cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 287 Documents
Edukasi perawatan kaki sebagai upaya pencegahan luka pada penderita diabetes melitus Marliyana, Marliyana; Filsabila, Azahra; Nurhayati, Nurhayati; Yunitasari, Eva; Fitri, Feni Elda; Aliun, Fatimah Wahab
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i2.453

Abstract

Background: Management of diabetes mellitus requires not only pharmacological treatment, but also family assistance. To prevent wounds and improve the quality of life of people with diabetes mellitus, the role of the family is very important in diabetic foot care. Purpose: To provide education about foot care as an effort to prevent diabetic wounds. Method: Using a one-group pre-post-test quasi-experimental design with foot care education intervention. The NAFF (Nottingham Assessment of Functional Footcare) questionnaire was used as an instrument to measure foot care behavior. Results: Showing that after being given foot care education, all 20 respondents behaved positively with the majority of respondents aged 50-60 years as many as 10 (50.0%) and the Wilcoxon bivariate test to see the difference in foot care behavior of respondents before and after the intervention was given a pValue = 0.000. Conclusion: Foot care education has a very good impact on the foot care behavior of diabetic patients as an effort to prevent wounds.   Keywords: Diabetic Wound Prevention Behavior; Foot Care; Wound Care Education   Pendahuluan: Penanganan diabetes melitus tidak hanya memerlukan pengobatan farmakologi, tetapi juga bantuan keluarga. Untuk mencegah luka dan meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes melitus, peran keluarga sangat penting dalam perawatan kaki diabetik. Tujuan: Memberikan edukasi tentang perawatan kaki sebagai upaya mencegah luka diabetik. Metode: Menggunakan disain quasi eksperimen pre-post-test satu kelompok dengan intervensi pendidikan perawatan kaki. Kuesioner NAFF (Nottingham Assessment of Functional Footcare) digunakan sebagai instrumen untuk mengukur perilaku perawatan kaki. Hasil: Menunjukkan bahwa setelah diberikan edukasi perawatan kaki seluruh responden 20 orang berperilaku positif dengan mayoritas responden berusia 50-60 tahun sebanyak 10 (50.0%) dan uji bivariat wilcoxon test untuk melihat perbedaan perilaku perawatan kaki responden sebelum dan setelah diberikan intervensi mendapatkan nilai pValue = 0.000. Simpulan: Edukasi perawatan kaki memberikan dampak yang sangat baik terhadap perilaku perawatan kaki penderita diabetik sebagai upaya pencegahan luka.
Edukasi kesehatan reproduksi remaja di MA YPI Katibung Yunitasari, Eva; Raminda , Santri; Wahyuni , Devita
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i2.454

Abstract

Background: Adolescents are people aged between 10 and 19 years. Adolescence is a transition period between childhood and adulthood. Some adolescents say they do not know about the importance of maintaining reproductive health. Purpose: To provide health education as an effort to increase knowledge of reproductive health problems in adolescents. Method: The implementation of this activity goes through several stages, namely asking for permission from the school to conduct counseling to adolescents (students) of MA YPI Katibung and explaining the importance of knowledge/understanding of sexual health and adolescent reproductive health issues. In the implementation stage, all participants were given material presentations using lecture and presentation methods. Furthermore, it was carried out with discussion and question and answer sessions. Results: From the results of the questions and answers conducted by the moderator, most participants already understood the reproductive health material and they could provide examples of the application of maintaining reproductive health in adolescents. Conclusion: Health education can increase knowledge of reproductive health problems in adolescents and make adolescents behave positively. Keywords: Adolescents; Health Education; Reproductive Health Pendahuluan: Remaja adalah orang yang berusia antara 10 dan 19 tahun.  Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa. Beberapa remaja mengatakan mereka tidak tahu tentang pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Tujuan: Memberikan penyuluhan kesehatan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan masalah kesehatan reproduksi pada remaja. Metode: Pelaksanaan kegiatan ini melalui beberapa tahapan yaitu meminta ijin kepada pihak sekolah untuk melakukan penyuluhan kepada remaja (siswa) MA YPI Katibung dan menjelaskan pentingnya pengetahuan/pemahaman masalah kesehatan seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja. Tahap pelaksanaan seluruh peserta diberikan pemaparan materi dengan metode ceramah dan presentasi. Selanjutnya dilakukan dengan sesi diskusi dan tanya jawab.   Hasil: Dari hasil tanya jawab yang dilakukan moderator sebagian besar peserta sudah memahami materi kesehatan reproduksi dan mereka bisa memberikan contoh penerapan menjaga kesehatan reproduksi pada remaja. Simpulan: Penyuluhan tentang kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan masalah kesehatan reproduksi pada remaja dan menjadikan remaja berperilaku positif.
Pendidikan kesehatan perawatan tali pusat di posyandu wilayah kerja Puskesmas Gedong Air Bandar Lampung Nurhayati, Nurhayati; Suharti, Sri; Wulan, Sarinah Sri; Ikhwanudin, Ikhwanudin
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i2.455

