cover
Contact Name
Wiryawan Permadi
Contact Email
obgyniajurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
obgyniajurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science
ISSN : 2615496X     EISSN : 2615496X     DOI : -
Core Subject : Health,
OBGYNIA (Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science ) adalah jurnal dalam bidang ilmu Obstetri & Ginekologi yang diterbitkan resmi oleh Departemen Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. OBGYNIA menerbitkan artikel penelitian tentang kemajuan ilmiah, manajemen klinis pasien, teknik bedah, kemajuan pengobatan dan evaluasi pelayanan, manajemen serta pengobatan dalam bidang obstetri & ginekologi.
Arjuna Subject : -
Articles 372 Documents
Effectiveness of Vitamin D Therapy on the Lipid Profile of Patients with Polycystic Ovary Syndrome Usman, Fatimah; Abadi, Adnan; Effendi, Kms. Yusuf; Manan, Heriyadi; Andrina, Hana
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.522

Abstract

Polycystic ovary syndrome (PCOS) is characterized by chronic hyperandrogenism and anovulation that is also associated with various clinical and biochemical features. Vitamin D deficiency is a common problem that affects up to half of the adult population worldwide, including patients with PCOS. Based on these considerations, we are interested in further exploring the effectiveness of vitamin D in improving lipid profiles in PCOS.Efektivitas Terapi Vitamin D pada Profil Lipid Penderita Sindrom Ovarium PolikistikAbstrakSindrom Ovarium Polikistik (PCOS) ditandai dengan hiperandrogenisme kronis dan anovulasi yang juga berhubungan dengan berbagai gambaran klinis dan biokimia. Kekurangan vitamin D adalah masalah umum yang mempengaruhi setengah populasi orang dewasa di seluruh dunia, termasuk pasien PCOS. Tinjauan literatur ini dilakukan untuk mencari artikel asli dan review mengenai pertanyaan spesifik mengenai efektivitas terapi vitamin D terhadap profil lipid pasien PCOS.Kata kunci: PCOS, Lipid, Vitamin D
Good Perinatal Outcome of Rhesus Incompatibility in Multigravida without Anti-D Injection Therapy: A Rare Case Report Husada, Abdillah; Lestari, Peby Maulina; Maritska, Ziske; Sari, Dian Puspita; Al Farisi Sutrisno, Muhammad; Stevanny, Bella
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.668

