cover
Contact Name
Alfian Rokhmansyah
Contact Email
jurnalilmubudaya.fibunmul@gmail.com
Phone
+6285385388335
Journal Mail Official
jurnalilmubudaya.fibunmul@gmail.com
Editorial Address
Jl. Ki Hajar Dewantara, Gunung Kelua, Kec. Samarinda Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia 75123
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 25497715     EISSN : 25497715     DOI : -
Jurnal Ilmu Budaya (Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya) merupakan jurnal yang dikelola oleh Fakultas Ilmu Budaya sebagai media publikasi ilmiah hasil penelitian dalam bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya, termasuk pengajarannya. Terbit sebanyak empat kali setahun, yaitu pada bulan Januari, April, Juli, dan Oktober, dan diterbitkan hanya dalam format elektronik.
Arjuna Subject : -
Articles 617 Documents
Reprsentasi Masalah Sosial dalam Game A Space For The Unbound Kajian Analisis Wacana A Teun Vand Dijk Sebastian, Awang Gandi; Purwanti, Purwanti; Hanum, Irma Surayya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9, No 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i1.18521

Abstract

Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah menganalisis representasi masalah sosial dalam Game A Space For The Unbound. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan masalah-masalah sosial yang terdapat dalam game tersebut berdasarkan indikator dan kategori yang telah ditetapkan.Metode penelitan yang digunakan ialah metode kualitatif. Penelitian metode ini berfokus pada eksplorasi dan pemahaman makna di balik sejumlah individua tau kelompok orang terkait dengan masalah-masalah sosial. Pendekatan kualitatif secara umum digunakan untuk menyelidiki aspek-aspek kehidupan masyarakat, sejarah, perilaku, konsep, masalah sosial, dan topik-topik lainnya. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan teknik analisis wacana Teun A Van Dijk, untuk meneliti struktur teks, wacana kognisi, dan wacana konteks sosial, lalu dihubungkan dengan teori representasi Stuart Hall. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Game A Space For The Unbound merepresentasikan masalah-masalah sosial seperti pedagang yang nakal, perundungan, kekerasan dalam rumah tangga, dan premanisme yang kuat adanya relevansi masalah sosial yang ada di kehidupan sehari-hari.
THE REPRESENTATION OF RACISM IN TILL (2022) FILM BY CHINONYE CHUKWU Ahmad, Noor Islamiyah; Ariani, Setya; Sanhadi Rahayu, Famala Eka
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9, No 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i1.14024

Abstract

One of the social problems that often arise is racism. Racism is injustice against other races. Therefore, this study discusses the representation of racism in Till’s (2022) film by Chinonye Chukwu. This research aims to describe the levels of racism using Jones’ theory and the emotional impacts of racism using Rosenblat’s theory in Till’s film, which Mamie Till experiences as the main character. The researchers also used the qualitative method, sociological approach, and Mikos data analysis. In this study, the researchers found that Mamie Till experienced three levels of racism. The first institutionalized racism that Mamie experienced was differential access to services and opportunities. Second, personally mediated racism appears as a lack of respect, dehumanization, discrimination, prejudice, scapegoating, and acts of omission. Third, internalized racism in Mamie is resignation. The racism experienced by Mamie made her feel the emotional impacts of racism. The first is grief, in the form of emotional pain, affects the individual's functioning, and sadness. Next is rage, in the form of intense anger. The last humiliation, in the form of demeaned and discredited
Posisi Perempuan dalam Pemilu 2024 pada Media Sosial X: Kajian Analisis Wacana Kritis Sara Mills Sari, Melia; Triyoga, Anwar Ibrahim
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i2.19235

