cover
Contact Name
Zulkarnain
Contact Email
dzul9787@gmail.com
Phone
+6287832631987
Journal Mail Official
selaparang.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Ahmad Dahlan No.1, Pagesangan, Kec. Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Bar. 83115
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan
ISSN : 26145251     EISSN : 2614526X     DOI : https://doi.org/10.31764/jpmb.v5i1.6393
SELAPARANG : Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan merupakan jurnal yang mendiseminasikan setiap pemikiran dan ide gagasan atas hasil penelitian dan pemanfaatan teknologi untuk diimplementasikan kepada masyarakat mencakup ; (1). Bidang ilmu pengetahuan ; MIPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi), Terapan, Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Kesehatan, (2). Pelatihan dan peningkatan hasil pendidikan dan (3). Pengembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,601 Documents
Pelatihan pembuatan profil kecamatan di kota Semarang dengan model mind mapping bagi SMA Laboratorium UPGRIS Wahjoe Rini; Andaarina Aji; Ratna Ayu
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.22888

Abstract

Abstrak Profil Kecamatan adalah gambaran menyeluruh tentang karakter yang meliputi data dasar seperti potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, kelembagaan, prasarana dan sarana serta perkembangan kemajuan dan permasalahan yang dihadapi. Untuk mewujudkan fungsi profil Desa dan Kelurahan sebagai sumber informasi potensi desa dan kelurahan, data profil haruslah tersedia, lengkap dan akuntabel. Penyusunan profil desa merupakan proses untuk menemukan dan menggali potensi desa yang nantinya dapat dikembangkan melalui program-program pemberdayaan.Penyusunan Profil Kecamatan di Kota Semarang ini sangat bermanfaat    bagi  wilayah setempat dalam upaya pembaharuan data. Dapat     diketahui,     bahwa ketersediaan   data   yang   terdapat   di   Kecamatan   masih   cenderung  data lama,  sehingga  terkadang  data – data yang ada sudah tidak sesuai dengan kondisi eksisting terkini  di  lapangan. Penyusunan profil kecamatan dengan model mind mapping merupakan salah satu cara memetakan pikiran dengan mencatat secara kreatif dan efektif untuk mengumpulkan data dan mengkaji potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah, dengan analisis yang di dasarkan pada data yang real maka sasaran pengembangan dan pembangunan wilayah akan sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya. Dengan adanya profil Kelurahan yang dibuat, diharapkan dapat lebih informatif. Kata kunci: profil kecamatan; data; informasi; mind mapping Abstract The District Profile is a comprehensive description of the character which includes basic data such as potential natural resources, human resources, institutions, infrastructure and facilities as well as progress and problems faced. To realize the function of Village and Subdistrict profiles as a source of information on village and subdistrict potential, profile data must be available, complete and accountable. Preparing a village profile is a process to discover and explore village potential which can later be developed through empowerment programs. The preparation of District Profiles in the City of Semarang is very useful for the local area in efforts to update data. It is known that the available data in the sub-district still tends to be old data, so that sometimes the existing data is no longer in accordance with the current existing conditions in the field. Preparing sub-district profiles using a mind mapping model is one way to map thoughts by taking notes creatively and effectively to collect data and assess the potential of an area, with analysis based on real data, regional development and development targets will be in accordance with needs. which are actually. By creating a Village profile, it is hoped that it will be more informative. Keywords: district profile; data; information; mind mapping
“Kendalikan diabetes melitus dengan bijak” (berat badan ideal, ingat cek kesehatan secara rutin, jaga pola makan yang sehat, aktivitas fisik, kenali jenis bahan makanan rendah indeks glikemik) Damelya Patricksia Dampang; Agnes Maharani Puji Wulandari; Sada Rasmada; Aloysius Prima Cahya Miensugandhi; Paramitha Wirdani Ningsih Marlina; Mateus Bagas Nugroho Jati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.22862

