cover
Contact Name
Euis Reni Yuslianti
Contact Email
ery.unjani@yahoo.co.id
Phone
+6282116560248
Journal Mail Official
medikakartika@unjani.ac.id
Editorial Address
Jalan Terusan Jend.Sudirman PO BOX 148 Cimahi
Location
Kota cimahi,
Jawa barat
INDONESIA
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 26139332     EISSN : 26556537     DOI : http://dx.doi.org/10.35990/mk
Core Subject : Health,
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan adalah jurnal yang mempublikasikan artikel hasil penelitian baik ilmu kedokteran dasar maupun terapan, tinjauan pustaka (artikel review), dan laporan kasus. Medika Kartika dipublikasikan dua kali dalam setahun (April dan Oktober) dengan jumlah enam artikel.
Articles 271 Documents
EFEK COVID-19 TERHADAP LARING Mangape, Hiro Salomo; Sihotang, Sharon Kolose; Sanjaya, Ardo; Gunadi, Julia Windi; Edwin, Christian
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) merupakan virus yang memiliki selubung single stranded Ribonucleic Acid (ss-RNA) yang menjadi penyebab penyakit Corona Virus Disease 2019 (COVID-19). Laring merupakan perbatasan saluran pernapasan dan saluran pencernaan sehingga mudah terkena infeksi COVID-19. Gangguan pada laring juga dapat terjadi akibat tindakan intubasi atau trakeostomi pada kasus COVID-19 derajat berat. Tujuan tinjauan pustaka ini adalah mempelajari mekanisme terjadinya infeksi COVID-19 pada laring baik infeksi secara langsung maupun akibat tindakan intubasi atau trakeostomi. Pencarian dilakukan melalui PubMed dan google scholar dengan kata kunci “COVID-19”, “laring”, “intubasi”, dan “komplikasi pada laring”. Hasil tinjauan Pustaka menunjukkan bahwa laring memiliki reseptor terhadap trans-membrane protease serine 2 (TMPRSS2) dan angiotensin converting enzyme 2 (ACE2). Infeksi laring terjadi ketika ACE2 berikatan pada permukaan luminal epitel saluran napas sehingga dapat menyebabkan gejala edema laring, sesak napas, stridor, dan disfonia. Penatalaksanaan pada kasus laring disesuaikan dengan etiologi dan manifestasi yang dihasilkan. Kesimpulan yang dapat diambil adalah kasus COVID-19 memang jarang bermanifestasi pada laring, namun komplikasi pada laring dan setelah penggunaan post-intubasi sangat mungkin terjadi. Oleh karena itu, komplikasi COVID-19 terhadap laring tetap harus dipantau. Kata kunci : ACE2, COVID-19, laring, TMPRSS2 DOI : 10.35990/mk.v7n1.p101-111
KARAKTERISTIK HIPOSPADIA DI BAGIAN BEDAH ANAK RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG Rachmawati, Dinta; Ismael, Chaerul; Ayukarningsih, Yoke
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 2 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Hipospadia merupakan kelainan kongenital saluran kemih yang disebabkan meatus uretra eksterna tidak terletak pada ujung penis, namun berada pada permukaan ventral penis. Tipe hipospadia berdasarkan letak meatus uretra eksterna yaitu letak anterior 50%, medial 20%, dan posterior 30%. Secara umum hipospadia terjadi satu dari 250 kelahiran bayi laki-laki, dan kejadiannya dapat terus meningkat. Pasien hipospadia posterior sering diikuti oleh chordee. Hipospadia hanya dapat dikoreksi dengan tindakan operasi, secara umum dapat dilakukan dengan satu kali operasi, namun pada beberapa kasus operasi harus dilakukan lebih dari satu kali. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif pada 64 rekam medik di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung tahun 2012-2014. Hasil Penelitian menunjukkan dari 64 pasien, 98,4% pasien hipospadia dibawa ke rumah sakit usia >18 bulan, kasus hipospadia terbanyak ditemukan adalah hipospadia posterior 49,0%. Chordee ditemukan pada 71,9% kasus, dan 78,1% kasus hanya dilakukan satu kali tindakan operasi. Kesimpulan penelitian ini yaitu dari 64 kasus hipospadia yang ditemukan, didapatkan hipospadia terbanyak adalah hipospadia posterior, pasien dilakukan pemeriksaan pada usia >18 bulan, dan banyak kasus hipospadia disertai chordee, serta dapat dikoreksi dengan satu kali operasi. Berdasarkan penelitian ini banyak pasien hipospadia terlambat dilakukan pemeriksaan. Keterlambatan dapat disebabkan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai hipospadia. Skrining hipospadia pada bayi baru lahir diharapkan dapat menjaring kasus hipospadia lebih dini sehingga dapat dilakukan penanganan lebih awal dan dapat mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi, terutama komplikasi psikologis. Kata kunci: chordee, hipospadia, operasi, tipe DOI : 10.35990/mk.v7n2.p156-166
HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT DIABETES MELITUS DENGAN KEJADIAN KATARAK DI RS PANTI RAHAYU “YAKKUM” PURWODADI Maswa, Ulfi Khasana; Martiningsih, Wahju Ratna; Novitasari, Andra
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 2 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak faktor risiko yang dapat memengaruhi terjadinya katarak, yaitu proses penuaan, akibat bahan toksik khusus dan penyakit sistemik seperti diabetes melitus (DM). Penelitian tahun 2012 di RS Soedarso Pontianak, menunjukkan bahwa sebanyak 54% pasien katarak memiliki riwayat DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara riwayat diabetes melitus dengan kejadian katarak pada pasien di Rumah Sakit (RS) Panti Rahayu “Yakkum” Purwodadi. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan case control. Kelompok kasus adalah pasien katarak (Katarak DM dan katarak tanpa DM) dan kelompok kontrol adalah pasien miopia (Miopia DM dan miopia tanpa DM), pemilihan sampel dengan teknik consecutive sampling sesuai kriteria inklusi yaitu responden yang berobat pada periode tahun 2020, menggunakan rekam medik yang berisi informasi usia, jenis kelamin, dan ada tidaknya riwayat DM pada pasien katarak tersebut di RS Panti Rahayu “Yakkum” Purwodadi. Penelitian ini dilakukan pada Desember 2021. Uji statistik menggunakan Chi-Square untuk analisis bivariat. Jumlah responden yang memenuhi kriteria inklusi sejumlah 72 orang masing-masing kelompok. Didapatkan jumlah pasien katarak lebih banyak berusia ≥50 tahun (88,9%), dan berjenis kelamin perempuan (62,5%), dan kelompok kasus yang memiliki riwayat DM 83,3% (60 orang) dan kelompok kontrol yang memiliki riwayat DM hanya 6,9% (5 orang). Hasil analisis diketahui p=0,000 dan OR=67,000 terdapat hubungan yang signifikan antara riwayat DM dengan kejadian katarak. Riwayat DM memiliki hubungan paling kuat dengan kejadian katarak Kata kunci : katarak, miopia, riwayat diabetes melitus DOI : 10.35990/mk.v7n2.p188-197
PREVALENSI DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NEUROPATI DIABETIK PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD WALED Widianti, Widianti; Zamzam Zein, Ahmad Fariz Malvi; Kusnandang, Agus
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Neuropati diabetik merupakan salah satu komplikasi yang umum ditemukan pada praktik klinis sehari-hari. Faktor risiko neuropati diabetik bersifat multifaktorial. Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui prevalensi dan menganalisis faktor yang memengaruhi neuropati diabetik pada pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Waled. Penelitian dengan desain potong lintang ini berlangsung selama Juli 2023 di RSUD Waled, Cirebon, Indonesia. Subjek pada penelitian ini adalah pasien dengan diabetes melitus tipe 2 yang berobat di Poli klinik Penyakit Dalam. Jumlah subjek sebanyak 100 orang dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Neuropati diabetik ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan uji monofilamen. Data penelitian menggunakan data primer dan data sekunder. Uji Analisis bivariat menggunakan uji chi-square dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Prevalensi neuropati diabetik sebanyak 74%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa lama menderita DM memiliki hubungan yang signifikan dengan neuropati diabetik dengan nilai p value 0,009 (p<0,05), status kontrol memiliki hubungan yang signifikan dengan neuropati diabetik dengan nilai p value 0,001 (p<0,05), dan hipertensi memiliki hubungan yang signifikan dengan neuropati diabetik dengan nilai p value 0,022 (p<0,05). Analisis multivariat menunjukkan faktor risiko yang paling berpengaruh terhadap neuropati diabetik adalah lama DM (OR 4,00; IK95% 1,396-11,486), status kontrol (OR 3,85; IK95% 1,396-10,661), dan hipertensi (OR 3,57; IK95% 1,082-11,784) secara berturut-turut. Sebanyak 74% pasien DM di RSUD Waled mengalami neuropati diabetik. Terdapat hubungan yang signifikan antara lama DM, status kontrol, dan hipertensi terhadap neuropati diabetik. Faktor yang paling berpengaruh adalah lama DM, status kontrol gula darah, dan hipertensi. Kata kunci : diabetes melitus, hipertensi, lama DM, neuropati diabetik, status kontrol DOI : 10.35990/mk.v7n3.p273-284
