cover
Contact Name
Ekasatya Aldila Afriansyah
Contact Email
ekafrian@gmail.com
Phone
+628979550972
Journal Mail Official
mosharafajournal@institutpendidikan.ac.id
Editorial Address
Gedung B, Lantai 2, Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut Jalan Pahlawan No. 32 Sukagalih, Garut, Jawa Barat
Location
Kab. garut,
Jawa barat
INDONESIA
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika
ISSN : 20864280     EISSN : 25278827     DOI : https://doi.org/10.31980/mosharafa
Core Subject : Education,
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2086-4280 & e-ISSN: 2527-8827) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Mosharafa terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Januari, Mei, dan September. Penerbit Mosharafa adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 1,165 Documents
Toulmin's Model in Analyzing Students' Combinatoric Argumentation Zahra Alhumairah Basa; Yusuf Hartono; Nyimas Aisyah; Cecil Hiltrimartin
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 4 (2024): October
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i4.76

Abstract

Abstrak Argumentasi kombinatorik merupakan kemampuan penting dalam pembuktian matematika yang menurut model Toulmin, argumentasi tersebut terdiri dari claim, evidence, warrant, dan backing. Tujuan dari penelitian yaitu untuk menganalisis struktur argumentasi kombinatorik mahasiswa menggunakan model Toulmin. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Pada penelitian ini melibatkan 93 mahasiswa semester dua tahun ajaran 2022/2023 di Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Sriwijaya. Pengumpulan data pada penelitian ini melalui tes tertulis. Para mahasiswa diminta untuk memberikan argumentasi kombinatorik pada pembuktian matematika yang berkaitan dengan teorema binomial. Argumentasi kombinatorik tersebut kemudian dianalisis menggunakan model Toulmin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 96% kemampuan argumentasi kombinatorik mahasiswa berada pada level 2 dengan kategori argumentasi kombinatorik disusun dengan kurang baik, serta sebagian besar mahasiswa mengalami kesulitan dalam memberikan claim, evidence, warrant, dan backing dalam argumentasi kombinatorik. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar program pembelajaran difokuskan pada penguatan keterampilan berpikir kritis dan argumentatif, melalui metode diskusi terbimbing, problem-based learning, serta pemberian latihan soal yang mendorong eksplorasi dan pembenaran logis atas setiap jawaban yang diberikan mahasiswa Abstract Combinatorial argumentation is an important ability in mathematical proof, and according to Toulmin's model, the argumentation consists of claim, evidence, warrant, and backing. The purpose of the research is to analyze the combinatorial argumentation structure of undergraduate students using the Toulmin model. The type of research used in this research is descriptive qualitative. This study involved 93 second-semester undergraduate students in the 2022/2023 academic year at the Department of Mathematics Education, Sriwijaya University. Data collection in this study was through written tests. The undergraduate students were instructed to provide combinatorial argumentation on mathematical proofs related to the binomial theorem. The combinatorial argumentation was then analyzed using the Toulmin model. The results showed that 96% of undergraduate students' combinatorial argumentation skills were at level 2 with the category of badly organized combinatorial argumentation, and most undergraduate students had difficulties in providing claim, evidence, warrant, and backing in combinatorial argumentation. Based on these results, it is suggested that the learning program should focus on the improvement of critical and argumentative thinking skills through guided discussions, problem-based learning, and exercises that encourage exploration and logical justification of each answer given by undergraduate students.
Examining The Correlation Between Teachers' Interaction to Student Error and The Development of Students' Mathematical Identities Irwani Zawawi; Sri Suryanti; Lestariningsih Lestariningsih
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 3 (2024): July
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i3.485

