cover
Contact Name
Didik Sumanto
Contact Email
jipmi@unimus.ac.id
Phone
+6282221586617
Journal Mail Official
jipmi@unimus.ac.id
Editorial Address
Jalan Kedungmundu Raya No. 18 Tembalang Kota Semarang
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA
ISSN : -     EISSN : 28295617     DOI : https://doi.org/10.26714/jipmi
Jurnal Inovasi dan Pengabdian Masyarakat Indonesia (JIPMI) mewadahi publikasi kegiatan pengabdian masyarakat dan temuan inovasi teknologi terapan diutamakan yang berhubungan dengan bidang kesehatan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 4 No 2 (2025): April" : 9 Documents clear
Pelaksanaan Program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik di Daerah Endemis Tertinggi DBD Kota Semarang Istiqomah, Willa Avdinta; Wardani, Ratih Sari; Sumanto, Didik; Sayono
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4 No 2 (2025): April
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v4i2.44

Abstract

Latar belakang: Gerakan 1 Rumah 1 Petugas Pemantau Jentik (G1R1J) merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang melibatkan keluarga dalam upaya pencegahan, pengendalian, pemantauan, pemeriksaan, dan pemberantasan jentik nyamuk. Gerakan ini dilakukan untuk mengendalikan penyakit yang ditularkan melalui vektor khususnya DBD melalui PSN 3M Plus. Puskesmas Kedungmundu melaporkan kasus DBD tertinggi di Kota Semarang. Tujuan: Untuk mengetahui pelaksanaan program Gerakan 1 Rumah 1 Kelambu Nyamuk di wilayah Puskesmas Kedungmundu Semarang. Metode: Pengabdian menggunakan metode wawancara dalam pengumpulan data meliputi komponen input, proses, dan output. Informan utama adalah pemegang program DBD. Informasi yang digali tentang kasus DBD dan nilai ABJ. Data akan diinterpretasikan dalam bentuk grafik dan analisis data menggunakan metode Miles dan Huberman. Hasil: Komponen sumber daya manusia, dana, sarana prasarana, dan metode berada pada kategori cukup baik. Pelaksanaan, pelaporan, dan pengecekan program juga cukup baik dan telah sesuai dengan petunjuk teknis. Kinerja kegiatan kader masih belum optimal. Pelaksanaan program difokuskan pada pembentukan Petugas Pemantau Jentik (Jumantik). Output cakupan pelaksanaan PSN 3M Plus sebesar 100% sedangkan nilai capaian ABJ ≥ 95%. Nilai capaian ini menggambarkan kondisi yang optimal, namun pelaporan data ABJ belum disampaikan secara rutin. Kesimpulan: Pelaksanaan program G1R1J dari sumber daya manusia, sarana prasarana, dana, dan metode, proses pelaksanaan, serta output sudah cukup baik. Masih perlu adanya optimalisasi pelatihan dan sosialisasi kepada kader dan masyarakat. Kata kunci: jumantik, G1R1J, demam berdarah, endemis DBD ______________________________________________________________________ Abstract Background: The '1 House, 1 Monitoring Officer of Larvae' (G1R1J) movement is a community empowerment activity that involves families in efforts to prevent, control, monitor, examine, and eradicate mosquito larvae. This movement is carried out to control vector-borne diseases, especially dengue fever, through the 3M Plus PSN. Kedungmundu Community Health Center reported the highest number of dengue fever cases in Semarang City. Objective: To determine the implementation of the 1 House 1 Mosquito Net Movement program in the Kedungmundu Community Health Center area of Semarang. Method: An interview was conducted in this community service for data collection, including input, process, and output components. The main informant is the DHF program holder. Information extracted about DHF cases and ABJ values. Data will be interpreted in graphical form and analyzed using the Miles and Huberman method. Result: The components of human resources, funds, infrastructure, and methods are in the fairly good category. The implementation, reporting, and checking of the program are also quite good and have complied with technical instructions. The performance of cadre activities is still not optimal. Program implementation focused on the formation of Larva Monitoring Officers (Jumantik). The coverage of the 3M Plus National Mosquito Net (PSN) program reached 100%, while the ABJ (National Mosquito Net) achievement score was ≥ 95%. This achievement score reflects optimal conditions, but ABJ data reporting has not been submitted routinely. Conclusion: The implementation of the G1R1J program, in terms of human resources, infrastructure, funding, methods, implementation processes, and outputs, is quite good. Optimization of training and outreach to cadres and the community is still needed. Keywords: jumantik, G1R1J, dengue fever, dengue endemic
Edukasi Masalah Perilaku Merokok, Pengetahuan Hipertensi dan Diare pada Masyarakat Dusun Wonocatur Banguntapan Bantul Fatimah, Siti Nur; Khairunnisa, Nouvkilla Azzahra; Nurhidayati, Maisya; Wiguna, Bachtiar Dwi Arya; Rangkuti, Ahmad Faizal
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4 No 2 (2025): April
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v4i2.228