Abstract

Background: The highest cause of neonatal death is neonatal tetanus infection, one of which is caused by improper umbilical cord care. By conducting health education on umbilical cord wound care, it will reduce the risk of umbilical cord infection cases in newborns. The incidence of umbilical cord infection is around 23% to 91% of umbilical cords that are not properly cared for will be infected by staphylococcus Aureus bacteria in the first 72 hours after birth. Purpose: To determine the knowledge of mothers about the implementation of umbilical cord care at the Integrated Health Service Post (Posyandu) in the working area of ​​the Gedong Air Health Center, Bandar Lampung. The target of this health education is mothers who have newborns in the working area of ​​the Gedong Air Health Center, Bandar Lampung City. Method: Health education is carried out using the lecture method and demonstration of how to care for umbilical cord wounds to prevent infection. A total of 40 participants took part in this activity. Apart from the participants, it was also attended by students, supervising lecturers, and the Gedong Air Health Center. Results: From the questionnaire data, it was found that the mothers' knowledge about umbilical cord care was mostly good, namely 26 (65.0%) and less good, namely 14 (35.0%). Conclusion: Community service in the form of health education can increase mothers' knowledge about umbilical cord care to prevent infection and is more effective for mothers who are about to/are facing childbirth. Keywords: Health Education; Health Knowledge; Umbilical Cord Care Pendahuluan: Penyebab kematian neonatal yang tertinggi adalah infeksi tetanus neonaturum, yang salah satunya disebabkan karena perawatan tali pusat yang tidak benar. Dengan dilakuakn pendidikan kesehatan tentang perawatan luka tali pusat akan mengurangi resiko terjadinya kasus infeksi tali pusat pada bayi baru lahir. Kejadian infeksi tali pusat yaitu sekitar 23% sampai 91% tali pusat yang tidak dirawat dengan baik akan terinfeksi oleh kuman staphylococcus Aureus pada 72 jam pertama setelah kelahiran.    Tujuan: Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang pelaksanaan perawatan tali pusat di Posyandu wilayah kerja puskesmas Gedong Air Bandar Lampung. Sasaran pendidikan kesehatan ini adalah ibu yang memiliki bayi baru lahir di wilayah kerja puskesmas Gedong air, Kota Bandar Lampung. Metode: Pendidikan kesehatan yang dilakukan dengan metode ceramah dan demonstrasi cara perawatan luka tali pusat agar tidak terjadi infeksi. Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan ini. Selain dari peserta juga dihadiri oleh mahasiswa, dosen pembimbing, dan pihak Puskesmas Gedong Air.  Hasil: Dari data kuesioner mendapatkan gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat sebagian besar pengetahuan ibu adalah baik yakni sebesar 26 (65.0%) dan kurang baik yakni sebesar 14(35.0%). Simpulan: Pengabdian kepada masyarakat berupa penyuluhan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat agar tidak terjadi infeksi dan lebih efektif kepada ibu-ibu yang akan/sedang menghadapi persalinan.
Asuhan Keperawatan nyeri sendi akibat asam urat dengan teknik range of motion di Desa Lempasing Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Pesawaran Ulandari, Elvi; Trismiyana , Eka; Wahyudi , Wahid Tri
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.459

Abstract

Background : Gout is a disease caused by the accumulation of monosodium urate crystals in the body. As many as 81% of Indonesia's population suffers from joint disease, but only 24% go to the doctor. The country with the highest number of joint disorders compared to other countries is Indonesia. The results of interviews with the Lempasing Health Center found that gout was ranked fourth in the Lempasing community with a total of 50 people in 2023. Purpose : To provide nursing care for gout-related joint pain with the range of motion (ROM) technique. Method : This research design uses descriptive research with a nursing care approach, which includes assessment, nursing diagnosis, intervention, implementation and evaluation. Interventions include teaching non-pharmacological techniques: joint range of motion (ROM) exercises, measuring blood pressure, calculating RR, calculating pulse, measuring temperature and checking uric acid levels, advising clients to rest regularly. Results: After nursing care was carried out for 3 days with a duration of 20 minutes per meeting, it was found that there was a significant decrease in pain felt by both respondents from pain scale 4 and 5 (moderate pain) to 2 and 1 (mild pain). Conclusion: Range of motion (ROM) techniques can reduce joint pain in gout sufferers. Suggestion: it is hoped that families with gout sufferers can apply range of motion exercises when sufferers feel pain in their joints due to increased levels of uric acid in the body. Keywords: Gout; Joint pain; Range of motion (ROM) exercises Pendahuluan: Asam urat merupakan suatu penyakit yang diakibatkan karena penimbunan kristal monosodium urat didalam tubuh. Sebanyak 81% penduduk Indonesia menderita penyakit persendian, namun hanya 24% yang berobat ke dokter. Negara dengan jumlah gangguan sendi terbanyak dibandingkan negara lain adalah Indonesia. Hasil wawancara dengan pihak puskesmas lempasing didapakan bahwa penyakit asam urat menduduki peringkat keempat diderita oleh masyarakat lempasing dengan jumlah 50 orang pada tahun 2023. Tujuan: Memberikan asuhan keperawatan nyeri sendi akibat asam urat dengan teknik range of motion (ROM). Metode: Desain penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan asuhan keperawatan, yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Intervensi berupa mengajarkan teknik non farmakologi: latihan rentang gerak sendi (ROM), mengukur tekanan darah, menghitung RR, menghitung nadi, mengukur suhu dan mengecekan kadar asam urat, menyarankan partisipan untuk beristirahat teratur.  Hasil: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari dengan durasi 20 menit setiap pertemuan, didapatkan hasil bahwa terdapat penurunan yang signifikan terhadap nyeri yang dirasakan oleh kedua responden dari nyeri skala 4 dan 5 (nyeri sedang) menjadi 2 dan 1 (nyeri ringan). Simpulan: Teknik range of motion (ROM) dapat menurunkan nyeri sendi pada penderita asam urat. Saran: diharapkan keluarga dengan penderita asam urat dapat menerapkan latihan range of motion pada saat penderita merasakan nyeri pada persendian akibat meningkatnya kadar asam urat dalam tubuh
Peningkatan pengetahuan pengelolaan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan maggot BSF sabagai pakan ternak Gustina, Mely; Mulyati, Sri; Adeko, Riang; Ali, Haidina
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.461

Abstract

Background: Waste is the remains of human daily activities and/or from natural processes in solid form. However, according to the Health Organization (WHO), waste is something that is not used, not used, not liked or something that is thrown away that comes from human activities and does not happen by itself . Piles of organic waste that are not managed properly can cause various environmental and health problems. As an innovative solution, this study examines the potential for cultivating maggots (Black Soldier Fly larvae) as an alternative to managing organic waste. Purpose: To provide knowledge and skills in maggot cultivation in the utilization of household organic waste as animal feed. Method: A total of 15 people participated in this activity. Through the presentation of materials, training and demonstrations in providing an understanding of the maggot cultivation process, from making cages to harvesting. Applying an active interaction method of asking questions about the material presented during the training activities. Results: Based on direct practice simulations in making BSF maggots as animal feed, packaging BSF maggots as animal feed that is ready to sell for marketing. The participants actively asked questions and discussed each sequence of its manufacture. The education and training provided by the resource person together with the service team could be accepted and applied by the participants, where participants stated that they would make and implement the utilization of household organic waste by using SBF maggots as animal feed both at home and in their residential environment in managing waste piles. The level of knowledge of participants regarding the utilization of household organic waste by using BSF maggots as animal feed increased from 15 people with poor knowledge to 12 people with good knowledge and 3 people with sufficient knowledge. Conclusion: Community service activities with education, training, and simulations on the utilization of household organic waste using BSF maggots as animal feed can increase community knowledge and skills in managing organic waste into independent business opportunities. Keywords: Black Soldier Fly; Creative entrepreneurship; Maggot cultivation; Organic waste management Pendahuluan: Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau dari proses alam yang berbentuk padat. Namun menurut Health Organization (WHO) sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya. Tumpukan sampah organik yang tidak terkelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan. Sebagai solusi inovatif, penelitian ini mengkaji potensi budidaya maggot (larva lalat Black Soldier Fly) sebagai alternatif pengelolaan sampah organik. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan budidaya maggot dalam pemanfaatan sampah organik rumah tangga sebagai pakan ternak.   Metode: Sebanyak 15 orang menjadi peserta dalam kegiatan ini. Melalui pemaparan materi, pelatihan dan demonstrasi dalam memberikan pemahaman mengenai proses budidaya maggot, mulai dari pembuatan kandang hingga pemanenan. Menerapkan mentode interaksi aktif bertanya mengenai materi yang disampaikan ketika kegiatan pelatihan berlangsung. Hasil: Berdasarkan simulasi praktik langsung dalam membuat maggot BSF sebagai pakan ternak, pengemasan maggot BSF sebagai pakan ternak yang siap jual untuk dipasarkan. Para peserta turut aktif bertanya dan berdiskusi di setiap runtutan pembuatannya. Edukasi dan pelatihan yang diberikan oleh narasumber bersama tim pengabdi bisa diterima dan bisa diaplikasikan oleh para peserta, dimana peserta menyatakan akan membuat dan menerapkan pemanfaatan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan maggot SBF sebagai pakan ternak baik di rumah maupun di lingkungan tempat tinggalnya dalam mengelola timbunan sampah. Tingkat pengetahuan peserta mengenai pemanfaatan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan maggot BSF sebagai pakan ternak meningkat dari sebanyak 15 orang dengan tingkat pengetahuan kurang menjadi sebanyak 12 orang dengan tingkat pengetahuan baik dan sebanyak 3 orang dengan tingkat pengetahuan cukup. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat dengan edukasi, pelatihan, dan simulasi tentang pemanfaatan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan maggot BSF sebagai pakan ternak dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah sampah organik menjadi peluang usaha mandiri.
Pengaruh moderate intensity continuous exercise (MICE) dalam perbaikan kognitif lansia Raminda, Santri; Ni'mah, Anisah Khanin; Aliyun, Fatimah Wahab; Kurniawan, Ryanda Masri; Ramadhani, Andina Risky; Nugroho, Rafi Agusti; Zahirah, Fidela Kaila Reva
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.470

Abstract

Background: Cognitive in the elderly is the ability to think, remember, learn, and verbal ability. Cognitive function is a mental process that includes attention, perception, and knowledge. Cognitive impairment in the elderly is a health problem that occurs more frequently with age. Cognitive impairment can affect various aspects of mental function and thinking ability in the elderly. Cognitive impairment in the elderly cannot be cured, but it can be prevented and overcome. Purpose: To see the effect of moderate continuous intensity exercise (MICE) on cognition in the elderly with anaerobic fitness levels. Method: Quasi-experimental study with pre-test and post-test two group design. The sample of this study was 20 elderly patients at the Bandar Lampung Health Center who became participants. Participants were divided into two groups, namely 10 participants in the intervention group and 10 participants in the control group. The intervention group was given MICE such as anaerobic gymnastics exercises while the control group was given a book to read for 30 minutes with the same time. Cognitive function is measured using the Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCa – Ina) which consists of 30 points that will be tested by assessing several cognitive matrices: executive function, visuospatial, language, delayed recall, attention, abstraction and orientation for 10 minutes with a total score of 26 or more considered normal. Results: Based on the Shapiro Wilk test analysis in the normality test for the intervention group, the mean pre-test to post-test value was 23.70-26.70 with pValue = 0.15 and for the control group, the mean pre-test to post-test value was 25.30-27.20 with pValue = 0.44. Meanwhile, based on the paired sample test analysis in the cognitive influence test for the intervention group, the mean value was 3,000 with a standard deviation of 0.943 and pValue = 0.000, while for the control group, the mean value was 1,900 with a standard deviation of 1,370 and pValue = 0.002. Conclusion: Anaerobic fitness therapy can affect moderate continuous intensity exercise (MICE) on the cognitive abilities of the elderly. Elderly people with stable and good fitness intensity will benefit from reducing cognitive impairment. Suggestion: Elderly people should consider their fitness level individually as a therapeutic measure such as following the right exercise routine in an effort to improve cognitive abilities. Keywords: Anaerobic; Cognitive improvement; Elderly; Moderate continuous intensity exercise (MICE) Pendahuluan: Kognitif pada lansia adalah kemampuan berpikir, kemampuan mengingat, kemampuan belajar, dan kemampuan verbal. Fungsi kognitif merupakan proses mental yang meliputi perhatian, persepsi, dan pengetahuan. Gangguan kognitif pada lansia merupakan masalah kesehatan yang semakin sering terjadi dengan bertambahnya usia. Gangguan kognitif  dapat memengaruhi berbagai aspek fungsi mental dan kemampuan berpikir lansia. Gangguan kognitif pada lansia tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dicegah dan diatasi. Tujuan: Untuk melihat efek moderate continuous intensity exercise (MICE) terhadap kognitif pada lansia dengan tingkat kebugaran anerobik. Metode: Penelitian quasi experimental dengan pre-test and post-test two group design. Sampel penelitian ini adalah 20 pasien lansia di Puskesmas Bandar Lampung yang menjadi partisipan. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok yaitu 10 partisipan kelompok intervensi dan 10 partisipan kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan MICE seperti latihan senam anaerobik sedangkan untuk kelompok control diberikan buku untuk dibaca selama 30 menit dengan waktu yang sama. Fungsi kognitif diukur menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCa – Ina) yang terdiri dari 30 point yang akan diujikan dengan menilai beberapa matrix kognitif: fungsi eksekutif, visuospasial, bahasa, delayed recall, atensi, abstraksi dan orientasi selama 10 menit dengan total skor 26 atau lebih dianggap normal. Hasil: Berdasarkan analisa shapiro wilk test dalam uji normalitas untuk kelompok intervensi mendapatkan nilai mean pre-test ke post-test sebesar 23.70-26.70 dengan pValue=0.15 dan untuk kelompok kontrol mendapatkan nilai mean pre-test ke post-test sebesar 25.30-27.20 dengan pValue=0.44. Sedangkan berdasarkan analisa uji paired sample test dalam uji pengaruh pada kognitif untuk kelompok  intervensi mendapatkan nilai mean 3.000 dengan standar deviasi 0.943 dan pValue=0.000, sedangkan untuk kelompok  kontrol mendapatkan nilai mean 1.900 dengan standar deviasi 1.370 dan pValue=0.002. Simpulan: Terapi kebugaran anaerobik dapat mempengaruhi moderate continuous intensity exercise (MICE) pada kognitif lansia. Lansia dengan intensitas kebugaran yang stabil dan baik akan memperoleh manfaat mengurangi gangguan kognitif. Saran: Lansia harus mempertimbangkan tingkat kebugaran secara individual sebagai tindakan terapi seperti  mengikuti kegiatan rutinitas olahraga yang tepat dalam upaya memperbaiki kognitif.
Hubungan pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus dan ketidakstabilan kadar glukosa darah di Puskesmas Cibiru Kota Bandung Derajat, Agus Mi'raj; Pratidina, Eki; Indarna , Asep Aep
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.472

Abstract

Background: Diabetes Mellitus (DM) is one of the non-communicable diseases that sufferers experience an increase every year. Data from the World Health Organization in 2018 reported that 422 million people in the world suffer from diabetes mellitus and reached 71% as the leading cause of death in the world. The increase in the global prevalence of Diabetes mellitus of around 8.3% occurred in the age group 20-79 years and it is estimated that there were 2.2 million deaths due to diabetes mellitus before the age of 70 years, especially in countries with low and middle economic status. Diabetes mellitus is one of the chronic diseases that is often found in the elderly, and its management is highly dependent on individual knowledge about the disease. Elderly knowledge about diabetes mellitus, especially regarding the management of blood glucose levels, can have a significant effect on the stability of their glucose levels. Purpose: To analyze the relationship between elderly knowledge about diabetes mellitus and instability of blood glucose levels. Method: Quantitative approach with correlational design. Questionnaires distributed to 40 elderly people with diabetes mellitus in several health centers measured their knowledge about the disease and the symptoms of unstable blood glucose levels that they experienced. The collected data were analyzed using the Pearson correlation test to identify the relationship between the level of knowledge and the level of unstable blood glucose levels. Results: Showed that there was a significant relationship between the knowledge of the elderly about diabetes mellitus and unstable blood glucose levels (p <0.05). Elderly people with better knowledge about diabetes management tend to have more stable blood glucose levels. Conclusion: With the varying levels of knowledge of the elderly about diabetes mellitus, education to improve the knowledge of the elderly about diabetes mellitus has a significant influence on the elderly in managing unstable blood sugar. Optimizing the management of the elderly against diabetes mellitus is greatly influenced by the level of understanding about diabetes mellitus. Keywords: Blood glucose levels, Diabetes mellitus; Elderly knowledge; Health education; Instability of Glucose Levels Pendahuluan: Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang setiap tahun penderitanya mengalami peningkatan. Data World Health Organization tahun 2018 menginformasikan bahwa tercatat 422 juta orang di dunia menderita diabetes mellitus dan mencapai 71% menjadi penyebab utama kematian di dunia. Peningkatan prevalensi global Diabetes mellitus sekitar 8.3% terjadi pada kelompok usia 20 – 79 tahun dan diperkirakan terdapat 2,2 juta kematian akibat penyakitd diabetes mellitus terjadi sebelum usia 70 tahun, khususnya di negara - negara dengan status ekonomi rendah dan menengah. Diabetes mellitus adalah salah satu penyakit kronis yang banyak ditemukan pada lansia, dan pengelolaannya sangat bergantung pada pengetahuan individu tentang penyakit tersebut. Pengetahuan lansia mengenai diabetes mellitus, terutama mengenai pengelolaan kadar glukosa darah, dapat berpengaruh signifikan terhadap stabilitas kadar glukosa mereka. Tujuan: Untuk menganalisa hubungan antara pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Kuesioner yang dibagikan kepada 40 lansia penderita diabetes mellitus di beberapa pusat kesehatan mengukur pengetahuan mereka tentang penyakit ini dan gejala-gejala ketidakstabilan kadar glukosa darah yang mereka alami. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan uji korelasi pearson untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat pengetahuan dan tingkat ketidakstabilan kadar glukosa darah. Hasil: Menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus dengan ketidakstabilan kadar glukosa darah (p<0.05). Lansia dengan pengetahuan lebih baik mengenai pengelolaan diabetes cenderung memiliki kadar glukosa darah yang lebih stabil. Simpulan: Dengan tingkat pengetahuan lansia terhadap diabetes mellitus yang beragam, edukasi untuk meningkatkan pengetahuan lansia tentang diabetes mellitus memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap lansia dalam mengelola ketidakstabilan gula darah.  Optimalisasi pengelolaan lansia terhadap diabetes mellitus sangat dipengaruhi oleh tingkat pemahaman tentang diabetes mellitus.
Edukasi pencegahan tuberculosis (TBC) pada anak di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung Setiawati, Setiawati; Juana, Rika; Alam, Rama Rajasa Ferlanda; Istawala, Anggun; Dhitya, Ray Krisna; Safitri, Hilda Meilinda; Irgi, Muhammad; Saputri, Maida; Muarif, Muhammad Syamsul; Kusumaningsih, Dewi; Wardiyah, Aryanti; Novikasari, Linawati
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.493

Abstract

Background: Tuberculosis can be transmitted to children when active TB sufferers cough, talk, sneeze, sing, or speak without a mask or personal protective equipment. It is estimated that more than 20,000 cases of childhood tuberculosis occur in Indonesia each year. Indonesia is the country with the second highest number of tuberculosis cases in the world after India. Given that this disease is a dangerous disease, there needs to be sufficient public awareness and understanding of this disease. Purpose : Increase public knowledge about preventing TB transmission in children. Method: Implementation of activities using the lecture method, namely presenting material on preventing tuberculosis in children to participants by conducting interactive discussions. Education is also provided by providing instructions on how to prevent tuberculosis transmission in children. The supporting media used are leaflets and banner stands. Results: In this community service activity, most participants were able to answer well and understood the material presented. This program will be continued to find out how successful it is in increasing knowledge and its application in the work area of ​​the Kedaton Health Center, Bandar Lampung City. Participants were also enthusiastic about asking questions about the material provided. Conclusion: Educational activities to prevent TB transmission in children are very effective in increasing parental knowledge in protecting children from the negative impacts of tuberculosis transmission. Keywords: Children; Prevention; Tuberculosis transmission; Tuberculosis. Pendahuluan: Penyakit TBC dapat menular pada anak ketika penderita TBC aktif batuk, berbicara, bersin, bernyanyi, atau berbicara tanpa masker atau alat pelindung diri. Diperkirakan lebih dari 20.000 kasus tuberculosis anak terjadi di Indonesia setiap tahunnya. Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus tuberculosis tertinggi kedua di dunia setelah India. Mengingat penyakit ini merupakan penyakit yang berbahaya, maka perlu adanya kesadaran dan pemahaman masyarakat yang cukup terhadap penyakit ini. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan penularan TB pada anak-anak. Metode: Pelaksanaan kegiatan dengan metode ceramah yaitu mempresentasikan materi mengenai pencegahan tuberculosis pada anak kepada para peserta dengan melakukan diskusi interaktif. Edukasi diberikan juga dengan memberikan petunjuk mengenai cara pencegahan penularan tuberculosis pada anak. Dengan media bantu yang digunakan adalah leaflet dan stand banner. Hasil: Dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, sebagian besar peserta dapat menjawab dengan baik dan cukup memahami dari materi yang disampaikan. Program ini akan dilanjutkan untuk mengetahui sejauh mana keberhasilannya yang adanya peningkatan pengetahuan dan penerapannya di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung. Peserta juga berantusias melakukan tanya jawab mengenai materi yang diberikan. Simpulan: Kegiatan edukasi pencegahan penularan TB pada anak sangat efektif dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua dalam melakukan perlindungan terhadap anak dari dampak buruk penularan tuberculosis.
Edukasi perawatan fleksibilitas dan keseimbangan tubuh pada lansia di Posyandu Lansia, Way Sulan Tanjung Bintang Saputra, Rinaldi Prima; Zulfikar, Zulfikar; Fadhail, Maulana Ahsan
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.540

Abstract

Background: Aging is a natural process that cannot be avoided by every individual. Aging is a process of gradual loss of the ability of tissue to repair itself or replace itself and maintain its normal structure and function. This decrease in physical capacity is caused by several factors including musculoskeletal, cardiovascular and neuromuscular factors. The occurrence of decreased physical capacity is a condition that is very common in society that can trigger pain. As much as 28-35% of elderly people over 65 years old fall at least once a year and increase at the age of over 75 years by 32-42%. So, it is very important for the elderly to maintain and maintain muscle strength. Purpose: Provide health education as an effort to increase knowledge about the importance of balance and flexibility in the elderly. Method: The implementation of this activity goes through several stages, namely asking for permission from the local primary health, namely the Way Sulan Health Center, explaining the importance of conducting education to the elderly and explaining the importance of knowledge/understanding of elderly health problems with specific discussions on balance and flexibility. In the implementation stage, all participants were given material presentations using lecture and presentation methods. This was followed by a discussion and question and answer session. Results: Based on the Time Up and Go Test examination of 70 participants, it shows that the majority of elderly people have a low risk of falling as many as 13 people (18.57%). As many as 24 elderly people (34.28%) are in the moderate risk of falling category and as many as 33 people (47.14%) have a greater risk of falling. And based on the Sit & reach test examination, it shows that the majority of elderly people have hamstring and lowerback flexibility ≥ 4 inches 16 people (22.85%). As many as 20 elderly people (28.57%) are in the flexibility category ≥ 3 inches, as many as 30 people (42.85%) with flexibility ≥ 2 inches and as many as 4 people have flexibility ≥ 1 inch (5.71%). Conclusion:  Health counseling or education for the elderly about balance and flexibility has a very good impact on the community, especially on the mechanism of managing elderly health that can be done independently or with family support. Educational programs about balance and flexibility also increase awareness of the importance of maintaining fitness, and being aware of the risk of falling in the elderly. .Keywords: Balance; Elderly; Flexibility; Health education Pendahuluan: Lanjut usia (lansia) merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Penuaan (menjadi tua: aging) adalah suatu proses penghilangan secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya. Penurunan kapasitas fisik ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor penurunan muskuluskeletal, kardiovaskular dan neuromuskular. Kejadian penurunan kapasitas fisik merupakan kondisi yang sangat banyak dijumpai di masyarakat yang bisa memicu terjadinya rasa nyeri. Sebesar 28-35% lansia di atas 65 tahun setidaknya jatuh satu kali dalam satu tahun dan meningkat pada usia di atas 75 tahun sebesar 32-42%. Jadi, sangat penting bagi lansia untuk menjaga dan memelihara kekuatan otot. Tujuan: Memberikan penyuluhan kesehatan sebagai upaya meningkatkan pengetahuan mengenai pentingnya keseimbangan dan fleksibilitas pada lansia. Metode: Pelaksanaan kegiatan ini melalui beberapa tahapan yaitu meminta ijin kepada kesehatan primer setempat yaitu puskesmas Way Sulan menjelaskan kepentingan untuk melakukan penyuluhan kepada lansia dan menjelaskan pentingnya pengetahuan/pemahaman masalah kesehatan lansia dengan spesifik pembahasan keseimbangan dan fleksibilitas. Tahap pelaksanaan seluruh peserta diberikan pemaparan materi dengan metode ceramah dan presentasi. Selanjutnya dilakukan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Hasil: Berdasarkan pemeriksaan Time Up and Go Test  dari 70 peserta menunjukkan bahwa mayoritas lansia memiliki risiko jatuh kecil sebanyak 13 orang (18.57%). Sebanyak 24 orang lansia (34.28%) dalam kategori risiko jatuh sedang dan sebanyak 33 orang (47.14%) memiliki risiko jatuh lebih besar. Dan berdasarkan pemeriksaan Sit & reach test menunjukkan mayoritas lansia memiliki fleksibilitas hamstring dan lowerback ≥ 4 inch 16 orang (22.85%). Sebanyak 20 orang lansia (28.57%) dalam kategori fleksibilitas ≥ 3 inch,  sebanyak 30 orang (42.85%) dengan fleksibilitas ≥ 2 inch dan sebanyak 4 orang memiliki fleksibilitas ≥ 1 inch (5.71%). Simpulan: Penyuluhan kesehatan atau edukasi pada lansia tentang keseimbangan dan flesibilitas memberikan dampak yang sangat baik pada masyarakat, khususnya pada mekanisme pengelolaan kesehatan lansia yang dapat dilakukan secara mandiri atau oleh dukungan keluarga. Program edukasi tentang keseimbangan dan fleksibilitas juga meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mempertahankan kebugaran, dan mewaspadai resiko jatuh pada lansia.
Hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit eksim pada bayi (0-12 bulan) di Dusun Endut Desa Batu Mekar Gumangsari, Ni Made Gita; Isviyanti, Isviyanti; Hidayati, Diana
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i5.601

Abstract

Background: Eczema is a chronic, inflammatory and recurrent skin disease, characterized by a person's skin becoming red, inflamed, and itchy. Eczema is one type of disease that often occurs in children ranging from the age of 6 months to 5 years. In 2021, eczema increased again by around 59,395 cases and was ranked 5th in West Nusa Tenggara (NTB) Province. In Endut Hamlet, there were 30 cases of babies with eczema ranging from 0-12 months of age. Purpose: To determine the relationship between environmental sanitation and the incidence of eczema in infants aged 0-12 months. Method: Descriptive research with a quantitative approach to determine the relationship between environmental sanitation and the incidence of eczema in infants aged 0-12 months in 2003 in Endut Hamlet, Batu Mekar Village, Lingsar District, West Lombok Regency. The population in this study were 30 mothers who had babies aged 0-12 months. Sampling used total sampling method so that 30 babies became respondents. The dependent variables consisted of hair cleanliness, hand-nail-toenail cleanliness, clothing cleanliness, skin cleanliness, towel cleanliness and bed and bed linen cleanliness. While environmental sanitation consisted of clean water facilities, waste disposal facilities and healthy toilet facilities. The independent variable was the incidence of eczema in babies aged 0-12 months, which was assessed by subjective observation. Data were analyzed using the chi square test with an alpha value of 0.05 (95%). Results: Respondent data shows that most of the environmental cleanliness and sanitation levels are in the poor category. The significance of hair cleanliness levels on eczema cases obtained pValue=0.023. The significance of respondents' hand, foot and nail cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.023. While the significance of respondents' skin cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.042. The significance of respondents' clothing cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.023. While the significance of towels cleanliness levels with eczema cases obtained pValue=0.002. While the significance for bed cleanliness levels with eczema cases and obtained pValue=0.042. And with a p value of 0.023 for clean water facilities and a p value of 0.010 for waste disposal facilities/healthy toilet facilities, it shows that there is a significant relationship between clean water facilities, waste disposal facilities, and healthy toilet facilities and the occurrence of eczema in Endut Hamlet, Batu Mekar Village, Lingsar District, West Lombok Regency. Conclusion: Environmental sanitation, cleanliness of equipment and supporting facilities for cleanliness are factors that influence the incidence of eczema in infants aged 0-12 months. Healthy lifestyles and supporting facilities for cleanliness are dominant factors in preventing the occurrence of eczema. Suggestions: This activity and research is expected to provide increased knowledge, especially regarding the implementation of a healthy lifestyle and maintaining environmental sanitation to prevent eczema and the results of this study can be a reference in further research by adding other variables in testing such as other variables such as eye hygiene, nose hygiene, oral and dental hygiene and genital hygiene. Keywords: Eczema; Environmental sanitation; Infants; Personal hygiene; Skin Pendahuluan: Eksim merupakan penyakit kulit kronik, inflamatif dan dapat muncul kembali, yang ditandai kulit seseorang menjadi merah, meradang, dan terasa gatal. Penyakit eksim salah satu jenis penyakit yang sering terjadi pada usia anak-anak mulai dari usia anak 6 bulan pertama sampai 5 tahun. Pada tahun 2021 penyakit Eksim meningkat lagi sekitar 59.395 kasus dan masuk ke dalam peringkat ke-5 di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Dusun Endut sebanyak 30 kasus bayi yang terkena eksim mulai dari usia 0-12 bulan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian panyakit eksim pada bayi berusia 0-12 bulan. Metode: Penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui hubungan sanitasi lingkungan dengan kejadian penyakit eksim pada bayi usia 0-12 bulan pada tahun 2003 di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat..  Populasi dalam penelitian ini adalah 30 ibu yang memiliki bayi berusia 0-12 bulan. Pengambilan sampel menggunakan cara total sampling sehingga mendapatkan 30 bayi menjadi responden. Variabel dependen terdiri atas kebersihan rambut, kebersihan tangan-kuku-kaki, kebersihan pakaian, kebersihan kulit, kebersihan handuk dan kebersihan tempat tidur serta sprei. Sedangkan sanitasi lingkungan terdiri atas sarana air bersih, sarana pembuangan sampah dan sarana jamban sehat. Variabel independennya adalah kejadian eksim pada bayi usia 0-12 bulan, yang dinilai dengan observasional subyektif. Data dianalisa dengan uji chi square dengan nilai alpha 0.05 (95%).   Hasil: Data responden menunjukkan sebagian besar tingkat kebersihan dan sanitasi lingkungan dalam kategori buruk. Signifikansi  tingkat kebersihan rambut terhadap kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Signifikansi tingkat kebersihan tangan, kaki dan kuku responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Sedangkan signifikansi tingkat kebersihan kulit responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.042. Signifikansi tingkat kebersihan pakaian responden dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.023. Sedangkan signifikansi tingkat kebersihan handuk dengan kejadian eksim mendapatkan pValue=0.002. Sedangkan signifikansi untuk tingkat kebersihan tempat tidur dengan kejadian dan mendapatkan pValue=0.042. Dan dengan nilai p value sebesar 0.023 untuk sarana air bersih dan p value sebesar 0.010 untuk sarana pembuangan sampah/sarana jamban sehat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara sarana air bersih, sarana pembuangan sampah, dan sarana jamban yang sehat terhadap timbulnya pernyakit eksim di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupatan Lombok Barat. Simpulan: Sanitasi lingkungan, kebersihan perlengkapan dan sarana penunjang kebersihan adalah faktor yang berpengaruh terhadap kejadian eksim pada bayi berusia 0-12 bulan. Pola hidup sehat dan sarana penunjang kebersihan adalah faktor yang dominan dalam mencegah timbulnya kejadian eksim. Saran: Kegiatan dan penelitian ini diharapkan dapat memberikan peningkatan pengetahuan khususnya mengenai penerapkan pola hidup sehat dan menjaga sanitasi ligkungan untuk mencegah terjadinya eksim dan hasil dari penelitian ini dapat menjadi rujukan di penelitian lanjutan dengan menambahkan variabel lain dalam pengujian seperti variabel lainnya seperti  kebersihan mata, kebersihan hidung, kebersihan mulut dan gigi serta kebersihan genetalia.

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue