cover
Contact Name
dentin
Contact Email
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
dentin.jtamfkg@ulm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Dentin
ISSN : 26140098     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Dentin [e-issn: 2614-0098] merupakan terbitan berkala ilmiah tugas akhir berbahasa Indonesia berisi artikel penelitian dan kajian literatur tentang kedokteran gigi. Kontributor Dentin adalah kalangan akademisi (dosen dan mahasiswa). Dikelola oleh Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat dan terbit 3 (tiga) kali setahun setiap April, Agustus dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 249 Documents
EFEKTIVITAS DENTAL HEALTH EDUCATION MENGGUNAKAN PERMAINAN TRADISIONAL BADAMPRAK TERHADAP PENGETAHUAN DAN SKOR OHI-S (Tinjauan Pada Siswa Umur 10-14 Tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin) Yudha Fatahillah Syahari; Aulia Azizah; Sherli Diana; Rosihan Adhani; Rahmad Arifin
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16564

Abstract

Background: Based on the Indonesian Health Survey (SKI 2023) South Kalimantan Province has a proportion of oral and dental problems (57.7%), the largest (59.56%) of which is in children aged 10-14 years, this indicates a lack of dental health education (DHE) in this age group. According to Bloom, behavior influenced by knowledge is an important factor in oral health status. One method to improve this knowledge is through the traditional game Badamprak. Objective: The effectiveness of DHE using Badamprak games in increasing knowledge and reducing OHI-S scores in students aged 10-14 years at Dhammasoka Buddhist School in Banjarmasin City. Purpose: Proving that DHE using traditional badamprak games increases knowledge and reduces OHI-S scores in students aged 10-14 years at Dhammasoka Buddhist School in Banjarmasin City. Methods: This study used quasi experimental with pre and posttest group design with non probability sampling on 58 students. Results: Wilcoxon test showed that there was a difference in tooth brushing knowledge before and after DHE using Badamprak traditional games in 58 samples (p = 0.001). Conclusion: DHE using the traditional game Badamprak is effective in increasing knowledge and reducing OHIS scores.Keywords: Badamprak, Dental Health Education, Knowledge, Oral Hygiene Index Simplified, Tooth Brushing ABSTRAKLatar Belakang: Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI 2023) Provinsi Kalimantan Selatan memiliki proporsi masalah gigi dan mulut (57,7%), yang terbesar (59,56%) yaitu pada anak usia 10-14 tahun, Hal ini menunjukkan kurangnya edukasi kesehatan gigi dan mulut (Dental Health Education/DHE) pada kelompok usia tersebut. Menurut Bloom, perilaku yang dipengaruhi oleh pengetahuan merupakan faktor penting dalam status kesehatan gigi dan mulut. Salah satu metode untuk meningkatkan pengetahuan ini adalah melalui permainan tradisional Badamprak. Tujuan: Efektivitas DHE menggunakan permainan Badamprak dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHI-S pada siswa usia 10-14 tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin. Tujuan: Membuktikan bahwa DHE menggunakan permainan tradisional badamprak meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHI-S pada siswa umur 10-14 tahun di Sekolah Buddhis Dhammasoka Kota Banjarmasin. Metode: Penelitian ini menerapkan pendekatan kuasi eksperimen melalui rancangan pengukuran sebelum dan sesudah intervensi (pretest-posttest group design). Pemilihan sampel menggunakan teknik non probability sampling dengan jumlah responden sebanyak 58 siswa. Hasil: Uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan menyikat gigi sebelum dan setelah DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak pada 58 sampel (p=<0,001). Kesimpulan: DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHIS. Kata Kunci: : Badamprak, Dental Health Education, Menyikat Gigi, Oral Hygiene Index Simplified, Pengetahuan > <0,001). Kesimpulan: DHE menggunakan permainan tradisional Badamprak efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan menurunkan skor OHIS.Kata Kunci: : Badamprak, Dental Health Education, Menyikat Gigi, Oral Hygiene Index Simplified,Pengetahuan
APAKAH PASIEN SKIZOFRENIA MERAWAT KEBERSIHAN GIGI DAN MULUTNYA? Galuh Dwinta Sari; Chandra Wijaya; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Aulia Azizah
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17914

