cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 287 Documents
Perencanaan pelaksanaan keperawatan (MPKP) metode tim di ruang penyakit dalam Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung Herliza, Herliza; Triyoso, Triyoso; Kusumaningsih, Dewi
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.425

Abstract

Background: A hospital is a health service institution that provides comprehensive and complete health services for individuals by providing inpatient, outpatient, and emergency services based on Law No. 44 of 2009. A hospital is an integral part of a social and health organization with the function of providing comprehensive services, curative, and preventive services to the community.. Purpose: To identify the planning for the implementation of professional nursing practice (MPKP) using the team method in the internal medicine room. Method: Descriptive research with a case study approach, conducted at Pertamina Bintang Amin Hospital, Bandar Lampung in March-April 2024. The population in this study was 14 nurses in the internal medicine room. The sample selection used the purpose sampling technique, obtaining 7 nurses as respondents. The types of data collected were primary and secondary data through discussion methods, interviews, demonstrations (education of knowledge about professional nursing practice methods/MPKP), and structured observations. Results: MPKP uses the team method and the manpower is sufficient to carry out the team method. Problems identified through observation, interviews, and questionnaires are that the implementation of the MPKP team method has not been implemented, nurses' knowledge of the team method, and their roles are still lacking. A mini project has been developed to reduce problems that arise in the room, namely in the form of re-education about the MPKP team method followed by the coordinator, team leader and team members. This has received a very good response. Implementing and evaluating using a post-test of nurses' knowledge and implementation of the team method through observation, with good results and responses to the renewal. Conclusion: Planning the implementation of MPKP using the team method will be closely related to improving the quality of health services, in training nurses to be professional in their duties, and providing satisfaction to patients. Keywords: Internal Medicine; Professional Nursing Practice Method (MPKP); Team Method Pendahuluan: Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi perorangan secara menyeluruh dan paripurna dengan menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat berdasarkan Undang-Undang No. 44 Tahun 2009. Rumah sakit merupakan bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pencegahan penyakit (preventif) pada masyarakat. Tujuan: Untuk mengidentifikasi perencanaan pelaksanaan praktik keperawatan profesional (MPKP) metode tim di ruang penyakit dalam. Metode: Penelitian deskristif dengan pendekatan studi kasus, dilaksanakan di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin, Bandar Lampung pada bulan maret-April 2024. Populasi dalam penelitian ini adalah 14 perawat ruang penyakit dalam. Pemilihan sampel menggunakan teknik purpose sampling, mendapatkan 7 perawat sebagai responden. Jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan sekunder melalui metode diskusi, wawancara, demontrasi (edukasi pengetahuan tentang metode praktik keperawatan profesional/MPKP), dan observasi terstruktur Hasil: MPKP menggunakan metode tim dan ketenagaan sudah mencukupi untuk dilakukan. Masalah yang teridentifikasi melalui observasi, wawancara, dan kuesioner yaitu pelaksaan MPKP metode tim belum terlaksana, pengetahuan perawat tentang metode tim, dan perannya masih kurang. Telah menyusun mini projek untuk mengurangi masalah yang muncul di ruangan, yaitu dalam bentuk re-edukasi tentang MPKP metode tim yang dikuti oleh koordinator, ketua tim dan anggota tim. Hal ini mendapat respon yang sangat baik. Melaksanakan dan mengevaluasi menggunakan post test pengetahuan perawat dan pelaksanaan metode tim secara observasi, dengan hasil dan respon yang baik terhadap pembaharuan Simpulan: Perencanaan pelaksanaan MPKP menggunakan metode tim akan sangat berkaitan dengan peningkatan mutu pelayanan kesehatan, dalam melatih tenaga perawat menjadi profesional terhadap tugasnya, dan memberikan kepuasan kepada pasien.  
Edukasi masyarakat dalam menangani luka dan kegawatdaruratan sehari-hari pada anak stunting dengan memanfaatkan tanaman obat keluarga Darajat, Agus Mi'raj; Abidin, Imam; Khotimah, Nur Intan Hayati Husnul; Tambunan, Irisanna; Megawati, Sri Wulan
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.429