Abstract

Introduction: Rhesus (Rh) incompatibility problem arises exclusively when an Rh-positive male impregnates an Rh-negative female, resulting in maternal Rh sensitization to produce anti-D antibodies that can bind and destroy Rh-positive erythrocytes of the fetus. Hemolytic disease of the neonate due to Rh incompatibility ranges from self-limited hemolytic anemia to severe hydrops fetalis. Rh incompatibility can be prevented by administering anti-D injection therapy containing Rh Intravenous Immunoglobulin (RhIVIG). We report a rare case of good perinatal outcome of rhesus incompatibility in multigravida without anti-D therapy injection due to weak D phenotype.Case Illustration: A gravida 3, para 2 woman at 27 weeks gestation with Rh-negative blood type, who has not experienced any previous compatibility problems, came to our facility for routine antenatal care. The husband has an Rh-positive blood type with a Dd genotype (heterozygous), suggesting a 50% probability that the offspring will have an Rh-positive blood type. Laboratory results showed a negative Coombs test and weak D phenotype. The patient had never received an anti-D therapy injection in this pregnancy and her previous two pregnancies. None of her children developed hemolytic disease in the neonate. Ultrasonography showed a well-developed 27-week gestational age fetus with no major congenital disorders. The good perinatal outcomes of her children might be due to weak D phenotype. Pregnant women with weak D phenotype have fewer D antigens that can still result in Rh sensitization but not enough to cause serious complications to the fetus. Conclusion: Rhesus incompatibility with weak D phenotype can have good perinatal outcomes without anti-D injection therapy. Administration of Anti-D injection remains a viable option to prevent subsequent Rh alloimmunization.Inkompatibilitas Rhesus pada Multigravida dengan Luaran Perinatal Baik tanpa Terapi Injeksi Anti-D: Laporan KasusAbstrakPendahuluan: Masalah inkompatibilitas Rhesus (Rh) muncul secara eksklusif pada ayah Rh-positif dan ibu Rh-negatif, sehingga terjadi sensitisasi Rh ibu untuk menghasilkan antibodi anti-D yang dapat mengikat dan menghancurkan eritrosit janin yang Rh-positif. Penyakit hemolitik pada neonatus akibat ketidakcocokan Rh dapat berupa anemia hemolitik yang bisa sembuh sendiri hingga hidrops fetalis berat. Inkompatibilitas Rh dapat dicegah dengan pemberian terapi injeksi anti-D yang mengandung Rh Intravenous Immunoglobulin (RhIVIG). Kami melaporkan kasus langka dengan hasil perinatal yang baik inkompatibilitas rhesus pada multigravida tanpa injeksi terapi anti-D akibat fenotip D yang lemah.Ilustrasi Kasus: Seorang wanita gravida 3, para 2 pada usia kehamilan 27 minggu dengan golongan darah Rh-negatif, yang sebelumnya tidak mengalami masalah kompatibilitas, datang ke fasilitas kami untuk pemeriksaan antenatal rutin. Suami mempunyai golongan darah Rh-positif dengan genotipe Dd (heterozigot), sehingga kemungkinan keturunannya mempunyai golongan darah Rh-positif sebesar 50%. Hasil laboratorium menunjukkan tes Coombs negatif dan fenotipe D lemah. Pasien belum pernah menerima suntikan terapi anti-D pada kehamilan ini dan dua kehamilan sebelumnya. Semua anaknya tidak menderita penyakit hemolitik pada neonatus. Hasil USG menunjukkan janin usia kehamilan 27 minggu berkembang baik tanpa cacat bawaan mayor. Hasil perinatal yang baik mungkin disebabkan oleh lemahnya fenotip D. Ibu hamil dengan fenotip D yang lemah memiliki antigen D yang lebih sedikit sehingga masih dapat menyebabkan sensitisasi Rh, namun tidak cukup menyebabkan komplikasi serius pada janin.Kesimpulan: Inkompatibilitas rhesus dengan fenotip D lemah dapat memberikan outcome perinatal yang baik tanpa terapi injeksi anti-D. Injeksi Anti-D tetap dapat diberikan untuk mencegah aloimunisasi Rh di kemudian hari.Kata kunci: Fenotip D lemah, Imunoglobulin Rh, Inkompatibilitas rhesus, Multigravida, Terapi injeksi anti-D
Deteksi Dini Kanker Payudara dan Lesi Prakanker Serviks pada Tenaga Kesehatan Pringgowibowo, Jaeni; Suardi, Dodi; Anwar, Ruswana
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.568