Abstract

ABSTRACTBackground: Mental disorders can have a major impact on life and have a negative impact on social interactions. South Kalimantan Province has a prevalence of 5.1% of household members experiencing mental disorders. People with mental disorders have manifestations of psychomotor disorders such as limitations in movement and activities which can trigger dental and oral health problems such as caries. Objective: To determine the description of the severity of caries in patients with mental disorders at Sambang Lihum Hospital. Method: Quantitative descriptive research with cross sectional design. The sampling technique uses simple random sampling. The population is mental patients who are treated and are undergoing rehabilitation therapy at the Sambang Lihum Hospital as many as 127 people. The sample size by Slovin formula which obtained the results of 62 respondents. Results: Based on the DMF-T examination, the caries severity level of the respondents was in the very high category with a DMF-T frequency of 856 and a DMF-T index of 13.8. The caries index in men and women has a very high category. The highest DMF-T index and frequency distribution were in the age group >65 years. Psychiatric diagnoses with the highest DMF-T index were diagnoses of schizophrenia, schizotypal disorder, and delusions with a DMF-T frequency of 505 and a DMF-T index of 14.85. Conclusion: The average caries severity rating of patients with mental disorders at Sambang Lihum Hospital is in the very high category with the highest diagnoses belonging to those with a diagnosis of schizophrenia, schizotypal disorder and delusions.Keywords: caries severity, mental disorders, schizophrenia ABSTRAK Latar Belakang: Gangguan mental dapat berpengaruh besar bagi kehidupan dan berdampak buruk pada interaksi sosial. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki prevalensi 5,1% anggota rumah tangga yang mengalami masalah gangguan jiwa. Orang dengan gangguan jiwa memiliki manifestasi gangguan psikomotor seperti keterbatasan bergerak dan beraktivitas yang dapat memicu timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut seperti karies. Tujuan: Mengetahui gambaran tingkat keparahan karies pasien dengan gangguan jiwa di RSJ Sambang Lihum. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Populasi adalah pasien gangguan jiwa yang dirawat dan sedang menjalani terapi rehabilitasi di RSJ Sambang Lihum sebanyak 127 orang. Besar sampel dihitung dengan menggunakan rumus slovin yang diperoleh hasil sebanyak 62 responden. Hasil: Tingkat keparahan karies berdasarkan pemeriksaan DMF-T pada responden memiliki kategori sangat tinggi dengan frekuensi DMF-T sebesar 856 dan indeks DMF-T sebesar 13,8. Indeks karies pada laki-laki dan perempuan memiliki kategori sangat tinggi. Distribusi frekuensi dan Indeks DMF-T tertinggi berada pada kelompok usia >65 tahun. Diagnosis kejiwaan dengan indeks DMF-T tertinggi berada pada diagnosis skizofrenia, gangguan skizotipal, dan waham dengan frekuensi DMF-T sebesar 505 dan indeks DMF-T sebesar 14,85. Kesimpulan:  Gambaran tingkat keparahan karies pasien dengan gangguan jiwa di RSJ Sambang Lihum rata-rata berada pada kategori sangat tinggi dengan diagnosis tertinggi dimiliki oleh mereka yang didiagnosa skizofrenia, gangguan skizotipal dan waham.Kata Kunci: gangguan jiwa, keparahan karies, skizofrenia
GAMBARAN KEJADIAN MALOKLUSI BERDASARKAN KEBIASAAN BURUK PADA PELAJAR SMA DI WILAYAH NON-PERKOTAAN BANJARMASIN Saidatun Nisa; Diana Wibowo; Riky Hamdani; Fajar Kusuma Dwi Kurniawan; Isnur Hatta
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17741