Abstract

Background: Overall, Sinarjaya Village consists of 10 RW, and supported by good soil conditions, more people are suitable for farming and working in factories. Based on the Garut Regional Government, the prevalence of stunting is targeted to be below 14% in 2024, in accordance with the national target, although the stunting rate in Garut Regency increased from 23.6% to 24.1% in early 2024 based on the Indonesian Health Survey. Purpose: To improve community skills related to daily emergencies and the use of family medicinal plants for wounds through community empowerment in families with stunted children. Method: The implementation of activities involves residents involved as Family Welfare Empowerment Cadres and Integrated Service Post Cadres in Sinarjaya Village, Tarogong, Garut. Participation in increasing community empowerment efforts in handling daily emergencies and understanding related to the use of Family Medicinal Plants for wounds in stunted children in families in particular. Activities are carried out through several stages, namely preparation, implementation, and evaluation. Results: Cadres can make phone calls well and can answer questions about emergency handling well. Training in the form of mini lectures and direct practice can improve skills towards cognitive, affective, and basic behavioral aspects such as the ability to remember, pay attention and control performance. Conclusion: Education through training and simulation can improve cadres' knowledge and skills in handling daily emergencies and the use of TOGA for wounds. Improved skills can improve preparedness and success in handling emergencies. The role of PKK and Posyandu cadres who can reach the community is the basis for efforts to empower individuals and families so that handling will be faster and more appropriate. Keywords: Community Empowerment; Dwarfism; Family Medicinal Plants; Wound Care. Pendahuluan: Secara Keseluruhan Desa Sinarjaya terdiri dari 10 RW,serta di dukung oleh kondisi tanah yang baik,  masyarakat lebih banyak bercocok tanam dan bekerja pabrik. Berdasarkan pemerintah daerah kabupaten (Pemkab) Garut menargetkan prevalensi stunting di bawah 14% pada tahun 2024,sesuai dengan target nasional,meski angka stunting di kabupaten Garut naik dari 23.6% menjadi 24.1% pada tahun 2024 awal berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI). Tujuan: Untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menangani luka dan kegawatdaruratan sehari-hari pada anak stunting dengan memanfaatkan tanaman obat keluarga. Metode: Pelaksanaan kegiatan melibatkan warga yang terlibat menjadi Kader PKK dan Kader Posyandu yang ada di Desa Sinarjaya Tarogong Garut. Partisipasinya adalah dalam meningkatkan upaya pemberdayaan masyarakat dalam penanganan kegawatdaruratan sehari-hari dan pemahaman terkait penggunaan TOGA untuk luka pada anak stunting di keluarga khususnya. Kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan, persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil: Kader dapat mensimulasikan dengan baik dan dapat menjawab pertanyaan dengan baik tentang penanganan kegawatdaruratan. Pelatihan yang berbentuk mini-lecturing dan direct practicing mampu meningkatkan keterampilan menuju aspek kognitif, afektif, serta perilaku mendasar misalnya kemampuan mengingat, perhatian dan mengontrol kinerja. Simpulan: Edukasi melalui pelatihan dan simulasi dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam penanganan kegawatdaruratan sehari-hari dan pemanfaatan TOGA untuk luka. Peningkatan keterampilan dapat meningkatkan kesiapsiagaan dalam penanganan kegawat daruratan. Peran kader PKK dan Posyandu yang dapat menjangkau masyarakat menjadi dasar dalam upaya memberdayakan individu dan keluarga sehingga penanganan akan lebih cepat dan tepat
Pendidikan kesehatan dengan pendekatan psikologis pada penderita tuberculosis yang introvert Jipri Suyanto; Fery Surahman Saputra; Yance Hidayat; Zumadir Ahad; Nur Aida Siti Karomah; Priti Sinta; Suriyani; Monica Dwi Hartanti
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.434

Abstract

Background: Tuberculosis (TB) continues to be one of the most significant public health problems worldwide. According to World Health Organization estimates, around 10.6 million people were diagnosed with the disease in 2021. Managing tuberculosis is becoming more difficult due to the fact that drug-resistant strains are becoming more common. This makes most tuberculosis patients withdrawn and less social, making them introverted. Introverted patients face their own set of problems in managing tuberculosis (TB), especially related to the level of participation in health services and health literacy. A health education strategy based on personal health psychology techniques is needed as an effort to approach health understanding to introverted tuberculosis patients. Purpose: To provide emotional support and improve health literacy in introverted tuberculosis patients. Method: This approach is implemented through a house-to-house visit method. Providing education about health, treatment, and providing social insight on how to behave towards the community. Evaluation using a questionnaire (emotional contingency theory) as a record of behavioral responses and patient facial expressions. Evaluation of facial expressions is grouped into 2 categories, namely positive = if the response is depicted with a bright and smiling face and responding to conversations well and negative = if the patient responds with less responsive, uncommunicative, and closed behavior. Results: More than eighty percent of patients showed symptoms of positive emotions that increased after the educational intervention. Most patients gained increased knowledge and understanding of tuberculosis. Positive patient expressions after the intervention showed that increased knowledge made tuberculosis patients better at interacting with the community. Conclusion: Community service activities with a psychological health approach by making direct home visits are very effective as an application of health education to introverted tuberculosis patients. With this concept, we have high hopes that patients will be able to gain a more comprehensive understanding of tuberculosis and increase compliance with their healing therapy. Awareness of psychological needs is part of mental health support for tuberculosis sufferers. Keywords: Emotional; Health education; Introvert; Personal health psychology; Tuberculosis Pendahuluan: Tuberculosis (TB) terus menjadi salah satu masalah paling signifikan bagi kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Menurut perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar 10,6 juta orang didiagnosis menderita penyakit tersebut pada tahun 2021. Mengelola tuberculosis menjadi lebih sulit karena fakta bahwa strain yang resisten terhadap obat menjadi lebih umum. Hal ini menjadi sebagian besar penderita tuberculosis menjadi tertutup dan kurang berinteraksi dengan sosial, sehingga menjadikan penderita tuberculosis berperilaku introvert.   Pasien introvert menghadapi serangkaian masalah tersendiri dalam hal penanganan tuberculosis (TB), khususnya terkait tingkat partisipasi dalam layanan kesehatan dan literasi kesehatan. Diperlukan sebuah strategi pendidikan kesehatan yang didasarkan pada teknik psikologi kesehatan pribadi sebagai upaya pendekatan pemahaman tentang kesehatan kepada penderita tuberculosis yang introvert. Tujuan: Untuk memberikan dukungan emosional dan meningkatkan pemahaman kesehatan pada penderita tuberculosis yang introvert. Metode: Pendekatan ini diterapkan melalui metode kunjungan dari rumah ke rumah. Memberikan edukasi tentang kesehatan, pengobatan, dan memberikan wawasan sosial bagaimana bersikap kepada masyarakat. Evaluasi menggunakan kuesioner (teori kontingensi emosional) sebagai pencatatan tanggapan perilaku dan ekspresi wajah pasien. Evaluasi ekspresi wajah dikelompokkan dalam 2 kategori yaitu positif=apabila tanggapan digambarkan dengan wajah yang cerah dan tersenyum serta menanggapi percakapan dengan baik dan negatif=apabila pasien menanggapi dengan perilaku yang kurang responsif, tidak komunikatif, dan tertutup. Hasil: Lebih dari delapan puluh persen pasien menunjukkan gejala emosi positif yang meningkat setelah dilakukan intervensi edukasi. Sebagian besar pasien mendapatkan peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang tuberculosis. Ekspresi positif pasien setelah intervensi menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan menjadikan pasien tuberculosis dalam berinteraksi dengan masyarakat menjadi lebih baik. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat dengan pendekatan kesehatan psikologis dengan melakukan kunjungan ke rumah langsung sangat efektif sebagai penerapan edukasi kesehatan kepada pasien tuberculosis yang introvert. Dengan konsep ini, kami memiliki harapan besar bahwa pasien akan mampu memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang tuberculosis dan meningkatkan kepatuhan terhadap terapi penyembuhannya. Kesadaran akan kebutuhan psikologis adalah bagian dari dukungan mental kesehatan bagi penderita tuberculosis.  
Program positive parenting sebagai upaya pencegahan risiko stunting Tambun, Yetty Mariani; Manurung, Suryani; Lestari, Tri Riana; Aprianti , Tutty; Pudentiana, Pudentiana
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.441

