cover
Contact Name
Sita Meiningtyas Perdani Putri
Contact Email
phcjournal21@gmail.com
Phone
+6287899595523
Journal Mail Official
mail@iphorr.com
Editorial Address
Jl. Raden Imba Kusuma Ratu Gang Durian No.40, Sukadana Ham, Kota Bandar Lampung 52473
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Journal of Public Health Concerns
ISSN : 27770826     EISSN : 2776592X     DOI : 10.56922
Core Subject : Health,
Jurnal pengabdian kepada masyarakat dibidang kesehatan meliputi kegiatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok maupun lembaga pendidikan sekolah. Kegiatannya yang diawali dengan survei lapangan dan temuan masalah kesehatan yang dialami oleh masyarakat dan ditindaklanjuti dengan kegiatan berupa penyuluhan kesehatan; pelatihan menuju perilaku hidup bersih dan sehat; peningkatan pengetahuan pengobatan alternatif; dan pengetahuan tentang kebutuhan gizi. Terbit bulan April, Juli, Oktober dan Desember.
Articles 335 Documents
Psiko-edukasi kesehatan reproduksi pada remaja melalui pemberdayaan influencer media sosial Rustam, Husnul Khotimah; Syamson, Meriem Meisyaroh; Nurdin, Nasrayanti; Herikzah, Ramli; Murtini, Murtini
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2130

Abstract

Background: This reproductive health psychoeducation program, designed to enhance positive emotions and self-confidence among adolescents using social media influencers, is designed as a promotive-preventive effort to address the developmental challenges of adolescents who are vulnerable to misinformation about reproductive health. The program's background is based on the low reproductive health literacy among adolescents and the high influence of social media on the behavior and mindset of the younger generation. Purpose: To increase adolescents' understanding of reproductive health, build awareness of the importance of self-care, and foster positive emotions and self-confidence through the empowerment of influencers and digital media. Method: This activity was carried out in June 2025 at SMAN 2 Sidenreng Rappang with a population of 120 people while the sample size was 46 people. The material delivery technique was through lectures interspersed with ice breaking. The method of implementing this reproductive health psycho-education program used a social media-based educational approach with collaboration with influencers close to the youth segment. The first stage was conducting a needs analysis, followed by selecting influencers, then producing psycho-educational content, followed by implementation and digital interaction, then conducting program evaluation and analyzing digital engagement (number of views, likes, comments, and participation). This method is designed to be participatory, interactive, and relevant to the digital world of youth, so that psycho-educational messages can be optimally received. Results: The majority of participants demonstrated a better understanding of basic reproductive health concepts, the risks of risky sexual behavior, and the importance of maintaining reproductive health. Positive emotions increased, including feelings of calmer, more motivated, and more optimistic about the physical and social changes they experienced. Adolescents demonstrated greater courage in expressing their opinions, rejecting calls to engage in risky behavior, and making healthy decisions. Participant engagement on social media increased, as evidenced by the high number of views, likes, comments, and participation in online discussions. Conclusion: A social media-based reproductive health psychoeducation program involving influencers has proven to be an innovative and effective approach to improving health literacy, building positive emotions, and fostering self-confidence in adolescents. This activity increased adolescents' understanding, positive attitudes, and courage in making healthy decisions. It also contributes to the development of technology-based educational strategies that are relevant in the digital era and can be replicated across regions. Suggestion: For the program's sustainability, it is recommended that psycho-educational content be continuously developed in more varied and creative formats to attract adolescents in the long term. It is hoped that this program will not be merely a temporary intervention, but can become a model for sustainable reproductive health education with broad impact, supporting the development of a healthy, confident, and psychologically well-being generation. Keywords: Adolescents; Positive emotions; Reproductive health psycho-education; Social media influencers; Self-confidence Pendahuluan: Program psiko-edukasi kesehatan reproduksi untuk meningkatkan emosi positif dan kepercayaan diri remaja menggunakan peran influencer media sosial dirancang sebagai upaya promotif-preventif dalam menghadapi tantangan perkembangan remaja yang rentan terhadap informasi keliru mengenai kesehatan reproduksi. Latar belakang program ini didasari oleh rendahnya literasi kesehatan reproduksi pada remaja serta tingginya pengaruh media sosial terhadap perilaku dan pola pikir generasi muda. Tujuan: Untuk meningkatkan pemahaman remaja tentang kesehatan reproduksi, membangun kesadaran akan pentingnya menjaga diri, menumbuhkan emosi positif dan rasa percaya diri melalui pemberdayaan influencer dan media digital. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan pada Juni 2025 yang bertempat di SMAN 2 Sidenreng Rappang dengan populasi sebesar 120 orang sementara jumlah sampel sebanyak 46 orang. Teknik penyampaian materi adalah dengan ceramah dan diselingi dengan ice breaking. Metode pelaksanaan program psiko-edukasi kesehatan reproduksi ini menggunakan pendekatan edukasi berbasis media sosial dengan kolaborasi influencer yang dekat dengan segmen remaja. Tahap pertama melakukan analisis kebutuhan selanjutnya melakukan pemilihan influencer kemudian produksi konten psiko-edukasi yang dilanjutkan dengan implementasi dan interaksi digital, kemudian melakukan evaluasi program serta analisis keterlibatan digital (jumlah views, likes, komentar, dan partisipasi). Metode ini dirancang agar bersifat partisipatif, interaktif, dan relevan dengan dunia digital remaja, sehingga pesan psiko-edukasi dapat diterima secara optimal. Hasil: Mayoritas peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep dasar kesehatan reproduksi, risiko perilaku seksual berisiko, serta pentingnya menjaga kesehatan organ reproduksi. Adanya peningkatan emosi positif berupa perasaan lebih tenang, termotivasi, serta lebih optimis dalam memandang perubahan fisik dan sosial yang mereka alami. Remaja menunjukkan keberanian yang lebih besar dalam menyampaikan pendapat, menolak ajakan berperilaku berisiko, serta mengambil keputusan sehat. Keterlibatan (engagement) peserta dalam media sosial meningkat, ditunjukkan oleh tingginya jumlah views, likes, komentar, serta partisipasi dalam diskusi online. Simpulan: Program psiko-edukasi kesehatan reproduksi berbasis media sosial dengan melibatkan peran influencer terbukti menjadi pendekatan inovatif dan efektif dalam meningkatkan literasi kesehatan, membangun emosi positif, serta menumbuhkan kepercayaan diri remaja. Kegiatan ini memberikan peningkatan pemahaman, sikap positif, serta keberanian remaja dalam mengambil keputusan sehat dan juga memberikan kontribusi pada pengembangan strategi edukasi berbasis teknologi yang relevan di era digital serta dapat direplikasi di berbagai wilayah. Saran: Untuk keberlanjutan program, disarankan agar konten psiko-edukasi terus dikembangkan dengan format yang lebih variatif dan kreatif, agar menarik minat remaja dalam jangka panjang. Diharapkan program ini tidak hanya menjadi intervensi sesaat, tetapi dapat menjadi model edukasi kesehatan reproduksi yang berkelanjutan, berdampak luas, serta mendukung terbentuknya generasi muda yang sehat, percaya diri, dan memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik.
Penyuluhan interaktif melalui literasi kesehatan dan bijak menggunakan media sosial pada generasi-Z Sitepu, Eka Lestari; Jannah, Taifatul; Sari, Dwi Amalia; Rahmatillah, Hilma; Siregar, Anggi Pramono
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2144

