cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 29 Documents
Search results for , issue "Volume 7 Nomor 1 Maret 2024" : 29 Documents clear
Hubungan antara Kadar Hepsidin dan Kadar Hemoglobin pada Kehamilan dengan Obesitas Ratnaningsih, Andi Sri; Sunarno, Isharyah; Madya, Fatmawati; Hamid, Firdaus; Irianta, Trika; Susiawaty, Susiawaty
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.583

Abstract

Tujuan: Untuk menilai kadar Hepsidin dan kadar hemoglobin menggunakan sampel darah dan selanjutnya dianalisis dengan metode ELISA.Metode: Penelitian ini merupakan kohort prospektif pada perempuan hamil dengan obesitas dan pembanding non-obesitas pada trimester pertama dan kedua di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit Pendidikan Jejaring pada periode Januari - Agustus 2022.Hasil: Penelitian dilakukan terhadap 44 sampel yang terdiri atas 22 sampel kelompok ibu hamil dengan obesitas dan 22 sampel ibu hamil dengan IMT normal. Pada pasien obesitas tidak didapatkan korelasi antara kadar Hepsidin dan kadar hemoglobin di trimester pertama dengan nilai p=0.097 sedangkan pada trimester kedua terdapat korelasi dengan nilai p=0.028. Pada pasien non obesitas tidak didapatkan korelasi antara kadar Hepsidin dengan kadar hemoglobin nilai p=0.489 di trimester pertama dan nilai p=0.906 di trimester kedua.Kesimpulan: Peningkatan kadar Hepsidin dan anemia dapat ditemukan pada wanita obese yang sedang hamil, terutama pada trimester kedua.The Relationship Between Hepcidin Levels And Hemoglobin Levels In Pregnancy With ObesityAbstract Objective: To compare hepcidin levels and hemoglobin levels using blood samples and further analyzed with ELISA method.Method: This study is a prospective cohort of obese pregnant women and a non-obese comparator in the first and second trimesters at RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital and Networking Teaching Hospitals in the period January - August 2022.Results: The study was conducted on 44 samples consisting of 22 samples of obese pregnant women and 22 samples of pregnant women with normal BMI. In obese sample, there was no correlation between hepcidin levels and hemoglobin levels in the first trimester with a value of p=0.097 while in the second trimester there was a correlation with a value of p=0.028. In non-obese patients, there was no correlation between hepcidin levels and hemoglobin levels, p = 0.489 in the first trimester and p= 0.906 in the second trimester.Conclusion: Increased hepcidin levels and anemia can be found in obese women in the second trimester of pregnancy.Key words: Hepcidin, Obesity, Hemoglobin
Hubungan Tingkat Keparahan Infeksi Covid-19 pada Wanita Hamil dengan Luaran Maternal dan Perinatal di RSUPP Betun Kabupaten Malaka Heryawan, Iwan; Hidayat, Dini; Susiarno, Hadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.566

