Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Designing an Infographic Poster for a Social Campaign Regarding Smartphone Addiction: English Haviz Emriadi; Silvana Nurdiani; Muhammad Ghifari; Sri Meiweni Basra
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 14 No. 2 (2025): Gorga: Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v14i2.66225

Abstract

The purpose of this study is to design an infographic-based social campaign strategy as a form of representative effort against smartphone addiction in early childhood. This research method is based on qualitative descriptive. Using interviews and field study documentation as research data, this study analyzed the research subjects, parents who have early childhood experiences in Padang Panjang, using the SWOT method. Meanwhile, the object of this research is the visual communication design of social campaigns with the theme of smartphone addiction. The objective of this research can be achieved through four stages: data source analysis, exploration, planning, and realization.  At the realization stage, three infographic posters were created, namely illustrations of children who passively use smartphones as a form of criticism of digital parenting patterns, infographic designs on the bad impact of smartphones on children, and tips so that children are not addicted to smartphones.  This infographic poster is available in both print and digital forms, making it an efficient medium for conveying complex information on social media.
INTEGRASI LEARNING MANAGEMENT SYSTEM (GOOGLE CLASSROOM) UNTUK OPTIMALISASI PENGAJARAN MANAJEMEN TATA RIAS BERBASIS PROYEK Ririn Amaliah Putri Sarah; Merdila Nuril Fahmi; Fadli Ilham; Syielvi Dwi Febrianty; Sri Meiweni Basra; Dian Fitriarni Sari
LEARNING : Jurnal Inovasi Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/learning.v6i1.9349

Abstract

This study aims to examine the effectiveness of integrating the Learning Management System (LMS) Google Classroom into Project-Based Learning (PjBL) in the Beauty Services Management course, with the goal of enhancing students’ learning outcomes and self-regulated learning. The study employed a quantitative approach with a pre-experimental, one-group pretest–posttest design. The sample consisted of 50 Vocational Education students specializing in Beauty Services, selected through purposive sampling. The research instruments included a project-based learning assessment and a learning independence questionnaire adapted from the Self-Regulated Learning Questionnaire (SRLQ). Data were analyzed using a paired-sample t-test. The results indicated an average increase of 21.9% in learning outcomes and 16.6% in learning independence following the implementation of Google Classroom, with a significance level of p < 0.05, demonstrating a statistically significant improvement. These findings suggest that LMS integration can enhance the effectiveness of project-based learning, strengthen students’ learning autonomy, and promote more active and reflective engagement in the learning process. The study emphasizes that utilizing LMS platforms such as Google Classroom represents a relevant digital learning strategy for vocational education, particularly in supporting the transformation of teaching and learning in the Industry 4.0 era. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas integrasi Learning Management System (LMS) Google Classroom dalam pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning/PjBL) pada mata kuliah Manajemen Tata Rias, dengan tujuan meningkatkan hasil belajar dan kemandirian belajar mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pra-eksperimen tipe one-group pretest–posttest. Sampel penelitian terdiri dari 50 mahasiswa Pendidikan Vokasional Tata Rias yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi tes hasil belajar berbasis proyek dan angket kemandirian belajar yang diadaptasi dari Self-Regulated Learning Questionnaire (SRLQ). Data dianalisis menggunakan uji t berpasangan (paired-sample t-test). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan rata-rata hasil belajar sebesar 21,9% dan kemandirian belajar sebesar 16,6% setelah penerapan Google Classroom, dengan nilai signifikansi p < 0,05, yang menandakan adanya peningkatan yang signifikan secara statistik. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi LMS dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran berbasis proyek, memperkuat kemandirian belajar mahasiswa, serta mendorong mereka menjadi lebih aktif dan reflektif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menekankan bahwa pemanfaatan LMS seperti Google Classroom merupakan strategi pembelajaran digital yang relevan bagi pendidikan vokasional, terutama dalam mendukung transformasi pembelajaran di era Industri 4.0.    
Resepsi Audiens TikTok terhadap Representasi Digital Tari Bagurau: Analisis Encoding-Decoding Mutiah Putri Tresna Asih; Sri Meiweni Basra; Wahida Wahyun; Ariefin Alham Jaya Putra
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): December 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i2.8840