Abstract

ABSTRACT Background: Malocclusion is an abnormality in the growth and development of teeth that can be influenced by bad oral habits, such as mouth breathing, tongue thrusting, lip biting, thumb sucking, and bruxism. This condition is often not recognized by the individual, but can have a significant impact on oral function and aesthetics. Purpose: This study aims to describe the incidence of malocclusion based on the type of bad oral habits among high school students in non-urban Banjarmasin. Methods: This study is a descriptive study with a quantitative approach and a cross-sectional design. The sample consisted of 175 students selected using a simple random sampling technique. Data were collected through questionnaires and oral clinical examinations, then analyzed descriptively using frequency distribution and percentages. Results: The results showed that the most common bad habit found was mouth breathing (24%), and the majority of those affected were females, while bruxism was most common in males (12.00%). The most common type of malocclusion found was protrusive (25.91%), with the highest prevalence in females. There is a tendency that certain types of bad habits can lead to certain types of malocclusion. Conclusion: Malocclusions based on bad habits are still common in non-urban areas of Banjarmasin, so there is a need for increased education regarding bad habits that can cause malocclusion. Keywords: bad habits, malocclusion, students ABSTRAKLatar Belakang: Maloklusi merupakan kelainan pertumbuhan dan perkembangan gigi-geligi yang dapat dipengaruhi oleh kebiasaan buruk pada rongga mulut, seperti mouth breathing, tongue thrusting, lip biting, thumb sucking, dan bruxism. Kondisi ini sering tidak disadari oleh individu, namun dapat berdampak signifikan terhadap fungsi maupun estetika oral. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian maloklusi berdasarkan jenis kebiasaan buruk pada rongga mulut di kalangan pelajar SMA/sederajat di wilayah non-perkotaan Banjarmasin. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional. Sampel terdiri atas 175 pelajar yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan klinis rongga mulut, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase.Hasil: Hasil menunjukkan bahwa kebiasaan buruk yang paling banyak ditemukan adalah mouth breathing (24%) dan mayoritas yang mengalami adalah perempuan, sementara bruxism paling banyak dialami oleh laki- laki (12,00%). Jenis maloklusi yang paling sering ditemukan adalah protrusif (25,91%), dengan prevalensi tertinggi pada perempuan. Terdapat kecenderungan bahwa jenis kebiasaan buruk tertentu dapat menyebabkan jenis maloklusi tertentu. Kesimpulan: Kejadian maloklusi berdasarkan kebiasan buruk masih banyak ditemukan di wilayah non- perkotaan Banjarmasin, sehingga perlu adanya peningkatan edukasi mengenai kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan kejadian maloklusi.Kata kunci: kebiasaan buruk, maloklusi, pelajar
EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KECAPI (Sandoricum koetjape Merr) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Studi in Vitro) Dini Maulani; Yusrinie Wasiaturrahmah; Bayu Indra Sukmana; I Wayan Arya Krisnawan Firdaus; Irham Taufiqurrahman
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16559

Abstract

Background: Aggressive periodontitis is a disease that rapidly destroys the periodontal tissue caused by the dominance of Aggregatibacter actinomycetemcomitans bacteria by 90%. Aggressive periodontitis treatment can be in the form of antibiotics. One of the antibiotics that can be used is metronidazole gel 25%, but this drug can have side effects if used in the long term. There are herbal plants, namely kecapi leaves (Sandoricum koetjape Merr) which contain compounds that can be used as antibacterials including saponins, alkaloids, flavonoids, and triterpenoids. Objective: To determine the antibacterial effectiveness of kecapi leaves extract (Sandoricum koetjape Merr) concentrations of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, and 70% on the growth of Aggregatibacter actinomycetemcomitans bacteria. Methods: True experimental design with post test only with control group and there were 9 treatment groups with 3 repetitions. The treatment in this study was kecapi leaves extract concentration of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, and 70%, the positive control was metronidazole gel 25% and the negative control was aquadest. The antibacterial test used the liquid dilution method to determine the value of Minimum Inhibitory Content (MIC) and solid dilution to determine the value of Minimum Bactericidal Content (MBC). Results: Based on the results and data analysis, it was found that kecapi leaf extract had a Minimum Inhibitory Content (MIC) at a concentration of 10% and a Minimum Inhibitory Content (KBM) at a concentration of 30%. Conclusion: Kecapi leaves extract (Sandoricum koetjape Merr) concentration of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, and 70% has antibacterial effectiveness against the growth of Aggregatibacter actinomycetemcomitans.Keywords: Aggregatibacter actinomycetemcomitans, Aggressive Periodontitis, Kecapi leaves ABSTRAKLatar belakang: Periodontitis agresif merupakan penyakit yang merusak jaringan periodontal dengan cepat yang disebabkan oleh dominasi bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans sebesar 90%. Perawatan periodontitis agresif dapat berupa antibiotik. Salah satu antibiotik yang dapat dipakai yaitu metronidazol gel 25%, namun obat ini dapat memberikan efek samping apabila digunakan dalam jangka panjang. Terdapat tumbuhan herbal yaitu daun kecapi (Sandoricum koetjape Merr) yang mengandung senyawa yang dapat digunakan sebagai antibakteri diantaranya saponin, alkaloid, flavonoid, dan triterpenoid. Tujuan: Mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak daun kecapi (Sandoricum koetjape Merr) konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, dan 70% terhadap pertumbuhan bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Metode: True experimental dengan desain post test only with control group dan terdapat 9 kelompok perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Perlakuan pada penelitian ini yaitu ekstrak daun kecapi konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, dan 70%, kontrol positif berupa metronidazol gel 25% dan kontrol negatif berupa akuades. Uji antibakteri menggunakan metode dilusi cair untuk mengetahui nilai Kadar Hambat Minimum (KHM) dan dilusi padat untuk mengetahui nilai Kadar Bunuh Minimum (KBM). Hasil: Berdasarkan hasil dan analisis data didapatkan bahwa ekstrak daun kecapi memiliki Kadar Hambat Minimum (KHM) pada konsentrasi 10% dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) pada konsentrasi 30%. Kesimpulan: Ekstrak daun kecapi (Sandoricum koetjape Merr) konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, dan 70% memiliki efektivitas antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans.Kata Kunci : Aggregatibacter actinomycetemcomitans, Daun kecapi, Periodontitis Agresif
TEKNIK PEMBUATAN FIXED FIXED BRIDGE PFM PADA KEHILANGAN GIGI 41, 31, DAN 32, PADA RESORPSI ALVEOLAR DAN RONGAK KECIL Alga Meisha Purwanto; Winda kusumawardani; Sri Redjeki Indiani; Sianiwati Goenharto; Anisa Nur Halimah; Narta Nikita Indiani; Widya Ulfa
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17919

