cover
Contact Name
Baiq Lily Handayani
Contact Email
baiq.fisip@unej.ac.id
Phone
+6281237134801
Journal Mail Official
Entitas@unej.ac.id
Editorial Address
Jl. Kalimantan 37 Kampus Tegalboto Jember 68121
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Entitas Sosiologi
Published by Universitas Jember
ISSN : 20888260     EISSN : 27213323     DOI : https://doi.org/10.19184/jes
Jurnal Entitas Sosiologi (JES) merupakan ruang bagi diseminasi gagasan dalam lingkup kajian Sosiologi. Jurnal ini juga memberi ruang pada berbagai perspektif dalam sosiologi khususnya dalam mengembangkan ide-ide yang dapat mendorong transformasi masyarakat menuju masyarakat yang manju dan berkelanjutan. Jurnal Entitas Sosiologi (JES) menerima artikel berupa hasil riset, kajian, dan review buku yang mendukung penyebaran gagasan dan pengkayaan pengetahuan berbasis sosiologi.
Articles 117 Documents
Wajah Baru Jalan Tunjungan Surabaya: Evolusi Ruang Publik Menjadi Destinasi Wisata Generasi Z Marpaung, Tacsiya Kristina Rodearna; Sudrajat, Arief
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 2 (2024): Community Dynamics and Social Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i2.48555

Abstract

Penelitian ini mengkaji pergeseran ruang publik di Jalan Tunjungan, Surabaya, dan dampaknya terhadap perilaku berwisata Generasi Z. Transformasi Jalan Tunjungan dari pusat perdagangan tradisional menjadi area multifungsi dengan fasilitas modern mencerminkan kemampuan kota beradaptasi dengan perubahan zaman. Generasi Z tertarik pada Jalan Tunjungan karena perpaduan budaya, kreativitas, dan gaya hidup modern yang ditawarkan, termasuk kafe, galeri seni, dan spot Instagramable. Mereka memanfaatkan ruang ini untuk mengekspresikan diri, berinteraksi, dan berbagi pengalaman, yang menunjukkan perubahan dalam persepsi dan penggunaan ruang tersebut. Perubahan ini mempengaruhi perilaku perjalanan Generasi Z, yang kini lebih memilih destinasi dengan pengalaman beragam dan dukungan untuk aktivitas digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam, serta menerapkan teori Mobilitas dari John Urry (2007) untuk menganalisis dinamika interaksi sosial dan mobilitas di ruang publik. Hasilnya menunjukkan bahwa transformasi Jalan Tunjungan menciptakan lingkungan inklusif dan berkelanjutan, memenuhi kebutuhan generasi muda tanpa menghilangkan warisan budaya kota. Modernisasi ruang publik di Surabaya, seperti taman kota dan kawasan pejalan kaki, terbukti tidak hanya menarik minat Generasi Z, tetapi juga mengubah cara mereka berinteraksi dengan dan menikmati lingkungan sekitar.Kata Kunci: Jalan Tunjungan, Transformasi Ruang Publik, Perilaku Berwisata, Generasi Z, Surabaya AbstractThis study examines the transformation of public space on Jalan Tunjungan in Surabaya and its impact on the tourism behavior of Generation Z. The shift of Jalan Tunjungan from a traditional commercial center to a multifunctional area with modern amenities reflects the city’s ability to adapt to changing times. For Generation Z, Jalan Tunjungan is appealing due to its blend of culture, creativity, and modern lifestyle as evidenced in its cafes, art galleries, and Instagrammable spots. They use these spaces to express themselves, interact, and share This. Illustrates a shift in how these spaces are perceived and utilized. This transformation significantly influences Generation Z’s travel behavior as they chose destinations offering diverse experiences and supporting their digital activities. The study employs a descriptive qualitative method supported by in-depth interviews and applies John Urry’s theory of Mobilities (2007) to analyze social interaction dynamics and mobility in public spaces. The findings reveal that the transformation of Jalan Tunjungan creates an inclusive and sustainable environment that meets the needs of the younger generation while preserving the city’s cultural heritage. The modernization of public spaces in Surabaya, such as parks and pedestrian areas, does not only attract Generation Z but also change how they interact with and enjoy their surroundings.Keywords: Jalan Tunjungan, Public Space Transformation, Tourist behavior, Generation Z, Surabaya
Dramaturgi Aktor pada Konflik Pertambangan Poboya Kota Palu Nutfa, Moh; Ferianto, Fiki; Samaraji, Renaldi; Asis, Deasy Fitria Maharani; Tasya, Ana; Suriansah, Suriansah
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 1 (2024): Social Relation and Change
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i1.43424

