak dalam mengolah jerami jagung dan jerami padi menjadi pakan ternak yang murah, mudah didapat dan melimpah. Pengolahan pakan dengan cara silase dan fermentasi jerami padi dapat meningkatkan nilai nutrisi dan palatabilitas pakan serta dapat mengatasi kekurangan pakan hijauan pada musim kemarau. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini peternak di Desa Bongopini dapat membuat silase dan jerami padi fermentasi, sehingga dapat meningkatkan pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan ternak.
Organoleptic Analysis of Processed Beef Meatball Products Using the Analytic Hierarchy Process: A Case Study of “Bakso Roso” Mooduto, Lisna; Dako, Safriyanto; Sahara, Laode
International Journal of Technology and Education Research Vol. 3 No. 04 (2025): October - December, International Journal of Technology and Education Research
Publisher : International journal of technology and education research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63922/ijeter.v3i04.2549

Abstract

Processed beef meatballs are widely consumed food products whose quality is largely determined by their sensory attributes. This study aims to analyze the organoleptic quality of beef meatball products at Bakso Roso Restaurant in Gorontalo Regency, focusing on appearance, aroma, taste, and texture. This research addresses a gap in previous studies, which typically rely on conventional sensory tests without applying a structured prioritization method. The study site was purposively selected based on branch availability, accessibility, modern facilities, and certified operations. Primary and secondary data were analyzed using the Analytic Hierarchy Process (AHP) to determine the relative weight of each criterion. The results show that taste is the most influential attribute (0.402), followed by aroma (0.294), texture (0.203), and appearance (0.100), with an inconsistency value of 0.02 indicating reliable judgments. Among product alternatives, Bakso Tenis ranks highest (40.2%), followed by Bakso Urat (29.4%). These findings highlight the dominant role of taste and aroma in shaping consumer preferences and provide a structured basis for product development through AHP-based organoleptic prioritization.
EFFECT OF SUBSTITUTING CASSAVA LEAF FLOUR (Manihot esculenta) IN COMMERCIAL RATIONS ON THE NON-CARCASS WEIGHT PERFORMANCE OF QUAIL Rifai, Ahmat; Fathan, Suparmin; Gubali, Syukri; Zainudin, Srisukmawati; Sayuti, Muhammad; Dako, Safriyanto
Jambura Journal of Animal Science Vol 8, No 1 (2025): Jambura Journal of Animal Science
Publisher : Animal Husbandry Department, Faculty of Agriculture Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35900/jjas.v8i1.27890

Abstract

Abstract: This study aims to evaluate the effect of cassava leaf meal substitution (Manihot esculenta) in feed on the non-carcass performance of quails. The method used was a complete randomized design (RAL) with 5 treatments and 4 replicates, using a total of 140 quails. Feed treatment consists of: P0 (100% commercial feed), P1 (96% commercial feed + 4% cassava leaf meal), P2 (94% commercial feed + 6% cassava leaf meal), P3 (92% commercial feed + 8% cassava leaf meal), and P4 (90% commercial feed + 10% cassava leaf meal). The variables observed in this study include: non-carcass weight, non-carcass percentage, non-carcass weight of the head, neck, blood, legs, and feathers. The data obtained was then analyzed using multi-dimensional fingerprint analysis (ANOVA) at a real level of 5%, if it shows a real difference (P0.05), then it is continued with the Smallest Real Difference (BNT) follow-up test. The results showed that cassava leaf flour had a real effect (P0.05) on non-carcass weight, non-carcass percentage, and head and neck weight, but had no real effect (P0.05) on blood, legs, and feather weight. Further tests showed that in non-carcass weights, the control treatment (P0) was markedly different from all other treatments (P1, P2, P3, P4), and P1 was markedly different from P3 and P4, while P2 was not markedly different from P3 and P4. In non-carcass percentages, P1 differs markedly from P2, P3, and P4, but does not differ from P0, whereas P0 differs markedly from P2, P3, and P4. In head weights, P1 and P0 were markedly different, while in neck weights, P0 was markedly different from all other treatments. It can be concluded that cassava leaf flour can be used as a substitute in quail feed to improve non-carcass performance, especially in the treatment of 96% commercial feed + 4% cassava leaf flour.