Abstract

Latar belakang: Peran masyarakat sangat penting dalam upaya menangani kasus penyakit tidak menular hipertensi serta penyakit menular seperti diare yang dapat berdampak pada gizi kurang dan penurunan imunitas tubuh. Disisi lain masyarakat juga dihadapkan dengan perilaku merokok yang menjadi penyebab tidak langsung penurunan imunitas. terdapat masalah kesehatan di RT 01 dan RT 02 RW 23 Dusun Wonocatur Kecamatan Banguntapan Kabupaten Bantul yaitu perilaku merokok (44%), hipertensi (21%), dan diare (1%) yang disebabkan oleh berbagai faktor. Masalah tersebut perlu diatasi dengan upaya promotif dan preventif. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat agar tidak merokok, melakukan pencegahan penyakit hipertensi dan diare. Metode: Metode yang digunakan berupa edukasi berbentuk penyuluhan dan partisipasi aktif. Hasil: Sebanyak 44,19% partisipan memiliki kebiasaan merokok, 20,93% mengalami hipertensi dan 1,16% mengalami diare. Pengetahuan partisipan saat pre-test mencapai rerata skor 87 dan saat pos-test menjadi 91 poin. Kesimpulan: Edukasi dapat meningkatkan pemahaman tentang kebiasaan merokok dan pencegahan penyakit hipertensi dan diare. Kata kunci:   diare, edukasi, hipertensi, perilaku merokok, wonocatur ________________________________________________________________ Abstract Background: The community's role is crucial in handling non-communicable diseases, such as hypertension, and infectious diseases, such as diarrhea, which can impact malnutrition and decreased immunity. On the other hand, the community is also faced with smoking behavior, which is an indirect cause of decreased immunity. There are health problems in RT 01 and RT 02 RW 23 Dusun Wonocatur, Banguntapan District, Bantul Regency, namely smoking behavior (44%), hypertension (21%), and diarrhea (1%), which are caused by various factors. These problems need to be addressed with promotive and preventive efforts. Objective: To increase public understanding to stop smoking, prevent hypertension, and diarrhea. Method: The method used is education in the form of counseling and active participation. Result: A total of 44.19% of participants have a smoking habit, 20.93% have hypertension, and 1.16% have diarrhea. Participants' knowledge during the pre-test reached an average score of 87, and increased to 91 points in the post-test. Conclusion: Education can increase understanding of smoking habits and prevention of hypertension and diarrhea. Keywords: diarrhea, education, hypertension, smoking behavior, wonocatur
Edukasi Anemia, Pemeriksaan Hemoglobin dan Pemberian Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri di SMA N 01 Toroh Dewi, Anisa Candra; Chakim, Irfanul; Astuti, Rahayu; Rokhyanti, Ika
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4 No 2 (2025): April
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v4i2.640

