cover
Contact Name
Livana PH
Contact Email
livana.ph@gmail.com
Phone
+6289667888978
Journal Mail Official
livana.ph@gmail.com
Editorial Address
http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JLH/about/editorialTeam
Location
Kab. kendal,
Jawa tengah
INDONESIA
Journal of Language and Health
ISSN : 27220311     EISSN : 27223965     DOI : https://doi.org/10.37287/jlh
Core Subject : Health, Education,
Journal of Language and Health (JLH) is a peer-reviewed journal which promotes discussion on a broad range of the relationships between language and health. Catering for the linguistic expressions of health condition (including clinical and pathological), the journal publishes conceptual and empirical articles in the area. Submissions may include experimental, review, and theoretical discussion articles, with studies of either quantitative and/or qualitative frameworks. Articles may relate to any area of the intersections between language and health with regard, but not limited, to etiological issues, diagnosis, intervention, and theoretical frameworks.
Articles 451 Documents
Pengalaman Hidup Penyintas Covid-19 yang Melakukan Vaksinasi di Kota Banda Aceh: Studi Fenomenologi Reca Melati Phonna; Muhammad Reza Rizki; Monaris Daralina; Nabella Nabella
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.442

Abstract

Pengalaman adalah sebagai hasil dari proses yang pernah dijalani, dialami, atau dirasakan seseorang, baik di masa lalu maupun baru saja terjadi. Bagi penyintas COVID-19, vaksinasi merupakan langkah pencegahan penting untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Meskipun vaksinasi dinilai relatif aman, tetap terdapat kemungkinan munculnya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) dengan tingkat keparahan yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. KIPI umumnya muncul sebagai respons tubuh terhadap vaksin, seperti reaksi lokal (nyeri, kemerahan, dan pembengkakan di area suntikan) maupun reaksi sistemik (demam, nyeri otot, atau sakit kepala). Partisipan dipilih dengan metode purposive sampling hingga mencapai saturasi data, dengan jumlah delapan orang yang memenuhi kriteria penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil analisis mengidentifikasi dua tema utama. Pertama, respons fisiologis pasca vaksinasi yang meliputi: (1) reaksi lokal seperti nyeri, kemerahan, dan bengkak pada lokasi suntikan, (2) reaksi sistemik seperti demam, nyeri otot, nyeri sendi, tubuh lemas, dan sakit kepala, serta (3) reaksi lain di luar kategori tersebut. Kedua, respons psikologis pasca vaksinasi yang mencakup: (1) gejala stres akut seperti peningkatan denyut jantung, napas cepat, mulut kering, keringat berlebih, dan kesemutan, (2) respons nasovagal seperti penurunan denyut jantung, gangguan penglihatan, dan sinkop, serta (3) gejala disosiatif neurologis berupa kelemahan otot. Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa penyintas COVID-19 dapat mengalami reaksi yang beragam, baik dari aspek fisiologis maupun psikologis, setelah menerima vaksin. Kesimpulannya, pengalaman penyintas COVID-19 pasca vaksinasi mencerminkan adanya kombinasi respon tubuh dan kondisi mental yang berbeda-beda pada setiap individu.
Pengaruh Implementasi Budaya Keselamatan Pasien terhadap Kinerja Perawat di Unit Rawat Inap Rizka Aroza; Alih Germas Kodyat; Ahdun Trigono
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 4 (2025): Journal of Language and Health: December 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i4.445

Abstract

ABSTRAK Pembentukan komite mutu rumah sakit dan penerapan budaya keselamatan pasien melalui langkah strategis sesuai regulasi nasional merupakan fondasi penting dalam meningkatkan mutu layanan, mencegah kejadian tidak diharapkan, dan memperkuat kinerja organisasi secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh implementasi budaya keselamatan pasien terhadap kinerja perawat di Unit Rawat Inap RS Tk III Dr. Bratanata. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 132 perawat sebagai responden. Instrumen yang digunakan terdiri dari kuesioner budaya keselamatan pasien dan kinerja perawat, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis dengan metode regresi untuk mengetahui pengaruh variabel independen. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat budaya keselamatan pasien berada pada kategori baik dengan skor rata-rata 74,7. Regresi linear sederhana menunjukkan bahwa seluruh dimensi budaya keselamatan meliputi komunikasi, pelaporan insiden, respons terhadap kesalahan, pembelajaran memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja perawat (p < 0,05). Budaya keselamatan juga terbukti mendorong peningkatan jumlah pelaporan insiden secara sukarela, sebagai indikator partisipasi aktif dalam menjaga mutu layanan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi budaya keselamatan pasien berpengaruh nyata terhadap peningkatan kinerja perawat di unit rawat inap, dengan pelaporan insiden sebagai elemen yang paling terlihat. Sepuluh aspek budaya keselamatan dapat menjelaskan 26,4% variasi dalam kinerja. Diperlukan upaya manajerial dalam mendukung komunikasi terbuka, sistem pelaporan yang aman, serta pembinaan berkelanjutan agar budaya keselamatan dapat tertanam secara sistemik.
Analisis Kebutuhan Tenaga Farmasi dengan Pendekatan Metode Workload Indicators of Staffing Need Salman Shiddiq; Eka Yoshida; Laila Ulfa
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 4 (2025): Journal of Language and Health: December 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i4.491

