cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
JURNAL ILMIAH PLATAX
ISSN : 23023589     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Mencakup Penulisan yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian yang dilakukan secara mandiri, atau kelompok, dan berdasarkan Ruang Lingkup Pengelolaan Wilayah Pesisir, Konservasi, Ekowisata, dan Keanekaragaman Hayati Perairan.
Arjuna Subject : -
Articles 488 Documents
Seagrass Community Structure at Ratatotok Beach, Southeast Minahasa Regency Purba, Dhebby; Wagey, Billy; Luasunaung, Alfret; Manembu, Indri; Sumilat, Deiske; Mantiri, Rose
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 11 No. 2 (2023): ISSUE JULY-DECEMBER 2023
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v11i2.47824

Abstract

The purpose of this research is to know about the type of seagrass, the community structure of seagrass based on the density of type, the density of the relatively, type of frequency, frequency relatively, type of cover, cover relatively, diversity index, dominance and parameter index in surrounding water environment of seagrass at Ratatotok beach. The result of this research is identifying 4 species, namely; Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium dan Halodule pinifolia. The value of density is 39 indv/m2, the value type of frequency is 7.9, the value type of cover is 39.15, importance value index had 159.04%. Thalassia hemprichii, diversity index is “medium” with an average value (H’) of 2.63 and a higher importance index with an average value of C of 0.82. Surrounding waters at Ratototok Beach got a “medium” value of seagrass cover value is 39%. Environmental parameters in surrounding waters at Ratatotok beach had a value within; Temperature 31.95 0C, salinity 29.79o/oo, pH 7.62, DO 5.60 mg/L and the type of substrate found is sandy, sandy mud and coral fragments. Keywords: Seagrass, Community structure, Ratatotok beach. Abstrak Tujuan dilakukan penelitian ini yaitu mengetahui jenis lamun, struktur komuntas lamun berdasarkan kepadatan jenis, kepadatan relatif, frekuensi jenis, frekuensi relatif, penutupan jenis, penutupan relatif, indeks keanekaragaman, indeks dominansi dan parameter lingkungan perairan padang lamun yang berada di sekitar Pantai Ratatotok. Hasil yang di peroleh dari penelitian ini teridentifikasi 4 spesies, yaitu: Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium dan Halodule pinifolia. Dengan nilai kepadatan 39 ind/m2, frekuensi jenis 7,9, penutupan jenis 39,15, Indeks nilai penting (INP) diperoleh nilai 159,04 %,  pada Thalassia hemprichii, Indeks keanekaragaman “sedang” dengan nilai rata-rata (H’) 2,63 dan indeks dominansi tinggi dengan nilai rata-rata C 0,82. Berdasarkan kategori penutupan lamun yang terdapat di sekitar Perairan Ratatotok dikategorikan “sedang” dengan nilai penutupan 39%. Parameter lingkungan antara lain: suhu 31,95 0C, salinitas 29,79 o/oo, pH 7,62, DO 5,60 mg/l dan jenis substrat yang di temukan adalah berpasir, pasir berlumpur dan pecahan karang. Kata kunci : Lamun, Struktur Komunitas, Pantai Ratatotok
DESKRIPSI SUMBERDAYA PERIKANAN DESA TUMBAK MADANI KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Hartarto Sormin; Djuwita R. R. Aling; Olvie V. Kotambunan
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 1 No. 2 (2013): EDISI JANUARI - APRIL 2013
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.1.2.2013.1246

