cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Front Cover, Editorial Team, Table of Contents, and Back Cover Jurnal, obginia
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.666

Abstract

Karakteristik Tumor Trofoblas Gestasional Risiko Tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2019 – 2021 Hidayat, Yudi Mulyana; Megantari, Salsa Bila; Harsono, Ali Budi; Suardi, Dodi; Mantilidewi, Kemala Isnainiasih
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.493

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik demografi dan klinis pasien TTG risiko tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2019 – 2021.Metode: Penelitian ini menggunakan analisis secara deskriptif yang didapatkan melalui rekam medis pasien TTG risiko tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2019 – 2021 dengan metode total sampling. Hasil: Terdapat 69 rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil tersebut menunjukkan banyaknya pasien yang memiliki pendidikan terakhir pada jenjang SMA (49%), tidak memiliki pekerjaan (84%) yang didominasi oleh ibu rumah tangga, beretnis Sunda (93%), berasal dari daerah wilayah IV Priangan (54%), berusia lebih dari 40 tahun (57%), multipara (61%), memiliki riwayat mola (71%), interval dengan kehamilan sebelumnya 7 hingga 12 bulan (54%), kadar β-hCG yang diukur sebelum terapi sebanyak 10.000 - <100.000 mIU/mL (42%), tidak terjadi metastasis (68%)  diikuti hasil terjadinya metastasis pada paru-paru (26%), tidak memiliki hasil pemeriksaan tipe histopatologi (61%) diikuti hasil tipe histopatologi koriokarsinoma (33%), dan memiliki stadium I  (59%).Kesimpulan: Kasus TTG risiko tinggi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2019 – 2021 lebih umum terjadi pada pasien yang memiliki pendidikan terakhir pada jenjang SMA, tidak memiliki pekerjaan yang didominasi oleh ibu rumah tangga, beretnis Sunda, berasal dari daerah wilayah IV Priangan, berusia lebih dari 40 tahun, riwayat multipara, riwayat mola, interval dengan kehamilan sebelumnya 7 hingga 12 bulan, kadar β-hCG yang diukur sebelum terapi sebanyak 10.000 - < 100.000 mIU/mL, tidak terjadi metastasis, dan memiliki stadium I.Characteristics of High Risk Gestational Trophoblast Neoplasia at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2019 – 2021AbstractObjective: This research aims to identify the demographic and clinical characteristics of patients with high-risk GTN at Dr. Hasan Sadikin Bandung in 2019–2021.Method: This research used descriptive analysis, which was obtained from the medical records of patients with high-risk GTN at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in 2019–2021 using the total sampling method.Results: 69 patient medical records met the inclusion and exclusion criteria. These results show that the number of patients who have had their last education at the high school level (49%), do not have a job (84%), are dominated by housewives, are of Sundanese ethnicity (93%), and come from region IV Priangan (54%), aged over 40 years (57%), multiparous (61%), had a history of molar (71%), an interval with a previous pregnancy of 7 to 12 months (54%), β-hCG level measured before therapy of 10,000– 100,000 mIU/mL (42%), no metastases (68%) followed by lung metastases (26%), no histopathological type (61%) followed by choriocarcinoma histopathological type (33%), and staging I (59%).Conclusion: High-risk GTN cases at Dr. Hasan Sadikin Bandung in 2019 – 2021 are more common in patients who have the last education at the high school level, do not have a job dominated by housewives, are of Sundanese ethnicity, come from the IV Priangan region, are over 40 years old, have a history of multiparas, a history of moles, an interval with a previous pregnancy of 7 to 12 months, β-hCG level measured before therapy was 10,000– 100,000 mIU/mL, no metastases occurred, and had stage I.Key words: Characteristics, Demographic, Gestational Trophoblastic Neoplasia, High Risk
Correlation between LDH, Liver Function, Platelets and Proteinuria in Preeclampsia with Severe Features Shifa, Rifhani Ashilla; Lubis, Muara Panusunan; Lubis, Hilma Putri; Barus, Melvin Nova Gunawanto
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.635

