cover
Contact Name
Bahrum Subagiya
Contact Email
bahgia990@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.tawazun@uika-bogor.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 19786786     EISSN : 26545845     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Tawazun: Jurnal Pendidikan Islam has a focus on the study of Islamic education with the following scope: 1. Islamic Education Management 2. Thought of Islamic education 3. Islamic science education 4. Islamic Guidance and Counseling
Arjuna Subject : -
Articles 86 Documents
Peran guru dalam meningkatkan integrasi keilmuan siswa: Studi kasus SDN 1 Montong Baan Ariatman, Roby; Ramdhani, Deddy
TAWAZUN: Jurnal Pendidikan Islam Vol 17 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Islam,Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tawazun.v17i2.16613

Abstract

This study aims to examine the important role of teachers in improving scientific integration in students at SDN 1 Montong Baan. Using a qualitative research approach with a descriptive type. This study focuses on two research problem formulations first, how the role of teachers in improving students' scientific integration. Second, what are the challenges faced by teachers in the process of increasing scientific integration. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis. The results showed that teachers play a key role in guiding students to understand the interrelationship between various disciplines, namely religion and science. The role of the teacher in improving students' scientific integration is as a demonstrator, facilitator, motivator, and learning resource in the learning process. The challenges faced by teachers in improving students' scientific integration include the lack of quality of teacher competence and the lack of teacher creativity in teaching. These findings emphasize the importance of teacher training in improving the quality and creativity of teacher teaching to support effective scientific integration for students. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran penting guru dalam meningkatkan integrasi keilmuan pada siswa di SDN 1 Montong Baan. Menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. studi ini berfokus pada dua rumusan masalah penelitian pertama, bagaimana peran guru dalam meningkatkan integrasi keilmuan siswa. Kedua, apa saja tantangan yang dihadapi oleh guru dalam proses peningkatan integrasi keilmuan tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru memegang peranan kunci dalam membimbing siswa untuk memahami keterkaitan antara berbagai disiplin ilmu, yakni agama dan sains. Adapun peran guru dalam meningkatkan integrasi keilmuan siswa ialah sebagai demonstrator, fasilitator, motivator, dan sumber belajar dalam proses pembelajaran. Tantangan yang dihadapi guru dalam meningkatkan integrasi keilmuan siswa di antaranya, kurangnya kualitas kompetensi guru dan kurangnya kreativitas guru dalam mengajar. Temuan ini menekankan pentingnya pelatihan guru dalam meningkatkan kualitas dan kreativitas mengajar guru untuk mendukung integrasi keilmuan yang efektif bagi siswa.
Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Membentuk Karakter Jujur Di SMK Muhammadiyah 6 Simo Az Zuhdi, Muhammad Abdul Wahab; Hafidz
TAWAZUN: Jurnal Pendidikan Islam Vol 17 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Islam,Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tawazun.v17i2.16619

