cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsifl@unisba.ac.id
Phone
+6282321980947
Journal Mail Official
bcsifl@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series : Islamic Family Law
ISSN : -     EISSN : 28282051     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsifl.v2i2
Bandung Conference Series Islamic Family Law (BCSIFL) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada hukum keluarga islam dengan ruang lingkup sebagai berikut, Batasan Usia Perkawinan, Dampak Perkawinan, Fikih Mawaris. Fikih Munakahat, Habaib Kebiasaan, Harta Bersama, Hukum adat, Hukum Islam Diskresi, Hukum Islam, Keluarga Sakinah, Kompilasi Hukum Islam, Kursus Pra Nikah, Legislasi, Penetapan Hakim Wali Nikah, Perceraian, Perkawinan Beda Agama, Saksi, Suami mafqud, Syiqaq, Talak, Walimatul urs. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari yang ahli dalam bidangnya.
Articles 108 Documents
Analisis Teori Sadd al-Dzari'ah terhadap Konsep Penghalang Perkawinan dalam Pasal 402 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 Ruby Meilani; Amrullah hayatudin; Shindu Irwansyah
Bandung Conference Series: Islamic Family Law 127-134
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v6i2.25556

Abstract

Abstract. The enactment of Law Number 1 of 2023 concerning the Criminal Code brings changes to the regulation of marriage impediment violations through Article 402, which imposes criminal sanctions on the act of entering into a marriage when one of the parties is still bound by a valid marriage. This regulation raises the question of whether such criminalization constitutes an application of the theory of sadd al-dhari'ah (blocking the means) as an effort to prevent mafsadah (harm) in Islamic law. This study aims to analyze the regulation of marriage impediments in Article 402 of Law No. 1/2023 and examine it based on the theory of Sadd al-Dhari’ah. This research is a normative juridical study using a statute approach and a conceptual approach. Data collection was conducted through library research of relevant laws, regulations, books, and scientific journals, followed by a descriptive-analytical analysis. The results of the study indicate that Article 402 of Law No. 1/2023 criminalizes the act of entering into a marriage when the perpetrator knows that a valid marriage impediment still exists, with an application that requires the fulfillment of the criminal offense elements as stipulated in the article. This provision aligns with the theory of sadd al-dhari'ah because it serves as a preventive measure to avert mafsadah (harm) in the form of legal uncertainty regarding marriage status, disruption of the civil rights of wives and children, and the disruption of order within the institution of marriage   Abstrak. Pengesahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana membawa perubahan terhadap pengaturan pelanggaran penghalang perkawinan melalui Pasal 402 yang memberikan sanksi pidana terhadap perbuatan melangsungkan perkawinan ketika salah satu pihak masih terikat dalam perkawinan yang sah. Pengaturan tersebut menimbulkan persoalan mengenai apakah kriminalisasi tersebut merupakan bentuk penerapan teori sadd al-dzari'ah sebagai upaya pencegahan kemafsadatan dalam hukum Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaturan penghalang perkawinan dalam Pasal 402 UU No.1/2023 serta menganalisisnya berdasarkan teori Sadd al-Dzari’ah. Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, buku, dan jurnal ilmiah yang relevan, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pasal 402 UU No.1/2023 mengkriminalisasi perbuatan melangsungkan perkawinan ketika pelaku mengetahui masih terdapat penghalang perkawinan yang sah, dengan penerapan yang mensyaratkan terpenuhinya unsur-unsur tindak pidana sebagaimana diatur dalam pasal tersebut. Ketentuan tersebut telah sesuai dengan teori sadd al-dzari'ah karena merupakan upaya preventif untuk mencegah kemafsadatan berupa ketidakpastian status hukum perkawinan, terganggunya hak-hak keperdataan istri dan anak, serta terganggunya ketertiban lembaga perkawinan  
Implementasi Program Motekar dalam Upaya Pencegahan Perceraian Perspektif Hukum Keluarga islam Sumayyah Fakhrul Mujahidah; Ramdan Fawzi; Shindu Irwansyah
Bandung Conference Series: Islamic Family Law 135-142
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v6i2.25631