Abstract

Objectives: To identify the relationship between LDH, bilirubin, SGPT, SGOT, and platelets with proteinuria in preeclampsia with severe features patients. Method: This study is an observational analytical with a retrospective cross-sectional design. The samplings contain 70 patients from the medical records of patients who were diagnosed with preeclampsia with severe features at H. Adam Malik Hospital Medan from January 2020 to March 2023.Results: It was found that 74.3% of the population had semiquantitative urine protein levels ≥+2. The average levels of LDH, total bilirubin, SGPT, SGOT, and platelets were 514.64 U/L, 0.9 mg/dL, 57.77 U/L, 64.01 U/L, and 197,585/mm3, respectively. Statistical analysis showed a positive association between proteinuria and LDH (p=0.001). However, there was no meaningful association between liver and platelet function and proteinuria.Conclusion: There is a relationship between LDH and proteinuria in severe preeclampsia patients.Hubungan antara LDH, Fungsi Hati, Trombosit dengan Proteinuria pada Pasien Preeklamsia BeratAbstrakTujuan: Untuk mengidentifikasi hubungan antara LDH, bilirubin, SGPT, SGOT, dan trombosit dengan proteinuria pada pasien preeklampsia dengan gejala berat.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang retrospektif. Sampel terdiri dari 70 pasien dari rekam medis pasien yang didiagnosis dengan preeklampsia berat di RSUP H. Adam Malik Medan pada periode Januari 2020 hingga Maret 2023.Hasil: Ditemukan bahwa 74,3% dari populasi memiliki kadar protein urin semikuantitatif ≥+2. Kadar rata-rata LDH, bilirubin total, SGPT, SGOT, dan trombosit masing-masing adalah 514,64 U/L, 0,9 mg/dL, 57,77 U/L, 64,01 U/L, dan 197.585/mm3. Analisis statistik menunjukkan hubungan positif antara proteinuria dan LDH (p=0,001). Namun, tidak ada hubungan yang bermakna antara fungsi hati dan trombosit dengan proteinuria.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara LDH dan proteinuria pada pasien preeklampsia berat.Kata kunci: hemolisis, fungsi hati, trombosit, preeklamsia berat, proteinuria
Hubungan 8 OHdG (8-Hydroxy-2- Deoxyguanosin) Urin Neonatus dan Preeklamsia Tannur, Sebastianus; Lukas, Efendi; Mailoa, Johnsen; Alasiry, Ema; Irianta, Trika; Chalid, Maisuri T.
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.582

Abstract

Pendahuluan: Preeklamsia merupakan penyakit dengan berbagai teori (disease of theory) yang menggambarkan ketidakpastian patofisiologi dan penyebabnya. preeklamsia bukan hanya menyebabkan komplikasi terhadap maternal namun juga menimbulkan komplikasi terhadap janin, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Peningkatan jumlah radikal bebas merupakan tanda terjadinya stres oksidatif pada kehamilan dengan preeklamsia. 8-OHdG adalah produk utama yang dibentuk dari radikal hidroksil pada residu guanine DNA.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik yang dikembangkan dengan desain penelitian cross-sectional. Sampel penelitian adalah neonatus yang lahir dari wanita hamil dengan dan tanpa didiagnosa preeklamsia. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling. dilakukan di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo,dan rumah sakit jejaring pendidikan. Pengujian/running sampel dilakukan di unit Laboratorium Penelitian RSPTN Universitas Hasanuddin dengan metode Elisa. Data dianalisis dengan uji Chi squae, uji Mann whitney dan uji Kruskal wallis Hasil: Hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat sebanyak 82 orang yang terbagi menjadi 41 orang sampel yang merupakan kelompok dengan preklamsia dan 41 orang sampel kelompok kontrol (normal). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai kadar 8-OHdG urin neonatus (8-hydroxy-2- deoxyguanosin) pada kehamilan dengan Preeklamsia diperoleh nilai rerata kadar 8-OHdG urin neonatus pada kehamilan normal sebesar 3.79±1.99, sedangkan kehamilan dengan preeklamsia sebesar 14.25±16.81. uji statistik chi-square menunjukkan nilai p sebesar 0.00 dimana nilai p<0.05 yang artinya terdapat perbedaan kadar 8-OHdG urin neonatus terhadap kejadian preeklamsia dan ibu hamil normal pada penelitian ini. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan bermakna kadar 8-OHdG urin neonatus yaitu lebih tinggi kadar pada ibu hamil penderita preeklamsia daripada ibu hamil normal.Relationship Between 8 OHdG (8-Hydroxy-2- Deoxyguai›osine) in Neonate Urine and PreeclampsiaAbstractIntroduction: Preeclampsia is a disease with various theories (disease of theory) that describes the uncertainty of its pathophysiology and causes. Preeclampsia not only causes complications for the mother but also causes complications for the fetus, both short and long term. An increase in the number of free radicals is a sign of oxidative stress in preeclampsia. 8-OHdG is the main product formed from hydoxyl radicals in DNA guanine residues. Method: The research was an analytical study developed with a cross-sectional research design. The research sample was neonates born to pregnant women with and without a diagnosis of preeclampsia. The sample was determined by using purposive sampling technique carried out at Wahidin Sudirohusodo Hospital and educational network hospitals. Sample testing was carried out at Hasanuddin University RSPTN Research Laboratory unit using Elisa method. Data were analyzed using Chi square test, Mann Whitney test, and Kruskal Wallis test. Results: The research was carried out to 82 people who were divided into 41 samples in the group with preeclampsia and 41 samples in the control group (normal). Based on the results of research that has been carried out regarding the level of 8-OHdG in neonate urine (8-hydroxy-2-deoxyguanosine) in pregnancies with preeclampsia, the mean value of 8-OHdG level in neonate urine in normal pregnancies is 3.79 z 1.99, while the one in pregnancies with preeclampsia it is 14.25 z 16.81. The chi-square statistical test shows a p value 0.00 which p value <0.05, which means that there is a difference in the level of 8-OHdG in neonate urine in the occurrence of preeclampsia and normal pregnant women. Conclusion: There is a significant difference between the level of 8-OHdG in neonate urine, where the level is higher in pregnant women with preeclampsia than in normal pregnant women.Key words: 8-OHdG, neonate urine, preeclampsia
The Relationship Between Body Mass Index And Anemia An Pregnancy At The Muara Fajar Rumbai Community Health Center, Pekanbaru City Razali, Renardy Reza; Noviardi, Noviardi; Afdanil, Fitra
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.702