Abstract

ABSTRACT Background: Tooth loss is often accompanied by alveolar bone resorption and reduced edentulous space, leading to changes in bone morphology and imbalance of the dental arch. Alveolar resorption refers to the reduction in bone volume and height in the area of missing teeth, while reduced edentulous space is defined as a narrower space than the ideal dimension for prosthetic replacement. One method to restore function and aesthetics in cases of tooth loss is the fabrication of a fixed-fixed bridgeusing Porcelain Fused to Metal (PFM). Objective: To describe the fabrication technique of a fixed-fixed PFM bridge for the replacement of missing teeth 41, 31, and 32 associated with alveolar bone resorption and reduced edentulous space. Case: The working model presented missing teeth 41, 31, and 32 accompanied by alveolar bone resorption and reduced edentulous space, for which a fixed-fixed PFM bridge was planned. Conclusion: The fabrication of a fixed-fixed Porcelain Fused to Metal bridge for the replacement of teeth 41, 31, and 32 with alveolar bone resorption and reduced edentulous space begins with receiving the working model, followed by wax-up of the coping to cover the resorbed area. The line angles are slightly shifted toward the proximal surfaces to create the visual impression of wider teeth. This is followed by metal coping finishing and subsequent application of slurry, opaque, dentin, enamel, translucent, and pink ceramic at the cervical pontic area. The process is completed with staining and glazing to enhance porcelain color and luster, and final polishing of the collar to achieve a smooth and esthetic result.Keywords : alveolar bone resorption, fixed-fixed bridge, narrow space, pink ceramic, porcelain fused to metal (PFM) ABSTRAK  Latar Belakang: Kehilangan gigi sering disertai resorpsi tulang alveolar dan rongak kecil yang menyebabkan perubahan bentuk tulang dan ketidakseimbangan lengkung rahang. Resorpsi alveolar adalah penurunan volume dan tinggi tulang di area gigi yang hilang. Rongak kecil adalah jarak edentulous yang lebih sempit daripada ukuran ideal. Salah satu cara mengembalikan fungsi dan estetika pada gigi yang hilang adalah dengan pembuatan gigi tiruan jembatan fixed-fixed bridge dengan bahan Porcelain Fused to Metal (PFM). Tujuan: Untuk menjelaskan teknik pembuatan teknik pembuatan gigi tiruan jembatan PFM pada kehilangan gigi 41, 31, dan 32 yang disertai resorpsi alveolar dan rongak kecil. Kasus: Pada model kerja terdapat kehilangan gigi 41, 31, dan 32 disertai resorpsi tulang alveolar dan rongak kecil yang akan dibuatkan fixed-fixed bridge PFM. Kesimpulan: Tahapan pembuatan gigi tiruan jembatan fixed fixed bridge dengan bahan Porcelain Fused to Metal pada kehilangan gigi 41, 31, dan 32 yang mengalami resorpsi alveolar dan rongak kecil diawali dengan penerimaan model kerja, pembuatan wax-up coping menutupi area yang mengalami resorpsi dan line angle dibuat sedikit ke arah proksimal guna memberikan kesan gigi lebih lebar secara visual, finishing pada koping logam, kemudian dilanjutkan dengan pengaplikasian slurry, opaque, dentin, enamel, translucent, dan pink ceramic pada area servikal pontik. Setelah itu dilakukan proses staining dan glazing untuk menyempurnakan warna dan kilap porselen, lalu tahap akhir berupa pemolesan pada collar hingga diperoleh hasil yang halus dan estetis. Kata kunci : fixed-fixed bridge, pink ceramic, porcelain fused to metal (PFM), resorpsi tulang alveolar, rongak kecil
ANALISIS DAMPAK INDUSTRI PANDAI BESI TERHADAP KUALITAS AIR BERSIH DAN KESEHATAN MASYARAKAT DESA SUNGAI PINANG Maharani Laillyza Apriasari; Nurul Ikhsani Umar; Amy Nindia Carabelly
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17746