Abstract

Abstrak Jumlah penderita diabetes dewasa di Indonesia berusia 20-79 tahun sebesar 10.6%. Prevalensi diabetes melitus (DM) berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk umur ≥15 tahun di Indonesia sebesar 2.0%, DKI Jakarta menduduki posisi pertama tertinggi DM sebesar 3.4%. Tingginya prevalensi penderita diabetes melitus mendorong pengabdian masyarakat ini dilakukan agar masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan serta mengendalikan diabetes melitus. Kegiatan ini dilaksanakan di Hall Asrama STIK Sint Carolus dengan sasaran pengunjung Klinik Pratama St Carolus sebanyak 25 orang yang dilakukan pada bulan Oktober tahun 2023. Metode yang digunakan adalah  metode ceramah dengan media lembar balik. Sebelum dan sesudah penyuluhan diberikan pre-test dan post-test yang terdiri dari 10 pertanyaan. Perbedaan pengetahuan gizi diuji dengan uji Wilcoxon. Terdapat peningkatan pengetahuan responden dengan rata-rata nilai 62.80±2.97 menjadi 66.80±2.43. Tidak ada pengaruh signifikan setelah diberikan edukasi dengan nilai p-value 0.085, tetapi terdapat perubahan dari hasil post-test>pre-test pada 10 responden. Pemberian pendidikan gizi dapat meningkatkan pengetahuan responden. Kata kunci: diabetes melitus; lembar balik; penyuluhan.  Abstract The number of adult diabetics in Indonesia aged 20-79 years is 10.6%. The prevalence of diabetes mellitus (DM) based on a doctor's diagnosis in the population aged ≥15 years in Indonesia is 2.0%, DKI Jakarta occupies the first position with the highest DM at 3.4%.The high prevalence of diabetes mellitus encourages this community service to be carried out so that the community can increase knowledge and awareness and control diabetes mellitus. This activity was carried out at the Sint Carolus STIK Dormitory Hall with the target of 25 visitors to the St. Carolus Primary Clinic which was carried out in October 2023. The method used was a lecture method with a flip chart media. Before and after counseling was given a pre-test and post-test consisting of 10 questions. Differences in nutritional knowledge were tested with the Wilcoxon test. There was an increase in respondents' knowledge with an average score of 62.80±2.97 to 66.80±2.43. There was no significant effect after being given education with a p-value of 0.085, but there were changes from the post-test>pre-test results on 10 respondents. Providing nutrition education can improve respondents' knowledge Keywords: counseling; diabetes mellitus; flip chart.
Pendampingan penggunaan fitur whatsapp business sebagai pendukung promosi penjualan UMKM di kabupaten Sidoarjo Shella Margareta; Ainur Rochmaniah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.21825

Abstract

Abstrak Beberapa Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang menggunakan aplikasi WhatasApp Business sebagai alat komunikasi pemasaran pada produknya, namun banyak UMKM yang belum memahami cara menggunakan fitur-fitur pada WhatsApp Business, karena dengan berkembangnya teknologi kini banyak UMKM yang sudah menggunakan aplikasi WhatsApp Business. Unruk mengatasi permasalahan yang muncul di kalangan para memilik usaha mikro kecil menengan (UMKM), pada program pengabdian masyarakat ini menjelaskan beberapa pendekatan pelatihan WhatsApp Business, implementasi atau praktik pada fitur-fitur WhatsApp Business dan terakhir tahap evaluasi. Berdasarkan program pelatihan WhatsApp Business 110 IMKM lebih untuk memilih aplikasi WhatsApp Busines sebagai alat komunikasi bagi pelanggan. UMKM kini juga ingin memiliki jangkauan pemasaran yang luas dan bisa menjangkau sampai pelosok tanah air sekalipun. 1) Melalui pelatihan WhatsApp Business, UMKM kini dapat meningkatkan pemahaman dan kesuksesan pemasarannya serta ingin lebih dikenal masyarakat luas. 2) Dengan dukungan tersebut, UMKM yang sebelumnya tidak memiliki WhatsApp Business kini memiliki wadah untuk memasarkan produknya lebih luas. 3) Kini bagi peserta yang belum mengetahui atau memahami cara menggunakan fitur-fitur WhatsApp Business, setelah mengikuti pelatihan dapat memahami cara menggunakan fitur-fitur tersebut. Kata kunci: pelatihan; WhatsApp Business; UMKM; pemasaran  Abstract In community service, currently many Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) use the WhatsApp Business application as a marketing communication tool for their products, but many MSMEs do not yet understand how to use the features on WhatsApp Business, because with the development of technology, many MSMEs are now using it. WhatsApp Business application. To overcome problems that arise among owners of micro, small and medium enterprises (MSMEs), this community service program explains several WhatsApp Business training approaches, implementation or practice of WhatsApp Business features and finally the evaluation stage. Based on the WhatsApp Business 110 training program, IMKM prefers to choose the WhatsApp Business application as a communication tool for customers. MSMEs now also want to have a wide marketing reach and be able to reach even remote corners of the country. 1) Through WhatsApp Business training, MSMEs can now increase their marketing understanding and success and want to be better known to the wider community. 2) With this support, MSMEs that previously did not have WhatsApp Business now have a platform to market their products more widely. 3) Now for participants who don't know or understand how to use WhatsApp Business features, after attending the training they can understand how to use these features. Keywords: training; WhatsApp Business; MSMEs; market
Pengembangan kuantitas lampu jalan dengan teknologi tenaga surya di perumahan melati kelurahan Sepinggan kota Balikpapan Andi Sri Irtawaty; Maria Ulfah; Armin Armin; Hadiyanto Hadiyanto; Hilmansyah Hilmansyah; Angga Wahyu Aditya; Dwi Lesmideyarti; Mikail Eko Prasetyo Widagda; Zulkarnain Zulkarnain
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.22036