THE CORRELATION FUNCTIONAL STATUS AND NUTRITIONAL STATUS IN ELDERLY IN THE WORKING AREA OF MUARA HEMAT PUSKESMAS Paddiansyah, Yoshanda Krisna
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun ke atas. Menua merupakan proses perubahan fisiologis yang berpengaruh terhadap penampilan fisik, fungsi dan responnya serta nutrisi seseorang. Dalam Comprehensive Geriatric Assessment terdapat status fungsional yang menilai kemampuan aktivitas hidup sehari-hari yang mungkin berhubungan dengan status nutrisi pada lanjut usia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada hubungan antara status fungsional dan status nutrisi pada lanjut usia di wilayah kerja Puskesmas Muara Hemat. Metode pada penelitian ini adalah menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional menggunakan data primer dari kuesioner Mini Nutritional Assessment (MNA) dan Barthel Index. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik total sampling di wilayah kerja Puskesmas Muara Hemat dari 2 Januari 2023 sampai dengan 12 Januari 2023. Data dikumpulkan, diolah dan diuji menggunakan Korelasi Spearman. Hasil penelitian ini Dari 103 responden terdapat 50 (48,5%) laki-laki dan 53 (51,5%) perempuan. Hasil MNA menunjukkan terdapat 41 (39,8%) orang status gizi normal, 39 (37,9%) orang Berisiko malnutrisi, dan 23 (22,3%) orang Malnutrisi sedangkan hasil Barthel Index didapatkan 8 (7,8%) orang dengan ketergantungan total, 17 (16,5%) ketergantungan berat, 19 (18,4%) ketergantungan sedang, 33 (32,0%) ketergantungan ringan, dan 26 (25,2%) yang mandiri. Hasil uji didapatkan p value 0,000 (<0,05) dengan koefisien korelasi 0,876, artinya ada hubungan yang kuat antar variabel. Kesimpulan. ada hubungan yang kuat antara Status Nutrisi dan Status Fungsional pada lanjut usia di Puskesmas Muara Hemat. Diharapkan lansia di puskesmas muara hemat dapat meningkatkan status nutrisi dan status fungsional. Kata Kunci: lanjut usia,status fungsional, status nutrisi DOI : 10.35990/mk.v7n3.p231-241
EFEK STUNTING TERHADAP KADAR GLUTATION SEBAGAI PENANDA STRES OKSIDATIF PADA ANAK Rahmanita, Hania Asmarani; Gunarti, Dwirini Retno; Andayani, Diyah Eka
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting merupakan masalah kesehatan yang dikenal luas dan merupakan masalah malnutrisi yang paling umum terjadi di dunia. Pada tahun 2022, ada sekitar 148 juta atau 22,3% anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia mengalami stunting. Kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. pada anak stunting dapat menyebabkan kondisi stres oksidatif, yaitu suatu fenomena yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara prooksidan dan antioksidan yang terjadi di dalam sel tubuh. Glutation (GSH) merupakan antioksidan endogen non enzimatik dengan jumlah terbesar di dalam tubuh yang merupakan tripeptida, terdiri dari glutamat, sistein, dan glisin. Pada anak-anak terutama balita, kadar GSH sangat dipengaruhi oleh faktor nutrisi sehingga kondisi stunting dapat menyebabkan perubahan kadar GSH. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk menjelaskan efek dari stunting terhadap salah satu penanda stres oksidatif yaitu antioksidan glutation (GSH) pada anak. Hasil dari penelusuran menunjukkan bahwa terdapat perubahan kadar GSH pada anak stunting yang berkaitan dengan perubahan fungsi tubuh dalam jangka pendek maupun jangka panjang yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Kata kunci : antioksidan, glutation, GSH, stres oksidatif, stunting DOI : 10.35990/mk.v7n3.p273-284
ANALISIS POLA KONSUMSI KOPI TERHADAP INDEKS MASSA TUBUH DAN LINGKAR PERUT PETANI DESA JENGGAWAH KABUPATEN JEMBER Pratikno, Dela Putri; Sutejo, Ika Rahmawati; Adji, Novan Krisno