Abstract

Tujuan: Tingkat keparahan infeksi Covid-19 pada wanita hamil bisa menyebabkan luaran maternal dan perinatal yang berbeda-beda. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mengetahui hubungan tingkat keparahan infeksi Covid-19 pada wanita hamil dengan luaran maternal dan perinatal.Metode: Penelitian menggunakan metode cross-sectional. Sampel berjumlah 90 orang. Pengambilan data berupa data rekam medis dengan instrumen menggunakan lembar ceklist mengenai luaran maternal dan luaran perinatal.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan luaran maternal pada kelompok variabel hipertensi, persalinan prematur, obesitas, dan mortalitas lebih besar dari 0,05 (nilai p>0,05) yang berarti tidak signifikan atau tidak bermakna secara statistik. Hasil luaran maternal pada kelompok variabel preeklampsia dan ketuban pecah dini lebih kecil dari 0,05 (nilai p<0,05) yang berarti signifikan atau bermakna secara statistik. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa terdapat perbedaan persentase yang signifikan. Pada luaran perinatal variabel berat badan perinatal, derajat asfiksia dan mortalitas perinatal lebih kecil dari 0,05 (nilai p<0.05) yang berarti signifikan atau bermakna secara statistik dengan demikian dapat dijelaskan bahwa terdapat perbedaan persentase yang signifikan secara statistik antara variabel berat badan perinatal, derajat asfiksia, dan mortalitas perinatal pada kelompok tingkat keparahan infeksi Covid-19.Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara tingkat keparahan infeksi Covid-19 dan luaran maternal pada kelompok prekemlasia dan ketuban pecah dini. Terdapat Hubungan bermakna antara tingkat keparahan infeksi Covid-19 dan luaran perinatal pada berat badan perinatal, derajat asfiksia, dan mortalitas perinatal.Correlation between Severity Level of Covid-19 Infection in Pregnant Women and Maternal and Perinatal Outcomes at RSUPP Betun Kabupaten MalakaAbstractObjective: The severity of Covid-19 infection in pregnant women can cause different maternal and perinatal outcomes. So the aim of this study was to correlation determine the severity of Covid-19 infection in pregnant women against maternal and perinatal outcomes.Method: Research using cross-sectional method. The sample is 90 people. Data collection was in the form of medical record data with instruments using checklist sheets regarding maternal and perinatal outcomes.Results: The results showed that maternal outcomes in the variable group hypertension, preterm labor, obesity and mortality were greater than 0.05 (p value> 0.05), which was not significant or not statistically significant. Meanwhile, the maternal outcome in the variable group of preeclampsia and premature rupture of membranes was less than 0.05 (p value <0.05), which was significant or statistically significant, thus it could be explained that there was a significant percentage difference. In the perinatal outcome, the variables of perinatal weight, degree of asphyxia and perinatal mortality were less than 0.05 (p value <0.05) which means significant or statistically significant. Thus it can be explained that there is a statistically significant percentage difference between the variables of perinatal weight, degree of asphyxia and perinatal mortality in the Covid-19 infection severity group.Conclusion: There is a significant relationship between the severity of Covid-19 infection and maternal outcomes in the pre-eclampsia and premature rupture of membranes groups. There is a significant relationship between the severity of Covid-19 infection and perinatal outcomes in perinatal weight, degree of asphyxia and perinatal mortality.Key words: Covid-19 infection severity, maternal outcome, perinatal outcome.
Penggunaan Prednisolon sebagai Terapi Alternatif pada Pustular Psoriasis Of Pregnancy: Sebuah Laporan Kasus Nathania, Nathania; Sampeliling, Dave Grant; Setiawan, Dani
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.656

Abstract

Tujuan: Pustular Psoriasis of Pregnancy (PPP) merupakan keadaan psoriasis berat yang jarang sekali terjadi pada kehamilan dan berkaitan dengan peningkatan risiko terjadinya kelahiran prematur dan berat badan bayi rendah. Pilihan kortikosteroid sebagai terapi lini pertama masih bervariasi antara prednison oral, siklosporin, kortikosteroid topikal, hingga kalsipotriene topikalKasus: Kami melaporkan presentasi kasus G4P3A0 usia 34 tahun dengan PPP berulang pada usia kehamilan 8 bulan. Pasien menjalani perawatan konservatif dengan Dexametasone 2x6 mg intramuskular sebagai pematang paru janin selama 2 hari lalu dilanjutkan dengan terapi prednisolon dosis tinggi (80 mg/hari) untuk PPP. Prednisolon dipilih sebagai alternatif terapi pada kasus ini sampai pasien melahirkan.Hasil: Bayi lahir aterm dengan APGAR skor 7 - 9. Tidak ada kelainan kongenital dan kelainan dermatologi pada janin. Keluhan kulit membaik setelah pasien melahirkan. Pengobatan prednisolon dilanjutkan sampai 2 minggu post partum dengan dosis diturunkan bertahap (50 mg/hari selama 1 minggu pertama dilanjutkan 30 mg/hari selama 1 minggu kemudian) lalu dihentikan. Kesimpulan Penggunaan prednisolon sebagai terapi alternatif PPP pada laporan kasus ini tidak menunjukkan adanya efek samping pada ibu maupun janin.Prednisolone as an Alternative Treatment for Pustular Psoriasis of Pregnancy: A Case ReportAbstractIntroduction: Pustular Psoriasis of Pregnancy (PPP) is a severe psoriasis condition that rarely occurs in pregnancy and is associated with an increased risk of premature birth and low birth weight. The choice of corticosteroids as a first-line therapy still varies between oral prednisone, cyclosporine, topical corticosteroids to topical calcipotriene.Case: In this case presentation, we report a 34-year-old G4P3A0 with recurrent PPP at 8 months of gestation. The patient had conservative management with Dexametasone 2x6 mg intramuskular as fetal lung maturation for 2 days, then was continued with high dose of Prednisolone (80 mg/hari) for PPP. Prednisolone was chosen as an alternative treatment in this case until the patient gave birth. Result:. The baby was born term with APGAR score 7-9. No congenital or dermatological problem on baby. Skin complaints resolved two months postpartum. Prednisolone was continued until 2 weeks postpartum with taped off doses (50 mg/day for the first week and 30 mg/day for the next week) and then was stopped. Conclusion: The usage of Prednisolone as an alternative treatment for PPP pada in this case report do not show any adverse outcomes.Key words: pustular psoriasis of pregnancy, prednisolone 
Progressivity of Variable Deceleration to Late Deceleration – A Case Report and It’s Implication Suryawan, Alfonsus Zeus; Zaenudin, Aditya Rifandi; Erfiandi, Febia; Handono, Budi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.640

