cover
Contact Name
Muhammad As'ad
Contact Email
muhammad.asad@tebuireng.net
Phone
+6281270204679
Journal Mail Official
tebuirengjournal@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari, Jl. Irian Jaya No.55, Cukir, Kec. Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61471
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
ISSN : 27468127     EISSN : 27752151     DOI : https://doi.org/10.33752/tjiss.v1i1
This journal is devoted to publishing articles dealing with issues and developments in Islamic studies in general, and the relation of Islam and the society in Indonesia from all disciplines: anthropology, culture, education, economy, history, law, sociology, and politics. The journal is published twice a year: December and July.
Articles 138 Documents
Ketuhanan dan Kerakyatan: Telaah Politik Islam KH Wahid Hasyim Ferhadz Ammar Muhammad
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 5 No. 1 (2024): Tebuireng Journal of Islamic Studies and Society (TJISS)
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v5i1.6874

Abstract

This paper discusses the Islamic political thought of KH Abdul Wahid Hasyim - more often written by KH Wahid Hasyim (1914-1953) in the context of statehood. This study shows that Wahid Hasyim can be categorized as a figure in the discourse of Islamic political thought from Indonesia. This research uses qualitative methods and literature approaches. The data obtained came from library materials written directly by Wahid Hasyim and reliable sources in the form of main books discussing Wahid Hasyim, anthologies of works from academics, and reviews from newspapers. The information obtained was analyzed using descriptive-analytical and historical methods. This research found that Wahid Hasyim's thoughts on statehood were formulated through two themes, namely divinity and democracy. In contrast to a number of Islamic political thinkers who tend to be biased towards one of the two, Wahid Hasyim is actually able to integrate divinity and democracy in one frame, namely Indonesian democracy, as can be seen in a number of his works.
Discourse on Amar Ma’ruf Nahi Munkar in Islamic Theology Akhmad Jazuli Afandi
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 5 No. 2 (2024): Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v5i2.7741

Abstract

Abstract: This article aims to provide an in-depth analysis of the theory and application of Amar Ma'ruf Nahi Munkar in Islamic Theology. Amar ma'ruf nahi munkar is the practical side of Shari’a Islamiyah; regardless of their theological affiliation, every Muslim must perform it. This research thoroughly examines the primary issue through descriptive methodology and hermeneutic analysis to accomplish this objective. In Turâth Islamy, the ulama understands it differently, as the data collection and analysis results show. Qâdi 'Abd al-Jabbâr, one of the Mu'tazilite scholars, wrote in Sharh al-Ushûl al-Khamsah discussing the concept of Amar Makruf Nahi Munkar; al-Ghazali and al-Zamakhsarî have also reflected on it. The most authoritative sources in the Muslim world show that the Amar Makruf Nahi Munkar contained the element and value of humanism. It provides various important points and guidelines that individuals can apply in real-life situations. Among these points and guidelines are the doctrine that judging for good must be done in stages, according to the competence of the offender, and using appropriate methods.
Histeria dan Gangguan Jin Dalam Islam: Mengurai Fenomena Kesurupan Dari Sudut Pandang Al-Qur’an Rifqatul Husna; Nayyiratudz Tadzkiroh
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 5 No. 2 (2024): Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v5i2.8176

Abstract

Fenomena kesurupan merupakan peristiwa yang sering terjadi di tengah-tengah masyarakat. Terlebih pada zaman sekarang, banyak orang yang mengkaitkan fenomena kesurupan dengan arwah orang yang sudah mati. Pada artikel ini akan meneliti tentang pandangan ulama tafsir terkait fenomena kesurupan berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 275 yang kemudian dikaitkan dengan pandangan masyarakat terkait fenomena kesurupan karena arwah orang mati. Adapun metode penelitian yang penulis gunakan yaitu metode deskriptif analisis dengan menggunakan data-data pustaka sehingga penelitian ini bersifat library research. Metode tafsir yang digunakan pada penelitian ini adalah metode tafsir tematik. Adanya penelitian ini dapat membantu masyarakat untuk meyakini suatu hal dengan berdasarkan dalil agama, yaitu Al-Qur’an, hadis, dan kesepakatan ulama. Serta melunturkan keyakinan-keyakinan yang hanya berporoskan pada presepsi saja. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah definisi dari kesurupan yang merupakan sebuah perilaku yang dilakukan oleh seseorang di luar kesadaran atau kendali dirinya. Penyebab kesurupan dapat terjadi karena dua faktor yaitu; (1) penyakit saraf dan (2) gangguan jin. Akan tetapi mayoritas ulama tidak membenarkan pendapat pertama. Para ulama tafsir lebih menetapkan bahwa kesurupan terjadi karena ulah jin yang merasuki diri seseorang. Tidak ada arwah orang mati dapat merasuki tubuh seseorang, karena ruh orang mati telah kembali kepada alamnya yaitu alam barzakh.
Integration of Islamic Education And Science In Realizing A Superior Generation For Indonesia Gold 2045 in Pesantren Tebuireng Sa'adiyah, Maidatus; Azah, Nur; Kumala, Akhsinatul; Arini, Aida; Rosyidin, Muhammad Abror; Raharjo, Resdianto Permata
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 5 No. 2 (2024): Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v5i2.8245