Abstract

ABSTACTBackground: River water and municipal water (PDAM) serve as primary sources of clean water for the residents of Sungai Pinang Village, Daha Selatan District, Hulu Sungai Selatan Regency, South Kalimantan Province. The presence of blacksmithing (metal forging) industries in the village has contributed to a decline in clean water quality, which in turn affects the health conditions of the local community. Objective: This study aims to analyze the impact of blacksmithing industries on clean water quality and to assess the resulting health effects on the residents of Sungai Pinang Village, Daha Selatan District, Hulu Sungai Selatan Regency. Methods: This descriptive quantitative study was conducted to illustrate the quality of clean water and the health status of the Sungai Pinang community. Research subjects were selected using purposive sampling, involving the Village Head, blacksmith industry workers, and residents knowledgeable about local health conditions and industrial activities. Data were collected through interviews, observations, and laboratory testing. The study applied the Pollution Index (IP) method, referring to the Decree of the Minister of Environment No. 115 of 2003 on Guidelines for Determining Water Quality Status. Results: Analysis using the Pollution Index (IP) method yielded a score of 4.6 for river water and 3.9 for municipal water (PDAM). Conclusion: Based on the Pollution Index (IP) calculation, both river water and municipal water (PDAM) in Sungai Pinang Village, Daha Selatan District, are categorized as Lightly Polluted.Keywords: blacksmithing industry, public health, water quality ABSTRAK  Latar Belakang: Air sungai dan air PDAM merupakan sumber air bersih yang dikonsumsi oleh masyarakat di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Provinsi Kalimantan Selatan. Keberadaan industri pandai besi yang dilakukan di desa tersebut berdampak pada penurunan kualitas air bersih sehingga berdampak pula bagi kondisi kesehatan masyarakat setempat. Tujuan: Tujuan penelitian ini ialah untuk menganalisis dampak industri pandai besi terhadap kualitas air bersih serta dampak kesehatan yang ditimbulkan dari industri pandai besi terhadap masyarakat Desa Sungai Pinang Kec. Daha Selatan Kab. Hulu Sungai Selatan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan menggambarkan kualitas air bersih dan tingkat kesehatan masyarakat di Desa Sungai Pinang. Subjek penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling, melibatkan Kepala Desa, pekerja industri pandai besi, serta masyarakat yang memahami kondisi kesehatan dan aktivitas industri setempat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan uji laboratorium. Penelitian ini menggunakan Metode IP (Indeks Pencemaran) yang merujuk pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 115 Tahun 2003 tentang Pedoman Penentuan Status Mutu Air. Hasil: Analisis data menggunakan metode IP (Indeks Pencemaran) menunjukkan skor 4,6 pada air sungai dan 3,9 pada air PDAM. Kesimpulan: Kualitas air sungai dan air PDAM di Desa Sungai Pinang Kec. Daha Selatan dikategorikan pada status Cemar Ringan berdasarkan perhitungan menggunakan Metode IP (Indeks Pencemaran). Kata kunci: industri pandai besi, kesehatan masyarakat, kualitas air
PERBEDAAN RELIABILITAS POLA SIDIK BIBIR DAN BENTUK PAPILLA INSISIF DALAM MENGIDENTIFIKASI JENIS KELAMIN PADA SUKU BANJAR Timothy Jogy Sotarduga Parhusip; Didit Aspriyanto; Isyana Erlita; Amy Nindia Carabelly; Rima Permata Sari
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16563