Abstract

Introduction: Cardiotocography (CTG) records changes in fetal heart rate and their temporal relationship with uterine contractions. This case report specifically highlights the progression of variable deceleration to late deceleration, its implication, and importance of variable deceleration.Case Report: A 42-year-old G4P2A1 patient at 37–38 weeks of gestation presented to our emergency unit with severe preeclampsia (170/110 mmHg) and irregular heart rate (120 – 70 – 110 bpm). We performed CTG and showed baseline 120–130, with no variability and accompanied by deceleration. The first 2 deceleration occur without the same timing as contraction, and the two later occur after contraction. We performed C-section on the patient and healthy female baby.Discussion: This case provides us with a rather unique pattern of CTG where we could see a slight progression from variable deceleration to late deceleration. Deceleration itself represents a reflex response of the fetus to reduce myocardial workload in response to stress; therefore, it can be secondary to cord compression or other causes. As this condition continues, the fetus deceleration progresses to late deceleration, presenting with a more dire condition and severe acidemic condition. Conclusion: Most of the time variable deceleration are classified as “cord compression” decelerations, while most cases of fetal acidemia in labor are due to reduction in uteroplacental perfusion not the compression of cord. Therefore, variable deceleration is an important sign of fetal acidemia, and when such if itis present, we should take the initiative for termination of pregnancy to prevent bad outcomes of the fetus.Progresivitas Deselerasi Variabel ke Deselerasi Lambat–Laporan Kasus dan ImplikasinyaAbstrakPendahuluan:Kardiotokografi merekam perubahan detak jantung janin dan hubungannya dengan kontraksi uterus. Laporan kasus ini hendak menunjukkan perubahan dari deselerasi variabel ke deselerasi lambat serta implikasi dan pentingnya deselerasi variabel.Laporan Kasus: Seorang wanita 42 tahun G4P2A1 gravida 37-38 minggu datang ke IGD dengan preeklamsia berat (170/110 mmHg) dan denyut jantung janin yang irreguler (120 – 70 – 110 x/menit). Setelah dilakukan kardiotokografi didapatkan baseline 120-130, tanpa ada akselerasi dan diikuti deselerasi. Dua deselerasi yang muncul pertama timbul tanpa ada hubungan dengan kontraksi uterus dan dua kontraksi berikut nya terjadi setelah kontraksi. Pasien kemudian dilakukan seksio sesarea dan lahir bayi perempuan sehat.Diskusi: Kasus ini memberikan gambaran kardiotokografi unik dengan adanya progresivitas dari deselerasi variabel ke deselerasi lambat. Deselerasi sendiri merupakan respon fetus terhadap stress dengan menurunkan beban kerja myocardium janin. Hal ini terjadi akibat hipoksia pada janin yang terjadi akibat kompresi tali pusat dan atau penyebab lain. Bila kondisi ini berlanjut menjadi deselerasi lambat maka kondisi fetus akan semakin memburuk dan masuk kedalam asidemia berat. Kesimpulan: Sering kali dalam melihat deselerasi variabel, kita menklasifikasikannya sebagai deselerasi yang disebabkan penekanan tali pusat/cord-compression yang bila dilakukan resusitasi dapat membaik. Akan tetapi mayoritas kasus dari asidemia fetus pada persalinan terjadi akibat penurunan aliran uteroplasental bukan dari kompresi tali pusat. Oleh karena itu deselerasi variabel justru merupakan tanda penting dalam menilai asidemia fetus dan bila ada dalam pemeriksaan karditokografi harus diambil langkah cepat untuk terminasi kehamilan guna mencegah luaran janin yang buruk.Kata kunci : kardiotokografi; deselerasi variabel; asidemia fetus
Neglected Traumatic Vulvar Hematoma: A Case Report Pratama, Nicholas; Riani, Mutiara; Mardjuki, Edihan; Darmawan, Budi; Ronny, Ronny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.598