Abstract

Introduction: Anemia during pregnancy is a health problem that can be detrimental to the mother and baby, such as premature birth, low birth weight, and even death in the mother. Inappropriate nutritional intake can cause health problems such as malnutrition which can increase risks in pregnancy such as low birth weight, premature birth, and anemia.Method: This study is a cross-sectional study of pregnancy in the first and third trimesters recorded at the Muara Fajar Rumbai Community Health Center, Pekanbaru was conducted in February 2024.Results: This study was conducted with a total research sample of 106 pregnant women. Bivariate analysis showed the relationship between the incidence of anemia and gestational age showed a p-value <0.05. The relationship between BMI and the incidence of anemia in pregnant women was found to be a p-value of 0.001, which indicates that there is a relationship between BMI and the incidence of anemia in pregnant women in the Muara Fajar Community Health Center working area, Pekanbaru City. The variables age, BMI, level of knowledge, and income are the dominant variables in causing the incidence of anemia in pregnancy.Conclusion: Maternal nutritional status as assessed by BMI influences the incidence of anemia in pregnant women, especially in the third trimester.Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh dan Anemia Pada Kehamilan di Puskesmas Muara Fajar, Kota PekanbaruAbstrakPendahuluan: Anemia selama kehamilan merupakan masalah kesehatan yang dapat merugikan ibu dan bayi seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, hingga menyebabkan kematian pada ibu. Asupan gizi yang tidak sesuai dapat menyebabkan masalah kesehatan seperi malnutrition yang dapat meningkatkan risiko pada kehamilan seperti berat bayi lahir rendah kelahiran prematur dan anemia.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional pada ibu hamil trismester I dan III yang terdata di Puskesmas Muara Fajar Rumbai Kota Pekanbaru yang dilakukan pada bulan Februari 2024.Hasil: Penelitian ini dilakukan dengan total sampel penelitian berjumlah 106 orang ibu hamil. Analisis bivariate menunjukkan hubungan antara kejadian anemia dan usia kehamilan menunjukkan p-value < 0,05. Hubungan antara IMT dan kejadian anemia pada ibu hamil diperoleh p-value 0.001 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan IMT dengan kejadian anemia pada ibu hamil di wilayah Kerja Puskesmas Muara Fajar Kota Pekanbaru. Variabel usia, IMT, tingkat pengetahuan, dan penghasilan menjadi variabel yang dominan dalam mengakibatkan kejadian anemia pada kehamilan.Kesimpulan: Status gizi ibu yang dinilai dari IMT memengaruhi kejadian anemia pada ibu hamil terutama pada trimester ke-III.Kata kunci: Kehamilan, Status Gizi, Indeks Massa Tubuh, Anemia 
Etika Klinik sebagai Ciri dari Profesionalisme dalam Pelayanan Obstetri dan Ginekologi Susiarno, Hadi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.593

