cover
Contact Name
Zulkarnain
Contact Email
dzul9787@gmail.com
Phone
+6287832631987
Journal Mail Official
selaparang.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Ahmad Dahlan No.1, Pagesangan, Kec. Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Bar. 83115
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan
ISSN : 26145251     EISSN : 2614526X     DOI : https://doi.org/10.31764/jpmb.v5i1.6393
SELAPARANG : Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan merupakan jurnal yang mendiseminasikan setiap pemikiran dan ide gagasan atas hasil penelitian dan pemanfaatan teknologi untuk diimplementasikan kepada masyarakat mencakup ; (1). Bidang ilmu pengetahuan ; MIPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi), Terapan, Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Kesehatan, (2). Pelatihan dan peningkatan hasil pendidikan dan (3). Pengembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 3,006 Documents
Pembuatan lilin dari minyak jelantah: pelatihan peningkatan keterampilan dan nilai tambah produk rumah tangga bagi ibu rumah tangga di Kecamatan Entikong Kalimantan Barat Risya Sasri; Winda Rahmalia; Lia Destiarti; Adhitiyawarman Adhitiyawarman; Puji Ardiningsih; Afghani Jayuska; Berlian Sitorus; Anthoni B. Aritonang; Firman Shantya Budi; Nurlina Nurlina; Elliska Murni Harfinda; Ferdinand Hidayat
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.38992

Abstract

Abstrak Program Pengabdian kepada Masyarakat ini dilakukan dengan tujuan untuk memberdayakan ibu rumah tangga di Kecamatan Entikong melalui pelatihan keterampilan pengolahan minyak jelantah menjadi lilin. Kegiatan ini menggabungkan aspek edukasi lingkungan, peningkatan keterampilan praktis, serta pembukaan peluang ekonomi skala rumah tangga. Dengan pendekatan partisipatif dan praktik langsung, diharapkan peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga mampu mereplikasi proses pembuatan lilin secara mandiri. Pelaksanaan kegiatan PKM dilakukan dalam beberapa tahap antara lain, persiapan, pelaksanaan dan evaluasi program PKM. Tahap persiapan meliputi orientasi lapangan dalam rangka mengidentifikasi masalah mitra dan kesepakatan teknologi yang akan diimplementasikan, perijinan dan sosialisasi.  Dilanjutkan dengan tahap pelaksanaan yang meliputi Pelatihan Pembuatan Lilin diawali dengan 1).Pengenalan bahan tambahan (asam stearat , pewarna, aromaterapi opsional); 2). Praktik pembuatan lilin dari minyak jelantah; 3). Pencetakan dan pendinginan lilin; 4). Tips keamanan dan penyimpanan. Pada tahap akhir dilakukan evaluasi secara kuantitatif dengan menganalisis kuesioner pengetahuan awal dan kuesioner evaluasi lanjutan. Dibuat bukti tertulis terkait keberhasilan pelaksanaan program. Kegiatan ini merupakan bentuk kontribusi Jurusan Kimia FMIPA Universitas Tanjungpura dalam mendukung pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, pemberdayaan perempuan, serta pembangunan berkelanjutan di wilayah perbatasan. Kata kunci: lilin; minyak jelantah; perbatasan; pengabdian; pelatihan. Abstract This Community Service Program aims to empower homemakers in Entikong District through training in processing used cooking oil into candles. This activity combines aspects of environmental education, improving practical skills, and opening up economic opportunities on a household scale. With a participatory approach and direct practice, it is hoped that participants will not only gain new knowledge but also be able to replicate the candle-making process independently. The implementation of the PKM activity is carried out in several stages, including preparation, implementation, and evaluation of the PKM program. The preparation stage includes fieldwork in order to identify partner problems and technological agreements to be implemented, licensing, and socialization, and is continued with the implementation stage, which includes Candle Making Training, starting with 1). Introduction to additional materials (stearin, dyes, optional aromatherapy); 2). Practice making candles from used cooking oil; 3). Molding and cooling candles; 4). Safety and storage tips. In the final stage, a quantitative evaluation is conducted by analyzing the results of the pretest and posttest, as well as the questionnaire responses before and after the activity is implemented. Written evidence is made regarding the success of the program implementation. This activity is a contribution from the Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Tanjungpura, in support of responsible waste management, women's empowerment, and sustainable development in border areas. Keywords: candles; used cooking oil; borders; community service; training.
Implementasi program SEHATI sebagai model pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan hipertensi di Desa Pekauman Dalam Annisa Febriana; Herawati Herawati; Lola Illona Elfani Kausar; Ghina Karomah; Kemal Endi Buana; Adelia Nur Azizah; Siti Badriah; Shafira Eka Pratiwi; Selly Dwi Rachmawati; Linda Oktavia Hartanti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39776