Abstract

DESKRIPSI SUMBERDAYA PERIKANAN DESA TUMBAK MADANI KABUPATEN MINAHASA TENGGARA1 Description of Fisheries Resources at Tumbak Madani Village, District Minahasa Tenggara Hartarto Sormin2, Djuwita RR Aling3, Olvie V Kotambunan3   ABSTRACT   This research is conducted to identify any potential resources in Tumbak Madani village, Pusomaen district, Minahasa Tenggara, North Sulawesi province. The methodology is using several case studies that are acquired by conducting an intensive close contact research with the people. The population of Tumbak Madani village is 512 people and consists of 249 females and 263 males. There are 109 people who received education and most of the villagers are fishermen about 130 people. As an Islamic village, Tumbak Madani has an Islamic social interaction and culture such as social stratification, ritual for new born baby and other cultural law. There are two social groups within the people that are women Islamic group and fishermen group. Coral reef area is the main economic resource for the people in Tumbak Madani village. The area is the habitat for 7 mangrove types and 53 fish family that divided into fish for consumption and fish for ornamental. Tourism and marine fish farming seem to be the next economic opportunity to explore all of Tumbak Madani resources.   Keywords : Tumbak Madani, potency, fishery resources, culture   ABSTRAK penelitian ini untuk mengetahui dan mengungkapkan apa saja potensi desa Tumbak Madani Kecamatan Pusomaen, Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara. Dasar penelitian yang digunakan studi kasus, yaitu salah satu tipe pendekatan dalam penelitian yang dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail, dan komprehensif. Potensi Sumberdaya Manusia yang dimiliki oleh desa terdiri dari 512 jiwa, 249 wanita dan 263 pria, masyarakat desa paling banyak bermata pencaharian sebagai nelayan sebanyak 130 orang, agama yang mereka anut 100% beragama islam. Ada 2 Kelompok sosial di desa, kelompok pengajian ibu-ibu dan kelompok karya nelayan bagi pria.  Potensi Sumberdaya Perikanan yang dimiliki oleh desa meliputi terumbu karang yang berguna bagi desa yang berfungsi menghasilkan perekonomian bagi masyarakat desa dalam berperan penting dalam melestarikan ikan konsumsi dan ikan hias terdapat 53 family ikan yang ada di desa sehingga berpotensi untuk budidaya ikan air laut, selain terumbu karang desa Tumbak Madani juga memiliki 7 spesies tumbuhan mangrove, yang telah dimanfaatkan untuk membuat pagar dan juga kayu api untuk memasak dan juga berpotensi sebagai potensi pariwisata.   Kata kunci : Tumbak Madani, potensi, sumberdaya perikanan, budaya 1 Bagian dari skripsi 2 Mahasiswa Program Studi Agrobisnis Perikanan FPIK-UNSRAT 3 Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi
The Inhibitory Power Extract Of Balsamica Plant (Impatiens balsamica L) on Aeromonas hydrophila Bacteria Growth Galih Arif Kusuma; Sammy N. J. Longdong; Reiny A. Tumbol
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 2 No. 2 (2014): EDISI MEI - AGUSTUS 2014
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.2.2.2014.7147

Abstract

This research aimed to assess the potential use of extracts of leaves, flowers, and stems of the balsamica plant increase inhibitory effect on the growth of Aeromonas hydrophila. The content of the plant contains a compound balsamica naphthoquinone, coumarin derivatives, tannins, flavonoids, and steroids. The active compounds have the ability as an antimicrobial. A hidrophyla bacteria, including opportunistic pathogens are almost always found in water and often cause disease when the fish in adverse conditions. Antibacterial activity test in this research using the spread plate method. Data obtained in the form of the extract, the results of bacterial inoculation, and the inhibition test results, will be analyzed, displayed with pictures and described descriptively. The result of the process of maceration extraction using ethanol 70% was obtained three extracts are concentrated leaf extract: 28.75 g, flower: 12.82 g, and rods: 29.48 g. The result of antibacterial extracts of leaves, stems, and flowers balsamica plant showed inhibitory activity on the A hydrophila bacteria that seems to be indicated by a clear zone around the paper disc. Based on the classification of leaf extract and extract of the stem can be classified in the class of strong, because the inhibition zone formed by the leaf extract is equal to 11.2 mm, and extract stem with 13.7 mm inhibition zone. Ability flower extract in inhibiting the growth of A hidrophila bacteria with 21.4 mm inhibition zone showed that the extract was included in a very strong class. Keywords: The ethanol extract balsamica, Impatiens balsamica L, Aeromonas hydrophila, antibacterial activity test.
Distribusi dan Kelimpahan Pterapogon kauderni Koumans, 1933 (Apogonidae) di Selat Lembeh Bagian Timur, Kota Bitung Nathasya sheilla Thiffany Carlos; Ari B. Rondonuwu; Vctor N.R. Watung
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 2 No. 3 (2014): EDISI SEPTEMBER-DESEMBER 2014
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.2.3.2014.9124