Abstract

Background: The development of digital media has made it easier to access health information, but it also presents challenges due to the prevalence of misinformation and a lack of digital literacy among adolescents and Generation-Z. This situation impacts how students receive, understand, and share health information on social media. Purpose: To increase awareness of digital health literacy through interactive and wise social media education for Generation-Z. Method: The activity was carried out on November 5, 2025 at SMKN 1 Peusangan, Bireuen Regency. This activity involved 50 students who are young adults (generation-Z) who actively use social media. The implementation of this activity uses a participatory interactive approach in the form of lectures, group discussions, and question and answer sessions. The presentation of the material uses audio-visual media in the form of educational videos and slide shows. Measurement of the level of awareness of students in using social media with an instrument in the form of a questionnaire given before educational activities (pre-test) and after educational activities (post-test). As an evaluation of the level of awareness of students, namely by providing an assessment on the questionnaire and comparing the results of the scores between the pre-test and post-test. Results: Data obtained showed that the majority of students (30 students) used Instagram. Most students (21 students) used social media applications for 1-2 hours per day, with 21 students (42.0%). Only 18 students (36.0%) consistently verified health information on social media for hoaxes, while 15 students (30.0%) never verified health information on social media for hoaxes. Meanwhile, the average score for students' awareness of health literacy and wise use of social media before the educational activity (pre-test) was 69 points and the average score after the educational activity (post-test) was 82 points. Conclusion: This community service activity identified Instagram as the dominant platform frequently accessed. Consistent provision of health information on the Instagram platform is necessary to positively contribute to health literacy among followers. Suggestion: Competent institutions are expected to provide support by providing verified health information on social media so that social media users can be more informed in accepting the benefits of each health information. Educational institutions that continuously support adolescents are also expected to provide massive educational interventions about limiting the duration of daily social media use. Keywords: Generation Z; Health Literacy; Interactive Counseling; Social Media Pendahuluan: Perkembangan media digital memberikan kemudahan dalam mengakses informasi kesehatan, namun sekaligus menimbulkan tantangan akibat maraknya informasi palsu dan kurangnya literasi digital di kalangan remaja ataupun generasi-Z. Kondisi ini berdampak pada cara siswa menerima, memahami, dan membagikan informasi kesehatan di media sosial. Tujuan: Untuk meningkatkan kesadaran dalam literasi kesehatan digital melalui penyuluhan interaktif dan bijak menggunakan media sosial pada generasi-Z. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 05 November 2025 di SMKN 1 Peusangan, Kabupaten Bireuen. Kegiatan ini melibatkan 50 siswa/siswi yang merupakan remaja dewasa (generasi Z) yang aktif menggunakan sosial media. Pelaksanaan kegiatan ini menggunakan pendekatan interaktif partisipatif berupa ceramah, diskusi kelompok, dan sesi tanya-jawab. Pemaparan materi menggunakan media audio visual berupa video edukatif dan slide show. Pengukuran tingkat kesadaran siswa/siswi dalam menggunakan media sosial dengan instrumen berupa kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Sebagai evaluasi tingkat kesadaran siswa/siswi yaitu dengan memberikan penilaian pada kuesioner dan membandingkan hasil skor antara pre-test dan post-test. Hasil: Mendapatkan data bahwa sebagian besar siswa/siswi menggunakan aplikasi instagram yaitu sebanyak 30 orang (60.0%), sebagian besar siswa/siswi menggunakan aplikasi sosial media dengan durasi 1-2 jam setiap hari yaitu sebanyak 21 orang (42.0%) dan hanya sebanyak 18 orang (36.0%) yang selalu melakukan verifikasi informasi kesehatan di media sosial dari hoax, sedangkan sebanyak 15 orang (30.0%) tidak pernah melakukan verifikasi informasi kesehatan di media sosial dari hoax. Sedangkan skor rata-rata tingkat kesadaran siswa/siswi tentang literasi kesehatan dan bijak menggunakan sosial media sebelum kegiatan edukasi (pre-test) adalah sebesar 69 poin dan skor rata-rata sesudah kegiatan edukasi (post-test) menjadi sebesar 82 poin. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini memberikan hasil identifikasi bahwa aplikasi instagram sebagai platform dominan yang sering di akses. Perlunya memberikan dan menyediakan informasi yang konsisten tentang kesehatan pada platform instagram agar dapat memberikan kontribusi positif tentang literasi kesehatan pada pengikutnya. Saran: Diharapkan kepada lembaga yang berkompeten untuk melakukan dukungan dengan menyediakan informasi tentang kesehatan yang terverifikasi di media sosial sehingga pengguna media sosial menjadi lebih bijak dalam menerima manfaat dari setiap informasi kesehatan. Diharapkan juga kepada lembaga pendidikan yang selalu mendampingi remaja untuk secara masif memberikan intervensi pengetahuan tentang pembatasan durasi penggunaan sosial media per harinya.  
Edukasi tentang anemia pada ibu hamil dengan media leaflet dan poster Anggraini, Yulida; Yuliastuti, Luh Putu Sri; Handayani, Wiwik
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2146