Abstract

Cuplikan Tari Bagurau yang diunggah di akun TikTok @ayief menampilkan perubahan mendasar dari bentuk aslinya, seperti pergantian komposisi penari dari perempuan menjadi laki-laki, penggunaan kostum yang tidak sesuai, serta koreografi yang tidak utuh, sehingga memunculkan beragam respons audiens pada kolom komentar. Penelitian ini bertujuan menganalisis resepsi audiens TikTok terhadap cuplikan Tari Bagurau di ruang digital. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan analisis resepsi berbasis model encoding-decoding Stuart Hall, yang dipilih karena mampu memetakan variasi posisi pembacaan audiens terhadap teks media secara sistematis. Data berupa 206 komentar pada video tersebut dalam rentang tahun 2024-2025 dikumpulkan melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis melalui reduksi, kategorisasi, interpretasi, dan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan tiga posisi resepsi, yaitu dominant reading (48 komentar), negotiated reading (35 komentar), dan oppositional reading yang mendominasi (123 komentar) secara konsisten pada kedua periode. Dominasi oppositional reading membuktikan bahwa kepekaan estetik audiens terhadap Tari Bagurau berakar pada sistem nilai budaya Minangkabau yang mengakar kuat, bukan sekadar reaksi spontan, dan mampu melahirkan pembacaan kritis meski tanpa latar belakang formal dalam dunia tari. Penelitian ini menyimpulkan bahwa TikTok bukan hanya ruang distribusi karya tari, melainkan juga ruang negosiasi makna antara keterbukaan ekspresi digital dan kekuatan sistem nilai budaya lokal. Penelitian lanjutan disarankan memperluas cakupan platform digital dan memperdalam wawancara audiens guna memahami kerangka kultural yang membentuk resepsi mereka.
Penerapan Gerak Imitasi Lingkungan dalam Metode Penciptaan Tari Anak-Anak di SDN 21 Limo Kaum Raizha Putri Yuda; Sri Meiweni Basra; Hardi Hardi; Yan Stevenson
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/2849n491

Abstract

Conventional dance instruction at SDN 21 Limo Kaum tends to be monotonous and lacks exploration, limiting children's creativity. Environmental imitation movement methods, such as imitating the movements of chickens, birds, rabbits, and cats, leverage children's natural curiosity to create relevant and enjoyable dances. This study aims to describe the application of imitation movement through environmental observation in the process of children's dance creation. It focuses on the exploration, improvisation, composition, and evaluation stages to optimize student engagement. A qualitative approach was used, including observations, interviews with teachers and principals, and documentation at SDN 21 Limo Kaum, Tanah Datar Regency. Primary data from the field were supplemented by literature studies for in-depth analysis. This method successfully went through four stages, producing creative, expressive, and contextual dances, increasing participation and environmental awareness. Permanent integration into the arts curriculum is recommended for children's holistic development.
Tari Piriang Badarai Sebagai Sumber Inspirasi Ekonomi Kreatif Pada Sanggar Seni Di Sumatera Barat Annisa Meitawardani; Eva Riyanti Riyanti; Yesriva Nursyam; Sri Meiweni Basra
Jejak digital: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 1 (2026): JANUARI
Publisher : INDO PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/87pp7755

Abstract

Tari Piriang Badarai merupakan tari kreasi yang berkembang di Sumatera Barat dan diciptakan oleh Rasmida. Tari ini tidak hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai sumber inspirasi ekonomi kreatif bagi sanggar seni dan pelaku seni. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Tari Piriang Badarai sebagai sumber ekonomi kreatif pada sanggar seni di Sumatera Barat, serta melihat bentuk pengemasan tari dan nilai tambah ekonomi yang dihasilkan bagi pengelola sanggar, penari, dan pemusik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi pada tiga sanggar seni, yaitu Sanggar Seni Sarueh di Kota Padang Panjang, Sanggar Seni Putri Nan Tungga di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, dan Sanggar Seni Galatiak di Kabupaten Pesisir Selatan. Analisis data menggunakan teori ekonomi kreatif yang didukung oleh pendapat tentang seni pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Piriang Badarai dapat menjadi sumber inspirasi ekonomi kreatif melalui kegiatan pertunjukan dan pengemasan tari yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Pengemasan dilakukan dengan penyesuaian pada gerak, pola lantai, kostum, iringan musik, dan durasi pertunjukan tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional Minangkabau. Kegiatan ini memberikan nilai tambah ekonomi bagi pengelola sanggar, penari, dan pemusik, serta berkontribusi dalam pelestarian budaya lokal. Dengan demikian, Tari Piriang Badarai tidak hanya berperan sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai ekonomi kreatif berbasis budaya yang mendukung keberlanjutan sanggar seni di Sumatera Barat
ALANG SUNTIANG PANGULU DANCE: REGENERATION CRISIS IN CONTEMPORARY SOCIETY Wahida Wahyuni; Zulfikar Rizki Ananda; Sri Meiweni Basra; Fattahul Anugraha; Donny Osmond
Melayu Arts and Performance Journal Vol 9, No 1 (2026): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v9i1.31082

