cover
Contact Name
Yoni Sunaryo
Contact Email
yonisunaryo@unigal.ac.id
Phone
+6282317426278
Journal Mail Official
sunaryoyoni@gmail.com
Editorial Address
Jl. R.E. Martadinata No. 150 Ciamis
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan)
Published by Universitas Galuh
ISSN : -     EISSN : 27226069     DOI : http://dx.doi.org/10.25157/j-kip.v1i2
Core Subject : Education, Social,
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) merupakan jurnal untuk mempublikasikan hasil penelitian dalam bidang Pendidikan. Terbit secara berkala satu tahun tiga kali yakni pada bulan Februari, Juni dan Oktober. J-KIP dikelola oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Galuh dan mempublikasikan kajian teori ataupun penelitian dalam bidang Pendidikan baik itu dari Peneliti, Mahasiswa, Guru, Dosen, dan Praktisi Pendidikan. Ruang lingkup artikel ilmiah yang dapat diterbitkan dalam J-KIP meliputi: Kurikulum dalam Pengajaran Kemampuan Berpikir Model Pembelajaran Media dan Multimedia Pembelajaran Penilaian (Assesment) dan Evaluasi dalam Pengajaran Pengembangan Profesional Guru Konsep Materi Pelajaran DDR
Articles 531 Documents
PENGARUH PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN DAN LITERASI DIGITAL MELALUI INDIVIDUAL ENTREPRENEURIAL ORIENTATION TERHADAP MINAT BERWIRAUSAHA MAHASISWA Lestari, Refiana Putri; Totalia, Salman Alfarisy
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 6, No 3 (2025): OKTOBER
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v6i3.18226

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kewirausahaan dan literasi digital terhadap minat berwirausaha dengan menggunakan mediator Individual Entrepreneurial Orientation (IEO). Penelitian ini dilaksanakan pada Program Studi Pendidikan Ekonomi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelaas Maret Surakarta dengan sampel sebanyak 152 mahasiswa yang terdiri dari angkatan 2021 dan 2022 dengan kriteria sudah atau sedang mengikuti mata kuliah kewirausahaan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif melalui pendekatan deskriptif dan analisis data menggunakan IBM SPSS 26. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan kewirausahaan dan literasi digital berpengaruh signifikan terhadap IEO yang tentunya akan berpengaruh secara signifikan terhadap minat berwirausaha. Analisis jalur menunjukkan bahwa adanya IEO yang berperan sebagai mediator dapat memperkuat hubungan antara pendidikan kewirausahaan, literasi digital, dan minat berwirausaha. Penelitian ini memberikan saran bagi mahasiswa untuk aktif mengikuti kegiatan kewirausahaan seperti hibah, Wirausaha Merdeka, PKM. Penelitian ini juga memberikan saran kepada peneliti selanjutnya untuk menambah subjek dan mengeksplor variabel mediasi lainnya.
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS V PADA MATERI SIKLUS AIR Gunawan, Rendra; Panjaitan, Regina Lichteria; Ismail, Ali
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 6, No 3 (2025): OKTOBER
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v6i3.19606