Abstract

Umumnya konflik perebutan kawasan tambang emas memiliki kaitan erat dengan peranan aktor-aktor yang multi kepentingan sehingga pola-pola konflik seringkali terpelihara dalam waktu yang lama dan berlangsung secara dramaturgi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relasi dramaturgis antar aktor di kawasan pertambangan Poboyo Kota Palu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Penggalian data dilakukan melalui pengamatan, wawancara, FGD dan studi dokumen. Wawancara dilakukan pada 6 informan subjek penelitian dipilih secara purposive, terdiri dari tokoh adat, pemerintah kelurahan, tokoh pemuda, aktivis lingkungan dan 11 informan terlibat dalam FGD. Data dianalisis secara interpretatif dan keabsahan data didapatkan melalui teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik perebutan kawasan pertambangan emas Poboya bersumber dari: (1) tuntutan keadilan oleh penambang ilegal; (2) kekecewaan terhadap perpanjangan kontrak karya perusahaan (PT. CPM); dan (3) adanya klaim-klaim atas kawasan pertambangan. Konflik bersifat dramaturgis yang dilandasi multi kepentingan antar aktor yaitu kepentingan penguasaan sumber daya, perebutan posisi serta pragmatisme. Aktor-aktor tersebut antara lain kelompok penambang ilegal, aparat keamanan, elit politik lokal, pemerintah kota, lembaga adat dan kelompok asosiasi penambang. Kebaruan penelitian ini bahwa relasi antar aktor dalam konflik di kawasan pertambangan bersifat dramaturgis dan sengaja dipelihara. Kata Kunci: Perebutan Sumberdaya, Tambang Emas, Poboya, Dramaturgi, Aktor Konflik Abstract Generally, conflicts over gold mining areas are closely related to the role of multi-interest actors, so that conflict patterns are often maintained for a long time and take place in a dramaturgical manner. This research aims to analyze the dramaturgical relations between actors in the Poboyo mining area of Palu City. This study used a descriptive, qualitative approach. Data were collected through observations, interviews, FGDs, and documentation studies. Interviews were conducted with 6 informants of research subjects who were selected purposively, consisting of traditional leaders, village government, youth leaders, environmental activists and 11 informants involved in FGDs. Data were analyzed interpretatively and data validity was obtained through triangulation techniques. The results showed that the conflicts over the Poboya gold mining area originated from: (1) demands for justice by illegal miners, (2) disappointment with the extension of the company's contract of work (PT. CPM); and (3) claims in the mining area. The conflict is dramaturgical in nature, based on multiple interests between actors, namely, the interests of controlling resources, jockeying for position, and pragmatism. These actors include illegal mining groups, security forces, local political elites, city governments, customary institutions, and miner association groups. The novelty of this research is that the relationships between actors in conflicts in mining areas are dramaturgical and deliberately maintained Keywords: Actor Relations, Conflict, Gold Mine, Poboya
Strategi Penguatan Kapasitas Siswa Sekolah Dasar untuk Kesiapsiagaan Bencana oleh Lembaga Swadaya Masyarakat JEMARI Sakato Putra, Ikhsan Muharma; Irianti, Novi; Akbar, Waza Karya
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 1 (2024): Social Relation and Change
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i1.46083