Abstract

Honesty is one aspect that needs to be considered and taught to students. Being honest will be a valuable lesson for their future life. Honesty is very important in various aspects of life. In more specific aspects such as at school, honesty makes students more disciplined in learning and facilitates their social interactions. Instilling honesty at school is an important value that must be taught to students, both through classroom learning and extracurricular activities. This is intended to make students understand the importance of this value in every aspect of life. Honesty is an essential asset for students to become the next generation of the nation in the future. Islamic Religious Education is one of the subjects that can teach honesty. It contains materials that teach noble attitudes, one of which is honesty. Teachers must also actively build honest character in students, such as exemplifying good behavior, because students are very sensitive to the behavior of their teachers. Every observation by students of their teachers greatly influences the students' behavior. A teacher's success can be seen when the teacher is able to instill the character of honesty in school. If this criterion of instilling honesty is achieved, then a teacher can be considered to have good and professional work quality. The aim of this research is to understand how Islamic Religious Education teachers develop honest character in students at SMK Muhammadiyah 06 Simo. This research uses a descriptive qualitative method through a case study. The research was conducted in the teacher's office during the 2023/2024 academic year. The main subjects of this research are the Islamic Religious Education teachers at SMK Muhammadiyah 06 Simo. The results of the research show that teachers approach students who have low honesty and give them extra attention during both formal and non-formal Islamic Religious Education learning sessions. Abstrak Kejujuran merupakan salah satu aspek yang perlu diperhatikan dan diajarkan pada peserta didik. Bersikap dan berlaku jujur akan menjadi pembelajaran yang berguna untuk kehidupannya ke depan. Sikap jujur sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan. Pada aspek yang lebih mengerucut seperti disekolah, sikap jujur membuat peserta didik akan lebih disiplin dalam pembelajaran dan memudahkan peserta didik dalam bersosialisasi. Penanaman sikap jujur pada sekolah merupakan nilai penting yang harus diajarkan kepada peserta didik di sekolah, baik melalui pembelajaran dalam kelas ataupun luar kelas. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik memahami pentingnya nilai tersebut dalam setiap aspek kehidupan. Kejujuran merupakan modal penting bagi para peserta didik untuk menjadi generasi penerus bangsa di masa yang akan datang. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu mata pelajaran yang bisa mengajarkan sikap jujur. Di dalamnya terkandung materi-materi yang mengajarkan tentang sikap luhur, salah satunya adalah sikap jujur. Guru juga harus aktif dalam membangun karakter jujur pada peserta didik, seperti mencontohkan sikap-sikap yang baik, karena peserta didik sangat peka dengan tingkah laku guru. Setiap pengamatan peserta didik kepada gurunya sangat mempengaruhi tingkah laku peserta didik tersebut. Keberhasilan seorang guru bisa dilihat ketika guru mampu menanamkan sikap atau karakter kejujuran di sekolah, jika kriteria penanaman itu berhasil maka seorang guru bisa dianggap memiliki kualitas kerja yang baik dan profesional. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana cara Guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter jujur pada siswa di SMK Muhammadiyah 06 Simo. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di ruang guru pada tahun 2023/2024. Adapun subjek utama dari penelitian ini adalah Guru Pendidikan Agama Islam di SMK Muhammadiyah 06 Simo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru melakukan pendekatan pada siswa yang sikap jujurnya rendah dan memberi perhatian lebih kepada mereka saat berlangsungnya Pembelajaran Pendidikan Agama Islam secara formal maupun non-formal.
Pengamalan Agama Pada Masyarakat Pesisir di Kota Medan (Studi Kasus Pada Masyarakat Kecamatan Medan Labuhan) Maruhawa, Irsan; Hanum, Azizah; Al Farabi, Mohammad
TAWAZUN: Jurnal Pendidikan Islam Vol 17 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Islam,Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tawazun.v17i2.16710

Abstract

This research aims to provide an overview of the diversity of religious practices carried out by coastal communities in the city of Medan, especially in the Medan Labuhan sub-district. The method used in this research is qualitative. The results of the research show that the Islamic community on the coast of Medan Labuhan seems to actively carry out religious activities both in their homes and in mosques. especially the five obligatory prayers. Apart from practicing the five prayers a day and night, the coastal Muslim community in Medan Labuhan is also active in carrying out other practices such as Yasinan and tahlilan, commemorating Islamic holidays such as commemorating the birthday of the Prophet Muhammad SAW, commemorating the Israk and Mikraj of the Prophet Muhammad SAW, and also the celebration of Eid al-Fitr and Idhul Adha. The Medan Labuhan Muslim community also practices Ramadan worship, such as Ramadan fasting, Taraweeh prayers in congregation, reciting the Koran, paying Zakat Fitrah, all of which are practiced properly in accordance with the Koran and the Sunnah of the Prophet and the understanding of the Ahlusunnah wal Jama'ah school of thought. Apart from that, they also practice Islamic teachings regarding morals in being neighbors, morals in wrestling and morals in dressing, all of this is carried out and practiced in order to practice Islamic teachings to the maximum as proof of faith and piety towards Allah, to gain the approval of Allah SWT. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang keberagaman pengamalan agama yang dilakukan oleh masyarakat pesisir yang ada di kota Medan, khususnya di kecamatan Medan Labuhan. Metode yang digunakan pada penelitian ini ialah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam masyarakat pesisir Medan Labuhan terlihat aktif melaksanakan kegiatan keagamaan baik di rumah-rumahnya maupun di masjid-masjid, terutama ibadah shalat wajib lima waktu. Selain mengamalkan shalat lima watu sehari semalam, masyarakat muslim pesisir di Medan Labuhan juga aktif melaksanakan amalan lain seperti Yasinan dan tahlilan, memperingati perayaan Hari besar Islam seperti peringatan Maualid Nabi Muhammad Saw, peringatan Israk dan Mikraj Nabi Muhammad SAW, dan juga perayaan Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Masyarakat Muslim Medan Labuhan juga mengamalkan ibadah Ramadhan, seperti puasa Ramadhan, Shalat Tarawih berjamaah, tadarusan Alquran, membayar Zakat Fitrah, semua diamalkan dengan baik sesuai Alquran dan Sunnah Rasulullah dan berpaham Mazhab Ahlusunnah wal Jama’ah. Selain itu mereka juga mengamalkan ajaran Islam tentang akhlak dalam bertetangga, akhlak dalam pergaulan dan akhlak dalam berpakaian, semua itu dilaksanakan dan diamalkan dalam rangka untuk mengamalkan ajaran Islam secara maksimal sebagai bukti Iman dan takwa kepada Allah dan juga guna mendapatkan ridho Allah SWT.
Relasi guru dengan murid dalam perspektif pendidikan Islam Bahri, Samsul; Sakdiyah, Halimatun; Tanjung, Hasan Basri; Samsu
TAWAZUN: Jurnal Pendidikan Islam Vol 17 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Islam,Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tawazun.v17i2.16731