Abstract

Tujuan: Kegiatan ini untuk menganalisis pengetahuan kanker payudara dan serviks tenaga kesehatan di faskes pertama kabupaten Bogor.Metode: Pelatihan deteksi dini kanker serviks dan payudara tenaga kesehatan di faskes pertama kabupaten Bogor dilakukan 6 hari melalui kuliah, dry lab, dan praktik lapangan. Dilakukan pre-test dan post-test untuk menilai pengetahuan tenaga kesehatan faskes pertama kabupaten Bogor.Hasil: Dari 75 responden perwakilan dari Puskesmas di kabupaten Bogor, 6,67% melakukan pelayanan deteksi dini kanker payudara dan 4,00% melakukan pelayanan deteksi dini kanker serviks. Pengetahuan responden setelah diklat, 100% responden menjawab benar tanda klinis IVA test negatif, pembacaan hasil IVA test setelah 1 menit, anjuran setelah krioterapi, tidak berhubungan selama 4 minggu setelah krioterapi, langkah pemeriksaan payudara, hal yang dilakukan bila menemukan kelainan pada payudara dan setelah digunakan, spekulum didekontaminasi 10 menit direndam dalam larutan klorin 0,5%. Pengetahuan meningkat signifikan mengenai perubahan leher rahim yang abnormal hampir selalu terjadi pada sambungan skuamo-kolumnar, yaitu naik 42,67% (56,00%pada menjadi 98,67% pada post-test).Kesimpulan: Terdapat peningkatan pengetahuan dan keterampilan setelah pelatihan kanker payudara dan serviks, terutama deteksi dini lesi prakanker serviks dan payudara, sehingga dapat disimpulkan upaya pelatihan penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan deteksi dini kanker payudara dan serviks.Knowledge of Healthcare Providers on Early Detection of Breast Cancer and Precancerous Cervical LesionsAbstractObjective: This community service program aims to analyze the level of knowledge of breast cancer and cervical cancer by providing solutions through training for healthcare providers at primary health facilities in Bogor Regency.Method: Training on early detection of cervical cancer and breast cancer for doctors and midwives at primary health facilities at the Bogor Regency health office. The training was carried out for 6 days and was divided into lecture delivery, dry lab, and fieldwork practice at Padasuka Health Center and Puter Health Center. Pre-tests and post-tests were carried out to assess the level of knowledge of healthcare providers at primary health facilities in Bogor Regency.Results: Out of 75 representative respondents from each health center in Bogor Regency, 6.67% provided early detection of breast cancer, and 4.00% provided early detection of cervical cancer. As for respondents’ knowledge after being given training, as many as 100% of respondents answered correctly about the clinical signs of a negative VIA test reading the VIA test results after 1 minute, recommendations after cryotherapy, not to have sexual intercourse for 4 weeks after cryotherapy, steps for breast examination, what to do if they find abnormalities in the breast and after use, and the speculum that should be decontaminated for 10 minutes by immersion in 0.5% chlorine solution. Respondents’ knowledge significantly increased regarding abnormal cervical changes-dysplasia almost always occurred in the squamous columnar junction, which went up 42.67% (from 56.00% on the pre-test to 98.67% on the post-test).Conclusion: There was an increase in knowledge and skills after being given training on breast cancer and cervical cancer, especially knowledge about early detection of precancerous cervical lesions and breast cancer, so it can be concluded that training efforts are very important to increase knowledge and skills for early detection of breast cancer and cervical cancer.Key words: cervical cancer, breast cancer, VIA test
Analisis Pergerakan Leher Kandung Kemih, Ukuran Genital Hiatus, Titik Aa dan Ba pada POP-Q dengan Retensio Urin pada Pasien Pasca-Perbaikan Prolaps Organ Panggul Ma'soem, Aria Prasetya; Sasotya, R.M Sonny; Achmad, Eppy Darmadi; Armawan, Edwin; Sukarsa, Rizkar Arev; Rinaldi, Andi
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.607

Abstract

Pendahuluan:Retensio urin pasca-operasi merupakan kejadian yang sering terjadi setelah operasi perbaikan prolaps organ panggul (POP), dengan angka kejadian berkisar antara 2,5 – 24%. Parameter yang digunakan untuk mengevaluasi pergerakan kandung kemih dan gangguan berkemih yaitu penurunan leher kandung kemih, sudut retrovesika, dan rotasi uretra. Tujuan untuk mengetahui hubungan antara profil leher kandung kemih, ukuran genital hiatus, dan titik Aa dan Ba pada POP-Q terhadap retensio urin pasca-perbaikan prolaps organ panggul.Metode: Penelitian observasional analitik ini menggunakan pendekatan rancangan potong lintang pada wanita yang menjalani operasi POP di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juni–November 2023.Hasil: Penurunan leher kandung kemih, sudut retrovesika, rotasi uretra, dan ukuran genital hiatus diukur dengan ultrasonografi. Titik Aa dan Ba diukur dengan skoring POP-Q, kemudian dilakukan pengukuran post-void residual volume. Ditemukan rata-rata usia pasien adalah 60±9 tahun. Sebagian besar subjek penelitian merupakan POP stadium III.Kesimpulan:Tidak terdapat perbedaan bermakna antara karakteristik subjek penelitian (p>0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara parameter leher kandung kemih, sudut retrovesika, rotasional uretra, ukuran urogenital hiatus, skor POP-Q titik Aa dan Ba terhadap volume PVR (p>0,05). Titik Ba pada POP-Q berkorelasi signifikan terhadap volume PVR pasca-perbaikan prolaps organ panggul.Analysis of Bladder Neck Movement Profile, Genital Hiatus Size, Points Aa and Ba on POP-Q with Urinary Retention in Post Pelvic Organ Prolapse Repair PatientsAbstract Introduction: Postoperative urinary retention is a common following surgical repair of pelvic organ prolapse (POP), with the incidence ranges between 2.5–24%. This study aimed to determine the relationship between bladder neck profile, genital hiatus, and Aa and Ba points in POP-Q on the incidence of urinary retention after repair of pelvic organ prolapse. Method: This analytical observational study was done with a cross-section design and included women underwent repair of pelvic organ prolapse at RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung in June–November 2023. Results: Bladder neck descent, retrovesical angle, urethral rotation, and genital hiatus were measured by ultrasonography. Points Aa and Ba were measured using POP-Q scoring, then post-void residual volume was measured. The patients had a mean age of 60±9 years. Most of the subjects were stage III POP. Conclusion: There were no significant differences between bladder neck descent, retrovesical angle, urethral rotation, urogenital hiatus, POP-Q scores points Aa and Ba and PVR volume (p>0.05). Point Ba on POP-Q was significantly correlated with PVR volume after pelvic organ prolapse repair.Key words: pelvic organ prolapse, post-void residual volume, urinary retention, rectovesical angle, urogenital hiatus
Hubungan Nilai PCI Intraoperatif dengan Resektabilitas Kanker Ovarium di RSUP Dr. M. Djamil Padang Muhammad, Syamel; Fajriman, Fajriman
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.532

