cover
Contact Name
Muhammad Asy'ari
Contact Email
muhammadasyari1991@gmail.com
Phone
+6285338219596
Journal Mail Official
lumbunginovasi@gmail.com
Editorial Address
Tanjung Karang Sekarbela, Mataram, NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
ISSN : -     EISSN : 2541626X     DOI : -
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat | Lumbung Inovasi: Journal of Community Service (ISSN: 2541-626X) is an open access scientific journal that publish community service and empowerment articles. This journal published twice a year (bianually) in May and November.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 47 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 4 (2024): December" : 47 Documents clear
Perundungan di Lingkungan Pesantren: Pencegahan dan Resiliensi Umamah, Atik; Muttaqin, Khoirul; Nasihah, Durotun
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2328

Abstract

Perundungan dapat mengambil berbagai bentuk, seperti pelecehan fisik, verbal, dan psikologis yang dapat membahayakan kesehatan siswa. Program ini mencakup tindakan nyata untuk menghentikan perundungan, meningkatkan kesadaran akan efeknya, dan meningkatkan ketahanan mental santri. Ada dua aktifitas utama yang dilaksanakan yaitu pendampingan pencegahan perundungan dan resiliensi korban perundungan. Pendampingan pencegahan dilakukan dengan memberikan penyuluhan oleh narasumber untuk memberikan informasi tentang perundungan, efeknya, dan cara mencegahnya. Selain itu, narasumber melakukan pendampingan resiliensi korban perundungan. Untuk mengukur sejauh mana efektifitas kegiatan pendampingan ini, kami mengambil data berupa pre- dan post-asesmen untuk santri terkait dengan pemahaman mereka tentang perundungan, efek, dan cara mencegahnya. Hasil pre asesmen pengetahuan perilaku perundungan adalah 2,88, sedangkan hasil post asesmen naik menjadi 2,94. Hal ini menunjukkan naiknya pemahaman santri terkait perilaku perundungan meskipun tidak signifikan. Terkait dengan sikap santri terhadap perundungan juga terjadi perubahan dari 1,51 turun menjadi 1,49 yang menandakan adanya perubahan sikap setelah mengikuti kegiatan ini. Selain itu, berdasarkan kegiatan follow-up diketahui bahwa siswa yang mengalami perundungan memiliki resiliensi yang lebih baik terbukti dengan tidak lagi melakukan self-harm. Kegiatan pendampingan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan pesantren yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan holistik setiap siswa. Pesantren dapat berfungsi sebagai model untuk memerangi perundungan dan menciptakan lingkungan pendidikan yang positif untuk generasi muda. Kegiatan pendampingan seperti dapat dilakukan secara berkala dalam jangka waktu panjang agar memberikan dampak yang lebih signifikan. Bullying in Islamic Boarding School Environments: Prevention and Resilience Abstract Bullying can take various forms, such as physical, verbal, and psychological abuse that can harm students' health. This program included concrete actions to stop bullying, raise awareness of its effects, and improve students' mental resilience. There are two main activities that were carried out, namely bullying prevention assistance and bullying victim resilience. Prevention assistance was carried out by providing counseling to provide information about bullying, its effects, and how to prevent it. In addition, keynote speaker provided resilience assistance for bullying victims. To measure the effectiveness of this assistance activity, we took data in the form of pre- and post-assessments for students related to their understanding of bullying, its effects, and how to prevent it. The results of the pre-assessment of bullying behavior knowledge were 2.88, while the results of the post-assessment increased to 2.94. This shows an increase in students' understanding of bullying behavior, although not significant. Regarding the attitude of students towards bullying, there was also a change from 1.51 down to 1.49, indicating a change in attitude after participating in this activity. In addition, based on follow-up activities, it is known that students who experience bullying have better resilience, as evidenced by no longer committing self-harm. This mentoring activity is expected to be able to create a safe, inclusive Islamic boarding school environment that supports the holistic development of each student. Islamic boarding schools can function as a model to combat bullying and create a positive educational environment for the younger generation. Mentoring activities such as can be carried out periodically over a long period of time to provide a more significant impact.
Sosialisasi Penanggulangan Hama Whitefly di Desa Gondanglor Kabupaten Lamongan dengan Menggunakan Biopestisida “NaturaPest” Sukmawati, Wahyu Sufi'a Dewi; Rahman, Abdul; Tripatmasari, Mustika
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2330