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obesitas sebagai salah satu faktor risiko penyakit tidak menular memiliki angka kejadian tinggi di Indonesia. Salah satu populasi yang dapat mengalami obesitas adalah petani. Sekalipun petani memiliki aktivitas fisik tinggi dan identik dengan pola makan sehat, ternyata angka kejadian obesitas pada petani meningkat beberapa tahun terakhir. Hal ini dikarenakan mekanisasi pekerjaan dan mudahnya akses konsumsi makanan maupun minuman. Salah satu minuman yang dikonsumsi petani adalah kopi. Kopi memiliki efek antiobesitas karena kandungan zat bioaktifnya berperan dalam metabolisme lipid. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain studi cross sectional untuk mengetahui hubungan konsumsi kopi dengan ukuran indeks massa tubuh (IMT) dan lingkar perut pada petani Desa Jenggawah Kabupaten Jember. Sebanyak 113 petani yang memenuhi kriteria penelitian melalui proses purposive sampling dilakukan pengukuran dan diwawancarai. Karakteristik konsumsi kopi yang diteliti adalah jenis, frekuensi minum, dan tambahan gula pada kopi dengan variabel terikat IMT serta lingkar perut. Uji bivariat Spearman dan koefisien kontingensi menunjukkan variabel frekuensi kopi berhubungan signifikan terhadap lingkar perut (p=0,043) dengan kekuatan hubungan lemah dan arah hubungan negatif (rho=(-0,069)). Sedangkan jenis kelamin berhubungan signifikan terhadap lingkar perut (p=0,00) dengan kekuatan hubungan sedang dan arah positif (rho=0,411). Kata kunci: IMT, kopi, lingkar perut, obesitas, petani DOI : 10.35990/mk.v7n3.p231-241
GAMBARAN FOTO POLOS THORAKS PADA BERBAGAI DEFEK PENYAKIT JANTUNG KONGENITAL: SEBUAH TELAAH PUSTAKA Saputra, Rudi; Riastiti, Yudanti
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit jantung kongenital (PJK) menjadi penyebab utama kematian anak akibat kelainan bawaan. PJK terjadi sekitar 8-10 per 1000 kelahiran hidup dan 30% di antaranya telah memberikan gejala pada minggu-minggu pertama kehidupan. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui gambaran foto polos thoraks pada penyakit jantung kongenital. Di Indonesia, empat bayi lahir dengan PJK setiap jamnya. PJK dapat diklasifikasikan menjadi PJK sianotik dan PJK nonsianotik (asianotik). Perbedaan utamanya terletak pada ada atau tidak adanya sianosis sentral. Penyebab PJK pada bayi masih banyak tidak diketahui, tetapi PJK terjadi akibat adanya kesalahan saat embriogenesis. Pemeriksaan radiologis sangat penting dalam penegakkan diagnosis PJK karena dapat memperlihatkan kelainan pada jantung. Foto polos dapat digunakan untuk skrining awal, karena memiliki sentivitas 90,9%, namun spesifisitasnya sangat rendah, yakni 9,9%. Oleh karena kurang spesifik, sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut menggunakan CT scan, MRI, ataupun ekokardiografi. Kata kunci : asianotik, foto polos thoraks, PJK, sianotik DOI : 10.35990/mk.v7n3.p307-318
HUBUNGAN ANTARA KOMORBID HIPERTENSI DENGAN LAMA PERAWATAN PASIEN COVID-19 DI RUMAH SAKIT Ramadhina, Azzahra Putri; Samara, Tjam Diana
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pasien dengan komorbid hipertensi yang terinfeksi COVID-19, memiliki hubungan dengan perjalanan penyakit, perawatan ICU, kebutuhan rawat inap, dan penggunaan oksigen lebih lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dengan lama perawatan COVID-19 di RS Pertamina Jaya, Jakarta Pusat. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Sampel penelitian berupa data sekunder berdasarkan rekam medik sebanyak 123 sampel diambil dari periode Januari 2020 hingga Desember 2021 secara consecutive sampling. Data yang diambil adalah usia, jenis kelamin, tekanan darah, dan lama perawatan pasien COVID-19 selama dirawat di rumah sakit (RS). Tekanan darah dikelompokkan menjadi hipertensi dan non hipertensi. Lama perawatan di RS dikelompokkan menjadi normal (<13 hari) dan lama (≥13 hari). Didapatkan frekuensi lansia awal (25,2%), dewasa akhir (24,4%) dan jenis kelamin laki-laki (57,7%) merupakan kelompok yang paling banyak terkena COVID-19. Secara data klinis ditemukan pasien tanpa hipertensi yang terinfeksi COVID-19 sebanyak 50,4%, pasien dengan hipertensi yang terinfeksi COVID-19 sebanyak 49,6%. Pasien yang dirawat di RS selama ≥13 hari sebanyak 52%, <13 hari sebanyak 48%. Berdasarkan hasil uji Chi-Square antara komorbid hipertensi dengan lama perawatan di RS didapatkan nilai p sebesar 0,00 (p<0,5). Hasil ini menunjukkan terdapat hubungan antara hipertensi dengan lama perawatan COVID-19 di RS. Simpulan dari penelitian ini adalah pasien dengan komorbid hipertensi yang terkena infeksi COVID-19 memiliki hubungan dengan lama perawatan di RS. Kata kunci : COVID-19, hipertensi, komorbid, lama perawatan, rumah sakit DOI : 10.35990/mk.v7n3.p263-272
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2: SEBUAH KAJIAN SISTEMATIS Tanjaya, Hendri; Wiraharja, Regina Satya; Pramono, Laurentius Aswin; Venna, Venna
Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Achmad Yani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 (DM2) merupakan penyakit kronik dengan mortalitas yang tinggi dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Anemia merupakan salah satu komplikasi yang paling sering terjadi pada DM2. Beberapa penelitian sudah menggali mengenai faktor-faktor tersebut, tetapi sepengetahuan penulis penelitian-penelitian tersebut masih mendapatkan hasil yang bertentangan dan masih sedikit yang dilakukan di Indonesia. Kajian sistematis ini bertujuan untuk mengetahui factor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada pasien DM2. Kepustakaan pada kajian sistematis ini ditelusuri melalui database berupa Google scholar dan Pubmed dengan kata kunci “diabetes melitus tipe 2”, “faktor risiko” dan “anemia”. Hasil pencarian kepustakaan mendapatkan 977 kepustakaan dengan 9 kepustakaan yang membahas mengenai faktor risiko kejadian anemia pada DM2. Kajian sistematis ini menemukan bahwa usia, jenis kelamin, indeks massa tubuh, durasi penyakit, jenis pengobatan, kadar HbA1c, dan tekanan darah merupakan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kejadian anemia pada DM2. Oleh karena itu, penting untuk memasukkan skrining anemia ke dalam penilaian rutin komplikasi terkait DM yang menargetkan jenis kelamin perempuan, usia yang lebih tua, indeks massa tubuh overweight, kontrol glikemik yang buruk, tekanan darah yang tinggi, dan durasi penyakit diabetes yang lama. Kata kunci: anemia, diabetes melitus tipe 2, faktor risiko DOI : 10.35990/mk.v7n3.p319-330

Filter by Year

2017 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8 No 4 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 3 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 2 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8 No 1 (2025): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 4 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 3 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 2 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7 No 1 (2024): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan (Edisi PIT FK Unjani 2024) Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan (Edisi PIT FK Unjani) Vol 6 No 4 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 3 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 2 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6 No 1 (2023): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 4 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 3 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 2 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5 No 1 (2022): Medika Kartika : Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol 4 No 5 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 4 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 3 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 2 (2021): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2020): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3 No 2 (2020): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 3 No 1 (2019): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2018): Medika Kartika Edisi PIT 10 Kedokteran Gigi Vol 2 No 1 (2018): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2 No 1 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 2 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 2 (2018): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan 2018 Vol 1 No 1 (2017): Medika Kartika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan More Issue