Abstract

Abstrak Beberapa wilayah perumahan di Kelurahan Sepinggan masih kekurangan lampu penerangan jalan bahkan ada yang belum memiliki akses penerangan tersebut.  Lampu penerangan jalan sangat dibutuhkan untuk menambah kenyamanan dan mengurangi resiko terjadinya kecelakaam bagi pengguna jalan di malam hari. Terutama bagi pengendara motor. Selain itu tanpa fasilitas tersebut, akan timbul rasa was-was terhadap tindakan criminal, utamanya bagi pejalan kaki Berdasarkan survey dan data-data dari Kelurahan, maka tim PkM Politeknik Negeri Balikpapan telah merancang 2 unit lampu penerangan jalan serta ditempatkan pada lokasi jalan menuju perumahan Melati yang terletak di area masjid Tuanku Tunggang Parangan. Pada kegiatan PkM sebelumnya di tahun 2023, Politeknik Negeri Balikpapan, telah menyumbangkan 1 unit lampu penerangan jalan di RT 67 tepatnya di sekitar Perumahan Bumi Makmur, dan merupakan lampu jalan utama dan satu-satunya menggunakan teknologi panel surya dengan kapasitas 20 wp. Warga sangat antusias dengan hadirnya teknologi tersebut dan hasil kuisioner yaitu warga berharap tim PkM Politeknik Negeri Balikpapan dapat menambah beberapa unit lampu untuk akses menuju masjid di wilayah Perumahan tersebut. Telah berhasil terpasang 2 unit lampu penerangan jalan dengan kemampuan tiap unit berupa 1 panel surya 20 wp, 1 aki VRLA 7 Ah, 1 lampu DC 5 watt dan 1 photocell sebagai saklar otomatis yang akan menyalakan lampu hanya pada malam hari. Hasil pengujian kinerja lampu tersebut sebesar 100% dapat menyala sepanjang malam selama 12 jam, jika aki tercharge penuh selama 5 jam saat matahari terik. Jika cuaca mendung, aki hanya mampu menyalakan  lampu selama 7.5 jam (kinerja 58%). Namun jika hujan sepanjang hari, sisa charge aki hanya mampu menyalakan lampu selama 4,6 jam                            (kinerja 25%). Kata kunci: perumahan melati; panel surya; aki VRLA; photocell; lampu DC Abstract Several residential areas in Sepinggan Village still lack street lighting and some even do not have access to such lighting. Street lighting is needed to increase comfort and reduce the risk of accidents for road users at night. Especially for motorbike riders. Apart from that, without these facilities, there will be a feeling of anxiety about criminal acts, especially for pedestrians. Based on surveys and data from the Subdistrict, the Balikpapan State Polytechnic PkM team has designed 2 units of street lighting and placed them on the road to the Melati housing complex. which is located in the Tuanku Tunggang Parangan mosque area. In the previous PkM activity in 2023, Balikpapan State Polytechnic donated 1 unit of street lighting in RT 67, precisely around the Bumi Makmur Housing Complex, and is the main and only street lamp using solar panel technology with a capacity of 20 wp. Residents are very enthusiastic about the presence of this technology and the results of the questionnaire show that residents hope that the Balikpapan State Polytechnic PkM team can add several light units for access to the mosque in the housing area. 2 units of street lighting have been successfully installed with the capability of each unit being 1 20 watt solar panel, 1 7 Ah VRLA battery, 1 5 watt DC lamp and 1 photocell as an automatic switch which will turn on the lights only at night. The test results show that the lamp's performance is 100%, it can light up all night for 12 hours, if the battery is fully charged for 5 hours when the sun is hot. If the weather is cloudy, the battery can only light the lights for 7.5 hours (58% performance). However, if it rains all day, the remaining battery charge will only be able to turn on the lights for 4.6 hours (25% performance). Keywords: jasmine housing; solar panels; VRLA batteries; photocells; DC lights
Pemanfaatan skala danjon sebagai media untuk mengukur rona gerhana Azmi Khusnani; Adi Jufriansah; Yudhiakto Pramudya; Hamzarudin Hikmatiar; Saharul Saharul; Isma Alip; Konsenius Wiran Wae; Yoman Ribeta Ratu Yohakim
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.22869