Abstract

This study was aimed at knowing the distribution of Banggai cardinalfish, Pterapogon kauderni, using haphazard survey method. Data collection was done in Lembeh Strait,  Mawali, Batu Lubang, and Kareko. The fish found in 3 locations inhabited several habitats, such as anemone, corals, can, garbage, and sea urchin, in which sea urchin Diadema sp., is the habitat outnumbering the other habitats and the most used. The interesting point of this study is the fish were recorded in branching corals, and even there was one site where sufficient number of branching coral colonies was used as the habitat of Pterapogon kauderni. Thus, this study suggested that the distribution of  Pterapogon kauderni will follow the natural habitat condition and not be always dependent upon the sea urchin colony.   Keywords : Distribution, habitat, dominance ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui distribusi ikan capungan Pterapogon kauderni dengan metode survey jelajah. Pengambilan data penelitian dilakukan di Pulau Lembeh, kelurahan Mawali,Batu Lubang, Kareko. Ikan Pterapogon kauderni yang ditemukan pada 3 lokasi penelitian mendiami beberapa jenis habitat, seperti anemone, karang, kaleng/sampah dan bulu babi genus Diadema sp., yang merupakan habitat yang medominasi dibandingkan dengan habitat lainnya. Hal yang menarik dari penelitian ini adalah  ikan Pterapogon kauderni juga teramati di koloni-koloni karang bercabang, dan bahkan di satu lokasi beberapa jumlah koloni karang bercabang yang dijadikan habitat Pterapogon kauderni. Dengan demikian diduga bahwa sebaran populasi Pterapogon kauderni juga akan menyesuaikan dengan kondisi habitat alami yang ada dan tidak akan selalu tergantung pada koloni bulu babi.   Kata Kunci : Distribusi, habitat, dominasi 1 Bagian dari skripsi 2 Mahasiswa Program Studi Agrobisnis Perikanan FPIK-UNSRAT 3 Staf pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulang
Spatial Distribution of Marine Debris on Northern Coastal Waters of Minahasa Moningka, Ivana Trixie Louisa; Sangari, Joudy R. R.; Wantasen, Adnan S.; Lumingas, Lawrence J. L.; Moningkey, Ruddy D.; Pelle, Wilmy E.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 1 (2021): ISSUE JANUARY - JUNE 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.1.2021.34021