Abstract

Background: Indonesia is frequently affected by natural disasters, with incidents increasing from 2,574 in 2018 to 5,400 in 2023. Victim identification is a vital component of disaster response efforts. In forensic odontology, anatomical structures such as the incisive papilla and lip print patterns (cheiloscopy) serve as potential tools for identification. The incisive papilla offers advantages due to its morphological stability and protected position within the oral cavity, while lip prints are considered reliable due to their uniqueness and resistance to minor trauma. However, comparative studies assessing the accuracy of both methods in sex determination remain scarce and warrant further scientific investigation. Purpose: To analyze the difference in reliability between lip print patterns and incisive papilla in identifying sex among the Banjar ethnic group. Methods: This study employed a simple random sampling technique and utilized a non-paired categorical comparative analytic design. A cross-sectional approach was applied, involving observation and data collection conducted at a single point in time. Results: Based on Cohen’s Kappa coefficient, lip print pattern analysis demonstrated strong reliability (K = 0.839), whereas incisive papilla shape showed moderate reliability (K = 0.653). The Mann Whitney test identified statistically significant sex-based differences in lip print patterns within the Upper Right and Lower Middle quadrants, as well as notable morphological differences in incisive papilla shape between male and female subjects. Conclusion: Lip print patterns demonstrate higher reliability compared to the shape of the incisive papilla in determining sex among the Banjar ethnic population.Keywords: Forensic Odontology, Incisive Papilla, Lip Prints ABSTRAKLatar Belakang: Indonesia sering dilanda bencana alam, dengan 2.574 kejadian pada 2018 dan meningkat menjadi 5.400 pada 2023. Identifikasi korban menjadi langkah krusial, di mana metode identifikasi menggunakan papilla insisif dan pola sidik bibir dari rongga mulut dapat dimanfaatkan. Papilla insisif dinilai digunakan karena memiliki ciri stabil, terlindungi dalam rongga mulut, serta bentuk yang bervariasi berdasarkan jenis kelamin. Pola sidik bibir (cheiloscopy) juga unik dan tahan terhadap trauma minor, sehingga sering digunakan dalam odontologi forensik. Namun, studi mengenai perbandingan reliabilitas keduanya dalam penentuan jenis kelamin masih terbatas dan perlu diteliti lebih lanjut. Tujuan: Untuk menganalisis perbedaan reliabilitas antara pola sidik bibir dan papilla insisif dalam mengidentifikasi jenis kelamin pada suku Banjar. Metode: Penelitian ini menggunakan metode simple random sampling dan bersifat analitik komparatif kategorik tidak berpasangan. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan cross-sectional dengan mengamati, observasi, maupun pengumpulan data pada satu waktu yang sama. Hasil: Berdasarkan uji Cohen’s Kappa, reliabilitas pola sidik bibir menunjukkan kategori kuat dengan nilai K = 0,839, sedangkan bentuk papila insisif memiliki reliabilitas sedang dengan nilai K = 0,653. Uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara jenis kelamin terhadap pola sidik bibir pada kuadran UR dan LM, serta terhadap bentuk papila insisif. Kesimpulan: Pola sidik bibir lebih reliabel dibandingkan bentuk papilla insisif dalam mengidentifikasi jenis kelamin pada suku Banjar.Kata Kunci: Odontologi Forensik, Papilla Insisif, Sidik Bibir
Lactobacillus sp. IDENTIFICATION IN CARIES-AFFECTED STUDENTS IN SMP NEGERI 1 SUNGAI PINANG KABUPATEN BANJAR Rosihan Adhani; Isnur Hatta; Muhammad Genadi Askandar; I Wayan Arya Krishnawan Firdaus
Dentin Vol 9, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i3.17915

