cover
Contact Name
Hari Susanto
Contact Email
p3m.banten@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
p3m@poltekpel-banten.ac.id
Editorial Address
JL. Raya No.1, Karang Serang, Kec. Sukadiri, Tangerang, Banten 15330
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
Jurnal Marine Inside
ISSN : 27162656     EISSN : 29859638     DOI : 10.62391/ejmi
Core Subject : Engineering,
Jurnal Marine Inside adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan dan dikelola oleh Politeknik Pelayaran Banten. Jurnal ini merupakan media sarana publikasi berbagai macam penelitian dan pengembangannya di bidang Nautika, Permesinan Kapal, dan Manajemen Transportasi laut.
Articles 142 Documents
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR KONDISI KAPAL, SUMBER DAYA MANUSIA, DAN KONDISI LINGKUNGAN, TERHADAP KECELAKAAN KAPAL PADA ALUR PELAYARAN DI SELAT SUNDA DAN LAUT JAWA Nursyamsu; Arief Hidayat Tumanggor; Rudi Harun Irwansyah; Boedi Prihandono
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.217

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kondisi kapal, sumber daya manusia (SDM), dan kondisi lingkungan terhadap tingkat kecelakaan kapal di alur pelayaran Selat Sunda dan Laut Jawa, serta mengidentifikasi faktor yang paling dominan. Berdasarkan data Mahkamah Pelayaran dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) periode 2019–2025, tercatat 125 kasus kecelakaan kapal, dengan human error sebagai penyebab utama (46,4%) dan kandas (grounding) sebagai insiden terbanyak (28,8%). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui metode regresi linier berganda. Data primer dikumpulkan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 60 responden dari KNKT, Vessel Traffic Service (VTS) Merak, dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP). Hasil uji validitas dan reliabilitas memastikan kelayakan seluruh instrumen penelitian. Pengujian statistik secara simultan (Uji F) menunjukkan bahwa kondisi kapal, SDM, dan kondisi lingkungan berpengaruh signifikan terhadap kecelakaan kapal (F-hitung = 45,287; Sig. 0,000). Nilai koefisien determinasi ($R^2$) sebesar 0,733 menunjukkan bahwa 73,3% variasi tingkat kecelakaan kapal dapat dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut. Secara parsial (Uji t), seluruh variabel independen juga terbukti memiliki pengaruh yang signifikan. SDM diidentifikasi sebagai faktor paling dominan dengan koefisien regresi tertinggi (0,417) dan nilai t-hitung sebesar 4,389. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kompetensi SDM—khususnya dalam hal pengetahuan, pengalaman operasional, dan kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP)—merupakan langkah krusial untuk menekan angka kecelakaan maritim di wilayah perairan tersebut.   This study aims to analyze the influence of ship conditions, human resources, and environmental conditions on the rate of ship accidents in the shipping lanes of the Sunda Strait and the Java Sea, as well as to identify the most dominant factor. According to data from the Maritime Court and the National Transportation Safety Committee (KNKT) for the 2019–2025 period, 125 ship accidents were recorded, with human error being the primary cause (46.4%) and grounding as the most frequent incident (28.8%). This quantitative research employs a multiple linear regression method. Primary data were collected through a questionnaire survey administered to 60 respondents from KNKT, Merak Vessel Traffic Service (VTS), and the Harbormaster and Port Authority (KSOP). The validity and reliability test results confirmed the suitability of all research instruments. The simultaneous statistical analysis (F-test) indicates that ship conditions, human resources, and environmental conditions significantly affect ship accidents (F-value = 45.287; Sig. 0.000). The coefficient of determination ($R^2$) of 0.733 indicates that 73.3% of the variance in ship accidents is explained by these three variables. Partially (t-test), all independent variables also exhibit a significant impact. Human resources emerged as the most dominant factor, possessing the highest regression coefficient (0.417) and a t-value of 4.389. These findings emphasize that enhancing human resource competency—particularly regarding knowledge, operational experience, and compliance with Standard Operating Procedures (SOP)—is a crucial step in reducing maritime accidents in the studied region.
USULAN IMPLEMENTASI ISPS CODE PADA SEKOLAH KEDINASAN MATRA LAUT DIBAWAH KENDALI KEMENTERIAN PERHUBUNGAN Hendi Prasetyo; Ahmad Shulhany
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.218