Abstract

Salah satu tantangan yang dihadapi sektor pertanian adalah pengendalian hama tanaman (OPT). Pengendalian OPT biasanya dilakukan dengan menggunakan pestisida kimia. Penggunaan pestisida kimia yang berlebihan berdampak negatif terhadap lingkungan. Pengendalian hama yang ramah lingkungan dapat dicapai melalui penggunaan biopestisida nabati. Penggunaan pestisida nabati untuk mengendalikan serangan hama belum banyak digunakan di kalangan petani. Salah satu cara untuk memperkenalkan pestisida nabati adalah dengan melakukan sosialisasi produksi pestisida nabati yang ramah lingkungan. Kegiatan masyarakat secara langsung dilakukan di kalangan warga Desa Gondanglor Kecamatan Sugio Kabupaten Lamongan untuk memperkenalkan produk biopestisida nabati. Sosialisasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengenalkan warga Desa Gondanglor lebih jauh mengenai pestisida nabati yang dapat digunakan sebagai penanggulangan OPT. Tanaman yang digunakan sebagai pestisida diperoleh dari tanaman atau tumbuhan pada daerah sekitar. Tanaman yang dapat dijadikan bahan dasar pestisida nabati antara lain bawang putih, serai, daun mimba, dan daun pepaya. Tanaman yang digunakan sebagai pestisida nabati adalah daun mimba. Hal ini karena daun mimba memiliki bahan aktif azadirachtin, salanin, meliantriol, nimbin dan nimbidin sebagai hasil metabolit sekunder yang mengendalikan hama dan penyakit tanaman dengan cara mempengaruhi pertumbuhan, daya makan, reproduksi, dan oviposisi. Pestisida nabati berbahan dasar daun mimba dapat diaplikasikan pada tanaman hortikultura dan tanaman pangan seperti cabai, terong, padi, kacang hijau, dan jagung. Dengan adanya kegiatan ini para petani mampu mengetahui pestisida nabati ini dapat membantu mengurangi kecenderungan penggunaan pupuk kimia seta dapat membantu mengurangi pengeluaran biaya produksi para petani khususnya pestisida. Penggunaan pestisida nabati lebih disarankan daripada pestisida kimia dikarenakan pestisida nabati aman dan ramah lingkungan.Hasil kuisioner menunjukkan bahwa para petani di Desa Gondanglor merasa adanya manfaat dari kegiatan ini dengan presentase 90,47%. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi petani di Desa Gondanglor terkait pemahaman tentang pestisida nabati. Socialization of Whitefly Pest Management in Gondanglor Village, Lamongan Regency using Biopesticide "NaturaPest" Abstract One of the challenges the agricultural sector faces is the control of plant pests (opt). Opt control is usually performed using chemical pesticides. Overuse of chemical pesticides has a negative impact on the environment. Environmental pest control can be achieved through the use of vegetable biopestions. The use of vegetable pesticides to control pest attacks has not been widely used among farmers. One way to introduce vegetable pesticides is by performing socialization of environmentally friendly nabati pesticides. Community activities are carried out directly among the residents of the gondanglor district sugio for the release of a biochemical plant. These socialization purposes to introduce residents of the village of gondanglor further on vegetable pesticides that can be used as a treatment opt. Plants used as pesticides are obtained from plants or plants in the surrounding areas. Such crops as vegetable pesticides can be treated as garlic, lemon, leaf of mimba, and papaya. A plant used as a vegetable pesticide is a leaf of mimba. This is because the leaves of the mimba possess the active material of azadirachtin, salanins, meliantriol, nimbin and nimbidin as secondary metabolites that control pests and plant diseases by affecting growth, feeding, reproduction, and oviposition. Vegetable pesticides based on a leaf of mimbah can be applied to horticulture and such crops as chili, eggplant, rice, green beans, and corn. With this activity, farmers are able to identify this vegetable pesticide, which may help reduce the trend toward using setae chemical fertilizers to help reduce the cost of producing farmers especially pesticides. The use of vegetable pesticides is recommended more than chemical pesticides because they are safe and ecologically safe. Questionnaioners indicate that farmers in the village of gondanglor feel the benefits of this activity with a 90,47% percentage. It may be concluded that this activity could benefit farmers in the village of gondanglor regarding their understanding of vegetable pesticides.
Sosialisasi Konsep dan Kegiatan Taman Hijau di Lingkungan Perumahan Sembada Griya Asri Kekalik Jaya-Mataram Fibrianti, Baiq Susdiana; Ruwaidah, Eliza; Rahayu, Erna Wijayanti; Fariani, Nana; Khadafi, Muammar; Hartawan, Teddy; Mi’rojussibiyan, Mi’rojussibiyan
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2334