Abstract

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) merupakan organisasi masyarakat di luar pemerintah yang bersifat sukarela dan untuk membantu kinerja pemerintah dan ikut mengawasi jalannya pemerintahan. LSM JEMARI Sakato memiliki kompetensi riset aksi, advokasi, monitoring dan evaluasi serta pengembangan metode fasilitasi efektif, interaktif, partisipatif. Tulisan ini berupaya mendeskripsikan strategi LSM JEMARI Sakato dalam penguatan kapasitas siswa sekolah dasar untuk kesiapsiagaan bencana melalui program Sekolah Cerdas Bencana (SCB) dengan pendekatan pembelajaran orang dewasa (andragogi). Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam dengan teknik pemilihan informan purposive sampling. Wawancara mendalam dilakukan kepada 8 orang (3 laki-laki dan 5 Perempuan) Informan. Selain wawancara, data pendukung juga bersumber dari dokumen dan observasi lapangan di LSM JEMARI Sakato. Penelitian ini mengungkap bahwa LSM JEMARI Sakato melaksanakan Program SCB dengan strategi pembelajaran orang dewasa (andragogi). Pada pelaksanaan Program SCB selalu menyesuaikan jadwal pertemuan yang disepakati bersama, mendesain metode pembelajaran orang dewasa untuk anak-anak sekolah dasar sehingga menciptakan hubungan kepercayaan dan tanggungjawab bersama, serta solidaritas. Penguatan kapasitas siswa sekolah dengan strategi ini berhasil meningkatan kapasitas siswa, tidak hanya pada tataran pengetahuan namun terjadi peningkatan pada sikap dan perilaku kesiapsiagaan bencana. Kata Kunci: Andragogi , Siswa Sekolah Dasar, Kesiapsiagaan, Bencana, Lembaga Swadaya Masyarakat, Abstract Non-governmental organizations (NGOs) are voluntary community organizations that assist the government and oversee their performance. JEMARI Sakato has competencies in action research, advocacy, monitoring, and evaluation, and the development of effective, interactive, participatory facilitation methods. This paper describes Sakato's strategy of strengthening the capacity of primary school students for disaster preparedness through the Sekolah Cerdas Bencana (SCB) program using an adult learning approach (andragogy). The method used in this study was a descriptive qualitative method. Data were collected through in-depth interviews using purposive sampling. In-depth interviews were conducted with eight informants (three male and five female). In addition to interviews, supporting data were sourced from documents and field observations at the JEMARI Sakato NGO. This research reveals that JEMARI Sakato NGO implements the SCB program with an adult learning strategy (andragogy). The implementation of the SCB Programme always adapts to a mutually agreed meeting schedule, designing adult learning methods for primary school children to create relationships of trust, shared responsibility, and solidarity. Strengthening the capacity of school students with this strategy succeeded in increasing the capacity of students, not only at the level of knowledge, but also in the attitude toward and behavior of disaster preparedness. Keywords : Andragogi, Elementary School Students. Preparedness, Disasters, Non-Governmental Organizations.
Kejutan Budaya pada Masyarakat Perbatasan: Studi Tentang Dampak Pembangunan Border Development Center di Dusun Aruk, Kabupaten Sambas Akbar, Muhammad Fadhly; Rifaldi, Rizki; Maharani, Nur Holifah Ihtisya; Ulhaq, Hafidz Asyqor Dhiya; Agustin, Nelly; Pujiati, Ayu; Aidil, Muhammad
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 2 (2024): Community Dynamics and Social Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i2.47019