Abstract

Marine debris is one of the biggest pollution problems in the world. There are various potentials of marine and beach tourism to attract tourists, but in turn, cause a waste disposal accumulation and coupled with the built-in garbage that comes from the sea. The research was conducted at Tasik Ria Beach, Tombariri, and Marine Field Station of the Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Sam Ratulangi University in Likupang. The aims of this study were (1) to identify the types of marine debris, and (2) to determine and compare the spatial distribution pattern of marine debris in the two designed locations. The sampling technique adapted from the shoreline survey methodology designed by NOAA was used in the study. Data were then statistically processed and analyzed using data mining software (MS Excel and Orange). This study found that the category of plastic and rubber waste is the most common category with the total amount on Tasik Ria Beach 54.39% and 97.55% in the Marine Field Station of Faculty of Fisheries and Marine Sciences in Likupang respectively. The correlation coefficient between the composition of the amount and mass of marine debris is 0.89 which indicates a close relationship between the amount and mass composition. There are many factors that cause the distribution of various types of marine debris, one of which is the activities of the people around the coastal area.Keywords: Marine debris; Category; Type; CompositionAbstrakSampah laut merupakan salah satu masalah polusi yang besar di dunia. Beragam potensi wisata bahari dan pantai menjadi daya tarik wisatawan namun aktivitas wisata dapat mengakibatkan adanya buangan sampah oleh masyarakat dan wisatawan, ditambah lagi dengan sampah bawaan yang berasal dari laut. Penelitian ini dilakukan di Pantai Tasik Ria, Tombariri dan Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi untuk mengidentifikasi jenis sampah laut di perairan pantai Minahasa bagian utara dan mengetahui persebaran dan perbandingan distribusi sampah laut dua lokasi penelitian. Berdasarkan hasil pengambilan sampel dengan mengadaptasi metode Shoreline Survey Methodology berdasarkan NOAA yang kemudian diolah dan dianalisis secara statistik dengan menggunakan beberapa perangkat lunak (MS Excel dan Orange) diperoleh kategori sampah plastik dan karet sebagai kategori yang paling banyak ditemukan dengan komposisi jumlahnya di Pantai Tasik Ria sebesar 54,39% dan 97,55% di Laboratorium Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Nilai koefisien korelasi antara komposisi jumlah dan massa sampah laut sebesar 0.89 yang menyatakan hubungan yang erat antara komposisi jumlah dan massa. Banyaknya faktor yang menyebabkan terdistribusinya beragam jenis sampah laut, salah satunya adalah aktivitas masyarakat di sekitar wilayah pesisir.Kata kunci: Sampah Laut; Kategori; Jenis; Komposisi
Structure of the Seagrass Community in Meras Beach, Bunaken District, Manado City, North Sulawesi Manurung, Nia Dopa; Kondoy, Khristin; Rondonuwu, Ari B.; Wantasen, Adnan; Mantiri, Rose O. S. E.; Manengkey, Hermanto
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.37826

Abstract

Seagrass is a flowering plant (Angiospermae) that grows and breeds on the bottom of shallow sea waters, from tidal areas (intertidal zone) to sublittoral areas. The role of seagrass in shallow marine waters is as a primary producer, as a habitat for biota, catching sediments, and a nutrient recycler. The existence of seagrass is influenced by several factors, namely: temperature, salinity, depth, brightness, nutrients, and salinity. The purpose of this study was to determine the Relative Density, Relative Abundance, Relative Dominance, Frequency, Relative Frequency, Important Value Index, Diversity Index, and Dominance Index, to determine the types of seagrass and to determine the condition of the aquatic environment. This research uses the quadratic methods and line transect. This research was conducted on May 28, 2021, at Meras Beach, Bunaken District, Manado City, North Sulawesi. The number of stands of seagrass species in the study area ranged from 23-320 individuals, species density (8.36-116.36 individuals/m2), relative density (3.62-50.47%), frequency of presence (0.037- 0.50 ), relative frequency (3.62- 50.47%), dominance index (0.072-1.009), the diversity index (1.236), index of the importance of seagrass in Meras Coastal Waters showed that Cymodocea rotundata had the highest important value index among the 5 seagrass species, namely 151.41%. There are 5 species of seagrass found in Meras Coastal Waters, namely, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii. The environmental conditions in Meras Beach are temperature 29°C, salinity 35‰, the brightness is quite clear and has a substrate of sand, muddy, sand mixed with mud, muddy mixed with sand, and coral fragments.Keywords: Meras Beach; Seagrass; Community Structure.AbstrakLamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang tumbuh dan berkembang biak pada dasar perairan laut dangkal, mulai daerah pasang surut (zona intertidal) sampai dengan daerah sublitoral. Peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal sebagai produsen primer, sebagai habitat biota, penangkapan sedimen dan sebagai pendaur zat hara. Keberadaan lamun dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: suhu, salinitas, kedalaman, kecerahan, nutrient dan salinitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Kepadatan Relatif, Kelimpahan Relatif, Dominasi Relatif, frekuensi, Frekuensi Relatif, Indeks Nilai Penting, Indeks Keanekaragaman, dan Indeks Dominasi, untuk mengetahui jenis-jenis lamun dan untuk mengetahui bagaimana kondisi lingkungan perairan. Adapun penelitian ini menggunakan metode kuadrat dan line transek. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2021, dilakukan di Pantai Meras, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara. Jumlah tegakan spesies lamun di lokasi penelitian berkisar dari 23-320 individu, kepadatan spesies (8,36-116,36 individu/m2), kepadatan relatif (3,62- 50,47%), frekuensi kehadiran (0,037- 0,50) , frekuensi relatif (3,62- 50,47%), indeks dominasi (0,072-1,009), indeks keanekaragaman (1,236), indeks nilai penting lamun di Perairan Pantai Meras menunjukkan bahwa Cymodocea rotundata memiliki indeks nilai penting paling tinggi diantara ke 5 spesies lamun yakni 151, 41 %). Spesies lamun yang ditemukan di Perairan Pantai Meras berjumlah 5 yaitu, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii. Kondisi lingkungan di Perairan Pantai Meras yakni suhu 29°C, salinitas 35‰, kecerahan cukup jernih dan memiliki substrat pasir, berlumpur, pasir bercampur lumpur, berlumpur campur pasir dan pecahan karang. Kata kunci: Pantai Meras; Lamun; Struktur Komunitas.
Composition and Condition Of Coral Reefs In Dudepo Cape, South Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi Ali, Fajri Nurul; Rondonuwu, Ari B.; Pratasik, Silvester B.; Wantasen, Adnan S.; Bataragoa, Nego E.; Kusen, Janny D.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.38203

