cover
Contact Name
Thomas Joni Verawanto Aristo
Contact Email
thomaspaoh@gmail.com
Phone
+6285245229150
Journal Mail Official
jurnal.pengabdian2020@gmail.com
Editorial Address
STIKP Persada Khatulistiwa Sintang LPPM STKIP Persada Khatulistiwa Sintang Jln. Pertamina Km. 4 Sintang 78614 Kalimantan Barat,
Location
Kab. sintang,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa
ISSN : -     EISSN : 26205300     DOI : 10.31932
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa adalah jurnal untuk publikasi artikel hasil pengabdian dan pemberdayaan masyarakat yang berkaitan dengan pendidikan, ilmu sosial, ilmu alam, dan ilmu terapan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 199 Documents
PENGENTASAN KEMISKINAN DAN KETIMPANGAN SOSIAL DI DESA SIDOREJO KECAMATAN KRIAN SIDOARJO Lailatul Chabibah; Lailatuz Fadiyah; Liiza Riska Nafisa; Mohammad Dliyaul Muflihin; Imam Buchori; Ade Irma Suryani Lating
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2026): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v9i1.4849

Abstract

ABSTRACT: This study examines the conditions of poverty and social inequality that occur in Sidorejo Village. Poverty is described as the inability of people to meet basic needs such as food, clothing, shelter, education, and health. Socioeconomic inequality can be seen from differences in income, access to health and education facilities, and job opportunities in the village. The main causes include low levels of education, limited access to basic services, and unequal distribution of wealth and opportunities. Various mitigation efforts are carried out through improving skills, access to capital, and improving basic facilities to reduce social disparities and improve the quality of life of the community. In addition, community participation and cooperation between parties are key to ensuring the sustainability of poverty alleviation programs and reducing social inequality. This study uses a qualitative approach with data collection through observation, interviews, and literature studies from various relevant sources. The results of the study indicate that poverty alleviation requires sustainable and integrated cross-sectoral efforts.Keywords: Poverty, InequalityABSTRAK: Penelitian ini mengkaji kondisi kemiskinan dan ketimpangan sosial yang terjadi di Desa Sidorejo. Kemiskinan digambarkan sebagai ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Ketimpangan sosial ekonomi terlihat dari perbedaan pendapatan, akses terhadap fasilitas kesehatan dan pendidikan, serta peluang kerja di desa tersebut. Faktor utama penyebabnya meliputi rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan akses terhadap layanan dasar, serta ketidakmerataan distribusi kekayaan dan peluang. Berbagai upaya penanggulangan dilakukan melalui peningkatan keterampilan, akses permodalan, dan peningkatan fasilitas dasar guna mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Selain itu, partisipasi masyarakat dan kerjasama antar pihak menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan program pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi literatur dari berbagai sumber relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengentasan kemiskinan membutuhkan upaya lintas sektor yang berkelanjutan dan terintegrasi.Kata Kunci: Kemiskinan, Ketimpangan
PENDAYAGUNAAN MAHASISWA, GURU DAN SISWA SD MELALUI ECOPRINT TUMBUHAN LOKAL BERBASIS PRAKTIK Sirilus Sirhi; Nelly Wedyawati; Sapomo Sapomo
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2026): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v9i1.6425