Abstract

Abstrak Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tinggi di Indonesia dan sering tidak terdeteksi secara dini, terutama pada kelompok lansia. Di RT 02 Desa Pekauman Dalam, masih ditemukan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang hipertensi, kurangnya aktivitas fisik, serta rendahnya kesadaran melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat dalam pencegahan hipertensi melalui implementasi Program SEHATI (Sehat Tanpa Hipertensi) sebagai model pemberdayaan masyarakat berbasis edukasi dan aktivitas fisik. Mitra sasaran adalah masyarakat dewasa dan lansia di RT 02 Desa Pekauman Dalam dengan jumlah peserta sebanyak 35 orang. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tahapan persiapan, koordinasi, pengkajian komunitas, perencanaan, pelaksanaan edukasi melalui ceramah dan diskusi interaktif, serta demonstrasi senam hipertensi menggunakan media PPT dan leaflet. Evaluasi dilakukan melalui tanya jawab dan observasi kemampuan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa seluruh peserta (100%) mengikuti kegiatan dengan antusias dan aktif dalam diskusi. Terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat sebanyak 31,5%, dari 51,4% sebelum intervensi menjadi 82,9% setelah intervensi. Sebanyak 26 peserta (75%) mampu menjawab pertanyaan terkait hipertensi dan pencegahannya dengan benar, serta 24 peserta (70%) mampu mempraktikkan kembali senam hipertensi secara mandiri. Selain itu, terjadi peningkatan status kesehatan komunitas berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yaitu partisipasi masyarakat dalam program kesehatan, ketersediaan promosi kesehatan, dan kepatuhan terhadap standar kesehatan lingkungan yang meningkat dari skala 2 (cukup menurun) menjadi skala 4 (cukup meningkat). Implementasi Program SEHATI terbukti efektif sebagai model pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan hipertensi di tingkat komunitas. Kata kunci: aktivitas fisik; hipertensi; lansia; pemberdayaan masyarakat; pendidikan kesehatan Abstract Hypertension is a non-communicable disease with a high prevalence in Indonesia and is often not detected early, especially in the elderly. In RT 02, Pekauman Dalam Village, there is still low public knowledge about hypertension, lack of physical activity, and low awareness of conducting regular blood pressure checks. This community service activity aims to increase community knowledge, awareness, and skills in hypertension prevention through the implementation of the SEHATI (Healthy Without Hypertension) Program as a community empowerment model based on education and physical activity. The target partners are adults and elderly people in RT 02, Pekauman Dalam Village, with a total of 35 participants. The implementation method uses a participatory approach through the stages of preparation, coordination, community assessment, planning, implementation of education through lectures and interactive discussions, and demonstrations of hypertension exercises using PPT media and leaflets. Evaluation is carried out through questions and answers and observation of participant abilities. The results of the activity show that all participants (100%) participated in the activity enthusiastically and actively in the discussion. There was an increase in community knowledge by 31.5%, from 51.4% before the intervention to 82.9% after the intervention. A total of 26 participants (75%) were able to answer questions related to hypertension and its prevention correctly, and 24 participants (70%) were able to practice hypertension exercises independently again. In addition, there was an increase in community health status based on the Indonesian Nursing Outcome Standards (SLKI), namely community participation in health programs, availability of health promotion, and compliance with environmental health standards, which increased from a scale of 2 (moderately decreased) to a scale of 4 (moderately increased). The implementation of the SEHATI Program has proven effective as a model for community empowerment in preventing hypertension at the community level. Keywords: physical activity; hypertension; elderly; community empowerment; health education.
Peningkatan literasi religius melalui pelatihan mendongeng (storytelling) dan penulisan kreatif puisi islami bagi santri TPQ Darul Hikmah Depok Rd Bily Bily Parancika; Warsono Warsono; Fauzi Isnaen; Fauzan Akbar Albastiah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39600