Abstract

Pelayanan kesehatan sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Upaya tersebut bukan hanya untuk mengobati atau menghilangkan penyakit saja, tetapi juga harus disertai dengan rasa puas dan nyaman bagi orang sakitnya. Untuk bisa mencapai upaya tersebut, pelayanan kesehatannya harus mengandung dua unsur, yaitu biomedis dan etika. Yang dimaksud dengan biomedis itu adalah kemampuan dokter untuk membuat diagnosis yang benar, alternatif terapi yang yang tepat dan aman, serta prognosis yang baik, sedangkan yang dimaksud dengan etika adalah niat, sikap dan perilaku dokter yang sabar, jujur dan ikhlas serta penuh empati dalam menangani pasiennya. Dalam perkataan lain, dokter itu harus bertindak profesional. Telah disepakati bahwa tonggak ilmu kedokteran modern dimulai dua setengah abad yang lalu, pada saat Hippocrates memperkenalkan tradisi luhur yang menjadi ciri dan pedoman bagi perilaku para dokter. Praktik kedokteran, dari dahulu sampai sekarang. Selain harus mempunyai kompetensi klinik (ekspertis) yang baik, juga selalu dipandu berdasarkan prinsip etika. Dua di antaranya, adalah nil nocere(do not harm) dan bonum facere(do good for the patient).Prinsip ini, setelah melalui berbagai penyesuaian dan penyempurnaan, tetap berlaku sampai sekarang. Sekarang pun, para lulusan kedokteran, diwajibkan mengucapkan Sumpah Dokter pada saat diwisuda dan diberi pedoman yang harus ditaatinya, berupa Kode Etik Kedokteran Indonesia(KODEKI)1 dan Petunjuk Teknis Praktek Kedokteran.
Dengue Hemorrhagic Fever and its Effect on the Pregnancy Outcomes: A Case Series Farhanah, Aninda Yasmin; Siddiq, Amillia; Djuwantono, Tono; Adriansyah, Putri Nadhira Adinda
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.678

Abstract

Background: Dengue fever in pregnancy is associated with a more severe presentation and an increased risk of adverse obstetric and neonatal outcomes. We describe three cases of dengue fever in pregnancy with different fetal outcomes (intrauterine fetal death, fetal distress, and healthy neonate). Case Illustration: The first case involves a 23-year-old G1P0A0 at 31-32 weeks of gestation complaining of reduced fetal movement. She presented with a high-grade fever, anaemic, and thrombocytopenic. Her liver function was increased with AST 447 U/L and ALT 403 U/L. The fetal heart rate could not be detected. The second case involves a 26-year-old G3P2A0 at term pregnancy complaining of labor pain. She presented with vaginal bleeding, high-grade fever, and vomiting five days prior. Her liver function was also increased (AST 301 U/L and ALT 298 U/L). At presentation, fetal distress was detected. The third case involves a 19-year-old G2P1A0 presented with high-grade fever and nausea for five days. Her liver function was moderately increased (AST 68 U/L and ALT 76 U/L). She delivered a 3050-gram healthy neonate vaginally. Discussion: Dengue fever causes adverse obstetric outcomes. Endothelial injury exacerbated by plasma loss leads to placental dysfunction and poor fetal conditions. Unfortunately, dengue fever in pregnancy is not yet specifically addressed in our national guidelines. Conclusion: Increased severity of dengue fever in pregnancy may cause poor maternal and fetal outcomes.Demam Berdarah Dengue dan Dampaknya terhadap Luaran Kehamilan: Sebuah Serial KasusAbstrakPendahuluan: Demam berdarah dengue pada kehamilan terkait dengan tingkat keparahan penyakit dengue yang lebih berat dan meningkatnya risiko komplikasi obstetrik dan neonatus. Serial kasus ini menyajikan tiga kasus demam berdarah pada kehamilan dengan luaran janin yang berbeda (kematian janin intrauterine, gawat janin, dan neonatus sehat). Presentasi Kasus: Kasus pertama, G1P0A0 gravida 31 – 32 minggu, berusia 23 tahun, datang dengan keluhan utama berkurangnya gerakan janin. Keluhan demam, nyeri retro-orbital, mual, dan muntah dirasakan sejak 4 hari sebelumnya. Terdapat tanda konjungtiva anemis, trombositopenia, dan fungsi liver meningkat (AST 447 U/L dan ALT 403 U/L). Detak jantung janin tidak terdeteksi. Kasus kedua, G3P2A0 gravida aterm, 26 tahun, datang dengan keluhan mules-mules, perdarahan jalan lahir, demam, mual, dan muntah dirasakan sejak 5 hari sebelumnya. Pasien mengalami trombositopenia dan peningkatan fungsi liver (AST 301 U/L dan ALT 298 U/L). Pemeriksaan janin menunjukkan tanda gawat janin. Kasus ketiga, G2P1A0 gravida aterm, 19 tahun, datang dengan keluhan utama mules-mules. Keluhan demam dan mual dirasakan sejak 5 hari. Pemeriksaan menunjukkan trombositopenia dan fungsi liver sedikit meningkat (AST 68 U/L dan ALT 76 U/L). Pasien melahirkan neonatus sehat secara spontan dengan berat 3050 gram.Diskusi: Kebocoran plasma merupakan pencetus dari kerusakan endotel sehingga dapat mengakibatkan disfungsi plasenta dan kondisi janin memburuk. Namun, belum ada panduan resmi tatalaksana demam berdarah pada kehamilan di Indonesia.Kesimpulan: Meningkatnya tingkat keparahan demam berdarah pada kehamilan menyebabkan luaran maternal dan neonatus yang buruk.Kata kunci: Demam dengue, maternal, fetus, luaran, kehamilan
Apakah Persalinan di Usia Remaja dapat Meningkatkan Insidens Persalinan Prematur Edbert, Bruce; Dewi, Andriana Kumala
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.580