Abstract

Abstract. The high divorce rate in Bandung City highlights the importance of preventive efforts to strengthen family resilience. One of the government’s initiatives is the Motekar Program, which provides education, counseling, assistance, mediation, and referrals for families experiencing domestic problems. This study aims to analyze the implementation of the Motekar Program in preventing divorce in Bandung City and to examine it from the perspective of Islamic Family Law. This research employed a qualitative method with a normative-empirical approach. Data were collected through interviews, observations, and documentation involving informants from the Bandung City Office of Women’s Empowerment, Child Protection, Population Control, and Family Planning (DP3AKB) and Motekar cadres, supported by a literature review. Data were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldana interactive model, consisting of data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The findings indicate that the Motekar Program is implemented through family problem identification, education, counseling, assistance, mediation, and referrals to relevant institutions. Although its implementation has not been fully optimal due to limitations in human resources, service coverage, institutional support, and public awareness, the program is consistent with the principles of Islamic Family Law in promoting family welfare, preserving family unity, and considering divorce as a last resort.   Abstrak. Tingginya angka perceraian di Kota Bandung menunjukkan pentingnya upaya preventif dalam memperkuat ketahanan keluarga. Salah satu program yang dikembangkan pemerintah adalah Program Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar) yang berperan memberikan edukasi, pendampingan, mediasi, dan rujukan bagi keluarga yang mengalami permasalahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Program Motekar dalam upaya pencegahan perceraian di Kota Bandung serta meninjaunya dari perspektif Hukum Keluarga Islam. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan normatif-empiris. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan informan dari DP3AKB Kota Bandung dan kader Motekar, serta didukung oleh studi kepustakaan. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program Motekar dilaksanakan melalui identifikasi permasalahan keluarga, edukasi, konseling, pendampingan, mediasi, dan rujukan kepada lembaga terkait. Meskipun pelaksanaannya belum optimal akibat keterbatasan sumber daya manusia, cakupan wilayah kerja, dukungan kelembagaan, dan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap program, implementasi Motekar telah sejalan dengan prinsip Hukum Keluarga Islam dalam mewujudkan kemaslahatan, menjaga keutuhan keluarga, dan menjadikan perceraian sebagai jalan terakhir.  
Analisis UU Perkawinan terhadap Praktik Pencatatan Perkawinan yang Tidak Diisbatkan Riva Nurhasanah; Encep Abdul Rojak; Yandi Maryandi
Bandung Conference Series: Islamic Family Law 143-150
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v6i2.25663

Abstract

Abstract. Marriage registration is a legal instrument that provides certainty and legal protection for husbands, wives, and children. This study aims to analyze the practice of unregistered and non-ratified marriages at the Office of Religious Affairs (KUA) of Pabuaran Sub-district, Sukabumi Regency, their conformity with Law Number 1 of 1974 concerning Marriage as amended by Law Number 16 of 2019, and their legal implications for the parties involved. This research employs a qualitative method with a juridical-empirical approach. Primary data were obtained through interviews with the Head of KUA Pabuaran, while secondary data were obtained through literature review. Data validity was examined using source triangulation. The results show that in 2025, 412 couples registered their marriages, 18 couples filed for marriage ratification (itsbat nikah), and 12 couples had not yet filed for ratification despite having married according to religious law. These findings indicate that the main issue does not lie in KUA's service procedures, which have complied with regulations, but rather in the low level of public legal awareness. This condition weakens legal certainty (Radbruch), legal protection for wives and children (Hadjon), and legal effectiveness (Soekanto) due to societal and legal culture factors.   Abstrak. Pencatatan perkawinan merupakan instrumen hukum yang memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi suami, istri, dan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik perkawinan yang tidak dicatatkan dan tidak diitsbatkan di KUA Kecamatan Pabuaran Kabupaten Sukabumi, kesesuaiannya dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019, serta implikasi hukumnya bagi para pihak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan yuridis-empiris. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan Kepala KUA Kecamatan Pabuaran, sedangkan data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan. Keabsahan data diperiksa dengan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2025 terdapat 412 pasangan yang mencatatkan perkawinannya, 18 pasangan mengajukan itsbat nikah, dan 12 pasangan belum mengajukan itsbat nikah meskipun perkawinannya telah berlangsung secara agama. Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada prosedur pelayanan KUA yang telah sesuai ketentuan, melainkan pada rendahnya kesadaran hukum masyarakat. Kondisi tersebut berimplikasi pada lemahnya kepastian hukum (Radbruch), perlindungan hukum bagi istri dan anak (Hadjon), serta belum optimalnya efektivitas hukum (Soekanto) akibat faktor masyarakat dan budaya hukum.  
Analisis Maqashid Syariah terhadap Penetapan Wali Nikah Anak Luar Kawin Pasca Putusan MK No.46/PUU-VIII/2010 Muhamad Afgan Aulia Rahman; Ramdan Fawzi; Siska Lis Sulistiani
Bandung Conference Series: Islamic Family Law 151-158
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v6i2.25694

Abstract

Abstract. This study examines the determination of marriage guardians (wali nikah) for children born out of wedlock following Constitutional Court Decision No. 46/PUU-VIII/2010 through the perspective of maqashid shari'ah. The decision recognizes a civil legal relationship between a child born out of wedlock and the biological father, provided that it can be scientifically proven. However, it raises legal issues regarding the biological father's status as a marriage guardian, as Islamic law requires a legitimate lineage (nasab) as the basis for guardianship. This study aims to examine the determination of marriage guardians for children born out of wedlock after the Constitutional Court's decision and to analyze it from the perspective of maqashid shari'ah. The research employs a normative legal method with a normative juridical approach through library research, analyzing statutory regulations, the Constitutional Court Decision, the Compilation of Islamic Law, MUI Fatwa No. 11 of 2012, and relevant fiqh literature. The findings indicate that Constitutional Court Decision No. 46/PUU-VIII/2010 establishes only a civil legal relationship, not a legitimate nasab, and therefore does not grant the biological father the status of a marriage guardian. Consequently, the marriage guardian remains the wali hakim in accordance with the Compilation of Islamic Law. From the perspective of maqashid shari'ah, this provision is consistent with hifz ad-din and hifz an-nasl by safeguarding the validity of marriage, preserving legitimate lineage, and protecting the rights of children born out of wedlock. Harmonization between positive law and Islamic law is therefore necessary to ensure greater legal certainty regarding marriage guardianship.   Abstrak. Penelitian ini membahas penetapan wali nikah bagi anak luar kawin pasca Putusan Mahkamah Konstitusi No.46/PUU-VIII/2010 melalui pendekatan maqashid syari’ah. Putusan tersebut mengakui hubungan keperdataan antara anak luar kawin dan ayah biologis yang dapat dibuktikan secara ilmiah, namun menimbulkan persoalan mengenai kedudukan ayah biologis sebagai wali nikah karena hukum Islam mensyaratkan hubungan nasab yang sah. Penelitian ini bertujuan mengkaji penetapan wali nikah bagi anak luar kawin pasca putusan tersebut serta menganalisisnya dari perspektif maqashid syari’ah. Metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan yuridis normatif melalui studi kepustakaan terhadap peraturan perundang-undangan, Putusan MK, Kompilasi Hukum Islam, Fatwa MUI No.11 Tahun 2012, dan literatur fikih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Putusan MK No.46/PUU-VIII/2010 hanya memberikan hubungan keperdataan, bukan nasab syar'i, sehingga ayah biologis tidak berkedudukan sebagai wali nasab. Oleh karena itu, wali nikah bagi anak luar kawin tetap wali hakim sesuai Kompilasi Hukum Islam. Dari perspektif maqashid syari’ah, ketentuan tersebut sejalan dengan hifz ad-din dan hifz an-nasl karena menjaga keabsahan akad nikah, kemurnian nasab, serta melindungi hak anak luar kawin. Harmonisasi hukum positif dan hukum Islam diperlukan untuk memberikan kepastian hukum mengenai perwalian nikah.  
Nafkah Anak Pasca Perceraian Perspektif Q.S. Al-Baqarah:233 (Analisis Putusan No. 1411/Pdt.G/2025/PA.Sby) Annisa Sofi Irchamni; Muhammad Yunus; Encep Abdul Rojak
Bandung Conference Series: Islamic Family Law 159-166
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v6i2.26097