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana perempuan diposisikan dalam wacana media sosial, khususnya melalui cuitan/tuturan selama masa pemilu Indonesia 2024. Urgensi penelitian ini berdasarkan pada meluasnya permasalahan yang seharusnya dapat ditilik lebih jauh perihal perempuan di hadapan politik dan masa pemilu. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana perempuan diposisikan berdasarkan posisi subjek-objek dan pembaca melalui teks. Analisis ini akan dikaji menggunakan pisau analisis wacana kritis Sara Mills. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini adalah cuitan/tuturan berupa teks yang mengandung diskurus mengenai isu perempuan selama pemilu 2024. Sedangkan sumber data yang digunakan ialah media sosial X. Data penelitian dikumpulkan menggunakan teknik sadap dan catat. Data penelitian dianalisis menggunakan teknik telaah baik secara teks maupun kontek, dan selanjutnya pemaparan mengenai aspek yang menjadi fokus utama pembahasan. Setelah pemaparan mengenai analisis data maka kemudian dilakukan penarikan kesimpulan. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa cuitan mengenai isu-isu perempuan selama masa pemilu 2024 dalam media sosial X terdapat tiga isu yang mendominasi yakni (1) kebijakan/produk hukum terkait perempuan, (2) objektifikasi terhadap perempuan, (3) representasi perempuan dalam kontestasi politik. Berdasarkan masing-masing isu tersebut merefleksikan pemahaman patriarki serta narasi objektifikasi tentang perempuan selama masa pemilu 2024. Posisi subjek acapkali dipegang oleh orang atau sekelompok masyarakat dengan pemahaman patriarki. Kemudian posisi objek pada cuitan atau tuturan tersebut seringkali menggambarkan bagaimana perempuan terdegradasi menjadi peran yang pasif. Terkait posisi pembaca terlihat bahwa mayoritas memperkuat pandangan yang merendahkan perempuan, mengabaikan suara dan pengalaman mereka, serta mengukuhkan posisi inferior perempuan dalam masyarakat
Islamic Talqin in Javanese Community Funeral and Its Relation to Language Socialization: An Ethnolinguistic Research Gunawan, Sindy Alicia; Qadafi, Ahmad Muammar
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i2.17756

Abstract

Studies on funeral practices among cultures have shown that the practice revolving around death can reveal a lot about the culture. This ethnolinguistic research aims to describe the phenomenon of Islamic talqin as a funeral practice in a Javanese community in Central Kajen, Giri village, Kebomas subdistrict, Gresik city and explore its connection to language socialization. Qualitative strategies involving direct observation and interviews were implemented to conduct this study. In order to describe the funeral practice and investigate its connection to the language socialization of the community, the techniques of analysis used microlevel and macrolevel analysis. The findings show that the talqin practice exhibits the community’s perception about death which experiences gradual change from youth to adults. Moreover, in relation to the language socialization within the community, it is found that the comprehension of Javanese language and Arabic key terms in Islamic teaching relevant to the shared religious identity within the community are deemed as key features to be accepted as a competent member of the community. Keywords: funeral, Javanese community, language socialization, talqin
Schizophrenic Language and Behaviour Analysis of the Main Character in Do Androids Dream of Electric Sheep? Novel Lina, Ester; Rahayu, Famala Eka Sanhadi
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i2.19056

Abstract

Humans should be able to convey their thoughts and feelings to one another with minimal problems. However, when an individual’s brain is affected by a condition such as schizophrenia, effective communication can become challenging due to disrupted cognition, leading to what could be considered a language disorder. This concept was portrayed through the character John R. Isidore, a main character in Philip K. Dick's novel Do Androids Dream of Electric Sheep? The researcher was intrigued to study how Isidore exhibited behaviours associated with schizophrenia and to identify the language disorders he experienced within the context of post-apocalyptic San Francisco. To explore this, the researcher first examined Isidore’s thoughts and actions as described by the author, employing the psychopathology of schizophrenia framework established by Lindenmayer & Khan (2012). The researcher then analyzed the language disorders present in Isidore's character using the thought and language index (TLI) instrument. The analysis revealed that Isidore displayed a comprehensive range of symptoms across the schizophrenia spectrum, with a notable prominence of positive symptoms. Moreover, Isidore manifested all eight language disorders associated with schizophrenia, with the most pronounced of these disorders was the perseveration of ideas. Keywords: schizophrenia, symptoms, language disorders, Do Androids Dream of Electric Sheep?
SELF-ACTUALIZATION OF AGATHA AND SOPHIE IN CHAINANI’S THE SCHOOL FOR GOOD AND EVIL NOVEL Bungan, Winny; Asanti, Chris; Ariani, Setya
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i2.10043