Abstract

This study aims to determine the composition and condition of coral reefs in Dudepo Cape, South Bolaang Mongondow Regency. The method used is Line Intercept Transect (LIT). Data were collected by SCUBA diving at 3 meters and 10 meters depths. In 3 meters depth was found biotic components such as Acropora and non-Acropora with 6 growth forms, and five other biotic components, while abiotic components were only found in coral rubbles (R). In 10 meter depth was found biotic components live coral with 7 growth forms, and five other biotic components, while the abiotic components as sand and coral rubbles. In two depths, the coral reef component dominant were Acropora digitate (ACD) and Acropora branching (ACB). The condition of coral reefs at 3-meter depth and 10 meters were  “Fair”  with the percent cover of live corals being 35.59% and 37.30%.Keywords: Coral; Coral Reef; ConditionAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kondisi terumbu karang di Tanjung Dudepo Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Line Intercept Transect (LIT). Pengambilan data dilakukan dengan penyelaman SCUBA pada kedalaman 3 meter dan 10 meter. Pada kedalaman 3 meter ditemukan komponen biotik berupa karang hidup acropora dan non-acropora dengan 6 bentuk pertumbuhan, dan 5 komponen biotik lainnya, sedangkan komponen abiotik hanya ditemukan berupa pecahan karang. Pada kedalaman 10 meter ditemukan komponen biotik berupa karang hidup dengan 7 bentuk pertumbuhan, dan 5 komponen biotik lainnya, sedangkan komponen abiotik berupa pasir dan pecahan karang. Pada dua kedalaman, bentuk pertumbuhan yang mendominasi yaitu acropora digitate dan acropora branching. Kondisi terumbu karang pada lokasi penelitian khususnya pada kedalaman 3 meter dan 10 meter yaitu berada pada kategori cukup dengan persentase tutupan sebesar 35,59% dan 37,30%. Kata kunci: Karang; Terumbu Karang; Kondisi.
Morphological Characteristics and Shell Color Of Littoraria pallescens Prosobrancia Molusca From Different Mangrove In Tongkaina Waters, Manado City Salawati, Vellysa Friendly; Mantiri, Desy Maria Helena; Boneka, Farnis Bineada; Mamangkey, Noldy Gustaf Frans; Warouw, Veibe; Kalesaran, Ockstan
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.38559