Abstract

Tujuan: Ukuran luas massa sebelum operasi berperan dalam keberhasilan sitoreduksi komplit. Peritonial Carcinomatosis Index (PCI) adalah sistem yang paling umum digunakan untuk peritoneal carcinomatosis, dan indikator prognostik independen untuk hasil jangka panjang. Resektabilitas kanker ovarium ditandai dengan residu kanker berpengaruh terhadap prognosis. Penggunaan PCI pada kanker ovarium sebagai faktor prediktor resektabilitas akan meniadakan sebagian faktor perancu terkait tim bedah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan nilai PCI metastasis intraoperatif terhadap resektabilitas massa pada kanker ovarium stadium lanjut di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional study. Kriteria inklusi berupa pasien kanker ovarium stadium lanjut 1C yang akan dilakukan operasi dan bersedia menandatangani informed consent sejak Oktober 2021. Hasil: Sebanyak 52.5% memiliki riwayat genetik, 72.5% berusia 40 – 70 tahun. Pasien rawatan kanker ovarium stadium lanjut di RSUP Dr. M. Djamil Padang sebanyak 95% IOTA SR malignant, sebanyak 100% memiliki nilai CA-125 > 35, 60% ukuran massa >1 cm. PCI tinggi (skor > 15-39) memiliki frekuensi lebih tinggi dibandingkan nilai PCI Rendah (62,5%). Persentase resektabel lebih tinggi pada nilai PCI rendah dibandingkan nilai PCI tinggi sebanyak 100% (<0.001). Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara nilai Peritoneal Carcinomatosis Index intraoperatif dan resektabilitas massa.Relationship between Intraoperative PCI Score with Resectability Ovarian Cancer at Dr. M. Djamil Hospital PadangAbstract Objective: Peritoneal Carcinomatosis Index (PCI) is the most commonly used peritoneal carcinomatosis system, also an independent prognostic indicator for long-term outcomes. The resectability of ovarian cancer characterized by cancer residue affects prognosis. The use of PCI in ovarian cancer as a predictor of resectability will negate some of the confounding factors related to the surgical team. This research to determine the relationship of intraoperative PCI value to mass resectability in advanced ovarian cancer at Dr. M. Djamil Padang Hospital. Method: observational analytic research with cross-sectional study design. The inclusion criteria were advanced stage 1C ovarian cancer patients who will undergo surgery and are willing to sign informed consent since October 2021. Results: 52.5% have a genetic history, 72.5% are 40 – 70 years. For patients with advanced ovarian cancer treatment at Dr. M. Djamil Padang Hospital 95% of malignant SR IOTA,  100% have CA-125 values> 35, 60% of mass size >1 cm. High PCI (score > 15-39) has a higher frequency than a Low PCI value (62.5%). The percentage of resectable is higher in low PCI scores than in high PCI scores, about 100% (<0.001). Conclusion: There is a significant relationship between intraoperative peritoneal carcinomatosis index and mass resectability.Key word: Peritonial Carcinomatosis Index, resectability, ovarian cancer
Multigravida 37 Weeks Pregnant Not in Labour with Carotid Cavernous Fistula Life Single Fetus Head Presentation: Case Report Puspitasari, Dwi Cahya; Bernolian, Nuswil; Pangemanan, Wim Theodorus; Syamsuri, Ahmad Kurdi; Ansyori, Muhammad Hatta; Mirani, Putri; Lestari, Peby Maulina; Martadiansyah, Abarham
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.611