Abstract

This study discusses the fulfillment of self-actualization of Agatha’s and Sophie’s characters in The School for Good and Evil novel by Soman Chainani. The fulfillment is done by finding out the forms of ideal self and real self of the two characters. The theory applied in this study is self-actualization by Carl Rogers. Words in the forms of narrations and dialogues relating to the discussion of self-actualization of the two selected characters were the data in this study. The research design of this study was qualitative with humanistic approach. The results revealed that the two characters successfully fulfilled their self-actualization. However, Agatha’s process was less problematic compared to Sophie’s due to the different environment they lived in. Agatha’s character lived in a positive and supportive environment that allowed her to believe in herself. On the other hand, Sophie’s character lived in a negative and toxic environment where everyone doubted her efforts in becoming a fully functioning person. These results were found through the characterizations of discursive and dramatic methods
Social Conflict That Portrayed In "The House On Mango Street" Novel Wildan, Muhammad; Muhajir, Fatimah; Sudirman, Eka Pratiwi
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i2.19016

Abstract

Social conflict can be defined as a battle over values, and claims to limited status, power, and resources in which the opponent's goal is to neutralize, harm, or eliminate their rival. Social conflict also refers to disagreements and tensions that arise between different groups of people in society. This study aimed to explore two categories of social conflict presented in Sandra Cisneros' The House on Mango Street: realistic and nonrealistic conflict. The researcher analyzed the novel using a sociological approach, focusing on social conflict by Lewis Coser as a central theme. Elements such as realistic and nonrealistic conflict are examined in the context of the social struggles faced by the novel's characters. The researcher argues that social conflict has the potential to influence and transform human behavior and attitudes within society. Utilizing qualitative methods, the study investigates the experiences and social realities of the characters. Data were collected from words, phrases, clauses, sentences, and paragraphs related to social conflicts throughout the narrative. The analysis reveals that indirect characterization through dialogue and character behavior is a key feature of the novel, with no direct characterization being evident. The study identifies various social conflicts, particularly between Esperanza, an immigrant, and other characters. The findings indicate that realistic conflicts emerge when Esperanza faces disappointment and sexual harassment from her peers. Additionally, nonrealistic conflicts are portrayed through tension in some situations, such as distrust and jokes from her friends that trigger conflicts.
Peran Penyanyi Daerah Dalam Pelestarian Nyanyian Rijoq Suku Dayak Benuaq Di Kutai Barat Erlangga, Faisal; Whidas Pratama, Zamrud; Yohana, Saferi
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i2.18903

Abstract

Penelitian ini berfokus pada kajian musik rijoq dari masyarakat Dayak Benuaq, sebuah warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai tradisional. Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah penurunan minat dalam memahami dan melestarikan tradisi musik ini. Seiring dengan globalisasi, warisan musik tradisional semakin terpinggirkan, sehingga diperlukan upaya revitalisasi agar tetap relevan dan lestari. Penelitian ini bertujuan untuk memahami lebih dalam peran nyanyian tradisional rijoq dalam konteks sosial budaya masyarakat Dayak Benuaq serta mengidentifikasi langkah-langkah strategis dalam upaya pelestarian dan inovasi musik tradisional ini melalui pendekatan teori revitalisasi budaya yang dikemukakan oleh Alwasilah (2006). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan para pelaku budaya, pengamat seni, dan musisi tradisional yang terlibat dalam komunitas musik Dayak Benuaq, serta melalui observasi langsung pada acara-acara budaya seperti Festival Dahau Sendawar. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan teori revitalisasi budaya yang mencakup tiga tahapan: pemahaman untuk meningkatkan kesadaran, perencanaan kolektif, dan peningkatan untuk mendorong kreativitas budaya. Pendekatan ini bertujuan untuk menggali cara-cara efektif dalam menjaga eksistensi rijoq dan mengintegrasikannya ke dalam kehidupan masyarakat modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musik rijoq memiliki peran penting dalam identitas budaya Dayak Benuaq, terutama dalam ritual-ritual adat dan acara komunitas. Namun, upaya pelestarian yang lebih terstruktur diperlukan untuk menjaga relevansinya di era modern. Salah satu hasil penting dari penelitian ini adalah ditemukannya potensi inovasi dalam pengembangan musik rijoq melalui kolaborasi dengan genre musik modern, tanpa menghilangkan unsur-unsur tradisionalnya. Selain itu, peningkatan partisipasi dalam kegiatan budaya lokal melalui festival dan pendidikan musik tradisional menjadi salah satu langkah strategis yang diusulkan dalam perencanaan kolektif untuk pelestarian musik rijoq.
Presupposition Analysis in The Help Film (2011) Puspita Dewi, Hergianti; Setyowati, Ririn; Alim Akbar Nasir, Muhammad
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i2.19066