Abstract

Background: Stunting is a condition of failure to thrive as a result of chronic malnutrition, which causes children to grow too short and thin for their age. Currently, stunting is seen as a serious health problem in society, in the world and in Indonesia. The South Jakarta City Government found 640 toddlers suspected of stunting or slow growth and development. Meanwhile, of that number, the Mayor of South Jakarta said that 203 toddlers had been determined to have stunting status. Efforts to handle stunting prevention for those suspected of stunting were 640 and those who had been determined to have stunting were 203 spread across 15 locations in South Jakarta sub-districts, namely determining parenting patterns and foster parents. Purpose: To provide increased ability and skills of health cadres in implementing program positive parentings and improving the abilities of mothers or mothers who have toddlers. Method: Activities are carried out using counseling, demonstration, discussion and participatory action review monitoring evaluation methods Results: Obtaining an agreement on the implementation of a program positive parenting with the local government and the implementation of the socialization of the program positive parenting (P3) to health cadres, the implementation of the program positive parenting (P3) to pregnant women and mothers with toddlers, and the implementation of the nutrition monitoring calendar in the Ragunan Village Health Center, South Jakarta. Conclusion: Community service for the program positive parenting provides an increase in the ability and skills of health cadres in implementing the program positive parenting and improving the ability of mothers with toddlers in applying the nutrition monitoring calendar to detect the risk of stunting. Suggestions: In the future, for cadres who already have the ability, it is hoped that they can periodically monitor the implementation of positive parenting in pregnant women and mothers with toddlers so that they can minimize the risk of stunting. Keywords: Program positive parenting; Pregnant women; Stunting; Toddlers Pendahuluan: Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh sebagai dampak kekurangan gizi kronis, yang menyebabkan anak menjadi tumbuh terlalu pendek dan kurus pada usianya. Saat ini, stunting dipandang sebagai masalah kesehatan yang serius di masyarakat, di dunia maupun di Indonesia. Pemerintah Kota Jakarta Selatan menemukan 640 balita terduga stunting atau lambat tumbuh kembang. Sementara itu, dari jumlah tersebut, Wali Kota Jakarta Selatan menyebutkan sebanyak 203 balita yang sudah ditetapkan berstatus stunting. Upaya penanganan pencegahan stunting terhadap yang terduga stunting yakni sebanyak 640 dan yang sudah ditetapkan mengalami stunting sebanyak 203 yang tersebar di 15 lokasi kelurahan Jakarta Selatan yakni menetapkan pola asuh dan orangtua asuh.  Tujuan: Untuk memberikan peningkatan kemampuan dan keterampilan kader kesehatan dalam mengimplementasikan program positive parenting dan meningkatkan kemampuan ibu atau ibu yang memiliki balita. Metode: Kegiatan dilaksanakan dengan menggunakan metode penyuluhan, demonstrasi, diskusi dan evaluasi monitoring kaji tindak partisipastif. Hasil: Mendapatkan kesepakatan pelaksanaan program pengasuhan positive parenting dengan pemerintah daerah dan terlaksananya sosialisasi program positive parenting (P3) pada kader kesehatan, implementasi program positive parenting (P3) kepada ibu hamil dan ibu yang memiliki balita, dan penerapan kalender monitoring gizi di kelurahan Puskesmas Kelurahan Ragunan Jakarta Selatan. Simpulan: Pengabdian masyarakat program positive parenting memberikan peningkatan kemampuan dan keterampilan kader kesehatan dalam mengimplementasikan program positive parenting dan meningkatkan kemampuan ibu yang memiliki balita dalam mengaplikasikan kalender monitoring gizi untuk mendeteksi risiko stunting. Saran: Untuk kedepannya, bagi kader yang sudah memiliki kemampuan, diharapkan dapat secara berkala memantau penerapan positive parenting pada ibu hamil dan ibu yang memiliki balita sehingga dapat meminimalkan risiko terjadinya stunting.
Human capital peningkatan pengetahuan kesehatan sistem reproduksi sebagai upaya penguatan mental pada remaja di SMK Wiyata Karya Natar - Lampung Ningsih, Tri Riwayati; Noor, Marzuki
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.444