Abstract

Alang Suntiang Pangulu Dance is a ritual dance originating from the community of Nagari Padang Laweh, Agam Regency, West Sumatra, performed during the batagak pangulu ceremony or the inauguration of traditional clan leaders. Currently, the existence of this dance is facing a regeneration crisis caused by an exclusive and genealogically based cultural inheritance system. This study aims to analyze the regeneration crisis of Tari Alang Suntiang Pangulu within the dynamics of cultural transmission in contemporary Minangkabau society. The research employs a qualitative method with an ethnochoreological approach through literature studies and cultural phenomenon interpretation. The Cultural Transmission Theory proposed by Luigi Luca Cavalli-Sforza and Marcus W. Feldman is used as the analytical framework to examine vertical, horizontal, and oblique transmission patterns in sustaining the dance tradition. The findings reveal that the inheritance system of Tari Alang Suntiang Pangulu predominantly operates through vertical transmission within clan and traditional leadership structures. This closed transmission pattern limits regeneration and makes it difficult for the tradition to adapt to contemporary social changes. The regeneration crisis is further intensified by the declining interest of younger generations in ritual arts, the limited performance space, and the dominance of popular culture in modern society. This study argues that the primary issue surrounding Tari Alang Suntiang Pangulu lies not only in cultural preservation efforts but also in the stagnation of traditional cultural transmission systems that have yet to develop adaptive inheritance patterns in the modern era.
ANALISIS MINAT SISWA TERHADAP PEMBELAJARAN SENI TARI DI SD N 01 GUGUK MALINTANG KOTA PADANG PANJANG SUMATERA BARAT Shandya Salsa Billa; Sri Meiweni Basra; Firdaus; Oktavianus
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 4 No. 2 (2026): July - December 2026
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v4i2.599

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis minat siswa terhadap pembelajaran seni tari di SD N 01 Guguk Malintang Kota Padang Panjang, Sumatera Barat. Minat siswa merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran, khususnya dalam bidang seni tari yang menuntut keterlibatan aktif, ekspresi, dan kreativitas siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang melibatkan guru serta siswa sebagai informan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minat siswa terhadap pembelajaran seni tari masih tergolong rendah. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kurangnya fasilitas dan sarana pendukung seperti tidak adanya ruang khusus untuk latihan, metode pembelajaran yang kurang variatif, serta rendahnya motivasi siswa dalam mengikuti kegiatan seni tari. Selain itu, lingkungan belajar yang kurang kondusif juga menjadi kendala dalam meningkatkan minat siswa. Guru telah berupaya meningkatkan minat siswa melalui pemberian motivasi dan penggunaan media pembelajaran, namun hasilnya belum optimal. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa minat siswa terhadap pembelajaran seni tari di sekolah ini perlu ditingkatkan melalui perbaikan sarana dan prasarana, pengembangan metode pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif, serta dukungan dari pihak sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif.
TARI BAGURAU SEBAGAI PENDUKUNG PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF SANGGAR DI KOTA BUKITTINGGI Nuerma Falianti; Hardi; Yesriva Nursyam; Sri Meiweni Basrah
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 4 No. 2 (2026): July - December 2026
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v4i2.604

Abstract

Tari Bagurau merupakan salah satu tari kreasi Minangkabau yang masih ditampilkan dalam berbagai kegiatan masyarakat, seperti pesta pernikahan, penyambutan tamu, kegiatan budaya, dan pariwisata. Selain berfungsi sebagai sarana hiburan dan pelestarian budaya, Tari Bagurau juga memiliki nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan oleh sanggar seni di Kota Bukittinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengelolaan Tari Bagurau, menganalisis pemanfaatannya sebagai pendukung pengembangan ekonomi kreatif, serta mendeskripsikan bentuk promosi yang dilakukan oleh sanggar seni di Kota Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Penelitian dilakukan pada Tari Bagurau yang dikelola oleh Sanggar Puti Limo Jurai, Sanggar Dalamak Kaco, dan Sanggar Gastarana di Kota Bukittinggi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori ekonomi kreatif John Howkins yang menjelaskan bahwa kreativitas dan keterampilan dapat menghasilkan nilai ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Bagurau dimanfaatkan sebagai bagian dari paket pertunjukan yang ditawarkan sanggar dalam berbagai kegiatan masyarakat. Pengelolaan, pengemasan, dan promosi melalui media sosial turut mendukung keberlangsungan pertunjukan Tari Bagurau serta memperluas jangkauan pemasarannya. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Tari Bagurau tidak hanya berperan sebagai media pelestarian budaya Minangkabau, tetapi juga menjadi pendukung pengembangan ekonomi kreatif yang memberikan manfaat ekonomi bagi sanggar seni di Kota Bukittinggi.
FUNGSI TARI ZAPIN PECAH DUA BELAS DI KECAMATAN PANGKALAN KERINCI KABUPATEN PELALAWAN PROVINSI RIAU Rara Aprilia Sudarmas; Hardi; Firdaus; Sri Meiweni Basra
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 02 (2026): Volume 11 No. 2, Juni 2026 Release
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i02.54755

Abstract

This study discusses the function of the Zapin Pecah Dua Belas Dance in Pangkalan Kerinci District, Pelalawan Regency, Riau Province. The purpose of this research is to identify the historical development and functions of the Zapin Pecah Dua Belas Dance in the life of the Malay community in Pelalawan. This research used a qualitative method with a descriptive approach. Data collection techniques were carried out through observation, interviews, and documentation involving five informants who understood the development of the Zapin Pecah Dua Belas Dance. The results of the study show that the Zapin Pecah Dua Belas Dance originated from Islamic cultural influences brought by traders and religious scholars from Johor. In its development, the dance adapted to the local culture of the Pelalawan community and eventually became one of the regional cultural identities. The Zapin Pecah Dua Belas Dance has four main functions, namely entertainment, social, cultural, and religious functions. Besides being performed in traditional ceremonies and community entertainment events, this dance also plays a role in preserving Malay culture through art studios, schools, and support from the local government. The use of social media has also contributed to introducing and preserving the Zapin Pecah Dua Belas Dance among the younger generation so that it remains recognized amid modern developments.
AKTUALISASI NILAI KEMANUSIAAN DALAM EKONOMI LOKAL: ANALISIS INTERDISIPLINER PRODUKSI GULA MERAH TEBU DI JORONG SURAU LUBUAK Ilham, Fadli; Nuril Fahmi, Merdila; Meiweni Basra, Sri; Hafid, Fathurrahman; Surya, Wirma
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Verified
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.64184

Abstract

This article examines the actualization of the Pancasila principle of Just and Civilized Humanity in brown cane sugar production in Jorong Surau Lubuak, Nagari Tigo Balai, Matur District, Agam Regency, through an interdisciplinary perspective. The study employed descriptive qualitative field research. Primary data were collected directly by the research team from 19 December 2025 to 19 January 2026 through observation, structured interviews, and documentation involving producers, collectors or buyers, religious figures, and nagari officials. Official nagari documents were used as supporting data. The data were analyzed through data reduction, data display, conclusion drawing, and triangulation of sources and techniques. The findings show that human values are reflected in the selection of suitable sugarcane, cleanliness of equipment and production sites, limited and disclosed use of natural additives, truthful product-quality information, accurate weighing, quality-based price adjustments, agreed profit-sharing, waste reuse, and smoke control. However, unequal access to production machinery, informal agreements, limited product documentation, and weak institutional support constrain consistent protection. Interdisciplinary analysis identifies complementary development pathways: civic education for ethical governance, information technology for records and traceability, English for product communication, sports education for occupational health and ergonomics, and art for visual identity and culturally grounded packaging. The study concludes that human values in the local economy require ethical conduct, appropriate technology, and accessible institutional support.