Abstract

Abstrak Pendidikan literasi di TPQ Darul Hikmah Depok saat ini menghadapi tantangan dominasi metode teosentris yang berfokus pada hafalan kognitif, sehingga membatasi kemampuan ekspresi diri santri. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menyinergikan pendidikan sastra dan nilai religius guna menciptakan generasi yang tidak hanya fasih melafalkan ayat suci, tetapi juga mahir mengekspresikan nilai Islami melalui literasi bahasa Indonesia yang estetis. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pemaparan materi mendongeng, serta workshop penulisan puisi Islami. Hasil yang diharapkan adalah peningkatan kepercayaan diri santri dalam berbicara di depan umum serta kemampuan menginternalisasi makna teks keagamaan ke dalam bentuk karya tulis kreatif. Kata Kunci: literasi religius; mendongeng; puisi islami; TPQ. AbstractReligious literacy education at TPQ Darul Hikmah Depok currently faces challenges due to the dominance of theocentric learning methods that focus on cognitive memorization, which limits students' ability for self-expression. This community service program aims to synergize literary education and religious values to create a generation that is not only fluent in reciting holy verses but also proficient in expressing Islamic values through aesthetic Indonesian language literacy. The implementation methods include socialization, presentation of storytelling materials, and an Islamic creative poetry writing workshop. The expected results include an increase in students' self-confidence in public speaking and the ability to internalize the meaning of religious texts into creative written works. Keywords: religious literacy; storytelling; islamic poetry; TPQ.
Pendampingan sasaran risiko tinggi ibu hamil melalui OSOC (One Student One Client) Indriyani Makmun; Firda Liantanty; Ana Pujianti Harahap; Rizkia Amilia; Nurul Amelia; Dwi Kartika Cahyaningtyas; Evi Diliana Rospia; Pegi Hamistia
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.35922

Abstract

Abstrak Kehamilan berisiko tinggi adalah kehamilan di mana ibu dan bayi yang dikandungnya berada pada risiko yang lebih tinggi dari biasanya, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit atau kematian baik sebelum maupun setelah kelahiran. Tujuan dilakukannya pengabdian masyarakat ini untuk membantu ibu hamil dengan risiko tinggi sejak konsepsi hingga persalinan, nifas, BBL, dan KB. Agar kehamilan, persalinan, pendampingan ini dilakukan mulai dari identifikasi, anamnesis, pemantauan, dan deteksi dini masalah. Kegiatan Program Pengabdian Masyarakat Pendampingan Sasaran Risiko Tinggi Ibu Hamil Melalui OSOC (One Student One Client) dilaksanakan pada tanggal 19-21 September 2025 yang berlokasi di kelurahan Monjok Kota Mataram dengan jumlah peserta adalah 15 peserta ibu hamil dengan kehamilan risiko tinggi. Semua peserta diberikan lembar posttest untuk mengukur pengetahuan mereka setelah diberikan intervensi berupa materi. Hasil kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memahami dari materi yang disampaikan oleh tim mengenai kehamilan risiko tinggi dan menunjukan bahwa nilai tertinggi dari tingkat pengetahuan kehamilan risiko tinggi sebanyak 7 orang (70%) memilik pengetahuan yg baik, pengetahuan cukup 3 orang (30%) dan pengetahuan kurang tidak ada. Simpulan dalam kegiatan ini adalah peserta sangat merasakan manfaat dari kegiatan ini, disamping itu kegiatan ini juga untuk menjembatani informasi terbaru berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi oleh ibu hamil tentang skrining kehamilan risiko tinggi. Kata kunci: pengabdian; kehamilan; OSOC; pendampingan; risiko tinggi. Abstract High-risk pregnancy is a pregnancy in which the mother and her unborn baby are at a higher than usual risk, thereby increasing the likelihood of disease or death both before and after birth (Darwati et al., 2022). The purpose of this community service is to assist pregnant women with high risks from conception through delivery, postpartum, newborn care, and family planning. This pregnancy, delivery, and accompaniment are carried out starting from identification, anamnesis, monitoring, and early detection of problems. The Community Service Program activity for Assisting High-Risk Pregnant Women through OSOC (One Student One Client) was conducted on September 19-21, 2025, located in Monjok Sub-District, Mataram City, with a total of 15 participants who were high-risk pregnant women. All participants were given a post-test sheet to measure their knowledge after being provided interventions in the form of materials. The results of the activity showed that most mothers understood the material delivered by the team regarding high-risk pregnancy, indicating that the highest score for high-risk pregnancy knowledge was achieved by 7 people (70%) who had good knowledge, 3 people (30%) had sufficient knowledge, and none had poor knowledge.  The conclusion of this activity is that the participants greatly felt the benefits of this activity; moreover, this activity also serves to bridge the latest information related to the problems faced by pregnant women regarding high-risk pregnancy screening. Keywords: service; assistance; high risk; pregnancy; OSOC.
Ibu pintar dengan pelatihan komprehensif baby gym untuk optimalkan tumbuh kembang dan imunitas bayi Miftahul Hakiki; Indah Kurniawati; Nurul Eko Widiyastuti; Wahyu Fuji Hariani; Indah Christiana
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v%vi%i.37532