Abstract

Pembelajaran keamanan maritim di banyak institusi pendidikan saat ini masih didominasi oleh pendekatan teoritis, yang memunculkan kesenjangan terhadap kesiapan operasional taruna di lapangan. Di sisi lain, standar dari International Maritime Organization (IMO) melalui ISPS Code mensyaratkan adanya pembiasaan dan penerapan sistem keamanan secara langsung, konsisten, dan terukur. Artikel ini mengusulkan model implementasi ISPS Code yang adaptif melalui integrasi praktik keamanan operasional ke dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Sekolah Kedinasan Matra Laut di bawah Kementerian Perhubungan. Pendekatan komprehensif ini mencakup pelaksanaan table top exercise secara rutin, pengendalian akses personel dan kendaraan yang ketat melalui penggunaan ID card dan seragam, pengawasan CCTV terpusat selama 24 jam, dan penyesuaian penghalang fisik (barrier). Selain itu, sistem ini menerapkan tiga tingkatan keamanan (Security Level 1, 2, dan 3) yang terintegrasi dengan audit eksternal tahunan serta koordinasi dengan unsur pertahanan eksternal setempat. Implementasi yang dilakukan secara bertahap ini ditargetkan mampu menciptakan ekosistem kampus yang berfungsi sebagai simulasi keamanan yang nyata. Pada akhirnya, pendekatan ini diharapkan dapat menanamkan budaya kesadaran keamanan (security awareness culture) yang kuat, sehingga para lulusan tidak hanya menguasai regulasi secara teori, tetapi juga sigap menerapkan standar keamanan internasional dalam penugasan sesungguhnya.   Current maritime security education in many institutions remains predominantly theoretical, creating a gap in the actual operational readiness of cadets in the field. Conversely, the International Maritime Organization (IMO) standards, through the ISPS Code, mandate the direct, consistent, and measurable application and habituation of security systems. This article proposes an adaptive ISPS Code implementation model by integrating operational security practices into the daily lives of cadets at Naval Service Academies under the Ministry of Transportation. This comprehensive approach includes conducting routine table top exercises, strict personnel and vehicle access control using ID cards and uniforms, 24-hour centralized CCTV surveillance, and the adjustment of physical security barriers. Furthermore, the system establishes three security levels (Security Level 1, 2, and 3) integrated with annual external audits and coordination with local external defense units. This phased implementation aims to create a campus ecosystem that functions as a realistic security simulation. Ultimately, this approach is expected to instill a robust security awareness culture, ensuring that graduates not only master the regulations theoretically but are also fully prepared to apply international security standards in real-world assignments.
Penggunaan sistem HydroPen dan kaitannya dengan penanganan kebakaran pada peti kemas di MV. CMA CGM Xiamen : Analisis komparasi empiris sistem HydroPen dengan sistem konvensional Akbar Fadillah Antomo; Purnama NF Lumban Batu; Abdul Rachman
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.221