Abstract

Background: Carotid cavernous fistula (CCF) is an abnormal shunt from the carotid artery to the cavernous sinus. The management of pregnant patients with CCF is individualized. The aims of this case report are to document a rare presentation of a multigravida at 37 weeks of gestation with a carotid cavernous fistula, describe clinical symptoms and management, report outcomes, and contribute insights to the medical literature.Case Report: The referred patient, G2P1A0, who was 37 weeks pregnant with a live single fetus in cephalic presentation, presented with left eye swelling persisting since the first pregnancy at 6 months gestation, associated with headaches. The patient underwent neurosurgical intervention at Mohammad Hoesin Hospital, including digital subtraction angiography (DSA). Currently, experiencing preterm labor symptoms, the management includes inpatient care, blood transfusion (Hb > 10 g/dL), and termination via the perabdominal approach.Discussion: A multigravida at 37 weeks pregnant in labor with carotid cavernous fistula and a live single fetus in head presentation, as existing literature suggests, has no clear link between maternal carotid cavernous fistula history and fetal outcomes. Despite concerns about potential fetal abnormalities and cancer risk from endovascular embolization therapy during pregnancy, postpartum follow-up with advanced digital subtraction angiography (DSA) is planned.Conclusion: The complexity of managing a multigravida at 37 weeks pregnant in labor with carotid cavernous fistula and a live single fetus in head presentation emphasizes the importance of a multidisciplinary approach for optimal maternal and fetal outcomes.Multigravida Hamil 37 Minggu Belum Inpartu dengan Fistula Cavernosa Karotis Janin Tunggal Hidup Presentasi Kepala: Laporan KasusAbstrakLatar belakang: Fistula kavernosus karotis (CCF) adalah celah/ lubang abnormal dari arteri karotis ke sinus kavernosus. Penatalaksanaan pasien hamil dengan CCF bersifat individual. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk mendokumentasikan presentasi langka seorang multigravida pada usia kehamilan 37 minggu dengan fistula kavernosus karotis, mendeskripsikan gejala klinis dan penatalaksanaannya, melaporkan hasil, dan menyumbangkan wawasan untuk literatur medis.Laporan Kasus: Pasien yang dirujuk, G2P1A0, pada usia kehamilan 37 minggu dengan janin tunggal hidup dengan presentasi kepala, datang dengan pembengkakan mata kiri yang berlangsung sejak kehamilan pertama pada usia kehamilan 6 bulan, yang berhubungan dengan sakit kepala. Pasien menjalani intervensi bedah saraf di Rumah Sakit Mohammad Hoesin, termasuk Digital Subtraction Angiography (DSA). Saat ini, mengalami gejala persalinan prematur, penatalaksanaan yang dilakukan meliputi rawat inap, transfusi darah (Hb > 10 g/dL), dan terminasi melalui pendekatan perabdominal.Diskusi: Seorang multigravida dengan usia kehamilan 37 minggu yang melahirkan dengan fistula kavernosa karotis dan janin tunggal hidup dengan presentasi kepala, merupakan kasus yang jarang terjadi, karena literatur yang ada menunjukkan tidak ada hubungan yang jelas antara riwayat fistula kavernosa karotis ibu dan hasil janin. Meskipun ada kekhawatiran mengenai potensi kelainan janin dan risiko kanker dari terapi embolisasi endovaskular selama kehamilan, tindak lanjut pascapersalinan dengan angiografi pengurangan digital (DSA) lanjutan direncanakan.Simpulan: Kompleksitas pengelolaan multigravida dengan usia kehamilan 37 minggu dalam persalinan dengan fistula kavernosa karotis dan janin tunggal hidup dengan presentasi kepala, menekankan pentingnya pendekatan multidisiplin untuk luaran ibu yang optimal. Perlunya pendektanan multidispilin keilmuan memeberiksan hasil yanga baik pada ibu dan bayinya.Kata kunci: Fistula Kavernosa Karotis, Angiografi Pengurangan Digital
Neonatal Outcome in Relation to Cardiotocography Interpretation During Pregnancy Megantoro, Izzati Faustina; Pribadi, Adhi; Nurdiawan, Windi; Hidayat, Dini; Ritonga, Mulyanusa
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.718