Abstract

Latar belakang: Prevelensi anemia masih tinggi, dan pengetahuan remaja putri tentang anemia masih terbatas, bahkan remaja sering kali mengabaikan. Remaja putri yang anemia akan mengalami kesulitan dalam konsentrasi belajar, penurunan aktivitas fisik, antibodi, dan dalam jangka panjang berdampak pada kehamilan. Tujuan: Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan remaja putri dalam pencegahan anemia, disertai dengan pemeriksaan kadar hemoglobin dan pemberian tablet tambah darah. Metode: Metode pengabdian dalam kegiatan ini adalah penyuluhan kesehatan, dengan media penunjang yang digunakan adalah leaflet, kegiatan diikuti dengan pemeriksaan Hb menggunakan easy touch dan pengambilan darah 3 cc (khusus untuk remaja putri). Pengabdian dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil: Siswi menunjukan pemahaman yang baik mengenai pencegahan anemia. Hal ini ditunjukan melalui sesi diskusi dimana siswa aktif bertanya pada saat dilakukan komunikasi dua arah oleh pengabdi dengan siswa. Hasil pemeriksaan hemoglobin menunjukan sebanyak 27.8% siswa remaja putri mengalami anemia. Seluruh siswa remaja putri telah diberikan Tablet Tambah Darah (TTD) Kesimpulan: Pengabdian di SMA N 1 Toroh berjalan dengan lancar, dengan siswi yang hadir sangat antusias dalam sesi konsultasi tentang anemia, memperhatikan leaflet dengan seksama dan mengajukan pertanyaan. Kegiatan ini di akhiri dengan pemeriksaan hemoglobin sebagai upaya deteksi anemia dan pembagian tablet tambah darah bagi remaja putri. Kata kunci: anemia, edukasi, hemoglobin, remaja putri, tablet penambah darah __________________________________________________________________ Abstract Background: The prevalence of anemia is still high, and knowledge of adolescent girls about anemia is still limited and is often ignored. Teenage girls who are anemic will experience difficulty concentrating on studying, decreased physical activity, and antibodies, and in the long term, this will have an impact on pregnancy. Objective: This service aims to increase young women's knowledge in preventing anemia by checking hemoglobin levels and administering blood supplement tablets. Method: The method of service in this activity is health education, with the leaflet media, then the activity is followed by Hb checking using easy touch and 3 cc blood collection (especially for young women). Service is carried out in several stages: preparation, implementation, and evaluation. Result: Female students showed a good understanding of anemia prevention. This is demonstrated through discussion sessions where students communicate with staff and other students. The data showed 27.8% of female teenage students had anemia. All young female students have been given Blood Supplement Tablets (BST). Conclusion: The service at SMA N 1 Toroh went smoothly, with the female students attending very enthusiasticin the consultation session about anemia, paying close attention to the laflets and asking questions. This activity ended with a hemoglobin check as an effort to detect anemia and distribution tablets for young women. Keywords: anemia, education, hemoglobin, young women, blood booster tablets
Komunikasi Antar Personal (KAP) dalam Edukasi dan Pencegahan Hipertensi di Gampong Cot Mesjid, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh: Rahmadhani, Syahri; Fahdhienie, Farrah; Baharuddin, Dharina
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4 No 2 (2025): April
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v4i2.682

Abstract

Latar belakang: Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum di dunia dan menjadi faktor risiko utama penyakit kardiovaskular serta penyebab utama kematian. Rendahnya tingkat pemahaman masyarakat mengenai faktor risiko, gejala, serta pencegahan hipertensi berdampak pada komplikasi. Komunikasi Antar Personal (KAP) merupakan strategi edukasi kesehatan berbasis interaksi langsung yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat melalui komunikasi dua arah yang lebih efektif dan partisipatif. Tujuan: untuk menganalisis efektivitas KAP dalam meningkatkan pemahaman masyarakat di Gampong Cot Mesjid, Kecamatan Lueng Bata, Kota Banda Aceh terkait hipertensi. Metode: menggunakan pendekatan deskriptif dengan desain uji paired t-test (pre-test dan post-test). Responden terdiri dari 11 orang masyarakat di Gampong Cot Mesjid, yang diberikan edukasi menggunakan metode KAP melalui sesi interaktif, diskusi kelompok, permainan edukatif, dan nyanyian. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mengukur tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi. Hasil: adanya peningkatan yang signifikan pengetahuan responden terkait hipertensi setelah diberikan edukasi melalui metode KAP. Rata-rata skor pre-test sebelum intervensi adalah 55,91 meningkat menjadi 77,00 (p = 0,000), yang artinya bahwa penyuluhan dengan menggunakan metode KAP efektif dilakukan dan ada perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dan post-test. Kesimpulan: Komunikasi Antar Personal (KAP) terbukti efektif sebagai strategi edukasi dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terkait hipertensi. Dengan komunikasi dua arah yang interaktif, peserta lebih mudah memahami dan mengingat informasi yang diberikan. Pendekatan ini dapat diterapkan lebih luas dalam program edukasi kesehatan lainnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap berbagai penyakit kronis. Kata kunci: edukasi kesehatan, hipertensi, komunikasi antar personal, pencegahan penyakit ____________________________________________________________________ Abstract Background: Hypertension or high blood pressure is one of the most common chronic diseases in the world and is a major risk factor for cardiovascular disease and a leading cause of death. The low level of public understanding of risk factors, symptoms, and prevention of hypertension has an impact on complications. Interpersonal Communication (KAP) is a health education strategy based on direct interaction that aims to increase public awareness and understanding through more effective and participatory two-way communication. Objective: To analyze the effectiveness of KAP in increasing public knowledge regarding hypertension in Gampong Cot Mesjid, Lueng Bata District, Banda Aceh City. Method: using a descriptive approach with a paired t-test design (pre-test and post-test). Respondents consisted of 11 people in Gampong Cot Mesjid, who were given education using the KAP method through interactive sessions, group discussions, educational games, and songs. Data were collected through a questionnaire that measured the level of knowledge before and after the intervention. Result: there was a significant increase in respondents' knowledge regarding hypertension after being given education through the KAP method. The average pre-test score before the intervention was 55.91% increasing to 77.00% (p = 0.000), which means that counseling using the KAP method is effective and there is a significant difference between the pre-test and post-test results. Conclusion: Interpersonal Communication (KAP) has proven to be effective as an educational strategy in increasing public awareness and understanding of hypertension. With interactive two-way communication, participants find it easier to understand and remember the information provided. This approach can be applied more widely in other health education programs to increase public awareness of various chronic diseases. Keywords: health education, hypertension, interpersonal communication, disease prevention
Sosialisasi MPASI dan Pelatihan Pembuatan Olahan Makanan Tambahan Untuk Pencegahan Stunting di Desa Sranten Nur Utami, Annisa; Chakim, Irfanul; Ardiasnyah, Fikri; Lintang, Carisa Sukma Andi; Putri, Tamara Kusuma; Rahmawati, Umi; Fadilla, Fatwa Banatya; Abdulloh, Muhammad Andi Yoga Fikananta; Maulana, Dimas Azhar; Ramadan, Agung Rizki; Huda, Khoirul; Asikin, Aifka Alihati; Afiani, Fenti Nur; Septiasari, Sely Mutiara; Putri, Masyru’atul Mukarromah Dearty Ihda
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4 No 2 (2025): April
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v4i2.689