Abstract

ABSTRAKThis Community Service Program (PKM) aims to enhance the creativity, practical skills, and environmental awareness of teachers, students, and university students through a simple ecoprint training program utilizing local plants in Menukung District, Melawi Regency. The program was conducted over six months, from September 2025 to February 2026, at two partner elementary schools: SD Negeri 01 Menukung and SD Negeri 02 Menukung. The training involved three lecturers, nine student-teachers from the PGSD Study Program of STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, ten elementary school teachers, and fifty students. The implementation used a learning by doing approach, emphasizing experiential learning through hands-on practice in creating ecoprints using local leaves and flowers such as guava, ketapang, starfruit, and paper flowers. Data were collected through observation, interviews, documentation, and pretest–posttest assessments, then analyzed descriptively and qualitatively. The results showed an average improvement of 27.7%, including a 26% increase in creativity, 30% in practical skills, and 27% in environmental awareness. The ecoprint training proved effective in fostering creative thinking and practical abilities, while simultaneously cultivating ecological awareness through the use of local natural resources as a contextual, educational, and sustainable learning medium.Kata Kunci: Ecoprint Training, Creativity, Practical Skills, Environmental Awareness, Local PlantsABSTRACTKegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas, keterampilan, dan kesadaran lingkungan guru, siswa, serta mahasiswa melalui pelatihan ecoprint sederhana berbasis tumbuhan lokal di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi. Kegiatan dilaksanakan selama enam bulan, mulai September 2025 hingga Februari 2026, di dua sekolah dasar mitra, yaitu SD Negeri 01 dan SD Negeri 02 Menukung. Pelatihan melibatkan tiga dosen pelaksana, sembilan mahasiswa KKM Program Studi PGSD STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, sepuluh guru, dan lima puluh siswa. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan learning by doing, yaitu pembelajaran berbasis pengalaman langsung melalui praktik pembuatan ecoprint dengan memanfaatkan daun dan bunga lokal seperti daun jambu, ketapang, belimbing, dan bunga kertas. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, serta pretest dan posttest, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 27,7%, yang mencakup peningkatan kreativitas sebesar 26%, keterampilan praktis 30%, dan kesadaran lingkungan 27%. Pelatihan ecoprint terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan keterampilan praktis peserta, serta menumbuhkan kepedulian ekologis melalui pemanfaatan potensi tumbuhan lokal sebagai media pembelajaran kontekstual, edukatif, dan berkelanjutan.Keywords: Kesadaran Lingkungan, Keterampilan, Kreativitas Pelatihan Ecoprint, Tumbuhan Lokal
ENGLISH GUIDE TRAINING AT GEMBA RAYA VILLAGE, KELAM PERMAI DISTRICT, SINTANG REGENCY Ferdinanda Itu Meo; Yokie Prasetya Dharma; Henry Elisa
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2026): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v9i1.5813

Abstract

ABSTRACTThis community service program aims to strengthen the eco-tourism potential of Betang Ensaid Panjang by improving the English communication skills of local youths and cultural practitioners in Gemba Raya Village, Kelam Regency. Although the village possesses rich Dayak Desa cultural assets and strong community hospitality, limited English proficiency has hindered residents from effectively presenting their heritage to international visitors. To address this issue, the program provides tourism-oriented English training that emphasizes functional vocabulary, guiding expressions, cultural interpretation, and confidence-building strategies. The implementation combines classroom instruction, role-play simulations, storytelling practice, and field-based guiding activities that reflect real eco-tourism settings. The training is facilitated by lecturers supported by students. Through this approach, participants develop greater fluency, accuracy, and confidence in interacting with international tourists, enabling them to communicate cultural knowledge more effectively. The outcomes of this program are expected to enhance visitor satisfaction, expand economic opportunities, and strengthen community participation in sustainable, culturally grounded tourism development. Ultimately, the initiative contributes to positioning Gemba Raya Village as a model for community-based eco-tourism empowerment in West Kalimantan.Keywords: Eco-tourism; English for Tourism; Community Empowerment;ABSTRAKProgram pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat potensi ekowisata Betang Ensaid Panjang melalui peningkatan kemampuan komunikasi bahasa Inggris para pemuda dan pelaku budaya di Desa Gemba Raya, Kecamatan Kelam. Meskipun desa ini memiliki kekayaan budaya Dayak Desa serta nilai-nilai keramahtamahan yang kuat, keterbatasan kemampuan berbahasa Inggris masih menghambat masyarakat dalam menyampaikan dan menjelaskan warisan budaya mereka kepada wisatawan mancanegara. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, program ini menyediakan pelatihan Bahasa Inggris berbasis kebutuhan pariwisata yang menekankan kosakata fungsional, ungkapan pemanduan, interpretasi budaya, serta strategi peningkatan kepercayaan diri. Pelaksanaan kegiatan menggabungkan pembelajaran kelas, simulasi peran, latihan bercerita, dan praktik pemanduan lapangan yang merefleksikan situasi ekowisata secara nyata. Pelatihan ini difasilitasi oleh dosen., serta didukung oleh mahasiswa. Melalui pendekatan tersebut, peserta memperoleh peningkatan kefasihan, ketepatan, dan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan wisatawan internasional sehingga mampu menyampaikan pengetahuan budaya secara lebih efektif. Hasil program ini diharapkan dapat meningkatkan kepuasan pengunjung, memperluas peluang ekonomi, serta memperkuat partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis budaya. Pada akhirnya, inisiatif ini berkontribusi dalam memposisikan Desa Gemba Raya sebagai model pemberdayaan ekowisata berbasis komunitas di Kalimantan Barat.Kata Kunci: Ekowisata; Bahasa Inggris untuk Pariwisata; Pemberdayaan Masyarakat;
OPTIMALISASI LAHAN PEKARANGAN: SOLUSI STRATEGIS PENANGANAN STUNTING DI DESA PUNGGUR KAPUAS Rianto, Hadi; Suhaida, Dada; Moad, Moad; Rube'i, Muhammad Anwar; Ardiansyah, Ardiansyah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2026): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v9i1.6473