Abstract

Introduction: Vulvar hematoma is a rare condition that can arise from many causes. In serious cases, the patient is hemodynamically unstable and requires immediate treatment. Multiple factors from patients and health care providers impact the outcome. Case Illustration: P0A0 60-year-old woman presented to the outpatient clinic with a painful lump in her vulva for 1 month after trauma and observation in primary care. She had previously consumed anticoagulants for venous insufficiency. Her family’s socioeconomic status was relatively poor. She did not have a complete comprehension of her illness. Physical examination revealed left major labia hematoma with a size of 5 x 10 cm, which was confirmed with ultrasonography. Incision and clot evacuation were performed under general anesthesia and showed a good outcome. Discussion: Vulva is an external part of female genitalia composed of smooth muscle and loose connective tissue with rich vascularization. This organ is prone to hematoma, and there is no consensus published yet. In this patient, the treatment was delayed for 1 month because of a failure to disseminate a clear care plan combined with the patient’s low literacy. Conclusion: Vulvar hematoma is a rare case that can be treated with a conservative, surgical, or embolization approach. Neglected cases can become chronic hematomas that lead to difficulties in diagnosis. A clear care plan should be successfully disseminated to the patient despite many communication challenges to ensure fast and appropriate medical treatment.Hematoma Vulva Traumatik Terbengkalai : Laporan KasusAbstrak Pendahuluan: Hematoma vulva adalah kasus jarang yang dapat timbul karena berbagai macam penyebab. Pada kasus yang berat, pasien dapat mengalami hemodinamik yang tak stabil dan memerlukan tatalaksana secepatnya. Berbagai macam faktor dari pasien dan tenaga kesehatan mempengaruhi hasil pengobatan.Ilustrasi Kasus: Wanita P0A0 usia 60 tahun datang ke poliklinik dengan benjolan yang menyebabkan nyeri pada vulva 1 bulan pasca trauma yang telah diobservasi di pelayanan primer. Pasien sebelumnya mengkonsumsi antikoagulan untuk insufisiensi vena. Sosioekonomi keluarga pasien relatif rendah. Pemeriksaan fisik menunjukkan hematoma labia mayor berukuran 5 x 10 cm yang dikonfirmasi dengan ultrasonografi. Pada pasien ini dilakukan insisi dan evakuasi gumpalan darah dibawah anestesi umum yang menunjukkan hasil yang baik. Diskusi: Vulva adalah organ genitalia eksternal wanita yang tersusun atas otot polos dan jaringan ikat longgar yang kaya vaskularisasi. Organ ini rentan mengalami hematoma dan saat ini belum terdapat konsensus. Penanganan pada pasien ini terlambat selama 1 bulan karena rencana penanganan yang tidak tersampaikan kepada pasien yang memiliki literasi kesehatan rendah. Kesimpulan: Hematoma vulva adalah kasus jarang yang dapat ditangani secara konservatif, pembedahan, maupun embolisasi. Kasus terbengkalai dapat menjadi hematoma kronis yang menyulitkan dalam diagnosis. Rencana penatalaksanaan yang jelas harus diberikan kepada pasien dengan segala kesulitan komunikasi demi tatalaksana yang cepat dan tepat.Kata kunci: hematoma vulva, terbengkalai, pemahaman kesehatan, literasi kesehatan rendah
Effectiveness of Vitamin D Therapy on the Lipid Profile of Patients with Polycystic Ovary Syndrome Usman, Fatimah; Abadi, Adnan; Effendi, Kms. Yusuf; Manan, Heriyadi; Andrina, Hana
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.522