Abstract

Kecukupan tenaga farmasi sangat penting dalam kualitas pelayanan farmasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan tenaga farmasi dengan metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi perencanaan, distribusi, serta ketersediaan sumber daya manusia farmasi di Rumah Sakit Umum UKI Tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan metode WISN untuk menghitung kebutuhan tenaga berdasarkan beban kerja aktual. Analisis kualitatif dilaksanakan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan pendekatan tematik. Hasil penelitian menunjukkan adanya kekurangan tenaga farmasi dibandingkan kebutuhan menurut WISN, yaitu kekurangan 3 orang tenaga pada depo rawat jalan dan rawat inap, kekurangan 1 orang tenaga di depo IGD dan didapat kelebihan 1 orang tenaga di depo OK. Ketersediaan obat yang lengkap akan mengurangi kebutuhan tenaga farmasi sebanyak 1 orang pada depo rawat jalan, rawat inap dan juga OK. Beban kerja tidak merata, terutama pada shift pagi, menyebabkan tenaga sering lembur dan waktu istirahat berkurang. Dari temuan kualitatif, apoteker banyak terserap dalam pekerjaan teknis karena kekurangan tenaga teknis kefarmasian. Hambatan pelayanan juga timbul akibat keterlambatan penyerahan obat dan kekosongan stok yang memicu keluhan pasien. Kesimpulannya, kebutuhan tenaga farmasi belum terpenuhi berdasarkan perhitungan WISN. Beban kerja, cakupan tugas apoteker dan ketersediaan obat mempengaruhi kebutuhan.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada Petani Waluyo Rudiyanto; Suharmanto Suharmanto
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.505

Abstract

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan gangguan saluran pencernaan yang disebabkan oleh multifaktor seperti gaya hidup, kondisi psikologis dan mental serta lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis dan membuat model prediksi kejadian GERD. Penelitian merupakan kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Desa Marga Agung Lampung Selatan bulan Mei-Oktober 2025. Populasi penelitian ini adalah seluruh petani sebanyak 470 orang dengan jumlah sampel sebanyak 95 petani menggunakan simple random sampling. Variabel bebas adalah gaya hidup (pola makan, konsumsi alkohol, kebiasaan merokok), kecemasan dan stress dan variabel terikat adalah kejadian GERD. Alat pengumpul data menggunakan lembar kuesioner yang sudah valid dan reliabel dengan nilai r=0,768-0,854 dan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,981. Data yang telah terkumpul kemudian dilakukan analisis menggunakan nilai rata-rata dan persentase, uji Chi-Square dan analisis regresi logistik ganda. Hasil penelitian mendapatkan bahwa sebagian besar responden berusia 41-60 tahun (47,7%), perempuan (75,8%), pendidikan SMA (40%), aktivitas fisik ringan (54,7%), tidak merokok (83,2%), pola makan baik (94,7%), tidak minum alkohol (100%), tidak mengonsumsi jamu herbal (58,9%), psikis tidak terganggu (86,3%), tidak cemas (95,8%) dan mengalami gejala GERD (50,5%). Analisis mendapatkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor-faktor yang diteliti. Variabel yang paling berhubungan dengan kejadian GERD adalah kondisi psikis.  
Analisis Faktor-faktor Kesiapan Penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) Basroni Faizal; Yanuar Jak; Nurcahyo Andarusito; Rizal Alfian
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.506