Abstract

ABSTRACTStunting remains a critical health challenge in the Kubu Raya Regency, driven by monotonous dietary patterns and high dependency on market-supplied food. Despite having abundant residential yard space, the community in Punggur Kapuas Village has not optimally utilized these areas for food production due to a lack of technical knowledge. This program aimed to enhance the knowledge and skills of local households in managing their yards sustainably to improve family nutrition. The program employed a participatory empowerment approach involving 20 participants. The methodology included coordination, interactive nutrition workshops, hands-on technical training (seed sowing, polybag preparation, organic composting), and intensive monitoring. The initiative resulted in a significant transformation of technical skills. Participants successfully mastered organic fertilizer production and diversified crops with nutrient-dense vegetables. The program fostered high community engagement and established a foundation for food self-sufficiency. Yard optimization serves as a strategic solution for achieving family food independence. Sustainability depends on institutionalizing these activities through Community Self-Help Groups (KSM).Keywords: Sustainable Cultivation, Family Nutrition, Stunting Prevention, Yard Optimization, Punggur Kapuas.ABSTRAKStunting masih menjadi tantangan kesehatan yang kritis di Kabupaten Kubu Raya, yang dipicu oleh pola makan monoton serta tingginya ketergantungan pada pasokan pangan pasar. Meskipun memiliki lahan pekarangan yang luas, masyarakat di Desa Punggur Kapuas belum mengoptimalkan area tersebut untuk produksi pangan akibat keterbatasan pengetahuan teknis. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan rumah tangga dalam mengelola pekarangan secara berkelanjutan guna meningkatkan status gizi keluarga. Program ini menggunakan pendekatan pemberdayaan partisipatif yang melibatkan 20 peserta. Metodologi pelaksanaan meliputi koordinasi, lokakarya gizi interaktif, pelatihan teknis langsung (penyemaian benih, persiapan media tanam polibag, pembuatan kompos organik), serta pemantauan intensif. Inisiasi ini menghasilkan transformasi keterampilan teknis yang signifikan. Peserta berhasil menguasai produksi pupuk organik dan mendiversifikasi tanaman dengan sayuran padat gizi. Program ini juga menumbuhkan keterlibatan masyarakat yang tinggi serta meletakkan dasar bagi kemandirian pangan tingkat rumah tangga. Optimalisasi lahan pekarangan berfungsi sebagai solusi strategis dalam mencapai kemandirian pangan keluarga. Keberlanjutan program ini sangat bergantung pada institusionalisasi kegiatan melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).Kata Kunci: Budidaya Berkelanjutan, Gizi Keluarga, Pencegahan Stunting, Optimalisasi Pekarangan, Punggur Kapuas.
LITERASI KEWIRAUSAHAAN UNTUK MENCIPTAKAN WIRAUSAHA MUDA DI ERA EKONOMI DIGITAL Avelius Dominggus Sore; Yopinus Bobi; Yulia Suryanti; Dessy Triana Relita; Yunita Astikawati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2026): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v9i1.6284