Abstract

Komponen penting dari pengajaran matematika yang efektif adalah secara aktif mengatasi kesalahan siswa. Pendekatan pedagogis ini memainkan peran penting dalam meningkatkan keterlibatan siswa. Studi ini menyelidiki cara guru di dua kelas mata pelajaran matematika sekolah menengah dalam memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan identitas mereka, berdasarkan cara guru membahas dan terlibat dengan kesalahan siswa. Data dikumpulkan selama enam bulan melalui rekaman pembelajaran, catatan lapangan, dan wawancara dengan guru dan siswa. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara kualitatif. Penelitian ini mengeksplorasi dua perspektif tentang bagaimana guru menangani kesalahan: persepsi bahwa kesalahan dapat menyebar, dan persepsi bahwa kesalahan dapat berfungsi sebagai peluang belajar yang berharga. Pendekatan guru untuk membahas dan menangani kesalahan dipengaruhi oleh perspektif mereka tentang siswa dan pemikiran logis mereka dalam matematika, yang mempengaruhi identitas yang mereka tunjukkan kepada siswa. Kami menunjukkan bahwa persepsi siswa tentang metode pengolahan kesalahan oleh guru mereka mempengaruhi hubungan mereka dengan matematika. Namun, siswa itu sendiri juga berkontribusi pada pengembangan identitas matematika mereka.Actively addressing student mistakes is an important component of effective mathematics instruction. This pedagogical approach plays an important role in increasing student involvement. The study investigates how teachers in two classes of high school mathematics subjects create opportunities for students to develop their identity as students based on how teaching discusses and engages with student mistakes. We collected the data over six months using learning recordings, field records, and interviews with both teachers and students. This research explores two perspectives on how teachers deal with mistakes: the view that mistakes can spread and the view that mistakes may serve as valuable learning opportunities. The perspectives of students and their logical thinking in mathematics influence the teacher's approach to discussing and dealing with errors, shaping the identity they portray to students. We showed that students' perceptions of the methods of processing their teacher's errors influenced their relationship with mathematics. However, the students themselves also contributed to the development of their mathematical identity.
Behind the Numbers: Revealing the Logical-Mathematical Thinking Abilities of Border College Students Nessy Pattimukay
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 4 (2024): October
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i4.486

Abstract

Abstrak Pengembangan daerah perbatasan tidak hanya ditentukan dari sumber daya alam, tetapi juga kualitas sumber daya manusianya. Kemampuan berpikir logis matematis merupakan salah satu kompetensi yang dibutuhkan dalam berbagai bidang pekerjaan. Oleh karena itu, kemampuan tersebut perlu dimiliki agar tercipta kualitas sumber daya manusia yang dapat bersaing di era global. Tujuan penelitin ini adalah untuk memberikan gambaran yang jelas tentang sejauh mana kemampuan berpikir logis matematis mahasiswa yang berada di perbatasan, agar dapat mengetahui potensi yang dimiliki serta hal-hal yang perlu ditingkatkan khususnya dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain penelitian Cross-Sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada Universitas Pattimura. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, artinya sampel dipilih secara selektif berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Penelitian ini melibatkan 25 mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar yang menempuh mata kuliah pendidikan matematika dan berdomisili di wilayah perbatasan sebagai sampel penelitian.  Pengumpulan data dilakukan melalui tes kemampuan berpikir logis matematis. Dalam penelitian ini, data yang terkumpul diolah dan dianalisis menggunakan metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan berpikir logis mahasiswa di daerah perbatasan adalah 35, 17. Secara umum, tingkat kemampuan berpikir logis matematis mahasiswa di wilayah perbatasan tergolong rendah. Indicator penarikan kesimpulan logis berada pada kategori sedang. Sedangkan indicator pengidentifikasian informasi yang termuat dalam soal serta menyelesaikan masalah matematis secara rasional berada dalam kategori sangat rendah. Kemampuan berpikir logis mahasiswa calon guru sekolah dasar yang rendah akan berdampak pada terhambatnya pembangunan daerah yang membutuhkan kualitas sumber daya manusia. Selain itu juga berdampak pada pendidikan di sekolah dasar karena siswa akan kesulitan memahami materi jika diajarkan oleh guru yang kurang menguasai konsep yang diajarkan. Dengan demikian, penelitian lanjutan diperlukan untuk meningkatkan serta mengembangkan kemampuan berpikir logis matematis. Abstract The development of border areas is not only determined by natural resources but also by the quality of human resources. The ability to think logically and mathematically is one of the competencies needed in various fields of work. Therefore, this ability needs to be possessed to create quality human resources that can compete in the global era. This study aims to provide a clear picture of the extent of the ability to think logically and mathematically of students in the border area, to know the potential they have and things that need to be improved, especially in mathematics learning. This study is a descriptive quantitative study with a Cross-Sectional research design. The population in this study were all Elementary School Teacher Education students at Pattimura University. The sample selection used a purposive sampling technique because the sampling was carried out with certain considerations. The sample in this study was elementary school teacher education students who offered mathematics education courses totaling 25 people who were in the border area. Data collection was carried out through a mathematical logical thinking ability test. The data analysis technique used descriptive analysis. The results of the study showed that the average logical thinking ability of students in the border area was 35.17. Overall, the mathematical logical thinking ability of students in the border area was in a low category. The indicator of logical conclusion drawing is in the moderate category. The indicator of identifying information contained in the problem and solving mathematical problems rationally is in the very low category. The low logical thinking ability of prospective elementary school teachers will have an impact on hampering regional development that requires quality human resources. In addition, it also has an impact on education in elementary schools because students will have difficulty understanding the material if taught by teachers who do not master the concepts being taught. Therefore, further research is needed to improve and develop logical-mathematical thinking skills.
Validity of Flip PDF Based E-Modules as Learning Media on Cube and Cuboid Materials Lucky Heriyanti Jufri; Didi Suryadi; Kusnandi Kusnandi; Turmudi Turmudi
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 4 (2024): October
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i4.965