Abstract

Taman berfungsi sebagai pelengkap di lingkungan rumah atau perumahan yang dapat memberi nilai estetika, keindahan, penghijauan dan sebagai pemasok oksigen. Ada beberapa tahapan yang dilakukan dalam kegiatan ini yaitu persiapan yang meliputi peninjuan lokasi mitra, mengirim surat izin pengabdian ke mitra, membuat materi untuk persentasi. Pelaksanaan kegiatan pengabdian ada dua tahap yaitu menyampaikan materi konsep taman hijau di lingkungan perumahan dan tahap kedua yaitu konsultasi atau memberikan gambaran mengenai desain taman hijau untuk pekarangan lahan sempit melalui media klinik arsitektur secara online dan offline. Konsep taman hijau di pekarangan rumah tinggal ini memanfaatkan pekarangan kecil menjadi lebih asri yang memberi nilai ekonomis dan keindahan pada lingkungan perumahan sehingga kegiatan yang dilakukan Ibu ibu yang terbentuk dalam majelis taklim ini bisa berjalan dengan baik dan efektif yaitu pemanfaatan lahan pekarangan dengan konsep taman hijau yang produktif. Tim pengabdi melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat bertujuan untuk melakukan transfer ilmu dan teknologi tentang penataan taman rumah tinggal sehingga warga dapat mengaplikasikan pada pekarangan rumah untuk lahan sempit. Metode dalam melaksanakan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat yang digunakan adalah presentasi, diskusi dan konsultasi secara offline dan online sehingga warga yang tergabung dalam kegiatan pemberdayaan oleh Ibu-ibu Majelis Taklim sudah berhasil menerapkan konsep taman hijau di lahan sempit sebanyak 77 % di Lingkungan Perumahan Sembada Griya Asri Kekalik Mataram mendapat gambaran konsep taman hijau yang dapat di terapkan dalam penataan taman rumah dengan lahan sempit yang produktif dan dapat memberi nilai manfaat yang positif. Socialization of Green Park Concept and Activities in the Sembada Griya Asri Residential Environment Kekalik Jaya-Mataram Abstract The garden functions as a complement to the home or residential environment which can provide aesthetic value, beauty, greenery and as a supplier of oxygen. There are several stages carried out in this activity, namely preparation which includes reviewing partner locations, sending service permits to partners, making materials for presentations. The implementation of service activities consists of two stages, namely conveying material on the concept of green gardens in residential areas and the second stage, namely consulting or providing an overview of green garden designs for narrow plots of land through online and offline architectural clinic media. The concept of a green garden in a residential yard utilizes a small yard to make it more beautiful, which provides economic value and beauty to the residential environment so that the activities carried out by the mothers formed in this taklim assembly can run well and effectively, namely the use of yard land with a green garden concept. productive. The service team, through the Community Service program, aims to transfer knowledge and technology about arranging residential gardens so that residents can apply it to home gardens for small areas of land. The methods used in carrying out community service activities are presentations, discussions and consultations offline and online so that residents who are involved in empowerment activities by the women of the Taklim Council have succeeded in implementing the green park concept on 77% of the narrow land in the Sembada Griya Asri Housing Area. Kekalik Mataram got an overview of the green garden concept which can be applied in arranging home gardens with narrow land that is productive and can provide positive benefits.
Pelatihan Pembuatan Pupuk Kompos di Desa Ngestirahayu dalam Upaya Kemandirian Pertanian Maretta, Gres; Istiadi, Khaerunissa Anbar; Wibawa, Fajri Arif; Budiono, Desi; Fatriani, Rizka; Hariyandi, Yopi; Astuti, Ayu Widia; Ferdinanda, Thierry; Aniesti, Frigia Rafilia
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2355