Abstract

This research aims to describe and construct the relationship between teachers and students in the perspective of Islamic education, using a descriptive-analytical method with the approach of Islamic education, history, and comparative science. This research found that the teacher-student relationship in Islamic education forms a civilizational bond based on prophetic, human, and divine values in the learning process. This relationship is identified through four main aspects: first, the educative interaction relationship that emphasizes communication and knowledge transfer holistically; second, educative internalization that focuses on instilling moral and spiritual values in students; third, religious personality formation that directs students to develop strong religious characters; and fourth, religious professionalism that encourages teachers to carry out their roles with high responsibility and integrity in accordance with Islamic principles. This study emphasizes the importance of teacher-student relations rooted in civilizational values and spirituality to achieve educational goals in line with Islamic principles, and underlines the important role of teachers in shaping students into noble and highly competent individuals. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengonstruksi relasi antara guru dan murid dalam perspektif pendidikan Islam, menggunakan metode deskriptif-analitis dengan pendekatan ilmu pendidikan Islam, sejarah, dan komparatif. Penelitian ini menemukan bahwa hubungan guru-murid dalam pendidikan Islam membentuk ikatan keadaban yang berlandaskan nilai-nilai profetik, insaniah, dan Ilahiah dalam proses pembelajaran. Relasi ini diidentifikasi melalui empat aspek utama: pertama, relasi interaksi edukatif yang menekankan pada komunikasi dan transfer pengetahuan secara holistik; kedua, internalisasi edukatif yang berfokus pada penanaman nilai-nilai moral dan spiritual dalam diri murid; ketiga, pembentukan personalitas religius yang mengarahkan murid untuk mengembangkan karakter beragama yang kuat; dan keempat, profesionalisme religius yang mendorong guru untuk menjalankan peran mereka dengan tanggung jawab dan integritas tinggi sesuai dengan prinsip-prinsip Islam. Studi ini menekankan pentingnya relasi guru-murid yang berakar pada nilai-nilai keadaban dan spiritualitas untuk mencapai tujuan pendidikan yang sejalan dengan prinsip-prinsip Islam, serta menggarisbawahi peran penting guru dalam membentuk murid menjadi individu yang berakhlak mulia dan berkompetensi tinggi.
Model pembelajaran Nahwu berbasis PAIKEM (Pembelajaran, Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, & Menyenangkan) Abdulloh, Muhammad; Sa'diyah, Maemunah; Ibdalsyah
TAWAZUN: Jurnal Pendidikan Islam Vol 17 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Islam,Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tawazun.v17i2.16871

