Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

HUBUNGAN KONDISI FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN ISPA PADA ANAK BALITA DI DESA TAOPA WILAYAH KERJA PUSKESMAS TAOPA KABUPATEN PARIGI MOUTONG Nenitriana Nenitriana; Miswan Miswan; Zhanaz Tasya
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 1 No. 1: Oktober 2018 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.282 KB) | DOI: 10.56338/jks.v1i1.427

Abstract

Angka kejadian ISPA di Indonesia, pada balita adalah sekitar 10-20% per tahun. Angka kematian ISPA pada balita di Indonesia adalah 6 per 1000 balita. Ini berarti dari setiap 1000 balita setiap tahun 6 diantaranya yang meninggal akibat ISPA sebelum ulang umur 5 tahun. Jika di hitung, jumlah balita yang meninggal akibat ISPA di Indonesia dapat mencapai 150.000 balita per tahun, 12.500 per bulan, 416 per hari, 17 per jam atau 1 orang balita setiap menit. Usia yang rawan adalah usia bayi di bawah 1 tahun, karena sekitar 60-80% kematian terjadi pada bayi, proporsi kematian ISPA pada bayi adalah 29,5%. Artinya dari setiap 100 orang bayi yang meninggal, sekitar 30 orang bayi yang meninggal karena ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kondisi fisik rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa Taopa Wilayah kerja Puskesmas Taopa Kecamatan Taopa Kabupaten Parigi Moutong. Penelitian ini menggunakan  jenis penelitian survey analitik menggunakan pendekatan Cross Sectional,  dengan jumlah sampel sebanyak 52 anak balita uji Statistik  yang digunakan adalah “Chi Square”. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan bermakna antara ventilasi dengan kejadian ISPA pada anak balita dengan nilai ρ 0.000, ada hubungan bermakna antara langit-langit rumah dengan kejadian ISPA pada anak balita dengan nilai ρ 0.000, ada hubungan bermakna antara jenis lantai dengan kejadian ISPA pada anak balita dengan nilai ρ 0.000, dan ada hubungan bermakna antara kamarisasi dengan kejadian ISPA pada anak balita dengan nilai ρ 0.006. Saran kepada instansi diharapkan sebagai bahan evaluasi dan bahan pertimbangan bagi Puskesmas Taopa, Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong, Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Tengah, dan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil suatu kebijakan dalam melaksanakan pemberantasan penyakit ISPA.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEAKTIFAN KUNJUNGAN IBU HAMIL DI PUSKESMAS LAMBUNU 1 KABUPATEN PARIGI MOUTONG Yuliati Yuliati; Sudirman Sudirman; Zhanaz Tasya
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 1 No. 1: Oktober 2018 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.294 KB) | DOI: 10.56338/jks.v1i1.452

Abstract

Pelayanan antenatal care merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan untuk ibu selama masa kehamilannya sampai masa melakukan persalinan, yang dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pelayanan antenatal care di Wilayah Kerja Puskesmas Siniu Kabupaten Parigi Moutong. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional Study dimana data yang menyangkut data variabel independen dan variabel dependen akan dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 53 orang ibu hamil diperoleh dari hasil penghitungan dengan menggunakan rumus penentuan sampel dari 111 populasi ibu hamil yang terdaftar di Puskesmas Siniu Kabupaten Parigi Moutong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap bidan dengan nilai p = 0.11 (p < 0.05) dan standar pelayanan ANC dengan nilai p = 0.000 (p < 0.05), dengan pelayanan ANC ibu hamil di Puskesmas Siniu Kabupaten Parigi Moutong. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah didapatkan ada hubungan kedua variabel independen (sikap bidan dan standar pelayanan ANC) dengan variabel dependen (pelayanan ANC). Ditujukan bagi pihak Puskesmas agar selalu meningkatkan sosialisasi melalui penyuluhan tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan di pelayanan kesehatan dengan tujuan menurunkan angka kematian ibu dan bayi setiap tahunnya.
FAKTOR RISIKO KEJADIAN HIPERTENSI DI KELURAHAN LEMBOMAWO WILAYAH KERJA PUSKESMAS KAWUA Manliono Palita; Nur Afni; Zhanaz Tasya
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 2 No. 1: Oktober 2019 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.764 KB) | DOI: 10.56338/jks.v2i1.833