Abstract

AbstrakProses terjadinya Gerhana Bulan Total merupakan fenomena astronomi yang  terjadi ketika seluruh permukaan Bulan tertutupi oleh bayang bayang Bumi atau disebut dengan umbra. Hal ini dapat terjadi ketika konfigurasi antara Bulan, Bumi, dan Matahari berada pada satu garis lurus. Oleh karena itu, fenomena Gerhana Bulan Total akan terjadi bersamaan dengan fase Bulan Purnama. Tujuan dilakukannya pengabdian ini adalah untuk mengamati Gerhana Bulan. Metode yang digunakan adalah observasi dan pengisian angket skala Danjon. Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada tanggal 8 November 2022 yang dimulai pada pukul 18.00 WITA dengan peserta yang berasal dari masyarakat umum dan masyarakat Universitas Muhammadiyah Maumere. Berdasarkan hasil implementasi diketahui bahwa kondisi cuaca pada saat pelaksanaan sulit dilakukan pengamatan karena kondisi mendung disertai gerimis. Namun, peserta yang mengamati dapat menilai kecerahan gerhana bulan Kata kunci: gerhana bulan total; astronomi; skala danjon; pengamatan. AbstractThe total lunar eclipse process is an astronomical phenomenon that occurs when the Earth's shadow, called the umbra, covers the entire moon's surface. It can happen when the configuration between the Moon, Earth, and Sun is straight. Therefore, the total lunar eclipse phenomenon will co-occur with the complete moon phase. The purpose of doing this service is to observe the Lunar Eclipse. The method used is observation and filling out the Danjon scale questionnaire. The implementation was carried out on November 8, 2022, starting at 18.00 WITA with participants from the general public and the Universitas Muhammadiyah Maumere community. Based on the implementation results, it is known that the weather conditions at the time of observation were challenging because of cloudy conditions accompanied by drizzle. However, participants can judge the brightness of the lunar eclipse. Keywords: total lunar eclipse; astronomy; danjon scale; observation.
Edukasi dan pemantauan kesehatan terhadap faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) pada remaja Ririh Jatmi Wikandari; Teguh Budiharjo; Lilik Setyowatiningsih
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.23650