Abstract

Kekurangan kesempatan untuk melatih pemikiran kritis dalam proses pembelajaran menyebabkan siswa menghadapi berbagai kesulitan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh model problem based learning (PBL), dampaknya terhadap keterampilan pemikiran kritis siswa kelas V pada topik siklus air, serta perbandingan pemikiran kritis antara pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran konvensional. Metode quasi-eksperimental dengan desain kelompok kontrol non-ekuivalen digunakan. Sampel terdiri dari siswa kelas V dari SDN 2 Rajapolah (29 siswa) dan SDN 6 Rajapolah (32 siswa), yang dipilih menggunakan sampling purposive. Alat ukur meliputi pedoman observasi dan tes esai. Hasil menunjukkan bahwa model pembelajaran berbasis masalah diterapkan dengan sangat baik, dengan skor aktivitas guru dan siswa mencapai 83% pada pertemuan pertama dan 96% pada pertemuan kedua. Uji hipotesis menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah secara signifikan mempengaruhi keterampilan berpikir kritis siswa (sig. 2-tailed 0,000 < 0,05) dengan ukuran efek besar (1,284 > 0,8). Kemudian, keterampilan berpikir kritis pada model pembelajaran berbasis masalah dan model pembelajaran konvensional menunjukkan perbedaan (sig. 2-tailed 0,000 < 0,05). Namun, berdasarkan nilai n-gain, pembelajaran berbasis masalah menghasilkan peningkatan yang lebih besar (0,3416) dibandingkan dengan pembelajaran konvensional (0,0772), menunjukkan efektivitas yang lebih tinggi.
PENGARUH PENDIDIKAN KEUANGAN DI KELUARGA DAN LOCUS OF CONTROL INTERNAL TERHADAP LITERASI KEUANGAN DENGAN GENDER SEBAGAI VARIABEL MODERASI PADA SISWA KELAS XII IIS SMA NEGERI 8 SURAKARTA Nurdiani, Rakhma Tri; Wardani, Dewi Kusuma
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 6, No 3 (2025): OKTOBER
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v6i3.18381

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan keuangan di keluarga dan locus of control internal terhadap literasi keuangan dengan gender sebagai variabel moderasi. Jenis penelitian ini merupakan deskriptif kuantitatif. Sampel yang digunakan sebanyak 118 siswa kelas XII IIS SMA Negeri 8 Surakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan probability sampling dengan jenis proportional random sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan kuesioner dan melibatkan uji validitas serta reliabilitas. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis statistik deskriptif, uji prasyarat analisis, uji hipotesis dengan Moderated Regression Analysis (MRA) menggunakan bantuan software IBM SPPSS 27. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan keuangan di keluarga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap literasi keuangan, locus of control internal memiliki pengaruh positif dan siginifikan terhadap literasi keuanga, gender tidak memoderasi pengaruh pendidikan keuangan di keluarga terhadap literasi keuangan, dan gender memoderasi pengaruh locus of control internal terhadap literasi keuangan pada siswa kelas XII IIS SMA Negeri 8 Surakarta
PENGEMBANGAN LEMBAR KEGIATAN PESERTA DIDIK PADA MATERI PELUANG MAJEMUK BERBASIS DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS Rukmana, Dwi Alyani; Zamnah, Lala Nailah; Zakiah, Nur Eva
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 6, No 3 (2025): OKTOBER
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v6i3.16193

Abstract

Penelitian pengembangan ini dilatarbelakangi oleh penggunaan lembar kegiatan peserta didik (LKPD) di sekolah yang tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik serta belum mampu memfasilitasi kemampuan berpikir kreatif matematis mereka. LKPD yang ada saat ini hanya menggunakan LKPD dari penerbit yang kurang memperhatikan kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan LKPD pada materi peluang majemuk berbasis Discovery Learning yang dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif matematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kevalidan, kepraktisan, keefektifan dan kualitas peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis, melalui produk pengembangan LKPD pada materi peluang majemuk berbasis Discovery Learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir Kreatif matematis. Model yang digunakan dalam pengembangan ini adalah model 4-D rancangan Sivasailam Thiagarajan yaitu dengan tahapan define (pendefinisian), design (perancangan), development (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Penelitian ini dilaksanakan di salah satu SMA Negeri di kabupaten Ciamis. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah lembar validasi LKPD untuk melihat kevalidan LKPD berdasarkan penilaian ahli materi dan ahli media, lembar tes kemampuan berpikir kreatif matematis (pre-test & post-test) dan angket respon peserta didik. Analisis kevalidan LKPD mengacu pada hasil penilaian validator ahli media dan ahli materi. Berdasarkan hasil analisis data menunjukan aspek kevalidan ditinjau dari analisis penilaian angket validasi ahli media termasuk kategori “sangat valid”, dan analisis hasil penilaian validator ahli materi dari analisis penilaian angket validasi ahli materi termasuk kategori “sangat valid”. Selanjutnya, aspek kepraktisan yang ditinjau dari analisis angket peserta didik memperoleh kategori sangat praktis, sedangkan aspek keefektifan yang ditinjau dari hasil post-test peserta didik memperoleh kategori sangat efektif. Selain itu, kualitas peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis peserta didik SMAN 1 Cihaurbeuti perolehan nilai N-Gain termasuk kategori tinggi.
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI SPIRITUAL TERHADAP PENGELOLAAN DANA BOS Nurdin, Nurdin; Asyiyah, Ilma Nur; Haera, Miftahul; Julianti, Chantika Marsa; Bagaskara, Adhimas
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 6, No 3 (2025): OKTOBER
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v6i3.17623