Abstract

Background: Adolescence is a transitional period between childhood and adulthood that experiences development to achieve physical, mental, social, and emotional maturity. Adolescents are very vulnerable to various reproductive health problems such as infections and sexually transmitted diseases. Reproductive health is complete physical, mental and social well-being, not just free from disease or disability, in all aspects related to the reproductive system, its functions and processes. Mental health is a very important aspect for adolescents. Purpose: To provide knowledge about reproductive health to adolescents as an effort to strengthen mental and self-confidence. Method: This health education promotion activity was carried out on November 9, 2024 at SMK Wiyata Karya Natar Lampung. This community service activity was carried out together with students, lecturers and the school. Participation in this activity was attended by 95 students of SMK Wiyata Karya Natar Lampung aged 16-18 years. Providing material using the lecture method with the aid of a laptop, LCD and projector regarding mental health insights and the negative impacts on adolescents who have health problems, especially the negative impacts that can arise due to a lack of knowledge about the reproductive system. Results: Subjective data from 95 respondents showed that 94.7% of female students did not know the signs of healthy reproductive health, 15.8% of adolescents who had pain during menstruation, 29.5% of adolescents who took medication during menstruation, 74.7% of adolescents who did not know about diseases that are included in reproductive health disorders, and 31.6% of adolescents who did not know about the impact of mental health on adolescents. Most participants were aware and expected to be able to prevent reproductive disorders that might occur in individuals or families. Conclusion: Community service activities by providing education about reproductive health knowledge for adolescents can increase knowledge and provide mental strength in preventing negative psychological, social and spiritual impacts caused by health disorders. Increasing knowledge about reproductive health can also reduce reproductive system diseases that are caused and their transmission. Suggestion: The school forms and establishes cooperative partnerships with health facilities with schools to conduct collaborative screening of reproductive health disorders in their students periodically and continuously. Keywords: Adolescents; Education; Health education; Reproductive system Pendahuluan: Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak menuju masa dewasa yang mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial, dan emosional. Remaja sangat rentan dengan berbagai masalah kesehatan sistem reproduksi seperti infeksi dan penyakit menular seksual. Kesehatan sistem reproduksi adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecatatan, dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem  reproduksi, fungsi serta prosesnya. Kesehatan mental merupakan aspek yang sangat penting bagi remaja. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan tentang kesehatan sistem  reproduksi pada remaja sebagai upaya penguatan mental dan kepercayaan diri. Metode: Kegiatan edukasi promosi pendidikan kesehatan ini di laksanakan pada tanggal 09 November 2024 di SMK Wiyata Karya Natar Lampung. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan bersama mahasiswa , dosen dan pihak sekolah.  Kepesertaan dalam kegiatan ini di ikuti oleh 95 siswa/siswi SMK Wiyata Karya Natar Lampung yang berusia 16 -18 tahun siswa/siswi. Memberikan materi dengan metode ceramah dengan alat bantu Laptop, LCD dan proyektor mengenai wawasan kesehatan mental dan dampak buruk bagi para remaja yang memiliki gangguan kesehatan terutama dampak buruk yang dapat timbul akibat dari kurangnya pengetahuan tentang sistem  reproduksi. Hasil: Data subyektif peserta dari sejumlah 95 responden bahwa siswi yang tidak mengetahui tanda gejala kesehatan sistem reproduksi yang sehat  adalah sebanyak 94.7%, remaja yang nyeri saat haid sebanyak 15.8%, remaja yang mengkonsumsi obat saat haid sebanyak 29.5%, remaja yang tidak mengetahui tentang penyakit yang termasuk gangguan kesehatan sistem reproduksi sebanyak 74.7%, dan remaja yang tidak tahu dampak kesehatan mental pada remaja sebanyak 31.6%. Sebagian besar peserta menyadari dan diharapkan dapat melakukan pencegahan terhadap gangguan sistem  reproduksi yang mungkin akan terjadi pada individu ataupun keluarga. Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat dengan memberikan edukasi tentang pengetahuan kesehatan sistem  reproduksi pada remaja dapat meningkatkan pengetahuan dan memberi kekuatan mental dalam mencegah terjadinya dampak buruk secara psikologis, sosial dan spiritual yang ditimbulkan akibat gangguan kesehatan. Meningkatnya pengetahuan tentang kesehatan sistem  reproduksi juga dapat menekan penyakit pada sistem  reproduksi yang ditimbulkan dan penularannya. Saran: Pihak sekolah membentuk  dan menjalin mitra kerjasama bersama fasilitas kesehatan dengan sekolah untuk melakukan kolaborasi scrining pemeriksaan kesehatan gangguan sistem reproduksi pada siswa/siswinya secara berkala dan berkelanjutan.
Edukasi kejadian anemia pada ibu hamil yang memicu kegawatdaruratan maternal Wardiyah, Aryanti; Chrisanto, Eka Yudha; Zulhaida, Zulhaida; Nadira, Khoirul; Ladin, Juliawan; Sintia, Monica Bela Dwi; Rahmatika, Ida; Anjani, Ni Wayan Oktavia; Putri, Mia; Prayogo, Idfy Dwi; Sari, Yunidha Puspita
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.445