Abstract

Introduction: The aim of this study is to evaluate the interrelation between neonatal outcome (neonatal asphyxia status) and cardiotocography interpretation during pregnancy.Methods: This is an observational analytical study employing a cross-sectional approach involving patients delivering at Hasan Sadikin General Hospital in 2023. The inclusion criteria were patients who gave birth with cardiotocography interpretation and neonatal outcome recording at 32-37 weeks of gestation. The exclusion criteria were fetal with congenital anomalies and multiple pregnancy. This study utilized secondary data from patient case notes. This study employed non-probability consecutive sampling. Descriptive and analytical statistics were performed.Result: The result of this study indicates abnormal cardiotocography patterns are significantly associated with higher incidences of asphyxia (p=0.0001). No significant difference was found between incidence of asphyxia with the type of delivery and birth weight. There was also no significant difference between Cardiotocography category II and III based on the maternal and neonatal factors.Conclusion: This study concluded that the significant relationship between CTG results, and neonatal asphyxia underscores the importance of CTG monitoring in predicting and managing fetal distress.Luaran Neonatus berdasarkan Pemeriksaan Kardiotokografi pada KehamilanAbstrakPendahuluan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi hubungan antara hasil neonatal (status asfiksia neonatal) dan interpretasi kardiotokografi selama kehamilan.Metode: Metode penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan pasien yang melahirkan di Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin pada tahun 2023. Kriteria inklusi adalah pasien yang melahirkan dengan interpretasi kardiotokografi dan pencatatan hasil neonatal pada usia kehamilan 32 – 37 minggu. Kriteria eksklusi adalah janin dengan anomali kongenital dan kehamilan ganda. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari catatan kasus pasien. Penelitian ini menggunakan metode sampling konsekutif non-probabilitas. Statistik deskriptif dan analitik dilakukan.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola kardiotokografi abnormal secara signifikan terkait dengan insiden asfiksia yang lebih tinggi (p=0.0001). Tidak ditemukan perbedaan signifikan antara insiden asfiksia dengan jenis persalinan dan berat lahir. Tidak ada perbedaan signifikan antara kategori Kardiotokografi II dan III berdasarkan faktor maternal dan neonatal.Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa hubungan signifikan antara hasil CTG dan asfiksia neonatal menekankan pentingnya pemantauan CTG dalam memprediksi dan mengelola distress janin.Kata kunci: Kardiotokografi, Neonatal, Distress janin, APGAR
A Case Report of Thoraco-Omphalopagus Conjoined Twins: The Downfall of the Separated Hearts Safira, Siti Anissa; Chalid, Maisuri T; Madya, Fatmawati
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i1.591

Abstract

Introduction: Thoraco-omphalopagus conjoined twins are a rare occurrence of monozygotic pregnancy that involves fusion of the anterior thorax and abdomen. This type presents a variety of cardiac anomalies, which contribute to its generally unfavorable prognosis.Case Presentation: A 32-year-old multigravida with Gravida 6, Para 4, and Abortus 1 was referred at 28 weeks of gestation. Ultrasonography revealed thoracoomphalopagus-conjoined twins in which the fetuses joined ventrally. Prenatal MRI revealed the sharing of a single liver, omentum, and diaphragm. Partial fusion was observed in the sternal bone, pericardium, and anterior wall of the hearts, but with separated heart chambers and unsynchronized heartbeats. Classical cesarean section was performed at 38 weeks of gestational age. Histopathology revealed a single placenta with one umbilical cord, suggesting monochorionic– monoamniotic pregnancy. Healthy female babies were born with a combined weight of 5400 g. Post-delivery echocardiography revealed a cardiac anomaly characterized by malposition of the great arteries in a twin. After 13 h of close monitoring in the NICU, the twins died due to cardiac complications.Conclusion: The management of pregnancy involving thoraco-omphalopagus conjoined twins requires a comprehensive and multi-disciplinary approach aiming to provide holistic care, addressing complex medical risks, and ethical dilemmas associatedwith these twins.Laporan Kasus Mengenai Kembar Siam Torako-Omfalopagus: Prognosis Buruk pada Jantung yang TerpisahAbstrakPendahuluan: Kembar siam thoraco-omphalopagus adalah kejadian langka pada kehamilan monozigot yang melibatkan penyatuan antara toraks dan abdomen anterior. Tipe ini diketahui dapat disertai adanya kelainan jantung yang berkontribusi terhadap prognosis yang umumnya kurang baik.Presentasi Kasus: Multigravida berusia 32 tahun dengan Gravida 6, Para 4, Abortus 1, dirujuk pada usia kehamilan 28 minggu. Ultrasonografi menunjukkan kembar siam torako-omfalopagus di mana janin menyatu secara ventral. MRI prenatal memperlihatkan adanya fusi organ hati, omentum dan diafragma. Di sisi lain, fusi parsial diamati pada sternum, perikardium, dan dinding anterior jantung, dengan ruang jantung terpisah dan detak jantung yang tidak bersifat sinkron.Seksio sesarea klasik dilakukan pada usia kehamilan 38 minggu. Histopatologi menunjukkan plasenta tunggal dengan satu tali pusat sugestif kehamilan monokorionik-monoamniotik. Dua bayi perempuan sehat lahir dengan berat kombinasi 5.400 gram. Ekokardiografi pascasalin menunjukkan adanya anomali jantung berupa malposisi arteri besar pada salah satu bayi. Setelah 13 jam observasi ketat di NICU, kedua bayi kembar meninggal akibat komplikasi jantung.Kesimpulan: Penatalaksanaan kehamilan kembar siam thoraco-omphalopagus memerlukan pendekatan komprehensif dan multidisiplin yang bertujuan untuk memberikan perawatan holistik, mengatasi risiko medis, dan dilema etika yang terkait.Kata kunci: Kembar Siam; Kembar Monozigotik; Thoraco-omphalopagus
Congenital Diaphragmatic Hernia Anomaly in Multigravida at 36 Weeks Gestation with One Previous Cesarean Section, Single Live Fetus, Cephalic Presentation: Case Report Putri, Asri Indriyani; Martadiansyah, Abarham; Bernolian, Nuswil; Al Farisi Sutrisno, Muhammad; Nisfita, Rizania Raudhah; Maharsi, Rahma
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 7 Nomor 2 Juli 2024
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v7i2.613