Abstract

Abstrak Bayi merupakan tahapan awal kehidupan manusia yang berlangsung sejak lahir hingga usia satu tahun. Periode ini mencakup masa neonatus (0-28 hari) dan masa bayi (29 hari-12 bulan) yang menjadi landasan krusial bagi perkembangan fisik, motorik, serta kognitif anak. Orang tua memegang peranan utama dalam memahami dan mendukung proses tumbuh kembang tersebut. Permasalahan di Desa Ketapang menunjukkan bahwa banyak ibu belum memahami urgensi baby gym bagi bayi usia di bawah satu tahun. Kondisi ini berisiko menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik, kognitif, bahasa, hingga gangguan keseimbangan pada anak. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan pengetahuan dan memberikan pelatihan komprehensif mengenai baby gym kepada para ibu untuk mengoptimalkan tumbuh kembang serta imunitas bayi. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah pemberian pelatihan dengan desain pretest dan posttest. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman ibu mengenai manfaat baby gym sebagai stimulasi permainan gerakan untuk merangsang kemampuan motorik bayi usia 3-12 bulan secara optimal. Simpulan dari kegiatan ini adalah para ibu mampu memahami pentingnya stimulasi tersebut dan memiliki keterampilan untuk mempraktikkan baby gym secara mandiri kepada bayi mereka.Kata Kunci: baby gym; ibu pintar; tumbuh kembang.Abstract Infancy represents the initial stage of human life, spanning frim birth to one year of age. This period encompasses the neonatal phase (0-28 days) and infancy (29 days-12 months), serving as a crucial foundation for a child’s physical, motor, and cognitive development. Parents play a primary role in understanding and supporting this developmental process. Problems identified in Ketapang Village indicate that many mothers do not yet understand the urgency of baby gym for infants under one year old. This condition poses a risk of developmental delays in motor, cognitive, and language skills, as well as balance disorders in children. The objective of this community service activity is to increase knowledge and provide comprehensive training on baby gym to mothers to optimize infant growth, development, and immunity. The method employed in this program is training using a pretest and posttest design. Results indicate an increase in maternal understanding regarding the benefits of baby gym as a movement-based stimulation to optimally stimulate the motor skills of infants aged 3-12 months. The conclusion of this activity is that mothers are able to comprehend the importance of such stimulation and possess the skills to practice baby gym independently with their infants.Keywords : baby gym; smart mother; growth and development.
Sosialisasi regulasi penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun Moch. Mansur; Tri Astuti Handayani; Irma Mangar; Nico Ferdian
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39611