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas e-modul Berbasis Flip PDF sebagai Media Pembelajaran Untuk Melatih Kemampuan Literasi Matematis Siswa Pada Materi Kubus dan Balok dilihat dari validitas sistem operasi, validitas isi, validitas bahasa dan desain. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Research and Development (R&D) yang mengacu pada model pengembangan Plomp yang terdiri atas 3 (tiga) tahapan, yaitu tahap preliminary research (fase investigasi awal), tahap prototyping phase (pembuatan dan pengembangan prototipe) dan tahap assesment phase (fase penilaian). Namun artikel ini hanya membahas sampai tahapan prototyping phase. Instrumen yang digunakan adalah lembar validasi, angket dan wawancara. Berdasarkan hasil validasi menunjukkan bahwa E-modul Interaktif yang dikembangkan memperoleh persentase rata-rata 87,5% untuk validitas sistem operasi termasuk kategori sangat valid, 80% untuk validitas isi termasuk kategori sangat valid, 90% untuk validitas bahasa termasuk kategori sangat valid dan 85,9 % untuk validitas desain termasuk kategori sangat valid untuk digunakan sebagai media pembelajaran untuk melatih kemampuan literasi matematis siswa. Abstract This research aims to determine the validity of the Flip PDF-based e-module as a learning medium for training students' mathematical literacy skills in cube and block material in terms of operating system validity, content validity, language validity and design. This research uses the Research and Development (R&D) type of research which refers to the Plomp development model which consists of 3 (three) stages, namely the preliminary research stage (initial investigation phase), the prototyping phase (prototype creation and development) and the assessment phase (assessment phase). However, this article only discusses the prototyping phase. The instruments used were validation sheets, questionnaires and interviews. Based on the validation results, it shows that the Interactive E-module developed obtained an average percentage of 87.5% for operating system validity including the very valid category, 80% for content validity including the very valid category, 90% for language validity including the very valid category and 85 .9% for design validity is in the very valid category for use as a learning medium to train students' mathematical literacy skills.
Ethnomathematics of Traditional Houses on Two-Dimensional Figure Decomposition Material Tamara Febriana Salsabiela; Yuli Bangun Nursanti
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 4 (2024): October
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i4.1066