Abstract

The purpose of this study was to identify sea slugs L. pallescens taken from two different mangroves, namely Rhizophora mucronata and Avicennia marina in Tongkaina waters, Bunaken District, Manado City based on morphology and anatomy as well as shell color. Identification of mangroves and sea slugs refers to the identification book. The results obtained were L. pallescens species with elongated and tapered morphology at the end of the shell measuring 0.3-2.7 cm. The operculum is purple. The color of the shell obtained was 66.85% consisting of dark colors (black, black, orange, brown and gray spots), occupying the stems and roots of the mangrove, while the light colors (yellow, yellow, dark spots and red) were found to be 33.15%, occupying the leaves and stems of mangroves. The high survival rate of L. pallescens was found in the mangrove roots. This species was found in R. mucronata by 65.26% while in A. marina only 34.74%, this could be caused by differences in the shape of the mangrove roots.Keywords: L. pallescens; Mangrove; Shell color; MorphologyAbstrakTujuan penelitian ini adalah mengindentifikasi siput laut L. pallescens yang diambil dari dua mangrove berbeda yaitu Rhizopora mucronata dan Avicennia marina di perairan Tongkaina, Kecamatan Bunaken, Kota Manado berdasarkan morfologi dan anatomi serta warna cangkang. Identifikasi mangrove dan siput laut merujuk pada buku identifikasi. Hasil penelitian yang diperoleh yaitu spesies L. pallescens dengan bentuk morfologi memanjang dan meruncing, pada bagian ujung cangkang berukuran  0,3-2,7 cm. Operculum berwarna ungu. Warna cangkang yang diperoleh 66,85% yang terdiri dari warna gelap (hitam, hitam bercak orange, coklat dan abu-abu), menempati bagian batang dan akar mangrove sedangkan warna terang (kuning, kuning bercak gelap dan merah) didapat 33,15%, menempati bagian daun dan batang mangrove. Tingginya kelangsungan hidup  L. pallescens berada pada bagian akar mangrove. Spesies ini ditemukan pada R. mucronata sebesar 65,26% sedangkan pada A. marina hanya 34,74%, hal ini dapat disebabkan oleh karena perbedaan bentuk akar mangrove.  Kata Kunci: L. Pallescens; Mangrove; Warna cangkang; Morfologi
Distribution of Size of Banggai Cardinal Fish Pterapogon kauderni Koumans, 1933 in the Front Waters of Dudepo, South Bolaang Mongondow Regency Pongajouw, Oxha Putra; Rondonuwu, Ari B.; Bataragoa, Nego E.; Kalesaran, Ockstan; Lohoo, Anneke V.; Salaki, Meiske S.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.38695

Abstract

 This study aims to determine the distribution of sizes and morphological characters of Banggai Cardinal fish in the waters in front of Dudepo Village, South Bolaang Mongondow Regency. Field data collection using the explorer survey method with diving and snorkeling activities. Fishing in each microhabitat with “Sibu” fishing gear. The size distribution of cardinal Banggai fish is in the range of 2.7 - 9.2 cm. The size of the male Banggai Cardinal fish is in the range of 3.8 - 9.2, while the female is in the range of 3.7 - 8.1 cm. The size of fish in symbiosis with anemones is in the range of 2.7 - 7.1 cm, while those in sea urchins are in the range of 4.8 - 9.2 cm.Keywords: Size Distribution; Banggai Cardinal fish; morphological charactersAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran ukuran dan karakter morfologi ikan banggai kardinal di perairan Desa Dudepo, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Pengambilan data lapangan menggunakan metode survei jelajah dengan kegiatan penyelaman dan snorkling.  Penangkapan ikan di setiap mikrohabitat, dengan alat tangkap “Sibu”.  Sebaran ukuran ikan banggai kardinal berada pada kisaran 2,7 - 9,2 cm.  Ukuran ikan banggai kardinal jantan berada pada kisaran 3,8 - 9,2, sedangkan betina berada pada kisaran 3,7 - 8,1 cm.  Ukuran ikan yang bersimbiosis dengan anemon berada pada kisaran 2,7 - 7,1 cm, sementara yang berada di bulu babi berkisar 4,8 - 9,2 cm.
Gastropod Community Structure in Ecosystem Lamun Village Lihunu North Minahasa Regency North Sulawesi Province Manaida, Frendi; Lalita, Jans D.; Salaki, Meiske S.; Lumingas, Lawrence J. L.; Menajang, Febry S. I.; Ompi, Medy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.38741