Abstract

Abstrak Penggunaan media sosial di kalangan anak di bawah usia 16 tahun semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi digital. Kondisi ini menimbulkan berbagai risiko, seperti cyberbullying, paparan konten negatif, kecanduan digital, serta penyalahgunaan data pribadi. Oleh karena itu, diperlukan regulasi yang bertujuan untuk melindungi anak dalam ruang digital. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan regulasi penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun serta meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya orang tua dan siswa, terkait penggunaan media sosial yang aman dan bijak. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, diskusi interaktif, serta simulasi penggunaan fitur keamanan media sosial. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa regulasi penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun merupakan upaya penting dalam perlindungan anak di ruang digital yang mencakup pembatasan usia, pengawasan akses, serta peran pemerintah, orang tua, dan penyedia platform. Kegiatan sosialisasi ini meningkatkan pemahaman dan kesadaran peserta mengenai penggunaan media sosial yang aman, termasuk risiko seperti cyberbullying, konten negatif, dan kecanduan digital. Namun, implementasi regulasi masih menghadapi tantangan seperti lemahnya verifikasi usia, rendahnya literasi digital orang tua, dan belum optimalnya fitur keamanan platform. Oleh karena itu, diperlukan sinergi berkelanjutan antara berbagai pihak untuk mengoptimalkan perlindungan anak di dunia digital.  Kata Kunci: regulasi; media social; anak di bawah 16 tahun; perlindungan anak; literasi digital. Abstract  The use of social media among children under the age of 16 is increasing along with the development of digital technology. This condition poses various risks, such as cyberbullying, exposure to negative content, digital addiction, and misuse of personal data. Therefore, regulations are needed that aim to protect children in the digital space. This community service activity aims to socialize the regulation of the use of social media for children under the age of 16 and increase public understanding, especially parents and students, regarding the safe and wise use of social media. The methods used include counseling, interactive discussions, and simulations of the use of social media security features. The results of the activity show that the regulation of the use of social media for children under the age of 16 is an important effort in the protection of children in the digital space which includes age restrictions, access control, and the role of the government, parents, and platform providers. This socialization activity increased participants' understanding and awareness of the safe use of social media, including risks such as cyberbullying, negative content, and digital addiction. However, the implementation of regulations still faces challenges such as weak age verification, low parental digital literacy, and not optimal platform security features. Therefore, continuous synergy between various parties is needed to optimize child protection in the digital world. Keywords: regulation; social media; children under 16 years old; child protection; digital literacy.
Sosialisasi Apoteker Remaja (APORE) siswa MAN 2 Kota Semarang mengenai DAGUSIBU Dwi Monika Ningrum; Sulistyaningsih Sulistyaningsih; Indiana Gita Anggraeni; Rissa Maharani Dewi; Tasya Salsabila Ramadhina; Dhini Rachma Aulia; Naysila Nur Maulida; Mayori Isna Rahmadani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39699