Abstract

Pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di Indonesia merupakan elemen kunci dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan. Penelitian ini mengkaji penerapan nilai-nilai spiritual, khususnya nilai-nilai Islam, dalam pengelolaan dana BOS untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Meskipun pengelolaan dana BOS telah menunjukkan kemajuan, tantangan seperti dana konservasi dan pengendalian internal yang lemah masih menjadi masalah. Penanaman nilai-nilai spiritual diharapkan dapat membentuk karakter pengelola dana dan meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab dalam penggunaan dana pendidikan. Penelitian ini menemukan bahwa integrasi prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi, dan keadilan dalam pengelolaan dana BOS dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam literatur akademik mengenai hubungan antara nilai-nilai spiritual dan pengelolaan dana pendidikan. 
PENGELOLAAN PENDIDIKAN: STRATEGI DAN TANTANGAN DALAM MEWUJUDKAN PENDIDIKAN BERKUALITAS Hayati, Inna Kamilah; Sipa, Sipa; Nurpina, Ainun; Aisyah, Wina Siti; Sa'bani, Muhammad Sahlan; Nurdin, Nurdin
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 6, No 3 (2025): OKTOBER
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v6i3.17668

Abstract

Pengelolaan pendidikan memiliki peran strategis dalam memastikan tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien melalui pemanfaatan sumber daya yang optimal, baik sumber daya manusia, material, metode, maupun informasi. Artikel ini bertujuan menganalisis pentingnya pengelolaan pendidikan, khususnya pada tingkat sekolah dasar, dengan menyoroti penerapan prinsip-prinsip manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Selain itu, artikel membahas kontribusi pengelolaan pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, pencapaian kelulusan, pembentukan karakter peserta didik, serta pembangunan sosial dan nasional. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka untuk menggambarkan realitas tantangan dan strategi pengelolaan pendidikan yang efektif. Hasil menunjukkan bahwa pengelolaan pendidikan yang optimal mampu mengatasi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya dan perubahan kebijakan, serta mendukung transformasi digital di dunia pendidikan. Artikel ini memberikan wawasan mengenai pengelolaan pendidikan sebagai elemen penting dalam menciptakan sistem pendidikan berkualitas dan berkelanjutan.
PERAN FILSAFAT DALAM ILMU PENGETAHUAN: FONDASI EPISTEMOLOGIS DAN RELEVANSINYA DI ERA MODERN Nurpina, Ainun; Sonia, Gina; Maulidina, Siti; Zurrahmah, Zurrahmah; Parhan, Muhamad
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 6, No 3 (2025): OKTOBER
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v6i3.19476