Abstract

Pesantren is known as a traditional educational institution with the yellow book. However, with all its traditionalism, pesantren have been in contact with the development of science. Thus, pesantren emerged that integrated their traditional Islamic education with science and technology, such as Pesantren Sains Tebuireng Jombok and Pondok Putri Pesantren Tebuireng Kesamben Jombang. Then, this can be linked to the role of pesantren in helping to realize the vision of Indonesia Gold 2045, welcoming 100 years of Indonesia. This research aims to document, describe, and understand how these two institutions integrate Islamic education and science to create an excellent generation toward the Golden Indonesia 2045. In addition, it is also to provide inspiration for other pesantren institutions, that the intersection of science with pesantren is not a taboo. The research approach is descriptive qualitative with an observational research method. Active and full participatory observation (total participant observation) was chosen with the aim of having the researcher as the main instrument or tool of the research, directly and fully involved in every process and activity related to the research subject.
Analisis Konten Dakwah “Ruang Ibadah Ruang Kehidupan” Pada Akun Instagram @sambungsinema Al Hidayahtul Mus Qoimah; Dimas Setyawan Saputro; Ali Nurdin
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 5 No. 2 (2024): Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v5i2.8345

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh perkembangan teknologi yang semakin canggih, sehingga semakin memudahkan penyampaian pesan dakwah melalui teknologi tersebut. Saat ini, dakwah tidak hanya dilakukan di atas mimbar tetepi sudah merambah ke sosial media dan perfilman. Hal inilah yang mendorong penulis untuk melalukan penelitian terhadap Film pendek Ruang Ibadah Ruang Kehidupan yang diproduksi oleh Sambung Sinema. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna denotasi, konotasi dan mitos yang terdapat di dalam film pendek Ruang Ibadah Ruang Kehidupan dan mengetahui apa saja pesan dakwah yang terkandung di dalam film pendek Ruang Ibadah Ruang Kehidupan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan dokumentasi, dengan menerapkan sebuah teknik alanisis data, yaitu analisis semiotika dengan menggunakan model Roland Barthes. Dengan menggunakan analisis semiotika Roland Barthes inilah penulis dapat mengetahui makna denotasi, konotasi dan mitos, serta pesan-pesan dakwah yang terkandung di dalam film pendek Ruang Ibadah Ruang Kehidupan. Hasilnya penulis menemukan bahwasannya objek penelitian analisis semiotika adalah gambar/visual, tipe pengambilan gambar/ jenis shot dan suara/audio. Penulis juga menemukan makna denotasi, konotasi dan mitos yang terdapat di film pendek tersebut, yakni menegur, berterima kasih, menyegerakan sesuatu yang baik, jangan membalas perbuatan jahat dengan perbuatan jahat pula, dan meminta maaf dan memafkan
Peran Mudir dalam Menanamkan Moderasi Beragama Demi Mencegah Tindak Terorisme di Lingkungan Pesantren Mustahafawiyah Mandailing Natal Arianto, Nanang; Datuk Imam Marzuki; Susanti Hasibuan; Desiana
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 5 No. 2 (2024): Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v5i2.8411