Abstract

Abstrak Penggunaan obat yang tidak rasional masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada kelompok remaja yang sering melakukan swamedikasi tanpa pengetahuan yang cukup mengenai penggunaan obat yang benar. Program DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang obat dengan benar) merupakan program edukasi yang diinisiasi oleh Ikatan Apoteker Indonesia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan obat dengan tepat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa MAN 2 Kota Semarang mengenai konsep DAGUSIBU melalui program Apoteker Remaja (APORE). Adapun metode kegiatan dilakukan melalui sosialisasi, diskusi interaktif, serta evaluasi menggunakan metode pre-test dan post-test. Peserta kegiatan berjumlah 45 siswa yang tergabung dalam organisasi sekolah yaitu Palang Merah Remaja (PMR) yang terdiri dari kelas XI dan XII. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa setelah dilakukan edukasi mengenai DAGUSIBU mengenai cara memperoleh, menggunakan, menyimpan dan membuang obat dengan benar. Hal ini diperoleh dari peningkatan skor rata-rata dari 8,78 menjadi 9,87 dengan uji Paired t-test menunjukkan nilai p = 0,089 ( p > 0,05), sehingga peningkatan tersebut secara analisis statistik tidak signifikan. Secara kualitatif, peserta menunjukkanpeningkatan pemahaman pada aspek penggunaan obat sesuai etiket dan pemilihan tempat memperoleh obat yang aman, namun masih ditemukan kelemahan pada aspek penyimpanan dan pembuangan obat. Temuan ini mengindikasikan bahwa satu sesi penyuluhan belum optimal bagi kelompok lansia, sehingga intervensi edukatif yang terstruktur, berulang, dan didukung media multisensori diperlukan untuk memaksimalkan pemahaman dan perubahan perilaku dalam pengelolaan obat. Program Apoteker Remaja diharapkan dapat menjadi agen edukasi kesehatan di lingkungan sekolah dan masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penggunaan obat secara rasional. Kata kunci: DAGUSIBU; apoteker remaja; edukasi obat; penggunaan obat rasional. Abstract Irrational drug use is still a public health problem in Indonesia, especially among teenagers who often practice self-medication without sufficient knowledge regarding the correct use of drugs. The DAGUSIBU (Get, Use, Store and Dispose of Medicines Correctly) program is an educational program initiated by the Indonesian Pharmacists Association to increase public awareness of proper medication management. This community service activity aims to increase the knowledge of MAN 2 Semarang City students regarding the DAGUSIBU concept through the Teen Pharmacist program (APORE). The activity method is carried out through socialization, interactive discussions, and evaluation using pre-test and post-test methods. The activity participants were 45 students who were members of the school organization, namely Palang Merah Remaja (PMR), consisting of classes XI and XII. The results of the activity showed that there was an increase in students' knowledge after education regarding DAGUSIBU regarding how to obtain, use, store and dispose of medicines correctly. This was obtained from an increase in the average score from 8.78 to 9.87 with the Paired t-test showing a value of p = 0.089 (p > 0.05), so that the increase was not statistically significant in statistical analysis. Qualitatively, participants showed. increased understanding of the aspect of using medicines according to the label and selecting a safe place to obtain medicines, however, weaknesses were still found in aspects of storing and disposing of medicines. These findings indicate that one counseling session is not optimal for the elderly group, so that educational interventions that are structured, repeated, and supported by multisensory media are needed to maximize understanding and change behavior in drug management. The Teen Pharmacist Program is expected to become an agent of health education in the school and community environment so that it can increase public awareness regarding the rational use of drugs. Keywords: DAGUSIBU; teen pharmacist; drug education; rational drug use .
Edukasi dan pelatihan remaja dalam mengatasi masalah pernikahan dini Yulianti Yulianti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.38932

