cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community
ISSN : 26148676     EISSN : 26569248     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 179 Documents
ASTENOPIA PADA DOKTER GIGI: ANALISIS FAKTOR RISIKO DI WILAYAH OGAN KOMERING ULU RAYA Fitriani, Hidiyati; Windusari, Yuanita; Zulkarnain, Mohamad; Novrikasari, Novrikasari; Syakurah, Rizma Adila; Liberty, Iche Andriyani
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 1 (2026): JANUARI: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMM
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i1.37432

Abstract

Dokter gigi merupakan profesi dengan risiko tinggi mengalami astenopia akibat tuntutan aktivitas klinis yang memerlukan ketelitian visual, paparan cahaya kerja intensif, serta durasi kerja yang panjang sehingga meningkatkan beban visual secara berkelanjutan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan analisis komprehensif yang mengintegrasikan faktor individu, gaya hidup, paparan digital, dan ergonomi pencahayaan klinis dalam satu model multivariat, serta mengidentifikasi penggunaan kacamata sebagai faktor protektif paling dominan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kejadian astenopia dan menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi pada dokter gigi di Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan. Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional dilakukan terhadap 67 dokter gigi aktif, dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat untuk menentukan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian astenopia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia dan jenis kelamin tidak berhubungan signifikan, sedangkan durasi dan kualitas tidur yang kurang baik, jam kerja lebih dari 8 jam per hari, masa kerja lebih dari 5 tahun, penggunaan gadget lebih dari 4 jam per hari, serta paparan cahaya kerja termasuk panjang gelombang dan durasi penggunaan light curing device serta jenis lampu berhubungan signifikan dengan kejadian astenopia. Penggunaan kacamata berperan sebagai faktor protektif yang signifikan dan merupakan faktor dominan berdasarkan analisis multivariat, diikuti oleh jenis lampu dan durasi penggunaan gadget. Disimpulkan bahwa astenopia pada dokter gigi dipengaruhi oleh faktor gaya hidup, beban kerja visual, paparan digital, dan pencahayaan klinis, sehingga diperlukan optimalisasi perlindungan visual dan manajemen beban kerja sebagai upaya pencegahan.
ASSESSMENT IMPLEMENTASI BCMS BERDASARKAN ISO 22301:2019 PADA INDUSTRI KILANG: STUDI DI PT KILANG PERTAMINA INTERNASIONAL Febrianda, Rosyadi; Sukwika, Tatan; Ramli, Soehatman
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i2.37734

Abstract

Business Continuity Management System (BCMS) merupakan kerangka kerja penting untuk memastikan keberlangsungan operasional organisasi dalam menghadapi gangguan, krisis, maupun bencana. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kematangan implementasi BCMS berbasis ISO 22301:2019 pada PT Kilang Pertamina Internasional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui analisis dokumen, laporan audit internal, serta hasil tinjauan manajemen. Sampel penelitian dipilih secara purposive pada tiga unit kilang, yaitu RU III Plaju, RU IV Cilacap, dan RU VI Balongan. Penilaian tingkat kematangan dilakukan menggunakan kerangka ISO/IEC 33020:2019 dengan mengevaluasi atribut proses pada klausul 4 hingga klausul 10 ISO 22301:2019. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi BCMS pada ketiga unit kilang berada pada tingkat kematangan Level 3 (Established Process) hingga Level 4 (Predictable Process). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar proses BCMS telah terdokumentasi dengan baik, dilaksanakan secara konsisten, dan sebagian telah dikendalikan menggunakan indikator kinerja berbasis data. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi evaluasi implementasi ISO 22301:2019 dengan model penilaian kematangan proses ISO/IEC 33020:2019 pada sektor industri kilang minyak, yang masih jarang dikaji dalam literatur sebelumnya. Pendekatan ini memberikan kerangka evaluasi yang lebih sistematis untuk mengidentifikasi kesenjangan implementasi BCMS serta mendukung peningkatan ketahanan operasional organisasi di sektor energi.
PERAN INTERVENSI STATIONARY BIKE DALAM MENURUNKAN TINGKAT KECEMASAN PADA DEWASA MUDA DENGAN GAYA HIDUP SEDENTARY Ariyanto, Muhammad Wahyu; Rahmi, Upik; Salasa, Sehabudin
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i2.37695