Abstract

The purpose of writing is to formulate a PAIKEM (active, creative, innovative, effective and fun learning)-based Nahwu learning model. Qualitative research method with field research type (Field Research) as research object at MA MQL BISA Bogor and MA Darul Muttaqien Parung. The results of the research found that the most significant obstacles consisted of internal factors of lack of motivation, student commitment and low self-confidence, external factors of inadequate learning media, ineffective Arabic language environment, and lack of supervision of recording student violations. In order to answer these obstacles, a PAIKEM-based Nahwu learning model was formulated with learning stages consisting of four stages, namely the experiencing stage, the interaction stage, the communication stage and the reflection stage. A social system consisting of building a positive learning atmosphere, determining class rules, practices to strengthen norms, integration with PAIKEM. Social principles consist of providing positive feedback, individualizing approaches, constructive criticism, encouraging a learning atmosphere, stimulating student participation, and strengthening a growth mindset. The support system consists of interactive learning facilities, interesting teaching materials, teaching aids, a supportive learning environment, and teacher training. The instructional impact consists of mastery of the concept of Nahwu, Arabic language skills, and the ability to analyze texts. And the accompanying impacts consist of critical thinking skills, collaboration skills, motivation for independent learning, use of technology, and cultural awareness. Abstrak Tujuan penulisan untuk merumuskan model pembelajaran Nahwu berbasis PAIKEM (pembelajaran aktif, kreatif, inovatif, efektif, dan menyenangkan). Metode penelitian kualitatif dengan tipe penelitian lapangan (Field Research) objek penelitian di MA MQL BISA Bogor dan MA Darul Muttaqien Parung. Hasil dari penelitian ditemukan bahwa hambatan yang paling signifikan terdiri dari faktor internal kurangnya motivasi, komitmen siswa dan rendahnya percaya diri, faktor eksternal media pembelajaran yang tidak memadai, tidak efektifnya lingkungan berbahasa Arab, dan kurangnya pengawasan pencatatan pelanggaran siswa. Guna menjawab hambatan tersebut dirumuskan model pembelajaran Nahwu berbasis PAIKEM dengan Tahapan pembelajaran yang terdiri dari empat tahap yaitu tahap mengalami, tahap interaksi, tahap komunikasi, dan tahap refleksi. Sistem sosial yang terdiri dari membangun suasana belajar yang positif, menentukan peraturan kelas, praktik untuk menguatkan norma, integrasi dengan PAIKEM. Prinsip sosial terdiri dari memberi umpan balik positif, pendekatan individualisasi, kritik konstruktif, mendorong suasana belajar, merangsang partisipasi siswa, dan menguatkan pola pikir pertumbuhan. Sistem pendukung terdiri dari sarana pembelajaran interaktif, bahan ajar yang menarik, alat peraga, lingkungan belajar yang mendukung, dan pelatihan guru. Dampak instruksional terdiri dari penguasaan konsep Nahwu, kemampuan berbahasa Arab, dan kemampuan menganalisis teks. Dan dampak pengiring terdiri dari kemampuan berpikir kritis, kemampuan kolaborasi, motivasi untuk belajar mandiri, penggunaan teknologi, dan kesadaran budaya.
Pengembangan bahan ajar tajwid dengan flipbook di Madrasah Tsanawiyah Addimasyqi, Moh. Ridham; Tamam, Abas Mansur; Alim, Akhmad
TAWAZUN: Jurnal Pendidikan Islam Vol 17 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Islam,Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tawazun.v17i2.17055