Abstract

Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia yakni kata philos berarti cinta dan Sophia berarti pengetahuan, hikmah atau kebenaran. Secara etimologi, kata filsafat berarti cinta terhadap pengetahuan atau kebijaksanaan. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia filsafat berarti pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal dan hukumnya. Filsafat juga dapat berarti teori yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan atau juga ilmu yang berintikan logika, estetika, metafisika, dan epistemologi.Menurut Aristoteles yang mengemukakan bahwa filsafat merupakan ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika. Berbeda dengan Al Farabi yang berpandangan bahwa filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya. Filsafat secara harfiah berarti cinta kepada kebijaksanaan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun manusia mungkin tidak sepenuhnya memahami segala sesuatu yang dimaksudkan dengan kebijaksanaan, mereka harus terus mengejarnya. Filsafat adalah jenis pengetahuan yang dapat diukur dan menembus inti dari segala sesuatu. Dapat disimpulkan bahwa filsafat pada dasarnya adalah kegiatan berpikir yang sistematis, menyeluruh, logis, dan radikal (Dr. Ismail Marzuki, 2021).Secara etimologis ilmu adalah kata serapan yang berasal dari bahasa Arab yakni ‘alima yang berarti tahu atau mengetahui. Berdasarkan KBBI Ilmu merupakan pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu. Dalam bahasa Inggris, kata science diterjemahkan sebagai "ilmu," sementara knowledge berarti "pengetahuan. Dalam bahasa Indonesia, istilah science berasal dari bahasa Latin scio dan scire, yang berarti "mengetahui." Kata ini umumnya diterjemahkan sebagai "ilmu," tetapi sering juga digunakan dalam konteks "ilmu pengetahuan." Meskipun kedua istilah tersebut sering dianggap memiliki makna yang sama, secara konseptual terdapat perbedaan dalam penggunaanny (Syukri & Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, 2024).Sedangkan menurut Aristoteles ilmu adalah pengetahuan demonstratif tentang sebab-sebab hal (Syukri & Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, 2024).  Ilmu adalah istilah yang mengacu pada lebih dari sekedar pengetahuan. Pada zaman dahulu, orang yang dianggap berilmu jelas merupakan orang yang telah dianggap memiliki kemampuan yang didapat melalui syarat tertentu. Orang yang dianggap berilmu juga dianggap telah lulus ujian dan memiliki predikat kelayakan.Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui yang diperoleh melalui persentuhan panca indera terhadap sesuatu. Pada dasarnya, proses melihat, mendengar, merasakan, dan berpikir adalah dasar dari sikap dan perilaku manusia (Makhmudah, 2017). Pendekatan akal dan intuisi bekerja sama untuk membangun ilmu pengetahuan. Akal memiliki keterbatasan penalaran yang kemudian disempurnakan oleh intuisi, yang merupakan pemberian atau bantuan. Karena pemberian dari intuisi belum sistematis, bantuan nalar diperlukan untuk mensistematisasikan pengetahuan yang bersifat pemberian (Ulum, 2021). Filsafat dan ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia dalam memahami suatu konsep dan metode dari sebuah disiplin ilmu (Fadli, 2021).            Pada tahap awal perkembangan pemikiran manusia, filsafat dan ilmu pengetahuan memiliki keterkaitan yang erat. Pada masa Yunani Kuno, pemikiran filosofis yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Aristoteles dan Plato mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk logika, metafisika, etika, serta kajian tentang alam semesta. Pada masa itu, belum ada batasan yang jelas antara filsafat dan ilmu pengetahuan, sehingga filsafat berperan sebagai landasan utama dalam pengembangan ilmu. Selain itu, dalam era skolastik, filsafat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari teologi, dimana keduanya saling melengkapi dan berkembang secara bersamaan (Taufik, 2020).Seiring dengan perkembangan intelektual manusia, ilmu pengetahuan dan filsafat mulai mengalami pemisahan. Ilmu pengetahuan semakin mendominasi pemikiran manusia, sedangkan filsafat tetap berperan dalam memberikan landasan konseptual