Abstract

Perilaku sedentary life pada dewasa muda semakin meningkat dan berkontribusi terhadap gangguan kesehatan fisik maupun psikologis. Aktivitas fisik aerobik diketahui memiliki efek positif terhadap kesehatan mental, namun penelitian spesifik yang mengkaji penggunaan stationary bike sebagai intervensi terstruktur pada dewasa muda sedentary masih terbatas. Penelitian ini memiliki kebaruan pada penggunaan stationary bike sebagai intervensi aerobik terstruktur yang ditujukan pada dewasa muda dengan gaya hidup sedentary, sebelumnya lebih banyak diteliti secara umum pada aktivitas fisik tanpa fokus pada satu modalitas latihan tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh intervensi stationary bike terhadap tingkat kecemasan pada dewasa muda dengan gaya hidup sedentary. Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan kelompok eksperimen dan kontrol menggunakan pendekatan pretest-posttest. Sampel berjumlah 40 responden yang dibagi menjadi dua kelompok. Intervensi berupa latihan stationary bike dilakukan tiga kali seminggu selama empat minggu dengan durasi 30 menit per sesi. Tingkat sedentary diukur menggunakan Sedentary Behaviour Questionnaire (SBQ) dan kecemasan diukur menggunakan Zung’s Self-rating Anxiety Scale (ZSAS). Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skor kecemasan yang signifikan pada kelompok eksperimen setelah intervensi (P-value = 0,000), sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan skor kecemasan yang juga signifikan (P-value = 0,026). Analisis perbandingan antar kelompok pada tahap posttest menunjukkan perbedaan tingkat kecemasan yang bermakna secara statistik antara kelompok eksperimen dan kontrol (p = 0,001). Disimpulkan bahwa intervensi stationary bike efektif dalam menurunkan kecemasan pada dewasa muda dengan gaya hidup sedentary.
PERBANDINGAN KADAR GLUKOSA DARAH DUA JAM POSTPRANDIAL SETELAH KONSUMSI KURMA AJWA DAN PISANG AMBON PADA INDIVIDU SEHAT Faaz, Muh Azzam; Harun, Haerani; Rachmat, Nihayatul Khoiriyah; Yanti, Riska; Hermanto, Darent Aditya Nasario; Towidjojo, Vera Diana; Sofyan, Asrawati
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i2.37827

Abstract

Pemilihan jenis buah memengaruhi respons glikemik postprandial yang esensial dalam pencegahan gangguan metabolisme glukosa. Kebaruan penelitian ini terletak pada perbandingan langsung respons glikemik dua jam postprandial antara konsumsi porsi lazim kurma Ajwa dan pisang Ambon pada individu sehat menggunakan desain quasi-eksperimental. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh konsumsi porsi lazim kurma Ajwa (tiga butir) dan pisang Ambon (satu buah) terhadap kadar glukosa darah dua jam postprandial (GD2PP) pada individu sehat. Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif berdesain quasi-eksperimental (two-group pretest-posttest) ini melibatkan 92 responden sehat (52 kelompok kurma; 40 kelompok pisang) melalui consecutive sampling. Setelah berpuasa 8–10 jam, glukosa darah puasa (GDP) diukur menggunakan glucometer POCT. Subjek kemudian diberikan intervensi buah dan diukur kembali GD2PP-nya tepat dua jam pascakonsumsi. Data dianalisis menggunakan uji Paired t-test dan Independent t-test. Kelompok pisang menunjukkan rerata GDP 89,03±6,98 mg/dL dan GD2PP 88,68±8,06 mg/dL tanpa perbedaan bermakna (P-value=0,673). Kelompok kurma menunjukkan penurunan signifikan dari GDP 92,67±8,67 mg/dL menjadi GD2PP 89,25±9,60 mg/dL (p=0,010). Terdapat perbedaan perubahan kadar glukosa (ΔGD2PP) yang signifikan secara statistik antara kelompok pisang (-0,35±5,20 mg/dL) dan kurma (-3,42±9,28 mg/dL) dengan nilai p=0,048. Konsumsi kurma Ajwa memberikan respons glikemik yang secara statistik lebih rendah dibandingkan pisang Ambon. Kedua jenis buah ini terbukti aman dan tidak memicu hiperglikemia postprandial, sehingga dapat direkomendasikan untuk menjaga stabilitas glukosa darah pada individu sehat.
OPTIMALISASI KEPATUHAN PENGGUNAAN FORMULARIUM NASIONAL DI INSTALASI FARMASI RAWAT JALAN RSK BEDAH ROPANASURI PADANG Faradisha, Jihan; -, Alhuda
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i2.38464