Abstract

Pembangunan Border Development Center (BDC) diharapkan membawa perubahan signifikan dalam infrastruktur, ekonomi, dan sosial pada masyarakat di perbatasan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perubahan tersebut mempengaruhi masyarakat lokal, terutama dalam aspek budaya dan sosial. Penelitian dilaksanakan di Dusun Aruk, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, yang terletak di perbatasan Indonesia-Malaysia, menggunakan desain kualitatif dengan Teori Culture Shock dari Samovar (2010). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan observasi, dan data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat lokal mengalami kejutan budaya dalam beberapa fase antara lain, Fase Bulan Madu dimana masyarakat merasa gembira dan mengalami kesejahteraan ekonomi berkat adanya PLBN (Pos Lintas Batas Negara). Fase pesakitan, pada fase ini kemudahan awal digantikan oleh kesulitan, terlihat dari hilangnya pasar tradisional di titik nol perbatasan, kesulitan dalam menjual hasil pertanian ke Malaysia, peraturan karantina untuk hewan sebelum masuk ke Malaysia, dan perubahan gaya hidup remaja yang mulai mengonsumsi minuman keras seperti tequila. Fase adaptasi dimana masyarakat mulai beradaptasi dengan perubahan, ditandai dengan adanya pasar kaget yang menggantikan pasar tradisional. Terakhir, fase penyesuaian diri. Penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana masyarakat lokal menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan besar akibat pembangunan BDC dan guncangan budaya yang mereka alami.Kata Kunci: Kejutan budaya, Masyarakat Perbatasan, Pembangunan BDC, Teori Culture Shock Samovar AbstractThe development of the Border Development Center (BDC) is expected to bring significant changes to the infrastructure, economy, and social aspects of the border community. This study aims to understand how these changes impact the local population, particularly in terms of cultural and social aspects. The research was conducted in Dusun Aruk, Sambas Regency, West Kalimantan, located on the Indonesia-Malaysia border, using a qualitative design with Samovar's Culture Shock Theory (2010). Data collection was carried out through interviews and observations, and the data was analyzed descriptively. The results of the study indicate that the local community experienced cultural shock in several phases. The Honeymoon Phase, where the community felt joy and economic welfare due to the presence of the Border Crossing Post (PLBN). The Crisis Phase, where initial conveniences were replaced by difficulties, such as the disappearance of the traditional market at the zero border point, challenges in selling agricultural products to Malaysia, quarantine regulations for animals before entering Malaysia, and a change in youth lifestyle, including the consumption of alcoholic beverages like tequila. The Adaptation Phase, where the community began to adjust to the changes, marked by the emergence of a new market that replaced the traditional market. The Adjustment Phase, where the community became accustomed to the changes after a lengthy adaptation period. It provides insights into how the local community faces and adapts to the significant changes brought about by the BDC development and the cultural shock they experience.Keywords: Culture Shock, Border Communities, PLBN and BDC Development, Samovar’s Culture Shock Theory
Menggali Makna Simbolik Angkringan di Ponorogo dalam Perspektif Ekonomi Penjual dan Pembelinya Puspitasari, Indah; Prasetiyo, Luhur
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol 13 No 1 (2024): Social Relation and Change
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v13i1.44542

Abstract

Abstrak Angkringan pada awalnya hanya eksis di Kota Yogyakarta dan Kota Surakarta. Seiring waktu angkringan mulai menyebar ke berbagai kota di seluruh Indonesia termasuk Ponorogo. Angkringan merupakan salah satu bisnis kuliner yang mengalami perkembangan yang cukup signifikan di Ponorogo. Kajian ini menyoroti makna angkringan bagi masyarakat Ponorogo dengan menggunakan teori interaksonisme simbolik. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif data primer didapatkan dari tujuh informan yang dianggap merepresentasikan penjual dan pelanggan angkringan di Ponorogo. Temuan yang didapatkan adalah angkringan bagi masyarakat Ponorogo bukan hanya sebagai tempat makan dengan harga terjangkau/ekonomis, tetapi juga sebagai simbol interaksi sosial dan kebersamaan, egaliter, dan kebebasan. Keuntungan bukan semata-mata yang diutamakan oleh penjual angkringan. Dibuktikan dengan para penjual yang membiarkan para pelanggan duduk berjam-jam di angkringan walau hanya memesan beberapa menu. Penjual mengikhlaskan saja. Harga yang murah bukan semata-mata tujuan para pembeli, karena pada akhirnya secara akumulatif makan di angkringan juga dapat berbiaya sama, bahkan dapat melebihi biaya makan di tempat lain yang terlihat lebih mahal. Meski demikian pelanggan akan tetap ke angkringan, karena simbol yang melekat padanya. Pemilik angkringan dapat memanfaatkan hal ini untuk mengembangkan strategi pemasaran yang lebih efektif dan meningkatkan daya saing mereka di pasar kuliner di Ponorogo. Kata Kunci: Angkringan, Makna Simbolik, Ponorogo, Perspektif Ekonomi Abstract Angkringan initially only existed in the city of Yogyakarta and the city of Surakarta. Over time, Angkringan spread across various cities in Indonesia, including Ponorogo. Angkringan is one of the culinary businesses that has experienced significant development in Ponorogo. This study highlights the meaning of angkringan for the people of Ponorogo, using the theory of symbolic interactionism. Using qualitative research methods, primary data were obtained from seven informants who were considered to represent the sellers and customers of Angkringan in Ponorogo. The findings are that angkringan for the people of Ponorogo is not only an affordable/economical place to eat but also a symbol of social interaction and togetherness, egalitarianism, and freedom. Profit is not solely prioritized by angkringan sellers. This is evidenced by sellers who let customers sit for hours in Angkringan, even though they only order a few menus. Sellers simply let it go. Low prices are not the only goal of buyers, because in the end, accumulatively eating at angkringan can also cost the same, even exceeding the cost of eating in other places that look more expensive. Nevertheless, customers will still go to Angkringan because of the symbols attached to it. Angkringan owners can capitalize on this to develop more effective marketing strategies and increase their competitiveness in the culinary market in Ponorogo. Keywords: Angkringan, Symbolic, Ponorogo, Economy
Pengasuhan Toxic Dalam Keluarga Dengan Keterbatasan Ekonomi Di Desa Wringinputih Kecamatan Muncar: Toxic Parenting In Economically Disadvantaged Families In Wringinputih Village, Muncar District Avida, Neva
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol. 14 No. 1 (2025): Social Dynamics and Community Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v14i1.53360

Abstract

Fenomena pengasuhan toxic semakin sering terjadi dalam keluarga, di mana orang tua kerap melakukan kekerasan fisik maupun psikis terhadap anak, yang berdampak buruk pada perkembangan mereka. Fenomena ini menjadi perhatian serius, sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perlindungan Perempuan dan Anak Korban Kekerasan. Urgensi penelitian ini didasari oleh meningkatnya kasus pengasuhan toxic, seperti yang tercatat oleh DP3AKB Kabupaten Banyuwangi, dengan 80 kasus kekerasan yang berdampak negatif pada perkembangan anak pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua pertanyaan utama: 1) Bagaimana pola pengasuhan toxic dalam empat keluarga di Desa Wringinputih, dan 2) Apa dampak pengasuhan toxic terhadap anak-anak di Kecamatan Muncar. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode fenomenologi, penelitian ini menganalisis fenomena pengasuhan toxic melalui teori konstruksi sosial Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksternalisasi pengasuhan toxic dipengaruhi oleh faktor budaya, peran keluarga besar, serta lingkungan sosial, yang kemudian diinternalisasi oleh orang tua dalam praktik pengasuhan sehari-hari. Di Desa Wringinputih, pengasuhan toxic dipicu oleh dua faktor utama: tuntutan orang tua akan pencapaian akademik anak dan ketidakmampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan materi. Kedua faktor ini mendorong penggunaan kekerasan fisik dalam pengasuhan sebagai cara untuk membentuk anak sesuai harapan orang tua. Kata Kunci: Pengasuhan Toxic, Perlindungan Anak, Kekerasan Terhadap Anak, Konstruksi Sosial
Peran Filantropi Digital Masjid Jogokariyan dalam Mewujudkan Moderasi Beragama: The Role of Digital Philanthropy at Jogokariyan Mosque in Realizing Religious Moderation Rafi, Muhammad
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol. 14 No. 1 (2025): Social Dynamics and Community Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berfokus pada peran Masjid Jogokariyan di Yogyakarta dalam mempromosikan kesejahteraan komunitas melalui berbagai inisiatif filantropi yang inovatif dan berkelanjutan. Meskipun banyak studi telah mengeksplorasi filantropi dalam konteks Islam, masih terdapat kesenjangan dalam pemahaman mengenai bagaimana filantropi Jogokariyan dapat mewujudkan moderasi beragama di era digital? Serta bagaimana cara filantropi Jogokaryan membedakan diri dengan philanthrocapitalism? Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dalam kerangka Network Society (Castells, 2004) dengan lokus di Masjid Jogokariyan. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Masjid Jogokariyan berhasil memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan transparansi, kepercayaan publik, dan jumlah donasi, sehingga memperkuat kohesi sosial dan moderasi beragama. Spirit saldo Rp. 0 merupakan bentuk komitmen pengelola untuk mengosongkan saldo dalam periode tertentu agar donasi dapat sepenuhnya bermanfaat tanpa menimbun atau mengambil donasi tersebut untuk kepentingan organisasi. Studi ini merekomendasikan agar kebijakan filantropi di era digital lebih menekankan pada transparansi dan akuntabilitas, serta mengadopsi pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan. Kata Kunci : Filantropi; Masyarakat Jaringan; Jogokariyan; Moderasi Beragama
Pulau Pasaran Kota Bandar Lampung Pasca Reklamasi Swadaya: Trajektori, Struktur Nafkah Dan Etnisitas: Pasaran Island Bandar Lampung District after Self-Funded Reclamation: Trajectory, Livelihood Structure, and Ethnicity Jessica Vanelia Amanda
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol. 14 No. 1 (2025): Social Dynamics and Community Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v14i1.53686

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika sosial ekologi dan budaya mereklamasi yang terjadi pada masyarakat pesisir Pulau Pasaran, Kota Bandar Lampung. Melalui pendekatan kualitatif analisa naratif, dengan pengumpulan data mencakup wawancara mendalam dengan enam informan kunci dan delapan informan pendukung. Kemudian didukung oleh pengamatan lapangan dan studi literatur. Proses pengumpulan data dihentikan setelah tercapai titik saturasi, yakni ketika tidak ada lagi informasi baru yang muncul, sehingga data yang terkumpul dapat membentuk sebuah cerita yang komprehensif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa reklamasi dilakukan secara swadaya sebagai solusi atas keterbatasan lahan, didorong oleh kebutuhan ekonomi dan identitas sosial berbasis kekerabatan. Namun, tidak adanya regulasi jelas atas status lahan hasil reklamasi menimbulkan ketidakpastian yang berdampak pada hubungan sosial dan akses sumber daya masyarakat setempat. Kata kunci: etnisitas, proses sosial, struktur sosial, Pulau Pasaran
Dinamika Kelembagaan Lokal dan Keberdayaan Kelompok Lumbung Pangan di Desa Tirta Mulya Kecamatan Air Manjunto Kabupaten Mukomuko: The Local Institutional Dynamics and The Capability of Food Barns Group in The Village of Tirta Mulya, Air Manjunto Subdistrict, Mukomuko Regency Widiono, Septri
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol. 14 No. 1 (2025): Social Dynamics and Community Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v14i1.53687

Abstract

Lumbung padi swadaya masyarakat sudah jarang dijumpai. Adanya kelompok yang masih mempertahankan sistem penyimpanan hasil panen secara bersama-sama menarik untuk dikaji. Kajian ini diarahkan untuk mengelaborasi dinamika kelembagaan lumbung pangan di tingkat lokal dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keberdayaan kelompok. Kajian dilakukan pada sebuah kelompok lumbung pangan di Desa Tirta Mulya Kecamatan Air Manjunto Kabupaten Mukomuko. Kajian ini bertumpu pada pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan melakukan wawancara kepada sejumlah informan kunci dan responden sebanyak 40 orang anggota kelompok. Data-data dianalisis secara kualitatif, deskriptif, dan melakukan uji korelasi Rank Spearman. Kajian ini menemukan bahwa kelompok memiliki dinamika yang tinggi dan mendapatkan momentum peningkatan produktivitas kelembagaan setelah adanya dukungan teknis dari pemerintah daerah. Selain itu, hasil uji statistik menunjukkan bahwa sejumlah karakteristik anggota berhubungan dengan tingkat keberdayaan, yaitu luas lahan pertanian dan persepsi terhadap gudang penyimpanan. Aspek-aspek dinamika kelompok yang berhubungan signifikan meliputi rasa percaya sesama anggota, transparansi pengelolaan keuangan, dan pengambilan keputusan kelompok. Secara umum, kelompok lumbung pangan yang tumbuh melalui keswadayaan tetap relevan meskipun gejalanya terus memudar. Untuk itu diperlukan dukungan teknis dan pendampingan dari pemerintah daerah. Kata Kunci: kelembagaan lokal, pemberdayaan, dinamika kelompok, lumbung pangan, solidaritas
Dilema Komunitas Kesenian Sandur Manduro Kabupaten Jombang: Antara Inovasi dan Pelestarian Tradisi: The Dilemma of the Sandur Manduro Art Community in Jombang Regency: Between Innovation and Tradition Preservation Achmad Syarifudin
Jurnal ENTITAS SOSIOLOGI Vol. 14 No. 1 (2025): Social Dynamics and Community Transformation
Publisher : Laboratorium Sosiologi FISIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jes.v14i1.53688

Abstract

Kesenian Sandur Manduro merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang berasal dari Desa Manduro, Kabupaten Jombang. Seiring dengan perkembangan zaman, kesenian ini menghadapi tantangan dalam hal regenerasi pemain, minimnya dukungan pemerintah, serta perubahan minat masyarakat terhadap hiburan modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika regenerasi kesenian Sandur Manduro serta peran komunitas seni dan pemerintah dalam upaya pelestariannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Lokasi penelitian di Desa Manduro berlangsung selama Juni-Juli 2024. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi di Desa Manduro. Teknik analisis data menggunakan analisis data interaktif. Hasil penelitian menunjukkan adanya dualitas antara agen (pemain dan komunitas seni) serta struktur (nilai dan tradisi) dalam kesenian Sandur Manduro. Pertama, regenerasi kesenian ini mengalami kendala akibat struktur pakem yang masih kaku, kurangnya inovasi, minat dan rasa memiliki generasi muda, serta pekerjaan sebagai seniman Sandur Manduro belum menjanjikan secara ekonomi. Kedua, perlu kajian lebih lanjut dalam revitalisasi kesenian Sandur Manduro agar tetap relevan tanpa banyak mengubah pakem kesenian tersebut. Ketiga, komunitas seni Panji Arum dan pemerintah desa maupun kabupaten melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang memiliki peran vital dalam pelestarian Kesenian Sandur Manduro dalam bentuk peningkatan sosialisasi, promosi kepada generasi muda, penyediaan sanggar seni termasuk penggunaan media sosial. Kata kunci: Pemain kesenian, Sandur Manduro, regenerasi, tradisi.

Page 11 of 12 | Total Record : 117