dan kritis. Hal ini mendorong upaya untuk memposisikan keduanya secara tepat sesuai dengan batas wilayah masing-masing, bukan untuk mengisolasi, melainkan untuk memperjelas hubungan keduanya dalam konteks pemahaman khazanah intelektual manusia. Harold H. Titus mengakui bahwa sulit untuk menyatakan secara tegas dan ringkas tentang hubungan antara ilmu dan filsafat karena keduanya memiliki banyak persamaan dan perbedaan. Para ilmuwan berbeda-beda dalam berpendapat tentang sifat dan keterbatasan ilmu, dan para filsuf berbeda-beda dalam memberikan makna dan tugas filsafat. Dua tugas filsafat tidak ada pada ilmu, menurut Sidi Gazalba (1992). Yang pertama adalah merenungkan dunia secara menyeluruh, khususnya tentang makna, tujuan, dan nilai. Yang kedua adalah menguji pengertian secara kritis, baik yang digunakan oleh ilmu atau anggapan umum. Baik filsafat maupun ilmu menggunakan berpikir kritis, berpikiran terbuka, dan sangat berhati-hati pada kebenaran dalam upaya mereka untuk memahami dunia dan kehidupan. Ini adalah persamaan, jika tidak persamaan, antara keduanya (Syukri & Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, 2024).            Meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan memiliki pendekatan yang berbeda, keduanya memiliki kesamaan dalam upaya mencari kebenaran. Filsafat dan ilmu pengetahuan sama-sama menerapkan pemikiran reflektif, kritis, serta sikap terbuka dalam mengkaji realitas. Hubungan antara keduanya bukanlah hubungan yang bertentangan, melainkan saling melengkapi, di mana filsafat memberikan landasan konseptual bagi ilmu pengetahuan, sementara ilmu pengetahuan menyediakan fakta dan temuan empiris yang memperkaya filsafat. Ilmu pengetahuan bersifat analitis dan deskriptif dengan fokus pada objek tertentu guna menemukan fakta serta mengembangkan teknologi. Sementara itu, filsafat berusaha menemukan kebenaran yang lebih mendasar dan universal melalui pemanfaatan akal secara optimal. Dengan demikian, baik filsafat maupun ilmu pengetahuan memiliki kontribusi penting dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan manusia melalui pendekatan yang sistematis dan kritis (Fadli, 2021).Hubungan antara filsafat dan ilmu pengetahuan kuat karena keduanya berasal dari upaya manusia. Kegiatan manusia dapat digambarkan baik dari segi prosesnya maupun dari segi hasilnya. Jika dilihat dari segi hasilnya, keduanya merupakan hasil dari berpikir manusia secara sadar. Jika dilihat dari segi prosesnya,menunjukkan suatu kegiatan yang mencoba memecahkan masalah dalam kehidupan manusia dengan menggunakan metode atau prosedur tertentu secara sistematis dan kritis untuk memperoleh kebenaran dan pengetahuan. Hubungan antara ilmu pengetahuan dan filsafat saling melengkapi. Mereka berfungsi sama-sama, bukan bertentangan. Pada hakikatnya, perbedaan itu terjadi karena metode yang berbeda digunakan. Ilmu pengetahuan menggunakan metode ilmiah, yang terdiri dari observasi, eksperimen, pengujian hipotesis, dan analisis berbasis data. Metode ini bertujuan untuk mendapatkan hasil yang objektif dan dapat diuji ulang. Sementara itu, filsafat lebih menekankan metode refleksi, analisis konseptual, dan argumentasi logis untuk memahami makna dari berbagai konsep yang digunakan dalam ilmu dan kehidupan. Jadi, kita perlu melakukan perbandingan dan perbandingan antara ilmu pengetahuan dan filsafat untuk melihat apa yang berbeda dan apa yang berbeda. Filsafat belajar dari ilmu pengetahuan dengan menekankan keseluruhan (sinopsis), karena keseluruhan memiliki sifat yang tidak ditemukan pada bagian-bagiannya.Sejak masa Renaissance yang kemudian disusul oleh Aufklärung pada abad ke-18, filsafat yang sebelumnya menjadi induk dari berbagai cabang ilmu pengetahuan mulai ditinggalkan oleh "anak-anaknya" (cabang-cabang ilmu pengetahuan). Seiring waktu, cabang-cabang ilmu berkembang secara mandiri, bersama dengan "anak kandungnya" yaitu teknologi. Dalam perkembangannya, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) mengalami kemajuan pesat dan menghasilkan berbagai temuan yang bersifat revolusioner, sehingga semakin memperkuat posisi mereka sebagai entitas yang berdiri