Abstract

Kepatuhan penggunaan Formularium Nasional ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 30 Tahun 2022 dengan target minimal 80%. Ketidakpatuhan terhadap formularium nasional dapat menyebabkan inefisiensi penggunaan obat, peningkatan biaya pelayanan kesehatan, serta penurunan mutu dan keselamatan pasien. RSK Bedah Ropanasuri Padang mencatat rata-rata kepatuhan hanya sebesar 59,1% pada periode Januari–Maret 2025. Kondisi ini menunjukkan perlunya identifikasi akar masalah secara sistematis guna mendukung perbaikan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor penyebab rendahnya kepatuhan serta merumuskan alternatif pemecahan masalah dan rencana tindak lanjut (Plan of Action) untuk mencapai target ≥80%. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui observasi langsung, wawancara mendalam, serta telaah dokumen. Serta mengidentifikasi prioritas dan akar masalah dengan metode USG (Urgency, Seriousness, Growth) dan diagram fishbone (Ishikawa) yang mencakup aspek sumber daya manusia, sistem, sarana, dan komunikasi. Hasil penelitian mengidentifikasi kurangnya pengetahuan tenaga medis mengenai daftar obat formularium nasional, belum optimalnya koordinasi antara instalasi farmasi rawat jalan dan unit terkait, belum adanya kebijakan pembatasan obat non-formularium dalam sistem e-receipt maupun resep manual, serta belum tersedianya laporan bulanan tertulis mengenai peresepan obat di luar formularium. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis kepatuhan penggunaan Formularium Nasional di rumah sakit khusus bedah, yang memiliki karakteristik unik berupa kebutuhan obat pascaoperasi yang beragam dan sering kali berada di luar daftar formularium. Penelitian ini tidak hanya menilai tingkat kepatuhan, tetapi juga mengkaji faktor-faktor penyebab ketidaktercapaian penggunaan Formularium Nasional dari perspektif fasilitas kesehatan dengan kecenderungan penggunaan obat berbiaya tinggi, sehingga memberikan gambaran yang lebih komprehensif dibandingkan penelitian sebelumnya.Kata kunci: Fishbone, Formularium Nasional, Indikator Instalasi Farmasi Mutu, USG
PERBEDAAN MCV (MEAN CORPUSCULAR VOLUME) DAN MCH (MEAN CORPUSCULAR HEMOGLOBIN) SEBELUM DAN SESUDAH HEMODIALISA PADA PASIEN CKD (CHRONIC KIDNEY DISEASE) Tanan, Jeremy; Harun, Haerani; Amus, Dzaki Ahmad Fahrezi; Sulistiana, Ria; Anggara, Ary; Hasannudin, Hasannudin; Hermanto, Darent Aditya Nasario
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i2.38257