Abstract

Mudir is actually the highest leader in the Islamic boarding school and is an icon of the Islamic boarding school itself. The mudir must be at the forefront and be the spearhead of the Islamic boarding school's progress. Mudir must also play a role in preventing the flow of radicalism from spreading within the Musthafawiyah Islamic boarding school. And currently H. Mustafa Bakri Nasution is believed to be the mudir of the Musthafawiyah Islamic boarding school who has a very important role in maintaining the ideological traditions of the Musthafawiyah Islamic boarding school. The aim of this research is to see the role of H. Mustafa Bakri Nasution as the mudir of the Musthafawiyah Islamic boarding school in preventing radicalism from targeting its students, and how the mudir's efforts to implement the ideology of religious moderation within the Musthafawiyah Islamic boarding school environment. The purpose of this study is to see how the role of H. Mustafa Bakri Nasution as the head of the Musthafawiyah Islamic boarding school in preventing radicalism that targets his students, and how the head's efforts to implement religious moderation in the Musthafawiyah Islamic boarding school environment. This study uses a qualitative methodology by making students, educators and the head as data collection instruments and using descriptive as a technique for describing it. The results of this study indicate that the role of the head of the Musthafawiyah Islamic boarding school in preventing the entry of radicalism is by controlling the curriculum to comply with the Ministry of Education and Technology and controlling the quality of ustadz/ustadzah as educators at the Islamic boarding school. In addition, the head is selective about thoughts that come from outside, and collaborates with parties who contribute to bringing Islamic thought that develops in accordance with Islamic teachings that have become a traditional ideology in the Mustafawiyah Islamic boarding school environment.
Philosophy of Education in Western and Islamic Perspectives Rosyidin, Muhammad Abror; Haris, Abd
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 5 No. 2 (2024): Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v5i2.8419

Abstract

Philosophy and philosophy of education cannot be separated; both have a very close relationship. Moreover, the philosophy of Islamic education undeniably has a connection with Western educational philosophy as an initial inspirator of the philosophical movement in Islam. This research is a qualitative study with a literature review. The data is taken from various related literatures. The focus is on (1) the relationship between Philosophy and Philosophy of Education, (2) the historical development of Western philosophy of education, (3) the historical development of Islamic philosophy of education, and (4) the comparison of Western and Islamic philosophy of education. The results are: (1) philosophy of education is defined as a normative science in the domain of education, (2) philosophy of education focuses on two normative scientific functions: formulating the foundation, goals, and understanding of the nature of humans, as well as the essence of the realm of education, (3) Western philosophy of education tends to emphasize education oriented towards progress and prioritizes logic, (4) Islamic philosophy of education emerged due to the advancement of Islam during the Abbasid golden age, (5) the similarities between Western and Islamic philosophy of education lie in nativistic, empiricist, and convergence theories, while the differences are that Western philosophy is anthropocentric and Islamic philosophy is theocentric, Western philosophy is based on human thought, Islamic philosophy is based on revelation dialogued with reason, Western philosophy focuses on knowledge, Islamic philosophy bases itself as a religion, Western philosophy considers evaluation to be done by oneself and others, while Islamic philosophy it to be done by oneself, others, and God.
Regulasi Batas Usia Perkawinan di Negara Muslim: Tinjauan Hukum dan Implementasinya Karini, Eti; Prayitno, Daru; Firdawaty, Linda
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 5 No. 2 (2024): Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v5i2.8444

Abstract

Kebijakan batas usia perkawinan menjadi isu penting dalam hukum keluarga Islam di banyak negara Muslim. Pernikahan dianggap sebagai institusi sosial dan agama untuk membangun rumah tangga dan menjaga nilai-nilai moral Islam. Namun, batas usia perkawinan sering menjadi perdebatan karena setiap negara Muslim memiliki regulasi yang berbeda, dipengaruhi oleh tradisi lokal, interpretasi hukum Islam, dan hukum internasional. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui regulasi batas usia perkawinan di negara-negara Muslim beserta dasar hukum yang mendasarinya; (2) Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan implementasi regulasi tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif, dan teknik pengumpulan data melalui dokumentasi. Sumber data yang digunakan adalah berbagai literatur yang membahas topik penelitian, dengan analisis deskriptif dan analisis konten teori Klaus Krippendorff. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi batas usia perkawinan di negara-negara Muslim seperti Indonesia, Malaysia, dan Mesir memiliki ketentuan yang berbeda. Di Indonesia, usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun berdasarkan UU No. 16 Tahun 2019. Di Malaysia, usia minimal untuk perempuan adalah 16 tahun dan laki-laki 18 tahun berdasarkan Hukum Keluarga Islam Malaysia. Sementara di Mesir, batas usia pernikahan adalah 18 tahun menurut Undang-Undang Keluarga Mesir No. 1 Tahun 2000. Implementasi regulasi ini dipengaruhi oleh faktor budaya, agama, sistem hukum, ekonomi, dan pendidikan. Meskipun regulasi menetapkan batas usia minimal yang lebih tinggi, budaya dan tradisi lokal sering mendorong pernikahan dini, terutama di beberapa wilayah.
Efektivitas Program Konseling Pra-Nikah dalam Mengurangi Konflik Rumah Tangga: Studi Perbandingan di Indonesia dan Malaysia Dharmayani, Dharmayani; Hendriyadi, Hendriyadi; Bunyamin, Mahmudin; Santoso, Rudi
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 5 No. 2 (2024): Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v5i2.8446