Abstract

Background: Iron requirements increase during pregnancy to meet increased fetoplacental requirements, increase maternal red blood cell mass, and compensate for iron loss during birth. In more than 80% of countries worldwide, the prevalence of anemia during pregnancy exceeds 20% and is considered a major public health problem. Lampung Province, data shows that Bandar Lampung City has the highest number of cases of anemia in pregnant women, namely 1,975 cases (22.50%). Purpose: Increase the knowledge of pregnant and breastfeeding mothers regarding the prevention of anemia that triggers maternal emergencies. Method: The activity was carried out using lecture and presentation methods using leaflet media. Education was given to respondents regarding knowledge about anemia in pregnant and breastfeeding mothers, as well as regarding the prevention of anemia that can cause maternal emergencies. Results: Respondents were very enthusiastic about the material provided. In addition, several respondents who asked questions about the material on preventing anemia and were very interested in knowledge about anemia, none left the room before the community service activity was completed. One of the measures to prevent anemia is to consume foods rich in vitamins and minerals. Conclusion : Counseling activities on anemia can increase knowledge of preventing anemia in pregnant and breastfeeding mothers. Increasing knowledge will greatly help reduce the risk of several complications that endanger pregnant women and fetuses such as abortion, low birth weight and premature birth. So that indirectly it can suppress the occurrence of maternal emergencies. Keywords : Anemia; Education; Pregnant women; Prevention of anemia Pendahuluan: Kebutuhan zat besi meningkat selama kehamilan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan fetoplasenta,  meningkatkan massa sel darah merah ibu, dan  mengkompensasi kehilangan zat besi selama kelahiran. Di lebih dari 80% negara di seluruh dunia, prevalensi anemia selama kehamilan melebihi 20% dan dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama. Provinsi Lampung, data menunjukkan bahwa Kota Bandar Lampung memiliki jumlah kasus anemia ibu hamil tertinggi, yaitu sebanyak 1.975 kasus (22,50%). Tujuan : Meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan ibu menyusui mengenai pencegahan kejadian anemia yang memicu kegawatdaruratan maternal.  Metode: Kegiatan dilaksanakan dengan metode ceramah dan presentasi menggunakan media leaflet.  Edukasi diberikan kepada responden mengenai pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil dan ibu menyusui, serta mengenai pencegahan kejadian anemia yang dapat menjadi penyebab terjadinya kegawatdaruratan maternal. Hasil: Responden sangat berantusias dengan materi yang diberikan. Selain itu, beberapa responden yang memberikan pertanyaan mengenai materi pencegahan anemia dan sangat tertarik dengan pengetahuan tentang anemia, tidak ada yang meninggalkan ruangan sebelum kegiatan pengabdian kepada masyarakat selesai dilakukan. Salah satu tindakan pencegahan anemia adalah dengan mengkonsumsi makanan yang kaya akan vitamin dan mineral.  Simpulan: Kegiatan penyuluhan tentang anemia dapat meningkatkan pengetahuan pencegahan kejadian anemia pada ibu hamil dan ibu menyusui. Dengan meningkatnya pengetahuan akan sangat membantu mengurangi resiko  beberapa komplikasi yang membahayakan ibu hamil dan janin seperti abortus, berat badan lahir rendah dan persalinan prematuritas. Sehingga secara tidak langsung dapat menekan terjadinya kegawatdaruratan maternal.
Pendidikan kesehatan kegawatdaruratan stroke pada ibu rumah tangga Sasmito, Priyo; Susilawati , Susi; Royani, Royani; Madani, Ultra; Sumartini, Sri; Purwanti, Nunuk Sri; Wirawan, Nandar
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i2.446