Abstract

Background: Anemia in pregnant women remains a serious public health problem in Indonesia and contributes to the increased risk of pregnancy complications and maternal and infant mortality. Poor knowledge of anemia among pregnant women is a major contributing factor to this condition. Health education using simple media such as leaflets and posters is considered to have the potential to improve understanding and prevent anemia. Purpose: To increase knowledge, attitudes, and behavior of pregnant women about anemia using leaflets and posters as a means of preventing pregnancy complications. Method: A community service activity was conducted in December 2025 in the Labuhan Badas Community Health Center (Puskesmas) working area, targeting 26 pregnant women. The intervention consisted of providing health education through direct counseling using leaflets and posters, accompanied by discussion and question-and-answer sessions. Evaluation was conducted using a questionnaire to compare knowledge levels before (pre-test) and after education (post-test), as well as assessing pregnant women's attitudes and behaviors in response to anemia prevention measures. Results: A significant increase in the level of knowledge of pregnant women after education, with the level of knowledge in the good category increasing from 19.2% to 69.2%. The majority of pregnant women, 20 (76.9%), demonstrated good attitudes and behaviors regarding anemia prevention after the education activity. Conclusion: Anemia education activities for pregnant women using leaflets and posters have proven effective in increasing knowledge and fostering positive attitudes and behaviors related to anemia prevention. Increased understanding of the causes, effects, and prevention of anemia among pregnant women contributed to increased awareness of taking iron supplements, adopting a balanced nutritional diet, and utilizing antenatal care services regularly. Suggestion: Similar education needs to be conducted continuously and integrated into antenatal care services. Keywords: Anemia; Health education; Leaflets and posters; Pregnant women Pendahuluan: Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia dan berkontribusi terhadap meningkatnya risiko komplikasi kehamilan serta kematian ibu dan bayi. Rendahnya pengetahuan ibu hamil mengenai anemia menjadi salah satu faktor utama terjadinya kondisi tersebut. Edukasi kesehatan menggunakan media sederhana seperti leaflet dan poster dinilai berpotensi meningkatkan pemahaman dan perilaku pencegahan anemia. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang anemia, sikap, dan perilaku ibu hamil dengan menggunakan media leaflet dan poster sebagai upaya pencegahan komplikasi kehamilan. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada bulan Desember 2025 di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Badas dengan sasaran 26 ibu hamil. Intervensi yang dilakukan adalah berupa memberikan pendidikan kesehatan melalui penyuluhan langsung menggunakan media leaflet dan poster, disertai sesi diskusi dan tanya-jawab. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk membandingkan tingkat pengetahuan sebelum (pre-test) dan sesudah edukasi (post-test), serta penilaian sikap dan perilaku ibu hamil dalam merespon tindakan pencegahan anemia. Hasil: Menunjukkan peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan ibu hamil setelah edukasi, dengan kategori pengetahuan baik meningkat dari 19.2% menjadi 69.2%. Sebagian besar ibu hamil yaitu sebanyak 20 orang (76.9%) menunjukkan sikap dan perilaku dalam kategori baik dalam pencegahan anemia setelah kegiatan edukasi. Simpulan: Kegiatan edukasi anemia pada ibu hamil menggunakan media leaflet dan poster terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan serta membentuk sikap dan perilaku positif terkait pencegahan anemia. Peningkatan pemahaman ibu hamil mengenai penyebab, dampak, dan cara pencegahan anemia berkontribusi terhadap meningkatnya kesadaran untuk mengonsumsi tablet tambah darah, menerapkan pola makan bergizi seimbang, serta memanfaatkan pelayanan antenatal secara rutin. Saran: Edukasi serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dalam pelayanan antenatal care.
Peningkatan kemampuan kader dalam pendampingan ibu hamil hingga menyusui dua tahun berbasis buku KIA dan media edukasi booklet Indrasari, Nelly; Fikri, Ahmad; Rahmadi, Antun; Khoiriyah, Yustin Nur
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2158

Abstract

Background: The period from pregnancy to two years of age is a crucial phase in preventing stunting and improving maternal and child health. Community health cadres play a strategic role in supporting pregnant and breastfeeding mothers; however, their capacity to utilize the Maternal and Child Health Handbook (KIA) and educational media remains limited. Purpose: To improve the knowledge and role of Posyandu cadres in supporting pregnant mothers through the age of two through the use of the KIA handbook and educational booklets. Method: This community service activity was conducted in Sukamaju Village, Abung Semuli District, North Lampung Regency in 2025. The target group included Posyandu cadres, pregnant mothers, breastfeeding mothers, and families of toddlers. The activity involved 30 Posyandu cadres, 30 pregnant mothers, 30 breastfeeding mothers, and was also attended by representatives from the village government, community health centers, and village midwives. The program employed a community-based, participatory approach focused on increasing the capacity of cadres in supporting pregnant mothers through the first two years of breastfeeding through the use of the Maternal and Child Health Handbook (KIA) and educational booklets. Summative evaluation was conducted at the end of the program through observation, interviews, and assessment of changes in knowledge, attitudes, and practices of cadres and targets. Evaluation activities were conducted in the prenatal classes and integrated health posts (Posyandu) in Sukamaju Village. Results: Cadres' understanding of breastfeeding techniques increased from 22.9% before training to 88.6% after training. Cadres' ability to explain Early Initiation of Breastfeeding (IMD) increased from 31.4% to 91.4%, while their ability to conduct breastfeeding counseling based on the Maternal and Child Health (KIA) Handbook and educational media increased from 17.1% to 82.9%. Implementation results showed that 30 pregnant women received education on breastfeeding preparation for up to two years, 11 mothers received IMD assistance during delivery, and 30 breastfeeding mothers reported successful latching after counseling by the cadres. In addition, 19 mothers began practicing breast milk expression and storage according to guidelines, and 30 babies' growth monitoring was recorded in the KIA Handbook. Conclusion: Community service activities through empowering cadres to accompany pregnant women up to two years of breastfeeding based on the Maternal and Child Health (KIA) Handbook and educational media booklets have proven effective in increasing cadre capacity, as well as increasing knowledge and practices among pregnant and breastfeeding mothers. Empowering cadres based on the KIA Book is a relevant and applicable strategy in supporting stunting prevention efforts at the community level. Suggestion: It is hoped that cadre mentoring will continue and be routinely integrated into integrated health post (Posyandu) activities and prenatal classes. It is also recommended that future community service activities be longer-term and involve a wider target group so that the long-term impact on stunting prevention can be evaluated more comprehensively. Keywords: Cadre empowerment; Health education; KIA handbook; Pregnant women; Stunting prevention Pendahuluan: Periode sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun merupakan fase krusial dalam pencegahan stunting dan peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak. Kader kesehatan masyarakat memiliki peran strategis dalam mendampingi ibu hamil dan menyusui; namun, kapasitas kader dalam memanfaatkan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) serta media edukasi masih terbatas. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan dan peran kader Posyandu dalam pendampingan ibu hamil hingga anak berusia dua tahun melalui pemanfaatan buku KIA dan media edukasi booklet. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Sukamaju, Kecamatan Abung Semuli, Kabupaten Lampung Utara pada tahun 2025. Sasaran kegiatan meliputi kader Posyandu, ibu hamil, ibu menyusui, serta keluarga balita. Kegiatan ini melibatkan 30 kader posyandu, 30 ibu hamil, 30 ibu menyusui dan dihadiri juga dari pemerintah desa, puskesmas, dan bidan desa. Program dilakukan dengan pendekatan community-based participatory approach yang difokuskan pada peningkatan kapasitas kader dalam pendampingan ibu hamil hingga menyusui dua tahun melalui pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan media edukasi booklet. Evaluasi sumatif dilaksanakan pada akhir program melalui observasi, wawancara, serta penilaian perubahan pengetahuan, sikap, dan praktik kader dan sasaran. Kegiatan evaluasi dilakukan pada kelas ibu hamil dan posyandu di Desa Sukamaju. Hasil: Pemahaman kader terhadap teknik menyusui meningkat dari 22.9% sebelum pelatihan menjadi 88.6% setelah pelatihan. Kemampuan kader dalam menjelaskan IMD meningkat dari 31.4% menjadi 91.4%, sedangkan kemampuan melakukan konseling ASI berbasis Buku KIA dan media edukasi meningkat dari 17.1% menjadi 82.9%. Hasil implementasi menunjukkan bahwa 30 ibu hamil memperoleh edukasi persiapan menyusui hingga dua tahun, 11 ibu mendapatkan pendampingan IMD saat persalinan, dan 30 ibu menyusui melaporkan keberhasilan pelekatan (latch-on) setelah konseling oleh kader. Selain itu, 19 ibu mulai menerapkan praktik memerah dan menyimpan ASI sesuai panduan, serta 30 bayi tercatat lengkap pemantauan pertumbuhannya dalam Buku KIA. Simpulan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pemberdayaan kader pendamping ibu hamil hingga menyusui dua tahun berbasis Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan media edukasi booklet terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas kader serta pengetahuan dan praktik pada ibu hamil dan ibu menyusui. Pemberdayaan kader berbasis Buku KIA merupakan strategi yang relevan dan aplikatif dalam mendukung upaya pencegahan stunting di tingkat komunitas. Saran: Diharapkan, agar pendampingan kader dilanjutkan dan diintegrasikan secara rutin dalam kegiatan posyandu dan kelas ibu hamil. Kegiatan pengabdian selanjutnya juga disarankan memiliki durasi yang lebih panjang dan melibatkan jumlah sasaran yang lebih luas agar dampak jangka panjang terhadap pencegahan stunting dapat dievaluasi secara lebih komprehensif.
Promosi kesehatan dengan skrining perfusi jaringan perifer pada lansia Supriatna , Lalu Dedy; Nadrati, Bahjatun; Oktaviana , Elisa
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2179