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Karies adalah penyakit infeksi yang menyerang jaringan keras gigi. Karies adalah penyakit multifaktorial, yang dipicu oleh interaksi antara inang, mikroorganisme/agen, substrat, dan waktu. Salah satu agen patogen yang paling utama adalah Lactobacillus sp. Agen ini sebagian besar ditemukan pada lesi karies aktif, dapat menghasilkan asam laktat dan merupakan organisme yang toleran terhadap lingkungan asam. Paparan timbal juga merupakan faktor yang dapat memperburuk karies. Timbal adalah antagonis kalsium dan dapat menghambat metabolisme kalsium dalam remineralisasi gigi. Timbal dapat mengendap ke dalam air minum setelah mengkristal di udara, dibantu oleh hujan. Paparan ini sangat mengkhawatirkan bagi masyarakat yang masih bergantung pada air sungai yang tidak disaring untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi koloni Lactobacillus sp. pada anak-anak yang terkena karies dan menilai perbedaan antara anak-anak yang mengonsumsi air sungai dan anak-anak yang mengonsumsi air sumur. Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain kelompok kontrol menggunakan pendekatan potong lintang, yang dilakukan di SMP Negeri 1 Sungai Pinang Kabupaten Banjar, November-Desember 2017. Populasi penelitian terdiri dari 60 siswa, yang dikategorikan menjadi dua kelompok (masing-masing 30 siswa): kelompok pengguna air sungai dan kelompok pengguna air sumur. Indeks DMF-T dan sampel usap gigi dicatat untuk dianalisis. Sampel usap kemudian dikirim ke laboratorium untuk diolah dengan pewarnaan dan menggunakan metode Huccer untuk menilai koloni Lactobacillus sp. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara jumlah koloni Lactobacillus sp. dan indeks DMT pada anak-anak pengguna air sungai dan anak-anak pengguna air sumur.Keywords: indeks DMF-T, karies, konsumsi air, timbal ABSTRACTBackground: Caries is an infectious disease affecting a tooth’s hard tissues. It is a multifactorial disease, initiated by the interaction of host, microorganisms/agents, substrates, and time. One of the most pathogenic agents is Lactobacillus sp. This agent is mostly found in active lesions of caries, can produce lactate acid and is an acidic-environment tolerant organism. Lead exposure is also a factor that can worsen caries. Lead is a calcium-antagonist and can hamper the metabolism of calcium in remineralization of tooth. Lead can precipitate into drinking water after being crystallized in the air, assisted by rain. This exposure is especially worrying to the community which still depends on unfiltered water from the river to fulfill their daily needs. Purpose: This study was proposed to identify Lactobacillus sp. colony in caries-affected children and assess the difference between river water consuming and well-water consuming children. Methods: This was an observational analytics with control group design study using cross sectional approach, performed in SMP Negeri 1 Sungai Pinang Kabupaten Banjar, November-December 2017. The population was 60 students, categorized into two groups (30 students each): river water consuming and well-water consuming groups. The samples’ DMF-T indexes and teeth swab samples were recorded for analysis. The swab samples were then delivered to laboratories to be treated by staining and using Huccer methods to assess the Lactobacillus sp. colony. Results: The results showed that there was a significant difference between colony count of Lactobacillus sp. and DMT-index in both river water consuming and well-water consuming children.  Keywords: caries, DMF-T index, lead, water consumption
UJI EFEKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN KALANGKALA (Litsea angulata) TERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI Porphyromonas gingivalis (In vitro) Nor Rahman Sugiarto; Yusrinie Wasiaturrahmah; Tri Nurrahman; Muhammad Yanuar Ichrom Nahzi; Juliyatin Putri Utami; Bayu Indra Sukmana
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17742