Abstract

ABSTRACTThe development of the digital economy provides significant opportunities for young people to develop technology-based businesses. However, the level of digital entrepreneurial literacy among vocational high school students is still relatively low, requiring systematic educational and training initiatives. This community service program aims to improve students' entrepreneurial literacy and encourage the emergence of young entrepreneurs in the digital economy era among students of SMK Nusantara Indah in Sintang Regency. The program implementation was carried out through several stages, including needs identification, digital entrepreneurship socialization, entrepreneurship literacy training, and mentoring in developing digital-based business ideas. A total of 40 students participated in this activity. To evaluate the impact of the program, surveys were conducted before and after the training activities. The initial survey results indicated that students' understanding of digital entrepreneurship was relatively low, with 45% of students categorized as having low understanding, 35% moderate understanding, and only 20% high understanding. After the program implementation, there was a significant improvement, where 65% of students reached a high level of understanding, 25% moderate, and only 10% remained in the low category. Furthermore, the evaluation results also showed a high level of participant satisfaction with the training activities provided. These findings indicate that the digital entrepreneurship literacy program effectively improved students' knowledge, motivation, and confidence in developing technology-based business ideas. Therefore, strengthening entrepreneurship literacy programs in vocational education institutions should continue to be developed to foster young entrepreneurs who are creative and adaptive to the evolving digital economy.Keywords: entrepreneurship literacy, digital economy, young entrepreneurs, vocational education ABSTRAKPerkembangan ekonomi digital memberikan peluang besar bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha berbasis teknologi. Namun demikian, tingkat literasi kewirausahaan digital di kalangan siswa sekolah menengah kejuruan masih relatif rendah sehingga diperlukan upaya edukasi dan pelatihan yang sistematis. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kewirausahaan siswa serta mendorong terbentuknya wirausaha muda di era ekonomi digital pada siswa SMK Nusantara Indah Kabupaten Sintang. Metode pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu identifikasi kebutuhan mitra, sosialisasi kewirausahaan digital, pelatihan literasi kewirausahaan, serta pendampingan dalam pengembangan ide usaha berbasis digital. Sebanyak 40 siswa terlibat sebagai peserta dalam kegiatan ini. Untuk mengetahui dampak program, dilakukan survei sebelum dan setelah kegiatan pelatihan. Hasil survei awal menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa terhadap kewirausahaan digital masih tergolong rendah, dengan 45% siswa berada pada kategori pemahaman rendah, 35% kategori sedang, dan 20% kategori tinggi. Setelah pelaksanaan program, terjadi peningkatan yang signifikan di mana 65% siswa berada pada kategori pemahaman tinggi, 25% kategori sedang, dan hanya 10% kategori rendah. Selain itu, hasil evaluasi juga menunjukkan tingkat kepuasan peserta yang tinggi terhadap kegiatan pelatihan yang diberikan. Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa program literasi kewirausahaan digital mampu meningkatkan pemahaman, motivasi, serta kepercayaan diri siswa dalam mengembangkan ide usaha berbasis teknologi. Oleh karena itu, program penguatan literasi kewirausahaan di lingkungan pendidikan vokasi perlu terus dikembangkan untuk mendorong terciptanya generasi wirausaha muda yang kreatif dan adaptif terhadap perkembangan ekonomi digital.Kata Kunci: literasi kewirausahaan, ekonomi digital, wirausaha muda, pendidikan vokasi
PEMANFAATAN URINE KAMBING MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR DENGAN TAMBAHAN BAHAN AIR CUCIAN BERAS DAN APOTIK HIDUP Anita Sri Rejeki Hutagaol; Nurainun Gulo; Ari Sigit Prastyo; Dedi Subakti; Ade Dio Prayoga
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2026): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v9i1.6492