Abstract

Background: The incidence, paralysis, and death due to stroke in Indonesia are increasing. Generally, people do not understand the signs of stroke and the importance of immediate assistance for stroke sufferers. Housewives are the component of the family who are most often at home, where strokes often begin. Purpose: To increase the knowledge of housewives in recognizing the signs of acute stroke, emergencies that can occur, and efforts that can be made to prevent stroke. Method: This counseling uses a lecture method with leaflet media for housewives in Sudimara Barat Village. Results: A total of 13 participants attended this counseling. Education was carried out by providing material on the understanding of stroke, causes of stroke, signs and symptoms of stroke, risk factors for stroke, stroke complications, foods to avoid in stroke patients, how to prevent recurrent stroke and how to modify the home environment. The average knowledge of participants increased from 40% to 80%. Conclusion: Health education on stroke emergencies can increase housewives' knowledge of stroke emergencies and preventive measures that can be taken. With increased knowledge, it is hoped that it can increase public awareness of the importance of immediate assistance for acute stroke. Keywords: Acute stroke; Emergencies; Health education; Housewives Pendahuluan: Angka kejadian, kelumpuhan, dan kematian akibat stroke di Indonesia kian meningkat. Umumnya masyarakat kurang memahami tanda-tanda stroke serta pentingnya pertolongan segera pada penderita stroke. Ibu rumah tangga adalah komponen dalam keluarga yang paling sering berada di rumah, dimana stroke seringkali berawal. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan ibu rumah tangga dalam mengenali tanda-tanda terjadinya stroke akut, kegawatdaruratan yang dapat terjadi, serta upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya stroke. Metode: Penyuluhan ini menggunakan metode ceramah dengan media leaflet pada ibu rumah tangga di Kelurahan Sudimara Barat. Hasil: Sebanyak 13 partisipan menghadiri penyuluhan ini. Edukasi dilakukan dengan pemberian materi mengenai pengertian tentang stroke, penyebab terjadinya stroke, tanda dan gejala stroke, factor resiko terjadinya stroke, komplikasi stroke, makanan yang dihindari pada pasien stroke, cara mencegah stroke berulang dan cara memodifikasi lingkungan rumah. Rata-rata pengetahuan partisipan meningkat dari 40% menjadi 80%. Simpulan: Penyuluhan kesehatan tentang kegawatdaruratan stroke dapat meningkatkan pengetahuan ibu rumah tangga tentang kegawatdaruratan stroke serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan. Dengan meningkatnya pengetahuan diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pertolongan segera pada stroke akut.
Pelatihan bantuan hidup dasar (BHD) pada kader kesehatan Sasmito, Priyo; Royani, Royani; Ayinun, Aminah; Kurnelia, Ega; Nadiya, Della; Susiyanti, Hera; Dasopang, Ramadhana S.M.; Asminah , Asminah; Octavia, Marta; Mahdawarti, Mahdawarti; Pramesty, Merrina; Lisdawati, Riska; Mardesela, Ega; Gunawan, Gunawan; Sartika, Sartika; Herdiana, Herdiana; Fitriani, Ayu; Munisah, Yeni; Barus, Lidya Hariaty; Setiawan, Agus
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.447

Abstract

Background: Most cardiac arrests occur outside of hospital settings (Out-of-Hospital Cardiac Arrest/OHCA). The low knowledge and skills of the public regarding Basic Life Support (BLS) in cardiac arrest cases is one of the factors that contribute to the low survival rates of patients experiencing cardiac arrest. Health cadres are considered to have higher health awareness than other groups in the general population, and they have the potential to receive training and education on Basic Life Support (BLS). Purpose: To improve the understanding and skills of health cadres regarding the provision of Basic Life Support (BLS) for out-of-hospital cardiac arrest. Method: Training was provided to health cadres in the Lengkong Gudang Timur area, Serpong, Tangerang. The material was delivered through an interactive lecture using leaflets and flipcharts as media. Participants' skills were trained using role-play methods with phantom devices. All participants underwent a pre-test and post-test before and after the training. Results: A total of 11 health cadres participated in the activity. Participants' knowledge about cardiac arrest and Basic Life Support (BLS) increased from an average of 53.6% in the pre-test to 85.4% in the post-test, with an average improvement of 31.8%. Conclusion: Basic Life Support (BLS) training for health cadres can improve both knowledge and skills. Further intensive training is needed to enhance retention and confidence in performing Basic Life Support (BLS) in actual cardiac arrest situations. Collaboration between the government, health organizations, and communities is needed to develop affordable and accessible training programs for all groups. Keywords: Basic Life Support; Emergency; Out-of-Hospital Cardiac Arrest; Training Pendahuluan: Sebagian besar henti jantung terjadi di luar rumah sakit (Out-of Hospital Cardiac Arrest/OHCA). Rendahnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pemberian Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada kasus henti jantung merupakan salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya peluang hidup pasien dengan henti jantung. Kader kesehatan dinilai memiliki kesadaran kesehatan yang lebih tinggi dibanding kelompok masyarakat awam lainnya memiliki potensi untuk diberi pelatihan dan edukasi mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD).  Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan kader kesehatan mengenai pemberian Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk henti jantung di luar rumah sakit. Metode: Pelatihan diberikan kepada kader kesehatan yang berada di wilayah Lengkong Gudang Timur, Serpong, Tangerang. Sebanyak 11 orang kader kesehatan terlibat dalam kegiatan ini. Pemberian materi dilakukan dengan metode ceramah interaktif menggunakan media leaflet dan lembar balik. Keterampilan peserta dilatih menggunakan metode role play dengan media phantom. Semua peserta diberikan pre-test dan post-test sebelum dan setelah pelatihan. Hasil:. Pengetahuan mengenai henti jantung dan Bantuan Hidup Dasar (BHD) peserta dari rata-rata 53.6% saat pre-test menjadi 85.4% saat post-test dengan peningkatan rata-rata sebesar 31.8%. Simpulan: Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada kader kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Diperlukan pelatihan lanjutan yang lebih intensif untuk meningkatkan retensi dan kepercayaan diri dalam melakukan Bantuan Hidup Dasar (BHD) pada setting henti jantung yang sebenarnya. Perlu ada kolaborasi antara pemerintah, organisasi kesehatan, dan komunitas dalam menyusun program pelatihan yang terjangkau dan mudah diakses oleh semua kalangan.
Edukasi pencegahan stunting di Desa Sukamaju Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan Ningsih, Tri Riwayati
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i3.448