Abstract

Background: Health screening for the elderly is crucial for early detection of chronic diseases (such as hypertension, diabetes, and heart disease) before symptoms become severe, preventing complications, monitoring medication effectiveness, assessing independence (physical and mental function), and providing healthy lifestyle counseling, thus maintaining quality of life, independence, and productivity in old age. Early detection can lead to earlier intervention, significantly increasing the chances of successful treatment. Purpose: To identify and assess peripheral tissue perfusion in the elderly. Method: This community service program was conducted in August 2025 at the Mandalika NTB Social Center for the Elderly (BSLU). Forty-five elderly residents of the BSLU Mandalika NTB participated. This activity identified the condition of the elderly through measurement and observation of the ankle-brachial pressure index (ABPI). The screening activities used equipment recommended in the Standard Operating Procedure (SOP) and other instruments, including participant characteristic questionnaires, observation sheets, standard operating procedures (SOPs), and ABPI measurements. Results: Obtained data that the average age of participants was 72.89 years with SD = ± 11.15 years in the age range of 58-115 years. The majority of participants were female, namely 28 people (62.2%), had no history of hypertension, namely 32 people (71.1%), had normal cholesterol levels, namely 40 people (88.9%). The majority of participants also had a history of not smoking, namely 41 people (91.1%), had no history of diabetes, namely 39 people (86.7%) and most also had no history of other diseases, namely 26 people (57.8%). Most of the elderly at BSLU Mandalika NTB had non-pale skin color, namely 40 people (88.9%), had SPO2 values ​​≥ 96, namely 44 people (97.8%). Most participants had a CRT status of ≤2 seconds, namely 39 people (86.7%), with a peripheral pulse of 60-100 x per minute as many as 44 people (97.8%), non-pitting edema as many as 36 people (80.0%), warm acral as many as 40 people (88.9%), and most participants did not have claudication symptoms as many as 28 people (62.2%). Meanwhile, in the examination of the right ankle brachial pressure index, there were 4 people (8.9%) who were included in the category of having peripheral artery disease if assessed theoretically, while in the left ankle brachial pressure index there were 3 people (6.7%) participants who had peripheral artery disease. Conclusion: Peripheral tissue perfusion testing provides information about increased peripheral perfusion, indicating increased distal blood flow to support tissue function. Increased peripheral perfusion also increases peripheral pulse strength, decreases skin pallor, improves capillary function, and improves skin turgor. Suggestion: It is recommended that peripheral pulse examination, accompanied by the use of a vascular Doppler to measure the ankle-brachial pressure index, is essential to confirm the diagnosis of peripheral arterial disease in the elderly. Keywords: Elderly; Health screening; Promotional activities; Peripheral tissue perfusion Pendahuluan: Skrining kesehatan lansia sangat penting untuk deteksi dini penyakit kronis (seperti hipertensi, diabetes, jantung) sebelum gejalanya parah, mencegah komplikasi, memantau efektivitas obat, menilai kemandirian (fungsi fisik & mental), dan memberikan konseling gaya hidup sehat, sehingga menjaga kualitas hidup, kemandirian, dan produktivitas di usia senja. Dengan deteksi dini dapat mengarah pada intervensi lebih awal, yang secara signifikan meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan. Tujuan: Melakukan identifikasi dan pemeriksan perfusi jaringan perifer pada lansia. Metode: Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2025 di Balai Sosial Lanjut Usia (BSLU) Mandalika NTB. Melibatkan 45 lansia yang tinggal di BSLU Mandalika NTB untuk menjadi partisipan. Kegiatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi suatu kondisi keadaan penyakit lansia melalui pengukuran dan observasi terhadap nilai ankle brachial pressure index (ABPI). Pelaksanaan kegiatan skrining menggunakan peralatan yang direkomendasikan dalam SOP dan juga menggunakan instrumen kelengkapan lainnya berupa kuesioner karakteristik partisipan, lembar observasi, standar operasional prosedur (SOP) dan pengukuran ABPI. Hasil: mendapatkan data bahwa rerata usia partisipan adalah 72.89 tahun dengan SD=±11.15 tahun dalam rentang usia 58-115 tahun. Mayoritas partisipan berjenis kelamin perempuan yaitu 28 orang (62.2%), tidak memiliki riwayat hipertensi yaitu sebanyak 32 orang (71.1%), memiliki kadar kolesterol normal yaitu sebanyak 40 orang (88.9%). Mayoritas partisipan juga memiliki riwayat tidak merokok sebanyak 41 orang (91.1%), tidak memiliki riwayat diabetes yaitu 39 orang (86.7%) dan sebagian besar juga tidak memiliki riwayat penyakit lainnya sebanyak 26 orang (57.8%). Sebagian besar lansia di BSLU Mandalika NTB bewarna kulit tidak pucat yaitu 40 orang (88.9%), memiliki nilai SPO2≥96 yaitu sebanyak 44 orang (97.8%). Sebagian besar partisipan memiliki status CRT≤2 detik yaitu sebanyak 39 orang (86.7%), dengan nadi perifer 60-100 x per menit sebanyak 44 orang (97.8%), non pitting edema sebanyak 36 orang (80.0%), akral hangat sebanyak 40 orang (88.9%), dan sebagian besar partisipan tidak memiliki gejala klaudikasio sebanyak 28 orang (62.2%). Sedangkan pada pemeriksaan ankle brachial presur index kanan terdapat 4 orang (8.9%) yang termasuk katagori memiliki penyakit arteri perifer jika dinilai secara teori, sedangkan pada ankle brachial presur index kiri terdapat 3 orang (6.7%) partisipan yaitu penyakit arteri perifer. Simpulan: Pemeriksaan perfusi pada jaringan perifer memberikan informasi jika terdapat peningkatan perfusi perifer berarti menunjukkan adanya peningkatan aliran darah pembuluh distal dalam menunjang fungsi jaringan. Peningkatan perfusi perifer juga memberikan peningkatan kekuatan nadi perifer, menurunnya warna pucat pada kulit, kondisi kapiler membaik, serta memperbaiki kondisi tugor pada kulit. Saran: Diharapkan, pemeriksaan nadi perifer yang disertai dengan penggunaan dopler vascular untuk pemerikasaan ankle brachial pressure index sangat perlu dilakukan untuk memastikan diagnosa adanya penyakit arteri perifer pada lansia.
Edukasi pencegahan rabies berbasis nilai religius pada masyarakat pencinta anjing Wega, Marianus Oktavianus; Kuwa, Maria Kornelia Ringgi; Aga, Maria Sofia Anita
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2198