Abstract

Polycystic ovary syndrome (PCOS) is characterized by chronic hyperandrogenism and anovulation that is also associated with various clinical and biochemical features. Vitamin D deficiency is a common problem that affects up to half of the adult population worldwide, including patients with PCOS. Based on these considerations, we are interested in further exploring the effectiveness of vitamin D in improving lipid profiles in PCOS.Efektivitas Terapi Vitamin D pada Profil Lipid Penderita Sindrom Ovarium PolikistikAbstrakSindrom Ovarium Polikistik (PCOS) ditandai dengan hiperandrogenisme kronis dan anovulasi yang juga berhubungan dengan berbagai gambaran klinis dan biokimia. Kekurangan vitamin D adalah masalah umum yang mempengaruhi setengah populasi orang dewasa di seluruh dunia, termasuk pasien PCOS. Tinjauan literatur ini dilakukan untuk mencari artikel asli dan review mengenai pertanyaan spesifik mengenai efektivitas terapi vitamin D terhadap profil lipid pasien PCOS.Kata kunci: PCOS, Lipid, Vitamin D
Analisis Pergerakan Leher Kandung Kemih, Ukuran Genital Hiatus, Titik Aa dan Ba pada POP-Q dengan Retensio Urin pada Pasien Pasca-Perbaikan Prolaps Organ Panggul Ma'soem, Aria Prasetya; Sasotya, R.M Sonny; Achmad, Eppy Darmadi; Armawan, Edwin; Sukarsa, Rizkar Arev; Rinaldi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.607

Abstract

Pendahuluan:Retensio urin pasca-operasi merupakan kejadian yang sering terjadi setelah operasi perbaikan prolaps organ panggul (POP), dengan angka kejadian berkisar antara 2,5 – 24%. Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi pergerakan kandung kemih dan gangguan berkemih yaitu penurunan leher kandung kemih, sudut retrovesika, dan rotasi uretra. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara profil leher kandung kemih, ukuran genital hiatus, dan titik Aa dan Ba pada POP-Q terhadap retensio urin pasca-perbaikan prolaps organ panggul.Metode: Penelitian observasional analitik ini menggunakan pendekatan rancangan potong lintang pada wanita yang menjalani operasi POP di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni–November 2023.Hasil: Penurunan leher kandung kemih, sudut retrovesika, rotasi uretra, dan ukuran genital hiatus diukur dengan ultrasonografi. Titik Aa dan Ba diukur dengan skoring POP-Q, kemudian dilakukan pengukuran post-void residual volume. Ditemukan rata-rata usia pasien adalah 60±9 tahun. Sebagian besar subjek penelitian merupakan POP stadium III.Kesimpulan:Tidak terdapat perbedaan bermakna antara karakteristik subjek penelitian (p>0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara parameter leher kandung kemih, sudut retrovesika, rotasional uretra, ukuran urogenital hiatus, skor POP-Q titik Aa dan Ba terhadap volume PVR (p>0,05). Titik Ba pada POP-Q berkorelasi signifikan terhadap volume PVR pasca-perbaikan prolaps organ panggul.Analysis of Bladder Neck Movement Profile, Genital Hiatus Size, Points Aa and Ba on POP-Q with Urinary Retention in Post Pelvic Organ Prolapse Repair PatientsAbstract Introduction: Postoperative urinary retention is a common following surgical repair of pelvic organ prolapse (POP), with the incidence ranges between 2.5–24%. This study aimed to determine the relationship between bladder neck profile, genital hiatus, and Aa and Ba points in POP-Q on the incidence of urinary retention after repair of pelvic organ prolapse. Method: This analytical observational study was done with a cross-section design and included women underwent repair of pelvic organ prolapse at RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung in June–November 2023. Results: Bladder neck descent, retrovesical angle, urethral rotation, and genital hiatus were measured by ultrasonography. Points Aa and Ba were measured using POP-Q scoring, then post-void residual volume was measured. The patients had a mean age of 60±9 years. Most of the subjects were stage III POP. Conclusion: There were no significant differences between bladder neck descent, retrovesical angle, urethral rotation, urogenital hiatus, POP-Q scores points Aa and Ba and PVR volume (p>0.05). Point Ba on POP-Q was significantly correlated with PVR volume after pelvic organ prolapse repair.Key words: pelvic organ prolapse, post-void residual volume, urinary retention, rectovesical angle, urogenital hiatus
Multigravida 37 Weeks Pregnant Not in Labour with Carotid Cavernous Fistula Life Single Fetus Head Presentation: Case Report Puspitasari, Dwi Cahya; Bernolian, Nuswil; Pangemanan, Wim Theodorus; Syamsuri, Ahmad Kurdi; Ansyori, Muhammad Hatta; Mirani, Putri; Lestari, Peby Maulina; Martadiansyah, Abarham
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.611