sendiri. Namun, terdapat kecenderungan bahwa ilmu pengetahuan dikembangkan dan diterapkan berdasarkan asumsi-asumsi filosofis yang melandasinya. Permasalahan yang muncul, baik dari sisi teoritis maupun praktis, sering kali ditinjau secara sektoral dari sudut pandang masing-masing disiplin ilmu, tanpa adanya koordinasi lintas bidang. Akibatnya, komunikasi antar disiplin ilmu menjadi sulit dikembangkan, karena setiap bidang ilmu memiliki terminologi dan pendekatan teknisnya sendiri yang sering kali tidak selaras dengan bidang lainnya (Rofiq, 2018).Selain itu, Rofiq (2018) juga menyatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan manusia, baik dalam aspek sosial, budaya, maupun lingkungan. Jika tidak diarahkan dengan baik, perkembangan ini dapat menimbulkan dampak negatif, seperti munculnya perilaku anti-kemanusiaan, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, komersialisasi ilmu pengetahuan tanpa mempertimbangkan etika, serta penerapan iptek yang merusak keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kritis dalam mengelola perkembangan ilmu dan teknologi agar tetap sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keberlanjutan lingkungan. Sejalan dengan berbagai tantangan yang muncul akibat kemajuan iptek dan spesialisasi ilmu yang semakin terfragmentasi, ilmu pengetahuan mulai kehilangan sifatnya yang holistik dan integratif. Masing-masing disiplin ilmu berkembang secara terisolasi, sehingga tercipta kesenjangan dalam pemahaman yang utuh terhadap realitas. Dalam kondisi ini, terasa adanya kebutuhan untuk membangun interaksi yang lebih erat antara berbagai disiplin ilmu, sehingga upaya membentuk komunitas akademik yang inklusif dan kolaboratif menjadi semakin mendesak.Dalam konteks ini, filsafat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu. Filsafat tidak hanya membantu dalam memahami hubungan antar banyak bidang ilmu, tetapi juga mencegah pemisahan yang terlalu kaku antara sains, humaniora, dan teknologi. Lebih dari itu, filsafat memberikan kerangka berpikir kritis yang memungkinkan evaluasi terhadap konsep, metode, serta implikasi ilmu pengetahuan. Peran filsafat dalam etika juga menjadi sangat krusial, khususnya dalam memastikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan mempertimbangkan aspek moral, sosial, dan lingkungan. Sebagai contoh, perkembangan kecerdasan buatan (AI) di era digitalisasi menghadirkan berbagai dilema etis yang harus dikaji secara mendalam agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat (Djamhuri, 2011).Selain itu, pendekatan interdisipliner seperti pendidikan berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) dapat menjadi solusi dalam mengintegrasikan ilmu alam, humaniora, dan seni. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya pemahaman yang lebih komprehensif terhadap ilmu pengetahuan, sehingga tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memperhatikan aspek kemanusiaan. Dengan demikian, filsafat tetap memiliki peran fundamental dalam ilmu pengetahuan, baik sebagai alat refleksi kritis maupun sebagai penjaga nilai-nilai etis dalam perkembangan sains dan teknologi (Djamhuri, 2011).Secara keseluruhan, filsafat memainkan peran yang sangat penting dalam memberikan kerangka konseptual dan etis bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Filsafat tidak hanya berfungsi sebagai sarana refleksi dan pertanyaan kritis, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk paradigma berpikir manusia terhadap realitas dan pengetahuan. Interaksi antara filsafat dan ilmu pengetahuan memperkaya wacana intelektual, meskipun sering kali menimbulkan perdebatan mengenai sifat realitas dan batas-batas epistemologi manusia. Dengan demikian, filsafat dan ilmu pengetahuan bukanlah entitas yang saling bertentangan, melainkan saling melengkapi dalam upaya memahami dunia dan kehidupan manusia secara lebih mendalam (Pabisa, 2024).Seiring dengan revolusi industri pada abad ke-17 yang melahirkan masyarakat modern, berbagai gagasan dan pandangan idealis mulai berkembang dan memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan sosial. Gagasan-gagasan ini secara bertahap menjadi dasar