Abstract

Background: Rabies is a zoonotic disease transmitted through the bite of an animal infected with the rabies virus. It has a fatality rate of nearly 100% and can potentially cause death in both humans and animals. Currently, there is no effective treatment, making post-exposure prophylaxis (PEP) vaccination the only life-saving measure. Purpose: To increase knowledge and behavior regarding rabies prevention through religious-based education for religious leaders and the community. Method: Community service activities were carried out on September 12, 2025, at the Kolisia Village Office, Magepanda District, Sikka Regency, East Nusa Tenggara Province, targeting 50 dog-owning families who had given informed consent. This intervention was designed as religious-based education to improve rabies prevention behavior, with an approach adapted to the social and cultural characteristics of the local community. Education was provided through a lecture method for ± 15 minutes using powerpoint media and modules, followed by discussion and questions and answers for ± 10 minutes to deepen understanding including religious-based rabies prevention behavior. Measurement of the level of knowledge and understanding of participants using a questionnaire before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). As an evaluation of the level of knowledge, attitudes, and rabies prevention behavior by comparing the pre-test and post-test scores. Results: The pre-test showed that community behavior regarding rabies prevention was generally in the adequate category, with knowledge at 72%, attitudes at 78%, and actions at 90%. After 30 minutes of education and discussion, the post-test results showed an increase, with knowledge in the good category at 42%, attitudes at 30%, and actions at 30%. Conclusion: Religious-based education has proven effective in improving rabies prevention behavior in communities in endemic areas, and therefore can be a promotive and preventive strategy for rabies control in the community. Suggestion: It is hoped that religious-based rabies prevention education activities can be implemented sustainably and expanded in scope by involving more religious leaders, health workers, and relevant cross-sectors. Keywords: Health education; Public health; Rabies prevention; Religious approach Pendahuluan: Rabies merupakan penyakit zoonotik yang ditularkan melalui gigitan hewan yang terinfeksi virus rabies dengan tingkat fatalitas hampir 100% serta berpotensi menyebabkan kematian pada manusia maupun hewan. Hingga saat ini, belum tersedia pengobatan yang efektif sehingga vaksinasi pasca pajanan (Post-Exposure Prophylaxis/PEP) menjadi satu-satunya upaya penyelamatan. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan perilaku pencegahan rabies melalui edukasi berbasis nilai religius kepada tokoh agama dan masyarakat. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada 12 September 2025 di Kantor Desa Kolisia, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan sasaran 50 kepala keluarga pemilik anjing yang sudah memberikan persetujuan (informed consent). Intervensi ini dirancang sebagai edukasi berbasis nilai religius untuk meningkatkan perilaku pencegahan rabies, dengan pendekatan yang disesuaikan pada karakteristik sosial dan budaya masyarakat setempat. Edukasi diberikan melalui metode ceramah selama ±15 menit menggunakan media powerpoint dan modul, kemudian dilanjutkan diskusi serta tanya jawab selama ±10 menit untuk memperdalam pemahaman meliputi perilaku pencegahan rabies berbasis nilai religius. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman peserta menggunakan kuesioner sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Sebagai evaluasi tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan rabies dengan membandingkan antara skor pre-test dan post-test. Hasil: Pre-test menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam pencegahan rabies rata-rata berada pada kategori cukup, dengan pengetahuan 72%, sikap 78%, dan tindakan 90%. Setelah diberikan edukasi dan diskusi selama 30 menit, hasil post-test memperlihatkan adanya peningkatan, yaitu pengetahuan kategori baik sebesar 42%, sikap baik 30%, dan tindakan baik 30%. Simpulan: Edukasi berbasis nilai religius terbukti efektif dalam meningkatkan perilaku pencegahan rabies pada masyarakat di wilayah endemis, sehingga dapat menjadi salah satu strategi promotive dan preventive dalam pengendalian rabies di masyarakat. Saran: Diharapkan kegiatan edukasi pencegahan rabies berbasis nilai religius dapat dilaksanakan secara berkelanjutan serta diperluas cakupannya dengan melibatkan lebih banyak tokoh agama, kader kesehatan, dan lintas sektor terkait.
Edukasi self-management untuk meningkatkan self-care aktifitas fisik pada pasien diabetes melitus tipe 2 Drissianti, Putri; Saputra, Fauzan; Risca, Amalia; Ismuhadi, Ismuhadi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2219