Abstract

Abstract. The enforcement of child support obligations following divorce aims to ensure the fulfillment of children's rights despite the dissolution of their parents' marriage. In judicial practice, determining the amount of child support is often conducted despite the father's financial capacity not being fully established, requiring judges to consider statutory provisions, the best interests of the child, and the principles of Islamic law. This study aims to analyze the enforcement of post-divorce child support through the legal reasoning of judges in Decision Number 1411/Pdt.G/2025/PA.Sby and its conformity with Qur'an Surah Al-Baqarah verse 233. This research employs a normative juridical method using statutory and case approaches. Legal materials were collected through library research and document analysis and were examined using qualitative legal analysis. The findings indicate that the enforcement of law in the decision is reflected in the application of statutory regulations, the Compilation of Islamic Law, and judicial consideration of the facts presented during the trial in determining child support obligations. The decision upholds the father's responsibility to provide child support and reflects the principles of bil ma'ruf, lā tukallafu nafsun illā wus'ahā, the best interests of the child, and justice as embodied in Qur'an Surah Al-Baqarah verse 233.   Abstrak. Penegakan hukum terhadap kewajiban nafkah anak pasca perceraian merupakan upaya untuk menjamin terpenuhinya hak anak meskipun hubungan perkawinan orang tuanya telah berakhir. Dalam praktik peradilan, penetapan besaran nafkah sering dilakukan ketika kemampuan ekonomi ayah tidak diketahui secara pasti sehingga hakim dituntut mempertimbangkan ketentuan hukum positif, kepentingan terbaik bagi anak, serta prinsip-prinsip hukum Islam. Penelitian ini bertujuan menganalisis penegakan hukum nafkah anak pasca perceraian melalui pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Agama Surabaya Nomor 1411/Pdt.G/2025/PA.Sby serta kesesuaiannya dengan Q.S. Al-Baqarah ayat 233. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Data diperoleh melalui studi kepustakaan dan studi dokumen, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penegakan hukum dalam putusan tersebut diwujudkan melalui penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan, Kompilasi Hukum Islam, serta pertimbangan terhadap fakta persidangan dalam menetapkan kewajiban nafkah anak. Putusan tersebut pada prinsipnya telah menempatkan ayah sebagai pihak yang bertanggung jawab atas nafkah anak dan mencerminkan prinsip bil ma'ruf, lā tukallafu nafsun illā wus'ahā, kepentingan terbaik bagi anak, serta keadilan sebagaimana terkandung dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 233.  
Analisis Faktor-Faktor Penyebab Meningkatnya Angka Perceraian di Kecamatan Kiaracondong Tahun 2025 Fakhri Dzil Ikram; Muhammad Yunus; Amrullah Hayatudin
Bandung Conference Series: Islamic Family Law 167-174
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v6i2.26120