Abstract

Latar belakang: Masalah gizi tercermin dari tingginya angka kasus malnutrisi. Indonesia berada di posisi terendah di kawasan ASEAN dan di urutan ke 142 dari 170 negara. Pemberian makanan pendamping ASI di Indonesia masih belum sesuai yang diharapkan. Banyak orang tua di desa Sranten, Boyolali yang memberikan MPASI lebih lambat karena kurangnya pemahaman. Kasus stunting di Desa ini mencapai 13 anak pada tahun 2024. Tujuan: Menambah pengetahuan para ibu tentang MPASI yang seimbang untuk si buah hati. Metode: Penyuluhan dilaksanakan menggunakan metode one group pretest-posttest. Penyampaian materi dilakukan dengan ceramah dan pembagian leaflet, dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan makanan tambahan. Peserta yang hadir adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu yang memiliki anak dibawah 3 tahun, sejumlah 20 orang. Hasil: Nilai pre-test menunjukkan rerata skor tingkat pengetahuan sebesar 65,2 sedangkan pada post-test meningkat menjadi 80,3. Tercatat peningkatan skor pengetahuan sebesar 23,16%. Kesimpulan: Kegiatan penyuluhan dengan demonstrasi meningkatkan pengetahuan partisipan dalam pemberian MPASI. Kata kunci: makanan tambahan, sosialisasi, gizi, stunting ______________________________________________________________________ Abstract Background: Nutritional problems are reflected in the high rate of malnutrition. Indonesia ranks 142nd out of 170 countries and has the lowest rank in the ASEAN region. Complementary feeding in Indonesia is still not meeting expectations. Many parents in Sranten Village, Boyolali, introduce complementary foods late due to a lack of understanding. Stunting cases in this village reached 13 children in 2024. Objective: To increase mothers' knowledge about balanced complementary feeding for their children. Method: The counseling session was conducted using a one-group pretest-posttest method. The material was delivered through lectures and leaflet distribution, followed by a demonstration of how to make complementary foods. Twenty participants, including pregnant women, breastfeeding mothers, and mothers of children under 3 years old, were included. Result: The pre-test score showed an average knowledge level of 65.2, while the post-test score increased to 80.3. This represents a 23.16% increase in knowledge. Conclusion: The counseling session with demonstrations improved participants' knowledge about providing complementary feeding. Keywords: supplementary food, socialization, nutrition, stunting
Edukasi Kesehatan Persiapan Puasa Bagi Penderita Penyakit Tidak Menular di Kabupaten Aceh Besar Fahdhienie, Farrah; Hamisah, Irma
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4 No 2 (2025): April
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v4i2.692