Abstract

Background: Carotid cavernous fistula (CCF) is an abnormal shunt from the carotid artery to the cavernous sinus. The management of pregnant patients with CCF is individualized. The aims of this case report are to document a rare presentation of a multigravida at 37 weeks of gestation with a carotid cavernous fistula, describe clinical symptoms and management, report outcomes, and contribute insights to the medical literature.Case Report: The referred patient, G2P1A0, who was 37 weeks pregnant with a live single fetus in cephalic presentation, presented with left eye swelling persisting since the first pregnancy at 6 months gestation, associated with headaches. The patient underwent neurosurgical intervention at Mohammad Hoesin Hospital, including digital subtraction angiography (DSA). Currently, experiencing preterm labor symptoms, the management includes inpatient care, blood transfusion (Hb > 10 g/dL), and termination via the perabdominal approach.Discussion: A multigravida at 37 weeks pregnant in labor with carotid cavernous fistula and a live single fetus in head presentation, as existing literature suggests, has no clear link between maternal carotid cavernous fistula history and fetal outcomes. Despite concerns about potential fetal abnormalities and cancer risk from endovascular embolization therapy during pregnancy, postpartum follow-up with advanced digital subtraction angiography (DSA) is planned.Conclusion: The complexity of managing a multigravida at 37 weeks pregnant in labor with carotid cavernous fistula and a live single fetus in head presentation emphasizes the importance of a multidisciplinary approach for optimal maternal and fetal outcomes.Multigravida Hamil 37 Minggu Belum Inpartu dengan Fistula Cavernosa Karotis Janin Tunggal Hidup Presentasi Kepala: Laporan KasusAbstrakLatar belakang: Fistula kavernosus karotis (CCF) adalah celah/ lubang abnormal dari arteri karotis ke sinus kavernosus. Penatalaksanaan pasien hamil dengan CCF bersifat individual. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk mendokumentasikan presentasi langka seorang multigravida pada usia kehamilan 37 minggu dengan fistula kavernosus karotis, mendeskripsikan gejala klinis dan penatalaksanaannya, melaporkan hasil, dan menyumbangkan wawasan untuk literatur medis.Laporan Kasus: Pasien yang dirujuk, G2P1A0, pada usia kehamilan 37 minggu dengan janin tunggal hidup dengan presentasi kepala, datang dengan pembengkakan mata kiri yang berlangsung sejak kehamilan pertama pada usia kehamilan 6 bulan, yang berhubungan dengan sakit kepala. Pasien menjalani intervensi bedah saraf di Rumah Sakit Mohammad Hoesin, termasuk Digital Subtraction Angiography (DSA). Saat ini, mengalami gejala persalinan prematur, penatalaksanaan yang dilakukan meliputi rawat inap, transfusi darah (Hb > 10 g/dL), dan terminasi melalui pendekatan perabdominal.Diskusi: Seorang multigravida dengan usia kehamilan 37 minggu yang melahirkan dengan fistula kavernosa karotis dan janin tunggal hidup dengan presentasi kepala, merupakan kasus yang jarang terjadi, karena literatur yang ada menunjukkan tidak ada hubungan yang jelas antara riwayat fistula kavernosa karotis ibu dan hasil janin. Meskipun ada kekhawatiran mengenai potensi kelainan janin dan risiko kanker dari terapi embolisasi endovaskular selama kehamilan, tindak lanjut pascapersalinan dengan angiografi pengurangan digital (DSA) lanjutan direncanakan.Simpulan: Kompleksitas pengelolaan multigravida dengan usia kehamilan 37 minggu dalam persalinan dengan fistula kavernosa karotis dan janin tunggal hidup dengan presentasi kepala, menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin untuk luaran ibu yang optimal. Perlunya pendektanan multidispilin keilmuan memeberiksan hasil yanga baik pada ibu dan bayinya.Kata kunci: Fistula Kavernosa Karotis, Angiografi Pengurangan Digital
A Case Report of Thoraco-Omphalopagus Conjoined Twins: The Downfall of the Separated Hearts Safira, Siti Anissa; Chalid, Maisuri T; Madya, Fatmawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.591

Abstract

Introduction: Thoraco-omphalopagus conjoined twins are a rare occurrence of monozygotic pregnancy that involves fusion of the anterior thorax and abdomen. This type presents a variety of cardiac anomalies, which contribute to its generally unfavorable prognosis.Case Presentation: A 32-year-old multigravida with Gravida 6, Para 4, and Abortus 1 was referred at 28 weeks of gestation. Ultrasonography revealed thoracoomphalopagus-conjoined twins in which the fetuses joined ventrally. Prenatal MRI revealed the sharing of a single liver, omentum, and diaphragm. Partial fusion was observed in the sternal bone, pericardium, and anterior wall of the hearts, but with separated heart chambers and unsynchronized heartbeats. Classical cesarean section was performed at 38 weeks of gestational age. Histopathology revealed a single placenta with one umbilical cord, suggesting monochorionic– monoamniotic pregnancy. Healthy female babies were born with a combined weight of 5400 g. Post-delivery echocardiography revealed a cardiac anomaly characterized by malposition of the great arteries in a twin. After 13 h of close monitoring in the NICU, the twins died due to cardiac complications.Conclusion: The management of pregnancy involving thoraco-omphalopagus conjoined twins requires a comprehensive and multi-disciplinary approach aiming to provide holistic care, addressing complex medical risks, and ethical dilemmas associatedwith these twins.Laporan Kasus Mengenai Kembar Siam Torako-Omfalopagus: Prognosis Buruk pada Jantung yang TerpisahAbstrakPendahuluan: Kembar siam thoraco-omphalopagus adalah kejadian langka pada kehamilan monozigot yang melibatkan penyatuan antara toraks dan abdomen anterior. Tipe ini diketahui dapat disertai adanya kelainan jantung yang berkontribusi terhadap prognosis yang umumnya kurang baik.Presentasi Kasus: Multigravida berusia 32 tahun dengan Gravida 6, Para 4, Abortus 1, dirujuk pada usia kehamilan 28 minggu. Ultrasonografi menunjukkan kembar siam torako-omfalopagus di mana janin menyatu secara ventral. MRI prenatal memperlihatkan adanya fusi organ hati, omentum dan diafragma. Di sisi lain, fusi parsial diamati pada sternum, perikardium, dan dinding anterior jantung, dengan ruang jantung terpisah dan detak jantung yang tidak bersifat sinkron.Seksio sesarea klasik dilakukan pada usia kehamilan 38 minggu. Histopatologi menunjukkan plasenta tunggal dengan satu tali pusat sugestif kehamilan monokorionik-monoamniotik. Dua bayi perempuan sehat lahir dengan berat kombinasi 5.400 gram. Ekokardiografi pascasalin menunjukkan adanya anomali jantung berupa malposisi arteri besar pada salah satu bayi. Setelah 13 jam observasi ketat di NICU, kedua bayi kembar meninggal akibat komplikasi jantung.Kesimpulan: Penatalaksanaan kehamilan kembar siam thoraco-omphalopagus memerlukan pendekatan komprehensif dan multidisiplin yang bertujuan untuk memberikan perawatan holistik, mengatasi risiko medis, dan dilema etika yang terkait.Kata kunci: Kembar Siam; Kembar Monozigotik; Thoraco-omphalopagus
Front Cover, Editorial Team, Table of Contents, and Back Cover Jurnal, obginia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.666

Abstract

Page 2 of 3 | Total Record : 29