Abstract

Abstrak Penting   bagi   siswa   untuk   mengembangkan   kemampuan   etnomatematika dalam memecahkan  masalah  kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkatan kemampuan siswa dalam etnomatematika konsep dekomposisi bangun datar. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixing methods). Instrumen yang digunakan yaitu lembar kerja peserta didik saat proses pembelajaran materi dekomposisi bangun datar. Subjek penelitian terdiri dari 15 siswa kelas IV B SD Negeri Bakipandeyan 01. Data yang dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif yaitu mereduksi, memaparkan, dan menyimpulkan. Hasil menunjukan bahwa nilai skor siswa ≥ 80 dengan jumlah siswa sebanyak 15 orang dan persentase 100 % maka dapat disimpulkan tingkat kemampuan siswa dalam etnomatematika konsep dekomposisi bangun datar pada rumah adat Jawa dan menyebutkan sifat-sifat bangun datar tersebut sangat baik dengan kategori A. Dengan demikian, rumah adat Jawa dapat menjadi alternatif dalam sumber belajar Matematika pada materi Dekomposisi Bangun Datar. Abstract It is important for students to develop ethnomathematical abilities in solving daily life problems. This study aims to determine the level of students' ability in ethnomathematics of the concept of two-dimensional figures decomposition. This research uses mixed methods. The instrument used was student worksheets during the learning process of two-dimensional figures decomposition material. The research subjects consisted of 15 students of class IV B SD Negeri Bakipandeyan 01. The data were analyzed using qualitative data analysis techniques, namely reducing, describing, and concluding. The results show that the student score ≥ 80 with a total of 15 students and a percentage of 100%, it can be concluded that the level of students' ability in ethnomathematics the concept of decomposition of two-dimensional figures in Javanese traditional houses and mentioning the properties of these two-dimensional figures is very good with category A. Thus, Javanese traditional houses can be an alternative in learning resources for Mathematics on Two-dimensional figures Decomposition material.
Students' Reflective Thinking Profiles in Problem-Solving Based on Mathematical Resilience Lilik Ariyanto; Supandi Supandi; Widya Kusumaningsih
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 3 (2024): July
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i3.1435

Abstract

Penelitian ini berkontribusi pada penelitian yang terus berkembang yang menyoroti kemampuan berpikir reflektif siswa jika ditinjau dari resiliensinya dalam menyelesaikan permasalahan matematis. Kami mengeksplorasi resiliensi matematis dari 36 siswa yang diklasifikasi menjadi tiga kelompok tingkatan, yaitu rendahm sedang dan tinggi. Selanjutnya, masing-masing kelompok dipilih 2 siswa yang diteliti untuk mengetahui profil berpikir reflektifnya dalam memecahkan masalah matematis. Penelitian kami melihat tiga indikator berpikir reflektif, yaitu: elaborating/comparing dan contemplanting. Kami menggunakan soal pemecahan masalah dan pedoman wawancara yang telah tervalidasi oleh ahli dari kalangan pendidik dan praktisi. Sedangkan triangulasi data yang digunakan adalah metode. Penelitian ini mengidentifikasi secara empiris tiga "profil" yang berbeda dalam hal berpikir reflektif matematis. Profil-profil tersebut adalah: Siswa yang memiliki resiliensi matematis tinggi mampu memenuhi 3 fase berpikir reflektif yaitu fase reacting, comparing dan contemplatin, Siswa yang memiliki resiliensi matematis sedang hanya mampu memenuhi 2 fase berpikir reflektif yaitu fase reacting dan fase comparing, Siswa yang memiliki resiliensi matematis rendah hanya mampu memenuhi 1 fase berpikir reflektif yaitu fase reacting. This study contributes to the growing body of research that highlights students' reflective thinking abilities in relation to their resilience in solving mathematical problems. We explored the mathematical resilience of 36 students, classified into three level groups: low, medium and high. Furthermore, we selected two students from each group to investigate their reflective thinking profiles in solving mathematical problems. Our research examined three indicators of reflective thinking: elaborating/comparing and contemplating. We employed problem-solving questions and interview guidelines that have been validated by experts, including educators and practitioners. Meanwhile, Triangulation of data was used as the research method. This study empirically identified three distinct "profiles" of mathematical reflective thinking. These profiles are: Students with high mathematical resilience can fulfil all three phases of reflective thinking: reacting, comparing, and contemplating; Students with moderate mathematical resilience can only fulfil two phases of reflective thinking: reacting and comparing; Students with low mathematical resilience can only fulfil one phase of reflective thinking: reacting.
Graphing Quadratics Worksheet Performance in Optimizing Mathematical Visual Thinking: A Single Subject Research Giyanti Giyanti; Rina Oktaviyanthi
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 2 (2024): April
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i2.1470