Abstract

Latar belakang: Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti diabetes mellitus dan hipertensi merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat di Indonesia, termasuk di Kabupaten Aceh Besar. Penderita PTM menghadapi tantangan khusus dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan karena adanya risiko komplikasi seperti hipoglikemia, hipertensi tidak terkontrol, dan dehidrasi. Minimnya pengetahuan masyarakat mengenai manajemen kesehatan selama puasa dapat meningkatkan risiko tersebut. Oleh karena itu, diperlukan edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesiapan penderita PTM dalam menjalankan puasa dengan aman. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesiapan penderita PTM dalam menjalankan ibadah puasa melalui edukasi kesehatan yang berfokus pada pola makan, manajemen obat, serta pemantauan kondisi kesehatan. Metode: Metode yang digunakan adalah edukasi interaktif dengan paparan materi, diskusi, dan sesi tanya jawab. Kegiatan ini melibatkan 30 peserta yang terdiri dari penderita PTM, kepala keluarga, ibu rumah tangga, dan remaja. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman peserta. Hasil: Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta terkait manajemen kesehatan selama puasa. Sebanyak 85% peserta mengalami peningkatan skor pemahaman setelah mengikuti edukasi. Peserta juga menunjukkan perubahan sikap dan kesadaran mengenai pentingnya pola makan sehat, pengaturan obat, serta pemantauan kesehatan selama Ramadan. Selain itu, keterlibatan keluarga dalam edukasi ini turut mendukung implementasi pola hidup sehat bagi penderita PTM. Kesimpulan: Edukasi kesehatan berbasis komunitas terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapan penderita PTM dalam menjalankan ibadah puasa dengan aman. Kegiatan ini direkomendasikan untuk dilaksanakan secara berkelanjutan dengan cakupan yang lebih luas serta melibatkan tenaga kesehatan dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendukung pengelolaan PTM selama Ramadan. Kata kunci: edukasi kesehatan, diabetes mellitus, hipertensi, penyakit tidak menular, persiapan puasa _____________________________________________________________________ Abstract Background: Non-communicable diseases (NCDs) such as diabetes mellitus and hypertension are a growing health problem in Indonesia, including in Aceh Besar Regency. NCD sufferers face special challenges in observing the Ramadan fast due to the risk of complications such as hypoglycemia, uncontrolled hypertension, and dehydration. Lack of public knowledge regarding health management during fasting can increase these risks. Therefore, health education is needed to improve the readiness of NCD sufferers to fast safely. Objective: This activity aims to improve the understanding and readiness of NCD sufferers in observing the fast through health education that focuses on diet, medication management, and health monitoring. Method: The method used is interactive education with material presentation, discussion, and question and answer session. This activity involved 30 participants consisting of NCD sufferers, heads of families, housewives, and adolescents. Evaluation was conducted through pre-tests and post-tests to measure the increase in participants' understanding. Result: The evaluation results showed a significant increase in participants' knowledge regarding health management during fasting. As many as 85% of participants experienced an increase in their understanding scores after participating in the education. Participants also showed changes in attitudes and awareness regarding the importance of a healthy diet, medication management, and health monitoring during Ramadan. Furthermore, family involvement in this education program supports the implementation of healthy lifestyles for NCD sufferers. Conclusion: Community-based health education has proven effective in increasing the readiness of NCD sufferers to safely fast. It is recommended that this activity be implemented sustainably with a broader scope and involve health workers and other stakeholders to support NCD management during Ramadan. Keywords: health education, diabetes mellitus, hypertension, non-communicable diseases, fasting preparation
Penyegaran Metode Pembuatan Kuesioner Kebutuhan Pelatihan di BAPELKES Provinsi Jawa Tengah Sayono; Rusmitasari, Heni; Suyoto
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4 No 2 (2025): April
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v4i2.704