Abstract

Abstract. Divorce is one of the family-related issues that continues to increase and has become a growing concern due to its impact on family resilience and social life. Kiaracondong District is one of the areas in Bandung City that recorded a relatively high number of divorce cases in 2025. This study aims to analyze the factors contributing to the increasing divorce rate, identify the most dominant factor, and examine the efforts undertaken to reduce divorce cases in Kiaracondong District, Bandung City. This research employed a qualitative approach using a descriptive method with an empirical juridical approach. Data were collected through interviews, documentation, and literature review, then analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion drawing techniques. The findings indicate that the increase in divorce cases is influenced by several factors, including economic problems, continuous marital conflicts, lack of communication, infidelity, domestic violence, online gambling, and third-party interference. Among these factors, economic problems were identified as the most dominant cause because they often trigger various conflicts within the household. Efforts to reduce the divorce rate include marriage guidance programs, optimization of mediation at the Religious Court, and strengthening public education on family resilience.   Abstrak. Perceraian merupakan salah satu persoalan keluarga yang terus mengalami peningkatan dan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ketahanan keluarga serta kehidupan sosial masyarakat. Kecamatan Kiaracondong merupakan salah satu wilayah di Kota Bandung yang mencatat angka perceraian cukup tinggi pada tahun 2025. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya angka perceraian, mengidentifikasi faktor yang paling dominan, serta mengetahui upaya yang dilakukan untuk menekan angka perceraian di Kecamatan Kiaracondong Kota Bandung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan pendekatan yuridis empiris. Data diperoleh melalui wawancara, dokumentasi, serta studi kepustakaan, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meningkatnya angka perceraian dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ekonomi, perselisihan dan pertengkaran yang berlangsung terus-menerus, kurangnya komunikasi, perselingkuhan, kekerasan dalam rumah tangga, perjudian online, serta adanya campur tangan pihak ketiga. Di antara berbagai faktor tersebut, masalah ekonomi menjadi penyebab yang paling dominan karena memicu munculnya konflik dalam rumah tangga. Adapun upaya yang dilakukan untuk menekan angka perceraian meliputi pelaksanaan bimbingan perkawinan, optimalisasi proses mediasi di Pengadilan Agama, serta peningkatan edukasi mengenai ketahanan keluarga kepada masyarakat.
Fenomena Child Grooming di Media Sosial dalam Perspektif Hukum Keluarga Islam Rindyanti Mardono; Shindu Irwansyah; Fahmi Fatwa Rosyadi Satria Hamdani
Bandung Conference Series: Islamic Family Law 175-182
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v6i2.26131

Abstract

Abstract. Child grooming on social media is a serious threat to children in the digital era, marked by a rising trend of online-based child sexual abuse cases in Indonesia. This study describes and analyzes how child grooming occurs and develops in Indonesia, identifies the social media platforms most frequently exploited by perpetrators, and examines how Islamic family law provides protection for children against this threat. A normative-juridical qualitative method was used, analyzing primary legal materials (the Qur'an, hadith, and the Compilation of Islamic Law/KHI) together with relevant statutes and scientific literature, processed through the interactive model of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings show that child grooming unfolds through four progressive stages, target selection, trust building, desensitization and exploitation, and secrecy maintenance, with Snapchat, Instagram, WhatsApp, Facebook Messenger, TikTok, and online gaming applications as the most frequently exploited channels. Islamic family law responds through three complementary principles: wilayah al-nafs and hadhanah as principles of familial responsibility, and hifzh al-nafs as their binding philosophical foundation. The study concludes that child grooming is fundamentally not a technological problem but a reflection of the family's failure to optimally exercise wilayah and hadhanah.   Abstrak. Fenomena child grooming di media sosial merupakan ancaman serius bagi anak di era digital, ditandai dengan tren peningkatan kasus kekerasan seksual anak berbasis daring di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana fenomena child grooming terjadi dan berkembang di Indonesia, mengidentifikasi platform media sosial yang paling sering dimanfaatkan pelaku, serta menganalisis bagaimana hukum keluarga Islam memberikan perlindungan terhadap anak dari ancaman tersebut. Penelitian menggunakan metode normatif-yuridis kualitatif dengan menganalisis bahan hukum primer berupa Al-Qur'an, hadis, dan Kompilasi Hukum Islam (KHI), didukung peraturan perundang-undangan dan literatur ilmiah yang relevan, diolah melalui model interaktif reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa child grooming berlangsung melalui empat tahap progresif, yaitu pemilihan target, pembangunan kepercayaan, desensitisasi dan eksploitasi, serta pemeliharaan kerahasiaan, dengan Snapchat, Instagram, WhatsApp, Facebook Messenger, TikTok, dan aplikasi permainan daring sebagai kanal yang paling sering digunakan. Hukum keluarga Islam merespons fenomena ini melalui tiga prinsip yang saling melengkapi, yaitu wilayah al-nafs dan hadhanah sebagai prinsip tanggung jawab keluarga, serta hifzh al-nafs sebagai landasan filosofis yang mengikat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa child grooming pada hakikatnya bukan semata persoalan teknologi, melainkan cerminan kekosongan fungsi wilayah dan hadhanah dalam keluarga.  
Tinjauan Maqāṣid Syarī'ah terhadap Surat Edaran Dirjen Bimas Islam Nomor P-005/Dj.Iii/Hk.00-7/10/2021 tentang Perkawinan dalam Masa Idah Istri Dihubungkan dengan Tertib Perkawinan Revan Nurrizki Fauzy; Encep Abdul Rojak; Ilham Mujahid
Bandung Conference Series: Islamic Family Law 183-190
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsifl.v6i2.26242