Abstract

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persalinan usia remaja dan insidens persalinan prematur. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain potong lintang, sampel yang didapatkan berjumlah 87 partisipan yang dianalisis secara univariat dan bivariat (fisher exact) dengan bantuan perangkat lunak SPSS.Hasil: Penelitian ini menemukan sebanyak 16,3% ibu bersalin yang berusia di bawah 20 tahun mengalami persalinan prematur dan adanya hubungan antara persalinan di usia remaja terhadap insidens persalinan prematur (ρ-value = 0,030; PR = 7,163; IK 95% = 0,982 – 71,176). Kesimpulan: Terdapat peningkatan insidens persalinan prematur pada ibu yang bersalin di usia remaja.Does Adolescent Labor Increases the Incidence of Preterm Labor?Abstract Objective: This study aimed to determine the relationship between teenage childbirth and the incidence of premature delivery.Method: This study was an analytical observational research with a cross-sectional design. The sample consisted of 87 participants who were analyzed using univariate and bivariate analysis (fisher exact) with the assistance of SPSS software.Results: this study found that 16.3% of the patients who gave birth under the age of 20 experienced premature delivery and had significant relationship between teenage childbirth and the incidence of premature delivery (ρ-value = 0.030; PR = 7,163; 95% CI = 0.982 - 71.176).Conclusion: There was an increased incidence of premature delivery among patients who gave birth during their teenage years.Key words: pregnancy; pregnancy complications; premature delivery; teenagers.
Tatalaksana Vaginismus dalam Pendekatan Multimodalitas Sasotya, R.M. Sonny
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.660

Abstract

Vaginismus didefinisikan sebagai gangguan penetrasi di mana segala bentuk penetrasi vagina seringkali menyakitkan atau tidak mungkin. Secara tradisional disebut sebagai kontraksi otot dasar panggul yang tidak disengaja karena rasa sakit yang sebenarnya atau yang diantisipasi terkait dengan penetrasi vagina. Definisi vaginismus baru-baru ini berubah, dan edisi kelima dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders mencirikannya sebagai subset dari “Genito-Pelvic Pain/Penetration disorder” daripada vaginismus. Tingkat prevalensi vaginismus dalam pengaturan klinis telah diperkirakan 5% sampai 17%, dan diyakini sebagai salah satu disfungsi seksual wanita yang lebih umum. Faktor psikologis yang berbeda berkaitan dengan vaginismus, seperti pengalaman seksual traumatis, pelecehan seksual, agama yang ketat dan/atau seksual yang ketat. masalah pengasuhan, ketakutan dan/atau kecemasan dan ditahan di usia muda selama kateterisasi atau enema, tetapi tidak selalu terkait dengan masalah psikologis dan beberapa pasien memberikan riwayat negatif untuk faktor-faktor tersebut. Vaginismus adalah gangguan psikologis yang dimanifestasikan oleh ketakutan dan kecemasan terhadap penetrasi dan gangguan fisik yang ditandai dengan kejang vagina dan berbeda dari gangguan nyeri seksual lainnya seperti vulvodynia atau vestibulodynia.
Hubungan Antara Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline (NGAL) dan Kejadian Preeklamsia: Penelitian Potong-Lintang Koesuma, Edward Chandra; Lukas, Efendi; Tahir, Mardiah; Sunarno, Isharyah; Jusuf, Elizabet C; Abidin, Nuraini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.567