Abstract

Kurangnya kemampuan berpikir visual matematis pada mahasiswa dapat menghambat pemahaman konsep fungsi kuadrat secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah tersebut dengan mengevaluasi efektivitas worksheet graphing quadratics dalam meningkatkan kemampuan berpikir visual matematis mahasiswa. Metode penelitian yang digunakan adalah Single Subject Research (SSR), yang berfokus pada perubahan performa individu dalam kondisi baseline dan intervensi. Partisipan terdiri dari tiga mahasiswa tingkat pertama program studi pendidikan matematika di Universitas Serang Raya. Data kinerja mahasiswa dikumpulkan melalui tiga sesi pada fase baseline dan lima sesi pada fase intervensi. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi linier untuk mengukur perbedaan signifikan antara fase baseline dan intervensi. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam performa setiap subjek selama fase intervensi, dengan adanya peningkatan level, kecenderungan perubahan yang kuat, dan perubahan segera setelah intervensi dimulai. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan worksheet graphing quadratics efektif dalam mengoptimalkan kemampuan visualisasi matematis mahasiswa. The limited visual mathematical thinking abilities of students can hinder a deep understanding of quadratic functions. This study aims to address this issue by evaluating the effectiveness of graphing quadratics worksheets in enhancing students' visual mathematical thinking. The research employs a Single Subject Research (SSR) method, focusing on individual performance changes across baseline and intervention phases. Three first-year students from the mathematics education program at Universitas Serang Raya participated in the study. Performance data were collected over three sessions in the baseline phase and five sessions in the intervention phase. Linear regression analysis was used to assess significant differences between baseline and intervention phases. The results indicated a significant improvement in each subject's performance during the intervention, with an increase in level, a strong trend, and immediate change upon the intervention’s onset. These findings suggest that graphing quadratics worksheets effectively optimize students' mathematical visualization skills.
Teachers' Ability to Develop Mathematics Teaching Modules: Study of the Implementation of the Independent Curriculum in Pontianak City Yulis Jamiah; Marianus Hengki; Nurfadilah Siregar; Nadya Febriani Meldi
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 3 (2024): July
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i3.1475

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kemampuan guru matematika SMP/SMA/SMK di Pontianak dalam mengembangkan perangkat pembelajaran berdasarkan Kurikulum Merdeka. Tujuan spesifiknya adalah: 1) mendeskripsikan kemampuan guru dalam menjabarkan kriteria perangkat pembelajaran Kurikulum Merdeka, dan 2) mendeskripsikan kemampuan guru dalam menjabarkan komponen perangkat pembelajaran Kurikulum Merdeka. Penelitian ini mencakup beberapa tahap: analisis teori kemampuan guru, eksplorasi karakteristik perangkat pembelajaran, identifikasi masalah, kajian perangkat pembelajaran hasil pengembangan guru, serta pengumpulan data melalui angket, wawancara, dan observasi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan analisis data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam mengembangkan perangkat pembelajaran, khususnya dalam menjabarkan tiga komponen dan empat kriteria perangkat pembelajaran Kurikulum Merdeka, berada pada kategori baik. Namun, kemampuan dalam menjabarkan item setiap komponen dan kriteria perangkat pembelajaran berada pada kategori cukup baik.This study aims to assess the abilities of junior high, senior high, and vocational school mathematics teachers in Pontianak in developing learning tools based on the Merdeka Curriculum. Specifically, it seeks to: 1) describe teachers' abilities in detailing the criteria for Merdeka Curriculum learning tools, and 2) describe teachers' abilities in detailing the components of Merdeka Curriculum learning tools. The study includes several stages: theoretical analysis of teachers' abilities, exploration of learning tool characteristics, problem identification, review of learning tools developed by teachers, and data collection through questionnaires, interviews, and observations. The research employs a descriptive method with both qualitative and quantitative data analysis. Results indicate that teachers' abilities in developing learning tools, particularly in detailing three components and four criteria of the Merdeka Curriculum learning tools, are categorized as good. However, their ability to detail each item of the components and criteria is categorized as fair good.
Thinking Process of Mildly Retarded Students in Solving Square and Rectangle Contextual Problems Based on IDEAL Problem Solving Abi Suwito; Annisa Istiqomah; Erfan Yudianto; Lela Safrida; Susanto Susanto; Reza Ambarwati
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 4 (2024): October
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i4.1614