Abstract

ABSTRACTThe research was carried out in Gunung Selamat Village, Kab. Labuhanbatu, North Sumatra Province which will last for ± 1 week, namely in September 2024. This research aims to determine the physical quality of goat liquid fertilizer (biourine) with the addition of various types of decomposer.  The materials used in the research were goat urine, EM-4, rice washing water, and live apothecary. This research was carried out experimentally with 4 treatments consisting of P0 (goat urine), P1 (goat urine + mole EM-4 with rice washing water and live pharmacy), P2 (goat urine + mole EM-11 with rice washing water live pharmacy). The parameters measured in the research were physical quality, namely odor, texture, pH, temperature and color. The data obtained were analyzed descriptively. The research results showed that the temperature in treatment P0 was 34oC, while in treatments P1, P2 and was 32oC. The biourine color of goats in treatment P0 is reddish black and treatments P1, P2 are dark reddish black. The odor of biourine from goats treated P0 was very strong and those treated P1, P2 were less pungent. The pH of the treatment ranged from 7.67 to 8.29. The conclusion of the research is that adding mol EM-4 with additional rice washing water and live apothecar and mol EM-11 with additional rice washing water and living apothecary can improve the planting medium.Keywords: goat urine, EM-4, EM-11, rice washing water, live pharmacyABSTRAKPenelitian dilaksanakan di Desa Gunung Selamat, Kab. Labuhanbatu, Provinsi Sumatera Utara yang berlangsung selama ± 1minggu yaitu pada bulan September 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas fisik pupuk cair (biourine) kambing dengan penambahan berbagai jenis dekomposer. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah urine kambing, EM-4, air cucian beras, dan apotik hidup. Penelitian ini dilakukan secara ekperimental dengan 3 perlakuan yang terdiri dari P0 (urine kambing), P1(urine kambing + mol EM-4 dengan air cucian beras dan apotik hidup), P2 (urin kambing + mol EM-11 dengan air cucian beras dan apotik hidup). Parameter yang diukur dalam penelitian adalah kualitas fisik yaitu bau, tekstur, pH, suhu dan warna Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptip. Hasil penelitian menunjukka bahwa suhu pada perlakuan P0 sebesar 34oC, sedangkan perlakuan P1, P2 dan sebesar 32oC. Warna biourine kambing perlakuan P0 adalah reddish black dan perlakuan P1, P2, adalah reddish black pekat. Bau biourine kambing perlakuan P0 adalah sangat menyengat dan perlakuan P1, P2, adalah kurang menyengat. pH perlakuan berkisar 7,67- 8,29. Kesimpulan penelitian adalah penambahan mol EM-4 dengan tambahan air cucian beras dan apotik hidup dan mol EM-11 dengan tambahan air cucian beras dan apotek hidup dapat memperbaiki media tanamKata Kunci: urine kambing, EM-4, EM-11, air cucian beras, apotik hidup
PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK KOMPOS PADA KELOMPOK TANI BERSATU DI KELURAHAN SOFIFI KECAMATAN OBA UTARA KOTA TIDORE KEPULAUAN Natal Basuki; Mardiyani Sidayat; Nurdiyanawati Djumadil; Fatmawati Kaddas; Mila Fatmawati; Haris Mahmud; Nursamsi Nursamsi; Khairun Annisa; Syahroni Syahroni
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2026): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v9i1.7066