Abstract

Background: Case of a multigravida at 36 weeks of gestation with one previous cesarean section carrying a single fetus was diagnosed with diaphragmatic hernia. This case aims to address the challenges posed by this complex scenario of diaphragmatic hernia and the importance of specialized care to ensure optimal maternal and fetal outcomes.Case Report: Referred from Muhammadiyah Hospital Palembang, the patient at 36 weeks of gestation with G3P2A0 status present a single live fetus and was diagnosed with diaphragmatic hernia. Following prior midwife care where fetal heartbeats were not detected, the patient was referred to Dr. Mohammad Hoesin Central General Hospital Palembang. The management plan includes a one-week follow-up and folic acid, calcium carbonate, and iron supplementation.Discussion: Congenital diaphragmatic hernia (CDH) is a developmental defect causing diaphragmatic discontinuity, diagnosed prenatally with 40% to 90% accuracy via ultrasound. The treatment aims to minimize lung hypoplasia and reduce mortality, typically performed at 26-28 weeks for severe cases and 30-32 weeks for moderate ones. The optimal delivery timing for CDH remains controversial, with lung-to-head ratio as a widely used prognostic indicator.Conclusion: Congenital diaphragmatic hernia (CDH) exhibits lower survival rates on the right side (50% vs. 75%), with lung area to head circumference ratio (LHR) as a common prognostic parameter. Recent minimally invasive techniques like FETO aim to improve prognosis by reducing pulmonary hypoplasia and mortality.Laporan Kasus: Multigravida Hamil 36 Minggu Belum Inpartu Bekas Seksio Sesarea Satu Kali Janin Tunggal Hidup Presentasi Kepala Dengan Anomali Kongenital Hernia DiafragmatikAbstrakLatar Belakang: Kasus multigravida hamil 36 minggu dengan riwayat operasi caesar janin tunggal hidup yang didiagnosis hernia diafragma. Tujuan laporan kasus ini untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh skenario kompleks hernia diafragma dan menunjukkan pentingnya perawatan khusus untuk memastikan hasil akhir ibu dan janin yang optimal.Laporan Kasus: Pasien usia kehamilan 36 minggu dengan status G3P2A0 janin hidup tunggal dengan diagnosis hernia diafragma dirujuk dari RS Muhammadiyah Palembang setelah sebelumnya diperiksa oleh bidan dan tidak terdeteksi detak jantung janinnya sehingga memerlukan rujukan ke RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Rencana penatalaksanaannya mencakup tindak lanjut selama satu minggu, bersamaan dengan suplementasi asam folat, kalsium karbonat, dan zat besi.Diskusi: Hernia diafragma kongenital (CDH) merupakan kelainan perkembangan yang menyebabkan diskontinuitas diafragma dan didiagnosis sebelum lahir dengan akurasi 40% hingga 90% melalui ultrasonografi. Tatalaksana bertujuan untuk meminimalkan hipoplasia paru-paru dan mengurangi angka kematian, biasanya dilakukan pada minggu ke 26 sampai 28 untuk kasus yang parah dan 30 - 32 minggu untuk kasus yang sedang. Waktu persalinan yang optimal untuk CDH masih kontroversial, dengan rasio paru-paru sebagai indikator prognosis yang banyak digunakan.Kesimpulan: Hernia diafragmatika kongenital (CDH) menunjukkan tingkat kelangsungan hidup yang lebih rendah pada sisi kanan (50% vs. 75%), dengan rasio area paru terhadap lingkar kepala (LHR) sebagai parameter prognosis yang umum; teknik invasif minimal terkini bertujuan untuk meningkatkan prognosis dengan mengurangi hipoplasia paru dan kematian.Kata kunci: Hernia Diafragma Kongenital, Riwayat Operasi Caesar Sebelumnya, Multigravida 
Hubungan Umur dan Paritas Ibu dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBRL) pada Ibu Bersalin di RSUD Waled Tahun 2018 – 2021 Nurbaniwati, Nunung; Dewi, Wiranti Permata; Nisaa, Defa Rahmatun
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 6 Nomor 3 November 2023
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v6i3.587

Abstract

Tujuan: Menganalisis hubungan antara umur dan paritas ibu dengan kejadian bayi bblr pada ibu bersalin di RSUD Waled tahun 2018 – 2021.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan metode cross sectional dengan sampel 247 responden. Peneliti menggunakan data sekunder dengan analisis univariat, bivariat menggunakan uji korelasi spearmen, dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil: Peneliti mendapatkan hasil persentase sebesar 50,2% ibu bersalin yang mengalami bayi bblr dan 49,8% ibu bersalin tidak mengalami bblr. Hubungan umur ibu dengan bblr menunjukan hasil bermakna, dengan kekuatan korelasi kuat (p=0,000, rs=0,625), hubungan paritas dengan bblr kekuatan korelasi lemah (p=0,000, rs=0,265) pada kelompok paritas grandemultipara memiliki jumlah terbanyak 13 orang  (81,25%) menunjukan hasil bermakna dan memiliki hubungan kuat (p= 0,017 rs=4,68%) dengan kejadian bblr. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian bayi bblr adalah umur ibu yang memiliki nilai Exp(B) paling tinggi sebesar 27.612 diikuti dengan faktor paritas memiliki nilai Exp(B) sebesar 5.155. Kesimpulan: Terdapat hubungan umur dan paritas ibu dengan kejadian bayi bblr pada ibu bersalin di RSUD Waled pada tahun 2018 – 2021. Variabel yang memiliki hubungan paling bermakna yaitu umur ibu menyajikan hasil bermakna sebanyak 43,3% rs=0,625.The correlation between Maternal Age and Parity with Incidence of Low Birth Weight (LBW) Babies in Mothers Giving Birth at Waled Hospital in 2018 – 2021AbstractObjective: To analyze the relationship between age and parity of the mother and the incidence of LBW babies in mothers giving birth at Waled Hospital in 2018–2021. Method: This research is an observational study using a cross sectional method with a sample of 247 respondents. Researchers used secondary data with univariate analysis, bivariate using Spearmen’s correlation test and multivariate with logistic regression test. Results: Researchers obtained percentage results of 50.2% of mothers who gave birth having LBW babies and 49.8% of mothers who gave birth who did not experience LBW. The relationship between maternal age and LBW showed significant results, with a strong correlation (p=0.000, rs=0.625), parity and LBW had a weak correlation (p=0.000, rs=0.265) in the grandemultipara parity group with the highest number of 13 (81, 25%) showed significant results and had a strong relationship (p = 0.017 rs = 4.68%) with the incidence of LBW The factor that most influenced the incidence of LBW babies was the age of the mother who had the highest Exp(B) value of 27,612 followed by the parity factor has an Exp(B) value of 5,155.Conclusion: There is a relationship between age and maternal parity with the incidence of LBW babies among women giving birth at Waled Hospital in 2018 – 2021. The variable that had the most significant relationship, namely maternal age, presented significant results of 43.3%, rs=0.625.Key words: Maternal age, Parity, Low Birth Weight.