Abstract

Abstrak Faktor risiko utama Penyakit Tidak Menular global adalah peningkatan tekanan darah, gula darah, dan obesitas. Di Indonesia, morbiditas dan mortalitas PTM meningkat, berdampak negatif pada ekonomi dan produktivitas. Faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, pola makan buruk, kurang aktivitas fisik, merokok, dan konsumsi alkohol meningkat secara signifikan. PTM kini tidak hanya menyerang usia lanjut tetapi juga usia produktif dan remaja, disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat. Era digital meningkatkan gaya hidup sedentary dan akses mudah ke makanan tidak sehat, sehingga risiko PTM meningkat. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan kesehatan dini dan edukasi mengenai bahaya PTM bagi remaja. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat , untuk melakukan edukasi dan pemantauan kesehatan faktor risiko penyakit tidak menular (PTM). Mitra sasaran adalah remaja usia diatas 17 tahun sejumlah 30 orang. Metode pengabdian masyarakat berupa edukasi tentang faktor risiko penyakit tidak menular, dilanjutkan pemantauan kesehatan melalui pengukuran tekanan darah, pengukuran Indek Massa Tubuh, pemeriksaan kadar gula darah, pemeriksaan kolesterol. Hasil pemantauan kesehatan, diperolah nilai 20 (66.6%) peserta IMT kategori normal, 15 (50%) orang peserta tekanan darahnya kelompok prehipertensi, untuk kadar gula darah seluruh peserta termasuk kategori normal, sebanyak 21 (70%) peserta kadar kolesterol kategori normal. Berdasarkan hasil evaluasi penilaian nilai rata-rata sebelum edukasi sebesar 78 dan setelah edukasi menjadi 93,33 dan secara statistik penilaian pretest dan posttest diketahui nilai p value 0.000 yang bermakna bahwa terdapat perbedaan pengetahuan pre-edukasi dan post-edukasi. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan tentang faktor risiko penyakit tidak menular. Kata kunci: pengetahuan; pemeriksaan dini; PTM; remaja. Abstract The main risk factors for global Non-Communicable Diseases are increased blood pressure, blood sugar and obesity. In Indonesia, NCD morbidity and mortality rates are increasing, having a negative impact on the economy and productivity. Risk factors such as high blood pressure, diabetes, obesity, poor diet, lack of physical activity, smoking and alcohol consumption increase significantly. NCDs now not only attack the elderly but also the productive age and teenagers, which are caused by unhealthy lifestyles. The digital era increases sedentary lifestyles and easy access to unhealthy food, so the risk of NCDs increases. Therefore, early health checks and education regarding the dangers of NCDs for teenagers are needed. The aim of community service activities is to provide education and health monitoring of risk factors for non-communicable diseases (PTM). The target partners are 30 teenagers aged over 17 years. The community service method is in the form of education about risk factors for non-communicable diseases, followed by health monitoring through measuring blood pressure, measuring Body Mass Index, checking blood sugar levels, checking Cholesterol. The results of health monitoring showed that 20 (66.6%) BMI participants were in the normal category, 15 (50%) blood pressure participants were in the prehypertension group, for blood sugar levels all participants were in the normal category, as many as 21 (70%) participants had normal cholesterol levels. Based on the evaluation results, the average score before education was 78 and after education it was 93.33 and statistically the pretest and posttest assessments showed that the p value was 0.000, which means there is a difference in pre-education and post-education knowledge. These results indicate an increase in knowledge about risk factors for non-communicable diseases. Keywords: knowledge; early checkup; PTM; adolescent.
Pendampingan Komunitas Belajar (Kombel) pada program sekolah penggerak tingkat SMA di Kabupaten Bima Irma Setiawan; Nurhidayat Martin; Wika Wahyuni; Agusman Agusman
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.22510

Abstract

AbstrakKomunitas belajar (kombel) mendorong kolaborasi yang kuat antara semua pemangku kepentingan dalam Pendidikan. Komite pembelajaran menjadi penggerak komunitas belajar sekolah dalam melakukan perubahan belajar yang memenuhi kebuthan siswa. Tujuan pendampingan untuk memberikan penguatan kepada komite pembelajaran mengenai pentingnya peran/fungsi komunitas belajar (kombel) bagi sekolah. Selain itu, pendampingan bertujuan untuk menyelidiki geliat dari komunitas pembelajaran di sekolah penggerak. Metode pendampingan dilakukan melalui kegiatan lokakarya dengan startegi coaching dengan berfokus pada ulasan ulasan kualitatif dari aktivitas kombel sekolah. Tahapan kegiatan meliputi persiapan, pelaksanaan, dan refleksi kegiatan melalui panen karya sekolah pengerak. Objek pendampingan meliputi SMAN 1 Woha, SMAN 1 Madapangga, SMAN 1 Donggo, dan SMAN 2 Sanggar. Hasil pendampingan diperoleh bahwa setiap sekolah menemukan kendala substansi dalam membentuk dan melaksanakan program kegiatan kombel sekolah. Kolaborasi yang terjalin antara guru, staf pendidikan, dan anggota komunitas lokal telah memungkinkan pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan sumber daya yang berharga. Hal ini telah menghasilkan inovasi dalam kurikulum, metode pengajaran, dan strategi pembelajaran yang berdampak positif terhadap prestasi akademik dan kesejahteraan siswa. Kata kunci: komunitas belajar; kolaborasi; sekolah penggerak AbstractLearning communities (kombel) encourage strong collaboration between all stakeholders in Education. The learning committee becomes the driver of the school learning community in making learning changes that meet student needs. The purpose of mentoring is to provide reinforcement to the learning committee regarding the importance of the role/function of the learning community (kombel) for the school. Apart from that, mentoring aims to investigate the activities of the learning community in the driving school. The mentoring method is carried out through workshop activities with a coaching strategy focusing on qualitative reviews of school collective activities. The activity stages include preparation, implementation, and reflection on activities through harvesting the work of the mobilizing school. The objects of assistance include SMAN 1 Woha, SMAN 1 Madapangga, SMAN 1 Donggo, and SMAN 2 Sanggar. The results of the assistance showed that each school found substantial obstacles in forming and implementing the school collective activity program. Collaboration between teachers, educational staff and local community members has enabled the exchange of valuable knowledge, experience and resources. This has resulted in innovations in curriculum, teaching methods and learning strategies that have a positive impact on students' academic achievement and well-being. Keywords: learning community; collaboration; driving school
Upaya peningkatan pengetahuan tentang inspeksi visual asam asetat pada wanita usia subur Nur Alfi Fauziah; Anggri Melian Sari; Dwi Rosita; Eva Agustia; Ferri Yani; Resti Selvia; Rini Hastuti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.22223