Abstract

ABSTRACTThe strategic potential of Sofifi Urban Village—particularly regarding natural resources such as those in the agricultural sector—offers economic opportunities that can boost local incomes. To date, however, the community has not fully adopted the practice of utilizing household waste or local resources to create products with greater economic value. This community service program aims to foster an understanding of how to generate creative ideas for transforming household waste into natural fertilizer. The program was conducted in four stages: observation, preparation, implementation, and monitoring and evaluation. Compost was produced from household waste—such as vegetable scraps and fruit peels—mixed with EM4 (Effective Microorganisms) to accelerate the decomposition process. Household waste that would otherwise be discarded can yield significant benefits when repurposed into useful products like compost. The resulting compost ranges in color from dark brown to black, resembling soil. As the product is water-insoluble and odorless, it can be concluded that the quality of the compost produced is excellent.Keywords: Waste; Compost; Empowerment; EM4 and Agriculture ABSTRAKPotensi strategis di Kelurahan Sofifi, terutama dari sumber daya alam seperti pertanian, menjadi daya tarik ekonomi yang dapat meningkatkan penghasilan masyarakat setempat. Selama ini, masyarakat masih kurang terbiasa menggunakan sampah rumah tangga atau potensi sumber daya di sekitar untuk membuat produk yang lebih bernilai secara ekonomi. Program Pengabdian Kepada Masyarakat ini bertujuan memberikan pemahaman tentang cara menemukan ide-ide kreatif dalam memanfaatkan sampah rumah tangga menjadi pupuk alami. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini dilakukan dalam 4 tahap, yaitu observasi, persiapan, pelaksanaan, dan monitoring serta evaluasi. Pupuk kompos dibuat dari limbah rumah tangga seperti sisa sayuran dan kulit buah, lalu dicampur dengan pupuk EM4 sebagai bahan pengatur untuk mempercepat proses pembuatan pupuk tersebut. Limbah rumah tangga yang sudah tidak bisa digunakan lagi memiliki manfaat jika diolah kembali menjadi benda yang berguna, seperti pupuk kompos. Pupuk kompos yang dihasilkan dari kegiatan ini berwarna coklat tua hingga hitam, mirip dengan warna tanah.Pupuk tersebut tidak larut dalam air dan tidak memiliki bau, sehingga dapat disimpulkan bahwa kualitas pupuk kompos yang dihasilkan cukup baik.Kata Kunci: Limbah; Pupuk Kompos; Pemberdayaan; EM4 dan Pertanian
PEMBINAAAN ROHANI PELAJAR KATOLIK MELALUI REKOLEKSI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 SUNGAI RAYA DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 7 PONTIANAK UTARA Lukas Ahen; Gustaf Hariyanto; Florensius Sutami; Semi Semi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2026): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v9i1.7122

Abstract

ABSTRACTEducation should not focus solely on academics but also on developing students' character and spirituality. In Catholic education, strengthening students' faith is a crucial element, particularly in multicultural environments. One way to achieve this goal is through recollection activities, designed to help students reflect on the values of faith in their daily lives and bear witness to the diversity of the school environment. Recollection is not merely an activity but also an effective means of enhancing the faith and spirituality of Catholic students. The method used in community service (PkM) is an interactive, reflective, and participatory lecture, aimed at helping participants understand and implement the values of faith and love in diversity. Through this approach, it is hoped that students will become witnesses of Christ with love and tolerance amidst diversity. One implementation method is a focus group discussion (FGD). The most memorable experience of recollection is the opportunity for self-reflection and the sharing of experiences, in which students recognize the value of diversity and the importance of their relationships with God and others within a diverse environment. Keywords: education, spirituality, Focus Group Discussion, reflection, recollection ABSTRAKPendidikan seharusnya tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pengembangan karakter dan spiritualitas siswa. Dalam konteks pendidikan Katolik, penguatan iman siswa menjadi elemen yang sangat penting, terutama di lingkungan yang multikultural. Salah satu cara untuk mencapai tujuan ini adalah melalui kegiatan rekoleksi, yang dirancang untuk membantu siswa merenungkan nilai-nilai iman dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan kesaksian dalam suasana keberagaman sekolah. Rekoleksi bukan hanya sekadar kegiatan, tetapi juga sarana yang efektif untuk meningkatkan iman dan spiritualitas siswa Katolik. Metode yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat (PkM) adalah ceramah interaktif, reflektif, dan partisipatif, yang bertujuan agar peserta dapat memahami serta mengimplementasikan nilai-nilai iman dan kasih dalam keragaman. Melalui pendekatan ini, diharapkan siswa dapat menjadi saksi Kristus dengan penuh kasih dan toleransi di tengah keragaman. Salah satu metode pelaksanaan adalah diskusi kelompok terfokus (FGD). Pengalaman paling berkesan dari rekoleksi adalah kesempatan untuk refleksi diri dan berbagi pengalaman, di mana siswa menyadari keunikan keberagaman dan pentingnya hubungan mereka dengan Tuhan dan sesama dalam lingkungan yang beragam. Kata kunci: pendidikan, spiritualitas, Focus Group Discussion, refleksi, rekoleksi
PENGEMBANGAN DAN INOVASI PASAR HUTAN BAMBU TO`KUMILA Ferayanti Boas Gallaran; Israel Padang; Semuel Yakobus Padang; Bergita Gela Saka; Gidion Aryo Nugraha Pongdatu; Ariyen Duri
Jurnal Pengabdian Masyarakat Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2026): APRIL
Publisher : STKIP Persada Khatulistiwa Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31932/jpmk.v9i1.7322

Abstract

ABSTRACTSustainable tourism development increasingly focuses on integrating nature-based tourism (ecotourism) and cultural heritage (cultural tourism). To'Kumila Bamboo Forest Market in Tonga Riu Village, North Toraja Regency, holds strong ecological and cultural potential; however, its management faces challenges including limited physical infrastructure, lack of MSME product innovation, and underutilized digital marketing. This community service program aims to enhance tourism appeal and local economic capacity through nature- and culture-based market innovations. The methodology employed a participatory approach, community empowerment, and educational interventions involving market managers, 16 local MSME actors, villagers, and tourists. Program implementation comprised socialization, hospitality training, physical site enhancement using bamboo-based green architecture, implementation of a unique bamboo token ("seng") transaction system, local culinary and craft product diversification, and digital marketing mentoring via social media platforms. The results demonstrated an increase in community capacity, a more aesthetic and eco-friendly market environment (zero-plastic packaging), the creation of an authentic experience tourism concept, and functional digital marketing channels expanding tourist reach. This initiative confirms that integrating Community-Based Tourism (CBT), ecotourism, and digital technology effectively fosters creative economic self-reliance and environmental sustainability in rural areas.Keywords: Community-Based Tourism, Creative Economy, Digital Marketing, Ecotourism, To'Kumila Bamboo Forest Market, Tourism Village, North Toraja.ABSTRAKPengembangan pariwisata berkelanjutan kini berfokus pada integrasi wisata alam (ecotourism) dan kearifan budaya (cultural tourism). Pasar Hutan Bambu To’Kumila di Lembang Tonga Riu, Kabupaten Toraja Utara, memiliki potensi ekologis dan budaya yang tinggi, namun pengelolaannya masih menghadapi tantangan seperti fasilitas yang terbatas, minimnya inovasi produk UMKM, dan belum optimalnya promosi digital. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat daya tarik wisata dan kapasitas ekonomi lokal melalui inovasi pasar berbasis alam dan budaya. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif, community empowerment, dan edukatif yang melibatkan pengelola wisata, 16 pelaku UMKM, masyarakat desa, serta wisatawan. Tahapan kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan hospitality, penataan fisik kawasan berbasis arsitektur hijau berbahan bambu, pengembangan sistem transaksi unik berbasis token bambu (seng), diversifikasi produk kuliner dan kerajinan lokal, serta pendampingan digital marketing via media sosial. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan masyarakat, terwujudnya tata kelola pasar yang lebih estetik dan ramah lingkungan (zero-plastic packaging), terbentuknya pengalaman wisata (experience tourism) yang autentik, serta tersedianya media promosi digital yang memperluas jangkauan wisatawan. Kegiatan ini membuktikan bahwa integrasi Community-Based Tourism (CBT), ekowisata, dan pemanfaatan teknologi digital efektif dalam mendorong kemandirian ekonomi kreatif serta pelestarian lingkungan di kawasan pedesaan.Kata kunci: Community-Based Tourism, Ekowisata, Ekonomi Kreatif, Pasar Hutan Bambu To’Kumila, Toraja Utara.