Abstract

Desa Ngestirahayu merupakan salah satu Desa yang terletak di Kecamatan Punggur dengan mayoritas masyarakat Desa Ngestirahayu berprofesi sebagai petani. Selama ini, petani mengalami permasalahan salah satunya adalah ketersediaan dan supply pupuk subsidi yang dibatasi. Oleh sebab itu, diperlukan alternatif pupuk yang murah dan dapat diproduksi secara mandiri. Selain itu, pupuk organik dapat memperbaiki kualitas tanah dan menyediakan nutrisi esensial bagi tanaman secara lebih berkelanjutan. Pupuk organik dapat dibuat dengan menggunakan alat dan bahan yang sederhana dan murah.  Namun masyarakat desa umumnya masih belum familiar dan memahami mengenai teknik  pembuatan pupuk organik. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan pelatihan  pembuatan pupuk organik pada KWT di desa Ngestirahayu. Hasil akhir dari pelaksanaan kegiatan adalah terjadinya peningkatan pengetahuan masyarakat sebesar 91,6% mengenai pupuk, bahan, proses pembuatan pupuk organik. Manfaat kegiatan ini yaitu meningkatkan pengetahuan mitra mengenai penggunaan pupuk organik, mengetahui bahan yang digunakan dan tatacara pembuatan pupuk organik. Masyarakat perlu dilakukan pembiasaan untuk mulai memilah sampah berdasarkan jenisnya mulai dari skala rumah tangga, sehingga memudahkan untuk mengolah sampah menjadi pupuk kompos. Selain itu, perlu dilakukan produksi pupuk kompos dalam jumlah banyak untuk mencukupi kebutuhan pupuk desa, sebagai kegiatan lanjutan dari program ini. Compost Fertilizer Production Training in Ngestirahayu Village to Achieve Agricultural Independence Abstract The village of Ngestirahayu is one of the villages located in the Punggur District, where the majority of the residents work as farmers. Farmers have long faced issues, one of which is the limited availability and supply of subsidized fertilizers. Therefore, there is a need for an affordable and self-produced fertilizer alternative. In addition, organic fertilizers can improve soil quality and provide essential nutrients for plants in a more sustainable manner. Organic fertilizers can be made using simple and inexpensive tools and materials. However, the village community is generally not yet familiar with or knowledgeable about organic fertilizer production techniques. Based on this, it is necessary to conduct training on organic fertilizer production for the Women's Farming Group (KWT) in the village of Ngestirahayu. The final outcome of this activity was a 91.6% increase in community knowledge regarding fertilizers, materials, and the process of making organic fertilizers. The benefits of this activity include enhancing partners' knowledge of organic fertilizer use, understanding the materials used, and learning the process of making organic fertilizers. The community needs to develop a habit of sorting waste by type at the household level, making it easier to process waste into compost. Furthermore, large-scale compost production is needed to meet the village's fertilizer needs as a follow-up activity of this program.
Pemberdayaan Masyarakat Desa melalui Penggunaan Media Tanam Inovatif dan Budidaya Pertanian Modern Guna Meningkatkan Produktivitas Tanaman Fauziah, Siva; Ferial, Jihan; Tripatmasari, Mustika
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2361

Abstract

Lahan pertanian mengalami penurunan karena meningkatnya laju pertumbuhan penduduk hingga alih fungsi lahan dari pertanian ke pemukiman sehingga lahan terbatas dan kualitas tanah menurun untuk bercocok tanam. Kondisi ini menjadi alasan diadakannya sosialisasi untuk memperkenalkan media tanam 3in1 Agrocoota yang inovatif terbuat dari campuran cocopeat, arang sekam, dan daun mimba kepada masyarakat Desa Gondanglor, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 26 Oktober 2024 yang dihadiri oleh 21 orang dari kelompok tani Dusun Ngingkrang. Sosialisasi ini mendapat respon positif dan antusiasme dari masyarakat desa. Kegiatan ini mengajarkan cara memanfaatkan media tanam ramah lingkungan melalui sosialisasi serta dilakukan pengisian kuisioner sebagai tolak ukur. Kuisioner kemudian diolah menggunakan metode analisis statistika deskriptif yang dipilih karena penyajian informasinya lebih mudah dipahami (Sari, 2018). Metode ini disajikan dalam bentuk data kuantitatif berupa Diagram Pie. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan minat masyarakat sebesar 90% untuk bersedia menggunakan media tanam ini sebagai bentuk implementasi pertanian berkelanjutan pada skala rumah tangga untuk mendukung kemandirian pangan serta menjaga kelestarian lingkungan. Media tanam ini dapat digunakan secara berkelanjutan di desa Gondanglor dengan potensi ketersediaan bahan baku cocopeat sebesar 47% dan sekam padi 52% sehingga masyarakat dapat membuat media tanam ini secara mandiri. Empowering Village Communities Through the Use of Innovative Planting Media and Modern Agricultural Cultivation to Increase Crop Productivity  Abstract Agricultural land is experiencing a decline due to the increasing rate of population growth and the conversion of land from agriculture to residential areas so that land is limited and the quality of the land decreases when it is suitable for planting. This condition was the reason for holding an outreach to introduce the innovative 3in1 Agrocoota planting medium made from a mixture of cocopeat, husk charcoal and neem leaves to the people of Gondanglor Village, Sugio District, Lamongan Regency. This activity was held on Saturday, October 26 2024, and was attended by 21 people from the Ngingkrang Hamlet farmer group. This socialization received a positive and enthusiastic response from the village community. This activity teaches how to use environmentally friendly planting media through outreach and filling out questionnaires as a benchmark. The questionnaire was then processed using descriptive statistical analysis methods which were chosen because the presentation of the information was easier to understand (Sari, 2018). This method is presented in the form of quantitative data in the form of a Pie Chart. The results of the activity showed that there was an increase in public awareness and interest by 90% in being willing to use this planting medium as a form of implementing sustainable agriculture on a household scale to support food independence and preserve the environment. This planting medium can be used sustainably in Gondanglor village with the potential availability of 47% of cocopeat raw materials and 52% of rice husks so that people can make this planting medium independently.
Pengoptimalan UMKM Jengkol Saus Lalaan Di Desa Pingaran Ulu, Kalimantan Selatan Rohmanna, Novianti Adi; Millati, Tanwirul; Agustina, Lya; Susi, Susi; Hakim, Hisyam Musthafa Al; Majid, Zuliyan Agus Nur Muchlis; Akbar, Arief RM; Saufi, Ahmad; Khusna, Lailil; Khairina, Mahfuzhah; Aristya, Muhammad Nabil Raihan; Azizah, Nur; Sari, Nur Sinta
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2369

Abstract

Kalimantan Selatan merupakan wilayah pengolah jengkol atau dikenal dengan jaring, salah satu produk olahan jengkol yang terkenal adalah jengkol saus lalaan. UMKM Jaring Acil Ina merupakan salah satu UMKM yang menjual produk Jengkol saus lalaan. Akan tetapi dalam penjualan dan produksinya, UMKM Jaring Acil ina memiliki beberapa kendala diantaranya daya simpan yang relatif singkat. Secara garis besar, metode pengabdian ditentukan dalam penyelesaian permasalahan berdasarkan dengan apa yang dibutuhkan mitra. Proses penyelesaian masalah dilakukan dengan pemberian teknologi, sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan kemudian dilakukan evaluasi pelaksanaan program keberlanjutan. Hasil dari evaluasi digunakan untuk menentukan tindak lanjut agar program yang sudah diberikan dapat terus berlanjut bahkan dapat diadopsi oleh kelompok tani lain. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa pengawetan jengkol yang paling efektif untuk memperpanjang masa simpan jengkol adalah dengan metode vakum pada proses pengemasan. Selain itu, proses penyimpanan dalam vacuum dan freezer dapat meningkatkan daya simpan produk (1 bulan) dibandingkan tanpa vacuum (3 hari). Selain masa simpan yang lebih lama, sifat organoleptic dari produk juga dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan metode vacuum dan metode penyimpanan lain. Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa produk jengkol saus lalaan dengan cita rasa uniknya, dapat memiliki nilai jual yang tinggi jika di kemas dengan tepat. Pengoptimalam kemasan tidak hanya dapat meningkatkan daya tarik visual, melainkan juga dapat memperpanjang masa simpan dan menjaga kulitas produknya. Hal ini menandakan adanya peluang besar UMKM untuk mengembangkan produk jengkol saus tahi lala menjadi oleh-oleh khas Kalimantan Selatan atau produk unggulan dengan kualitas yang baik. Optimization of MSMEs Jengkol Lalaan Sauce in Pingaran Ulu Village, South Kalimantan  Abstract South Kalimantan is a Jengkol processing area or known as netting, one of the famous Jengkol processed products is Jengkol saus lalaan. MSMEs Neting Acil Ina is one of the MSMEs that sells Jengkol saus lalaan products. However, in sales and production, Neting Acil ina MSMEs have several obstacles, including a relatively short shelf life. Broadly speaking, the method of service is determined in solving problems based on what the partners need. The problem-solving process is carried out by providing technology, socialization, training, and mentoring and then evaluating the implementation of sustainability programs. The results of the evaluation are used to determine follow-up so that the program that has been given can continue and can even be adopted by other farmer groups. Based on the observation results, the most effective preservation of Jengkol to extend the shelf life of Jengkol is by the vacuum method in the packaging processor. In addition, the vacuum and freezer storage have more shelf life of the product (1 month) than no-vacuum (3 days). In addition to a longer shelf life, the organoleptic properties of the product can also last longer compared to vacuum and other storage methods. Based on the results of the activities that have been carried out, it can be concluded that Jengkol saus lalaan products with their unique taste, can have a high selling value if packaged properly. Packaging optimizers can not only improve visual appeal, but also extend shelf life and maintain product quality. This indicates a great opportunity for MSMEs to develop Jengkol saus lalaan sauce products into souvenirs typical of South Kalimantan or superior products with good quality.
Pencegahan Stunting Melalui Pelatihan Pemantauan Pertumbuhan Anak Pada Kader Kesehatan di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar Ardianingsih, Febrita; Wahjuni, Endang Sri; Sugianto, Yenny Meilany; Habsari, Janti Tri
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2376

Abstract

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) hingga tahun 2023, prevalensi stunting pada balita di Indonesia masih di atas batas WHO (<20%), dan Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan kasus terbanyak. Salah satu intervensi kemenkes yang belum mencapai target adalah pemantauan pertumbuhan balita, yang baru mencapai 79,2% dari target 85%. Rendahnya kualitas pemantauan pertumbuhan balita menjadi salah satu penyebab. Hanya 33,8% kader yang mampu mencatat hasil penimbangan dengan benar, hanya 1,5% kader yang mampu menginterpretasikan hasil penimbangan dengan tepat, dan hanya 3% penimbangan balita oleh kader yang dianggap akurat. Untuk mengatasi masalah ini, dilaksanakan pelatihan pemantauan pertumbuhan anak bagi kader kesehatan. Tujuan pelatihan adalah (1) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dalam memantau pertumbuhan secara akurat dan (2) mendukung program intervensi spesifik Kemenkes untuk menurunkan stunting. Kegiatan dilaksanakan dalam tiga tahapan: (1) koordinasi dengan mitra, (2) pelaksanaan pelatihan dengan penyampaian materi dan praktik, dan (3) evaluasi pretest-posttest. Peserta pelatihan adalah 40 kader kesehatan dari 11 desa/kelurahan di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Analisis data hasil evaluasi menggunakan statistik deskriptif. Pelatihan ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan dalam mengenal stunting dan mengukur pertumbuhan anak. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan rerata nilai dari 55,65 (kategori cukup) menjadi 77,15 (kategori baik). Peningkatan tersebut dapat berimplikasi pada (1) kemampuan kader dalam pelayanan posyandu sehingga mengurangi kesalahan dalam pencatatan data dan interpretasi hasil pemantauan pertumbuhan, (2) memperkuat peran kader dalam pengumpulan data yang lebih akurat untuk program-program kesehatan masyarakat, dan (3) mendukung ketercapaian intervensi spesifik Kemenkes dalam menurunkan stunting. Stunting Prevention Through Child Growth Monitoring Training for Health Cadres in Sutojayan District, Blitar Regency Abstract Based on the 2023 Indonesia Nutrition Status Survey (SSGI), the prevalence of stunting in children under five in Indonesia remains above the WHO threshold of 20%, with East Java having one of the highest rates. One of the Ministry of Health's interventions that has not met its target is child growth monitoring, which has reached only 79.2% of the 85% target Poor quality of growth monitoring is a key issue, as only 33.8% of health cadres record weight measurement results correctly, 1.5% can interpret them accurately, and only 3% of weight measurements taken by cadres are considered accurate. To address this, a training program on child growth monitoring was implemented for health cadres. The training aimed to (1) improve the knowledge and skills of health cadres in accurately monitoring growth, and (2) support the Ministry of Health's specific interventions to reduce stunting. The activity was carried out in three stages: (1) coordination with partners, (2) training delivery including theory and practice, and (3) pre-test and post-test evaluations. The training involved 40 health cadres from 11 villages in Sutojayan Sub-district, Blitar Regency. Data analysis was performed using descriptive statistics. The training successfully improved the cadres' knowledge and skills in identifying stunting and measuring growth. The evaluation results showed an average score increase from 55.65 (moderate category) to 77.15 (good category). This improvement has several implications: (1) better accuracy in posyandu services, reducing errors in data recording and interpretation, (2) stronger roles in collecting more accurate data for public health programs, and (3) supporting the achievement of the Ministry of Health's stunting reduction targets.
Skrining Makanan dan Pendaftaran Sertifikat Halal Gratis (SEHATI) sebagai Upaya Pembentukan Kantin Halal di MTs Negeri I Lombok Timur Junaedi, Muhammad; Karno, Darma; Supiarmo, M. Gunawan; Hasfiani, Yuliatin; Sholihah, Khairiyatun
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2378