bagi perubahan sosial yang terus berlanjut hingga kini. Namun, dalam perjalanannya, terjadi pergeseran tujuan yang menyebabkan penyimpangan dari maksud awal perubahan tersebut (Tasnur & Sudrajat, 2020). Meskipun demikian, studi filsafat tetap memiliki peran signifikan dalam proses modernisasi. Sebagaimana diungkapkan oleh Sani Susanti et al., (2023), filsafat dapat menjadi strategi budaya yang mendukung perkembangan peradaban. Oleh karena itu, filsafat dan teologi tetap relevan dalam menjawab berbagai pertanyaan manusia di era modern. Lebih dari sekadar refleksi pemikiran, filsafat berfungsi sebagai sarana untuk membentuk pola pikir yang kritis, kreatif, dan mandiri dalam menghadapi tantangan zaman. Dengan pendekatan yang sistematis dan rasional, filsafat membantu individu memahami perubahan sosial, teknologi, dan budaya secara lebih mendalam. Hal ini menjadikan filsafat tetap relevan dalam kehidupan manusia modern, di mana hanya mereka yang berpikir terbuka, inovatif, dan mandiri yang dapat menguasai serta beradaptasi dengan dinamika perubahan yang terus berlangsung.Dalam pandangan yang menyeluruh, filsafat ilmu memandang perkembangan ilmu pengetahuan sebagai sebuah proses pencarian yang tidak pernah berhenti, dengan kesadaran bahwa pengetahuan yang kita miliki saat ini selalu terbuka untuk dikembangkan dan disempurnakan (Tjahjadarmawan & X, 2023). Ilmu pengetahuan mendorong kemajuan teknologi, sedangkan teknologi berperan sebagai alat yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan sosial maupun pribadi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) sering berjalan beriringan, memungkinkan manusia untuk lebih efektif dan efisien dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia. Dengan kata lain, kemajuan dalam kedua aspek ini berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup manusia, baik dalam hal keterampilan maupun kecerdasan. Dampak dari perkembangan ini dapat bersifat positif maupun negatif. Salah satu dampak positifnya adalah kemudahan dalam aktivitas ekonomi lintas negara melalui e-commerce. Di sisi lain, dampak negatif yang dapat timbul adalah meningkatnya dekadensi moral atau kemerosotan nilai-nilai etika dalam masyarakat. Oleh karena itu, filsafat ilmu memiliki peran penting sebagai pengendali dalam setiap penerapan ilmu dan teknologi agar tetap sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mengingat bahwa IPTEK telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, keseimbangan antara kemajuan teknologi dan etika dalam penggunaannya perlu terus diperhatikan.Filsafat dapat dipahami sebagai suatu cara berpikir yang mendorong individu untuk bersikap kritis, kreatif, dan mandiri dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Di era modern yang penuh dengan dinamika dan perubahan cepat, filsafat tetap memiliki relevansi yang kuat karena mampu membentuk pola pikir yang analitis serta terbuka terhadap hal-hal baru. Dengan kemampuan berpikir yang tajam dan inovatif, seseorang dapat lebih adaptif dalam merespons perkembangan zaman, baik dalam bidang teknologi, sosial, maupun budaya. Oleh karena itu, pemikiran filosofis tidak hanya menjadi landasan dalam mencari kebenaran, tetapi juga sebagai alat untuk memahami dan mengatasi tantangan global secara bijaksana (Santi et al., 2022).Filsafat Islam tetap relevan di era modern karena mampu menjembatani ilmu dan agama dalam menghadapi tantangan sekularisme dan materialisme. Kemajuan sains dan teknologi sering kali membawa kehampaan spiritual, sehingga filsafat Islam berperan dalam menjaga keseimbangan antara rasionalitas dan nilai-nilai ketuhanan. Dengan pendekatan berpikir rasional dan konsep sunnatullah, filsafat Islam mendorong pemikiran kritis serta memberikan landasan etika bagi pengembangan ilmu pengetahuan agar tetap bermoral dan bermanfaat bagi kemanusiaan (Paramadina & 2017, n.d.).
PENGARUH BIAYA BAHAN PENOLONG TERHADAP HARGA POKOK PRODUKSI(Studi Kasus pada PR. Makmur) AlFarizi, Salman; Yanti, Rini Agustin Eka; Dedeh, Dedeh
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 6, No 3 (2025): OKTOBER
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v6i3.16140