Abstract

Abstrak Pernikahan dini memiliki risiko pernikahan dini meliputi meningkatnya kemungkinan terjadinya komplikasi kehamilan dan persalinan, putus sekolah, masalah kesehatan mental, ketidakstabilan ekonomi, serta tingginya risiko terjadinya kekerasan dalam rumah tangga yang berdampak pada kesejahteraan ibu, anak, dan keluarga. Kegiatan pengabdian masyarakat memiliki tujuan untuk Meningkatkan pengetahuan dengan memberikan pelatihan dan membentuk kader remaja yang mampu sebagai penggerak penting di dalam masyarakat khususnya remaja untuk dapat mencegah terjadinya pernikahan dini. Kegiatan pengabdian ini diselenggarakan di SMP Negeri 6 Cikarang Utara Kabupaten Bekasi dengan 30 peserta remaja pada bulan Februari 2026. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah edukasi dan pelatihan dengan pendekatan partisipatif serta edukatif dengan media ceramah serta demonstrasi langsung. Evaluasi dilakukan dengan metode kuesioner pre-test dan post-test. Hasil pre-test mendapatkan hasil bahwa pengetahuan awal yang rendah 58% (remaja masih belum mengetahui cara mencegah terjadinya pernikahan dini). Kemudian setelah dilaksanakan kegiatan pelatihan, hasil post-test mendapatkan hasil adanya peningkatan yang signifikan 72% (remaja mengalami peningkatan pengetahuan) serta remaja mulai sadar akan pentingnya menyadari bahaya pernikahan dini. Sehingga dapat disimpulkan kegiatan pengabdian masyarakat ini efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja dalam mencegah terjadinya pernikahan dini. Kata kunci: edukasi; pelatihan; pernikahan dini; remaja AbstractEarly marriage has risks of early marriage including increased likelihood of pregnancy and childbirth complications, dropping out of school, mental health problems, economic instability, and a high risk of domestic violence that impacts the welfare of mothers, children, and families. Community service activities aim to increase knowledge by providing training and forming capable youth cadres as important drivers in society, especially teenagers, to be able to prevent early marriage. This community service activity was held at SMP Negeri 6 Cikarang Utara, Bekasi Regency with 30 youth participants in February 2026. The method used in this activity was education and training with a participatory and educational approach with lectures and live demonstrations as media. Evaluation was carried out using a pre-test and post-test questionnaire method. The pre-test results showed that initial knowledge was low at 58% (teenagers still did not know how to prevent early marriage). Then after the training activity was carried out, the post-test results showed a significant increase of 72% (teenagers experienced increased knowledge) and teenagers began to realize the importance of realizing the dangers of early marriage. So it can be concluded that this community service activity is effective in increasing knowledge and awareness of teenagers in preventing early marriage. Keywords: education; training; early marriage; teenagers
Edukasi pencegahan terjadinya penularan Tuberculosis (TBC) pada Kelompok Wanita Tani Melati Jaya 10 Bandar Lampung. Kiki Puspa Sari; Nathasa Khalida Dalimunthe; Ice Marini; Edi Junaidi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39721

Abstract

AbstrakMasih tingginya kasus Tuberculosi (TBC) di Provinsi Lampung, perlu penangaan serius. Ketidaktahuan masyarakat mengenai TBC, tidak menutup mulut dan membuang ludah sembarangan perlu dilakukan sosialisasi mengenai pencegahan penularan TBC di masyarakat. Selain itu, penderita TBC merasa malu jika ketahuan sakit TBC sehingga tidak menginformasikan ke masyrakat sekitr karena khawatir dijauhi tetangga. Kegiatan ini dilakukan di KWT Melati Jaya 10, Keluarahan Sukamenanti Baru, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung yang dilakukan selama satu hari. Tujuan dari kegiataan ini untuk memberikan informasi bagaimana mencegah terjadinya penularan TBC. Kegiatan yang dilakukan yaitu dengan menggunakan metode ceramah dan focus group discussion (FGD) yang telah dilaksanakan di balai pertemuan dengan dihadiri ibu-ibu KWT berjumlah 18 orang. pertemuan ini berlangsung selama dua jam dengan menggunakan media power point. Sebelum diberikan materi, peserta terlebih dahulu diberikan pre-test untuk melihat pengetahuan mengenai TBC. Peserta sudah cukup memahami mengenai TBC, dengan nilai rata-rata pre-test 9,1 dan nilai pos-test 9,6. Pengetahuan peserta mengenai TBC sudah cukup tinggi, dengan memahami bagaiamana penularan TBC terjadi, tetapi bagaimana menanggulangi dan mencegah agar TBC tidak menular masih perlu adanya edukasi dari sektor pemerintah dan multidispilin ilmu yang lain. Masih tingginya terjadinya TBC di Provinsi Lampung, perlu peran dari Pemerintah setempat, dinas kesehatan dan peran serta masyarakat dalam mencegah terjadinya penularan TBC. TBC bukan aib sehingga tidak perlu ditutup-tutupi ataupun malu jika menderita TBC. Sehingga tenaga kesehatan dapat dengan segera menindaklanjuti jika ada penderita TBC yang belum berobat. Dari hasil kegiatan ini  rata-rata peserta telah memahami bahaya penyakit TBC karena telah mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan. Peran pemerintah setempat dalam edukasi mengenai bahaya TBC harus diberikan kepada seluruh lapisan masyarakat Kata kunci: edukasi; pencegahan; tuberculosis. Abstract The high incidence of tuberculosis (TB) cases in Lampung Province requires serious attention. Limited public knowledge about TB, including poor preventive behaviors such as not covering the mouth when coughing and spitting carelessly, highlights the need for continuous health education. In addition, many TB patients feel ashamed when diagnosed with the disease and tend to hide their condition due to fear of social stigma and rejection from others. This community service activity was conducted at KWT Melati Jaya 10, Sukamenanti Baru Village, Kedaton District, Bandar Lampung, and was carried out in one day. The program implemented lecture methods and Focus Group Discussions (FGD) held at the community meeting hall and attended by 18 female participants from the women farmers group. The activity lasted for two hours using PowerPoint media. Before the educational session, participants were given a pre-test to assess their knowledge about TB. The results showed that participants already had a relatively good understanding of TB, with an average pre-test score of 9.1 and a post-test score of 9.6. Participants generally understood how TB transmission occurs; however, further education is still needed regarding prevention and control measures to reduce TB transmission. The high prevalence of TB in Lampung Province requires collaboration among local governments, health offices, healthcare workers, and communities to prevent transmission. TB should not be considered a social stigma, and patients should not feel ashamed of their condition so that healthcare workers can provide timely treatment and follow-up. Therefore, comprehensive education about the dangers of TB should be provided to all levels of society. Keywords: eduction; prevention; tuberculosis.
Pendampingan pembuatan tempat pensil dari bahan botol plastik bekas di SDN 60 Moncongloe Lappara Kabupaten Maros Rahma Ashari Hamzah; Saparuddin Saparuddin; Apra Apra; Rara Dwisaputri; Nurhadianti Nurhadianti
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39714