Abstract

The research was conducted in the seagrass ecosystem of Lihunu Village, East Likupang Subdistrict, North Minahasa Regency, and North Sulawesi Province.  The area is one of the coastal areas in North Sulawesi that lack information about gastropod resources. Therefore, the main reason for conducting research is to find out the presence of gastropods in the area.  The purpose of the study was to know the types of gastropods and to know the structure of communities through species density, relative density, diversity, and dominance. Sampling is done using the quadratic transect technique measuring 50 x 50 cm.  Quadrate used 50 cm x 50 cm, then converted to square meters to 0,25 m2. The density of the species is 4,80 Ind/m2.  The relative density value of the species with the highest percentage is in Euplica scripta Species with a value of 14,44% and the species with the lowest percentage value, namely Cymbiola vespertilio Species with a value of 0,56%.  Diversity index values in 3 transects fall under the high criteria. Transect 1 is H'= 5.30, transect 2 is H'= 4,18 and transect 3 is H' = 3,95. And the highest dominance value in Euplica scripta Species with a value of C = 0,48.  The water area of Lihunu Village of North Minahasa Regency has an average temperature of 30 ° C.  Salinity is obtained with an average of 30‰. The degree of acidity (pH) obtained is 8.Keywords: Gastropod; Community Structure; Lihunu.AbstrakPenelitian dilakukan di ekosistem lamun perairan Desa Lihunu, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Daerah tersebut menjadi salah satu daerah pesisir di Sulawesi Utara yang kekurangan informasi mengenai sumberdaya gastropoda. Oleh karena itu, yang menjadi alasan utama melakukan penelitian adalah untuk mengetahui keberadaan gastropoda di daerah tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui jenis-jenis gastropoda serta mengetahui struktur komunitas melalui: Kepadatan spesies, kepadatan relatif, keanekaragaman, dan dominansi. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik transek kuadrat berukuran 50 x 50 cm. Kuadrat yang dipakai 50 cm x 50 cm, kemudian dikonversikan ke meter persegi menjadi 0,25 m2. Nilai kepadatan spesies yaitu 4.80 Ind/m2. Nilai kepadatan relatif jenis dengan persentase tertinggi terdapat pada Spesies Euplica scripta dengan nilai 14.44% dan spesies dengan nilai persentase terendah yaitu Spesies Cymbiola vespertilio dengan nilai sebesar 0,56%. Nilai indeks keanekaragaman di 3 transek masuk dalam kriteria tinggi. Transek 1 yaitu H’= 5,30 ,pada transek 2 yaitu H’= 4,18 dan transek 3 yaitu H’ = 3,95. Dan nilai dominansi tertinggi pada Spesies Euplica scripta dengan nilai C = 0.48. Daerah perairan Desa Lihunu Kabupaten Minahasa Utara memiliki rata-rata suhu 30°C. Salintas yang diperoleh dengan rata-rata 30‰. Derajat keasaman (pH) yang diperoleh yaitu 8.Kata kunci :Gastropoda; Struktur Komunitas; Lihunu.

Filter by Year

2012 2025