Abstract

Background: Diabetes mellitus (DM) is a chronic disease characterized by high blood sugar levels resulting from insulin action, impaired insulin secretion, or both. It requires long-term treatment to reduce the risk of complications. DM cannot be cured, but blood sugar can be controlled through the four pillars of diabetes management: education, diet, exercise, and medication. Self-management is a crucial aspect in the management of type 2 diabetes mellitus (T2DM). However, patients with diabetes mellitus often fail to effectively manage themselves, resulting in macrovascular and microvascular complications. Purpose: To provide knowledge about self-care and physical activity based on self-management in DM patients. Method: This community service activity was carried out on December 15, 2025, at the Tanoh-Anou Village Community Health Center. Involving 51 people with DM as respondents. The target of this activity is the application of self-management for DM sufferers for self-care physical activity with a community-based approach. The intervention was carried out by delivering material related to the application of self-management in carrying out self-care physical activity, especially for DM sufferers, as well as an explanation of the benefits of physical activity for managing DM. Evaluation of the level of respondents' knowledge was measured using a questionnaire given before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Results: Obtained respondents with an age range of 36-77 years and the average age of respondents was 58.9 years and most of the respondents were in the range of 56-65 years as many as 21 people (41.2%). The majority were female as many as 42 people (82.4%), most had elementary/junior high school education status as many as 49 people (96.1%), and employment status was not as a farmer or fisherman as many as 42 people (82.4%). While the marital status was married as many as 40 people (78.5%) and the majority of the duration of suffering from DM was >3 years as many as 48 people (94.2%). There was an increase in the average score of respondents' knowledge level before educational activities (pre-test) from 16.2 points to 26.4 after educational activities (post-test). Conclusion: Self-management education activities covering diet management, physical activity, and foot care for people with diabetes mellitus significantly increased patients' knowledge of implementing physical activity self-care. This increased knowledge of self-management also positively contributed to psychological well-being and health motivation in diabetes patients. Suggestion: Similar educational activities are expected to be conducted routinely and sustainably to encourage healthy behavior changes and as an effort to prevent complications of diabetes mellitus early in the community. Keywords: Health education; Physical activity; Self-management; Type 2 diabetes mellitus Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi yang terjadi akibat kerja insulin, gangguan sekresi insulin, atau keduanya, dan memerlukan pengobatan jangka panjang untuk mengurangi risiko komplikasi. DM tidak dapat disembuhkan, namun gula darah dapat dikontrol melalui empat pilar pengelolaan diabetes, yaitu edukasi, pola makan, olahraga, dan pengobatan. Self-management merupakan salah satu aspek yang memegang peranan penting dalam penatalaksanaan diabetes melitus tipe 2 (DMT2). Namun dalam pelaksanaannya pasien dengan diabetes melitus tidak melakukan self-management dengan baik yang mengakibatkan terjadinya komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Tujuan: Untuk memberikan pengetahuan tentang self-care aktifitas fisik berdasarkan self-management pada pasien DM. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 15 Desember 2025 di Balai Puskesmas Desa Tanoh-Anou. Melibatkan 51 orang dengan DM untuk menjadi responden. Sasaran dalam kegiatan ini adalah penerapan self-management bagi penderita DM untuk self-care aktifitas fisik dengan pendekatan community-based. Intervensi dilakukan dengan menyampaikan materi terkait penerapan self-management dalam menjalankan self-care aktifitas fisik khususnya bagi penderita DM serta penjelasan tentang manfaat aktifitas fisik terhadap pengelolaan penyakit DM. Evaluasi tingkat pengetahuan responden diukur menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: Mendapatkan responden dengan rentang usia 36-77 tahun dan rata-rata usia responden adalah 58.9 tahun dan sebagian besar usia responden dalam rentang 56-65 tahun sebanyak 21 orang (41.2%). Mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak 42 orang (82.4%), sebagian besar memiliki status pendidikan SD/SMP sebanyak 49 orang (96.1%), dan status pekerjaan adalah bukan sebagai petani atau nelayan yaitu sebanyak 42 orang (82.4%). Sedangkan status pernikahan adalah menikah yaitu sebanyak 40 orang (78.5%) dan mayoritas lamanya menderita DM adalah >3 tahun yaitu sebanyak 48 orang (94.2%). Terdapat peningkatan rata-rata skor tingkat pengetahuan responden sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dari 16.2 poin menjadi  26.4 sesudah kegiatan edukasi (post-test). Simpulan: Kegiatan pemberian edukasi self-management yang mencakup manajemen diet, aktivitas fisik, dan perawatan kaki untuk penderita diabetes melitus memberikan peningkatan pengetahuan yang cukup signifikan pada pasien dalam menerapkan self-care aktifitas fisik. Peningkatan pengetahuan tentang self-management juga memberikan kontribusi positif secara psikologis dan motivasi kesehatan pada pasien diabetes. Saran: Diharapkan kegiatan edukasi serupa untuk dilakukan secara rutin dan berkelanjutan agar mampu mendorong perubahan prilaku sehat dan sebagai upaya pencegahan komplikasi diabetes melitus sejak dini pada masyarakat.
Sosialisasi penanganan stunting melalui program satu kelor untuk rumah anda (SAKURA) Nuryani, Dina Dwi; Mawardi, Qholik; Mahendra, M. Reza; Sundari, Sundari; Tambunan, Bella Aldamar; Dwiyanti, Dea Okta; Pasha, Ketut Indah Ayu
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2225

Abstract

Background: The moringa plant (Moringa oleifera) is widely known for its numerous health, nutritional, and economic benefits. Its leaves contain various essential nutrients, such as vitamin A, vitamin C, calcium, iron, and high levels of antioxidants, which play a vital role in preventing malnutrition, boosting immunity, and supporting family health. Through the "One Moringa for Your Home" program in Way Gelang Village, fieldwork students conducted outreach activities and demonstrated the use of moringa plants. Purpose: To raise public awareness of the importance of moringa leaves as a source of family nutrition and to encourage self-reliance in meeting nutritional needs through planting moringa in home gardens. Method: This community service program was implemented on August 16, 2025, at the Way Gelang Village Hall, West Kota Agung District, Tanggamus Regency, involving 36 community members, health cadres, housewives, and village officials as the main partners. The implementation method used an educational approach, socialization, training, mentoring, and community awareness to increase the use of moringa plants in stunting prevention efforts based on local potential. Socialization was delivered through presentations, educational video screenings, and interactive discussions. Evaluation was carried out in a participatory manner through observation of participant involvement and the success of making processed moringa products. As a form of support for the sustainability of the program and encouragement for the community to continue planting moringa in their yards by forming a small group to monitor the moringa planting movement, which functions as a forum for routine monitoring and evaluation with the village government and health cadres. Results: Most people are familiar with the moringa plant, which commonly grows in gardens, but only a small percentage understand that moringa leaves are a good source of nutrition for families. Training and mentoring demonstrated an increase in community motivation and ability to process and cultivate moringa. The distribution of moringa seeds and hands-on practice fostered psychological support and a sense of community togetherness in meeting nutritional standards more economically. Observations from this activity indicate that the community understands the benefits of the moringa plant and is able to process it into various nutritious food products. Conclusion: Community service activities, including education and live demonstrations on the use of Moringa leaves, have been shown to have a positive impact on increasing nutritional awareness and community skills in utilizing Moringa as an economical and sustainable local food source for stunting prevention. Through nutrition education and training in moringa-based food processing, community motivation and behavior change led to healthier food consumption and increased family food security. Suggestion: While program sustainability still requires mentoring and monitoring, it is hoped that the SAKURA program or similar educational programs can become effective models for community-based nutrition interventions in reducing the risk of stunting and improving family health. Keywords: Family nutrition; Health education; Moringa plants; Stunting prevention Pendahuluan: Tanaman kelor (Moringa oleifera) dikenal luas sebagai tanaman yang kaya manfaat dari segi kesehatan, gizi, dan ekonomi. Daunnya mengandung berbagai nutrisi penting seperti vitamin A, vitamin C, kalsium, zat besi, dan antioksidan tinggi yang berperan penting dalam mencegah kekurangan gizi, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menunjang kesehatan keluarga. Melalui program “Satu Kelor untuk Rumah Anda (SAKURA)” di Pekon Way Gelang, mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pemanfaatan tanaman kelor. Tujuan: Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya daun kelor sebagai sumber gizi keluarga, serta mendorong kemandirian dalam memenuhi kebutuhan nutrisi melalui penanaman kelor di pekarangan rumah. Metode: Program pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 2025 bertempat di Balai Pekon Way Gelang, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus, dengan melibatkan 36 warga masyarakat, kader kesehatan, ibu rumah tangga, dan perangkat Pekon sebagai mitra utama. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan pendidikan, sosialisasi, pelatihan, pendampingan, dan penyadaran masyarakat untuk meningkatkan pemanfaatan tanaman kelor dalam upaya pencegahan stunting berbasis potensi lokal. Sosialisasi disampaikan melalui presentasi, pemutaran video edukasi, dan diskusi interaktif. Evaluasi dilakukan secara partisipatif melalui pengamatan terhadap keterlibatan peserta dan keberhasilan pembuatan produk olahan kelor. Sebagai bentuk dukungan keberlanjutan program dan dorongan bagi masyarakat untuk terus menanam kelor di pekarangan rumah dengan membentuk  kelompok kecil pemantau gerakan tanam kelor, yang berfungsi sebagai wadah monitoring dan evaluasi rutin bersama pemerintah Pekon serta kader kesehatan. Hasil: Sebagian besar masyarakat sudah mengenal tanaman kelor yang biasa tumbuh di areal kebun dan hanya sebagian kecil masyarakat yang memahami bahwa daun kelor merupakan sumber nutrisi yang cukup baik bagi pemenuhan gizi keluarga. Setelah pelatihan dan pendampingan menunjukkan terdapat peningkatan motivasi masyarakat dan kemampuan masyarakat dalam praktik pengolahan dan budidaya kelor. Pembagian bibit kelor dan praktik langsung dalam penerapannya, memberikan semangat pskologis dan kebersamaan pada masyarakat dalam memenuhi standar gizi dengan cara yang lebih ekonomis. Berdasarkan observasi dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa masyarakat telah memahami manfaat tanaman kelor serta mampu mengolahnya menjadi berbagai produk pangan bergizi. Simpulan: Kegiatan pengabdian berupa edukasi dan demonstrasi langsung tentang pemanfaatan daun kelor terbukti memberikan dampak positif terhadap peningkatan kesadaran gizi dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan kelor sebagai sumber pangan lokal yang ekonomis dan berkelanjutan untuk pencegahan stunting. Melalui edukasi gizi, pelatihan pengolahan pangan berbasis kelor memberikan motivasi dan perubahan perilaku masyarakat untuk konsumsi makanan yang lebih sehat dan menciptakan ketahanan pangan keluarga. Saran: Meskipun keberlanjutan program masih memerlukan pendampingan dan monitoring, diharapkan program SAKURA atau program edukasi yang serupa dapat menjadi model intervensi gizi berbasis masyarakat yang efektif dalam menurunkan risiko stunting dan meningkatkan kesehatan keluarga.
Edukasi pengenalan golongan obat sebagai upaya pencegahan efek samping obat Sari, Putri Rovita; Abdullah, Iqbal Wahib; Atmajaningtyas, Agatha Tyva Julian
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2228