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan, kreativitas, keterampilan, serta kepedulian lingkungan peserta didik melalui kegiatan pendampingan pembuatan tempat pensil berbahan dasar botol plastik bekas sebagai upaya pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan ini meliputi perencanaan, penyampaian tutorial, praktik secara langsung, dan penilaian hasil karya. Kegiatan dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 29 April 2026 di UPT SDN 60 Moncongloe Lappara, Dusun Moncongloe Lappara, Kecamatan Moncongloe, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, dengan melibatkan siswa kelas IVb yang berjumlah 25 siswa yang terdiri atas 10 siswa perempuan dan 15 siswa laki-laki. Hasil pelaksanaan kegiatan menunjukkan bahwa siswa mampu memahami tahapan pembuatan tempat pensil dari botol plastik bekas, mengikuti setiap proses pembuatan dengan baik, serta menghasilkan karya sesuai dengan kreativitas masing-masing. Selain itu, kegiatan ini juga menunjukkan adanya peningkatan kreativitas, keterampilan motorik, partisipasi aktif, dan kesadaran siswa terhadap pentingnya pemanfaatan limbah plastik menjadi produk yang bermanfaat. Dengan demikian, program pendampingan ini dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran berbasis praktik yang inovatif dan efektif dalam meningkatkan kreativitas, keterampilan, serta kesadaran lingkungan pada siswa sekolah dasar. Kata kunci: pendampingan; tempat pensil; botol plastik bekas. Abstract      This community service activity aims to improve students' abilities, creativity, skills and environmental awareness through assistance activities in making pencil cases from used plastic bottles as an effort to utilize waste into products that have useful value. The methods used in implementing this activity include planning, delivering tutorials, direct practice, and assessing work results. The activity was held on Wednesday 29 April 2026 at UPT SDN 60 Moncongloe Lappara, Moncongloe Lappara Hamlet, Moncongloe District, Maros Regency, South Sulawesi Province, involving 25 class IVb students consisting of 10 female students and 15 male students. The results of the activity show that students are able to understand the stages of making pencil cases from used plastic bottles, follow each manufacturing process well, and produce work according to their individual creativity. Apart from that, this activity also shows an increase in students' creativity, motor skills, active participation and awareness of the importance of utilizing plastic waste into useful products. Thus, this mentoring program can be an alternative practice-based learning that is innovative and effective in increasing creativity, skills and environmental awareness in elementary school students. Keywords: mentoring; pencil case; used plastic bottles.