Abstract

The purpose of this study is to analyze the need for the development of tajweed teaching materials with flipbooks in MTs, make tajweed teaching materials with flipbooks in MTs, determine the feasibility of tajweed teaching materials with flipbooks in MTs and find out the level of effectiveness of tajweed teaching materials with flipbooks in MTs. The results of this study show that the majority of 97% in MTs Utsmanil Hakim and 96% agree on the need for the development of electronic-based tajweed teaching materials. The tajweed material presented in this teaching material is the science of tajweed, makhraj and the nature of letters, tarqiq and tafkhim, the law of nun sukun and tanwin, the law of mim sukun, the law of mad thabi'i and far'i, waqaf and ibtida', gharib readings developed with the Canva and Heyzine applications. The feasibility of tajweed teaching materials with flipbooks at Madrasah Tsanawiyah is validated by material, media, and language experts. Validation from media experts obtained a score of 82% classified as "Very Feasible", validation by media experts obtained a score of 95% classified as "Very Feasible", validation by linguists obtained a score of 96.25% in the "Very Feasible" category.The tajweed teaching materials were tested in two schools, the first at MTs Utmanil Hakim with experimental class VII A had an average pretest score of 63 and the pretest in experimental class VII A experienced a significant increase in the average posttest score to 89. The N-Gain score obtained by the VII A experimental class was 0.712 and the level of effectiveness of using tajweed teaching materials with flipbooks was high. Abstrak Penelitian ini bertujuan adalah menganalisis kebutuhan pengembangan bahan ajar tajwid dengan flipbook di MTs, membuat bahan ajar tajwid dengan flipbook di Madrasah Tsanawiyah, mengetahui kelayakan bahan ajar tajwid dengan flipbook di MTs dan mengetahui tingkat efektivitas bahan ajar tajwid dengan flipbook di MTs. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah R&D dengan model ADDIE. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, mayoritas 97% di MTs Utsmanil Hakim dan 96% setuju perlu adanya pengembangan bahan ajar tajwid berbasis elektronik. Materi tajwid yang disajikan dalam bahan ajar ini adalah ilmu tajwid, makhraj dan sifat huruf, tarqiq dan tafkhim, hukum nun sukun dan tanwin, hukum mim sukun, hukum mad thabi’i dan far’i, waqaf dan ibtida’, bacaan gharib yang dikembangkan dengan aplikasi Canva dan Heyzine. Kelayakan bahan ajar tajwid dengan flipbook di Madrasah Tsanawiyah di validasi oleh ahli materi, media, dan bahasa. Validasi dari ahli media didapatkan nilai 82% tergolong “Sangat Layak”, validasi ahli media didapatkan nilai 95% tergolong “Sangat Layak”, validasi ahli bahasa didapatkan nilai 96,25% kategori “Sangat Layak”. Bahan ajar tajwid diuji coba dalam dua sekolah, pertama di MTs Utmanil Hakim dengan kelas eksperimen VII A memiliki nilai rata-rata pre-test sebesar 63 dan pre-test di kelas eksperimen VII A mengalami peningkatan signifikan dalam nilai rata-rata post-test menjadi 89. Hasil skor N-Gain yang diperoleh kelas eksperimen VII A adalah sebesar 0,712 dan tingkat efektivitas penggunaan bahan ajar tajwid dengan flipbook termasuk tinggi.
Child discipline education concept in the perspective of Bukhari Hadeeths and its relevance to the thought of Muhammad Iqbal Andriana, Nesia; Mujahidin, Endin; Subagiya, Bahrum
TAWAZUN: Jurnal Pendidikan Islam Vol 17 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Islam,Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tawazun.v17i2.17518

Abstract

Self-discipline is one of the fundamental characters in education. The elementary school age is a critical age in child education. This research aims to extract the educational concept within Bukhari’s hadeeths as well as analyzing their relevance to the Muhammad Iqbal’s thought. This research employs a qualitative method through quasi experiment and historical literature review. The results showed a significant correlation between the concept of self-discipline education in Bukhari's hadith and the concept of education in Iqbal's thought. The purpose of education according to Iqbal is to form a cognitively, spiritually, and dynamically integrated human being to become the khalifah of Allah on earth. This is in line with the purpose of discipline education in Bukhari's hadith. Educational methods such as exemplary, discussion, appreciation, sanctions, and habituation in Iqbal's thought are also found in Bukhari's hadith. Educational evaluation emphasizes the importance of loyalty to Allah and His Messenger, by upholding justice regardless of time and place. This study concludes that there is a significant relevance between children's discipline education in Bukhari's hadith and Muhammad Iqbal's thought. Abstrak Kedisiplinan adalah salah satu karakter mendasar dalam pendidikan. Usia sekolah dasar adalah usia kritis dalam pendidikan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengekstrak konsep pendidikan yang terkandung dalam hadits-hadits Bukhari serta menganalisa relevansinya dengan pemikiran Muhammad Iqbal. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan kuasi eksperimen serta studi pustaka dan sejarah. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi signifikan antara konsep pendidikan disiplin diri anak dalam hadits Bukhari dan konsep pendidikan dalam pemikiran Iqbal. Tujuan pendidikan menurut Iqbal adalah membentuk manusia yang terintegrasi secara kognitif, spiritual, dan dinamis untuk menjadi khalifah Allah di bumi. Ini sejalan dengan tujuan pendidikan disiplin dalam hadits Bukhari. Metode pendidikan seperti keteladanan, diskusi, apresiasi, sanksi, dan pembiasaan dalam pemikiran Iqbal juga ditemukan dalam hadits Bukhari. Evaluasi pendidikan menekankan pentingnya loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan menegakkan keadilan tanpa memandang waktu dan tempat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada relevansi signifikan antara pendidikan disiplin anak dalam hadits Bukhari dan pemikiran Muhammad Iqbal.
The concept of age of puberty and religious development according to Ibn Qayyim AL-Jauziyah Syaiful; Tamam, Abas Mansur; Alim, Akhmad
TAWAZUN: Jurnal Pendidikan Islam Vol 17 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Islam,Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tawazun.v17i2.17528