Abstract

Background: Self-medication is still widespread among the public, but often lacks adequate understanding of safety aspects. Lack of knowledge regarding drug classes, dosage and usage, indications, contraindications, and expiration dates potentially increases the risk of side effects. This situation emphasizes the importance of ongoing health education so that the public can use medications appropriately, safely, and according to regulations. Purpose: To increase public knowledge regarding drug classes, including dosage and usage, indications, contraindications, and expiration dates. Method: The community service activity was conducted on December 20, 2025, from 10:00–12:00 WIB in Kedungputri Village, Paron District, Ngawi Regency, East Java. Thirty women aged 30–60 years old were selected using purposive sampling. To evaluate the level of knowledge in this activity, we compared the accumulated answers from respondents before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Results: The average level of knowledge of respondents regarding drug classification before the pre-test was 41.0% with a standard deviation of 8.32, increasing to 91.7% with a standard deviation of 3.59 after the post-test. Conclusion: The educational activity, which introduced drug classification, dosage, indications, contraindications, and expiration dates, significantly increased respondents' knowledge and understanding of drug use. The interactive community service program proved highly effective in educating respondents about drug classification as a way to prevent side effects. Suggestion: It is hoped that education regarding the proper and correct use of drugs should be continued, involving the health care team and involving all family members. This is important because achieving good health depends not only on the mother's knowledge but also on the understanding and involvement of the entire family in the proper and safe use of drugs. Keywords: Drug classification; Drug side effects; Drug use; Health education Pendahuluan: Penggunaan obat secara mandiri masih marak dilakukan oleh masyarakat, namun sering kali tidak disertai pemahaman yang memadai mengenai aspek keamanan. Minimnya pengetahuan terkait golongan obat, dosis dan cara pakai, indikasi, kontraindikasi, serta tanggal kadaluwarsa berpotensi meningkatkan risiko terjadinya efek samping obat. Kondisi ini menegaskan pentingnya edukasi kesehatan yang berkelanjutan agar masyarakat mampu menggunakan obat secara tepat, aman, dan sesuai aturan. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai golongan obat meliputi dosis dan cara pakai, indikasi, kontraindikasi, serta tanggal kadaluwarsa. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan pada 20 Desember 2025 pukul 10.00–12.00 WIB di Desa Kedungputri, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Peserta berjumlah 30 orang ibu-ibu berusia 30–60 tahun yang dipilih secara purposive sampling untuk menjadi responden. Sebagai evaluasi tingkat pengetahuan dalam kegiatan ini dengan membandingkan akumulasi jawaban dari responden sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan setelah kegiatan edukasi (post-test). Hasil: Menunjukkan bahwa rerata tingkat pengetahuan responden dalam kategori baik tentang penggolongan obat sebelum kegiatan edukasi (pre-test) adalah sebesar 41.0% dengan standar deviasi 8.32 meningkat menjadi sebesar 91.7% dengan standar deviasi 3.59 setelah kegiatan edukasi (post-test). Simpulan: Kegiatan edukasi pengenalan mengenai penggolongan obat, dosis, indikasi, kontraindikasi, serta tanggal kadaluwarsa memberikan peningkatan pengetahuan dan pemahaman yang cukup signifikan terhadap responden dalam menggunakan obat-obatan. Program pengabdian kepada masyarakat berupa penyuluhan interaktif terbukti sangat efektif dalam mengedukasi pengenalan golongan obat sebagai upaya pencegahan efek samping obat. Saran: Diharapkan, edukasi mengenai cara dan tatalaksana penggunaan obat yang baik dan benar perlu dilanjutkan dengan melibatkan tim petugas kesehatan serta diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Hal ini penting karena pencapaian derajat kesehatan tidak hanya bergantung pada pengetahuan ibu, tetapi juga pada pemahaman dan keterlibatan seluruh keluarga dalam penggunaan obat yang tepat dan aman.
Edukasi pencegahan anemia dan pemberdayaan konselor sebaya berbasis sekolah pada remaja putri Luturmas, Hermanus Jonathan; Kogoya, Alvionita; Sinaga, Evi Susanti; Kartika Putri Pertiwi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i11.2250

Abstract

Background: Adolescent girls are a group vulnerable to anemia, with a global prevalence rate reaching 29.9%. Low adherence to iron supplementation is a major contributing factor, despite targeted distribution. Anemia in adolescent girls can impair concentration and impact future reproductive health. Therefore, ongoing intervention and guidance efforts are needed to strengthen anemia prevention in this group. Purpose: To increase knowledge about anemia and empower peer counselors as an effort to prevent anemia in adolescent girls. Method: This community service activity was carried out in December 2025 at a high school in Tebet District, South Jakarta. Participants in this activity were 119 female students in grades X and XII. The implementing team consisted of lecturers and students of the Faculty of Medicine, Trisakti University, who collaborated with the school and received assistance from Community Health Center staff. The material on anemia was delivered directly and followed by discussions and questions and answers as an effort to increase knowledge in participants, which included assessing the analysis of risk factors for anemia, and empowering peer counselors as an effort to prevent anemia. Evaluation of the level of knowledge and understanding of participants was measured using a questionnaire given before the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). Data were analyzed using the Wilcoxon test and Chi-square test to see the relationship between risk factors and the incidence of anemia. Results: Obtaining data that the average age of participants is 16.87 years with a standard deviation of 1.02 years in the range of 14-18 years and most participants are at the age of 17 years as many as 49 people (41.2%). Most are grade XII students as many as 85 people (71.4%), the majority have normal nutritional status as many as 49 people (41.2%), and the educational status of the mothers of the participants is the majority of high school-college graduates as many as 96 people (80.7%). While most of the parents' monthly income is ˂Rp. 5,396,761 as many as 81 people (68.1%), most are not identified as anemia as many as 87 people (73.1%), and the majority do not routinely consume iron tablets once a week as many as 78 people (65.5%). There is an increase in the level of knowledge of respondents after the implementation of health counseling which gets pValue=0.001. Meanwhile, the average value of respondents' knowledge before the counseling (pre-test) was 6.30 points and increased to 9.37 points after the counseling (post-test). Conclusion: Health education activities contribute to increasing adolescents' knowledge about anemia and its prevention. Adherence to iron supplementation plays a significant role in reducing the risk of anemia in adolescent girls. Furthermore, the implementation of school-based peer counselors is an effective promotive and preventive strategy because it facilitates increased knowledge, attitudes, and behaviors related to anemia prevention through a participatory approach. Suggestion: Anemia prevention activities for adolescent girls are expected to be carried out sustainably through increasing IBT compliance, health education, and supporting the ongoing role of peer counselors as health promotion agents. Active collaboration programs are also expected between community health centers, adolescents, and schools. Keywords: Adolescent girls; Anemia prevention; Health education; Peer counselors Pendahuluan: Remaja putri termasuk kelompok yang rentan mengalami anemia, dengan angka prevalensi secara global mencapai 29.9%. Rendahnya kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) menjadi faktor utama, meskipun distribusi telah berjalan sesuai target. Anemia pada remaja putri dapat mengganggu kemampuan konsentrasi belajar dan berdampak pada kesehatan reproduksi di masa mendatang, sehingga diperlukan upaya intervensi dan pembinaan yang berkesinambungan untuk memperkuat pencegahan anemia pada kelompok ini. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan tentang anemia dan pemberdayaan konselor sebaya sebagai upaya pencegahan kejadian anemia pada remaja putri. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada bulan Desember 2025 di salah satu Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Responden dalam kegiatan ini adalah siswi kelas X dan XII yang berjumlah 119 orang. Tim pelaksana terdiri dari dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti yang berkolaborasi dengan pihak sekolah serta mendapat pendampingan dari staf Puskesmas. Materi tentang anemia disampaikan secara langsung dan dilanjutkan dengan diskusi serta tanya-jawab sebagai upaya peningkatan pengetahuan pada responden yang meliputi penilaian analisis faktor risiko kejadian anemia, dan pemberdayaan konselor sebaya sebagai upaya pencegahan anemia. Evaluasi tingkat pengetahuan dan pemahaman responden, diukur menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Data dianalisa dengan uji Wilcoxon dan uji Chi-square untuk melihat hubungan antara faktor risiko dan kejadian anemia. Hasil: Mendapatkan data bahwa rata-rata usia responden adalah 16.87 tahun dengan standar deviasi 1.02 tahun dalam rentang 14-18 tahun dan sebagian besar responden berada di usia 17 tahun sebanyak 49 orang (41.2%). Sebagian besar merupakan siswi kelas XII sebanyak 85 orang (71.4%), mayoritas memiliki status gizi normal sebanyak 49 orang (41.2%), dan status pendidikan ibu dari responden adalah mayoritas lulusan SMA-Perguruan Tinggi sebanyak 96 orang (80.7%). Sedangkan sebagian besar penghasilan orang tua per bulan (UMR) adalah ˂Rp.5.396.761 yaitu sebanyak 81 orang (68.1%), sebagian besar tidak teridentifikasi anemia sebanyak 87 orang (73.1%), dan mayoritas tidak rutin konsumsi tablet tambah darah 1x seminggu yaitu sebanyak 78 orang (65.5%). Adanya peningkatan tingkat pengetahuan responden setelah pelaksanaan penyuluhan kesehatan yang mendapatkan pValue=0.001. Sedangkan nilai rata-rata pengetahuan responden sebelum penyuluhan (pre-test) sebesar 6.30 poin dan terjadi peningkatan menjadi 9.37 poin setelah penyuluhan (post-test). Simpulan: Kegiatan penyuluhan kesehatan berkontribusi terhadap peningkatan tingkat pengetahuan remaja mengenai anemia dan upaya pencegahannya. Kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) memiliki peran signifikan dalam menurunkan risiko anemia pada remaja putri. Selain itu, implementasi konselor sebaya berbasis sekolah merupakan strategi promotif dan preventif yang efektif karena mampu memfasilitasi peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan anemia melalui pendekatan partisipatif. Saran: Diharapkan, kegiatan pencegahan anemia pada remaja putri untuk dilakukan secara berkelanjutan melalui peningkatan kepatuhan TTD, edukasi kesehatan, dan untuk mendukung keberlanjutan peran konselor sebaya sebagai agen promosi kesehatan serta diharapkan juga mengadakan program kolaborasi aktif dari puskesmas, remaja dan sekolah.

Filter by Year

2021 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 11 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 10 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 9 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 8 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 7 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 6 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 4 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 2 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 5 No. 1 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 6 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2025): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 4 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 3 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 4 No. 1 (2024): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 4 (2024): PHC Vol. 3 No. 4 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 3 (2023): PHC Vol. 3 No. 2 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): JOURNAL OF Public Health Concerns Vol. 2 No. 3 (2022): Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2 Vol. 2 No. 4 (2022): Promosi Dan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) Vol. 2 No. 2 (2022): Penatalaksanaan Hipertensi Pada Lansia Vol. 2 No. 1 (2022): Promosi Kesehatan Pada Remaja Vol. 1 No. 4 (2021): Perawatan Lansia Secara Umum Dan Pertolongan Pertama Pada Keadaan Darurat Vol. 1 No. 3 (2021): Terapi Komplementer Dalam Keperawatan Vol. 1 No. 2 (2021): Penanganan dan Perawatan Penyakit Asma Vol. 1 No. 1 (2021): Promosi Kesehatan dalam penanganan penyakit Rematik, Gastritis, Hipertensi dan More Issue