Abstract

Kebakaran peti kemas di atas kapal merupakan salah satu ancaman terbesar bagi keselamatan maritim, yang risikonya terus meningkat seiring dengan melonjaknya volume perdagangan global dan kompleksitas muatan. Keterbatasan sistem pemadam kebakaran konvensional dalam menjangkau titik api di dalam peti kemas menjadi tantangan operasional yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan efektivitas sistem HydroPen dengan sistem pemadam kebakaran konvensional, serta mengevaluasi tingkat pemahaman awak kapal terhadap penggunaan dan pemeliharaan HydroPen di MV. CMA CGM Xiamen. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif komparatif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem HydroPen memiliki keunggulan signifikan karena mampu menjangkau sumber api dengan menembus peti kemas tanpa perlu membukanya, sehingga secara operasional jauh lebih aman dan efektif dibandingkan sistem konvensional. Meskipun demikian, keberhasilan implementasi alat ini sangat bergantung pada tingkat pemahaman dan kesiapan kru. Di sisi lain, sistem konvensional tetap krusial sebagai langkah pendukung, khususnya untuk proses pendinginan eksternal guna mencegah perambatan api (boundary cooling). Kesimpulannya, integrasi antara sistem HydroPen dan metode konvensional merupakan strategi mitigasi yang paling optimal untuk menangani kebakaran peti kemas. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi awak kapal melalui pelatihan intensif sangat direkomendasikan untuk menjamin pemanfaatan teknologi pemadaman yang efektif dan efisien.Container fires onboard ships represent one of the most critical threats to maritime safety, with risks escalating alongside the surge in global trade volumes and cargo complexity. The inherent limitations of conventional firefighting systems in accessing the ignition source inside closed containers pose a significant operational challenge. This study aims to comparatively analyze the effectiveness of the HydroPen system against conventional firefighting methods, while also evaluating the crew's comprehension of the operation and maintenance of the HydroPen aboard the MV. CMA CGM Xiamen. Employing a qualitative method with a descriptive comparative approach, data were collected through field observations, in-depth interviews, and documentation. The data were subsequently analyzed using data reduction, data display, and conclusion-drawing techniques. The findings reveal that the HydroPen system offers a significant advantage by directly piercing the container to extinguish the fire without requiring the doors to be opened, making it substantially safer and more effective than conventional systems. Nevertheless, its operational success relies heavily on the crew's readiness and level of understanding. Furthermore, conventional systems remain essential as a supporting mechanism, particularly for external boundary cooling to prevent fire propagation. In conclusion, the integration of the HydroPen system with conventional firefighting methods constitutes the most optimal mitigation strategy for container fire incidents. Therefore, enhancing crew competency through intensive training is highly recommended to ensure the effective and efficient utilization of firefighting technologies.
A Aliansi Strategis dan Transformasi Digital terhadap Kepuasan Pelanggan Industri Logistik Maritim Agung Kwartama; Akhmad Ndori
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.222

Abstract

Industri jasa angkutan laut menghadapi tekanan besar akibat disrupsi teknologi dan persaingan global yang menuntut layanan logistik yang cepat, transparan, dan andal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh transformasi digital, kualitas layanan, strategi harga, aliansi strategis, efektivitas CRM, visibilitas kargo real-time, layanan nilai tambah, dan kepercayaan merek terhadap kinerja penjualan perusahaan. Selain itu, kajian ini juga menganalisis secara mendalam peran kepuasan dan retensi pelanggan sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menerapkan pendekatan kuantitatif melalui metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) yang dikombinasikan dengan Necessary Condition Analysis (NCA). Sampel penelitian terdiri dari para manajer operasional dan pengambil keputusan strategis pada perusahaan jasa angkutan laut di Indonesia yang telah mengimplementasikan sistem digital dalam aktivitas operasionalnya. Temuan penelitian mengonfirmasi bahwa kapabilitas digital dan strategi layanan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kepuasan serta retensi pelanggan, yang pada akhirnya mendongkrak kinerja penjualan secara kuat. Analisis interaksi juga membuktikan bahwa kepuasan pelanggan secara signifikan memperkuat dampak positif dari sistem real-time terhadap pertumbuhan penjualan. Di samping itu, tingginya tingkat retensi pelanggan terbukti mampu mengoptimalkan peran kepercayaan merek (brand trust) terhadap efektivitas penjualan. Peningkatan kinerja penjualan di sektor logistik maritim tidak semata-mata bergantung pada pemutakhiran infrastruktur operasional dan digital. Keunggulan kompetitif dan performa bisnis yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui kemampuan adaptif perusahaan dalam mengelola kepuasan dan mempertahankan loyalitas pelanggan jangka panjang.   The maritime transportation service industry faces immense pressure from technological disruption and global competition, demanding faster, highly transparent, and reliable logistics services. This study aims to evaluate the impact of digital transformation, service quality, pricing strategy, strategic alliances, CRM effectiveness, real-time cargo visibility, value-added services, and brand trust on corporate sales performance. Furthermore, it extensively examines the mediating roles of customer satisfaction and customer retention. A quantitative approach was employed, utilizing Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) coupled with Necessary Condition Analysis (NCA). The research sample comprised operational managers and strategic decision-makers from Indonesian maritime transportation companies that have integrated digital systems into their operations. The findings confirm that digital capabilities and service strategies significantly enhance both customer satisfaction and retention, which subsequently drive strong sales performance. Interaction analysis further demonstrates that customer satisfaction robustly amplifies the positive impact of real-time systems on sales growth. Similarly, high customer retention rates optimally reinforce the influence of brand trust on overall sales effectiveness. Improving sales performance in the maritime logistics sector depends on more than just upgrading operational and digital infrastructures. Sustainable business performance and competitive advantage are fundamentally achieved through a company's adaptive capability to foster satisfaction and maintain long-term customer loyalty.
PENINGKATAN EFEKTIVITAS PENYELENGGARAAN TIKET ELEKTRONIK DI PELABUHAN PENYEBERANGAN SAMPALAN Surnata; Pierre Marcello Lopulalan; Alvian Demaz Peramutya
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.223