Abstract

The age of puberty is the initial age of adolescent maturity after the end of childhood. Each phase of development has its own developmental tasks as well as the age of puberty. It is important to understand the age of puberty so that parents can prepare themselves in educating their children in that phase, because the age of puberty is a phase of anxiety and worry for children and parents. Many Muslim scholars talk about the age of baligh, while the term balighh does not exist in the concept of Western scientists but they use the term teenager, therefore we will get different things about the concept of the age of baligh between Islam and the West. This research only discusses the age of puberty from an Islamic perspective by referring to the opinion of Ibn Qayyim Al Jauziyyah in his book Tuhfatu al-Maudud bi Ahkami al-Maulud. The research method in this paper is literature (Library Research) with primary data from the book Tuhfatu al-Maudud bi Ahkami al-Maulud, Islamic and Western psychology books, as well as relevant journals or articles. The results showed that according to Ibn Qayyim Al-Jauziyah the age of puberty starts from the age of 10-15 years, then at the age of puberty a child already has a correct understanding and belief as the basis of his faith in Allah SWT, and is able to practice his sharia obligations with awareness and commitment. As for his daily behavior, he is able to show commendable behavior such as honesty, humility and respect for parents and others. Abstrak Usia baligh merupakan usia awal kematangan remaja setelah berakhirnya masa kanak-kanak. Setiap fase perkembangan memiliki tugas perkembangannya masing-masing begitu pula dalam usia baligh. Pentingnya memahami usia baligh agar orang tua dapat mempersiapkan diri dalam mendidik anaknya di fase tersebut, karena usia baligh merupakan fase kecemasan dan kekhawatiran bagi anak dan orang tua. Banyak ilmuwan Muslim berbicara tentang usia baligh, sementara istilah baligh tidak ada dalam konsep ilmuwan Barat akan tetapi mereka menggunakan istilah remaja (teenager) oleh karenanya kita akan mendapatkan hal yang berbeda tentang konsep usia baligh antara Islam dan Barat. Penelitian ini hanya membahas usia baligh menurut perspektif Islam dengan merujuk pada pendapat Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam kitabnya Tuhfatu al-Maudud bi Ahkami al-Maulud. Metode penelitian dalam tulisan ini adalah kepustakaan (library research) dengan data primer kitab Tuhfatu al-Maudud bi Ahkami al-Maulud, buku-buku psikologi Islam dan Barat, serta jurnal atau artikel yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah usia baligh dimulai dari usia 10-15 tahun, kemudian di usia baligh seorang anak sudah memiliki pemahaman dan keyakinan yang benar sebagai dasar keimanannya kepada Allah SWT, serta mampu mengamalkan kewajiban syariatnya dengan kesadaran dan komitmen. Adapun mengenai perilaku kesehariannya dia mampu menunjukkan perilaku terpuji seperti jujur, rendah hati dan hormat terhadap orang tua dan sesama.
Studi pengembangan bakat remaja melalui program mentoring islami Budi, Setyo; Sastra, Akhmad; Rahman, Imas Kania
TAWAZUN: Jurnal Pendidikan Islam Vol 17 No 3 (2024)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Islam,Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tawazun.v17i3.16186