Abstract

Penyakit ginjal merupakan masalah kesehatan global dengan jumlah penderita yang terus meningkat setiap tahun. Gagal ginjal kronik (GGK) pada akhirnya memerlukan terapi hemodialisa (HD) sebagai penanganan utama yang dapat memengaruhi berbagai parameter darah. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus analisis dampak akut satu sesi HD terhadap stabilitas indeks eritrosit, khususnya MCV dan MCH, yang masih menunjukkan hasil inkonsisten pada penelitian sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah terdapat perubahan signifikan pada parameter MCV dan MCH setelah satu sesi HD. Metode yang digunakan adalah desain observasional analitik komparatif dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 30 sampel yang diperiksa sebelum dan satu jam setelah prosedur HD melalui pemeriksaan laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P-value untuk MCV sebesar 0,642 dan MCH sebesar 0,155 (p 0,05), yang mengindikasikan tidak terdapat perbedaan signifikan pada kedua parameter tersebut setelah satu sesi HD. Kesimpulannya, prosedur hemodialisa tidak memberikan perubahan yang signifikan terhadap parameter MCV dan MCH secara akut dalam satu sesi tunggal, sehingga indeks eritrosit relatif stabil selama prosedur berlangsung.
EVALUASI PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSI KADER POSYANDU DI KABUPATEN NGANJUK MENGGUNAKAN LOGIC MODEL Yuliawati, Riza; Agustina, Ukik; Bastian, Ardi; Sari, Reny Mareta
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i2.37538

Abstract

Transformasi layanan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menuju Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) menuntut kader memiliki 25 kompetensi yang mencakup seluruh siklus hidup, mulai dari ibu hamil hingga lanjut usia. Kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan evaluatif kualitatif yang secara komprehensif mengkaji seluruh rangkaian transformasi peningkatan kompetensi kader menggunakan kerangka logic model, yang belum banyak dieksplorasi dalam penelitian sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program peningkatan kompetensi kader Posyandu di Kabupaten Nganjuk. Metode yang digunakan adalah evaluatif kualitatif dengan kerangka logic model yang mencakup inputs, outputs, serta outcomes-impacts. Populasi penelitian melibatkan seluruh pihak yang terlibat dalam program, dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara dan studi dokumen, kemudian dianalisis menggunakan thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada aspek inputs, keterlibatan lintas sektor telah berjalan dengan baik. Pada aspek outputs, berbagai metode pembelajaran seperti pelatihan, magang, dan pendampingan diterapkan untuk meningkatkan kompetensi kader, serta dikembangkan soal terstandar untuk efisiensi uji kompetensi. Pada aspek outcomes-impacts, dampak jangka pendek berupa peningkatan pengetahuan, keterampilan, motivasi kader, serta peningkatan cakupan layanan remaja dan dewasa telah terlihat, meskipun dampak jangka menengah dan panjang belum dapat diukur. Secara keseluruhan, program menunjukkan hasil positif pada tahap awal, namun masih memerlukan evaluasi lanjutan untuk menilai dampak jangka panjang.
DETERMINASI SOSIAL DAN LINGKUNGAN TERHADAP RISIKO INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DI PERMUKIMAN TAMBANG BATUBARA: TINJAUAN LITERATUR Munawwaroh, Fikriyyah; ⁠Najmah, ⁠Najmah; Liberty, Iche Andriyani
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i2.37955