Abstract

Keamanan pangan merupakan upaya untuk menjaga mutu dan kualitas makanan dan minuman dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang menyebabkan timbulnya penyakit. Skrining dalam produk halal ialah pendataan bahan, proses produksi, pengecekan dapur tempat produksi, dan pengisian sistem jaminan produk halal oleh pelaku usaha. Program SEHATI merupakan program sertifikat halal gratis sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam menyelenggarakan kewajiban sertifikat halal bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Kantin halal merupakan perwujudan upaya menjaga kemanan pangan bagi anak dilingkungan sekolah yang merupakan kelompok rentan keracunanan makanan karena rasa penasaran dan ingin mencoba yang cukup tinggi tanpa mengetahui bahaya dari konsumsi makanan, sehingga diperlukan adanya penjaminan mutu dan kemanan pangan bagi siswa di sekolah melalui pengelola kantin di lingkungan sekolah. Pengabdian ini bertujuan untuk memberikan edukasi wajib dan standar halal bagi pelaku usaha yang menjual produk makanan dan minuman hasil olahan di kantin sekolah, melakukan pendampingan SEHATI dan outputnya berupa terbentukanya Kantin Halal di MTs Negeri I Lombok Timur. Metode pengabdian dimulai dari perencanaan, pelaksanaan berupa edukasi kewajiban dan standar halal, skrining makanan, verifikasi dan validasi dan pascakegiatan berupa pendaftaran, penerbitan sertifikat dan outputnya berupa pembentukan kantin halal. Hasil Pre-test dan Post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan baik dari 35% menjadi 90% setelah dilakukan edukasi tentang kemanan pangan dan standar halal. Terdapat 18 dari 20 pelaku usaha dengan jenis produk berupa Kerupuk, kripik dan sejenisnya, Pengolahan buah dan sayur, Roti dan kue, Kue basah, Mie, macaroni, Gorengan, Minuman, Masakan olahan yang telah diverifikasi dan validasi dan dalam proses pendaftaran. Food Screening and Free Halal Certificate Registration (SEHATI) For Halal Canteen at MTs Negeri I East Lombok Abstract Food safety is an effort to maintain the quality and quality of food and drinks from possible biological, chemical and other contamination that causes disease. Screening for halal products is the collection of data on ingredients, production processes, checking the kitchen at the production site, and filling out the halal product guarantee system by business actors. The SEHATI program is a free halal certificate program as a form of government support in carrying out halal certificate obligations for small and medium businesses. Halal canteens are an embodiment of efforts to maintain food safety for children in the school environment who are a group vulnerable to food poisoning because their curiosity and desire to try is quite high without knowing the dangers of food consumption, so it is necessary to guarantee the quality and safety of food for students at school through the canteen management at school environment. This service aims to provide mandatory education and halal standards for business actors who sell processed food and beverage products in school canteens, provide SEHATI assistance and the output is the establishment of a Halal Canteen at MTs Negeri I East Lombok. The service method starts from planning, implementation in the form of education on halal obligations and standards, food screening, verification and validation and post-activity in the form of registration, issuance of certificates and the output is the establishment of a halal canteen. Pre-test and post-test results show an increase in good knowledge from 35% to 90% after education about food safety and halal standards. There are 18 out of 20 business actors with product types in the form of crackers, chips and the like, fruit and vegetable processing, bread and cakes, wet cakes, noodles, macaroni, fried foods, and drinks, processed food that have been verified and validated and are in the registration process.
Inovasi Pembelajaran Kurikulum Nasional dengan Pendekatan Understanding by Design (UbD) di Malang Yayuk, Erna; Nuro, Falistya Risatul Maratin
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2388