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis proses berpikir siswa tunagrahita ringan dalam menyelesaikan masalah kontekstual persegi dan persegi panjang berdasarkan pemecahan masalah IDEAL. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah 2 siswa tunagrahita ringan di SLB-C TPA Negeri 1 Branjangan. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan wawancara. Instrumen penelitian ini yaitu peneliti, soal tes, dan pedoman wawancara. Proses berpikir kedua subjek cenderung mengalami proses disequilibrium, asimilasi, akomodasi dan equilibrium pada lima tahap IDEAL. Subjek mengalami disequilibrium ketika subjek tidak dapat memahami maksud dari soal karena belum pernah menjumpai masalah kontekstual sebelumnya, mengalami asimilasi ketika subjek menjawab pertanyaan dari peneliti secara spontan, mengalami akomodasi ketika subjek dapat menjawab pertanyaan dengan benar yang awalnya salah, dan mengalami equilibrium ketika subjek mampu memahami serta menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan benar. Hasil penelitian ini berimplikasi bagi dunia Pendidikan khususnya sekolah yang memiliki siswa tunagrahita ringan dalam mendesain pembelajaran yang dapat memfasilitasi pemecahan masalah. Abstract The purpose of this research was to analyze the thought process of mildly retarded students in solving square and rectangular contextual problems based on IDEAL problem solving. This type of research was descriptive research with a qualitative approach. The subjects were 2 mildly retarded students at SLB-C TPA Negeri 1 Branjangan. The data collection methods used were tests and interviews. The instruments of this research were researchers, test questions, and interview guidelines. The thinking process of the two subjects tends to experience the process of disequilibrium, assimilation, accommodation and equilibrium at the five stages of IDEAL. The subject experienced disequilibrium when the subject could not understand the meaning of the problem because he had never encountered contextual problems before, experienced assimilation when the subject answered questions from the researcher spontaneously, experienced accommodation when the subject could answer questions correctly which were initially wrong, and experienced equilibrium when the subject was able to understand and answer the questions. The results of this study have implications for the world of education, especially schools with mildly retarded students in designing learning that can facilitate problem solving.
Students’ Mathematical Problem-Solving Ability from the Perspective of Mathematical Anxiety Levels Hanifa Dina Aulia Dewi Umbara; Suhendra Suhendra; Al Jupri
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 13 No. 3 (2024): July
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v13i3.1640