Abstract

Abstract. In Islamic law, the waiting period (idah) is exclusively imposed on women following divorce or the death of a husband. However, Circular Letter of the Director General of Islamic Community Guidance Number P-005/DJ.III/HK.00-7/10/2021 stipulates that a divorced husband may only remarry after the expiration of his former wife's idah period. This provision has generated legal debate because it differs from classical Islamic jurisprudence, which does not recognize an idah obligation for men. This study aims to analyze the Circular Letter from the perspective of Maqāṣid al-Sharī'ah and to examine its relevance in maintaining the orderly administration of marriage in Indonesia. The research employs a normative legal method using a statutory approach. The data consist of secondary legal materials collected through library research and analyzed qualitatively using a descriptive-analytical method. The findings indicate that the provision contained in point three of the Circular Letter constitutes an administrative policy intended to ensure legal certainty, maintain orderly marriage administration, and prevent the misuse of marital status, including unprocedural polygamous practices. From the perspective of Maqāṣid al-Sharī'ah, the policy reflects the realization of public benefit (maṣlaḥah), particularly in safeguarding lineage (ḥifẓ al-nasl), while not altering the Islamic legal doctrine that the obligation of idah applies solely to women.   Abstrak. Pengaturan mengenai masa idah dalam hukum Islam pada dasarnya hanya berlaku bagi perempuan setelah terjadi perceraian atau ditinggal wafat oleh suami. Akan tetapi, Surat Edaran Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor P-005/DJ.III/HK.00-7/10/2021 mengatur bahwa laki-laki yang bercerai baru dapat melangsungkan perkawinan kembali setelah masa idah mantan istrinya berakhir. Ketentuan tersebut memunculkan perdebatan karena dipandang berbeda dengan ketentuan fikih klasik yang tidak mengenal masa idah bagi laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketentuan surat edaran tersebut berdasarkan perspektif Maqāṣid Syarī'ah serta mengkaji relevansinya dalam mewujudkan tertib administrasi perkawinan di Indonesia. Penelitian menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statute approach). Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh melalui studi kepustakaan, kemudian dianalisis secara kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketentuan dalam poin ketiga Surat Edaran Dirjen Bimas Islam merupakan kebijakan administratif yang bertujuan memberikan kepastian hukum, menjaga tertib perkawinan, serta mencegah terjadinya penyalahgunaan status perkawinan, termasuk praktik poligami yang tidak sesuai prosedur. Ditinjau dari perspektif Maqāṣid Syarī'ah, kebijakan tersebut mencerminkan upaya mewujudkan kemaslahatan, khususnya dalam menjaga keturunan (ḥifẓ al-nasl), tanpa mengubah ketentuan fikih mengenai kewajiban masa idah yang tetap hanya dibebankan kepada perempuan.  

Page 11 of 11 | Total Record : 108