Abstract

Latar belakang: Tenaga kesehatan perlu memiliki kompetensi yang sesui untuk menjalankan program Kesehatan secara efektif. Namun, seringkali terdapat kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki dengan kebutuhan tugas yang ada di lapangan. Tujuan: Menganalisis kebutuhan pelatihan pada tenaga Kesehatan. Metode: Studi deskriptif dengan pendekatan kuantitif. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada tenaga Kesehatan menggunakan google form, kemudian dianalisis. Hasil: Responden memiliki kompetensi yang sesuai dengan jenis jabatannya, serta perlu adanya pelatihan yang difokuskan pada aspek-aspek kompetensi untuk meningkatkan kinerja dari tenaga Kesehatan. Kesimpulan: Kompetensi sudah sesuai dengan jenis jabatan, terdapat 3 jenis pelatihan yang menjadi prioritas di masing-masing jenis tenaga kesehatan. Kata kunci: pelatihan, tenaga kesehatan, training needs analysis _____________________________________________________________________ Abstract Background: Healthcare workers must possess the appropriate competencies to implement health programs effectively. However, there is often a gap between existing competencies and the actual demands in the field. Objective: To analyze the training needs of healthcare workers. Method: A descriptive study with a quantitative approach. Data were collected through questionnaires distributed to healthcare workers via Google Forms and subsequently analyzed. Result: Respondents generally had competencies aligned with their job titles. However, there is a need for training focused on specific competency aspects to enhance the performance of healthcare workers. Conclusion: Competencies were generally in line with job titles. Three types of training were identified as priorities for each category of healthcare workers. Keywords: training, healthcare workers, training needs analysis
Edukasi Arti Penting Skrining HIV-AIDS, Sifilis dan Hepatitis-B pada Ibu Hamil di Kampung Yoka Mamoribo, Sherly; Wahyuti, Wahyuti; Adimuntja, Natalia; Ita, Nora; Mayor, Anita Feronika; Serliana, Fadila; Imbiri, Frits; Tambing, Yane; Yufuai, Agustina R
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4 No 2 (2025): April
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v4i2.713

Abstract

Latar belakang: Tren kasus penularan HIV dan sifilis dari ibu ke anak tahun 2024 mengalami kenaikan pada ibu hamil. Infeksi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kondisi janin tidak normal bahkan bisa menyebabkan kematian. Tujuan: Meningkatkan kesadaran ibu hamil untuk melakukan tes sejak dini sebagai upaya pencegahan penularan. Metode: Pengabdian dilakukan dengan melakukan edukasi pada masyarakat melalui kegiatan ceramah, tanya jawab dan diskusi kelompok. Hasil: Sebanyak 15,4% umur ibu hamil antara 20-21 tahun; 70% berpendidikan SMA, 30% dengan usia kehamilan 8 minggu, 50% kelompok paritas pertama, dan 80% belum melakukan skrining HIV dan sifilis. Sebanyak 70% pengetahuan ibu hamil tentang arti penting skrining kesehatan dalam kategori ‘kurang’ saat pre-test, namun meningkat menjadi ‘baik’ secara keseluruhan (100%) pada hasil post-test. Kesimpulan: Kegiatan edukasi kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang arti penting skrining HIV, sifilis dan Hepatitis B, sekaligus meningkatkan kualitas komunikasi informasi edukasi. Kata kunci: edukasi, ibu hamil, HIV, HBsAg, sifilis, skrining kesehatan ___________________________________________________________________________ Abstract Background: The trend of mother-to-child transmission of HIV and syphilis in pregnant women is projected to increase in 2024. These infections are hazardous because they can cause fetal abnormalities and even death. Objective: To raise awareness among pregnant women about early testing as an effort to prevent transmission. Method: Community service was conducted through educational initiatives, including lectures, Q&A sessions, and group discussions. Result: Some 15.4% of pregnant women were between 20 and 21 years old; 70% had a high school education, 30% were 8 weeks pregnant, 50% were in the first parity group, and 80% had not been screened for HIV and syphilis. Seventy percent of pregnant women's knowledge of the importance of health screening was in the 'poor' category during the pre-test, but increased to 'good' overall (100%) in the post-test results. Conclusion: Health education activities can increase pregnant women's knowledge of the importance of HIV, syphilis, and Hepatitis B screening, while also improving the quality of educational information communication. Keywords: education, pregnant women, HIV, HBsAg, syphilis, health screening
Halaman Sampul: Volume 4 Nomor 2 (2025): April Sumanto, Didik
JURNAL INOVASI DAN PENGABDIAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 4 No 2 (2025): April
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26714/jipmi.v4i2.836

Abstract

Cover

Page 1 of 1 | Total Record : 9