Abstract

AbstrakKanker serviks atau kanker leher rahim adalah kanker yang berasal dari mulut rahim.  Kanker serviks masih banyak ditemukan di negara berkembang, seperti Indonesia. Berbeda dengan negara maju, cakupan program skrining di Indonesia baru sekitar 5%. Kanker serviks stadium awal bisa didiagnosa dengan melakukan pemeriksaan IVA atau Pap Smear. Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) merupakan tahapan deteksi dini untuk mengetahui atau mencegah adanya kanker serviks. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberikan edukasi atau meningkatkan pengetahuan kepada wanita usia subur (WUS) mengenai deteksi dini kanker serviks. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini dengan melalui penyuluhan, dan diskusi serta tanya jawab, dimana sebelum dan sesudah kegiatan ibu diberikan pretest dan posttest. Hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa pelaksaan kegiatan yang dilakukan pada tanggal 12 Januari 2024 dengan jumlah peserta 14 wanita usia subur dapat meningkatkan pengetahuan peserta dari nilai rata-rata 4,6 menjadi 11. Kegiatan ini meningkatkan pengetahuan peserta mengenai pemeriksaan IVA dan memberikan kesadaran kepada peserta untuk mencegah adanya tanda dan gejala kanker serviks. Kata kunci: IVA; kanker serviks; wanita usia subur AbstractCervical cancer or cervical cancer is cancer that originates from the cervix. Cervical cancer is still often found in developing countries, such as Indonesia. In contrast to developed countries, screening program coverage in Indonesia is only around 5%. Early stage cervical cancer can be diagnosed by doing an IVA or Pap Smear examination. Acetic Acid Visual Inspection (IVA) is an early detection stage to detect or prevent cervical cancer. The aim of this community service activity is to provide education or increase knowledge to women of childbearing age (WUS) regarding early detection of cervical cancer. The method used in this activity is through counseling, discussion and question and answer, where before and after the activity the mother is given a pretest and posttest. The results of this service show that carrying out activities carried out on January 12 2024 with 14 women of childbearing age as participants can increase participants' knowledge from an average score of 4.6 to 11. This activity increases participants' knowledge regarding VIA examinations and provides awareness to participants about Prevent signs and symptoms of cervical cancer. Keyword: IVA; cervical cancer; woman of reproductive age
Pelatihan kemitraan kepala sekolah, guru, dan orang tua dalam meningkattkan mutu pendidikan SDN 3 Batu Mekar Lingsar Lombok Barat Asrin Asrin; Sudirman Sudirman; Heri Hadi Saputra
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.21974