Abstract

Bahan penolong sering disamakan dengan bahan baku tidak langsung. Namun ketiadaan penolong tak membuat proses produksi terganggu. Hanya saja produk yang dihasilkan berkurang kualitasnya dan efisiensi produksi menurun. tujuan penelitian ini untuk :1) Mendeskripsikan biaya bahan penolong 2)Mendeskripsikan harga pokok produksi 3)Mengetahui besarnya pengaruh biaya bahan penolong terhadap harga pokok produksi pada PR.Makmur. Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Peneliti menganalisis secara deskriptif dan menghitung secara kuantitatif mengenai pengaruh biaya bahan penolong terhadap harga pokok produksi. Penelitian ini mengahasilkan kesimpulan sebagai berikut 1)Biaya bahan penolong mengalami kenaikan dan penurunan (fluktuatif) 2)Harga pokok produksi mengalami kenaikan dan penurunan (fluktuatif) 3)Biaya bahan penolong berpengaruh signifikan terhadap harga pokok produksi pada PR. Makmur Periode 2018-2022. 
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION COMBINE TEAM GAMES TOURNAMENT TERHADAP HASIL BELAJAR EKONOMI (STUDI PADA SISWA SMA NEGERI 7 SURAKARTA) Nugroho, Yerikho Bagus; Hindrayani, Aniek; Nugroho, Jonet Ariyanto
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 6, No 3 (2025): OKTOBER
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v6i3.18097

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh hasil observasi bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi masih rendah. Saat pembelajaran, guru menggunakan model pembelajaran yang monoton. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran GI Combine TGT dengan model pembelajaran PBL serta mengetahui model pembelajaran mana yang menghasilkan hasil belajar siswa yang lebih baik antara model pembelajaran GI Combine TGT dengan model pembelajaran PBL sehingga dinyatakan lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi skala prioritas dan biaya peluang. Penelitian ini merupakan quasi experimental research dengan teknik cluster random sampling untuk pengambilan sampelnya serta menggunakan metode tes sebagai teknik pengumpulan data. Untuk uji hipotesis menggunakan teknik analisis uji Independent sample t-test, pada hasil perhitungan diperoleh nilai signifikansinya kurang dari taraf signifikansi sehingga diperoleh keputusan uji H0 ditolak. Kemudian diperoleh infomasi melalui uji N-Gain bahwa rata-rata N-Gain persen kelas eksperimen lebih besar daripada kelas kontrol. Berdasarkan hasil analisis diperoleh simpulan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran GI Combine TGT dengan model pembelajaran PBL serta model pembelajaran GI Combine TGT dinyatakan lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa daripada model pembelajarn PBL pada materi skala prioritas dan biaya peluang.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS SISWA DAN SELF EFFICACY SISWA Azizah, Fathimah Nurul; Amam, Asep; Fatimah, Ai Tusi
J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Vol 6, No 3 (2025): OKTOBER
Publisher : Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/j-kip.v6i3.15901

Abstract

Latar belakang penelitian ini yaitu pembelajaran matematika yang tidak efektif berdampak terhadap rendahnya kemampuan berpikir kritis matematis siswa dan self efficacy siswa. Adapun tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran think pair share (TPS) terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa dan self efficacy siswa. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuasi eksperimental dengan desain yang digunakan Non-equivalent PretestPosttest Control Grup Design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X di SMAN 1 Baregbeg. Adapun sampel pada penelitian menggunakan 2 kelas yaitu kelas X IPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X IPA 2 sebagai kelas kontrol dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Teknik analisis data yang digunakan adalah pretest-posttest kemampuan berpikir kritis matematis dan angket self efficacy. Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, uji perbedaan dua rata-rata, dan effect size. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan berpikir kritis matematis siswa dan self efficacy siswa antara kelas eksperimen yang menerapkan model pembelajaran think pair share (TPS) dengan kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran langsung. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa model pembelajaran think pair share (TPS) berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis matematis siswa dan self efficacy siswa.