Abstract

Pelabuhan Penyeberangan Sampalan merupakan simpul transportasi laut yang esensial dalam mendukung mobilitas penumpang dan kendaraan. Sebagai upaya modernisasi dan peningkatan efisiensi layanan, pemerintah telah menerapkan sistem tiket elektronik (e-ticketing). Namun, implementasi sistem ini masih dihadapkan pada sejumlah kendala teknis dan operasional, meliputi keterbatasan infrastruktur digital, rendahnya literasi teknologi di kalangan pengguna jasa, minimnya sumber daya manusia (SDM) operasional yang profesional, serta belum selarasnya sistem dengan kebutuhan aktual di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efektivitas penyelenggaraan tiket elektronik di Pelabuhan Sampalan sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor determinan yang memengaruhinya. Menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, penyebaran kuesioner kepada pengguna jasa, serta wawancara mendalam dengan pihak operator. Hasil analisis menunjukkan bahwa efektivitas sistem tiket elektronik dapat ditingkatkan melalui optimalisasi perangkat lunak dan keras, peningkatan kapasitas petugas melalui pelatihan, serta edukasi publik yang berkelanjutan. Sebagai langkah strategis, penelitian ini merekomendasikan integrasi sistem tiket elektronik dengan platform pembayaran digital lokal serta penguatan infrastruktur pendukung guna mewujudkan pelayanan yang lebih cepat, akurat, dan transparan.   Sampalan Ferry Port is an essential maritime transportation hub supporting the mobility of passengers and vehicles. To modernize and enhance service efficiency, the government has implemented an electronic ticketing (e-ticketing) system. However, its implementation still faces several technical and operational constraints, including limited digital infrastructure, low technological literacy among service users, a lack of professional human resources, and a mismatch between the applied system and actual field requirements. This study aims to analyze the effectiveness of the e-ticketing implementation at Sampalan Port and identify its determinant factors. Employing a quantitative descriptive approach, data were collected through field observations, questionnaires distributed to service users, and in-depth interviews with port operators. The analysis reveals that the effectiveness of the e-ticketing system can be improved through the optimization of hardware and software integration, capacity building for operational staff, and continuous public education. As a strategic measure, this study recommends integrating the e-ticketing system with local digital payment platforms and strengthening supporting infrastructure to achieve faster, more accurate, and transparent services.
PERAN NELAYAN TRADISIONAL DALAM MENJAGA KEAMANAN DAN POTENSI EKOSISTEM LAUT: PERSPEKTIF WILAYAH PESISIR KECAMATAN NAMBO Baqdal; Eliyanti Agus Mokodompit
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.225

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran nelayan tradisional dalam menjaga keamanan maritim dan kelestarian ekosistem laut di wilayah pesisir Kecamatan Nambo, Sulawesi Tenggara. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, partisipan dalam penelitian ini dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan tradisional memainkan peran penting dalam melestarikan ekosistem laut dengan menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan, mengawasi praktik penangkapan ikan yang ilegal dan merusak, serta menjaga kebersihan pesisir. Selain itu, para nelayan ini juga menunjukkan pemahaman yang mendalam mengenai potensi ekosistem laut sebagai sumber daya ekonomi vital yang mampu menopang kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya melalui sektor perikanan dan pariwisata bahari. Pada akhirnya, studi ini menegaskan bahwa keterlibatan aktif masyarakat pesisir, khususnya nelayan tradisional, sangat krusial untuk menjamin keamanan dan keberlanjutan sumber daya laut di Kecamatan Nambo.   This study aims to analyze the role of traditional fishermen in maintaining maritime security and the sustainability of marine ecosystems in the coastal areas of Nambo District, Southeast Sulawesi. Employing a qualitative descriptive approach, the research selected participants using purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and documentation, followed by a qualitative descriptive analysis. The findings reveal that traditional fishermen play a pivotal role in preserving marine ecosystems by utilizing environmentally friendly fishing gear, monitoring against illegal and destructive fishing practices, and maintaining coastal hygiene. Furthermore, these fishermen demonstrate a profound understanding of marine ecosystems as vital economic resources capable of sustaining coastal livelihoods, particularly through the fisheries and marine tourism sectors. Ultimately, this study underscores that the active involvement of coastal communities, especially traditional fishermen, is indispensable for ensuring the security and sustainability of marine resources in Nambo District.
Implementasi penggunaan alat pelindung diri terhadap kru kapal di MV Ifama Mas guna meminimalisasi terjadinya kecelakaan kerja Nursyamsu; Yollanda Octavitri; Dwi Risky Sukma Haryoni
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.226

Abstract

Kecelakaan kerja merupakan insiden tidak terduga yang dapat mengakibatkan kerugian material, kerusakan lingkungan, hingga jatuhnya korban jiwa. Risiko kecelakaan ini sejatinya dapat diminimalisasi melalui kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab rendahnya kepatuhan penggunaan APD pada kru kapal serta merumuskan upaya mitigasinya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan studi pustaka yang dilaksanakan selama periode praktik laut. Hasil analisis menunjukkan bahwa masih terdapat kru kapal yang mengabaikan penggunaan APD. Ketidakpatuhan ini disebabkan oleh empat faktor utama: faktor manusia (kesadaran individu), faktor metode (penerapan prosedur operasional), faktor material (ketersediaan dan kelayakan APD), serta faktor manajemen (pengawasan dan regulasi tata kelola). Untuk mengatasi permasalahan tersebut, tindakan perbaikan yang direkomendasikan meliputi pelaksanaan familiarisasi dan sosialisasi keselamatan secara berkala, peningkatan pengawasan intensif, optimalisasi manajemen inventaris APD, serta pengajuan permintaan perbekalan (running store order) secara rutin setiap bulan kepada pihak perusahaan.   Workplace accidents are unexpected incidents that can result in material losses, environmental damage, and fatalities. The risk of such accidents can be significantly minimized through strict compliance with the use of Personal Protective Equipment (PPE). This study aims to analyze the factors contributing to the low compliance of PPE usage among ship crews and to formulate effective mitigation strategies. The research employs a qualitative descriptive method, utilizing observation, interviews, and literature reviews conducted during the sea practice period. The analysis reveals that several ship crews still neglect the use of PPE. This non-compliance is attributed to four main factors: human factors (individual awareness), method factors (implementation of operational procedures), material factors (availability and condition of PPE), and management factors (supervision and governance). To address these issues, the recommended corrective actions include conducting regular safety familiarization and socialization, implementing intensive supervision, optimizing PPE inventory management, and submitting routine monthly running store orders to the company.
Insulation materials in shipboard electrical equipment: A systematic literature review on thermal classes, temperature limits, aging mechanisms, and service life prediction for maintenance planning Syairi Anwar; Hendi Prasetyo; Febria Surjaman
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.227

Abstract

The reliability of shipboard electrical systems depends critically on the performance of insulation materials used across generators, motors, transformers, and power distribution networks. Insulation degradation remains a primary catalyst for electrical failures, unplanned shutdowns, and fire hazards onboard ships. This degradation is significantly accelerated by the harsh marine environment, which subjects equipment to high humidity, salt contamination, severe vibration, and continuous thermal cycling. To address these challenges, this study conducts a Systematic Literature Review (SLR) synthesizing previous research on marine electrical insulation, with a specific focus on thermal classifications, degradation mechanisms, service life estimation, and maintenance strategies. Guided by the PRISMA framework, 68 peer-reviewed publications and international standards (e.g., IEC and IEEE) published between 2000 and 2025 were systematically analyzed. The findings reveal that thermal Classes F and H currently dominate modern marine applications due to their exceptional thermal endurance. Thermal aging emerges as the most critical degradation factor; in accordance with the Arrhenius principle, operating just 10°C above the design limit can reduce insulation service life by approximately 50%. Consequently, modern condition-monitoring techniques—such as partial discharge monitoring and polarization index measurement—are increasingly vital for transitioning toward predictive maintenance. Ultimately, this review provides a comprehensive framework for optimizing insulation management and maintenance planning in maritime operations.   Keandalan sistem kelistrikan kapal sangat bergantung pada kinerja material isolasi yang digunakan pada generator, motor, transformator, dan jaringan distribusi daya. Degradasi isolasi tetap menjadi pemicu utama kegagalan kelistrikan, penghentian operasional yang tidak terencana (unplanned shutdowns), dan bahaya kebakaran di atas kapal. Proses degradasi ini dipercepat secara signifikan oleh lingkungan laut yang ekstrem, yang memaparkan peralatan pada kelembapan tinggi, kontaminasi garam, getaran keras, dan siklus termal yang terus-menerus. Untuk mengatasi berbagai tantangan ini, penelitian ini melakukan Systematic Literature Review (SLR) yang menyintesis penelitian-penelitian terdahulu mengenai isolasi kelistrikan laut, dengan fokus spesifik pada klasifikasi termal, mekanisme degradasi, estimasi usia pakai, dan strategi perawatan. Berpedoman pada kerangka kerja PRISMA, sebanyak 68 publikasi ilmiah dan standar internasional (seperti IEC dan IEEE) yang diterbitkan antara tahun 2000 hingga 2025 telah dianalisis secara sistematis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Kelas termal F dan H saat ini mendominasi aplikasi kelistrikan laut modern karena ketahanan termalnya yang sangat baik. Penuaan termal (thermal aging) muncul sebagai faktor degradasi paling kritis; sesuai dengan prinsip Arrhenius, pengoperasian hanya 10°C di atas batas desain dapat mengurangi usia pakai isolasi hingga sekitar 50%. Oleh karena itu, teknik pemantauan kondisi modern—seperti pemantauan peluahan sebagian (partial discharge) dan pengukuran indeks polarisasi—menjadi semakin vital untuk transisi menuju perawatan prediktif. Pada akhirnya, ulasan ini menyediakan kerangka kerja yang komprehensif untuk mengoptimalkan manajemen isolasi dan perencanaan perawatan dalam operasional maritim.
The Influence of port concession schemes on the performance of port business entities in Indonesia: A systematic literature review Fauhidzi Zulistian; Syairi Anwar; Rudi Harun Irwansyah; Rahmat Santoso
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.228

Abstract

Port concession schemes have emerged as a primary policy instrument for the Indonesian government to accelerate infrastructure development, enhance operational efficiency, and stimulate private sector participation in the maritime sector. Following the enactment of Shipping Law No. 17 of 2008, Indonesia's port governance transitioned from a service port to a landlord port model, wherein Port Authorities act as regulators while Port Business Entities (Badan Usaha Pelabuhan/BUP) operate facilities via concession agreements. Despite the widespread adoption of these arrangements, their actual impact on port performance, investment realization, and service quality remains contested. This study employs a Systematic Literature Review (SLR) to evaluate the influence of concession schemes on BUP performance in Indonesia. Drawing on scientific journals, regulatory documents, and international publications, the analysis reveals that concessions generally foster infrastructure modernization, operational efficiency, and service competitiveness. However, significant hurdles persist, including regulatory ambiguities, disputes over concession durations, asset transfer complexities, tariff determinations, and institutional friction. Ultimately, the findings indicate that the success of port concessions extends beyond contractual terms, demanding robust governance, regulatory consistency, and performance-based monitoring. This paper concludes with strategic recommendations to refine concession policies, thereby securing the long-term competitiveness and sustainability of Indonesian ports.   Skema konsesi pelabuhan kini menjadi salah satu kebijakan andalan pemerintah Indonesia untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan efisiensi operasional, dan menarik keterlibatan sektor swasta di industri maritim. Sejak disahkannya UU Pelayaran No. 17 Tahun 2008, sistem tata kelola pelabuhan kita beralih dari model service port ke landlord port. Dalam sistem ini, Otoritas Pelabuhan berperan sebagai regulator, sedangkan fasilitasnya dioperasikan oleh Badan Usaha Pelabuhan (BUP) lewat perjanjian konsesi. Meski skema ini sudah banyak diterapkan, efektivitasnya terhadap peningkatan kinerja pelabuhan, masuknya investasi, dan kualitas layanan masih sering diperdebatkan. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) untuk melihat sejauh mana pengaruh skema konsesi tersebut terhadap kinerja BUP di Indonesia. Berdasarkan telaah terhadap berbagai jurnal ilmiah, dokumen regulasi, dan publikasi internasional, terlihat bahwa pemberian konsesi secara umum membawa dampak positif. Infrastruktur pelabuhan menjadi lebih modern, operasional lebih efisien, dan layanannya makin berdaya saing. Namun, di lapangan masih terdapat sejumlah hambatan besar. Beberapa di antaranya adalah aturan yang masih ambigu, perdebatan soal masa berlaku konsesi, rumitnya proses serah terima aset, penetapan tarif, hingga masalah koordinasi antarlembaga. Temuan ini menegaskan bahwa kesuksesan konsesi pelabuhan tidak bisa hanya mengandalkan isi kontrak hitam di atas putih. Diperlukan tata kelola yang kuat, aturan yang konsisten, serta pengawasan yang benar-benar berbasis pada pencapaian kinerja. Sebagai penutup, kajian ini memberikan sejumlah rekomendasi strategis untuk memperbaiki kebijakan konsesi, demi menjaga daya saing dan keberlanjutan pelabuhan Indonesia di masa depan.
Model Desain Fresh Water Generator Sederhana sebagai Alat Pengubah Air Payau menjadi Air Tawar dengan Menggunakan Energi Panas Matahari untuk Masyarakat Pesisir Pantai Jusva Agus Muslim; Muhammad Irwandi Lendra Pratama; Rinawati
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.230

Abstract

Keterbatasan akses air tawar akibat intrusi air laut dan abrasi menjadi permasalahan krusial bagi masyarakat pesisir yang belum terjangkau infrastruktur pengadaan air bersih. Salah satu solusi inovatif untuk mengatasi masalah ini adalah penerapan Fresh Water Generator (FWG) berbasis panas matahari. Penelitian ini mengusulkan pemanfaatan teknologi Concentrated Solar Power (CSP) dengan desain Cavity Receiver sebagai Heat Plate pada sistem FWG, yang dirancang untuk memaksimalkan area penyerapan radiasi surya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ketebalan material dan kecepatan aliran fluida kerja terhadap kinerja termal Cavity Receiver. Evaluasi terhadap koefisien perpindahan panas menyeluruh dari berbagai variasi desain dilakukan menggunakan metode simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD). Hasil simulasi menunjukkan bahwa variasi ketebalan material dan kecepatan aliran secara signifikan memengaruhi tekanan dan suhu kerja fluida. Konfigurasi paling optimal dicapai pada desain Cavity Receiver dengan ketebalan material 1 mm dan kecepatan aliran fluida sebesar 0,05 m/s, yang mampu menghasilkan suhu fluida hingga 54°C. Kesimpulannya, optimasi pada parameter desain tersebut secara langsung meningkatkan performa Heat Plate dan berdampak pada peningkatan efisiensi termal sistem FWG secara keseluruhan.   The limited access to fresh water due to seawater intrusion and abrasion has become a crucial problem for coastal communities unreached by clean water supply infrastructure. An innovative solution to address this issue is the application of a solar-powered Fresh Water Generator (FWG). This study proposes the utilization of Concentrated Solar Power (CSP) technology with a Cavity Receiver design as the Heat Plate in the FWG system, which is designed to maximize the solar radiation absorption area. This research aims to analyze the effect of material thickness and working fluid flow velocity on the thermal performance of the Cavity Receiver. The evaluation of the overall heat transfer coefficient from various design variations was conducted using the Computational Fluid Dynamics (CFD) simulation method. The simulation results indicate that variations in material thickness and flow velocity significantly affect the pressure and working temperature of the fluid. The most optimal configuration was achieved in the Cavity Receiver design with a material thickness of 1 mm and a fluid flow velocity of 0.05 m/s, which is capable of producing a fluid temperature of up to 54°C. In conclusion, the optimization of these design parameters directly improves the Heat Plate's performance and contributes to the enhancement of the overall thermal efficiency of the FWG system.