Abstract

Abstrak Perbaikan mutu pendidikan membutuhkan patnership antara kepala sekolah sebagai pemimpin pendidikan yang transformatif, peran guru lebih konstruktif dan keterlibatan orang tua untuk meningkatkan mutu pendidikan. Penyebab utama sekolah mempunyai kinerja yang tinggi yaitu; (1) budaya atau iklim sekolah; (2) kepemimpinan dan sistem sekolah; (3) dukungan orang tua. Untuk menciptakan mutu pendidikan, maka sekolah dituntut mengembangkan manajemen mutu yang menekankan pada pengembangan budaya mutu. Kepala sekolah, guru dan orang tua dapat mengembangkan perbaikan mutu pendidikan. Hasil observasi yang dilakukan di sekolah mitra ditemukan bahwa kerja sama antara kepala sekolah, guru dan orang tua belum terjalin dengan baik. sehingga dibutuhkan suatu pelatihan untuk memberikan pencerahan terkait pentingnya kemitraan antara kepala sekolah, guru dan orang tua. Tujuan pelatihan ini adalah untuk memberikan pemahaman yang baik terkait bagaimana membangun kemitraan antara kepala sekolah, guru, dan orang tua dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Pelatihan ini dilaksanakan di sekolah SDN 3 Batu Mekar selama satu hari dan dihadiri oleh kepala sekolah, guru, dan orang tua dengan jumlah seluruh peserta adalah 25 orang. Dari hasil evaluasi kegiatan pelatihan ini meningkatkan pemahaman dan mendapatkan respons positif dari seluruh peserta yang hadir. Kata kunci: pelatihan kemitraan;  kepala sekolah; guru; orang tua; mutu pendidikan. Abstract Improving the quality of education requires a partnership between the principal as a transformative educational leader, the role of teachers more constructively and the involvement of parents to improve the quality of education. The main causes of high school performance are: (1) school culture or climate; (2) leadership and school systems; (3) parental support. To create quality education, schools are required to develop quality management that emphasizes the development of a quality culture. Principals, teachers and parents can develop educational quality improvement. The results of observations made in partner schools found that the cooperation between principals, teachers and parents has not been well established. so a training is needed to provide enlightenment related to the importance of partnerships between principals, teachers and parents. The purpose of this training is to provide a good understanding of how to build partnerships between principals, teachers and parents in improving the quality of education in schools. The training was held at SDN 3 Batu Mekar for one day and was attended by principals, teachers and parents with a total of 25 participants. From the evaluation results, this training activity increased understanding and received positive responses from all participants. Keywords: partnership training; school principals; teachers; parents; quality of education.
PENCEGAHAN WITHDRAWAL SYNDROMES DENGAN EDUKASI PENGGUNAAN ANTISPIKOTIK DI RSJ MUTIARA SUKMA Anna Pradiningsih; Baiq Leny Nopitasari; Nurul Qiyaam; Cyntiya Rahmawati; Safwan Safwan; Baiq Nurbaety; Baiq Lenysia Puspita Anjani; Widayatul Khairi; Rihhadatul Aisy; Rendy Alya Praja; Purnama Supyan Assauri; Rozali Bayu Sugarda
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 4 (2023): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i4.20150

Abstract

ABSTRAKAntipsikotik merupakan golongan obat yang digunakan untuk gangguan psikotik. Penarikan obat yang tiba-tiba yang memicu efek samping obat dapat dikatakan dengan gejala putus obat atau Withdrawal Syndromes. Tujuan kegiatan pengabdian untuk memberikan edukasi terkait pengetahuan gejala putus obat antipsikotik. Metode yang digunakan yakni ceramah menggunakan alat peraga leaflet namun sebelumnya terlebih dahulu diberikan 10 pertanyaan mengenai edukasi untuk pre test setelah itu diberikan post test, target kegiatan yakni pasien yang menjalani rawat inap di Rumah Sakit RSJ Mutiara Sukma. Hasil kegiatan di dapatkan 21 pasien penggunaan antipsikotik yang terdiri dari 17 pasien laki-laki dan 4 pasien perempuan, didapatkan persentase pretest sebesar 62.86% jawaban yang sesuai sedangkan persentase post test sebesar 68.09%, sedangkan selisih persentase yang didapatkan sebesar 5.23%. Kesimpulan didapatkan pemberian edukasi dapat meningkatkan pengetahuan tentang putus obat penggunaan antipsikotika sebesar 5,23%. Kata kunci: putus obat; antipsikotik ABSTRACT Antipsychotics are a class of drugs used for psychotic disorders. Abrupt withdrawal of medication that triggers side effects can be referred to as withdrawal syndromes. The purpose of this community service activity is to provide education related to the knowledge of antipsychotic withdrawal symptoms. The method used is a lecture using visual aids such as leaflets, preceded by a pre-test consisting of 10 questions about education. Afterward, a post-test is administered to patients undergoing inpatient care at Mutiara Sukma Mental Hospital. The results of the activity revealed 21 patients using antipsychotics, comprising 17 male patients and 4 female patients. The pretest percentage was 62.86% correct answers, while the post-test percentage was 68.09%, resulting in a difference of 5.23%. In conclusion, education can improve knowledge about antipsychotic withdrawal by 5.23%. Keywords: withdrawal syndromes; antipsychotics