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas program konseling pra-nikah dalam mengurangi tingkat konflik rumah tangga dan perceraian di Indonesia dan Malaysia. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data dikumpulkan melalui studi literatur dari jurnal, buku, dan website yang relevan, termasuk laporan dari lembaga pemerintah dan non-pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling pra-nikah memiliki dampak positif yang signifikan dalam meningkatkan komunikasi pasangan, mengurangi konflik, dan menurunkan tingkat perceraian di kedua negara. Di Indonesia, pasangan yang mengikuti konseling pra-nikah mengalami tingkat perceraian yang lebih rendah (2,5%) dibandingkan dengan pasangan yang tidak mengikuti konseling (15-20%). Sementara itu, di Malaysia, program ini juga menunjukkan hasil yang serupa dengan tingkat perceraian yang lebih rendah (5-8%). Selain itu, program konseling juga berkontribusi pada pengurangan kekerasan rumah tangga dan peningkatan kepuasan pernikahan di kedua negara. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan program termasuk kualitas konselor, keterbukaan pasangan, kesesuaian program dengan nilai budaya, serta dukungan keluarga. Perbedaan signifikan antara Indonesia dan Malaysia terletak pada struktur program, tingkat partisipasi, dan dukungan sosial yang lebih kuat di Malaysia. Temuan ini menunjukkan bahwa konseling pra-nikah dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kualitas pernikahan dan mengurangi konflik rumah tangga, meskipun tantangan budaya dan keterbatasan sumber daya di Indonesia masih perlu diperhatikan untuk meningkatkan efektivitas program di negara tersebut.
Model Pendidikan Pra-Nikah di Negara Muslim: Mengatasi Krisis Pernikahan Melalui Kursus Calon Pengantin Sufi'y, Mhd; Basuki, Aziz; Mahmudah, Siti
Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society Vol. 5 No. 2 (2024): Tebuireng: Journal of Islamic Studies and Society
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/tjiss.v5i2.8467

Abstract

Peningkatan angka perceraian dan permasalahan keluarga di berbagai negara Muslim telah mendorong perhatian pada pentingnya pendidikan pra-nikah sebagai upaya preventif. Artikel ini membahas model pendidikan pra-nikah yang diterapkan di negara-negara Muslim, dengan fokus pada kursus calon pengantin sebagai instrumen strategis untuk mengatasi krisis pernikahan. Kursus ini bertujuan membekali pasangan dengan pengetahuan tentang hukum keluarga Islam, komunikasi efektif, manajemen konflik, dan kesehatan reproduksi. Studi ini mengidentifikasi berbagai pendekatan yang digunakan di negara-negara Muslim, seperti Malaysia, Indonesia, dan Uni Emirat Arab, dan Mesir serta mengevaluasi efektivitasnya dalam membangun ketahanan keluarga. Penelitian menunjukkan bahwa kursus calon pengantin yang komprehensif dan berbasis nilai-nilai Islam mampu meningkatkan kesiapan pasangan dalam menghadapi dinamika kehidupan pernikahan, menurunkan tingkat perceraian, dan mempromosikan stabilitas keluarga. Rekomendasi disampaikan untuk mengintegrasikan pendidikan pra-nikah ke dalam kebijakan nasional dan memperkuat sinergi antara pemerintah, institusi agama, dan masyarakat dalam mengoptimalkan hasilnya.

Page 5 of 14 | Total Record : 138