Abstract

Every teenager has different talents. The difference does not always lie in the type, but also in the degree or level of possession of a particular talent. Unfortunately, teenagers' talents are not always displayed in real achievements due to various reasons. Among them are due to environmental factors such as the absence of opportunities, infrastructure, support from parents, teachers, family economic level, and location of residence. The purpose of the research is to analyze the development of adolescent talent through the Islamic mentoring program. To be able to develop talent well, a teenager needs the right environment, family support, reliable mentors, and a program that can accommodate his needs. This research uses a library research approach. Data sources come from field surveys, books and various research journals on Islamic education and talent development from the works of scholars, education experts, and mentors. Talent development is an important and main agenda in the adolescent phase. Talent development of adolescents requires support from various parties. The world of education supports talent development programs as seen from the survey results as many as 69.6% of schools already have talent development programs. Of the schools that already have a talent development program, 78.9% have not implemented the talent development program optimally. There is no Islamic mentoring program that has a portion of talent development for adolescents in its program content. Abstrak Setiap remaja mempunyai bakat yang berbeda-beda. Perbedaan tidak selalu terletak pada jenis, tetapi juga pada derajat atau tingkat pemilikan bakat tertentu. Sayang sekali bahwa bakat remaja tidak selalu tertampil dalam prestasi yang nyata karena berbagai macam sebab. Diantaranya karena faktor lingkungan seperti ketiadaan kesempatan, sarana prasarana, dukungan orangtua, guru, taraf ekonomi keluarga, juga lokasi tinggal. Tujuan penelitian adalah menganalisa pengembangan bakat remaja melalui program mentoring islami. Untuk dapat mengembangkan bakat dengan baik, seorang remaja membutuhkan lingkungan yang tepat, dukungan keluarga, mentor handal, dan program yang mampu mewadahi kebutuhanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kepustakaan (library research). Sumber data yang berasal dari survey lapang, buku-buku dan berbagai jurnal penelitian tentang pendidikan islami dan pengembangan bakat dari karya para ulama, ahli pendidikan, dan mentor. Pengembangan bakat menjadi agenda penting dan utama pada fase remaja. Pengembangan bakat remaja membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Dunia pendidikan mendukung program pengembangan bakat yang terlihat dari hasil survey sebanyak 69,6 % sekolah sudah memiliki program pengembangan bakat. Dari sekolah yang sudah memiliki program pengembangan bakat tersebut sebanyak sebanyak 78,9 % belum melaksanakan program pengembangan bakat secara optimal. Belum ada program mentoring islami yang memiliki porsi pengembangan bakat bagi remaja dalam konten programnya.
Metode menghafal Al-Qur’an untuk siswa SMA: Studi komparasi metode tahfidz Sulaimaniyah dan metode Sabaq, Sabqi, Manzil Anshori, Zakarial
TAWAZUN: Jurnal Pendidikan Islam Vol 17 No 3 (2024)
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Islam,Sekolah Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/tawazun.v17i3.16270

Abstract

This study aims to compare the Qur'an memorization methods applied in Pondok Tahfidz Sulaimaniyyah and Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo. Memorizing the Qur'an is a noble practice that requires effective methods to facilitate the process. The research method uses observation, interviews, and literature studies. Pondok Tahfidz Sulaimaniyyah applies the Turkish Uthmani Method which consists of three stages: new memorization (first round), advanced memorization (second round), and old memorization (third round), starting from the 20th page of each juz until completion. Meanwhile, Imam Bukhari Islamic Boarding School uses the Sabaq, Sabqi, Manzil Method, which starts from the beginning of the juz to completion with an evaluation every juz, five juz, and so on. The results showed that both methods have their respective advantages and can be applied to high school students with some refinements for optimal results. The conclusion of this study is that the integration of the positive aspects of both methods can produce a more perfect approach to learning to memorize the Qur'an. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode tahfidz Al-Qur’an yang diterapkan di Pondok Tahfidz Sulaimaniyyah dan Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo. Menghafal Al-Qur’an merupakan amalan mulia yang memerlukan metode efektif untuk mempermudah prosesnya. Metode penelitian menggunakan observasi, wawancara, dan studi literatur. Pondok Tahfidz Sulaimaniyyah menerapkan Metode Turki Utsmani yang terdiri dari tiga tahapan: hafalan baru (putaran pertama), hafalan lanjutan (putaran kedua), dan hafalan lama (putaran ketiga), dimulai dari halaman ke-20 setiap juz hingga selesai. Sementara itu, Pondok Pesantren Imam Bukhari menggunakan Metode Sabaq, Sabqi, Manzil, yang dimulai dari awal juz hingga selesai dengan evaluasi setiap juz, lima juz, dan seterusnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua metode memiliki keunggulan masing-masing dan dapat diterapkan pada siswa SMA dengan beberapa penyempurnaan untuk hasil yang optimal. Simpulan penelitian ini adalah bahwa integrasi aspek positif dari kedua metode dapat menghasilkan pendekatan yang lebih sempurna untuk pembelajaran tahfidz Al-Qur’an.