Abstract

Penilaian kesiapan pelaksanaan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) dipengaruhi beberapa faktor diantaranya pengetahuan, ketersediaan dana, komitmen manajemen dan sistem informasi. Tujuan penelitian untuk menganalisis kesiapan penerapan KRIS. Desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian di lakukan Rumah Sakit Dr.H. Bob Bazar., SKM Lampung Selatan pada bulan Juli 2025. Populasi penelitian adalah seluruh manajemen sebanyak 50 orang diambil menggunakan purposive sampling. Kriteria inklusi meliputi manajemen yang bersedia menjadi responden sedangkan kriteria eksklusi meliputi responden yang tidak menyelesaikan proses penelitian. Variabel independen meliputi pengetahuan tentang KRIS, ketersediaan dana, kelengkapan sarana prasarana, komitmen manajemen, sistem informasi rumah sakit sedangkan variabel dependen adalah kesiapan penerapan KRIS. Alat pengumpul data menggunakan lembar kuesioner yang sudah valid dan reliabel dengan nilai r=0,768-0,854 dan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,981. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian mendapatkan bahwa sebagian besar responden adalah berusia >45 tahun (52%), perempuan (64%), pendidikan sarjana atau S1 (76%), lama bekerja >20 tahun (54%), pengetahuan kurang tentang KRIS (52%), ketersediaan dana yang kurang (54%), komitmen baik (52%), sistem informasi yang kurang 62% dan siap menerapkan KRIS sebanyak 82%. Ada hubungan pengetahuan tentang KRIS (p=0,024), ketersediaan dana (p=0,028), komitmen manajemen (p=0,009) dan tidak ada hubungan sistem informasi (p=0,127) dengan kesiapan menerapkan KRIS.
Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap dan Sarana Prasarana dengan Perilaku Pengisian Rekam Medis Elektronik oleh Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Dini Noviarti; Cicilia Widyaningsih; Nurhayati Nurhayati
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.567

Abstract

Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) merupakan bagian penting dari transformasi digital di sektor kesehatan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dokumentasi medis. Namun, di Rumah Sakit Prima Pekanbaru, penerapan RME sejak tahun 2023 justru diikuti oleh peningkatan ketidaklengkapan resume medis dan risiko pending klaim JKN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan dan sikap Dokter Penanggung Jawab Pelayanan (DPJP) terhadap perilaku pengisian RME. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional dengan sampel 60 dokter spesialis yang dipilih secara total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman serta regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas DPJP memiliki pengetahuan tinggi (95%) tentang RME, namun 60% bersikap negatif dan hanya 13,3% yang mendukung pengisian RME secara lengkap. Analisis bivariat menunjukkan bahwa sarana dan prasarana memiliki hubungan signifikan dengan perilaku pengisian RME (r = 0,358; p = 0,005), sedangkan pengetahuan (r = 0,048; p = 0,715) dan sikap (r = 0,245; p = 0,059) tidak signifikan. Analisis multivariat mengonfirmasi bahwa ketersediaan sarana menjadi prediktor utama (OR = 35,000; p = 0,004). Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai merupakan faktor dominan dalam mendorong perilaku pengisian RME yang lengkap, sementara pengetahuan dan sikap belum cukup berpengaruh tanpa dukungan infrastruktur.
Strategi Pencegahan Bullying pada Remaja di Sekolah Suharmanto Suharmanto; Waluyo Rudiyanto; Exsa Hadibrata
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.620

Abstract

Penelitian di Indonesia tercatat 67,9% remaja SLTA dan 66,1% remaja SLTP mendapatkan perilaku bullying. Pencegahan bullying dapat dilakukan melalui peningkatan sosialisasi dan edukasi, dukungan sosial dan membuat kebijakan di sekolah terkait pencegahan bullying. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan strategi pencegahan bullying pada remaja di sekolah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang dilakukan di SMK Bintang Nusantara Marga Agung Lampung Selatan pada bulan April-September 2025. Subjek penelitian ini adalah kepala sekolah, guru BK dan siswa/i di SMK Bintang Nusantara Marga Agung Lampung Selatan sebanyak 12 orang, menggunakan purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini menggunakan model analisis Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Teknik keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility, transferability, dependability, dan confirmability. Analisis menggunakan analisis tematik. Pencegahan bullying dan kekerasan pada anak di lingkungan sekolah merupakan tanggung jawab bersama seluruh pihak terkait, termasuk pemerintah, sekolah, orangtua, dan masyarakat.
Filsafat Sains dan Pergeseran Paradigma dalam Promosi Kesehatan: Tinjauan Sistematis Literatur Aris Widiyanto; Suryo Ediyono
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.621