Abstract

ABSTRACTBackground: Dental and oral health has not been a major focus due to the low level of public awareness regarding the importance of maintaining dental and oral health in Indonesia. Periodontitis is a disease with a prevalence of 74.1% in Indonesia. The main cause of chronic periodontitis is the bacterium  Porphyromonas gingivalis. Chlorhexidin  0.2% is gold standard that preventing periodontitis. However Chlorhexidin  0.2% has long-term side effects such as tooth discolouration. Therefore, an alternative mouthwash that has antibacterial properties is needed. Kalangkala leaf (Litsea angulata) is known to have the potential to inhibit the growth of  Porphyromonas gingivalis bacteria. Objective: To determine the antibacterial effectiveness of kalangkala (Litsea angulata) leaf extract against  Porphyromonas gingivalis bacteria with concentrations of 6.25%, 12.5%, 25%, and 50% based on the minimum inhibitory Concentration (MIC) and minimum bactericidal Concentration(MBC). Methods: True experimental research with posttest-only with control group design. The sample consisted of 6 groups with Chlorhexidin 0.2% as positive control and distilled water as negative control with 4 samples each. Data were analysed using normality, homogeneity, Krusskall wallis, and Mann-whitney tests. Results: From the test results, there was no minimum inhibition 6.25%, 12.5%, 25%, and 50%. The testing was not pursued for MBC. Conclusion: There is no antibacterial effectiveness of kalangkala (Litsea angulata) leaf extract against Porphyromonas gingivalis.Keywords: antibacteria, leaf extract, litsea angulata,  porphyromonas gingivalis ABSTRAK Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut belum menjadi fokus utama karena tingkat kesadaran masyarakat yang rendah terkait pentingnya merawat kesehatan gigi dan mulut di Indonesia Periodontitis merupakan penyakit dengan prevalensi 74,1% di Indonesia. Penyebab utama periodontitis kronis yaitu bakteri Porphyromonas gingivalis. Chlorhexidin 0,2% merupakan gold standard dalam mencegah terjadinya periodontitis, tetapi Chlorhexidin  0,2% memiliki efek samping jangka panjang seperti perubahan warna pada gigi. Untuk mencegah terjadinya efek jangka panjang tersebut perlu obat kumur alternatif yang memiliki sifat antibakteri. Daun kalangkala (Litsea angulata) diketahui memiliki potensi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Tujuan: Mengetahui efektivitas antibakteri ekstrak daun kalangkala (Litsea angulata) terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis dengan konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50% berdasarkan Kadar hambat minimum (KHM) dan kadar bunuh minimum (KBM) Metode: Penelitian eksperimen murni (True Experimental) dengan rancangan percobaan menggunakan posttest-only with control group design. Sampel terdiri dari 6 kelompok dengan Chlorhexidin 0,2% sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif dengan pengulangan masing-masing sebanyak 4 sampel. Data dianalisis dengan uji normalitas, homogenitas, Krusskall wallis, dan uji Mann-whitney. Hasil: Hasil uji tidak terdapat KHM pada semua konsentrasi ekstrak kalangkala yaitu konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50%, sehingga tidak dilanjutkan untuk pengujian KBM. Kesimpulan: Tidak terdapat efektifitas antibakteri ekstrak daun kalangkala (Litsea angulata) konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, dan 50% terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis.Kata Kunci: antibakteri, ekstrak daun, litsea angulata porphyromonas gingivalis
HUBUNGAN ANTARA GOLONGAN DARAH ABO DENGAN POLASIDIK BIBIR SEBAGAI IDENTIFIKASI FORENSIK PADA ETNIS BANJAR (Tinjauan Mahasiswa/i FKG ULM) Bulqis Az Zahra; Bayu Indra Sukmana; Norlaila Sarifah; Irnamanda D.H; Huldani Huldani
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16558

Abstract

Latar Belakang: Metode dalam penanganan tindak kriminalitas perlu di tingkatkan untuk memudahkanidentifikasi terhadap pelaku maupun korban. Noda-noda seperti noda darah dan bekas lipstik di TKPdapat digunakan sebagai barang bukti yang akurat. Pemeriksaan pola sidik bibir berdasarkan golongan darah dapat menjadi suatu media untuk menentukan identitas seseorang secara akurat. Tujuan: Menganalisis hubunganantara golongan darah ABO dengan pola sidik bibir sebagai identifikasi forensik pada etnis Banjar. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sidik bibir diklasifikasi berdasarkan Suzuki dan Tsuchihashi kemudian dikelompokkan sesuai golongan darahsampel. Hasil: Hasil dari analisa data uji korelasi koefisien kontingensi menunjukkan p value 0.033 <0.05yangberarti antar variabel memiliki hubungan signifikan. Nilai korelasi 0.499 bermakna kekuatan antar variabel cukup kuat. Kesimpulan: Golongan darah ABO dan pola sidik bibir pada etnis Banjar memiliki hubunganyangcukup kuat.Kata kunci : golongan darah ABO, pola sidik bibir, identifikasi forensik, etnis Banjar