Abstract

Permasalahan kompetensi guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum nasional menjadi isu yang penting. Kurikulum Merdeka menuntut guru untuk memiliki pemahaman yang mendalam serta keterampilan dalam menerapkan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa, di mana kreativitas, kolaborasi, dan keterlibatan aktif siswa menjadi prioritas. Namun, banyak guru yang masih mengalami kesulitan dalam menguasai pendekatan ini, terutama dalam hal desain pembelajaran yang fleksibel, penggunaan teknologi digital, dan evaluasi yang berbasis kompetensi. Keterbatasan dalam pemahaman konsep pedagogis baru serta kurangnya pelatihan dan pendampingan intensif bagi guru sering kali menghambat keberhasilan penerapan kurikulum ini. Oleh karena itu, pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru melalui pendekatan Understanding by Design secara efektif. Pendekatan Understanding by Design merupakan pendekatan perencanaan pembelajaran yang berfokus pada hasil belajar (desired results) dengan menempatkan pemahaman siswa sebagai tujuan utama. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan lain (tradisional) yang biasanya berfokus pada penyelesaian kurikulum atau penguasaan konten secara langsung tanpa menekankan transfer dan relevansi pembelajaran. Kegiatan ini melibatkan guru-guru SD di Gugus II Kec. Tirtoyudho yang telah menjadi peserta pelatihan sebanyak 19 guru. Metode pelaksanaan kegiatan ini yaitu workshop pelatihan, pendampingan dan impelementasi Pembelajaran di kelas. Dalam pendesiminasian model pembelajaran ini, tim mendampingi dan melakukan observasi. Setelah pelatihan dan pendampingan, sebanyak 85% guru mengalami peningkatan pemahaman tentang prinsip-prinsip UbD, khususnya dalam perencanaan pembelajaran yang berbasis tujuan akhir (backward design). Hasil survei menunjukkan bahwa 80% siswa merasa lebih terlibat dalam proses pembelajaran setelah guru menerapkan pendekatan UbD, yang berfokus pada pembelajaran yang interaktif dan berpusat pada pemahaman mendalam. National Curriculum Learning Innovation with an Understanding by Design Approach in Malang Abstract The issue of teacher competence in implementing the Independent Curriculum as a national curriculum is an important issue. The Independent Curriculum requires teachers to have a deep understanding and skills in applying student-centered learning methods, where creativity, collaboration, and active student involvement are priorities. However, many teachers still have difficulty mastering this approach, especially in terms of flexible learning design, the use of digital technology, and competency-based evaluation. Limitations in understanding new pedagogical concepts and the lack of intensive training and mentoring for teachers often hinder the successful implementation of this curriculum. Therefore, this community service aims to improve teacher competence through an effective Understanding by Design approach. The Understanding by Design approach is a learning planning approach that focuses on learning outcomes (desired results) by placing student understanding as the main goal. This approach is different from other (traditional) approaches that usually focus on completing the curriculum or mastering content directly without emphasizing transfer and relevance of learning. This activity involves elementary school teachers in Cluster II, Tirtoyudho District, who have participated in the training as many as 19 teachers. The method of implementing this activity is a training workshop, mentoring and implementation of classroom learning. In disseminating this learning model, the team accompanies and conducts observations. After training and mentoring, 85% of teachers experienced an increase in understanding of UbD principles, especially in learning planning based on final goals (backward design). Survey results showed that 80% of students felt more engaged in the learning process after teachers implemented the UbD approach, which focuses on interactive and understanding-centered learning.
Pemberdayaan Masyarakat Desa Tabongo Timur Melalui Pengolahan Produk Berbasis Kelapa dan Sacha Inchi untuk Mendukung Pencapaian SDGs Bait, Yoyanda; Salimi, Yuszda K.; Zubair, Mohammad; Rahmatia, Siti; Suleman, Delvi
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 9 No. 4 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/linov.v9i4.2393

Abstract

Program pemberdayaan masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan masyarakat desa Tabongo Timur dalam pengolahan produk berbasis kelapa dan Sacha Inchi. Permasalahan utama yang dihadapi masyarakat adalah rendahnya nilai tambah produk, keterbatasan teknologi, dan kurangnya akses pasar. Untuk meningkatkan nilai tambah produk dilakukan kegiatan dengan metode pelatihan berbasis praktik, transfer teknologi sederhana seperti fermentasi dan sentrifugasi untuk Virgin Coconut Oil (VCO) digunakan untuk memisahkan minyak murni dari kelapa, serta metode cold pressing untuk memastikan kualitas omega 3 minyak sacha Inchi. Program ini melibatkan 20 peserta dari berbagai kelompok masyarakat, termasuk kelompok tani, PKK, BUMDes, dan pemuda desa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan pendapatan. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pemahaman dan ketrampilan rata-rata skor post-test sebesar 35%, kualitas produk yang memenuhi standar pasar karena sudah ada hasil uji dan sertifikat PIRT, dan peningkatan pendapatan masyarakat hingga 30%. Temuan ini mendukung pencapaian tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), seperti pengentasan kemiskinan, pekerjaan layak, dan konsumsi serta produksi yang bertanggung jawab. Program ini menjadi best practice yang relevan untuk direplikasi di komunitas lain dengan potensi serupa. Empowering the Tabongo Timur Community Through Coconut and Sacha Inchi Processing to Support Sustainable Development Goals (SDGs) Abstract This community empowerment program aims to improve the skills and knowledge of the East Tabongo village community in processing coconut-based products and Sacha Inchi. The main problems faced by the community are low added value of products, limited technology, and lack of market access. To increase the added value of the product, activities were carried out with practice-based training methods, simple technology transfer such as fermentation and centrifugation for Virgin Coconut Oil (VCO) used to separate pure oil from coconut, as well as cold pressing methods to ensure the quality of omega 3 sacha Inchi oil. The program involved 20 participants from various community groups, including farmer groups, PKK, BUMDes, and village youth. The results showed an increase in knowledge, skills and income. The evaluation results showed an increase in understanding and skills of the average post-test score by 35%, product quality that meets market standards because there are already test results and PIRT certificates, and an increase in community income by 30%. These findings support the achievement of Sustainable Development Goals (SDGs), such as poverty alleviation, decent work, and responsible consumption and production. This program is a relevant best practice to be replicated in other communities with similar potential.