Abstract

ABSTRACT This research examines the use of presupposition in the dialogue and script of the film The Help (2011) through George Yule's presupposition theory. Presuppositions are background assumptions held by the speaker and play a role in communication to convey information indirectly. George Yule identifies six types of presuppositions: existential, factive, lexical, structural, non-factive, and counterfactual. The Help film is set in 1960s Mississippi during the Civil Rights Movement and explores the complex relationship between black maids and their white employers. This research focuses on the dialogues and scripts of three film characters, Aibileen Clark, Minny Jackson, and Eugenia Phelan (Skeeter), to investigate how types of presuppositions are represented in the dialogues and scripts. This research shows how presuppositions contribute to understanding implicit information using a pragmatic approach. Socio-cultural contexts are used to understand the way presuppositions interpret utterances. In this study, all six types of presuppositions: existential, factive, lexical, structural, non-factive, and counterfactual were found in the film's dialogue. Structural presuppositions were the most common type, and non-factive presuppositions were the least found by the researcher. This study shows that presuppositions are essential to convey messages implicitly, enhancing the researcher's understanding of character interactions through the context of the unfolding situation and the characterization of Aibileen as the main character. Keywords: context, film, presupposition, The Help film
Toponimi Nama-Nama Desa di Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan Kabupaten Kutai Timur Kajian: Antropolinguistik Tambunan, Nicholaus Manuturi; Mubarok, Ahmad; Wahyuni, Ian
Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya Vol 9, No 2 (2025): April 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jbssb.v9i2.19057

Abstract

Nama daerah atau wilayah tidak boleh dibuat sembarangan karena setiap nama memiliki sejarah dan budaya yang unik yang pernah digunakan oleh orang- orang yang tinggal di sana. Penamaan tempat tertentu mungkin berubah dari waktu ke waktu, dan hal ini biasanya disebabkan oleh perubahan dari waktu ke waktu dalam kegiatan sosial dan keadaan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji asal muasal penamaan dari suatu wilayah. Ilmu yang digunakan dalam mengkaji penelitian adalah antropolinguistik. Dalam penelitian ini wilayah spesifik yang akan dikaji adalah Desa yang terdapat di Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan. Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian etnografi, yang mendeskripsikan tentang budaya, praktik sosial, dan interaksi manusia dalam konteks alami. Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yakni suatu penelitian yang bertujuan menerangkan suatu fenomena sosial atau suatu peristiwa, dan dalam analisisnya dibantu dengan menggunakan teori toponimi kemudian dikaji dengan ilmu antropolinguistik. Data yang digunakan merupakan hasil tuturan dari wawancara narasumber dibeberapa desa di Kecamatan Sangatta. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat tiga aspek yang mendasari penamaan nama-nama desa di Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan aspek tersebut adalah aspek kebudayaan yang mencakup desa Sangatta utara, Teluk Lingga, Sangatta Selatan, Sangkima dan Sangkima lama, aspek kedua yaitu aspek kemasyarakatan yang mencakup desa Singa Gembara dan Singa Geweh, dan terakhir aspek perwujudan lingkungan alam yang mencakup desa Sangatta Utara, Teluk Lingga, Sangatta Selatan, Sangkima Lama, dan Swarga Bara. Kata Kunci: toponimi, antropolinguistik, sangatta utara, sangatta selatan