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak usia balita (bawah lima tahun), terutama di wilayah dengan degradasi lingkungan seperti permukiman sekitar pertambangan batubara. Kebaruan penelitian ini terletak pada sintesis antara determinan sosial dan lingkungan dalam paparan polusi pertambangan batubara. Pendekatan ini memberikan dasar ilmiah bagi perumusan intervensi lintas sektor melalui pengendalian polusi udara, perbaikan kualitas hunian, pendidikan kesehatan keluarga, dan kebijakan kesehatan lingkungan berbasis bukti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan sosial dan lingkungan yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak balita di kawasan permukiman tambang batubara melalui pendekatan systematic literature review. Penelitian menggunakan metode systematic literature review terhadap artikel ilmiah peer-reviewed yang diterbitkan tahun 2020-2025 melalui basis data PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, ResearchGate, dan DOAJ dengan panduan PRISMA. Kualitas metodologis studi dievaluasi menggunakan Joanna Briggs Institute Critical Appraisal Checklist. Dari 756 artikel yang teridentifikasi, sebanyak 17 artikel memenuhi kriteria inklusi untuk dianalisis. Hasil sintesis menunjukkan determinan sosial seperti rendahnya pendidikan ibu, rendahnya pendapatan rumah tangga, serta kebiasaan merokok di dalam rumah, bersama determinan lingkungan seperti ventilasi rumah yang buruk, kepadatan hunian tinggi, jarak tempat tinggal kurang dari 1 km dari lokasi tambang, dan paparan polusi udara partikulat, secara konsisten berkaitan dengan peningkatan risiko ISPA pada anak balita. Hasil ini menunjukkan bahwa kejadian ISPA pada anak di wilayah pertambangan batubara dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara kerentanan sosial dan paparan lingkungan.
KORELASI INDEKS TRIGLISERIDA–GLUKOSA DAN NEUTROPHIL–LYMPHOCYTE RATIO PADA PASIEN DM TIPE 2 Undayanti, Meri Gita; Harun, Haerani; Amri, Imtihanah; Tanra, Andi Alfia Muthmainah; Liwang, Muhammad Nur Ikhsan; Faaz, Muhammad Azzam
Journal Health & Science : Gorontalo Journal Health and Science Community Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN
Publisher : Gorontalo State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/gojhes.v10i2.38059

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai oleh resistensi insulin dan inflamasi sistemik derajat rendah, di mana indeks Triglyceride-Glucose (TyG) digunakan sebagai indikator resistensi insulin dan Neutrophil-Lymphocyte Ratio (NLR) sebagai penanda inflamasi sistemik sederhana. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menyajikan data empiris mengenai hubungan antara indeks TyG dan NLR pada pasien DMT2 di tingkat rumah sakit daerah yang masih terbatas pelaporannya dalam literatur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara indeks TyG dan NLR pada pasien DMT2. Metode yang digunakan adalah penelitian analitik observasional dengan desain cross-sectional terhadap 108 pasien DMT2 yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling dari rekam medis di Rumah Sakit Anutapura Kota Palu. Hasil penelitian menunjukkan median indeks TyG sebesar 9,66 (8,21–10,91) dan median NLR sebesar 1,81 (0,81–9,47), dengan uji korelasi Spearman yang menunjukkan tidak adanya hubungan bermakna antara keduanya (P-value = 0,615; r = 0,049). Kesimpulannya, indeks TyG dan NLR tidak memiliki hubungan yang signifikan pada pasien DMT2, sehingga keduanya tidak dapat digunakan sebagai indikator tunggal dalam menilai inflamasi, karena hubungan tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 2 (2026): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUN Vol 10, No 1 (2026): JANUARI: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMM Vol 9, No 4 (2025): OKTOBER: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMU Vol 9, No 3 (2025): JULI: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNIT Vol 9, No 2 (2025): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNI Vol 8, No 4 (2024): OKTOBER: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMU Vol 8, No 3 (2024): JULI: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNIT Vol 8, No 2 (2024): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNI Vol 8, No 1 (2024): JANUARI: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMU Vol 7, No 4 (2023): OKTOBER: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMU Vol 7, No 3 (2023): JULI: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNIT Vol 7, No 2 (2023): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNI Vol 7, No 1 (2023): JANUARI: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMU Vol 6, No 3 (2022): OKTOBER: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMU Vol 6, No 2 (2022): JULI: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNIT Vol 6, No 1 (2022): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNI Vol 5, No 2 (2021): OKTOBER: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMU Vol 5, No 1 (2021): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNI Vol 4, No 2 (2020): OKTOBER: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMU Vol 4, No 1 (2020): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNI Vol 3, No 2 (2019): OKTOBER: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMU Vol 3, No 1 (2019): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNI Vol 1, No 1 (2019): April Vol 2, No 2 (2018): APRIL: JOURNAL HEALTH AND SCIENCE : GORONTALO JOURNAL HEALTH AND SCIENCE COMMUNI More Issue