Abstract

Penyakit hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan darah di atas normal yang ditunjukan oleh angka sistolik dan diastolik pada pemeriksaan tekanan darah. Hipertensi dikenal sebagai silent killer, tebukti sering muncul tanpa gejala. Berdasarkan data WHO tahun 2015 menunjukan bahwa di seluruh dunia sekitar 976 juta orang atau kurang lebih 26,4% penduduk dunia mengidap hipertensi. Sedangkan di Indonesia sendiri sebanyak 1,8% - 28,6% penduduk yang berusia diatas 20 tahun adalah penderita hipertensi. Berdasarkan data yang diperoleh dari  Puskesmas kawua bahwa kasus hipertensi diKelurahan Lembomawo  tercatat sekitar 4,03% atau sebanyak 36 orang penderita hipertensi pada tahun 2017. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor Risiko kejadian hipertensi.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan pendekatan case control study, dengan membandingkan antara kasus dengan kontrol. Cara pengumpulan data yaitu data yang di peroleh dari petugas Puskesmas Kawua, serta analisis yang dipakai adalah analisis univarit da analisis bivariat.Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa ada faktor antara pengetahuan dengan kejadian hipertensi di Kelurahan Lembomawo OR = 1,273. Ada faktor gaya hidup dengan kejadian hipertensi di kelurahan lembomawo OR = 17,714Sesuai dengan hasil penelitian bahwa ada hubungan pengetahuan dan gaya hidup dengan kejadian hipertensi maka peneliti menyarankan bagi penderita hipertensi Perlunya pemeriksaan tekanan darah, pengobatan secara rutin dan merubah pola hidup, dari pola hidup yang tidak sehat ke pola hidup yang baik dan sehat.Sedangkan pada Puskesmas Kawua Kecamatan Poso Kota Selatan Perlunya peningkatan peran serta promosi kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan penderita hipertensi yang ada di Desa-desa yang ada di wilayah kerja Puskesmas tentang penyakit hipertensi, agar penderita dapat mengatur pola hidupnya sesuai dengan pola hidup sehat. Kata Kunci : Pengetahuan,Kebiasaan Merokok,Kebiasaan Minum Alkohol
ANALISIS SISTIM PENGELOLAAN LIMBAH MEDIS PADAT DI PUSKESMAS PANGI KABUPATEN PARIGI MOUTONG Mirawati Mirawati; Budiman Budiman; Zhanaz Tasya
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 2 No. 1: Oktober 2019 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.281 KB) | DOI: 10.56338/jks.v2i1.840

Abstract

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P56/MenLHK-Sekjen/2015 Tentang Tata cara dan persyaratan Tehnis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun  di Fasilitas Pelayanan Kesehatan secara konvensional meliputi hal-hal sebagai berikut : pengurangan, pemilahan pada sumber, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pembuangan dan pemusnahan limbah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui system pengelolaan limbah medis padat di Puskesmas Pangi Kabupaten Parigi Moutong.Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui wawancara mendalam dan pengamatan langsung (Observasi). Dalam penelitian ini menggunakan Purposive Sampling yang berjumlah 11 informan.Proses Pengolahan Limbah Medis Padat Puskesmas yang menurut ketentuan harus dilakukan pemilahan berdasarkan kode warna pada sumbernya dari unit pelayanan, sampai dengan pengolahan akhir Limbah Medis Padat belum dilakukan dengan baik sesuai ketentuan.Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pengelolaan Limbah Medis di Puskesmas Pangi secara keseluruhan belum sesuai dengan PERMEN LHK Npmpr :P56/menLHK/sekjen/2015 Tentang tata cara dan tehnis pengelolaan limbah B3 di Fasyankes. Saran yang diberikan kepada Puskesmas Pangi memperbaiki Sistem Pengelolaan Limbah Medis Padat, untuk Kesehatan Lingkungan dan Masyarakat sekitar puskesmas. Kata kunci: Pengelolaan Limbah Medis Padat, Puskesmas Pangi
Perspektif Masyarakat terhadap Imunisasi pada Anak Usia 0-24 Bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Labuan: Community Perspectives on Immunization in Children Aged 0-24 Months in the Working Area of the Labuan Health Center Nur Afni; Zhanaz Tasya; Sri Astuti
Promotif : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 13 No. 1: JUNE 2023
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/promotif.v13i1.3778

Abstract

Latar Belakang: Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persfektif masyarakat terhadap imunisasi pada anak usia 0-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Labuan. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan maksud untuk menilai persfektif masyarakat terhadap imunisasi pada anak usia 0-24 bulan di wilayah kerja Puskesmas Labuan melalui pengamatan, wawancara mendalam (interview) dan dokumentasi. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa anak tidak diimunisasi disebabkan karena ada tradisi pada masyarakat mereka anak tidak perlu diimunisasi karena ketika dilakukan imunisasi anak panas, rewel, dan disekitar suntikan ada pembengkakan bahkan biasanya bernanah. Pada tradisi mereka cukup ditiup langsung sembuh. Keluarga tidak memberikan dukungan kepada pasangannya untuk dilakukan imunisasi pada anaknya dan orang terdekat mereka seperti nenek dari sang anak. Pengetahun imunisasi itu adalah anak yang dibawah keposyandu untuk disuntik, tapi hanya sekedar tahu bukan pada tingkatan memahami.
Analisis Kualitas Air Minum Isi Ulang di Wilayah Kerja Puskesmas Tete Kabupaten Tojo Una-Una: Analysis of the Quality of Refillable Drinking Water in the Working Area of the Tete Community Health Center, Tojo Una-Una Regency Afifa, Nur; Miswan, Miswan; Tasya, Zhanaz
Jurnal Riset Kualitatif dan Promosi Kesehatan Vol. 1 No. 1 (2022): January 2022
Publisher : Yayasan Sinergi Kawula Muda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61194/jrkpk.v1i1.353

Abstract

Latar belakang: Air minum adalah air yang secara kualitas memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum, baik melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan. Parameter fisika meliputi salah satunya rasa dan bau dan masuk dalam Permenkes No. 492/Menkes/PER/IV/2010. Air menjadi media yang sangat baik bagi transmisi berbagai mikroorganisme. Kandungan total bakteri Coliform dan Escherichia Coli merupakan parameter wajib penentuan kualitas air minum secara mikrobiologi. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 492/Menkes/PER/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum dengan kadar bakteri Echerchia Coli maksimum yang diizinkan adalah 0 per 100 ml sampel. Adapun tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kualitas air minum isi ulang yang di Wilayah Kerja Puskesmas Tete Kabupaten Tojo Una – Una. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air minum isi ulang di wilayah kerja Puskesmas Tete Kabupaten Tojo Una – Una Metode: Jenis Penelitian ini adalah penelitian Experimen dengan menggunakan pendekatan Observasional yang bertujuan untuk mengetahui kualitas air minum isi ulang di Wilayah Kerja Puskesmas Tete Kabupaten Tojo Una-Una. Hasil: Penelitian ini menunjukkan bahwa secara organoleptik depot air minum di Wilayah Kerja Puskesmas Tete Kabupaten Tojo Una-Una melakukan proses pengolahan air yang baik dan sesuai standar yang ditetapkan dalam Permenkes No. 492/Menkes/PER/IV/2010, yaitu air minum memiliki bau air minum layak konsumsi. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa 13 depot air minum isi ulang di Wilayah Kerja Puskesmas Tete pada bakteri E.Coli adalah 0 per 100 ml sampel. Sedangkan hasil uji laboratorium pada bakteri Coliform di 13 depot air minum isi ulang di Wilayah Kerja Puskesmas Tete terdapat 4 depot yang positif mengandung bakteri Coliform yakni Depot Uwelino KJL Mineral sebanyak 5/100 ml, Depot Nutrini Fara sebanyak 124/100 ml, Depot Rasya sebanyak 60/100 ml dan Depot Khusnul Yaqin sebanyak 5/100 ml. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa 9 depot lainnya negatif mengandung bakteri Coliform.Diperlukan pengawasan yang ketat dari Instansi terkait seperti Puskesmas setempat, Dinas Kesehatan dan BPOM terhadap depot air minum isi ulang dan Produsen pemilik DAMIU harus lebih memperhatikan higiene dan sanitasi depot untuk mencegah adanya kontaminasi bakteri Coliform pada AMIU yang dijual.
The Relationship of Motivation and Workload with the Performance of Health Officers in the Work Area of Puskemas Pedongga Pasangkayu District Serly; Sudirman; Zhanaz Tasya
Journal of Health Literacy and Qualitative Research Vol. 4 No. 1 (2024): March 2024
Publisher : Yayasan Sinergi Kawula Muda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61194/jhlqr.v4i1.383

Abstract

Performance in every organization is carried out by human resources available in an organization. In an organization at the Puskesmas, the performance or work results in quality and quantity can be achieved by a health worker if he carries out his main duties and functions as an employee in accordance with the responsibilities assigned or given to him. The purpose of this study was to determine the relationship between motivation and workload with the performance of health workers in the Pedongga Health Center Work Area, Pasangkayu Regency. This type of research is an analytic type of research using a Cross Sectional Study approach where data concerning the data of the independent variable and the dependent variable will be collected at the same time. The number of samples in this study were 37 health workers who work in the Pedongga Health Center Work Area, Pasangkayu Regency (total population). The results showed that there was a significant relationship between workload with p value = 0.033 (p < 0.05), and motivation with p value = 0.005 (p < 0.05) with the performance of health workers in the Pedongga Health Center Work Area, Pasangkayu Regency. The conclusion in this research is that all the independent variables studied have a relationship with the dependent variable, which means that workload and motivation have a relationship with the performance of health workers. Suggestions in the study are expected for the related agencies of the Pedongga Public Health Center, Pasangkayu Regency to be able to improve the performance of health workers so that public health services at the Puskesmas are better.
Pencegahan dan Pengendalian Stunting Pada Balita Melalui Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Dasar Produk Pangan Lokal Tasya, Zhanaz; Yani, Ahmad; Lestari, Ayu; Amelia, Rezi
Poltekita: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Pusat Penelitian & Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/pjpm.v5i2.4055

Abstract

Stunting or chronic malnutrition is a nutritional problem due to a lack of nutritional intake from food that lasts for a long time. Loru Village is one of the villages located in the Biromaru Health Center Working Area, Sigi Regency, Central Sulawesi Province, where Sigi Regency is the district with the highest stunting cases in Central Sulawesi Province and Biromaru Health Center is the Health Center with the highest stunting cases in Sigi Regency. In addition, Loru Village is one of the pumpkin producing areas in Central Sulawesi Province. So through this PKM activity, the partners or cadres of the integrated health post who will be empowered are 20 people, then this group will become a role model for the community. The goal for partners is to innovate Additional Food products in the form of pumpkin-based biscuits to prevent and control stunting and also improve community welfare, The results of this activity are an increase in knowledge and skills for partner groups, both in terms of increasing knowledge about stunting and its impacts, increasing knowledge about the benefits of pumpkin as additional food for toddlers, increasing skills in making biscuits from pumpkin and increasing skills about sustainable food gardens.
ANALISIS DETERMINAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TUBERKULOSIS DENGAN PENYAKIT PENYERTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PARIGI Kalsum, Umi; Salham, Munir; Tasya, Zhanaz
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55066

Abstract

Tuberkulosis (TB) tetap menjadi penyebab kematian utama di dunia, di mana penyakit penyerta (komorbid) secara signifikan meningkatkan risiko kegagalan pengobatan dan kematian. Di wilayah kerja Puskesmas Parigi, kasus TB terus meningkat hingga mencapai 47 kasus pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepatuhan minum obat serta faktor-faktor yang memengaruhinya pada pasien TB dengan penyakit penyerta. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixed methods) dengan model concurrent embedded. Populasi penelitian adalah 177 pasien TB dengan penyakit penyerta di Puskesmas Parigi periode 2020–2024, di mana seluruh populasi dijadikan sampel kuantitatif. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 11 informan. Analisis bivariat menunjukkan hubungan bermakna antara keparahan komorbid (p=0,039), jenis komorbid (p=0,001), dan status pengobatan (p=0,032) terhadap kepatuhan minum obat. Analisis regresi logistik mengonfirmasi bahwa jenis dan keparahan komorbid merupakan prediktor signifikan terhadap kepatuhan. Sebaliknya, tingkat pengetahuan (p=0,622) dan dukungan PMO (p=0,775) tidak memiliki hubungan signifikan. Temuan kualitatif mengungkap bahwa hambatan kepatuhan meliputi efek samping obat, kejenuhan mental akibat polifarmasi, serta kendala ekonomi terkait biaya transportasi. Kepatuhan minum obat lebih dipengaruhi oleh faktor klinis terkait komorbiditas dan faktor praktis harian dibandingkan tingkat pengetahuan pasien. Dukungan keluarga dan pelayanan kesehatan yang proaktif menjadi faktor kunci dalam menjaga keteraturan pengobatan.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI BALITA DI PUSKESMAS BIROMARU Listina Barto; Sudirman Sudirman; Zhanaz Tasya
SEHAT : Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/s-jkt.v5i3.57997

Abstract

Status gizi balita merupakan indikator penting dalam menilai derajat kesehatan anak dan keberhasilan pembangunan kesehatan masyarakat. Permasalahan gizi pada balita masih menjadi tantangan yang sering ditemukan dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari karakteristik ibu maupun kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi status gizi balita di Wilayah Kerja Puskesmas Biromaru. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik potong lintang (cross-sectional). Populasi penelitian adalah seluruh balita usia 6–59 bulan di wilayah tersebut, dengan jumlah sampel sebanyak 94 balita yang dipilih menggunakan teknik proportional random sampling. Variabel independen meliputi tingkat pengetahuan ibu, pola asuh makan, riwayat penyakit infeksi, dan akses pelayanan kesehatan, sedangkan variabel dependen adalah status gizi balita berdasarkan indikator berat badan menurut umur (BB/U). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu berpengaruh signifikan terhadap status gizi balita (p = 0,009; OR = 28,061) dan pola asuh makan juga berpengaruh signifikan (p = 0,001; OR = 67,454). Sementara itu, riwayat penyakit infeksi (p = 0,104) dan akses pelayanan kesehatan (p = 0,223) tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan pengetahuan gizi ibu dan pembinaan pola asuh makan yang tepat perlu menjadi prioritas dalam upaya perbaikan status gizi balita.