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara kadar Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline (NGAL) pada kehamilan normal, Preeklamsia Berat (PEB) tanpa Komplikasi, dan PEB dengan Komplikasi.Metode:Desain penelitian cross sectional dilakukan pada ibu hamil dengan usia kehamilan lebih dari 20 minggu di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo dan rumah sakit jejaring pendidikan lainnya sejak bulan Januari hingga Juni tahun 2022. Data dikumpulkan menggunakan sampel darah dan diperiksa lebih lanjut dengan metode ELISA. Uji Chi-Square digunakan untuk menganalisis hubungan antara kadar NGAL dan derajat keparahan PEB.Hasil: Pada penelitian ini mencakup 156 sampel, yang terdiri atas wanita hamil normal (n=53), wanita hamil dengan PEB tanpa komplikasi (n=50), dan wanita hamil dengan PEB dan komplikasi (n=53). Penelitian ini menemukan bahwa semakin  berat derajat preeklamsia, maka  semakin rendah kadar NGAL-nya yaitu kadar NGAL diamati pada 58% wanita PEB dengan komplikasi dan 32,1% wanita PEB tanpa komplikasi dan 9,8% pada kehamilan normal (p <0,05). Hasil penelitian ini  tidak sesuai dengan teori yang menemukan peningkatan kadar NGAL pada pasien PEB. Penurunan kadar NGAL ini mungkin dapat disebabkan oleh prevalensi obesitas yang banyak pada kelompok PEB dengan dan tanpa komplikasi. Obesitas merupakan  kondisi inflamasi sistemik dan NGAL dapat bertindak sebagai regulator negatif terhadap aktivitas inflamasi yang dimediasi oleh disfungsi adiposit. Pada kelompok PEB juga didapatkan pemberian MgSO4, yang  memiliki peran untuk menghambat kadar IL-6 sehingga dapat menurunkan kadar NGALKesimpulan: Penurunan kadar NGAL berpotensi untuk menjadi biomarker dalam menilai derajat keparahan preeklamsia.Correlation Between Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline (NGAL) and Preeclampsia: A Cross-sectional StudyAbstract    Objective: to observe the correlation between level of Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline (NGAL) on normal pregnancy, severe preeclampsia (SPE) without complication, & SPE with complication. Method: Cross-sectional Study Design method is performed on pregnant women with gestational age of more than 20 weeks at Dr. Wahidin Sudirohusodo hospital & the other educational networking hospitals from January to June 2022. Data were collected using blood samples & further examined with ELISA method. Chi-Square test   is used to analyze the correlation between NGAL level & degree of severity of the severe preeclampsia.Results: this study includes 156 samples consisting of normal pregnant women (n=53), pregnant women with SPE without complication (n= 50), & pregnant women with SPE with complication (n= 53), we found out that the more severe the degree of preeclampsia, the lower the level of NGAL where the level of NGAL is observed on 58% of pregnant women with complication & 32.1% pregnant women without complication, & 9.8% on women with normal pregnancy (p<0.05). This study result is irrelevant with the theory which  found the rising level of NGAL on patients with SPE, this decreasing level of NGAL might be caused by obesity prevalence mostly found on pregnant with & without complication since obesity is a systemic  inflammatory condition & NGAL can act as negative regulator against inflammatory activity mediated by adipocyte disfunction. On SPE group there is also MgSO4 administration functioning as a hindrance for IL6 level thus may lessen the NGAL level.Conclusion: the decreasing level of NGAL  is potential to become a biomarker in evaluating the severity of preeclampsia.Key words: degree of severity, Neutrophil Gelatinase Associated Lipocaline, preeclampsia