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pergeseran paradigma dalam filsafat sains promosi kesehatan melalui tinjauan sistematis literatur periode 2017–2025. Kajian ini menggunakan pedoman PRISMA 2020 dengan analisis naratif-tematik terhadap delapan artikel yang diperoleh dari lima basis data internasional bereputasi (Scopus, PubMed, ScienceDirect, SAGE, dan Wiley). Penilaian kualitas dilakukan menggunakan Critical Appraisal Skills Programme (CASP) dan Joanna Briggs Institute Checklist (JBI) sebanyak 68 artikel memenuhi kriteria untuk dibaca secara penuh, 8 artikel lolos seleksi akhir sesuai dengan kriteria . Hasil menunjukkan bahwa paradigma promosi kesehatan telah bergeser dari pendekatan biomedis-positivistik menuju paradigma yang pluralistik, reflektif, dan humanistik. Analisis tematik menghasilkan empat tema utama: pergeseran dari paradigma biomedis menuju epistemologi pluralistik, pentingnya konteks dan mekanisme dalam pendekatan realis-kritis, keadilan epistemik dan refleksi etis dalam produksi pengetahuan, serta komunitas dan ketahanan sosial sebagai basis paradigma baru. Pergeseran ini menunjukkan bahwa promosi kesehatan modern tidak lagi berfokus pada intervensi teknis, tetapi pada pembentukan pengetahuan yang kontekstual, berkeadilan, dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan. Temuan ini diharapkan menjadi dasar pengembangan kebijakan dan praktik promosi kesehatan yang lebih partisipatif dan inklusif.
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Preeklampsia pada Ibu Hamil Muntia Ersa; Nova Khairunnisa; Vera Nazhira Arifin
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 3 (2025): Journal of Language and Health: September 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i3.623

Abstract

Preeklampsia merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia yang masih menjadi tantangan serius dalam pelayanan kesehatan maternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil di Puskesmas Kuala Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen Tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol (case control study) dengan jumlah sampel sebanyak 62 responden, terdiri dari 31 ibu hamil yang mengalami preeklampsia dan 31 ibu hamil yang tidak mengalami preeklampsia. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total populasi. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner serta catatan medis, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95% dan penghitungan Odds Ratio (OR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi kunjungan antenatal care (p=0,004; OR=4,747), usia ibu (p=0,022; OR=3,325), paritas (p=0,001; OR=8,750), pengetahuan (p=0,001; OR=6,038), dan riwayat penyakit (p=0,001; OR=8,750) dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil. Ibu hamil dengan frekuensi ANC tidak lengkap, usia berisiko, paritas primipara, pengetahuan kurang baik, dan riwayat penyakit memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami preeklampsia.
Strategi Pencegahan Stunting di Persimpangan Bukti Ilmiah dan Realitas Sosio-Kultural: Sebuah Tinjauan Sistematis Berbasis Filsafat Kesehatan Henik Istikhomah; Suryo Ediyono
Journal of Language and Health Vol. 6 No. 4 (2025): Journal of Language and Health: December 2025
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v6i4.643

Abstract

Stunting, atau kegagalan pertumbuhan linear pada anak, tetap menjadi krisis kesehatan global meskipun berbagai intervensi telah diterapkan. Secara global, 149,2 juta anak balita mengalami stunting, dan prevalensi di Indonesia masih melampaui ambang batas WHO. Kegagalan program yang berulang menunjukkan adanya kesenjangan antara desain intervensi berbasis bukti ilmiah dan realitas sosio-kultural masyarakat. Tinjauan sistematis ini bertujuan membandingkan efektivitas berbagai strategi pencegahan stunting serta menganalisisnya secara kritis melalui kerangka filsafat kesehatan yang mengintegrasikan dimensi ontologis (hakikat masalah), epistemologis (validitas pengetahuan), dan aksiologis (nilai dan etika). Penelitian ini mengikuti panduan PRISMA 2020 dengan penelusuran literatur pada PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, dan Garuda untuk artikel tahun 2019–2025. Data studi yang relevan diekstraksi sebanyak 8 artikel dari 1578 artikel, dinilai risiko biasnya, dan disintesis secara naratif. Hasil: Intervensi gizi-spesifik seperti suplementasi terbukti efektif secara biologis dalam jangka pendek, namun keberlanjutannya rendah tanpa integrasi konteks lokal. Sebaliknya, pendekatan multi-sektoral yang sensitif budaya dan berbasis komunitas menunjukkan keberlanjutan lebih tinggi. Analisis filosofis mengungkap tiga hambatan utama: konflik ontologis antara definisi biomedis dan persepsi budaya, hierarki epistemologis yang menomorsatukan bukti global atas pengetahuan lokal, serta kegagalan aksiologis dalam menyesuaikan intervensi dengan nilai kolektivisme masyarakat. Pencegahan stunting yang efektif dan berkelanjutan memerlukan pergeseran paradigma dari “evidence-based” menuju “context-based evidence” yang pluralistik, dengan intervensi yang selaras secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis dengan realitas masyarakat sasaran.