Abstract

Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di Indonesia masih tergolong rendah, dengan kecemasan matematis diidentifikasi sebagai salah satu penyebab utamanya. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa berdasarkan tingkat kecemasan matematisnya, menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Partisipan terdiri dari 39 siswa kelas XI dari sebuah SMA di Kota Serang, Provinsi Banten, yang telah mempelajari barisan dan deret geometri. Data dikumpulkan melalui tes tulis untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah matematika serta menggunakan teknik non-tes seperti kuesioner kecemasan matematis dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat kecemasan matematis rendah memenuhi semua indikator kemampuan pemecahan masalah matematis, siswa dengan tingkat kecemasan matematis sedang memenuhi tiga dari empat indikator, dan siswa dengan tingkat kecemasan matematis tinggi hanya memenuhi satu dari empat indikator tersebut. Oleh karena itu, guru dan siswa harus mempertimbangkan strategi yang tepat untuk mengurangi kecemasan matematis dalam metode pembelajaran guna meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa.The mathematical problem-solving ability (MPSA) of students in Indonesia is low, with mathematical anxiety identified as a contributing factor. This research sought to explore students' MPSA from the perspective of mathematical anxiety levels using a qualitative approach with a case study method. The participants included 39 grade XI students from a senior high school in Serang City, Banten Province, who had learned arithmetic and geometric sequences. Data collection included written tests for MPSA and non-test techniques such as mathematical anxiety questionnaire and interviews. The results reveal that students with low mathematical anxiety level fulfilled all the indicators of MPSA, students with moderate mathematical anxiety level fulfilled three of the four indicators of MPSA, and students with high mathematical anxiety level only fulfilled one of the four indicators of MPSA. Therefore, teachers and students should consider appropriate strategies to reduce mathematical anxiety in learning methods, aiming to enhance students’ mathematical problem-solving ability.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): January Vol. 14 No. 4 (2025): October Vol. 14 No. 3 (2025): July Vol. 14 No. 2 (2025): April Vol. 14 No. 1 (2025): January Vol. 13 No. 4 (2024): October Vol. 13 No. 3 (2024): July Vol. 13 No. 2 (2024): April Vol. 13 No. 1 (2024): January Vol. 12 No. 4 (2023): October Vol. 12 No. 3 (2023): July Vol 12, No 3 (2023) Vol. 12 No. 2 (2023): April Vol 12, No 2 (2023) Vol. 12 No. 1 (2023): January Vol 12, No 1 (2023) Vol. 11 No. 3 (2022): September Vol 11, No 3 (2022) Vol. 11 No. 2 (2022): Mei Vol 11, No 2 (2022) Vol 11, No 1 (2022) Vol. 11 No. 1 (2022): Januari Vol. 10 No. 3 (2021): September Vol 10, No 3 (2021) Vol. 10 No. 2 (2021): Mei Vol 10, No 2 (2021) Vol. 10 No. 1 (2021): Januari Vol 10, No 1 (2021) Vol. 9 No. 3 (2020): September Vol 9, No 3 (2020) Vol 9, No 2 (2020) Vol. 9 No. 2 (2020): Mei Vol. 9 No. 1 (2020): Januari Vol 9, No 1 (2020) Vol 8, No 3 (2019) Vol. 8 No. 3 (2019): September Vol 8, No 2 (2019) Vol. 8 No. 2 (2019): Mei Vol. 8 No. 1 (2019): Januari Vol 8, No 1 (2019) Vol 7, No 3 (2018) Vol. 7 No. 3 (2018): September Vol. 7 No. 2 (2018): Mei Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol. 7 No. 1 (2018): Januari Vol 6, No 3 (2017) Vol. 6 No. 3 (2017): September Vol. 6 No. 2 (2017): Mei Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol. 6 No. 1 (2017): Januari Vol 5, No 3 (2016) Vol. 5 No. 3 (2016): September Vol. 5 No. 2 (2016): Mei Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol. 5 No. 1 (2016): Januari Vol 4, No 3 (2015) Vol. 4 No. 3 (2015): September Vol. 4 No. 2 (2015): Mei Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol. 4 No. 1 (2015): Januari Vol 3, No 3 (2014) Vol. 3 No. 3 (2014): September Vol. 3 No. 2 (2014): Mei Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol. 3 No. 1 (2014): Januari Vol. 2 No. 3 (2013): September Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol. 2 No. 2 (2013): Mei Vol 2, No 1 (2013) Vol. 2 No. 1 (2013): Januari Vol. 1 No. 2 (2012): September Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) Vol. 1 No. 1 (2012): Mei More Issue