Abstract

Background: Stunting is a form of failure in child growth and development due to chronic malnutrition. One third of toddlers in Indonesia have below average height. The number of stunted children in Indonesia is ranked fifth in the world. To achieve the target of reducing stunting rates, changes in community behavior are needed. Purpose: The community service carried out by KKN 160 in an effort to prevent stunting is in collaboration with PKK mothers, village midwives and Sukamaju village officials. Method: The stunting prevention activities carried out in Sukamaju Village are a form of Community Service in an effort to prevent stunting. The programs implemented are in the form of education, providing PMT in the form of sweet corn, tempeh and spinach, and providing prenagen milk for pregnant women. Using interactive lecture methods, collaboration and demonstrations. Education in the form of stunting counseling with the theme "Together Prevent Stunting Healthy and Strong Children Great Generation", TPK assistance by measuring Body Length (PB) or Height (TB) and Body Weight (BB), and serving a healthy menu. Results: Through this activity, the community or participants who attended have begun to understand and understand stunting. In this activity, all participants were also given the opportunity to discuss and ask questions about the material. The activity was also attended by all participants with enthusiasm because they felt that the presentation of the material was very useful for all participants in order to recognize whether or not family members were experiencing stunting so that they could take preventive measures and take action to check themselves with health workers or report to related parties, especially to the village office or related parties. Participants can re-explain the material presented. Conclusion: Education about stunting has a positive impact on local residents. Efforts to prevent stunting through education or socialization, providing additional food (PTM) and providing prenagen milk for pregnant women as well as weighing and measuring the weight of toddlers in order to provide direct knowledge and understanding of stunting. Community service activities carried out were able to increase the knowledge of the target of the activity about the problem of short toddlers (stunting) so that it was followed by an increase in awareness that was owned according to the target of the activity regarding the problem of short toddlers (stunting). Suggestion A series of activities carried out in community service in the "Together Preventing Stunting Healthy and Strong Children Great Generation" Program were continued by the village such as posyandu cadres and could be a proposal for activities for the village. The reason this activity needs to be maintained and continued is because it is known that this activity is successful at least in increasing the knowledge and awareness of the target of the activity, but it must be carried out continuously in order to create behavioral changes and prevent stunting. Keywords: Great generation; Healthy children; Prevention; Stunting Pendahuluan: Stunting merupakan salah satu bentuk kegagalan dalam tumbuh kembang anak akibat kekurangan gizi kronis. Sepertiga anak balita di Indonesia memiliki tinggi badan di bawah rata-rata. Jumlah anak stunting di Indonesia menduduki peringkat kelima di dunia. Untuk mencapai target penurunan angka stunting diperlukan perubahan perilaku masyarakat. Tujuan: Pengabdian yang dilakukan KKN 160 dalam upaya pencegahan stunting ini bekerja sama dengan ibu-ibu PKK, bidan desa dan perangkat desa Sukamaju. Metode: Kegiatan pencegahan stunting yang dilakukan di Desa Sukamaju merupakan salah satu bentuk Pengabdian Kepada Masyarakat dalam upaya pencegahan stunting. Program yang dilaksanakannya berupa edukasi, pemberian makanan sehat berupa sayur jagung manis, tempe dan bayam, serta pemberian susu prenagen untuk ibu hamil. Menggunakan metode ceramah interaktif, kolaborasi dan demonstrasi. Edukasi berupa penyuluhan stunting dengan tema " Bersama Cegah Stunting Anak Sehat Dan Kuat Generasi Hebat “, pendampingan TPK dengan mengukur Panjang Badan (PB) atau Tinggi Badan (TB) dan Berat Badan (BB), serta penyajian menu sehat. Hasil: Melalui kegiatan ini masyarakat atau peserta yang hadir sudah mulai mengerti dan paham tentang stunting, Pada kegiatan ini juga di berikan kesempatan untuk seluruh para peserta berdiskusi serta tanya jawab tentang materi tersebut. Kegiatan pun di ikuti oleh seluruh peserta dengan antusias karena merasa pemaparan materi sangat bermanfaat bagi seluruh peserta untuk mengenali bahwa anggota keluarga ada yang mengalami stunting atau tidak agar bisa melakukan pencegahan serta melakukan tindakan untuk memeriksakan diri pada tenaga kesehatan atau melaporkan pada pihak terkait khususnya pada pihak apart desa atau pihak terkait. Peserta dapat menjelaskan ulang dari materi yang disampaikan. Simpulan: Edukasi tentang stunting memberikan dampak positif bagi warga setempat. Upaya pencegahan stunting dengan edukasi atau sosialisasi, pemberian makanan tambahan dan pemberian susu prenagen ibu hamil serta penimbangan dan pengukuran berat badan pada anak balita agar dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman secara langsung terhadap stunting. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan mampu meningkatkan pengetahuan sasaran kegiatan tentang masalah balita pendek (stunting) sehingga diikuti oleh peningkatan awareness yang dimiliki sesuai sasaran kegiatan terhadap masalah balita pendek (stunting). SARAN Serangkaian kegiatan yang dilakukan dalam pengabdian kepada masyarakat dalam Program “ Bersama Cegah Stunting Anak Sehat Dan Kuat Generasi Hebat “ dilanjutkan oleh pihak desa seperti kader posyandu dan dapat menjadi usulan kegiatan bagi desa. Alasan kegiatan ini perlu dipertahankan dan dilanjutkan karena sudah diketahui bahwa kegiatan ini berhasil setidaknya untuk meningkatkan pengetahuan dan awareness sasaran kegiatan, namun harus dilakukan secara berkelanjutan agar dapat menciptakan perubahan perilaku dan mencegah terjadinya stunting.
Optimalisasi adaptasi neonatus dengan penerapan atraumatic care approach: swaddle dan sponge bath di Pangururan Tambunan, Dior Manta; Silaen, Harsudianto; Simanullang, Rostime Hermayerni; Buaton, Kristina; Lumbantobing, Dikki Samuel
JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v4i4.450

Abstract

Background: Neonates experience a transition from the intrauterine to the extrauterine environment which can cause stress and have long-term consequences on the development of the baby's brain. One of the neglected and traumatic neonatal care is during the process of bathing the baby. Purpose: To improve the knowledge of posyandu cadres and the community about the application of the Atraumatic Care Approach: Swaddle and Sponge Bath in an effort to optimize adaptation in neonates. Method: Implementation of community service with pre-test and post-test, provision of cadres, health education and demonstration of the swaddle bath method at the Sait Nihuta Village Hall, Pangururan District. This activity was attended by 6 posyandu cadres, 25 community members consisting of mothers with children aged 0-5 months, pregnant women, and mothers who were planning to have their first/next child. By providing education in the form of material presentation, demonstration and simulation of the Atraumatic Care Approach: Swaddle and Sponge Bath care approach actions for participants. Results: Of the 6 posyandu cadres, there was an increase in knowledge about the Atraumatic Care Approach: Swaddle and Sponge Bath care approach of posyandu cadres from before (pre-test) PKM activities in the less category of 3 people (50.0%) to the majority in the good category of 4 people (66.7%) after (post-test) PKM activities. And for participants from the community, a total of 25 people also experienced an increase in knowledge about the Atraumatic Care Approach: Swaddle and Sponge Bath care approach from before (pre-test) PKM activities in the less category of 14 people (56.0%) to the good category of 15 people (60.0%) after (post-test) PKM activities. Conclusion: Educational activities through PKM can significantly increase knowledge of the Atraumatic Care Approach: Swaddle and Sponge Bath care approach in posyandu cadres and the community. The atraumatic care approach can minimize traumatic experiences during bathing in neonates. Suggestion: It is hoped that this program can continue through cadres who have received education through materials and demonstrations delivered to the community. Keywords: Atraumatic Care Approach; Neonates; Posyandu Cadres; Sponge Bath; Swaddle Bath Pendahuluan: Neonatus mengalami perpindahan dari lingkungan intrauterin ke ekstrauterin yang dapat menyebabkan stres dan mengakibatkan konsekuensi jangka panjang pada perkembangan otak bayi. Salah satu perawatan neonatus yang terabaikan dan traumatik adalah pada waktu proses memandikan bayi. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan kader posyandu dan masyarakat tentang penerapan pendekatan perawatan Atraumatic Care Approach: Swaddle  dan Sponge Bath dalam upaya mengoptimalkan adaptasi pada neonatus. Metode: Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat dengan pre-test dan post-test, pembekalan kader, edukasi kesehatan dan demonstrasi metode swaddle bath di balai Desa Sait Nihuta Kecamatan Pangururan. Kegiatan ini diikuti 6 orang kader posyandu, 25 orang masyarakat yang terdiri dari ibu yang mempunyai anak 0-5 bulan, ibu hamil, dan ibu yang merencanakan untuk mempunyai anak pertama/selanjutnya. Dengan memberikan edukasi berupa pemaparan materi, demonstrasi dan simulasi tindakan pendekatan perawatan penerapan Atraumatic Care Approach: Swaddle dan Sponge Bath pada peserta. Hasil: Dari sejumlah 6 orang kader posyandu terdapat peningkatan pengetahuan tentang pendekatan perawatan Atraumatic Care Approach: Swaddle  dan Sponge Bath kader posyandu dari sebelum (pre-test) kegiatan PKM dalam kategori kurang sebanyak 3 orang (50.0%) menjadi sebagian besar dalam kategori baik sebanyak 4 orang (66.7%) setelah (post-test) kegiatan PKM. Dan untuk peserta dari masyarakat sejumlah 25 orang juga mendapatkan peningkatan pengetahuan tentang pendekatan perawatan Atraumatic Care Approach: Swaddle dan Sponge Bath dari sebelum (pre-test) kegiatan PKM dalam kategori kurang sebanyak 14 orang (56.0%) menjadi dalam kategori baik sebanyak 15 orang (60.0%) setelah (post-test) kegiatan PKM. Simpulan: Kegiatan edukasi melalui PKM dapat meningkatkan pengetahuan pendekatan perawatan Atraumatic Care Approach: Swaddle  dan Sponge Bath yang signifikan pada kader posyandu dan masyarakat. Pendekatan perawatan atraumatik (Atraumatic Care Approach) dapat meminimalkan pengalaman traumatik selama dimandikan pada neonatus. Saran: Diharapkan program ini dapat berlanjut melalui kader yang telah menerima edukasi melalui materi dan demonstrasi yang disampaikan kepada masyarakat.

Filter by Year

2021 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue